Anda di halaman 1dari 9

Rekristalisasi

Terdapat beberapa defini tentang rekristalisasi yaitu : 1. suatu proses dimana butir logam yang terdeformasi digantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang intinya tumbuh sampai butiran asli termasuk didalamnya 2. Perubahan struktur kristal akibat pemanasan pada suhu kritis 3. Terbentuknya struktur butiran baru melalui tumbuhnya inti dengan pemanasan.

Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kristal-kristal yang terbentuk selamaberlangsungnya pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali (meski tak harus) makin cepat kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan, yang lagi-lagi akan membantu penyaringan. Bentuk kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus, oktahedron, atau jarum-jarum sangat menguntungkan, karena mudah dicuci setelah disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks, yang mengandung lekuk-lekuk dan lubang-lubang, akan menahan cairan induk (mother liquid), bahkan setelah dicuci dengan seksama. Dengan endapan yang terdiri dari kristal-kristal demikian, pemisahan kuantitatif lebih kecil kemungkinannya bisa tercapai

Peristiwa rekristalisasi berhubungan dengan reaksi pengendapan. Endapan merupakan zat yang memisah dari satu fase padat dan keluar ke dalam larutannya. Endapan terbentuk jika larutan bersifat terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan merupakan konsentrasi molal dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung dari suhu, tekanan, konsentrasi bahan lain yang terkandung dalam larutan dan komposisi pelarutnya

Pengertian Kristalisasi pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari suatu larutan atau suatu lelehan. Disamping untuk pemisahan bahan padat dari larutan, kristalisasi juga sering digunakan untuk memurnikan bahan padat yang sudah bebbentuk kristal. Proses pemurnian ini disebut kristalisasi ulang atau rekristalisasi (Willbraham, 1992) Rekristalisasi adalah pemisahan bahan padat berbentuk kristalin. Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil suatu sintesis kimia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk memurnikan senyawa tersebut perlu dilakukan rekristalisasi.

Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarut yang cocok dengan senyawa tersebut. Setelah senyawa tersebut dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan (direfluks) sampai semua senyawanya larut sempurna. Apabila pada temperatur kamar, senyawa tersebut telah larut sempurna di dalam pelarut, maka tidak perlu lagi dilakukan pemanasan. Pemanasan hanya dilakukan apabila senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaan suhu kamar. Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasi dan rekristalisasi adalah pemilihan zat pelarut.

Pelarut yang digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Memiliki gradient temperatur yang besar dalam sifat kelarutannya. 2. Titik didih pelarut harus dibawah titik lebur senyawa yang akan dikristalkan. 3. Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan saat pengeringan. 4. Bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap senyawa yang akan dikristalkan atau direkristalisasi.

Apabila zat atau senyawa yang akan kita kristalisasi atau rekristalisasi tidak dikenal secara pasti, maka kita setidaknya harus mengenal komponen penting dari senyawa tersebut. Jika senyawa tersebut adalah senyawa organik, maka yang kita ketahui sebaiknya adalah gugus fungsional senyawa tersebut. Dengan kata lain, kita minimal harus mengetahui polaritas senyawa yang akan kita kristalisasi atau rekristalisasi.

Tahap-tahap dalam rekristalisasi1. Pelarutan2. Penyaringan 3. Pemanasan4. Pendinginan

Syarat pelarut yang baik untuk rekristalisasi1.Memiliki daya pelarut yang tinggi pada suhu tinggi dan daya pelarut yang rendah pada suhu rendah.2. Menghasilkan kristal yang baik dari senyawa yang dimurnikan.3.Dapat melarutkan senyawa lain.4.Mempunyai titik didih relatif rendah (mudah terpisah dengan kristal murni).5.Pelarut tidak bereaksi dengan senyawa yang dimurnikan.

R e k r i s t a l i s a s i a d a l a h s u a t u t e k n i k p e m u r n i a n b a h a n kristal i n . S e r i n g k a l i s e n y a w a y a n g d i p e r o l e h d a r i h a s i l s u a t u sintesis kiia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk m e m u r n i k a n s e n y a w a t e r s e b u t p e r l u d i l a k u k a n r e k r i s t a l i s a s i . Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarutyang cocok dengan senyawa tersebut. Setelah senyawa tersebutdilarutkan ke dalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan( direfluks ) s a m p a i s e m u a s e n y a w a t e r s e b u t l a r u t s e m p u r n a . Apabila p ada temperatur kamar, senyawa tersebut sudah laruts e c a r a s e m p u r n a d i d a l a m p e l a r u t , m a k a t i d a k p e r l u l a g i dilakukan p e m a n a s a n . P e m a n a s a n h a n y a d i l a k u k a n a p a b i l a senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaans u h u k a m a r . S e t e l a h s e n y a w a / s o l u t t e r s e b u t l a r u t s e m p u r n a d i dalam pelarut baik dengan pemanasan maupun tanpa pemanasan,maka kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas.K e m u d i a n l a r u t a n h a s i l p e n y a r i n g a n t e r s s e b u t d i d i n g i n k a n perlahan-lahan sampai terbentuk kristal.

- 51 Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasid a n r e k r i s t a l i s a s i a d a l a h p e m i l i h a n z a t p e l a r u t . P e l a r u t y a n g digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:1 ) M e m i l i k i g r a d i e n t t e m p e r a t u r y a n g b e s a r d a l a m s i f a t kelarutannya.2 ) T i t i k d i d i h p e l a r u t h a r u s d i b a w a h t i t i k l e b u r s e n y a w a yang akan di

kristalkan.3)Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan pada saat pengeringan.4 ) B e r s i f a t i n e r t ( t i d a k b e r e a k s i ) t e r h a d a p s e n y a w a y a n g akan dikristalkan atau direkristalisasi.Apabila zat atau senyawa yang akan kita kritalisasi ataur e k r i s t a l i s a s i t i d a k d i k e n a l s e c a r a p a s t i , m a k a k i t a s e t i d a k tidaknya kita harus mengenal komponen penting dari senyawatersebut. Jika senyawa tersebut adalah senyawa organik, makay a n g k i t a k e t a h u i s e b a i k n y a a d a l a h g u g u s - g u g u s fungsionals e n y a w a t e r s e b u t . A p a k a h g u g u s - g u g u s t e r s e b u t bersifat

REKRISTALISASI, PEMBUATAN ASPIRINDANPENENTUAN TITIK LELEH 1 . T U J U A N P E R C O B A A N 1.Melakukan teknik rekristalisasi dengan b a i k 2.Menentukan pelarut yang sesuai untuk rekristalisai3.Menghilangkan pengotor melalui teknik rekristalisasi4.Melakukan pembuatan aspirin dengan cara asetilasi terhadap gugus fenol 5 . M e n e n t u k a n t i t i k l e l e h senyawa2 . K A J I A N T E O R I 1.Rekristalisasi Rekristalisasi merupakan cara yang paling efektif untuk memurnikan zat zatorganik dalam bentuk padat. Oleh karena itu teknik ini secara rutin digunakanuntuk pemurnian senyawa

hasil sintesis atau hasil isolasi dari bahan alami,sebelum dianalisis lebih lanjut, misalnya dengan instrumebn spektoskopi sepertiUV, IR, NMR, dan MS.Sebagai metoda pemurnian padatan, rekristalisai memiliki sejarah yang panjang seperti distilasi. Wa;aupun beberapa metoda yang lebih rumit telahdikenalkan, rekristalisasi adalah metoda yang paling penting untuk pemurniansebabkemudahannya ( tidak perlu alat khusus ) dank arena keefektifannya. Kedepannya rekristalisasi akan tetap metoda standar untuk memurnikan padatan. Metoda ini sederhana, material padayan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi ( pada atau dekat titik didih pelarutnya ) untuk mendapatkan jumlah larutan jenuh atau dekat jenuh. Ketika larutan panas perlahan didinginkan,Kristal akan mengendap karena kelarutan padatan biasanya menurun bila suhuditurunkan. Diharapkan bahwa pengotor tidak akan pengkristal karenakonsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh.Walaupun rekristalisasi adalah metoda yang sangat sederhana, dalam prakteknya bukan berarti mudah dilakukan. Adapun saran saran yangdibutuhkan untuk melakukan metoda kristalisai adalah sebagai berikut :1.Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan yang besar pada suhu. Misalnya, ketergantungan pada suhu NaCl hamper dapatdiabaikan. Jadi pemurnian NaCl dengan rekristalisasi tidak dapat dilakukan.2.Kristal tidak harus mengendap dari larutan jenuh dengan pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh. Dalam kasus semacam ini penambahan Kristal bibt, mungkin akan efektif. Bila tak ada Kristal bibit, menggaruk dindingmungkin akan berguna.3.Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut, penggunaan pelarut non polar lebih disarankan. Namun, pelarut non polar cenderung merupakan pelarut yang buruk untuk senyawa polar.4.Umumnya, pelarut dengan titik didih rendah lebih diinginkan. Namun sekali lagi pelarut dengan titik didih lebih rendah biasanya non polar. Jadi, pemilihan pelarut biasanya bukan masalah sederhanaAdapun tahap tahap yang dilakukan pada proses rekristalisasi pada umumnya,yaitu : 1.Memilih pelarut yang cocok Pelarut yang umum digunakan jika dirutkan sesuai dengan kenaikankepolarannya adalah petroleum eter ( n-heksan , toluene, kloroform,aseton, etil asetat, etanol, methanol, dan air. Pelarut yang cocok untuk merekristalisasi suatu sampel zat tertentu adalah pelarut yang dapatmelarutkan secara baik zat tersebut dalam keadaan panas, tetapi sedikitmelarutkan dalam keadaan dingin. 2.Melarutkan senyawa ke dalam pelarut panas sedikit mungkinZat yang akan dilarutkan hendaknya dilarutkan dalam pelarut panasdengan volum sedikit mungkin, sehingga diperkirakan tepat sekitar titik jenuhnya. Jika terlalu encer, uapkan pelarutnya sehingga tepat jenuh.Apabila digunakan kombinasi dua pelarut, mula mula zat itu dilarutkandalam pelarut yang baik dalam keadaan panas sampai larut, kemudianditambahkan pelarut yang kurang baik tetes demi tetes sampai timbulkekeruhan. Tambahkan beberapa tetes pelarut yang baik agar kekeruhannya hilang kemudian disaring. 3 . P e n y a r i n g a n Larutan disaring dalam keadaan panas untuk menghilangkan pengotor yang tidak larut. Penyaringan larutan dalam keadaan panas dimaksudkanuntuk memisahkan zat zat pengotor yang tidak larut atau tersuspensidalam larutan, seperti debu,

pasir, dan lainnya. Agar penyaringan berjalancepat, biasanya digunakan corong Buchner. Jika larutannya mengandungzat warna pengotor, maka sebelum disaring ditambahkan sedikit ( 2 % berat ) arang aktif untuk mengadsorbsi zat warna tersebut. Penambahanarang aktif tidak boleh terlalu banyak karena dapat mengadsorbsi senyawayang dimurnikan. 4.Pendinginan filtrate Filtrat didinginkan pada suhu kamar sampai terbentuk Kristal. Kadang kadang pendinginan ini dilakukan dalam air es. Penambahan umpan ( seed) yang berupa Kristal murni ke dalam larutan atau penggoresan dindingwadah dengan batang pengaduk dapat mempercepat rekristalisasi. 5 . P e n y a r i n g a n d a n p e n d i n g i n a n K r i s t a l Apabila proses kristalisasi telah berlangsung sempurna, Kristal yangdiperoleh perlu disaring dengan cepat menggunakan corong Buchner.Kemudian Kristal yang diperoleh dikeringkan dalam eksikator

A s p i r i n Aspirin ( asetosal ) adalah suatu ester dari asam asetat dengan asam salisilat.Oleh karena itu senyawa ini dapat dibuat dengan mereaksikan asam salisilatdengan anhidrida asam asetat menggunakan asam sulfat pekat sebagai katalisator.Persamaan reaksinya :Asam asetat dengan nama sistematik asam etanoat, CH 3 COOH, merupakancairan tidak berwarna, berbau tajam, dan berasa asam. Asam asetat larut dalam air dan pelarut organik lainnya. Di dalam air, asam asetat bertindak sebagai asamlemah. Asam asetat mendidih pada temperatur 118C (245F) dan meleleh pada17C (62F). Asam asetat biasanya dibuat dengan memfermentasikan alkoholdengan bantuan bakteri, seperti Bacterium aceti. Untuk mendapatkan asam asetatyang berkonsentrasi tinggi, biasanya dibuat dengan oksidasi asetaldehida ataudengan mereaksikan methanol dengan karbon monoksida dengan bantuan katalis. Asam salisilat dapat ditemukan pada banyak tanaman dalam bentuk metalsalisilat dan dapat disintesa dari fenol. Asam salisilat memiliki sifat-sifat: berasamanis, membentuk kristal berwarna putih, sedikit larut dalam air, meleleh pada158,5C 161C. Asam salisilat biasanya digunakan untuk memproduksi ester dan garam yang cukup penting. Asam salisilat menjadi bahan baku pembuatanaspirin. Sintesa asam salisilat yang terkenal adalah Sintesis Kolbe.Asam asetil salisilat atau yang lebih dikenal sekarang sebagai aspirin memilikinama sistematik 2 acetoxybenzoic acid. Aspirin yang merupakan bentuk salahsatu aromatic asetat yang paling dikenal dapat disintesa dengan reaksi esterifikasigugus hidroksi fenolat dari asam salisilat dengan menggunakan asam asetat.Aspirin memiliki sifat sifat sebagai berikut : Mr = 180, titik leleh = 133,4C,dan titik didih = 140C.Pada pembuatan aspirin, reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi. Reaksiesterifikasi tersebut dapat dilihat dari gambar di atas, dengan penjelasan sebagai berikut :Ester dapat terbentuk salah satunya dengan cara mereaksikan alkohol dengananhidrida asam. Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai alkohol karenamempunyai gugus OH, sedangkan asam asetat glacial sebagai anhidrida asam.Ester yang terbentuk adalah asam asetil salisilat ( aspirin ). Gugus asetil( CH3CO ) berasal dari asam asetat, sedangkan gugus R-nya berasal dari asamsalisilat. Hasil samping

reaksi ini adalah asam asetat. Langkah selanjutnya adalah penambahan asam sulfat pekat yang berfungsi sebagai zat penghidrasi. Telahdisebutkan di atas bahwa hasil samping dari reaksi asam salisilat dan asam asetatglacial adalah asam asetat. Jadi, dapat dikatakan reaksi akan berhenti setelah asamsalisilat habis karena adanya asam sulfat pekat ini.Aspirin bersifat analgesik yang efektif sebagai penghilang rasa sakit. Selainitu, aspirin juga merupakan zat anti-inflammatory, untuk mengurangi sakit padacedera ringan seperti bengkak dan luka yang memerah. Aspirin juga merupakan zat antipiretik yang berfungsi untuk mengurangi demam. Tiap tahunnya, lebihdari 40 juta pound aspirin diproduksi di Amerika Serikat, sehingga rata-rata penggunaan aspirin mencapai 300 tablet untuk setiap pria, wanita serta anak-anak setiap tahunnya. Penggunaan aspirin secara berulang-ulang dapat mengakibatkan pendarahan pada lambung dan pada dosis yang cukup besar dapat mengakibatkanreaksi seperti mual atau kembung, diare, pusing dan bahkan berhalusinasi. Dosisrata-rata adalah 0.3-1 gram, dosis yang mencapai 10-30 gram dapatmengakibatkan kematian. 3.Titik Leleh Yang dimaksud titik leleh suatu senyawa ialah suhu dimana senyawa tersebutmulai meleleh. Senyawa senyawa murni suhunya hampir tetap selama melelehatau disebut juga mempunyai titik leleh yang tajam, misalnya 125,5 - 126 atau180 - 181, sedangkan untuk cuplikan yang sama tetapi tidak murni akan meleleh pada interval suhu yang lebar, missal 123 126 atau 176 180. Pengotoranyang menyebabkan penurunan titik leleh ini mungkin sekali suatu bahan berbentuk resin yang tidak diidentifikasi atau senyawa lain yang mempunyai titik leleh lebih rendah atau lebih tinggi dari senyawa utamanya. Bila suatu senyawa Ayang murni meleleh pada suhu 150 151 dan senyawa B murni meleleh padasuhu 120 121, maka bila senyawa A ditambah senyawa B, campuran ini akanmeleleh secara tidak tajam pada daerah suhu di bawah 150. Sebaliknya bilasenyawa B ditambah sedikit senyawa A, campuran ini akan meleleh di atas suhu120.Kriteria kemurnian suatu zat adalah titik lelehnya yang tajam, disamping itu jika kita mempunyai senyawa senyawa baku, maka ditentukan denganmenentukan titik leleh campuran. Mula mula senyawa baku ditentukan titik lelehnya kemudian senyawa yang tidak diketahui dicampur dengan senyawa baku,lalu titik lelehnya ditentukan lagi. Bila titik leleh campuran sama dengan titik leleh senyawa baku, berarti senyawa yang tak diketahui itu sama dengan senyawatersebut. Alat penentu titik leleh ada beberapa macam mulai yang manual hinggadigital seperti thiele, Fisher John Melting point apparatus, blok logam atau dengansystem digital.

http://chemistry35.blogspot.com/2011/08/proses-rekristalisasi.html

http://nurma.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/25/files/2008/12/diskusi-praktikumkimdas1.pdf http://annisanfushie.wordpress.com/2008/12/26/pemurnian-bahan-melalui-rekristalisasi/ www.scribd.com/doc/56150497/REKRISTALISASI http://www.scribd.com/doc/61193543/26/a-Kristalisasi-dan-Rekristalisasi