Anda di halaman 1dari 13

HAK DALAM ISLAM

Setiap manusia hidup bermasyarakat, saling tolong menolong dalam menghadapi berbagai macam persoalan untuk menghadapi berbagai macam persoalan untuk menutupi kebutuhan antara yang satu dengan yang lainya. Ketergantungan seseorang kepada orang lain dirasakan ada ketika manusia lahir. Kemampuan seseorang hanya terbatas pada bidang tertentu saja. Misalnya petani hanya mapu menanam ketela pohon dan padi tetapi tidak dapat membuat cangkul. Jadi petani mempunyai ketergantungan dengan seseorang ahli yang pandai membuat cangkul, begitu juga orang yang pandai membuat cangkul juga memiliki ketergantungan kepada petani. Kebutuhan sering menimbulkan pertentangan-pertentangan kehendak. Untuk itu perlu adanya aturan-aturan yang mengatur kebutuhan manusia agar manusia itu tidak dapat melanggar dan memperkosa hak-hak orang lain, maka timbullah hak dan kewajiban di antara sesama manusia. Hak milik diberi gambaran nyata oleh hakekat dan sifat syariat islam sebagai berikut : Tabiat dan sifat syariat islam ialah merdeka (bebas) Syariat islam dalam menghadapi berbagai kemusykilan senantiasa bersandar kepada maslahat (kepentingan umum) sebagai salah satu sumber dari sumber-sumber pembentukan hukum. Corak ekonomi islam berdasarkan al quran dan as sunnah, yaitu suatu corak yang mengakui adanya hak pribadi dan hak umum. II.RUMUSAN MASALAH Dalam makalah ini akan dibahas berbagai masalah diantaranya : a.Apa definisi hak dalam islam ? b.Bagaimana pengakuan al quran terhadap hak milik individu ? c.Apa saja tipe-tipe hak dalam islam ? d.Bagaimana ruang lingkup hak dalam islam ? III.PEMBAHASAN A.Definisi Hak Dalam Islam Menurut pengertian umum, hak ialah : Suatu ketentuan yang digunakan oleh syara untuk menetapkan suatu kekuasaan/suatu beban hukum. Ada juga hak yang didefinisikan sebagai berikut : Kekuasaan mengenai sesuatu/sesuatu yang wajib dari seseorang kepada yang lainya. Milk dalam buku pokok-pokok fiqih muamalah dan hukum kebendaan dalam islam, didefinisikan sebagai berikut1 : Kekuasaan terdapat pemilik suatu barang menurut syara untuk bertindak secara bebas bertujuan mengambil mantfaatnya selama tidak ada penghalang syarI.

Apabila seseorang telah memiliki suatu benda yang sah menurut syara, orang tersebut bebas bertindak terhadap benda tersebut baik akan dijual maupun akan digadaikan baik dia sendiri maupun dengan perantara orang lain. Perbedaan antar hak dan milik, dicontohkan sebagai berikut : Seseorang pengampu berhak menggunakan harta orang yang berada dibawah ampuanya. Pengampu punya hak untuk membelanjakan harta itu dan pemilikinya adalah adalah orang yang berada di bawah ampuanya. Jadi, tidak semua yang memiliki berhak menggunakan dan tidak semua yang punya hak penggunaan dapat memiliki2. Hak ada kalanya merupakan sulthah, adakalnya merupakan taklif. a.Sulthah terbagi menjadi dua, yaitu Sulthah ala al nafsi : hak seseorang terhadap jiwa Sulthah ala syaiin muayan : hak manusia untuk memiliki sesuatu b.Taklif adalah orang yang bertanggung jawab Taklif adakalanya tanggungan pribadi (adah syakhsyiyah), adakalnya tanggungan harta (ahdah maliyah). B.Pengakuan Al Quran Terhadap Hak Individu Semua kekayaan dan harta benda merupakan milik Allah. Manusia memilikinya hanya sementara, semata-semata sebagai suatu amanah atau pemberian Allah. Manusia menggunakan harta berdasarkan kedudukanya sebagai pemegang amanah bukan sebagai pemilik yang kekal. Karena manusia mengemban amanah mengelola hasil kekayaan dunia, maka manusia harus bisa menjamin kesejahteraan bersama dan dapat mempertanggung jawabkanya dihadapan Allah SWT. Dalam islam, kewajiban datang terlebih dahulu baru setelah itu hak. setiap individu memiliki kewajiban tertentu. Dan sebagai hasil dari pelaksanaan kewajiban tersebut, setiap orang akan memperoleh hak-hak tertentu. Dalam surat Adzariyat dan al kahfi, Allah berfirman tentang hak kepemilikan pribadi ada hakhak umum yang harus dipenuhi Artinya : Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (Adzariat : 19) Artinya : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.(al isra : 26) Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa islam mengakui hak milik pribadi dan menghargai pemiliknya, selama harta itu diperoleh dengan jalan yang halal. Islam melarang setiap orang mendzalimi dan merongrong hak milik orang lain dengan azab yang pedih, terlebih lagi kalau pemilik harta itu adalah kaum yang lemah, seperti anak yatim dan wanita.3 C.Tipe-Tipe Hak Dalam Islam Dalam pengertian umum, hak dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu mal dan ghoiru mal4.

Hak mal adalah : Sesuatu yang berpautan dengan harta seperti pemilikan benda-benda atau utang Sedangkan hak ghoiru mal terbagi kepada dua bagian yaitu hak syakhshi dan hak aini. Hak syakhshi adalah : Suatu tuntutaan yang ditetapkan syara dari seseorang terhadap orang lain. Sedangkan hak aini adalah hak orang dewasa dengan bendanya tanpa dibutuhkan orang kedua. Hak aini ada dua macam : ashli dan thabi. hak aini ashli adalah adanya wujud benda tertentu dan adanya shahub al haq seperti hak mulkiyah dan hak irtifaq Hak aini thabI ialah jaminan yang ditetapkan untuk seseorang yang mengutangkan uangnya atas yang berhutang. Macam-macam hak aini adalah sebagai berikut 5: a.Hak al milkiyah ialah hak yang memberikan pemiliknya hak wilayah. Dia boleh memiliki, menggunakan, mengambil manfaat, menghabiskanya, merusaknya, dan membinasakanya dengan syarat tidak menimbukan kesulitan bagi orang lain b.Hak al intifa ialah hak yang hanya boleh dipergunakan dan diusahakan hasilnya c.Haq al irtifaq ialah hak memiliki manfaat yang ditetapkan untuk suatu kebun atas kebun yang lain, yang dimiliki bukan oleh pemilik kebun pertama. d.Haq al istihan adalah hak yang diperoleh dari harta yang digadaikan e.Haq al ihtibas ialah hak menahan suatu benda f.Haq qarar (menetap) atas tanah wakaf, yang termasuk hak menetap atas tanah wakaf adalah : Haq al hakr ialah hak menetap diatas tanah wakaf yang disewa, untuk yang lama dengan seizin hakim Haq al ijaratain ialah hak yang diperoleh karena ada akad ijarah dalam waktu yang lama dengan seizing hakim atas tanah wakaf yang tidak sanggup dikembalikan kedalam keadaan semula. Haq al qadar ialah hak menambah bangunan yang dilakukan oleh penyewa Haq al marshad ialah hak mengawasi atau mengontrol g.Haq al murur ialah h.Hak taali ialah hak manusia untuk menempatkan bangunanya diatas bangunan orang lain. i.Haq al jiwar ialah hak-hak yang timbul disebabkan oleh berdempetnya batas-batas tempat tinggal. j.Haq syafah atau haq syurb ialah kebutuhan manusia terhadap air untuk diminum sendiri dan untuk diminum binatangnya serta untuk kebutuhan rumah tangganya. Sebab-sebab pemilikan Adapun factor-faktor yang menyebabkan harta dapat dimiliki antara lain 6: 1.Ikraj al muhabat, untuk harta yang mubah (belum dimiliki seseorang) atau harta yang tidak

termasuk dalam harta yang dihormati (milik yang sah) dan tidak ada penghalang syara untuk dimiliki. Untuk memiliki benda-benda mubahat diperlulkan dua syarat, yaitu : Benda mubahat belum diikrazkan oleh orang lain Adanya niat (maksud) memiliki 2.Khalafiyah ialah: Bertempatnya seseorang atau sesuatu yang baru bertempat di tempat yang lama, yang telah hilang berbagai macam haknya. Khalafiyah ada dua macam : Khalafiyah syakhsyi an syakhsyi yaitu si waris menempati tempat si muwaris dalam memiliki harta-harta yang ditinggalkan oleh muwaris. Harta yang ditinggalkan oleh muwaris disebut firkah Khalafiyah syaian syaian yaitu apabila seseorng merugikan milik orang lain atau menyerobot barang orang lain, kemudian rusak ditanganya atau hilang. Maka wajiblah dibayar harganya dan diganti kerugian. Kerugian pemilik harta 3.Tawallud mim mamluk, yaitu segala yang terjadi dari benda yang dimiliki hak bagi yang memiliki benda tersebut. 4.Karena penguasa terhadap milik Negara atas pribadi yang sudah lebih dari 3 tahun D.Ruang Lingkup Hak Dalam Islam Milk yang di bahas dalam fiqih muamalah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu sebagai berikut7 : 1.Milk tam yaitu suatu kepemilikan yang meliputi benda dan manfaatnya sekaligus, artinya bentuk benda dan kegunaanya dapat dikuasai. Pemilikan tam bisa diperoleh dengan banyak cara misalnya jual beli. 2.Milk naqishah, yaitu bila seseorang hanya memiliki salah satu dari benda tersebut. Memiliki benda tanpa memiliki manfaatnya atau memiliki manfaatnya saja tanpa memiliki zatnya. Milk naqishah yang berupa penguasaan terhadap zat barang (benda) disebut milk raqabah. Sedangkan milk naqish yang berupa penguasaan terhadap kegunaanya saja disebut milk manfaat/hak guna pakai. Dilihat dari segi mahal (tempat) milik dibagi menjadi 3 bagian8 : 1.Milk al ain atau milk al raqabah, yaitu memiliki semua benda baik benda tetap (ghair manqul) maupun benda-benda yang dapat dipindahkan (manqul) seperti pemilikan terhadap rumah, kebun, mobil, motor dll 2.Milk manfaah, yaitu seseorang yang hanya memiliki manfaatnya saja dari suatu benda. Seperti benda hasil meminjam, wakaf dll 3.Milk al dayn, yaitu pemilikan karena adanya utang. Misalnya sejimlah uang yang dipinjamkan kepada seseorang/pengganti benda yang dirusakkan. Dari segi shurah (cara berpautan milik dengan yang dimiliki) milik dibagi menjadi dua bagian

yaitu : 1.Milk al mutamayyiz Sesuatu yang berpautan dengan yang lain, yang memiliki batasan-batasan yang dapat memisahkanya dari yang lain. Misalnya : antara sebuah mobil dan seekor kerbau 2.Milik al syaI atau milik al musya yaitu : Milik yang berpautan dengan sesuatu yang nisbi dari kumpulan sesuatu, betapa besar/betapa kecilnya kumpulan itu. Misalnya memiliki seekor sapi yang dibeli oleh 40 orang, untuk disembelih dan dibagikan dagingnya. IV.KESIMPULAN Hak milik adalah suatu ketentuan yang digunakan oleh syara untuk menetapkan sutau kekuasaan atau suatu beban hukum Tipe-tipe hak dalam islam secarta umum ada 2 yaitu hak mal dan ghoiru mal. Sedangkan hak ghoiru mal terbagi pada 2 bagian yaitu hak syakhshi dan hak aini Runag lingkup hak milik dalam islam secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian yaitu milik tam dan milik naqishah. Sedangkan jika dilihat dari segi mahal (tempat) milik dapat di bagi menjadi 3 bagian yaitu milk al ain, milk al manfaah, dan milk al dayn V.PENUTUP Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan dan tentunya kami pemakalah sebagai manusia biasa yang tak kan luput dari yang namanya kesalahan maka saran konstruktif maupun kritik sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah yang akan datang.

AL MAL Dalam suatu kajian ilmiah perlu dijeasakan juga mengenai suatu hal yang berkaitan dengan suatu objek yang akan di kaji, maka untuk menyamakan suatu pandangan yamng bersifat ilmiah maka penulis akan menjelaskan tentang pengertian harta baik secara lughawi maupun secara istilah. Harta dalam kajian kebahasaaan arab di sebut, al mal yang berasal dari kata . Yang mempunyai arti dalam kajian kebahasan arab disebut condong, cenderung, dan miring. Hal ini sangat beriringan sekali dan pas karena harta yang ada pasti dimilki oleh seseorang sehingga menjadikannya codong kepada yang harta. Sedangka harta (al mal) menurut istilah Imam Hanafiyah ialah : . sesuatu yang digandrungi tabiat manusia dan memungkinkan untuk disimpan hingga dibutuhkan. Harta mesti dapat disimpan sehingga sesuatu yang tidak dapat disimpan tidak dapat disebut harta. Sehingga demikian harta sebagai hal yang dapat disimpan dan hal itu nantinya dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan kegiatan muamalah. Tetapi menurut pandangan Hanafiyyah dibedakan antara harta dan manfaat, karena dalam ini ia menerangkan bahwa manfaat bukan sebagai harta, tetapi manfaat termasuk milik karena Hanafiyyah membedakan antar milik dan harta. Harta adalah sesuatu yang dapat disimpan dan dapat digunakan ketika dibutuhkan, dan dalam hal ini harta sebagai suatu hal yang berwujud (ayan). Sedangkan harta menurut sebagian ulama ialah : sesutau yang diinginkan manusia berdasarkan tabiatnya, baik manusia itu akan memebrikannya atau akan menyimpannya. Dari hal ini diketahui bahwa suatu hal yang diinginkan oleh manusia berdasar naluri tabiat kemanusiaannya baik akan disimpan maupun akan dipergunakannya atau memberikannya. Sehingga dapat diketahui bahwa sebagian ulama berpandangan bahwa harta adalah sebagai suatu hal yang ingin dimiliki oleh manusia berdasarkan naluri tabiat kemanusiannya. Dan menurut sebagian ulama yang lain bahwa yang di maksud harta adalah : segala zat (ain) yang berharga, bersifat materi yang berputar di antara manusia. Dengan pengertian ulama yang lain di atas dapat diambil sebuah ketetapan lain tentang pengertian harta adalah sebagai zat yang bersifat materi yang berputar dikalangan atau disekitar manusia dan dalam putarannya diiringi dengan sebuah interaksi. Materi yang dimaksud disini adalah sebagai materi yang bernilai dan mempunyia sifat yang dapat diputarkan diantara manusia. Sedangkan hal yang lain tentang pengertian harta adalah yang diungkapkan oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy[1] menerangkan bahwa yang dimaksud harta ialah : 1. Nama selain manusia yang diciptakan Allah untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia, dapat dipelihara pada suatu tempat, dan dikelola (tasharruf) dengan jalan ikhtiar. 2. sesuatu yang dapat dimilki oleh setiap manusia, baik oleh seluruh manusia maupun oleh sebagian manusia 3. sesuatu yang sah untuk diperjual belikan 4. sesuatu yang dapat dimiliki dan mempunyai nilai (harga) seperti sebiji beras dapat dimilki oleh manuisa, dapat diambil kegunaannya dan dapat disimpan, tetapi sebiji beras menurut urf tidak bernilai (berharga), maka sebiji beras tidak termasuk harta.

5. sesuatu yang berwujud, sesuatu yang tidak berwujud meskipun dapat diambil manfaatnya tidak termasuk harta, misalnya manfaat, karena manfaat tidak berwujud sehingga tidak termasuk harta. 6. sesuatu yang dapat disimpan dalam waktu yang lama atau sebentar dan dapat diambil manfaatnya ketika dibutuhkan. Dengan apa yang dijelaskan diatas dapat diambil sebuah penalaran dan kesimpulan bahwa pengertian harta seperti apa yang dikemukakan oleh para ahli diatas masih terdapat sebuah perbedaan pendapat tentang pengertian yang pasti tentang harta. Ulama Hanafiyyah menyatakan bahwa harta adalah sesuatu yang berwujud dan dapat disimpan sehingga sesuatu yang tidak berwujud dan tidak dapat disimpan tidak termasuk harta, seperti hak dan manfaat. Karena manfaat adalah sebagai milik. Perbedaan yang terdapat dianatara para ulama diatas dikarenakan penglihatan meraka dari segi pandang yang berbeda-beda. Untuk hal itu bisa dikarenakan karena unsur yang membangun pengertian harta. Menurut para Fuqaha harta berdasar pada dua sendi yaitu unsur aniyah dan unsur urf. Unsur yang pertama adalah unsur aniyah mempunyai maksud bahwa harta itu ada wujudnya dalam kenyataan (aayan). Jadi manfaat dari suatu harta bukan termasuk harta seperti contoh bahwa sebuah rumah adalah harta tetapi manfaat yang ada dari rumah bukan sebuah harta tetapi termasuk milik atau hak. Unsur yang kedua yang membangun suatu harta adalah unsur urf ialah segala sesuatu yang dipandang harta oleh seluruh manusia atau sebagian manusia, tidaklah manusia memelihara sesuatu kecuali menginginkan manfaatnya, baik manfaat madiyah maupun manfaat manawiyah.

B. KEDUDUKAN HARTA
Sebuah hal yang terpenting yang harus diketahui dalam penggunaan harta adalah keduduakan harta, karena dalam hal ini sangat penting sekali agar nantinya tidak terjadi sebuah salah dalam penggunaan harta. Karena harta sangat berperan sekali dalam kehidupan manusia, hal itu terbukti bahwa dizaman yang sangat multikultural ini sebuah harta mempunyai kedudukan yang sangat tinggi didalam interaksi dalam kehidupan. Dijelaskan dalam al-quran bahwa harta merupakan perhiasan hidup, hal ini seperti pada firman Allah dalam surat Al-Kahfi : 46 yang artinya harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Pada ayat itu diterangkan bahwa kebutuhan manusia atau kesenangan manusia terhadap harta sama dengan kebutuhan manusia terhadap anak atau keturunan. Jadi salah satu kebutuhan yang mendasar bagi manusia adalah sebuah harta. Karena yang namanya perhiasan pasti sebuah aksesoris yang dapat memprindah orang yang memakainya jadi kalau orang yang tidak mempunyai harta maka sebuah unsur keindahannya dari dirinya akan hilang. Sebuah paradigma yang seperti ini terlepas dari yang namanya unsur keimanan, karena setiap manusia itu mempunyai sebuah iman baik yang punya harta atau yang tidak punya harta. Disamping sebagai sebuah perhiasan harta juga mempunyai kedudukan sebagai sebuah amanat (fitnah), hal ini sebagaiman firman Allah : sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan dan disisi Allahlah pahala yang besar.(Al-Taghabun: 15). Dari penggalan ayat diatas dapat diambil sebuah pemikiran bahwa harta adalah sebagian cobaan hidup, yang harus dilewati manusia. Karena sebuah cobaan adalah sebagai proses untuk kedepan yang lebih baik. Melihat status harta sebagai titipan yang itu sebagai pemberian amanat yang harus di jaga. Secara hakikinya bahwa manusia tidak memliki harta secara mutlak sehingga dalam hal itu masih ada suatu hal yang harus dilakukan oleh yang di beri amanat untuk dapat menpergunakanya dengan baik karena didalamnya masih terdapat hak orang lain, seperti zakat harta dan lainya.

Selain sebagai amanat harta juga berkedudukan sebagai musuh, tetapi ayat yang menerangkan secara mendetail dan menjurus bahwa harta adalah sebagai musuh tidak ada, tetapi yang ada hanyalah sebuah penyamaaan dan penyandingan ayat. Ayat itu adalah : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.(Al-Taghabun: 14). Dari penggalan ayat diatas dijelaskan bahwa harta berkedudukan sebagai musuh. Ayat tersebut menjelaskan bahwa diantara istri-istri dan anak-anak ada yang menjadi musuh. Di ayat yang sebelumnya dijelaskan antara anak-anak dan harta di hubungkan dengan wawu athaf, dengan menggunakan prinsip Dalalat Al-Iqtiran dalam ushul fiqh, dijelaskan bahwa sesuatu yang dijelaskan dengan wawu athaf adalah berkedudukan sama dalam hukumnya. Jadi hukum anak-anak yang terdapat pada surat Al-Taghabun: 14 adalah sebagai sebuah musuh, sehingga menjadikan hukum harta yang terdapat pada surat al-kahfi 46 juga sama hukumnya dengan anak-anak yaitu sebagai musuh karena keduanya dihubungkan dengan wawu athaf. Sehingga keduanya mempunyia kedudukan yang sama. Sebuah konsekuensi logis dari ayat-ayat al-quran yang terdapat pada hal diatas mempunyia sebuah grand maksud ialah sebagai berikut : 1. Manusia bukan pemilik mutlak, tetapi dibatasi oleh hak-hak Allah sehingga wajib baginya untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk berzakat dan ibadah lainnya. 2. Cara-cara yang digunakan dalam pengambilan kegunaan terhadap suatu harta adalah harus mengarah kepada kemakmuran bersama, pelaksanaanya dapat diatur oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya. 3. Harta perorangan boleh digunakan untuk umum, dengan syarat pemiliknya memperoleh imbalan yang wajar. Disamping penggunaan harta yang harus memperhatikan kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi juga harus diperhatikan. Dengan hal itu maka berlakulah ketentuanketentuan sebagi berikut : a. Masyarakat tidak boleh mengganggu dan melanggar kepeentigan pribadi selama tidak merugikan orang lain dan masyarakat. b. Karena pemilikan manfaat harta berhubungan dengan hartanya, maka pemilik (manfaat) boleh memindahkan hak miliknya kepada orang lain, misalnya dengan cara menjualnya, menghibahkannya, dan sebagainya. c. Pada dasarnya, pemilikan manfaat itu kekal, tidak terikat oleh waktu. Berkenaan dengan harta di al-quran dijelaskan pula tentang larangan-larangan penggunaan harta yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi, dalam hal ini meliputi : produksi, distribusi dan konsumsi harta, dalam kaitan ini dapat dijelaskan bentuk-bentuk larangan tersebut sebagai berikut : a. Perkara-perkara yang merendahkan martabat dan akhlak manusia, berupa : 1) Memakan harta sesama manusia dengan jalan yang tidak halal atau batal. 2) Memakan harta yang didapat dengan jalan penipuan. 3) Dengan jalan melanggar janji atau sumpah yang telah di buat. 4) Dihasilkan dengan jalan mencuri b. Perkara yang merugikan hak perorangan dan kepentingan sebagian keseluruhan masyarakat, dengan cara perdagangan yang memakai bunga, firman Allah : . hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(Ali Imran: 13). c. Penimbunan harta dengan jalan kikir. Dan orang yang menimbum harta dengan maksud untuk meninggikan harga, sehingga ia memperoleh keuntungan yang berlipat ganda.

d. Penggunaan yang merupakan pemborosan. Baik itu dengan harta pribadi, perusahaan, masyarakat atau Negara yang bersifat mengeksploitasi sumber-sumber alam secara berlebihan dan tidak memperhatikan lingkungan. e. Memproduksi, memperdagangkan, dan mengonsumsi barang-barang yang terlarang seperti narkotika dan minuman keras, kecuali untuk kepentingan ilmu pengetahuan. C. FUNGSI HARTA Harta banyak di cari oleh banyak orang dikarenakan fungsi harta sangat banyak sekali dan selain itu harta juga sebagai perhiasan untuk kehidupan. Disamping berfungsi untuk kebaikan harta juga berfungsi dalam hal yang jelek. Dintara kesemuanya itu adalah : a. Berfungsi untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang khas (Mahdhah), sebab ibadah yang bersifat syariati banyak yang menggunakan adanya suatu harta yang mana dalam mendapatkan suatu benda itu perlu adanya suatu harta. Dizaman perdagangan ini tidak ada yang gratis dan tidak akan di dapatkan dengan cara yang Cuma-Cuma, sehingga dari itu perlu adanya suatu harta untuk memilikinya. Seperti contoh ibadah shalat perlu adanya kain untuk menutup aurat agar bisa terpenuhi syarat shalat. b. Untuk meningkatkan keimanan (ketakwaan) kepada Allah, sebab sebuah kefakiran cenderung mendekatkan diri kepada kekufuran sehingga pemilikan harta dimaksudkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan cara penyantunan terhadap orangorang yang membutuhkan. Terkadang harta juga berfungsi sebagai landasan untuk peningkatan keimanan, hal ini bias dengan cara mengelurakan zakat yang mana bisa dimaksudkan mensucikan harta dan hal itu juga sebagai standar untuk peningkatan keimanan. c. Untuk meneruskan kehidupan dari satu periode ke periode berikutnya, sebagaiman firman Allah : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(Al-Nisa: 9). Dari ayat tersebut dapat diambil sebuah pemikiran baru bahwa diharapkan manusia takut kepada Allah untuk meninggalkan generasinya yang masih lemah yang mana khawatiran itu disebabkan karena takut tidak bisa memberikan nafkah. Jadi dalam hal ini harta juga berfungsi sebagai jalan untuk meneruskan suatu generasi kehidupan dari fase satu ke fase yang berikutnya. d. Untuk menyelaraskan (menyeimbangkan) antara kehidupan dunia dan akhirat. Karena keseimbangan kehidupan yang nantinya dapat membawa manusia ke jalan kesenangan. Hal ini seperti hadits Nabi SAW : Bukan;ah orang yang baik yang meninggalkan masalah dunia untuk masalah akhirat, dan yang meninggalkan, masalah akhirat untuk urusan dunia, sehingga seimbang diantara keduanya, karena masalah dunia adalah menyampaikan manusia kepada masalah akhirat.(Riwayat Al Bukhari). Dari hadits tersebut diterangkan bahwa kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang mementingkan kehidupan akhirat, tetapi perlu ada keseimbangan kehidupan dunia yaitu dengan jalan mencari harta untuk keberlangsungan hidup di dunia. e. Untuk mengembangkan dan menegakkan ilmu-ilmu, karena orang yang menuntut ilmu itu perlu adanya suatu modal baik itu untuk kehidupan sehari-hari maupun modal untuk membayar pendidikannya. Dan dalam pengembangan hartanya juga diperlukan untuk memperlancar pencarian bahan yang diperlukan untuk digunakan dalam pengembangan ilmu. f. Untuk menumbuhkan silaturahmi, karena adanya perbedaan dan keperluaan. Tetapi ada hal lain yang lebih penting kegunanaan harta adalah untuk mempererat tali silaturahmi antara manusia

bukannya dari segi pertukaran harta tetapi lebih dari itu yang berupa saling silaturahmi antar keluarga yang dekat dengan keluarga yang jauh. Karena untuk berkunjung antara yang satu perlu adanya suatu alat tranportasi yang menunjang untuk saling berkunjung, yang mana alat yang digunakan tanpa adanya suatu modal tetapi perlu adanya suatu modal untuk memperoleh dan mempergunakannya. Dari hal-hal diatas adalah fungsi harta yang di gunakan untuk kebaikan dan untuk jalan menuju keakhirat. Dan mengenai harta yang dapat digunakan untuk kejelekan itu banyak sekali, dan tidak perlu kita jelaskan karena masing-masing person sudah tahu mana yang jelek dan mana yang bagus. Jadi hanya sebuah gambaran tentang pemanfaatan harta yang digunakan untuk kebagusan yang kita paparkan. D. PEMBAGIAAN HARTA SERTA AKIBAT HUKUMNYA Menurut para fuqaha harta dapat di tinjau dari beberapa segi. Dan harta yang terdapat dalam muamalah terdiri dari beberapa bagian, dan masing-masing itu memiliki ciri khusus dan hukumnya tersendiri. Berikut adalah beberapa pembagian harta menurut golongan masingmasing dan menurut hukum masing asing-maisng : 1. Mal Mutaqawwim Dan Ghair Mutaqawwim a. Harta yang berharga (mutaqawwim) ialah setiap harta yang disimpan oleh seseorang dan syara` mengharuskan penggunaannya dan cara yang digunakan untuk memperolehnya adalah dengan jalan yang baik yang dibenarkan oleh syara. Contohnya seperti daging kambing halal dimakan, tetapi dalam penyembelihan kambing itu menggunakan cara yang tidak dibenarkan oleh syara maka daging kambing itu menjadi batal menurut syara. Jadi dalam kasus seperti ini ada hal yang tidak memperbolehkan untuk memanfaatkan harta itu (daging). b. Harta yang tidak berharga (Ghayr Mutaqawwim) ialah harta yang tidak di dalam simpanan atau dimiliki orang, dan harta yang tidak boleh diambil manfatnya, baik itu jenis, cara memperolehnya maupun cara penggunaannya. Harta yang seperti ini adalah kebalikan dari harta yang berharga (mutaqawwim). Dari kedua hal diatas mempunyai sebuah tujuan yang mana untuk sebuah kepentingan yang agar nantinya tidak ada hal yang melenceng : a) Harta yang berharga sah untuk semua urusan berakad dengannya seperti berjual beli, hibah, meminjam, gadaian, wasiat dan bersyarikat. b) Harta yang tidak berharga tidak sah berakad dalam semua urusan seperti tidak sah menjual arak dan babi. c) Wajib membayar ganti rugi oleh orang yang merosakkan harta yang berharga sama ada ganti rugi barang yang serupa sekiranya ada atau membayar nilai harganya. d) Harta yang tidak berharga tidak wajib membayar ganti rugi orang yang merosakkannya 2. Mal Mitsli Dan Mal Qimi a. Mal mistsli ialah harta yang ada sebanding atau serupa dengannya tanpa terdapat berlebih kurang dalam semua juzu`nya[2], atau dengan kata lain harta yang jenisnya mudah diperoleh secara persis. Harta yang seperti ini adalah harta yang cara memperolehnya sangat mudah di dapatkan dan banyak sekali imbangannya (persamaannya). b. Mal Qimi ialah ialah harta yang tidak terdapat lagi di mana-mana yang serupa dengannya atau yang sebanding antara satu sama lain di pasar-pasar atau di kedai-kedai; atau tidak ada bagi harta itu yang serupa dengannya akan tetapi harganya berbeda antara satu dengan yang lain. Harta yang seperti itu bersifat pada tataran perbedaan pada semua segi atau salah satu unsur dari barang itu baik berupa ukuran, harga, dan lain sebaginya. Hukum dari kedua hal itu bersifat relative, jadi untuk kepastian hokum dari keduanya tidak bisa ditentukan secara sepihak. Harta mistli dapat berubah menjadi harta qimi dan begitu pula sebaliknya. Hal itu bias karena aspek : a) Dengan sebab habis dalam pasaran, bila habis harta mitsliy di pasaran, maka bertukarlah harta mitsliy kepada harta qimi.

b) Bila bercampur aduk antara harta mitsli dengan harta qimi dan jenis keduanya berbeda, maka dengan sebab bercampur aduk kedua jenis harta mitsli itu maka bertukarlah keadaannya dari pada harta mitsli kepada harta qimi seperti bercampur antara beras dengan gandum dan sebagainya. c) Sekiranya harta mitsliy telah berlaku kecacatan ataupun telah digunakan, maka jadilah ia harta qimi yang khusus. Harta qimi bertukar kepada harta mitsli apabila berlaku banyaknya harta qimi sesudah lainnya jarang diperolehi orang. 3. Harta Istihlak dan Harta Istimal a. Harta istihlak adalah harta yang dalam pemakainannya harus menghabiskannya atau dengan kata lain hanya bisa dipakai satu kali pemakaian. Harta yang seperti ini dibagi menjadi dua bagian yaitu :harta istihlaki haqiqi dan istihlaki huquqi. Harta istihlaki haqiqi adalah harta yang sudah dimanfaatkan kegunaannya dan sudah jelas habis wujudnya. Dengan artian bahwa harta yang seperti ini dalam pemanfaatannya habis langsung dan tidak membekas. Sedangkan istihlaki huquqi adalah harta yang habis ketika digunakan tetapi wujud dari baarang itu masih atau dengan kata lain hanya berpindah kepemilikan. b. Harta istimal yaitu harta yang dapat dipakai berulang kali atau dengan kata lain dapat digunakan berulang-ulang dan tidak akan habis wujud dan hak kepemilkikannya. Barang yang seperti ini buku, sepatu, celana. 4. Harta Manqul dan Harta Ghaiu Manqul a. Harta manqul (harta alih) yaitu harta yang dapat dipindahkan baik itu zat wujud dari satu tempat ketempat yang lain. Harta dengan kriteria ini mempunyai sebuah keunggulan dalam bidang dapat dipindah-pindakan dari satu tempat ketempat yang lain. b. Harta Ghair Manqul (tidak bergerak) ialah harta yang tidak dapat dipindah-pindah dari satu ketempat ketempat yang ,lain dan harta mempunyaia sifat tetap dan tidak bergerak. Kedua hal tersebut bila dilihat dari hukum positif disebut dengan benda bergerak dan benda tetap. 5. Harta Ain dan Harta Dayn a. Harta Ain yaitu harta yang berbentuk benda, seperti rumah, pakaian, jambu dan lainnya. Harta yang seperti ini terbagi dalam 2 : Harta ain dzati qimah yaitu benda yang memiliki bentuk yang dipandang sebagai harta karena memiliki nilai. Harta ain ghayr dzati qimah yaitu benda yang tidak dapat dipandang sebagai harta karena tidak memilki nilai, misalnya sebiji beras. b. Harta dayn adalah harta yang berada dalam tanggung jawab seseorang atau harta yang di hutang orang lain. Sehingga harta yang dipinjam itu beralih tanggung jawab kepada orang lain atau pihak penghutang. 6. Mal Al-Ain dan Mal Al-Nafi a. Mal al-ain ialah benda yang memiliki nilai dan berwujud. Hal yang ini mempunyai pengertian bahwa benda yang mempunyai nilai dan benda itu juga mempunyai wujud maka hal itu bisa disebut dengan harta. b. Harta nafi aradl yang berangsur-angsur tumbuh menurut perkembangan ,masa, oleh karena itu mal al-naI tidak berwujud dan tidak disimpan. 7. Harta yang dapat dibagi dan harta yang tidak dapat dibagi a. Harta yang dapat (Mal Qabil Li Al-Qismah) harta yang tidak dapat menimbulkan kerugian atau kerusakan pada harta apabila harta itu di bagi, misalnya beras dan tepung. b. Harta yang tidak dapat di bagi (Mal Ghair Qabil Li Al-Qismah) ialah harta yang akan menimbulkan kerusakan dan kerugian apabila harta itu di bagi-bagi, misal meja, gelas, pensil. 8. Harta pokok dan harta hasil (buah) Harta pokok harta yang mungkin darinya terjadi harta yang lain, atau dengan kata lain harta modal. misalnya bulu domba di hasilkan dari domba maka domba asal bulu itu disebut modal.

Dan bulu domba itu disebut sebagai harta hasil (buah). Atau dengan kata lain modalnya disebut harta pokok dan hasilnya disebut sebagai tsamarah. 9. Harta khas dan harta am Harta khas adalah harta pribadi, yang mana dalam pemilikannya tidak bersekutu dengan orang atau dengan kata lain yang boleh mengambil kemanfaatannya hanya orang yang punya saja. Sedangkan harta am harta milik umum (bersama) ialah harta yang boleh diambil manfaat oleh umum atau dengan kata lain harta bersama. Dalam harta yang seperti ini bukan dalam maksud harta yang dimiliki oleh khalayak umum pada umumnya atau benda yang belum ada yang punya. III. KESIMPULAN 1. Harta adalah sesuatu yang bermanfaat dan berbentuk dan mempunyai sebuah nilai yang dapat di simpan. 2. Harta dalam islam atau harta dalam kajian umum dapat berfungsi untuk kabaikan dan dapatpula berfungsi untuk kejahatan atau kejelekan. 3. Harta dapat berkedudukan sebagai penghias dan dapat pula sebagai musuh. 4. pembagian harta yang ada muamalah terbagi kedalam beberapa bagian yang mana dari itu semua mempinuyai sebuah kedudukan yang berbeda-beda. IV. PENUTUP Demikian hal yang dapat kita paparkan semoga, apa yang telah kami berikan dapat memberikan suatu wacana walaupun sedikit. Tetapi penulis masih yakin apa yang telah kami lakukan belum dapat mendekati kepada sebuah kebenaran yang mutlak dan sermpurna. Jadi dari penulis mohon sebuah saran yang bersifat konstruktif demi kemaslahatan kita bersama. Akhir kata kami mohon maaf atas segala kekurangan yang ada.