Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kesalahan berbahasa merupakan bentuk-bentuk penyimpangan bahasa yang dilakukan oleh pembelajar, sehingga menghambat kelancaran untuk komunikasi secara lisan maupun tulisan. Salah satu bentuk kesalahan berbahasa, yaitu kesalahan ejaan, diantaranya penggunaan tanda baca titik, dan koma, dan pemakaian kata, dan pemakaian huruf kapital dengan benar. Penyebabnya, antara lain ialah adanya perbedaan konsepsi pengertian tanda baca di dalam ejaan sebelumnya yaitu tanda baca diartikan sebagai tanda bagaimana seharusnya membaca tulisan. Misalnya, tanda koma merupakan tempat perhentian sebentar (jeda) dan tanda tanya menandakan intonasi naik. Hal seperti itu sekarang tidak seluruhnya dapat dipertahankan. Misalnya, antara subyek dan predikat terdapat jeda dalam membaca, tetapi tidak digunakan tanda koma jika bukan tanda koma yang mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi. Hal tersebut dapat dilihat pada artikel-artikel yang terdapat di internet, iklan, tulisan di televisi, dan lainnya. Kesalahan berbahasa terjadi merata pada semua kalangan, bukan hanya pada orang awam saja, tetapi juga pada orang yang berpendidikan tinggi. Bahkan, para mahasiswa yang sudah diajarkan bahasa Indonesia yang benar pun masih sering salah. Diantara Penyebab terjadinya kesalahan berbahasa, antara lain karena ketidaktahuan, ketidaktelitian mereka sendiri atau memang sengaja disalahkan. Untuk itulah pada makalah ini akan kami jelaskan tentang analisis kesalahan berbahasa dalam bidang ejaan. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian ejaan ? 2. Apa fungsi ejaan ? 3. Apa saja aspek-aspek ejaan ? 4. Apa penyebab terjadinya kesalahan bahasa dalam bidang ejaan ?

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian ejaan 2. Untuk mengetahui fungsi ejaan 3. Untuk mengetahui Aspek-aspek ejaan 4. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kesalahan bahasa dalam bidang ejaan

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ejaan Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.1 Poerwodarminta (1976) mendefinisikan ejaan sebagai cara atau aturan menuliskan katakata dengan huruf. Sementara itu, Tarigan (1985) menyatakan bahwa ejaan adalah cara aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Sedangkan ahli yang lain menyatakan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, paragraf, dan sebagainya), dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca (Moeliono 1988). Adapun Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah yang termuat di dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 Tanggal 16 Agustus 1972 dan sekarang menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia. Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca (Mustakim 1992).2 B. Fungsi Ejaan Fungsi ejaan antara lain: 1. Sebagai landasan pembakuan tata bahasa 2. Sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan 3. Sebagai alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia3
hasan2u.blogspot.com/2011/04/makalah-ejaan-yang-disempurnakan.html http://krsnaalexander.blogspot.com/2012/06/contoh-analisis-kesalahan-berbahasa.html 3 http://kedaipemudakreatif.wordpress.com/2012/08/12/ejaan-yang-disempurnakan/
1

C. Aspek - Aspek Ejaaan Kaidah penulisan ejaan yang disempurnakan meliputi lima aspek. Kelima aspek tersebut adalah: 1. Pemakaian dan Penulisan Huruf a. Huruf Abjad Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan menggunakan 26 huruf didalam abjadnya, yaitu mulai dengan huruf /a/ sampai dengan huruf /z/. Beberapa huruf di antaranya, yaitu huruf /f/, /v/, /x/, dan /z/, merupakan huruf serapan dan sekarang huruf-huruf tersebut dipakai secara resmi di dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, pemakaian huruf itu tetap dipertahankan dan jangan diganti dengan huruf lain. Contoh: - fakta tidak boleh diganti dengan pakta - aktif tidak boleh diganti dengan aktip - valuta tidak boleh diganti dengan paluta - pasif tidak boleh diganti dengan pasip - ziarah tidak boleh diganti dengan jiarah, siarah Meskipun huruf-huruf serapan sudah dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia, harus kita ingat ketentuan pemakaian huruf /q/ dan /x/. Huruf /q/ hanya dapat dipakai untuk nama istilah khusus, sedangkan untuk istilah umum harus diganti dengan huruf /k/. Demikian pula huruf /x/ dapat dipakai untuk lambang, seperti xenon, sinar x, x, + y. Huruf /x/ apabila terdapat pada tengan kata dan akhir kata diganti dengan huruf gugus konsonan /ks/. Contoh: - Quran tetap ditulis Quran (nama) - aquarium harus ditulis dengan akuarium - quadrat harus ditulis dengan kuadrat - taxi harus ditulis dengan taksi - complex harus ditulis dengan kompleks

Huruf /k/ selain untuk melambangkan bunyi /k/, juga digunakan untuk melambangkan bunyi huruf hamzah (glotal). Ternyata masih ada pengguna bahasa yang menggunakan tanda ain // untuk bunyi hamzah (glotal) tersebut. Contoh: tazim harus diganti dengan taksim maruf harus diganti dengan makruf dawah harus diganti dengan dakwah mamur harus diganti dengan makmur4

b. huruf Diftong Dalam bahasa Indonesia terdapat huruf diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi. Contoh : ain, malaikat, saudara, harimau, amboi5 c. Pemenggalan kata 1) Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut. a) Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya : ma-in, sa-at, bu-ah *Huruf diftong ai, au, oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan diantara kedua huruf itu. Misalnya : au-la, sau-dara, am-boi b) Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, diantara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan. Misalnya : ba-pak, ba-rang, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir

http://pelitaku.sabda.org/penggunaan_tata_tulis_ejaan_pelafalan_pemakaian_huruf_dan_pemisahan_suk u_kata 5 Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. J a k a r t a : P u s a t B a h a s a D e p a r t e m e n P e n d i d i k a n Nasional, hlm.83

c) Jika di tengah ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan diantara kedua huruf konsonan itu. gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan. Misalnya : man-di, som-bong, bang-sa d) Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua. Misalnya : in-stru-men, ul-tra, bang-krut, ikh-las 2) Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris. Misalnya : makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah 2. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring a. Huruf Kapital Berikut uraian mengenai nama dan pengacuan yang harus diawali dengan huruf capital : 1) Pada awal kalimat. 2) Petikan langsung. 3) Nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. 4) Nama orang. 5) Gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. 6) Nama jabatan dan pangkat yang dikuti nama orang atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. 7) Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. 8) Nama tahun, bulan, han, hari raya, dan peristiwa bersejarah. 9) Nama geografi. 10) Semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, nama dokumen resmi.

11) Setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat dalam nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. 12) Semua kata dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata depan dan kata hubung yang tidak terletak di awal kalimat. 13) Unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. 14) Kata penunjuk hubungan kekerabatan yang digunakan dalam penyapaan dan pengacuan (kata ganti orang). 15) Kata ganti Anda.6 b. Huruf Miring Huruf miring dipakai untuk: 1) menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan Misalnya: - majalah Bahasa dan Sastra, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat kabar Suara Rakyat. 2) menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata. Misalnya: Huruf pertama kata abad adalah a. Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital. Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.

3) menuliskan istilah ilmiah atau asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Misalnya: 3. nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostama Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini. Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi pandangan dunia

Penulisan Kata a. Kata Dasar Kata yang berupa kata dasar sebagai satu kesatuan. Misalnya : - Ibu percaya bahwa engkau tahu

Ibid, hlm.92

- Kantor pajak penuh sesak - Buku itu sangat tebal b. Kata Turunan 1) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya: bergetar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan. 2) Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan. 3) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulus serangkai. Misalnya: menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancurleburan 4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adipati, aerodinamika, antarkota, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur, dan sebagainya. c. Kata Ulang Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak buku-buku hati-hati undang-undang terus-menerus tukar-menukar

d. Gabungan Kata 1) Gabungan kata yang lazim disebuta kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur - unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: duta besar kambing hitam mata pelajaran meja tulis 8 model linier orang tua persegi panjang

2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan. Misalnya: Alat pandang-dengar anak-istri saya buku sejarah-baru mesin-hitung tangan

3) Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya: Adakalanya Alhamdulillah Bagaimana Beasiswa Belasungkawa Daripada

e. Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan nya Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku-, -mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa yang kumiliki boleh kauambil. Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan

f. Kata Depan di, ke, dan dari Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya : Kain itu terletak di dalam lemari. Saya pergi ke sana-sini mencarinya. Ia datang dari Surabaya kemarin.

g. Kata Si dan Sang 9

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: h. Partikel 1) Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya : Bacalah buku itu baik-baik. Apakah yang tersirat dalam surat itu ? Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia. Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil. Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

2) Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya : Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku. Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi 3)Partikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya : Pegawai negeri mendapat gaji per 1 April. Hargakain itu Rp 2.000,00 per helai.

i. Singkatan dan Akronim Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. 1)Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti tanda titik. Misalnya : Muh. Yamin M. B. A S.E. Sdr. Bpk. sarjana ekonomi Saudara Bapak master of business administration Sukanto Hs.

10

2)Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya : DPR PT Dewan Perwakilan Rakyat Perseroan Terbatas PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia

3) Singakatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya : dll. dsb. dst. Dan lain-lain Dan sebagainya Dan seterusnya

4)Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya: Cu TNT Cm l kg cuprum trinitrotulen sentimeter liter kilogram

Akronim kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. 1) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya : ABRI IKIP SIM Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surat Izin Mengemudi

2) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaptal. 11

Misalnya: Akabri Bappenas Sespa Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Badan Perencanaan Pembangunan Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

3) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: Pemilu Radar Rudal Tilang pemilihan umum radio detecting and ranging peluru kendali bukti pelanggaran

j. Angka dan Lambang Bilangan 1)Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi. Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000) 2)Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, dan isi, satuan waktu, nilai uang, dan kuantitas. Misalnya: 0,5 sentimeter 1 jam 20 menit 5 kilogram pukul 15.00 4 meter persegi tahun 1928

3)Angka lazim dipakai untuk melambangka nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya: Jalan Tanah Abang I No. 15 Hotel Indonesia, Kamar 169

4) Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252 12

Surah Yasin: 9

5) Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut. a) Bilangan utuh Misalnya : Dua belas (12) Dua puluh dua (22) Dua ratus dua puluh dua (222) Misalnya: Setengah () Tiga perempat () Seperenam belas (1/16)

b) Bilangan pecahan

6) Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut. Misalnya: Paku Buwono X; pada awal abad XX; dalamkehidupan abad ke-20 ini; lihan Bab II; Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu. 7)Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara yang berikut. Misalnya: tahun 50-an atau tahun lima puluhan uang 5000-an atau uang lima ribuan lima uang 1.000-an atau lima uang seribuan

8)Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya : 4. Amir menonton drama itu sampai tiga kali. Ayah memesan tiga ratus ekor ayam

Penulisan tanda baca 13

a. Tanda Titik (.) 1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya : 2) Ayahku tinggal di Solo. Hari ini tanggal 11 Maret 2013. Biarlah mereka duduk di sana. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul

tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit. Misalnya : Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka. 3) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya : 4) Acara kunjungan Adam Malik Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD 45) Salah Asuhan Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal suat

atau nama dan alamat surat. Misalnya : 5) Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik) Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik) 1 April 1985 (tanpa titik) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,

ikhtisar, atau daftar. Misalnya : a. III. Departemen Dalam Negeri A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa B. Direktorat Jenderal Agraria b. 1. Patokan Umum 1.1 Isi Karangan 1.2 Ilustrasi 14

b. Tanda Koma (,) 1) Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya : 2) Saya membeli kertas, pena, dan tinta. Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko. Satu, dua, tiga! Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari

kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan. Misalnya : 3) Saya ingin datang, tetapi hari hujan. Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung

antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya : . Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. . Jadi, soalnya tidak semudah itu. 4) Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, dan nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya : Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan raya Salemba 6, Jakarta. Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor. Kuala Lumpur, Malaysia.

5) Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya : W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

15

6) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru. Misalnya: Di mana Saudara tinggal? tanya Karim. Berdiri lurus-lurus! perintahnya

c. Tanda Titik Koma (;) dan Tanda Titik Dua (:) Tanda titik koma (;) dan tanda titik dua (:) memiliki bentuk yang mirip, namun fungsi yang berbeda.Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan kalimat yang sejenis atau setara, sedangkan tanda titik dua umumnya dipakai untuk menandai bahwa bagian setelahnya adalah penjelasan atau perincian dari bagian sebelumnya.7 Pemakaian tanda titik koma: 1) Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya: Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga. Ayah berkebun; Ibu menonton TV; saya asyik bermain komputer.

2) Memisahkan dua atau lebih kalimat setara apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah olehtanda baca dan kata hubung. Misalnya: Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, dan jeruk. Agenda rapat meliputi pemilihan ketua dan wakil ketua; penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga; pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.
7

http://www.scribd.com/doc/56996579/Ejaan-Bahasa-Indonesia.

16

3) Mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Misalnya: Syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini: (1)berkewarganegaraan Indonesia; (2)berijazah sarjana S-1 sekurang-kurangnya; (3)berbadan sehat. Pemakaian tanda titik dua: 1) Setelah suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian, kecuali bila rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Misalnya: Kita memerlukan beberapa alat: palu, tang, dan obeng 2) Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya: a) Ketua : Ahmad Wijaya Sekretaris : S. Handayani Bendahara : B. Hartawan b) Tempat Sidang : Ruang 104 Pengantar Acara : Bambang S. Hari : Senin Waktu : 09.30 3) Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya: Ibu : (meletakkan beberapa kopor) Bawa kopor ini, Mir! Amir : Baik, Bu. (mengangkat kopor dan masuk) Ibu : Jangan lupa. Letakkan baik-baik! (duduk di kursi besar)

17

4) Tanda titik dua dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta di antara nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Misalnya: Tempo, I (34), 1971: 7 Karangan Ali Hakim, Pedidikan Seumur Hidup: sebuah Studi, sudah terbit. Tjokronegoro, Sutomo, Tjukuplah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita? Djakarta: Eresco, 1968. d. Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah () Tanda hubung dipakai untuk : 1) Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Misalnya: Di samping cara-cara lama itu juga cara yang baru 2) Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya: Anak-anak berulang-ulang kemerah-merahan

3) Tanda hubung dipakai untuk merangkai se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan -an, singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap. Misalnya: se-Indonesia hadiah ke-2 tahun 50-an mem-PHK-kan

4) Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsure bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misalnya: di-smash, pen-tackle-an 18

Tanda pisah dipakai untuk : 1) Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Misalnya: Kemerdekaan bangsa itusaya yakin akan tercapaidiperjuangkan oleh bangsa itu sendiri. 2) Tanda pisah menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya: Rangkaian temuan inievolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atomtelah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta. 3) Tanda pisah dipakai di antara dua dilangan atau tanggal dengan arti sampai dengan atau sampai ke. Misalnya: 19101945 Tanggal 510 April 2012 jakartaBandung

e. Tanda Elipsis (...) 1) Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Misalnya: Kalau begitu ya, marilah kita bergerak. 2) Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam satu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan akan diteliti lebih lanjut. Catatan: Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah titik untuk menandai penghilangan teks dan atu untuk menandai akhir kalimat.8
8

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. J a k a r t a : P u s a t B a h a s a D e p a r t e m e n P e n d i d i k a n Nasional, hlm.67

19

Misalnya: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati. f. Tanda Tanya (?) dan Tanda Seru (!) Tanda tanya (?) digunakan pada akhir kalimat tanya serta digunakan dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat membuktikan kebenarannya. Misalnya : Kapan ia berangkat? Saudara tahu, bukan? Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?) Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

Tanda seru (!) dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya : Alangkah seramnya peristiwa itu! Bersihkan kamar itu sekarang juga! Merdeka!

g. Tanda Kurung 1) Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Misalnya: Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu. 2) Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya: Sajak Tranggono yang berjudul Ubud (nama yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962. Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.

20

3) Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. Misalnya: Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain (a). Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

4) Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Misalnya: Factor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal. Tanda Kurung siku ([...]) dipakai untuk: 1) Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau ekurangan itu memang terdapat di naskah asli. Misalnya: Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik. 2) Tanda kurung siku menapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38] perlu dibentangkan. h. Tanda Petik Tanda petik ada dua jenis, yaitu tanda petik ganda (") dan tanda petik tunggal ('). Tanda baca yang mirip dengan tanda petik tunggal yang berdiri sendiri atau tidak berpasangan disebut tanda penyingkat atau apostrof. Fungsi tanda petik ganda: 1) Mengapit petikan langsung. M i s a l n y a : "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!" 2) Mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya: Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu. 21

3) Mengapit istilah yang kurang dikenal atau mempunyai arti khusus. Misalnya: Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai". Fungsi tanda petik tunggal: 1) Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Misalnya: Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?" 2) Mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. Misalnya: feed-back 'balikan' Tanda penyingkat atau apostrof berfungsi untuk menunjukkan penghilang bagian kata atau bagian tahun. Misalnya: Ali kan kusurati. (kan = akan) Malam lah tiba. (lah = telah) 1 Januari 88. (88 = 1988)

i. Tanda Garis Miring (/) 1) Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomormpada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Misalnya: No. 7/PK/1973 Jalan Kramat III/10 tahun anggaran 1985/1986

2) Tanda gris miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya: 5. dikirimkan lewat darat/laut harganya Rp25,00/lembar dikirim lewat darat atau laut harganya Rp25,00 tiap lembar

Penulisan unsur serapan Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia banyak menyerap unsur dari bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur 22

serapan itu ada yang sudah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, baik pengucapannya maupun penulisannya dan ada pula yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Ada beberapa jenis unsur serapan : a. Penyerapan Secara Alamiah Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia yang lazim dieja dan dilafalkan dalam bahasa Indonesia tidak mengalami perubahan. Penyerapan seperti ini dikategorikan sebagai penyerapan secara alamiah. Contoh : Abjad Ilham Sirsak Abad Kabar Mode Sehat Hikayat Radio Orator Badan Perlu Meja Kitab Minggu Potret Arloji Listrik Imitasi Supir

b. Penyerapan seperti Bentuk Asal Unsur asing yang belum sepenuhnya diserap ke dalam bahasa Indonesia dapat dipakai dalam bahasa Indonesia dengan jalan masih mempertahankan lafal bahasa asalnya (asing). Contoh : Shuttle cock Cum laude De facto Curriculum vitae Otside Bridge Hockey Status quo Jadi, pengucapan kata tersebut masih seperti bentuk asalnya. Penyerapan seperti ini tidak terlalu banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia.

c. Penyerapan dengan Terjemahan Penyerapan unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui penerjemahan kata-kata asing tersebut. Penerjemahan ini dilakukan dengan cara memilih kata-kata asing tertentu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penyerapan ini dapat berupa satu kata asing dipandankan dengan satu kata atau lebih dalam bahasa Indonesia. Contoh: Kata Asing Volcano Terjemahan Indonesianya Gunung api 23

Feed back Medical Take off Point In put Out put

Umpan balik (balikan) Pengobatan Lepas landas Butir Masukan Keluaran

d. Penyerapan dengan Perubahan Dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penyerapan dengan perubahan diatur dalam sejumlah kaidah. Ada lima puluh tujuh ketentuan mengenai perubahan dan penyesuaian bunyi dari kata asing ke kata Indonesia. Contoh : Bentuk Asal Octaaf Haematite Construction Accomodation Accent Technique Affective Idealist Geometry Effect Komfoor Zoology Gauverneur Cholera Television e. Bentuk Serapan Oktaf Hematite Konstruksi Akomodasi Aksen Teknik Efektif Idealis Geometri Efek Kompor Zoologi Gubernur Kolera Televise Bentuk Asal Quitancy Structure Circulation Acclamation Charisma Check System Station Fossil Central Phase Aquarium Rhetoric Institute Exclusive Bentuk Serapan Kuitansi Struktur Sirkulasi Aklamasi Karisma Cek System Stasiun Fosil Sentral Fase Akuarium Retorik Insititut Eksklusif

Penyerapan Akhiran Asing Bahasa Indonesia juga mengambil akhiran-akhiran asing sebagai unsur serapan. Akhiran-akhiran itu disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam bahasa Indonesia. Ketentuan itu telah diatur dalam kaidah Ejaan yang Disempurnakan. Akhiran asing itu ada yang diserap sebagai bagian kata yang utuh, seperti kata standarisasi disamping kata standar, kata implementasi disamping kata implement, dan kata objektif disamping kata objek. Akhiran-akhiran itu antara lain is, -isme, -al, -ik, -ika, -wan, -wati, -log, -tas, dan ur. Contoh :9

http://karyamp.blogspot.com/2012/09/penulisan-unsur-serapan-akronim-dan.html

24

Logis Modernisme Logika Ekonomis Ideal Dialektika Dualisme Struktural Mekanik

Sukarelawan Sukarelawati Dialog

Analog Kualitas Universitas

Direktur Faktur Struktur

D. Penyebab kesalahan bahasa dalam bidang ejaan Penyebab kesalahan berbahasa dalam bidang ejaan antara lain : 1. Ketidaktahuan terhadap bahasa yang baik dengan bahasa yang salah. Bahasa Indonesia memang sudah diajarkan semenjak Sekolah Dasar, tetapi para siswa tidak dibiasakan berbahasa Indonesia yang baik sejak awal. Dalam buku-buku pelajaran kelas 1 SD, terdapat banyak kesalahan, misalnya tidak menggunakan huruf kapital pada setiap awal kalimat dan nama orang. Menurut saya, pelajaran bahasa Indonesia dari SD hingga SMA tidak fokus mengajarkan bahasa Indonesia yang benar. Di sekolah, para siswa lebih sering diajarkan mengenai wacana dibanding ejaan. Buktinya, banyak siswa kelas 12 SMA yang mengikuti bimbingan belajar bahasa Indonesia sebelum mengikuti ujian masuk universitas. Inilah yang menyebabkan ketidaktahuan berbahasa yang benar pada mahasiswa. Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia yang baik tidak ditanamkan semenjak kecil, apalagi sesudah masuk kuliah banyak mahasiswa yang melupakan pelajaran mengenai ejaan di bimbingan belajar dan sekolahnya, terutama oleh mahasiswa di jurusan yang tidak menekankan bahasa Indonesia yang baik di kuliahnya. 2. Ketidaktelitian Ketidaktelitian juga menjadi salah satu penyebab kesalahan berbahasa. Kesalahan yang biasa terjadi karena ketidaktelitian, yaitu salah pengetikan atau penulisan, biasanya siswa atau mahasiswa cenderung ingin cepat-cepat selesai dalam mengerjakan tugas sehingga tidak memeriksa lagi apakah terdapat kesalahan pengetikan atau tidak. Mahasiswa ddan siswa juga sering membuat kalimat yang panjang-panjang hingga inti kalimatnya menjadi tidak jelas. Jika mahasiswa tersebut lebih teliti, seharusnya ia dapat membagi kalimat panjang tersebut menjadi beberapa kalimat agar intinya menjadi jelas. 25

Selain itu, mereka juga masih sering menggunakan bahasa lisan yang dituang ke dalam tulisan. Padahal, jika ia lebih teliti, bahasa lisan tersebut dapat diganti menjadi bahasa tulisan. 3. Kesalahan yang memang sengaja dilakukan Biasanya kesalahan yang sengaja dilakukan ini terdapat pada selembaranselembaran iklan mengenai suatu acara yang diadakan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menarik perhatian pembacanya. Kesalahan yang dilakukan dengan sengaja tersebut biasanya disampaikan dengan kalimat yang rancu atau justru kalimat yang kreatif dan imajinatif.10

10

http://serbabahasa.wordpress.com/page/2/

26

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca. Fungsi ejaan antara lain: 1. 2. 3. Sebagai landasan pembakuan tata bahasa Sebagai landasan pembakuan kosa kata dan peristilahan Sebagai alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia Kaidah penulisan ejaan yang disempurnakan meliputi enam aspek. Keenam aspek tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Pemakaian dan Penulisan huruf Pemakaian huruf kapital dan huruf miring Penulisan Kata Penulisan tanda baca Penulisan unsur serapan Penyebab kesalahan berbahasa dalam bidang ejaan antara lain : 27

1. 2. 3.

Ketidaktahuan terhadap bahasa yang baik dengan bahasa yang salah Ketidaktelitian Kesalahan yang memang sengaja dilakukan

DAFTAR PUSTAKA hasan2u.blogspot.com/2011/04/makalah-ejaan-yang-disempurnakan.html. diakses: 8 Maret 2013, 21:15 http://kedaipemudakreatif.wordpress.com/2012/08/12/ejaan-yang-disempurnakan/. Diakses: 9 Maret 2013, 05:10 http://krsnaalexander.blogspot.com/2012/06/contoh-analisis-kesalahan-berbahasa.html. diakses: 8 Maret 2013, 21:45 http://pelitaku.sabda.org/penggunaan_tata_tulis_ejaan_pelafalan_pemakaian_huruf_dan_pemisa han_suku_kata. diakses: 9 Maret 2013, 08:20 Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. J a k a r t a : P u s a t B a h a s a D e p a r t e m e n P e n d i d i k a n N a s i o n a l . D i p e r o l e h d a r i http://j.mp/l8Xol8 Pada 9 Maret 2013. http://serbabahasa.wordpress.com/page/2/ http://www.scribd.com/doc/56996579/Ejaan-Bahasa-Indonesia. diakses: 10 Maret 2013, 21:50

28