Anda di halaman 1dari 16

MOTOR DAHLANDER

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


KERJASAMA
FAKULTAS TEKNIK UNIV. BATANG HARI - POLITEKNIK NEGERI PADANG
Laboratorium Listrik
Semester : V
KARAKTERISTIK MOTOR
Jurusan Teknik Elektro
Waktu : 6 Jam
DAHLANDER

No:
V.08

I. TUJUAN
Setelah melaksanakan percobaan ini diharapkan agar setiap praktikan dapat :
1. Merangkai dan mengoperasikan motor Dahlender.
2. Mengubah kecepatan motor Dahlender.
3. Membuat karakteristik beban untuk motor Dahlender kecepatan tinggi, antara lain :
a.

Putaran (n) fungsi torsi (M)

b.

Slip (S) fungsi torsi (M)

c.

Efisiensi ( ) fungsi torsi (M)

d.

Arus (I) fungsi torsi (M)

e.

Faktor daya (cos ) fungsi torsi (M)

f.

Daya keluar (pout) fungsi torsi (M)

4. Membuat karatekristik pick up untuk motor Dahlender kecepatan tinggi dan kecepatan
rendah, yaitu : torsi (M) fungsi putaran (P).
II.

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian
Motor Dahlender adalah motor induksi dimana jumlah kutup statornya dapat diubah dengan
mengubah hubungan belitan pada statornya dengan memakai saklar.
Pengubahan hubungan belitan stator ini dimaksudkan untuk mendapatkan kecepatan yang berbeda.
untuk kumparan motor yang terpisah pengatur motor-motor ini hanya dapat dilakukan
menghubungkan bintang yang letaknya satu sama lainnya terpisah seluruhnya. untuk memperoleh
salah satu kecepatan putar maka sala satu kumparan dihubungkan dnegan jaringan, sedangkan
kumparan lainnya tidak dihubungkan.

Contoh : perubuhan hubungan belikan stator dari segitiga ke bintang


Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

u1
u1
u1
w

v2

v1

v1

w
2

v2

Dalam hubungan segitiga, arus mengalir lewat belitan dengan arah yang sama, dengan demikian
akan mengakibatkan terbentuknya jumlah pasang kutub yang terbanyak dan putaran yang
dihasilakn adalah putaran terendah yang berlawanan bintang, arus yang mengalir melalui belian
dengan arah yang berlawanan dan membentuk jumlahkutub paling sedikit, sedangkan oleh
hubungan bintang.
Catatan : perbandingan putaran motor Dalender biasanya 1 : 2 dan rotornya adalah rotor sangkar
tupai.
2.2 Teori Tambahan
Seperti yang telah disebutkan diatas yaitu perbandingan kecepatan putar motor dengan kumparan
yang hubungannya dapat diubah selalu 1 : 2. Setiap kumparan fasa motor ini dibagai dua. Bagianbagian ini dapat dihubungkan seri atau paralel, tergantung kepada kecepatan putar yang
dikehendaki. Kombinasi yang banyak digunakan untuk kecepatan putar diberikan dalam tabel
berikut :
Dahlender
Jumlah Kutub

1500/3000
4/2

750/1500
3/4

500/1000
12/6

Pada motor-motor dengan tiga atau empat kecepatan putar ujung-ujung kumparan tidak
dihubungan harus dibiarkan terbuka untuk mencegah timbulnya arus induksi. Sebab kumparan
yang dihubungkan akan membentuk sebuah kumparan yang dihubungkan akan bentuk sebuah
tranformator motor dengan kumparan yang tidak dihubungkan.

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

Kalau motor-motor ini diasut dengan putar rendah dan baru kemudian kecepatan putarnya
dinaikkan kejutan arus asutnya akan jauh lebih kecil daripada yang akan timbul kalau diasut
langsung dengan kecepatan putar tinggi.
Kalau kecepatan putar sebuah motor semula tinggi dan kemudian beberapa saat motor ini akan
bekerja sebagai generator dan memberi energi kepada jaringan samapai kecepatan putarnya tidak
menurun lagi.
Selama periode pertama ini arus stator motor akan naik sampai mencapai nilai arus asut yang akan
timbul kalau motor ini dijalankan dari kedudukan diam ke kecepatan putaran rendah itu. Untuk
menghindari arus besar ini motornya dapat dimatikan terlebih dahulu dan dihidupkan lagi pada
saat kecepatan putarnya sudah sampai ke kecepatan putaran rendah tersebut.
Hubungan-hubungan yang paling banyak digunakan diperlihatkan dalam gambar-gambar berikut
dan dapat dilihat bahwa untuk kecepatan-kecepatan putar rendah dan tinggi jaringannya harus
dihubungkan dengan urutan fasa yang berbeda, supaya arah putar motornya sama.
Penukaran fasa ini kebanyakan sudah dilakukan dalam motor. Hal ini perlu diperhatikan pada
menyambung sebuah motor. Kalau arah kecepatan motor untuk kecepatan-kecepatan putar rendah
dan tinggi tidak sama, untuk salah satu kecepatan dua fasa harus ditukar.

Lambat
S

Cepat

yy

T
y

yy
R

yy

Gambar : Hubungan-hubungan Dahlender


Hubungan-hubungan gambar diatas dapat dibedakan :
-

Bintang rangkap segitiga

Segitiga bintang rangkap

Bintang-bintang rangkap

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

Pada kecepatan putar redah, kumparan-kumparan motor ini dihubungkan segitiga dan kecepatan
putar tinggi dihubungkan segitiga. Pada kecepatan tinggi kopel motor ini lebih kecil, dayanya
tetap.
Motor-motor ini antara lain digunakan untuk mesin-mesin bubut dan mesin gulung.
Hubungan segitiga-bintang rangkap
Pada kecepatan putar redah, kumparan-kumparan motor ini dihubungkan segitiga dan pada
kecepatan putar tinggi dihubungkan bintang rangkap. Kopel motor ini tetap. Pada kecepatan putar
tinggi dayanya meningkat sebanding dengan kecepatan putar.
Motor-motor ini antara lain digunakan untuk derek, lift mesin kerek, pompa plunver, komper
piston, mesin-mesin giling dan ban berjalan.
l1
l2
l3

R
u 1
w 1
s
v
w

1
2

T
u 1
w 1

u
u

Gambar : Hubungan Dahlender dilayani dengan saklar sandung

Gambar diatas memperlihatkan pengawatannya. Penukaran fasanya dilakukan dalam saklar. Saklar
yang digunakan merupakan saklar sandung.
Ada kalanya ujung-ujung kumparan motor ini dikeluarkan dan dihubungkan dengan 9 terminal.
Dalam hal ini untuk mengurangi kejut arus asutnya, motor ini dapat diasut dalam hubungan
bintang seperti yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini. Penukaran fasanya dilakukan dalam
motor.
Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

z
u

R
x

v
s
v

O
2

1
2

Y
1

m
T
m

Gambar : Hubungan Dahlender dengan pengasutan hubungan bintang.


Hubungan- bintang-bintang rangkap
Pada kecepatan putar rendah, kumparan motor ini dihubungkan bintang dan pada kecepatan putar
tinggi dihubungkan bintang rangkap. Pada kecepatan putar tinggi kopel motor ini meningkat
kuadratis dan dayanya meningkat dengan pangkat tiga. Motor-motor ini digunakan untuk
ventilator dan pompa sentrifugal. Jadi daya motor ini untuk masing-masing kecepatan putar yang
sangat berbeda. Karena itu sering kali motor ini diberi dua stel pengaman arus maksimal dan dua
stel pengaman lebur.
Gambar dibawah memperlihatkan sebuah saklar elektromagnetik hubungan bintang-bintang
rangkap. Cara kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.

Kecepatan putar rendah


Tombol tekan I menghubungkan lingkaran arus untuk kumparan K 1, sehingga saklar L1
terhubung. Karena itu motornya dihubungkan dengan jaringan dalam hubungan bintang.
Kontak K1 : 1 mengambil alaih tombol tekan 1.

b.

Kecepatan putar tinggi


Tombol tekan II menghubungkan lingkaran arus untuk kumpar K 2, sehingga saklar K2
terhubung. Saklar ini membentuk sebuah titik bintang. Kontak K 2 : 1 menghubungkan
lingkaran arus untuk K3, karena itu saklar K3 akan terhubung, sehingga motornya dijalankan
dengan hubungan bintang rangkap. Kontak K3 : 1 mengambil alih tombol tekan II.

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

Hubungan motor ini tidak bisa dipindahkan langsung dari kecepatan putar rendah ke kecepatan
putar tinggi. Untuk itu motornya harus dimatikan dahulu dengan tombol tekan 0. Motornya juga
dapat dimatikan oleh relais-relais termis F4 dan F5.

l1

l2

l3
Q

F
u

L1

L1
u
w

k 1 =2

k 2 =1

k 2 =2
k 3 =2

1
2

k 1 =1
u

Hubungan motor ini juga dapat dibuat sedemikian hingga kecepatan putar yang tinggi hanya bisa
dicapai setelah motornya diasut dengan kecepatan putar rendah. Ada kalanya motor juga tidak
boleh dihubungkan kembali dengan dari kecepatan putar tinggi ke kecepatan putar rendah
berhubung dengan kopel rem yang akan timbul.
Hubungan-hubungan yang memenuhi syarat-syarat tersebut diatas dapat di wujudkan dengan
menggunakan saklar-saklar elektromagnetik.
Rangkainnya dapat direncanakan sedemikian sehingga tidak timbul kerusakan, sekalipun operator
yang melayani motor ini membuat kesalahan.

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

III.

ALAT DAN BAHAN

Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut ini :
1. Motor Dahlender 3 fasa

1 buah

2. Torsi motor

1 buah

3. Amper meter

1 buah

4. Volt meter

1 buah

5. Watt meter

1 buah

6. Cos meter

1 buah

7. Kabel secukupnya.
IV GAMBAR RANGAKAIAN

s
T

v
A

Watt meter

cos
C.U
M
3

T6

PMB

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

V LANGKAH KERJA
Urutan pelaksanaan percobaan motor Dahlender ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Merangkai peralatan seperti pada gambar rangkaian.
2. Memberi tahu instruktur dalam pengecekan rangkaian dan pengoperasiannya.
3. Mencatat data dengan parameter-meter yang sesuai dengan tujuan.
4. Melakukan pengubahan kecepatan motor.
5. melakukan kegiatan seperti langkah No. 2 dan 3.
6. Mengembalikan peralatan ketempat semula.

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

F. LEMBARAN DATA

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

MOTOR DAHLANDER

G. ANALISIS
G.1. Analisis Data

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

10

MOTOR DAHLANDER

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

11

MOTOR DAHLANDER

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

12

MOTOR DAHLANDER

G.2. Analisis Rangkaian

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

13

MOTOR DAHLANDER

G.3. Analisis Perbandingan

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

14

MOTOR DAHLANDER

G.4. Analisis Relevansi

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

15

MOTOR DAHLANDER

DAFTAR PUSTAKA

[1]. A.S. Pabla, Ir.A.Hadi,Sistem Distribusi Daya Listrik, Erlangga Jakarta, 1980.
[2]. ------------ ;Buku Panduan Pemeliharaan Trafo Tenaga, PT.PLN P3B Jawa-Bali
[3]. J.J. Kelly S.D, Myers R.H.Parrish,A Guide to Transformer maintenance TMI,
Akron, Ohio.
[4]. Lythall.R.T, The JSP Switchgear Book, Newnes-Butterworths London.
[5]. Neidle, Michael, Teknologi Instalasi Listrik Erlangga Jakarta, 1991.
[6]. Siemens, Electrical Instalation Handbook, 1989

Catatan :

Job-Sheet/PIP/Lab.EL/Firman_2006

14/10/2013

16