Anda di halaman 1dari 23

TINJAUAN PUSTAKA

1. Plasenta
Plasenta berbentuk bundar dan hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal lebih kurang 2,5 cm. Beratnya kira kira 500 gram. Biasanya tali pusat berhubungan dengan plasenta di tengah dan disebut insersio sentralis. Bila agak ke pinggir disebut insersio lateralis, dan bila di pinggir disebut insersio marginalis. Kadang kadang tali pusat dapat berada di luar plasenta dan disebut insersio velamentosa. Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kurang lebih 16 minggu dengan ruang amnion yang telah mengisi seluruh kavum uteri. Letak plasenta umumnya di depan dan dibelakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Hal ini fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Plasenta terdiri atas 3 bagian, yaitu: Bagian janin (fetal portion), terdiri dari korion frondosum dan vili. Vili dari uri yang matang terdiri dari vili korialis, ruang ruang interviler, dan pada permukaan janin plasenta diliputi oleh amnion yang kelihatan licin. Bagian maternal (maternal portion), terdiri atas desidua kompakta yang terbentuk dari beberapa lobus dan kotiledon (15 20 buah). Tali pusat merentang dari pusat janin ke plasenta bagian permukaan janin. Panjangnya rata rata 50 55 cm, sebesar jari (diameter 1 2,5 cm). struktur terdiri atas 2 arteri umbilikus dan 1 vena umbilikus serta jelly Wharton. Fungsi plasenta adalah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Untuk pertumbuhan ini dibutuhkan adanya penyaluran zat asam, asam amino, vitamin, dan mineral dari ibu ke janin serta pembuangan CO serta sampah metabolism janin ke perdarahan darah ibu. Beberapa fungsi plasenta adalah Sebagai alat yang memberi makanan pada janin (nutritif) Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolism (ekskresi) Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO (respirasi) Sebagai alat yang membentuk hormone (produksi) Sebagai alat menyalurkan berbagai antibody ke janin (imunisasi)
1

Sebagai alat yang menyaring obat obatan dan kuman kuman yang bisa melewati plasenta (pertahanan) Mungkin banyak fungsi yang belum diketahui

Hormon yang dihasilkan plasenta antara lain adalah Human Chorionic Gonadotropin (HCG), Chrorionic somatomammotropin (placental lactogen), esterogen, progesterone, tirotropin korionik dan relaksin, hormon hormon lainnya.

2. Plasenta Previa
Definisi Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim (uterus) sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian atas uterus.

Klasifikasi Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, yaitu: Plasenta previa totalis plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum Plasenta previa parsialis plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum Plasenta previa marginalis plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum Plasenta letak rendah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum

Epidemiologi Di Amerika Serikat, plasenta previa terjadi kira kira 0,3 0,5% dari semua kehamilan. Pada Rumah Sakit Parkland, insidensinya 1 dari 390 untuk 280.000 persalinan yang terdaftar tahun 1998-2006. Resiko meningkat dengan adanya riwayat section cesarean. Di Indonesia, plasenta previa terjadi pada kira kira 1 di antara 200 persalinan. Antara tahun 1971-1975 di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, terjadi 37 kasus plasenta previa dari 4781 persalinan yang terdaftar, atau kira-kira 1 diantara 125 persalinan terdaftar. Frekuensi terjadinya plasenta previa di RSUD Dr. Pirngadi Medan pada tahun 2011 adalah 27 kasus dari 704 atau 1 di antara 26 persalinan.

Etiologi Plasenta bertumbuh pada segmen bawah rahim tidak selalu jelas dapat diterangkan. Ada hipotesis yang menyatakan bahwa plasenta previa terjadi akibat adanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau.

Fakor resiko Perdarahan Dapat menjadi sekunder pada dilatasi serviks dan gangguan plasenta di serviks dan segmen bawah uteri. Segmen bawah uteri tidak efisien berkontraksi dan tidak dapat menyempitkan pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan terus menerus.

Usia lanjut (>35 tahun) Menurut Kloosterman (1973), frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih dari 35 tahun 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun. Pada grande multipara yang berumur lebih dari 35 tahun kira kira 4 kali lebih sering dibandingkan dengan grande multipara yang berumur kurang dari 25 tahun. Multiparitas Dilaporkan berkaitan dengan plasenta previa. Dalam sebuah studi terhadap 314 wanita paritas 5 anak atau lebih. Babinszki dkk. (1999) melaporkan bahwa insiden plasenta previa adalah 2,2% dan meningkat drastis dibandingkan dengan insiden pada wanita dengan paritas lebih rendah. Lebih dari 169.000 wanita di Parkland Hospital, insiden wanita paritas 3 anak atau lebih adalah 1 dari 175. Riwayat Seksio sesarea Nielsen dkk. (1989) mendapatkan peningkatan insiden plasenta previa lima kali lipat pada wanita Swedia dengan riwayat seksio sesarea. Di Parkland, insiden meningkat dua kali lipat dari 1 di antara 400 menjadi 1 di antara 200 pada riwayat seksio sesarea minimal satu kali. Miller dkk. (1996), dari 150.000 lebih kelahiran di Los Angeles County Womens Hospital, menyebutkan peningkatan tiga kali lipat plasenta previa pada wanita dengan riwayat seksio sesarea. Insiden meningkat seiring dengan jumlah seksio sesarea yang pernah dijalani, yaitu 1,9% pada riwayat seksio sesarea dua kali dan 4,1% pada riwayat seksio tiga kali atau lebih. Riwayat seksio sesarea disertai plasenta previa meningkatkan insiden histerektomi. Frederiksen dkk. (1999) melaporkan angka histerektomi 25% pada wanita dengan seksio sesarea berulang atas indikasi plasenta previa dibandingkan dengan hanya 6% pada mereka yang menjalani seksio sesarea primer atas indikasi plasenta previa. Merokok Williams dkk. (1991) mendapatkan risiko relatif untuk plasenta previa meningkat dua kali lipat akibat merokok. Mereka berteori bahwa hipoksemia akibat karbonmonoksida menyebabkan hipertrofi plasenta kompensatorik. Temuan ini dikomfirmasi oleh Handler dkk. (1994). Mungkin terdapat kaitan antara gangguan vaskularisasi desidua yang mungkin disebabkan oleh peradangan atau atrofi dengan terjadinya plasenta previa. Pengobatan infertilitas Eritroblastosis
4

Aborsi berulang Status sosioekonomi rendah Plasenta previa sebelumnya (4 8%)

Gambaran klinis & Diagnosis Anamnesis o Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 20 minggu terutama pada multigravida. o Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan berulang (recurrent). Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak berakibat fatal, tetapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak daripada sebelumnya terutama bila telah dilakukan pemeriksaan dalam. Darah yang keluar biasanya berwarna merah segar. Sumber perdarahan berasal dari sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau robekan sinus marginalis dari plasenta. o Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pemeriksaan hematokrit. Inspeksi o Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak, sedikit, darah beku, dan sebagainya. o Bila terdapat banyak darah yang keluar maka ibu akan terlihat pucat/anemis. Palpasi abdomen o Janin sering belum cukup bulan sehingga fundus uteri masih rendah. o Sering dijumpai kesalahan letak janin. o Bila cukup pengalaman (ahli), dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim, terutama pada ibu yang kurus. o Pada pemeriksaan luar: turunnya bagian terbawah janin ke dalam pintu atas panggul akan terhalang karena adanya plasenta bagian bawah uterus. Bila janin dalam presentasi kepala, maka kepala belum masuk ke dalam pintu atas panggul akibat plasenta previa sentralis, mengolak ke samping karena plasenta previa parsialis, menonjol ke atas simfisis karena plasenta previa anterior.

Pemeriksaan inspekulo Bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina (erosion porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri, polypus servisis uteri, varises vulva, trauma) Ultrasonografi Mengetahui letak plasenta yang dengan sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya, dan tidak menimbulkan rasa nyeri. Pemeriksaan dalam (VT) DSU (Double Set-Up) Examination yaitu melakukan pemeriksaan VT di kamar operasi dengan persiapan operasi seksio sesarea. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara hati-hati, karena bahayanya sangat besar. a. Bahaya pemeriksaan dalam, yaitu o Dapat menyebabkan perdarahan yang hebat o Terjadi infeksi o Menimbulkan his dan kemudian terjadilah partus prematurus b. Teknik dan persiapan pemeriksaan dalam, yaitu o Pasang infus dan persiapkan donor darah o Pemeriksaan diusahakan dilakukan di kamar bedah, di mana fasilitas operasi segera telah tersedia o Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati dan secara lembut. o Jangan langsung masuk ke dalam kanalis servikalis, tetapi raba dulu bantalan antara jari dan kepala janin pada forniks (anterior dan posterior) yang disebut uji forniks (fornices test). o Bila ada darah beku dalam vagina, keluarkan secara sedikit sedikit dan perlahan
c. Kegunaan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum o

Menegakkan diagnosa apakah perdarahan oleh Placenta Previa atau oleh sebab sebab lain

Menentukan jenis klasifikasi Placenta Previa, supaya dapat diketahui tindakan yang tepat

d. Indikasi pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum o

Perdarahan banyak (lebih dari 500cc), Hb dibawah 8 gr%


6

o o

Perdarahan yang sudah berulang-ulang (recurrent) His telah mulai dan janin sudah dapat hidup diluar rahim (viable)

Penatalaksanaan Perawatan pra rumah sakit Kunci untuk perawatan pra rumah sakit plasenta previa adalah memastikan stabilitas hemodinamik pasien dan mentransfer pasien ke rumah sakit. Perawatan Medis o Bila perdarahan atau kontraksi terjadi, pasien harus segera ke rumah sakit untuk evaluasi. o Bila perdarahan berlanjut dan berat, persiapan operasi segera diindikasikan. o Bila perdarahan minimal dan keadaan janin baik (berat badan sampai 2500 gr), persalinan belum dimulai, dan kehamilan belum cukup 36 minggu, dapat dipertimbangkan untuk menunggu kematangan janin dan dilakukan penanganan pasif. o Bila perdarahan berlangsung atau yang akan berlangsung akan membahayakan ibu dan/ atau janin, kehamilan telah cukup 36 minggu, taksiran berat janin mencapai 2500 gram, persalinan telah dimulai maka harus dilakukan penanganan aktif. Persalinan pervaginam o Tujuan persalinan pervaginam adalah agar bagian terbawah janin menekan plasenta dan bagian plasenta yang berdarah selama persalinan berlangsung, sehingga perdarahan berhenti. o Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara dan anak sudah meninggal atau prematur. a) Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4 5cm), ketuban dipecah (amniotomi), jika his lemah, diberikan oksitosin drips. b) Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC. Seksio sesarea o Tujuan seksio sesarea adalah untuk secepatnya mengangkat sumber perdarahan sehingga memberikan kesempatan kepada uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahannya, menghindari perlukaan serviks dan segmen bawah uterus yang rapuh apabila dilangsungkan persalinan pervaginam.

o Dalam melakukan kelahiran sesarean untuk plasenta previa, sayatan yang paling sering dilakukan adalah rahim rendah melintang, namun sayatan rahim vertikal dapat dianggap sebagai keadaan sekunder pada plasenta anterior dan risiko perdarahan janin. o Gawat janin, atau kematian janin tidak boleh merupakan halangan untuk melakukan seksio sesarea, demi keselamatan ibu. Akan tetapi, gawat ibu mungkin terpaksa menunda seksio sesarea sampai keadaannya dapat diperbaiki, bila fasilitas memungkinkan. Indikasi Seksio Sesarea : 1. Plasenta previa totalis tanpa menghiraukan faktor lain 2. Plasenta previa parsialis pada primigravida. 3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang 4. Fetal distres 5. Plasenta previa lateralis jika : Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak. Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). 6. Profuse bleeding yaitu perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat. Obat obatan Tidak ada obat yang bermanfaat khusus pada pasien dengan plasenta previa. Tokolisis dan kortikosteroid mungkin dipertimbangkan dalam keadaan tertentu untuk antenatal. Dorong pasien dengan plasenta previa untuk mempertahankan asupan besi dan folat untuk menambah darah. Tokolitik (Magnesium Sulfat) Mencegah persalinan prematur atau kontraksi. Pada orang dewasa, 60 180 mEq kalium, 10 30 mEq magnesium, dan 10 40 mEq fosfat per hari mungkin diperlukan untuk respon metabolisme yang optimal. Pemberian IV atau IM untuk profilaksis kejang pada preeklamsia. Kortikosteroid (Betametason) Steroid dapat diberikan setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan, jika perdarahan vagina ringan dan intermiten, pasien tidak dalam persalinan, dan usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Obat ini membantu mematangkan paru janin.1,2,8

Follow up Jika perdarahan terjadi, pemantauan kadar hemoglobin dan hematokrit untuk mengetahui adanya anemia dan harus dilakukan transfusi darag bila Hb < 8. Istirahat di rumah sakit dapat direkomendasikan untuk beberapa pasien dengan perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa.2

Komplikasi Perdarahan Persalinan premature Malformasi bawaan Presentasi janin abnormal Plasenta abruption Kematian ibu (jarang) Perdarahan ulang Kematian Janin Dalam Rahim

Pencegahan Pasien dengan plasenta previa harus mengurangi kegiatan untuk menghindari kembalinya perdarahan. Pemeriksaan panggul harus dihindari.

Prognosis Angka mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi tinggi yakni mortalitas ibu mencapai 8-10% dan janin mencapai 50-80% dengan penanganan relatif yang bersifat konservatif. Dengan penanganan relatif yang bersifat operatif dini maka angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal jauh menurun. Kematian maternal terutama disebabkan perdarahan, infeksi, emboli udara dan trauma karena tindakan. Sedangkan kematian perinatal terutama disebabkan prematuritas, asfiksia, prolapsus funikuli dan persalinan buatan.

LAPORAN KASUS

I. Nama Umur

ANAMNESA PRIBADI : Ny. N : 30 tahun : 86.15.48 : Tamat SLTA : Ibu Rumah Tangga : Islam : Batak / Indonesia : Jl. Raga I No. 11 Kel. Tegalsari Mandala III Kec. Medan Denai : 17 November 2012 : 00.00 WIB

No MR Pendidikan Pekerjaan Agama Suku/Bangsa Alamat Masuk RSUPM Jam

Keluhan utama Telaah

: Keluar darah dari kemaluan : Hal ini dialami os pada tanggal 16 November 2012 pukul 22.00 WIB

dengan volume 4 kali ganti doek dengan warna darah merah segar. Riwayat keluar darah sebelumnya (-), keluar lendir darah (+) pukul 16.00 WIB. Mules-mules mau melahirkan (+) sejak tanggal 16 November 2012 pukul 16.00 WIB. Keluar air-air dari kemaluan (-), Buang air kecil (+) normal, Buang air besar (+) normal. RPT RPO ::-

Riwayat Haid HPHT TTP Siklus Haid : ?-02-2012 : ?-11-2012 : Lama siklus 28 hari, teratur dengan lama siklus 3-4 hari, Frekuensi ganti doek 2-

3 kali perhari, Dysmenorhea (-)

10

ANC

: Periksa Kehamilan : Bidan 3x Trimester I Trimester II : 1 x (Bidan) : 1 x (Bidan)

Trimester III : 1 x (Bidan)

Riwayat Persalinan : G4P3A0 1. 2. 3. 4. , aterm, 3000 gram, PSP, Bidan, Klinik, 8 Tahun, Sehat , aterm, 1800 gram, SC a/i Plasenta previa, Dokter, RS, 9 Tahun, Sehat , aterm, 3300 gram, SC a/I Previous SC, Dokter, RS, 5 Tahun, Sehat Hamil ini.

II. A.

PEMERIKSAAN FISIK PEMERIKSAAN UMUM Sensorium Tekanan Darah Nadi Pernafasan Temperatur : Compos Mentis : 120/70 mmHg : 96 x/i : 22 x/i : 36.0 0C Anemia Ikterus Sianosis Dispnoe Edema : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

B.

STATUS OBSTETRIKUS Inspeksi Abdomen Palpasi TFU Teregang Terbawah Gerak HIS EBW Formula Jhonson : 3 jari di bawah proc. Xypoideus (32 cm) : Kanan : Kepala (5/5) : (+) : (+) 2 x 20/10 : 2800 3000 gram : 2945 gram : Membesar Asimetris

11

Auskultasi Denyut jantung janin : 144 x/i

C.

INSPEKULO Tampak darah menggenangi fornix posterior, setelah dibersihkan tampak darah mengalir dari OUE, portio Licin, Lividae (+), erosi (-), F/A (-).

D.

PEMERIKSAAN DALAM Tidak dilakukan pemeriksaan

E.

USG TAS: - Janin tunggal, Presentasi Kepala, Anak Hidup - FM (+), FHR (+) - Plasenta corpus anterior menutupi seluruh oui - BPD : 90,5 mm - FL : 72 mm - AC : 374 mm - Air ketuban cukup Kesan: plasenta previa totalis + IUP (38-39 minggu) + PK + AH

F.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tanggal 17/11/2012 Darah rutin: Hb Leukosit Ht Trombosit KGD ad random Ureum Creatinin : 9,9 gr/dl : 7.600 / mm3 : 31 % : 221.000/mm3 : 121 mg/dl : 10 mg/dl : 0,64 mg/dl

12

III. KESIMPULAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Umur kehamilan (minggu) Letak anak Panggul Perdarahan antepartum Inpartu Keadaan janin Tanda-tanda ruptur uteri Pecah ketuban Pre-eklampsia : 38 - 39 minggu : Letak Kepala : Tidak Dilakukan Pemeriksaan : (+) : Sudah Inpartu : Hidup : Bandls Sign (-) : belum pecah (utuh) : Tidak ada : Ada, 2 x 20/10 : Tidak Ada

10. His 11. Komplikasi

III.

DIAGNOSA SEMENTARA

Previous SC 2x + Plasenta previa totalis + MG + KDR (38-39 minggu) + PK + AH + Inpartu

IV.

RENCANA

Sectio Cesarea CITO + Sterilisasi Pomeroy Lapor supervisor dr. Jenius L. Tobing, Sp.OG ACC

V. -

TERAPI IVFD RL 40 gtt/i

VI. Ibu

PROGNOSIS : Baik

Anak : Baik

13

LAPORAN PERSALINAN SECTIO CESAREA + KONTAP Pada tanggal 17 11- 2012 pukul 03.42 WIB dengan SC a/i Previous SC 2x + Plasenta previa totalis, Lahir bayi laki laki dengan BB: 3000 gr; PB: 47 cm; Apgar score 7/8; anus (+)

Ibu di baringkan di meja operasi dengan infus dan kateter terpasang baik, dilakukan tindakan aseptic dan antiseptik dengan povidone iodine dan alkohol 70% kemudian tutup dengan doek steril kecuali lapangan operasi.

Di bawah tindakan anestesi di lakukan insisi pfannenstiel mengikuti bekas operasi sebelumnya mulai kutis, subkutis hingga tampak faseter.

Dengan menyisipkan pinset, fascia digunting ke kiri dan ke kanan, otot dikuakkan secara tumpul, tampak ada perlengketan lalu dilakukan pembebasan.

Peritoneum diklem dengan pinset lalu di gunting ke kiri dan ke kanan. Tampak uterus gravidarum sesuai usia kehamilan, lalu diinsisi secara konkaf secara tumpul, sampai menembus subendometrium, endometrium dan plasenta ditembus secara tumpul. Dengan meliksir kepala lahir bayi laiki-laki , BB : 3000 gr, PB : 47 cm, AS : 7/8 dan anus (+).

Tali pusat diklem di dua tempat lalu digunting diantaranya, plasenta dilahirkan secara PTT.

Kedua ujung uterus diklem di dua tempat lalu dilakukan penjahitan hemostatic suture figure of eight. Lalu dijahit secara continous interlocking dan dilakukan overheacting.

Evaluasi perdarahan cavum uterus dari stoll cell dan sisa plasenta. Kemudian dilakukan penjahitan lapis demi lapis Kutis dijahit secara subkutikuler dengan vicryl no 2.0 Luka operasi di tutup dengan sufratulle dan hipafix Ku ibu post SC : baik

14

Terapi : Th/ : -IVFD RL + Oksitosin 10 10 5 IU 20 gtt/i - Inj. Viccilin SX 1,5 gr /12 jam - Inj. Transamin 1 amp /8 jam (24 jam I ) - Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam

Anjuran: Awasi VS dan tanda tanda perdarahan Cek darah rutin 2 jam post SC

NEONATUS 1. Jenis kelahiran 2. Lahir tanggal 3. Keadaan lahir 4. Nilai APGAR 5. Bantuan pernafasan 6. Jenis kelamin 7. Berat badan (g) 8. Panjang badan (cm) 9. Kelainan bawaan Trauma Konsul Tunggal 17 November 2012 Pukul 03.42 Wib Hidup 7/8 Tidak ada Laki-laki 3000 gram 47 cm Tidak ada Tidak ada Konsul ke Bagian Anak untuk perawatan bayi baru lahir.

15

PEMANTAUAN POST SC (KALA IV)

Jam (WIB) TD (mmHg) Nadi (x/menit) RR (x/menit) Kontraksi Uterus TFU (cm)

04.00 130/80 68 24 Kuat

04.30 130/80 72 20 Kuat

05.00 130/80 68 20 Kuat

05.30 130/80 72 20 Kuat

06.00 130/80 76 20 Kuat

setentang pusat

setentang pusat 0

setentang pusat 0

1 jari bawah 1 jari bawah pusat 0 pusat 0

Perdarahan

HASIL LABORATORIUM 2 JAM POST SC Tanggal 4 Oktober 2012 Hb Ht Leukosit Trombosit : 9,8 gr/dl : 30,6 % : 15.200/mm3 : 245.000/mm3

16

FOLLOW UP Tanggal 17 November 2012 08.00 WIB Keluhan Utama Status Presens Sens: CM Anemis : (-) Sens: CM Anemis : (-) Sens: CM Anemis : (-) Nyeri luka operasi 18 November 2012 08.00 WIB 19 November 2012 08.00 WIB

TD : 120/70 Ikterik : (-) HR : 80x/i RR : 20x/i T : 36,6C Sianosis: (-) Dispnoe: (-) Edema : (-)

TD : 100/70 Ikterik : (-) HR : 77x/i RR : 20x/i T Sianosis: (-) Dispnoe: (-)

TD : 110/70 Ikterik : (-) HR : 60x/i Sianosis: (-) RR : 16x/i T Dispnoe: (-)

: 36,6C Edema : (-)

: 36,5C Edema : (-)

Status Obstetrikus

Abdomen: Soepel, Peristaltik (+) normal TFU : 1 jari di bawah

Abdomen: Soepel, Peristaltik (+) normal TFU : 2 jari di

Abdomen: Soepel, Peristaltik (+) normal TFU : 2 jari di

pusat, kontraksi (+) LO : Tertutup Verban P/V Lochia BAK BAB Flatus ASI Diagnosis : (-) : (+) rubra : kateter

bawah pusat, kontraksi (+) LO : tertutup Verban P/V Lochia BAK BAB Flatus ASI : (-) : (+) rubra : (+) cukup : (+) N : (+) N : (-)

bawah pusat, kontraksi (+) LO: tertutup verban P/V Lochia BAK BAB Flatus ASI : (-) : (+) rubra : (+) cukup : (+) N : (+) N : (-)

terpasang, vol = 40 cc/jam : (-) : (-) : (-)

Post SC a/i Previous SC 2x Post SC a/i Previous SC Post SC a/i Previous SC 2x + plasenta previa totalis + 2x + plasenta previa totalis + plasenta previa totalis + NH0 + NH1 Aff Infus dan Kateter Amoxicillin tab 3 x 500mg NH2 Amoxicillin tab 3 x 500mg Asam mefenamat tab 3 x 500mg

Terapi

Total Bed Rest 10-5 IU 20gtt/i Inj. Viccilin SX 1,5 gr/ 12 jam

IVFD RL + oksitosin 10- Ganti obat oral

Asam mefenamat tab 3 B complex tab 2x1

17

Inj. Transamin 1 amp/ 8 jam (24 jam I) Inj. Ketorocal 30 mg/ 8 jam

x 500mg B complex tab 2x1

Rencana

Mobilisasi bertahap

Ganti

verban,

pasien pulang

diperbolehkan

berobat jalan dan kontrol ke poli

18

ANALISA KASUS
Teori Kasus

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya Pada pasien ini, plasenta corpus anterior abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim menutupi seluruh ostium uterus interna (uterus) sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian atas uterus. Sifat perdarahan pada plesenta previa adalah Pada pasien ini, keluhan utama adalah keluar tanpa sebab (causeless), dan berulang tanpa nyeri darah dari kemaluan yang dialami os pada

(painless),

(recurrent). tanggal 16 November 2012 pukul 22.00 WIB.

Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, Dengan volume 4 kali ganti doek dengan sehingga tidak berakibat fatal, tetapi warna darah merah segar. Riwayat keluar darah

perdarahan berikutnya hampir selalu lebih dari kemaluan sebelumnya (-). Sebelumnya banyak daripada sebelumnya terutama bila pasien telah merasakan mules-mules mau telah dilakukan pemeriksaan dalam. Darah melahirkan dan keluar lendir darah dari yang keluar biasanya berwarna merah segar. kemaluan sejak tanggal 16 november 2012 pukul 16.00 WIB. Faktor resiko terjadinya plasenta previa Pasien ini memiliki beberapa faktor resiko, adalah: Perdarahan Usia lanjut (>35 tahun) Multiparitas Riwayat Seksio sesarean Merokok Pengobatan infertilitas Erittroblastosis Aborsi berulang Status sosioekonomi rendah
19

yaitu: Perdarahan Multiparitas Riwayat 2x seksio sesarean Status sosioekonomi rendah Plasenta previa sebelumnya

Plasenta previa sebelumnya (4 8%) Plasenta previa totalis plasenta yang Pemeriksaan dalam pada pasien ini tidak menutupi seluruh ostium uteri internum dilakukan. Pemeriksaan USG TAS didapati Plasenta previa parsialis plasenta yang plasenta corpus anterior menutupi seluruh menutupi sebagian ostium uteri internum Plasenta previa marginalis plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum Plasenta letak rendah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis Pada anamnesis, pasien ini dijumpai terjadi (sifat perdarahan), pemeriksaan inspekulo, perdarahan yang dialami pada usia kehamilan dan USG. 38-39 minggu. Pada pemeriksaan inspekulo dijumpai darah menggenang di fornix posterior dan setelah dibersihkan kesan mengalir dari oue. Pada USG dijumpai Kesan: plasenta previa totalis + IUP (38-39 minggu) + PK + AH Penatalaksaan Plasenta Previa adalah Pada pasien ini diberikan penatalaksanaan ostium uterus interna

Bila perdarahan minimal dan keadaan janin sebagai berikut: baik (berat badan sampai 2500 gr), persalinan IVFD RL 40 gtt/I

belum dimulai, dan kehamilan belum cukup Sectio sesarea + kontap dilakukan karena 37 minggu, dapat dipertimbangkan untuk Letak: plasenta previa totalis menunggu kematangan janin dan dilakukan Previous SC 2x penanganan pasif. Seksio sesarea Tujuan seksio sesarea adalah untuk

20

secepatnya mengangkat sumber perdarahan sehingga memberikan kesempatan kepada uterus untuk berkontraksi menghentikan perlukaan

perdarahannya,

menghindari

serviks dan segmen bawah uterus yang rapuh apabila pervaginam. Indikasi Seksio Sesarea : Plasenta previa totalis tanpa menghiraukan faktor lain Plasenta previa parsialis pada dilangsungkan persalinan

primigravida. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang Fetal distres Plasenta previa lateralis jika : Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak. Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). Profuse bleeding yaitu perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat. Obat obatan Pada pasien ini tidak diberikan obat obatan

Tidak ada obat yang bermanfaat khusus pada karena pasien telah inpartu dan kehamilan pasien dengan plasenta previa. Tokolisis dan dalam rahim aterm maka dilakukan seksio kortikosteroid mungkin dipertimbangkan sesarea cito.

dalam keadaan tertentu untuk antenatal.

21

PERMASALAHAN

1. Mengapa timbulnya perdarahan antepartum pada kasus ini terjadi pada akhir trimester III? 2. Apakah penatalaksanaan plasenta previa pada kasus ini sudah tepat? 3. Sebagai dokter umum apabila menemukan kasus seperti ini di tingkat puskesmas apa yang harus dilakukan ?

22

LAMPIRAN

23