Anda di halaman 1dari 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Abortus 2.1.1.

Pengertian Abortus Abortus adalah terhentinya proses kehamilan sebelum fetus mampu bertahan hidup di luar kandungan ibunya dengan alat bantu atau tanpa alat bantu pada saat usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat fetus kurang dari 500 gram.12,14 2.1.2. Klasifikasi Abortus Secara umum, jenis-jenis abortus ialah sebagai berikut: Abortus Imminens, Abortus Insipiens, Abortus Inkompletus, Abortus Kompletus, Abortus Tertahan, Abortus Berulang, Abortus Infeksiosa, dan Abortus Septik. 24,25,26,27,28 Berdasarkan riwayat kejadiannya abortus terbagi menjadi abortus spontan dan abortus provocatus (abortus buatan).12,14 Abortus provocatus dibagi lagi menjadi dua menurut pelaksanaannya, yaitu: abortus provocatus medisinalis dan abortus provocatus kriminalis.14 2.2. Abortus Inkompletus 2.2.1. Pengertian Abortus Inkompletus Abortus inkompletus adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal pada saat usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.12

2.2.2. Etiologi Abortus Inkompletus Abortus pada mulanya didahului oleh proses perdarahan dalam desidua basalis, kemudian diikuti oleh proses nekrosis pada jaringan sekitar daerah yang mengalami perdarahan itu. Dengan demikian, konseptus terlepas dari tempat implantasinya. Konseptus yang telah terlepas dari perlekatannya dianggap merupakan benda asing di dalam uterus dan merangsang rahim untuk berkontraksi. Rangsangan yang terjadi semakin lama bertambah kuat dan terjadilah his yang memeras isi rahim keluar.12 Pada abortus yang terjadi sebelum kehamilan berumur 8 minggu, pelepasannya dapat terjadi sempurna sehingga terjadi abortus kompletus oleh karna villi koriales belum tumbuh terlalu mendalam ke dalam lapisan desidua. Sedangkan pada abortus yang lebih tua, pelepasannya biasanya tidak sempurna oleh karna villi koriales telah tumbuh dan menembus lapisan desidua jauh lebih tebal sehingga ada bagian yang tersisa melekat di dinding rahim dan terjadi abortus inkompletus. Sisa abortus yang tertahan di dalam rahim mengganggu kontraksinya, itulah yang menyebabkan pengeluaran darah yang lebih banyak.14 2.2.3. Diagnosa Abortus Inkompletus Pada pemeriksaan dalam jika abortus baru terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kantung servikalis atau kavum uteri, dan uterus lebih kecil dari seharusnya kehamilan.28

2.2.4. Komplikasi Abortus Inkompletus12,14 Risiko komplikasi akibat abortus inkompletus antara lain: a. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. b. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparotomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus. c. Syok Syok adalah suatu keadaan klinis yang akut akibat berkurangnya perfusi jaringan dengan darah karena gangguan pada sirkulasi mikro. Kekurangan perfusi apabila berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan hipoksia jaringan yang akan merusak sel-sel dan pada akhirnya menyebabkan kematian. d. Infeksi Infeksi dari bakteri yang merupakan flora normal dari genitalia eksterna dan vagina dapat juga menyebabkan syok yang dinamakan syok septik atau syok endotoksin. Peristiwa infeksi yang dapat menimbulkan syok septik adalah abortus infeksiosa terutama yang dilakukan pada abortus kriminalis.

2.2.5. Determinan Abortus Inkompletus a. Umur Umur reproduksi yang sehat dan aman untuk kehamilan dan persalinan, yaitu 20 35 tahun.29 b. Status Perkawinan Menurut Depkes tahun 2001 bahwa wanita berstatus menikah melakukan abortus masih tinggi, yaitu berkisar 9,2% dengan alasan tidak menggunakan alat kontrasepsi.15 Namun, tidak menutupi kecenderungan kalangan wanita yang belum menikah untuk melakukan abortus. c. Pendidikan Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan faktor predisposisi yang sangat berperan dalam mempengaruhi seseorang mengambil keputusan untuk berperilaku sehat.8 Diharapkan bahwa semakin berpendidikan, maka pengetahuan mengenai ketersediaan alat kontrasepsi yang mencegah kehamilan juga pelayanan keluarga berencana semakin baik sehingga wanita tidak lagi terpaksa mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkannya dengan abortus. d. Sosial Ekonomi Ekonomi yang rendah sering menjadi alasan melakukan abortus karna khawatir suatu saat tidak bisa menghidupi sang calon anak dan wanita tersebut dengan alasan ekonomi rendah pula terpaksa melakukan abortus yang tidak aman dengan usaha sendiri, seperti meminum jamu, memijat perut, memasukkan bendabenda tertentu, dan meminta pertolongan dukun.16

e. Paritas Paritas lebih dari 3 mempunyai risiko melakukan abortus buatan 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang memiliki 1 orang anak.24,30 f. Riwayat Penyakit Anemia berat, keracunan, laporotomi, peritonitis umum, pneumonia, tifus abdominalis, malaria, dll juga dapat menurunkan keadaan umum penderita dan menyebabkan abortus.14,24 g. Psikososial Menurut Hawari tahun 2006 bahwa salah satu faktor penyebab seorang perempuan melakukan abortus adalah faktor psikososial, misalnya hasil hubungan seksual di luar nikah, perkosaan, janin cacat.31 h. Penggunaan Kontrasepsi Kontrasepsi merupakan usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan dalam mencapai program keluarga berencana tersebut. Sampai saat ini cara kontrasepsi yang ideal belum ada karena ada kelebihan dan kekurangan masingmasing sehingga perlu prinsip pemilihan tidak hanya mencakup pemakaian kontrasepsi, tetapi juga pengetahuan dasar dalam pemilihan kontrasepsi yang cocok dan paling efisien untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan sesuai dengan kondisi khusus pasangan yang bersangkutan. Menurut Hawari tahun 2006 bahwa faktor gagal dalam program keluarga berencana adalah salah satu faktor terjadinya abortus.9,12,31,32

2.2.6.

Penanganan Abortus Inkompletus Sisa kehamilan yang tertinggal di dalam rahim harus dibersihkan dengan

melakukan kerokan untuk menghentikan perdarahan dengan kuretase atau vacum kuretase. Kerokan harus dilakukan secara aseptik. Setelah itu diberikan uterotonika seperti ergometrin melalui suntikan dan antibiotika terutama apabila ada tanda-tanda infeksi. Jika disertai dengan perdarahan banyak dan syok perlu diberikan infus cairan atau transfusi darah.14,33 2.2.7. Dampak Abortus Inkompletus

2.2.7.1. Risiko Kesehatan dan Keselamatan Secara Fisik Menurut B.Clowes dalam bukunya The Facts of Life tahun 2001

beberapa risiko yang akan dihadapi saat dan setelah melakukan aborsi, yaitu: a. Kematian mendadak karena perdarahan hebat b. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal c. Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan d. Uterine perforation atau rahim yang sobek e. Cervical laceration atau kerusakan leher rahim yang dapat menyebabkan cacat pada anak berikutnya f. Infeksi rongga panggul g. Infeksi pada lapisan rahim (Endrometriosis)

2.2.7.2. Risiko Gangguan Psikologi/ Mental Selain memiliki risiko tinggi bagi kesehatan dan keselamatan fisik, aborsi dapat juga mengakibatkan dampak yang hebat pada mental pelaku aborsi. Secara psikologi dikenal dengan Post-Abortion Syndrome (PAS) yang termasuk dalam PostTraumatic Stress Disorder atau Kelainan Pasca-Trauma Berat. Menurut David Reardon, gejala-gejala ini tercatat pada Psychological Reaction Reported After Abortion halaman 4 8 di dalam penerbitan The Post-Abortion Review tahun 1994 bahwa pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal sebagai berikut: a. Kehilangan harga diri b. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi c. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual d. Berteriak-teriak histeris e. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang f. Ingin melakukan bunuh diri 2.2.8. Epidemiologi Abortus Inkompletus Berapa seringnya kejadian abortus tidak dapat diketahui dengan pasti oleh karena hukumnya illegal, maka banyak wanita yang terlanjur hamil menggugurkan kandungannya secara sembunyi-sembunyi dan baru muncul ke permukaan bila terjadi komplikasi. Selain itu, abortus dini juga tidak terdeteksi dikarenakan wanita yang mengalami perdarahan setelah beberapa hari terlambat haid kemudian datang ke

pelayanan kesehatan dilakukan pengerokan, tetapi tidak dilakukan pemeriksaan hispatologi dari jaringan yang dikeluarkan dari uterus.14 2.2.8.1. Berdasarkan Orang Menurut penelitian Pasabi di RS Elim Rantepao tahun 2009 bahwa terdapat kejadian abortus inkompletus sebesar 164 kasus dari total 172 kasus abortus dengan distribusi tertinggi pada kelompok usia 2035 tahun. 22 Menurut penelitian Panggabean di RS Haji Medan tahun 2010 bahwa paling banyak abortus terjadi pada kelompok usia 20 35 tahun, dan dari 81 wanita yang mengalami abortus, terdapat 52 kejadian abortus inkompletus dengan paritas 0 dan usia kehamilan <12 minggu. Hal ini berarti bahwa umur ibu tidak secara independen dapat menyebabkan abortus, tetapi bersamaan dengan paritas dan usia kehamilan.23 Dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali mengalami kejadian abortus spontan termasuk abortus inkompletus, pasangan akan mempunyai risiko 15% untuk mengalami abortus, sedangkan bila pernah 2 kali mengalami abortus, maka risikonya meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah mengalami 3 kali abortus berurutan adalah 30 45%.12 2.2.8.2. Berdasarkan Tempat Biasanya kejadian abortus dilaporkan dalam angka keguguran (abortion rate), yaitu jumlah keguguran dalam setiap 1.000 kelahiran hidup. 14 Pada tahun 2008, abortion rate di dunia adalah sebesar 28 per 1.000 wanita usia 1544 tahun. Di Amerika Latin sebesar 32, di Afrika sebesar 29, di Asia sebesar 28, di Eropa sebesar 27, di Amerika Utara sebesar 19, dan di Oceania sebesar 17.34

Indonesia memiliki abortion rate sebesar 37 per 1.000 wanita usia 1544 tahun, angka ini jauh bila dibandingkan dengan abortion rate untuk negara berkembang, yaitu 29 per 1.000 wanita usia 1544 tahun. 35 Penelitian Sedgh.G (2012) menyebutkan bahwa pada tahun 2003, 78% dari total abortus dunia berada di negara berkembang dan meningkat menjadi 86% di tahun 2008. 2.2.8.3. Berdasarkan Waktu Menurut Sedgh.G (2012), jumlah aborsi diseluruh dunia pada tahun 1995 sebesar 45.6 juta kasus, tahun 2003 sebesar 41.6 juta kasus, dan tahun 2008 sebesar 43.8 juta kasus. Abortion rate di negara maju tahun 1995 sebesar 35, tahun 2003 sebesar 29, dan tahun 2008 sebesar 28. Sedangkan abortion rate di negara berkembang pada tahun 1995 sebesar 34, tahun 2003 sebesar 29, dan tahun 2008 sebesar 29. Berikut estimasi data insiden dan tren abortion rate dunia mulai dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2008.34 Tabel.1 Insiden dan tren abortion rate di dunia tahun 19952008 per 1.000 wanita usia 1544 tahun Wilayah Bagian 1995 2003 2008 Amerika Latin 37 31 32 Afrika 33 29 29 Asia 33 29 28 Eropa 48 28 27 Amerika Utara 22 21 19 Oceania 21 18 17 Sumber: Guttmacher Institute, New York, USA, 2012

2.3. Kerangka Konsep


K

Adapun

kerangka

konsep

penelitian

karakteristik

penderita

abortus

inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan tahun 2009 2011, sebagai berikut:
KARAKTERISTIK PENDERITA ABORTUS INKOMPLETUS

Sosiodemografi 1. Umur 2. Status Perkawinan 3. Pendidikan 4. Pekerjaan 5. Suku 6. Agama 7. Tempat Tinggal Faktor Mediko Obstetrik 1.Usia Kehamilan 2.Paritas 3.Riwayat Kehamilan 4.Riwayat Kejadian Abortus 5.Riwayat Penyakit 6.Komplikasi Status Rawatan 1.Penatalaksanaan Medis 2.Lama Rawatan 3.Keadaan Sewaktu Pulang