Anda di halaman 1dari 4

Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

1. Definisi Laju Endap Darah (LED) adalah uji untuk menentukan kecepatan ertirosit (dalam darah yang telah diberi antikoagulan) jatuh ke dasar sebuah tabung vertical dalam waktu tertentu. Pengukuran jarak dari atas kolom eritrosit yang mengendap sampai ke atas batas cairan dalam periode tertentu menentukan laju endap darah (LED). Darah dengan antikoagulan yang dimasukkan ke dalam tabung keliber kecil yang tegak lurus memperlihatkan pengendapan (sedimentasi) sel-sel darah merah dengan kecepatan yang terutama ditentukan oleh densitas relative sel darah merah dalam kaitannya dengan plasma. Kecepatan pengendapan yang sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan eritrosit membentuk rouleaux. Rouleaux adalah gumpalan sel-sel darah merah yang disatukan bukan oleh antibody atau ikatan kovalen, tetapi semata-mata oleh gaya tarik permukaan. Kualitas ini mencerminkan kemampuan sel membentuk agregat. Apabila proporsi globulin terhadap albumin meningkat, atau apabila kadar fibrinogen sangat tinggi, pembentukan rouleaux meningkat dan kecepatan pengendapan juga meningkat. Konsentrasi makromolekul asimetrik yang tinggi di dalam plasma juga mengurangi gaya-gaya saling tolak yang memisahkan suspensi sel-sel darah dan meningkatkan pembentukan rouleaux. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi laju endap darah adalah rasio sel darah merah terhadap plasma dan viskositas (kekentalan) plasma. Dalam darah normal, hanya sedikit terjadi pengendapan karena tarikan gravitasi masing-masing sel darah merah hampir diimbangi oleh arus ke atas yang ditimbulkan oleh bergesernya plasma. Apabila plasma sangat kental atau kadar kolesterol sangat tinggi, arus ke atas mungkin sama sekali menetralkan tarikan ke bawah masing-masing atau gumpalan sel darah merah. (Sacher dan Richard, 2004)

2. Pengukuran Pada metode Wintrobe untuk LED, darah dengan antikoagulan yang tidak diencerkan dibiarkan menetap selama satu jam dalam sebuah tabung yang tingginya 100 mm dan garis tengahnya 2,8 mm. Nilai normal adalah sampai 8 mm/jam untuk laki-laki dan 15 mm/jam untuk perempuan. Teknik Westergen menggunakan sebuah kolam 200 mm, pada teknik ini darah yang diberi antikoagulan, diencerkan 20% dengan salin atau larutan natrium sitrat, dibiarkan mengendap selama satu jam. Nilai normal adalah 15 mm/jam untuk laki-laki dan 20

mm/jam untuk perempuan. Sebagai petunjuk kasar, LED pada laki-laki seyogyanya separuh dari usianya dan pada perempuan, separuh usia pasien ditambah sepuluh. Metode Westergen biasanya direkomendasikan sebagai metode standar karena kesederhanaan dan

reproduksibilitasnya. (Sacher dan Richard, 2004) Cara : a. Menurut Wintrobe 1) Perolehlah darah oxalate atau darah EDTA. 2) Dengan memakai pipet Wintrobe, masukkanlah darah itu ke dalam tabung Wintrobe setinggi garis tanda 0 mm. Jagalah jangan sampai terjadi gelembung hawa atau busa. 3) Biarkan tabung Wintrobe itu dalam sikap tegak lurus pada satu tempat yang tak banyak angin selama 60 menit. 4) Bacalah tingginya lapisan plasma dengan millimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah. b. Menurut Westergen. 1) Isaplah dalam semprit steril 0,4 ml larutan natriumsitrat 3,8% yang steril juga. 2) Lakukanlah pungsi ven dengan semprit itu dan isaplah 1,6 ml darah sehingga mendapatkan 2,0 ml campuran. 3) Masukkanlah campuran itu ke dalam tabung dan campurlah baik-baik. 4) Isaplah darah itu ke dalam pipet Westergen sampai garis bertanda 0 mm, kemudian biarkan pipet itu dalam sikap tegak lurus dalam rak Westergen selama 60 menit. 5) Bacalah tngginya lapisan plasma dengan millimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah.

Indahkanlah segala petunjuk yang telah diberikan pada waktu melakukan pungsi vena, statis dala vena menyebabkan darah mengental dan berakibat kesalahan. Penting sekali untuk menaruh pipet atau tabung laju endap darah dalam sikap tegak lurus benarm selisih kecil dari garis vertical sudah dapat berpengaruh banyak terhadap hasil laju endap darah. Oleh karena laju endap darah dipengaruhi oleh jumlah eritrosit, maka ada yang menghendaki supaya nilai laju endap darah cara Wintrobe dikoreksi terhadap nilai hematokrit. Koreksi semacam itu memerlukan grafik khusus.

Hasil pemeriksaan laju endap darah memakai cara Westergen dan cara Wintrobe tidak seberapa selisihnya jika laju endap darah itu dalam batas-batas normal. Alan tetapi nilai itu berselisih jauh pada keadaan mencepatnya laju endap darah. Dengan cara Westergen didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan pipet Westergen yang ahmpir dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan tadi menyebabkan para klinisi lebih menyukai cara Westergen daripada cara Wintrobe. Pada upaya mengisap darah melalui mulut ke dapam pipet Westergen ada bahaya terjadi infeksi kepada pelaku tindakan, oleh karena itu sangat tidak dianjurkan memakai pipet Westergen yang dapat diisi tanpa mengisap pipet berisi darah dengan mulut. (Gandasoebrata, 2007)

3. Interpretasi Peningkatan nonspesifik globulin dan peningkatan kadar firbrinogen terjadi apabila tubuh berespon terhadap cedera, peradangan, atau kehamilan. Peningkatan LED menyertai sebagian besar penyakit peradangan, baik yang local maupun sistemik, dan terjadi saat proses peradangan kronis mengalami eksaserbasi akut. Kecepatan pengendapan bervariasi sesuai dengan konsentrasi sel darah merah dalam plasma. Terdapat silang pendapat mengenai pelaporan hasil LED dalam bentuk terkoreksi yang memperhitungkan kadar hematokrit. Hematokrit memiliki efek potensial yang jauh lebih besar pada metode Wintrobe. Teknik Westergen kurang dipengaruhi oleh hematokrit karena pada metode ini, darah mengalami pengenceran yang bermakna. Laju endap darah memiliki tiga penggunaan utama: a. b. c. Sebagai alat bantuk untuk mendeteksi suatu proses peradangan Sebagai pemantau perjalanan atau aktivitas penyakit. Sebagai pemeriksaan penapisan untuk peradangan atau neoplasma yang tersembunyi. Namun, pemeriksaan ini relative tidak sensitive dan tidak spesifik karena dipengaruhi oleh banyak factor teknis. Bagaimanapun, LED tetap menjadi uji yang bermanfaat dan digunakan secara luas. Perlu ditekankan bahwa LED yang normal tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan penyakit, namun, sebagian besar penyakit peradangan akut dan kronis serta neoplasma berkaitan dengan peningkatan laju endap darah. LED yang meningkat pada kehamilan akan kembali ke normal pada minggu ketiga atau keempat pascapartus. Laju endap

darah yang lebih dari 100 mm/jam dijumpai pada diskrasia sel plasma seperti myeloma multiple. Pada keadaan ini terjadi peningkatan kadar immunoglobulin yang menyebabkan peningkatan rouleaux SDM. Hal ini juga dapat dijumpai pada penyakit kolagen-vaskular, keganasan, dan tuberculosis. (Sacher dan Richard, 2004)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi LED

(Sacher dan Richard, 2004)

Daftar Pustaka Gandasoebrata R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat. Sacher, R.A dan Richard A.Mc. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, ed XI. Jakarta : EGC.