Anda di halaman 1dari 28

TIU.1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Sistem Saraf Pusat TIK.1.1.

Menjelaskan Anatomi Makroskopik Sistem Saraf Pusat Sistem saraf pusat (SSP) meliputi otak (Latin: 'ensephalon') dan sumsum tulang belakang (Latin: 'medulla spinalis'). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruasruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis. Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut: 1. Durameter; terdiri dari dua lapisan, yang terluar bersatu dengan tengkorak sebagai endostium, dan lapisan lain sebagai duramater yang mudah dilepaskan dari tulang kepala. Diantara tulang kepala dengan duramater terdapat rongga epidural. 2. Arachnoidea mater; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang labahlabah. Di dalamnya terdapat cairan yang disebut liquor cerebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela sela membran araknoid. Fungsi selaput arachnoidea adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik. 3. Piameter. Lapisan terdalam yang mempunyai bentuk disesuaikan dengan lipatanlipatan permukaan otak. Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial yaitu: 1. badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea) 2. serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba) 3. sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih. Otak Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.

Otak (serebrum)

besar

Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks otak besar yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut dalah bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berfikir (yaitu mengingat, analisis, berbicara, kreativitas) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang. Otak tengah (mesensefalon) Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran. Otak kecil (serebelum) 4

Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan. Sumsum sambung (medulla oblongata) Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip. Jembatan varol (pons varoli) Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.

Sumsum tulang belakang (medula spinalis) Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor

Menjelaskan Anatomi Mikroskopik Sistem Saraf Pusat SSP terdiri atas : serebrum, serebelum medulla spinalis. SSP tidak mempunyai jaringan ikat sehingga konsistensinya relatif lunak seperti agaragar. Substansia Putih dan Kelabu Pada potongan melintang dari serebrum,serebelum dan medula spinalis tampak daerahdaerah yang berwarna putih (substansia putih) dan kelabu (substansia kelabu). 5

Distribusi myelin yang berbeda dalam SSP menyebabkan perbedaan yaitu: komponen utama dari substansi putih adalah akson yang bermielin dan oligodendrosit yang memproduksi mielin.Substansi putih tdak mengandung badan sel neuron. Substansi kelabu mengandung badan sel neuron,dendrite dan bagian awal dari akson dan sel glia yang tidak bermielin,yang merupakan daerah di mana timbul sayap sinaps. Substansi kelabu biasanya berada pada permukaan serebrum dan serebelum,membentuk korteks serebral dan serebelar,sedangkan substansia putih berada pada daerah yang lebih sentral. Kumpulan badan sel neuron yang membentuk pulau-pulau substansi kelabu yang dikelilingi oleh substansi putih disebut nuklei. Korteks serebri Substansi kelabu terdiri atas enam lapis sel dengan bentuk dan ukuran yang berbeda.Neuron-neuron pada beberapa tempat di korteks serebri mengatur impuls aferen (sensorik ); sedangkan ditempat lain, neuron eferen ( motorik ) mengaktifkan impuls motoik yang mengatur pergerakan volunter. Sel-sel dari korteks serebri dihubungkan dengan informasi sensorik yang terintegrasi dan permulaan respons motorik volunter. Korteks Serebeli Korteks serebeli memiliki tiga lapisan yaitu: lapisan molekul luar, lapisan tengah yang terdiri dari sel-sel Purkinye besar, dan lapisan granula dalam.Sel-sel Purkinye memiliki badan sel yang mencolok dengan dendritnya yang berkembang dengan sempurna sehingga menyerupai kipas.Dendrit ini menempati hampir seluruh lapisan molecular dan menjadi alasan untuk jarangnya nuclei pada lapisan itu. Lapisan granular disusun oleh sel-sel yang sangat kecil ( sel terkecil dari tubuh kita ) yang cenderung merata, berbeda dengan lapisan molekular yang kurang padat sel. Pada potongan melintang medula spinalis, substansi putih berada di tepi d an substansia kelabu di tengah berbentuk H. Pada palang horizontal dari huruf H terdapat lubang yang disebut kanal sentral, yang merupakan sisa dari lumen tabung neural embrionik.Kanal itu dilapisi oleh sel ependim.Substansia kelabu pada bagian kaki dari huruf H itu membentuk kornu anterior.Kornu ini mengandung neuron motorik yang aksonnya membentuk akar ventral dari saraf spinal.Substansia kelabu juga membentuk kornu posterior ( bagian lengan dari huruf H ), yang menerima serat sensorik dari neuron di ganglion spinal ( akar dorsal ). Neuron pada medulla spinalis besar dan multipolar,terutama pada kornu anterior,dimana ditemukan neuron motorik yang besar. Meninges Susunan saraf pusat dilindungi oleh tengkorak dan kolumna vertebralis.Ia juga dibungkus membrane jaringan ikat yang disebut meninges.Dimulai dari lapisan paling luar, berturutturut terdapat dura mater, araknoid, dan piamater.Araknoid dan piamater saling melekat 6

dan seringkali dipandang sebagai satu membrane yang disebut pia-araknoid. a. Dura mater Dura mater adalah meninges luar, terdiri atas jaringan ikat padat yang berhubungan langsung dengan periosteum tengkorak. Dura mater yang membungkus medulla spinalis dipisahkan dari periosteum vertebra oleh ruang epidural, yang mengandung vena berdinding tipis,jaringan ikit longgar, dan jaringan lemak. Dura mater selalu dipisahkan dari araknoid oleh celah sempit, ruang subdural. Permukaan dalam dura mater, juga permukaan luarnya pada medulla spinalis, dilapisi epitel selapis gepeng yang asalnya dari mesenkim. b. Araknoid Araknoid mempunyai 2 komponen: lapisan yang berkontak dengan dura mater dan sebuah system trabekel yang menghubungkan lapisan itu dengan piamater.Rongga diantara trabekel membentuk ruang Subaraknoid, yang terisi cairan serebrospinal dan terpisah sempurna dari ruang subdural.Ruang ini membentuk bantalan hidrolik yang melindungi susunan saraf pusat dari trauma.Ruang subaraknoid berhubungan dengan ventrikel otak. Araknoid terdiri atas jaringan ikat tanpa pembuluh darah.Permukaannya dilapisi oleh epitel selapis gepeng seperti yang melapisi dura mater.Karena dalam medulla spinalis araknoid itu lebih sedikit trabekelnya, maka lebih mudah dibedakan dari piamater. Pada beberapa daerah, araknoid menerobos dura mater membentuk julursn-juluran yang berakhir pada sinus venosus dalam dura mater.Juluran ini, yang dilapisi oleh sel-sel endotel dari vena disebut Vili Araknoid. Fungsinya ialah untuk menyerap cairan serebrospinal ke dalam darah dari sinus venosus. c. Pia mater Pia mater terdiri atas jarinagn ikat longgar yang mengandung banyak pembuluh darah.Meskipun letaknya cukup dekat dengan jaringan saraf, ia tidak berkontak dengan sel atau serat saraf.Di antara pia mater dan elemen neural terdapat lapisan tipus cabangcabang neuroglia, melekat erat pada pia mater dan membentuk barier fisik pada bagian tepi dari susunan saraf pusat yang memisahkan SSP dari cairan brospinal. Piamater menyusuri seluruh lekuk permukaan susunan saraf pusaf dan menyusup kedalamnya untuk jarak tertentu bersama pembuluh darah. pia mater di lapisioleh sel-sel gepeng yang berasal dari mesenkim. Pembuluh darah menembus susunan saraf pusat melalai torowongan yang dilapisi oleh piamater ruang perivaskuler. Sawar Darah Otak Sawar darah otak merupakan barier fungsional yang mencegah masuknya beberapa substansi,seperti antibiotic dan bahan kimia dan toksin bakteri dari darah ke jaringan saraf. Sawar darah otak ini terjadi akibat kurangnya permeabilitas yang menjadi ciri kapiler darah jaringan saraf.Taut kedap, yang menyatukan sel-sel endotel kapiler ini secara sempurna merupakan unsur utama dari sawar.Sitoplasma sel-sel andotel ini tidak

bertingkap, dan terlihat sangat sedikit vesikel pinositotik. Perluasan cabang sel neuroglia yang melingkari kapiler ikut mengurangi permeabilitasnya. PLEKSUS KOROID DAN CAIRAN SEREBROSPINAL Pleksus Koroid Pleksus koroid terdiri atas lipatan-lipatan ke dalam dari pia mater yang menyusup ke bagian dalam ventrikel.Ia ditemukan pada atap ventrikel ketiga dan keempat dan sebagian pada dinding ventrikel lateral. Ia merupakan struktur vasikular yang terbuat dari kapiler venestra yang berdilatasi. Pleksus koroid terdiri atas jaringan ikat longgar dari pia mater, dibungkus oleh epitel selapis kuboid atau silindris. Fungsi utama pleksus koroid adalah membentuk cairan serebrospinal,yang hanya mengandung sedikit bahan padat dan mengisi penuh ventrikel, kanal sentral dari medulla spinalis, ruang subaraknoid, dan ruang perivasikular. Ia penting untuk metabolisme susunan saraf pusat dan merupakan alat pelindung, berupa bantalan cairan dalam ruang subaraknoid. Cairan itu jernih, memiliki densitas rendah, dan kandungan proteinnya sangat rendah.Juga terdapat beberapa sel deskuamasi dan dua sampai lima limfosit per milliliter. Cairan serebrospinal mengalir melalui ventrikel, dari sana ia memasuki ruang subaraknoid.Disini vili araknoid merupakan jalur utama untuk absorbsi CSS ke dalam sirkulasi vena. Menurunnya proses absorsi cairan serebrospinal atau penghambatan aliran keluar cairan dari ventrikel menimbulkan keadaan yang disebut hidrosefalus, yang mengakibatkan pembesarab progresif dari kepala dan disertai dengan gangguan mental dan kelemahan otot.

TIU.2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Cairan Serebrospinal 1. Letak Sistem ventriculi cerebri, cavum subarachnoidea, dan canalis centralis 2. Pembentuk Plexus choroideus dari sistem ventriculi cerebri (ventriculi lateralis, ventriculus tertius, ventriculus quartus), sebagian kecil berasal dari cairan jaringan otak. 3. Sifat Cairan jernih mirip cairan jaringan atau cairan limfe dengan berat jenis 1.007 Mempunyai kandungan garam anorganis seperti dalam plasma darah : Kadar Mg dan CL lebih banyak, sedangkan kadar K dan Ca lebih sedikit. Kadar gulanya separuh dari yang ada dalam darah, kadar protein sangat sedikit, jumlah limfosit normal 1-8/mm2. Dalam posisi berbaring tekanannya 100-150 mm air (tekanan akan naik jika batuk, atau tekanan pada vena jugularis interna) Jumlah totalnya : 140 ml 4. Sirkulasi Pada otak Dari ventriculus lateralis melalui foramen interventriculare (Monroi) berhubungan dengan ventriculus III kemudian melalui aquaeductus cerebri (sylvii) masuk ke dalam ventriculus IV dan melalui foramen Magendi (ditengah atap ventriculus IV) dan foramen interventriculare (Luschka) (dipinggir atap ventriculus IV) masuk ke dalam cavum sub arachnoidale dan cisternae Pada medula spinalis

Dalam cairan sub arachnoidea spinalis dimana ke cranial berhubungan dengan ventriculus IV melalui foramen Magendi dan foramen Luschka. Sebagian besar LCS akan diabsorpsi oleh vili arachnoidale, sebagian kecil memasuki celah perineuralis dari Nn. Craniales et spinales dan berakhir pada saluran limfe. Aliran LCS dimungkinkan karena adanya denyut nadi vasa craniales et spinales dan adanya gerakan columna vertebralis. 5. Fungsi Sebagai bumper antara susunan saraf pusat dengan tulang di sekelilingnya Sebagai pengatur volume rongga tengkorak (jika volume otak atau darah naik, maka volume LCS akan menurun) Sebagai pemberi makanan terhadap susunan saraf pusat Sebagai media untuk membuang sisa metabolisme neuron. 9

II.1. Makroskopis Untuk pemeriksaan makroskopis selalu bandingkan cairan serebrospinal dengan aquadest untuk melihat kelainan yang ringan. 1. Warna Cairan otak normalnya jernih seperti aquadest. Jika ada warna kemungkinannya antara lain : a. Merah Warna merah disebabkan karena adanya darah. Harus dibedakan antara darah karena trauma pungsi atau perdarahan subarachnoidal. Jika darah berasal dari pungsi, maka dalam tabung pertama terdapat yang terbanyak, tabung kedua dan ketiga makin kurang jumlahnya. Jika dibiarkan atau di sentrifugasi cairan serebrospinal jernih dan darah akan membentuk bekuan. Pada perdarahan subarachnoidal, darah pada ketiga tabung sama jumlahnya dan tidak akan membeku serta cairan serebrospinal berwarna kuning. b. Coklat Warna coklat menunjukkan adanya perdarahan yang tua dan disebabkan oleh eritrosit yang mengalami hemolisis. Cairan serebrospinal berwarna kuning setelah disentrifugasi. c. Kuning (xanthokromi) Disebabkan karena adanya perdarahan tua, mungkin juga karena ikterus berat oleh kadar protein yang tinggi. d. Keabu-abuan Disebabkan oleh leukosit dalam jumlah besar seperti didapat pada radang purulen. 2. Kekeruhan Untuk menguji kekeruhan, cairan serebrospinal dibandingkan dengan tabung berisi aqua destillata. Pada keadaan normal, cairan otak sejernih aquadest. Umumnya kekeruhan dapat disebabkan oleh darah, sel-sel peradangan (epitel dan leukosit) dan oleh kuman-kuman. Penambahan jumlah sel (pleiositosis) tidak selalu disertai dengan kekeruhan. Seperti pada ensefalitis, meningitis tuberkulosa, meningitis sifilitika dan poliomyelitis. Pada umumnya sebanyak 200 sel/ul atau kurang tidak menyebabkan kekeruhan yang dapat dilihat. Kadar 200-500 sel/ul membuat cairan sedikit keruh dan kadar lebih dari 500 sel/ul menimbulkan kekeruhan. Kekeruhan yang jelas terjadi pada meningitis purulenta. Laporan untuk hasil pemeriksaan : jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. 10

3. Sedimen Cairan otak normal walaupun disentrifugasi tidak akan menimbulkan sedimen sedikitpun. Adanya sedimen merupakan adanya abnormalitas. Jumlah sedimen berbanding lurus dengan kekeruhan otak. 4. Bekuan Cairan otak normal walaupun didiamkan tidak akan membentuk bekuan karena tidak mengandung fibrinogen. Jika terjadi bekuan, laporkan wujud bekuan apakah halus sekali, menyusun keping-keping, menyusun serat-serat, berupa selaput atau ada bekuan yang kasar dan besar. Bekuan terjadi apabila terdapat fibrinogen di cairan serebrospinal dan biasanya disertai dengan bertambanya protein (albumin dan globulin). Pada meningitis tuberkulosa terbentuk bekuan yang sangat halus dan sangat renggang. Bekuan yang merupakan selaput tipis di atas permukaan juga mungkin didapat pada peradangan yang menahun. Adanya bekuan yang besar atau kasar mengarah kepada meningitis purulenta. Bekuan en masse, yaitu cairan otak yang membeku seluruhnya ditemukan pada sindroma Froin dan pada perdarahan besar. Pada ensefalitis dan poliomyelitis biasanya tidak terjadi bekuan. II.2. Mikroskopis 1. Menghitung Jumlah Sel Pemeriksaan ini harus segera dilakukan sebaiknya dalam waktu setengah jam setelah mendapat cairan serebrospinal karena leukosit-leukosit sangat cepat rusak. Dalam keadaan normal didapat 0-5 sel/ul cairan karena itu dipakai pengenceran dan kamar hitung yang berlainan dengan cara menghitung leukosit dalam darah. Kamar hitung yang sering dan sebaiknya digunakan ialah menurut FuchsRosenthal, tinggi kamar hitung 0,2 mm dan luasnya 16 mm 2. Larutan pengencer adalah larutan Turk pekat. Dalam keadaan normal didapat 0-5 sel/ul cairan serebrospinal. Jika terdapat eritrosit, eritrosit tersebut tidak dihitung. Bila ditemukan 6-10 sel/ul cairan termasuk batas keadaan abnormal, sedangkan lebih dari 10 sel/ul berarti abnormal. Pada anak-anak di bawah umur 5 tahun sampai 20 sel/ul masih dalam kisaran normal. Jika ada lesi setempat yang bersifat menahun dan degeneratif yang tidak disertai radang atau radang yang sangat ringan, jumlah sel tidak meningkat atau hanya meningkat sedikit saja. Misalnya pada keadaan meningismus, tumor otak tanpa komplikasi dan sklerosis multipel.

11

Poliomyelitis, ensefalitis dan neurosifilis disertai pleiositosis ringan sampai 200 sel/ul, begitu juga dengan meningitis tuberkulosa. Jumlah sel yang besar sekali didapat pada meningitis acuta purulenta. 2. Menghitung Jenis Sel Meskipun dalam cairan serebrospinal ada lebih dari dua jenis sel, namun hanya dibuat perbedaan antara sel yang berinti satu (limfosit) dan yang polinuklear (segmen). Jika jumlah sel tidak terlalu banyak, yaitu kurang dari 50/ul sudah cukup untuk membuat hitung jenis dari kamar hitung saja dengan hanya membedakan limfosit dari segmen. Jika jumlahnya lebih besar, cara tersebut tidak dapat digunakan. Dalam keadaan normal hanya ditemukan limfosit saja. Pada infeksi ringan yang menahun dan disertai pleiositosis sedang, meningitis tuberkulosa dan meningitis sifilitika ditemukan terutama sel limfosit. Pada peradangan mendadak oleh causa manapun (misalnya meningococci dan pneumococci) ditemukan sel-sel segmen. Jumlah segmen besar dapat ditemukan pula pada infeksi pyogen setempat seperti abses serebral atau ekstradural. Jumlah segmen yang meningkat menandakan proses sedang menghebat sedangkan bila limfosit bertambah maka proses tersebut mereda. 3. Bakterioskopi Kuman yang paling sering terdapat di dalam cairan serebospinal adalah M. tuberculosis, meningococci, pneumococci, streptococci dan H. influenzae. Pemeriksaan bakteriologi berguna untuk mengetahui etiologi radang. Pewarnaan yang dipakai adalah pulasan menurut Gram dan Ziehl-Nielsen atau Kinyoun. Sedimen merupakan bahan pemeriksaan. Pulasan terhadap batang tahan asam baik dilakukan dengan bekuan halus atau dengan selaput permukaan sebagai bahan pemeriksaan pada meningitis tuberkulosa. II.3. Pemeriksaan Bakteriologi Pemeriksaan bakteriologi yang baik adalah dengan langsung menampung cairan serebrospinal dari jarum pungsi ke dalam medium biakan. Jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan, segera kirim bahan tersebut dalam tabung steril ke laboratorium secepatnya. Jika terpaksa menunggu, simpan tabung di dalam lemari pengeram 37oC. II.4. Pemeriksaan Kimia 1. Protein Pemeriksaan protein dalam cairan serebrospinal adalah yang paling penting di antara pemeriksaan kimia. Pemeriksaan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

12

Jika ada darah dalam cairan serebrospinal, hasil pemeriksaan tidak ada artinya lagi (dengan cara manapun). a. Tes Busa Merupakan tes kasar terhadap kadar protein yang sangat meningkat. Jika cairan serebrospinal normal dikocok kuat-kuat, maka busa yang muncul hanya sedikit dan menghilang lagi setelah didiamkan 1-2 menit. Jika kadar protein sangat tinggi, lebih banyak busa yang terbentuk dan tidak hilang setelah didiamkan selama 5 menit. b. Tes Pandy Reagens Pandy, yaitu larutan jenuh fenol dalam air bereaksi dengan globulin dan albumin. Tes Pandy mudah dilakukan pada waktu pungsi dan sering dijalankan sebagai bedside test. Dalam keadaan normal tidak akan terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang sangat ringan berupa kabut halus. Semakin tinggi kadar protein, semakin keruh hasil reaksi. Penilaian harus segera dilakukan setelah pencampuran cairan serebrospinal dengan reagens. Hasil negatif bila tidak terdapat kekeruhan atau kekeruhan yang sangat halus berupa kabut. Hasil positif bila terdapat kekeruhan yang lebih berat. c. Tes Nonne Reagens yang digunakan adalah larutan jenuh amoniumsulfat. Tes Nonne digunakan untuk mengukur kadar globulin dalam cairan serebrospinal. Tes Nonne juga sering digunakan sebagai bedside test pada waktu mengambil cairan serebrospinal dengan pungsi. Hasil negatif apabila tidak terjadi kekeruhan pada perbatasan. Hasil positif apabila terbentuk cincin keruh pada perbatasan. Semakin tinggi kadar globulin semakin tebal cincin keruh yang terjadi. Tes Nonne lebih bermakna dibandingkan Tes Pandy karena cairan serebrospinal dalam keadaan normal pada Tes Nonne menunjukkan hasil negatif. d. Penetapan Protein Kuantitatif Kadar protein dapat diukur dengan cara : Fotokolorimetri Dengan mengukur absorbansi larutan setelah membuat warna dengan reaksi biuret atau mengukur warna hasil reaksi warna dengan tirosin atau triptofan. Turbidimetri Diukur kekeruhan yang timbul oleh reaksi antara protein dan asam sulfosalisilat atau reagens lain yang mengendapkannya.

Batas-batas normal kadar protein dipengaruhi oleh tempat pengambilan cairan otak. Semakin kranial, semakin kurang kadar protein.

13

Lokasi Kadar Protein Ventriculi 5-15 mg/dL Cisterna Magna 10-25 mg/dL Lumbal 15-40 mg/dL Dalam keadaan normal terdapat protein terutama albumin yang ada di dalam cairan serebrospinal. Pada keadaan patologik globulin-globulin juga akan muncul beserta fibrinogen. Dalam cairan serebrospinal juga terdapat fraksi-fraksi protein yang diukur dengan menggunakan elektroforesis dan imunoelektroforesis sebagai berikut : Fraksi Protein Prealbumin Albumin -1-globulin -2-globulin -globulin -globulin Kadar 4,6 1,3% 49,5 6,5% 6,7 2,1% 8,3 2,1% 18,5 4,8% 8,2 2,7%

Perubahan dalam konsentrasi fraksi-fraksi protein dapat dihubungkan dengan kelainan neurologis tertentu. Pada banyak keadaan abnormal kadar protein total meningkat. Kadar protein yang sangat tinggi (200-1000 mg/dL) ditemukan pada meningitis purulenta, perdarahan subarachnoidal dan jika ada suatu penyumbatan. Hampir semua macam penyakit organik pada susunan saraf pusat disertai meningginya kadar protein, derajat meningkatnya protein sesuai dengan beratnya lesi. 2. Glukosa Penetapan glukosa harus dikerjakan dengan cairan serebrospinal segar karena sel-sel dan mikroorganisme akan mengurangi jumlahnya. Kadar normal glukosa 50-80 mg/dL atau kira-kira setengah dari kadar dalam plasma, maka sebaiknya selalu melakukan penetapan kadar glukosa darah. Indikasi terutama untuk pasien dugaan meningitis. Pada meningitis bakterial kadar glukosa menurun. Kadar normal disertai pleiositosis ditemukan pada peradangan nonbakterial. Pada meningitis purulenta kadar glukosa turun, mungkin hingga mencapai nol. Kadar glukosa biasanya tidak berubah pada ensefalitis, tumor otak dan neurosifilis. Pemakaian metode carik celup pada pemeriksaan glukosa cairan serebrospinal tidak dianjurkan. 3. Klorida Seperti glukosa, kadar klorida dalam cairan serebrospinal turut naik turun dengan kadar klorida dalam plasma darah, maka perlu penetapan kadar klorida serum. 14

Dalam keadaan normal kadar klorida dalam cairan serebrospinal 720-750 mg/dL (disebut sebagai NaCl). Sedangkan nilai normal dalam serum 550-620 mg/dL (sebagai NaCl). Penetapan kadar klorida berguna pada diagnosis meningitis. Pada meningitis akuta kadar akan menurun hingga kurang dari 680 mg/dL. Pada meningitis tuberkulosa terjadi penurunan sangat drastis, biasanya sampai kurang dari 600 mg/dL. Peradangan setempat, peradangan nonbakterial, tumor otak, ensefalitis, poliomyelitis dan neurosifilis tidak disertai perubahan kadar klorida. 4. Koloid Apabila cairan serebrospinal normal diencerkan secara berderet dengan larutan garam kemudian dicampur dengan suatu suspensi koloidal maka keadaan koloid tidak akan terganggu olehnya. Tetapi jika cairan serebrospinal abnormal, keadaan akan berubah dan akan terlihat perubahan warna atau presipitasi dalam koloid itu. Perubahan yang terjadi dalam larutan koloid tidak secara uniform dengan semua pengenceran, melainkan akan memperlihatkan perubahan maksimal pada pengenceran rendah, yang pertengahan atau yang tinggi (first zone, mid zone atau end zone). Dasar reaksi ini berkaitan dengan kadar protein dan dengan perubahan kuantitatif dan kualitatif pada fraksi-fraksi protein. Derajat perubahan dalam suspensi koloid biasanya dinilai dengan angka 0 (tanpa perubahan) sampai 5 (perubahan total).

15

Memahami dan Menjelaskan Kejang Demam Menjelaskan Definisi Kejang Demam Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial. Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 6 bulan dan 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demmam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Menjelaskan Etiologi Kejang Demam 1. Disebabkan oleh suhu yang tinggi 2. Timbul pada permulaan penyakit infeksi (extra Cranial), yang disebabkan oleh banyak macam agent: a. Bakterial: Penyakit pada Tractus Respiratorius: Pharingitis Tonsilitis Otitis Media Laryngitis Bronchitis Pneumonia Pada G. I. Tract: Dysenteri Baciller Sepsis. Pada tractus Urogenitalis: Pyelitis Cystitis Pyelonephritis b. Virus: Terutama yang disertai exanthema: Varicella Morbili Dengue Exanthemasubitung Menjelaskan Patofisiologi Kejang Demam Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yaitu glukosa sifat proses ini adalah oksidasi dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sestem kardiovaskuler. Dari uraian di atas, diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang dikelilingi oleh membran 16

yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan ion Na+ rendah, sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena keadaan tersebut, maka terjadi perbedaan potensial membran yang disebut potesial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na - K Atp ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler. Rangsangan yang datangnya mendadak seperti mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya dan perubahan patofisiologi dan membrane sendiri karena penyakit atau keturunan. Pada demam, kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan metabolisme basal 10 - 15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20 %. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik. Ini demikian besarnya sehingga meluas dengan seluruh sel dan membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang tersebut neurotransmitter dan terjadi kejang. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38o C dan anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40o C atau lebih, kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai apnea. Meningkatnya kebutuhan O2 dan untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, denyut jantung yang tidak teratur dan makin meningkatnya suhu tubuh karena tingginya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otek meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul oedema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak (Hasan dan Alatas, 1985: 847 dan Ngastiyah, 1997: 229). Menjelaskan Manifestasi Klinis Kejang Demam Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Lwingstone), yaitu: 1. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis sebagai berikut : Kejang berlangsung singkat, < 15 menit Kejang umum tonik dan atau klonik Umumnya berhenti sendiri Tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam 2. Kejang demam komplikata (Complex Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis sebagai berikut : Kejang lama > 15 menit 17

Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejangparsial Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Gejalanya berupa : Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba) Kejang tonik-klonik atau grand mal Pingsan yang berlangsung selama 30detik s/d 5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam) Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik) Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama biasanya berlangsung 1-2 menit Lidah atau pipinya tergigit Gigi atau rahangnya terkatup rapat Inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya) Gangguan pernafasan Apneu (henti nafas) Kulitnya kebiruan

Menjelaskan Komplikasi Kejang Demam Menurut Lumbantobing ( 1995: 31) Dan Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI (1985: 849-850). Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih dari 15 menit yaitu : 1. Kerusakan otak Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu kejang melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA ( M Metyl D Asparate ) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang merusak sel neuoran secara irreversible. 2. Retardasi mental 18

Dapat terjadi karena deficit neurolgis pada demam neonates

Menjelaskan Penatalaksanaan Kejang Demam Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan: a. Memberantas kejang secepat mungkin Bila penderita datang dalam keadaan status konvulsif, obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Keberhasilan untuk menekan kejang adalah sekitar 80-90%. Efek terapinya sangat cepat, yaitu 30 detik sampai 5 menit dan efek toksik yang serius hampir tidak dijumpai apabila diberikan secara perlahan dan dosis tidak melebihi 50 mg persuntikan. Dosis tergantung berat badan. Biasanya dosis rata-rata yang terpakai 0,3 mg/kgBB/kali dengan maksimum 5 mg pada anak berumur kurang dari 5 tahun dan 10 mg pada anak yang lebih besar. Setelah suntikan pertama secara IV ditunggu 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntian kedua dengan dosis yang sama, juga IV. Setelah 15 menit suntikan kedua masih kejang, diberikan suntikan ketiga dengan dosis yang sama akan tetapi pemberiannya secara IM. Akibat samping diazepam adalah mengantuk, hipotensi, penekanaan pusat pernafasan, laringospasme dan henti jantung. Pemberiaan diazepam secara intravena pada anak yang kejang seringkali menyulitkan, cara pemberian yang efektif melalui rektum. Dosisnya juga disesuaikan dengan berat badan. Apabila diazepam tidak tersedia, dapat diberikan fenobarbital secara IM. Bila kejang tidak dapat dihentikan dengan obat-obat tersebut di atas maka sebaiknya penderita dirawat di ruangan intensif untuk diberikan anastesi umum dengan dengan tiopenal yang diberikan oleh seorang ahli anestesi. b. Pengobatan Penunjang Sebelum memberantas kejang jangan lupa dengan pengobatan penunjang. Semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya dimiringkan untuk mencegah aspirasi lambung. Mengusahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi 19

terjamin. Pengisapan lender dilakukan secara teratur dan pengobatan ditambaah dengan pemberian oksigen. Fungsi vital diawasi secara ketat. Cairan intravena sebaiknya diberikan dengan monitoring untuk kelainan metabolik dan elektrolit. Bila terdapat tanda tekanan intrakranial yang meninggi jangan diberikan cairan dengan kadar natrium yang terlalu tinggi. Bila suhu tinggi dilakukan hibernasi dengan kompres es atau alkohol. Untuk mencegah terjadinya edema otak, diberikan kortikosteroid, yaitu dengan dosis 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. c. Pengobatan Rumat Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat. Daya kerja diazepam sangat singkat yaitu berkisar antara 45-60 menit sesudah disuntik. Oleh sebab itu harus diberikan obat antiepileptik dengan dengan daya kerja lebih lama, misalnya fenobarbital atau difenilhidantion. Fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti dengan diazepam. Dosis awal adalah neonates 30mg; 1 bulan-1tahun 50mg dan umur 1 tahun keatas 75mg, semuanya secara intramuscular. Sesudah itu diberikan fenobarbital sebagai dosis rumat. Lanjutan pengobatan rumat ini tergantung dari keadaan pasien. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu: 1. Profilaksis intermiten Untuk mencegah terulangnya kejang kembali dikemudian hari, penderita yang menderita kejang demam sederhana, diberikan obat campuran antikonvulsan dan antipiretika, yang harus diberikan kepada anak apabila menderita demam lagi. Antikonvulsan yang diberikan adalah fenobarbital dan antipiretika yang diberikan adalah aspirin. 2. Profilaksis jangka panjang Untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang dikemudian hari. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang adalah fenobarbital, sodium valproat/asam valproat (Epilin, Dekapene), fenitoin (Dilantin). d. Mencari dan mengobati penyebab Penyebab dari kejang demam biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut. 20

Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang dating untuk pertama kalinya sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini untuk menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis.

21

Memahami dan Menjelaskan Infeksi Susunan Saraf Pusat


Menjelaskan Definisi Meningoencephalitis

Meningitis Adalah reaksi peradangan yang mengenai cairan serebrospinalis disertai radang pada piamater dan arachnoid, ruang subarachnoid, jaringan superficial otak dan medulla spinalis.

Ensefalitis : Dapat terjadi lokal atau difus. Radang otak lokal misalnya abses, tuberkuloma, gumma, sistiserkosis. Ensefalitis yang disebabkan virus mengenai otak lebih luas.

Myelitis ; Kerusakan medulla spinalis yang dapat terjadi pada sebagai macam trauma, radang, keracunan, kerentanan, neoplasma, gangguan peredaran darah, dll.

Menjelaskan Etiologi Meningoencephalitis Meningitis purulen : Stafilokokus, streptokokus, pneumokokus, meningokokus, haemophylus influenzae, kapang Cryptococcus neoformans Meningitis tuberkulosa : Mycobakterium tuberkulosa menyebar melalui darah Ensefalitis : Treponema pallidum Faktor imunologi : Defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan. 22

Menjelaskan Patofisiologi Meningoencephalitis 1. Ensefalitis Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara: Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu. Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut. Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.

Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat . Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang. Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak. Penyebab Ensefalitis: Penyebab terbanyak : adalah virus Sering : - Herpes simplex ,- Arbo virus Jarang : - Entero virus - Mumps, Adeno virus Post Infeksi : - Measles, Influenza, Varisella Post Vaksinasi : - Pertusis Ensefalitis supuratif akut : Bakteri penyebab Ensefalitis adalah : Staphylococcusaureus,Streptokok,E.Coli,Mycobacterium Ensefalitis virus: 23 dan T. Pallidum.

Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,varicella.

2. Meningitis Infeksi dapat mencapai selaput otak melalui: Aliran darah (hematogen) karena infeksi di tempat lain seperti faringitis, tonsilitis, endokarditis, pneumonia dan infeksi gigi. Perluasan langsung dari infeksi (prekontinuitatum) yang disebabkan oleh infeksi sinus para nasalis, mastoid, abses otak Implantasi langsung: trauma kepala terbuka, tindakan bedah otak, pungsi lumbal dan mielokel. Meningitis pada neonatus: Aspirasi cairan amnion saat bayi melalui jalan lahir atau oleh kumankuman. Infeksi bakterial secara transplasental terutama listeria.

Menjelaskan Manifestasi Klinis Infeksi Meningoencephalitis Meningitis bakterial Pada bayi baru lahir dan prematur : Pasien tampak lemah dan malas, tidak mau minum, muntah-muntah, kesadaran menurun, ubun-ubun besar tegang dan membenjol, leher lemas, respirasi tidak teratur, kadang disertai ikterus jika sepsis. Pada bayi berumur 3 bulan 2 tahun : Demam, muntah, gelisah, kejang berulang, high pitched cry (pada bayi), ubunubun tegang dan membenjol. Pada anak besar : 24

Meningitis kadang-kadang memberikan gambaran klasik. Terdapat demam, menggigil, muntah, dan nyeri kepala. Kadang-kadang gejala pertama adalah kejang, gelisah, gangguan tingkah laku. Penurunan kesadaran dapat terjadi. Tanda klinis yang biasa di dapat adalah kaku kuduk, tanda Brudzinski dan Kernig. Saraf kranial yang sering mengalami kelainan adalah N VI, VII, dan IV. Bila terdapat trombosis vaskular dapat timbul kejang dan hemiparesis. Meningitis Tuberkulosis Stadium pertama : gejala demam, sakit perut, nausea, muntah, apatis, klainan neurologis belum ada. Stadium kedua : tidak sadar, sopor, terdapat kelainan neurologis, ada tanda rangsang meningeal, saraf otak yang biasa terkena adalah N.III, IV, VI, dan VII Stadium ketiga : koma, pupil tidak bereaksi, kadang timbul spasme klonik pada ekstremitas, hidrosefalus.

Ensefalitis Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari, ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, dan pucat. Berat ringannya tergantung dari distribusi dan luas lesi pada neuron. Gejalanya berupa gelisah, iritabel, screaming attack, perubahan perilaku, gangguan kesadaran dan kejang. Kadang-kadang disertai neurologis fokal berupa afasia, hemiparesis, hemiplegia, ataksia dan paralisis saraf otak. Tanda rangsang meningeal dapat terjadi bila peradangan mencapai meningen.

Menjelaskan Pemeriksaan Penunjang Meningoencephalitis Analisis CSS dari fungsi lumbal : c. Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.

25

d. Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus. Glukosa serum : meningkat ( meningitis ) LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri ) Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri) Elektrolit darah : Abnormal . ESR/LED : meningkat pada meningitis Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

Pungsi Lumbal Pungsi lumbal adalah tindakan untuk memperoleh likuor serebrospinalis dan untuk mengetahui keadaan lintasan likuor. Indikasi 1. Untuk mengetahui tekanan dan mengambil sampel untuk pemeriksan sel,kimia dan bakteriologi 2. Untukmembantu pengobatan melalui spinal, pemberian antibiotika, anti tumor dan spinal anastesi 3. Untuk membantu diagnosa dengan penyuntikan udara pada pneumoencephalografi, dan zat kontras pada myelografi Kontra Indikasi Pungsi Lumbal : 1. Adanya peninggian tekanan intra kranial dengan tanda-tanda nyeri kepala,muntah dan papil edema 2. Penyakit kardiopulmonal yang berat 3. Ada infeksi lokal pada tempat Lumbal Punksi Persiapan Pungsi Lumbal : 1. Periksa gula darah 15-30 menit sebelum dilakukan LP 2. Jelaskan prosedur pemeriksaan, bila perlu pasen/keluarga terutama pada LP dengan resiko tinggi

diminta

persetujuan 26

Tata Cara Teknik Pungsi Lumbal : 1. Pasien diletakkan pada pinggir tempat tidur, dalam posisi lateral decubitus dengan leher, punggung, pinggul dan tumit lemas. Boleh diberikan bantal tipis dibawah kepala atau lutut. 2. Tempat melakukan pungsi adalah pada kolumna vetebralis setinggi L 3-4, yaitu setinggi crista iliaca. Bila tidak berhasil dapat dicoba lagi intervertebrale ke atas atau ke bawah. Pada bayi dan anak setinggi intervertebrale L4-5 3. Bersihkan dengan yodium dan alkohol daerah yang akan dipungsi 4. Dapat diberikan anasthesi lokal lidocain HCL 5. Gunakan sarung tangan steril dan lakukan punksi, masukkan jarum tegak lurus dengan ujung jarum yang mirip menghadap ke atas. Bila telah dirasakan menembus jaringan meningen penusukan dihentikan, kemudian jarum diputar dengan bagian pinggir yang miring menghadap ke kepala. 6. Dilakukan pemeriksaan tekanan dengan manometer dan test Queckenstedt bila diperlukan. Kemudian ambil sampel untuk pemeriksaan jumlah danjenis sel, kadar gula, protein, kultur baktri dan sebagainya. Komplikasi 1.Sakit kepala Biasanya dirasakan segera sesudah lumbal punksi, ini pengurangan cairan serebrospinal 2. Backache, biasanya di lokasi bekas punksi disebabkan spasme otot 3. Infeksi 4. Herniasi 5. Untrakranial subdural hematom 6. Hematom dengan penekanan pada radiks

timbul

karena

Keuntungan LP sangat penting untuk alat diagnosa. Prosedur ini memungkinkan melihat bagian dalam seputar medulla spinalis, yang mana memberikan pandangan pada fungsi otak juga. Prosedur ini relative mudah untuk dilaksanakan dan tidak begitu mahal. Dokter yang berpengalaman, LP akan menurunkan angka komplikasi. Ia akan melakukannya dengan cepat dan dilaksanakan di tempat tidur pasien. Menjelaskan Komplikasi Meningoencephalitis 1. Hidrosefalus obstruktif 2. Meningococcl Septicemia (mengingocemia) 3. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral) 4. SIADH (syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone)

27

5. Efusi subdural 6. Kejang 7. Edema dan herniasi serebral 8. Cerebral palsy 9. Gangguan mental 10. Gangguan belajar 11. Attention deficit disorder

Menjelaskan Penatalaksanaan Meningoencephalitis Ensefalitis a. Pengobatan Penyebab Diberikan bila jenis virus diketahui Herpes Ensefalitis : adenosine arabinose 15 mg/kg BB/ nr selama 5 hari b. Pengobatan Suportif ABC dipertahankan sebaik-baiknya Pemberian makanan yang adekuat c. Obat-obatan misalnya : Hiperpirexia .Kejang Edema otak
d. Perawatan

Lakukan drainase postural dan aspirasi mekanis

28