Anda di halaman 1dari 17

Kontroversi Hukuman Rajam

Diajukan guna memenuhi tugas dalam mata kuliah Hukum Pidana Islam Kontemporer
Dosen pengajar : Ocktoberinsyah



Disusun oleh kelompok 4:
1. Nurhasanah (10370013)
2. Atik Ratnasari (10370020)
3. Fahrudin Alfian (10370028)
4. Muflihatul Khoiroh (10370046)
5. Gunarto (10370050)

JINAYAH SIYASAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012

Pendahuluan
Dalam islam, diberlakukan tiga macam hukuman bagi seseorang yang melakukan
perbuatan jarimah atau tindak pidana. Ketiga hukuman tersebut yaitu, hukuman hudud,
qishas, dan tazir.Hudud adalah hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah dan tertera dalam
Al-quran.Sedangkan hukuman qishas adalah hukuman yang sudah ditentukan oleh syara,
bedanya dengan hukuman hudud atau had adalah jika had merupakan hak Allah sedangkan
hukuman qishas hak individu. Dan yang terakhir, hukuman ta;zir adalah hukuman yang
belum ada dalam nash dan hukumannya ditetapkan oleh penguasa.
Perzinahan merupakan suatu jarimah atau tindak pidana.Dalam surat An-Nur ayat 2
dijelaskan bahwa hukuman bagi pelaku zina adalah dicambuk atau dera 100x.Pada zaman
Nabi saw. hukuman bagi pelaku zina adalah dirajam hingga mati. Nah hukuman rajam inilah
yang masih menjadi perdebatan para ulama.
Bagi sebagian ulama, hukuman rajam sudah tidak sesuai untuk diterapkan dalam
zaman sekarang.Selain itu hukuman rajam dianggap sebagai hukuman yang tidak
manusiawi.Melanggar hak asasi si pelaku untuk merubah dirinya menjadi lebih baik.Tetapi
beberapa ulama mendukung juka hukuman rajam diterapkan dalam konteks zaman modern
ini.Karena menurutnya hukuman itu pantas diberikan bagi pelaku zina yang secara tidak
langsung memberikan efek negative bagi orang-orang disekitarnya. Serta agar dapat
dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk tidak melakukan zina.
Dalam perkembangannya hukuman rajam mengalami perdebatan yang
menarik.Sebagai salah satu dalam kajiannya dalam hukum pidana Islam. Para ulama sampai
sekarang masih ada yang mempertahankan hukuman rajam karena, hukuman ini sudah
dilakukan pada masa nabi, sedangkan disisi lain. Hukuman rajam dirasa sangat kejam karena
sudah melanggar hak hidup dan hak kemanusiaan.
Maka dari itu dalam era modern seperti sekarang ini, hukuman rajam banyak juga
ditolak untuk diterapkan.terutama para fuqoha-fuqoha pembaharuan hokum islam karena
dirasa sudah tidak efisien dan tidak sesuai lagi untuk diterapkan di zaman sekarang ini.













A. Pengertian

Dari segi etimologi, adalah bentuk verbal noun atau masdar dari kata kerja
rajama ( (yang berarti melempari batu. Terkadang rajam juga diartikan menerka,
di dalam Al-Quran surah al-Kahfi ayat 22 rajam dalam ayat tersebut berarti menerka
( ), sedangkan dalam surat al-Muluk ayat 5 bermakna alat untuk melempar
batu atau merajim.
Dalam terminology fiqih, perkataan rajam berarrti melempari pezina mukhsan
dengan batu atau semacamnya sampai menemui ajal.Dengan demikian rajam adalah
hukuman mati bagi pezsina muhsan.
Hukuman rajam ialah hukuman mati dengan jalan dilempari dengan batu, dan
yang dikenakan ialah pembuat zina muhshan (sudah menikah), baik laki-laki maupun
perempuan.Hukuman rajam tidak tercantum dalam alQuran, dan oleh karena itu
fuqaha-fuqaha khawarij tidak memakai hukuman rajam.Menurut mereka terhadap
jarimah-jarimah zina dikenakan hukuman jilid saja, baik pelakunya sudah muhshan
atau belum, dan dipersamakan atas keduanya.
1


B. Sejarah Hukuman Rajam
Hukuman rajam sudah ada sebelum era umat Nabi Muhammad saw, yang
diberlakukan pada kaum Yahudi dan Nasrani yang terdapat dalam kitab Taurat. Di
Islam sendiri hukuman rajam pertama kali diterapkan sebelum terjadinya penaklukan
Mekkah (fathul Mekkah), dan sebelum turunnya surat An-Nur ayat 2 tentang
hukuman cambuk. Berdasarkan riwayat Ibn Majah bahwa seorang yang bernama
Maiz mengadu dan mengaku kepada Rasulullah bahwa ia telah melakukan perbuatan

1
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam,1986, cet-3, Jakarta: PT Bulan Bintang, hlm 267-268.
zina. Namun Rasulullah tidak menghiraukan pengaduannya dan memalingkan muka
darinya, hingga ia mendatangi dan mengulangi lagi pengakuannya kepada Rasul
sampai empat kali, kemudian Rasul menyuruhnya untuk mencari empat orang saksi,
setelah membawa empat orang saksinya Rasul bertanya apa kamu sudah gila?
dijawab tidak. Kemudian Rasul bertanya lagi apa kamu sudah pernah menikah?
dijawab ya, apakah kamu tau apa itu zina? ia menjawab tahu ya Rasulullah kalu
begitu, bawalah orang ini dan rajamlah. Ketika hukuman dilaksanakan, tiba-tiba
Muiz melarikan diri karena kesakitan, sehingga sebagian sahabat mengejar dan
melempari lagi hingga meninggal, setelah itu mereka menghadap Rasulullah dan
melaporkan kejadian tersebut namu Rasul bersabda mengapa tidak kalian biarka saja
Maiz lari saja?.
Walaupun hadis tersebut menyebutkan bahwa pelaku zina dihukum rajam
tetapi Rasul tidak dengan mudahnya memutuskan dan menerapkan hukuman
tesebut.Hukuman rajam merupakan suatu bentuk penyerahan diri dan bentuk taubat
dari seorang hamba agar terbebas dari dosa besar.Hukuman rajam yang dilakukan
pada zaman Rasul penangkapan pelaku hukuman rajam tidak dilakukan oleh lembaga
Negara, melainkan karena ketulusan pelaku zina itu sendiri.
C. Cara Pelaksanaan Hukuman Rajam
Tujuan pengenaan hukuman yang tampaknya kejam sangat kejam ini adalah ia
harus berfungsi sebagai suatu alat yang menjerakan bagi masyarakat. Tanggung jawab
yang sangat besar terpikul di pundah qadhi/hakim sebelum dia memutuskan dirajam
sampai mati bagi orang yang berdosa tersebut. Hukuman ini hanya diperkenankan bila
ia terbukti tanpa keraguan sedikit pun melalui pembuktian dari empat orang saksi
yang dapat dipercaya, Muslim yang shaleh dan diberikan pada saat yang bersamaan,
bahwa mereka melihat si pendosa itu benar-benar melakukan pelanggaran. Jika ada
keraguan walaupun sedikit dalam pernyataan kesaksian mereka maka ia akan
meringankan si tertuduh.
2


Sebelum menjatuhkan hukuman rajam, maka harus memenuhi beberapa syarat
berikut :
1. Si pelanggar dalam keadaan sehat pikiran.
2. Dia seorang muslim
3. Telah pernah menikah
4. Telah mencapai usia puber
5. Seorang yang merdeka, bukan budak belian
Apabila memang telah terbukti melakukan jarimah zina, maka jika orang
yang terkena hukuman adalah laki-laki maka hukuman dilaksanakan dengan berdiri
tanpa dimasukkan kedalam lubang dan tanpa dipegang atau diikat. Didasrkan pada
hadist Rasulullah saw. Ketika merajam Mais dan orang Yahudi
:

........
Dari Abi Said ia berkata : ketika Rasulullah swa memerintahkan kepada kami untuk
merajam Mais bin Malik maka kami membawanya ke Baqi. Demi Allah kami tidak
memasukkannya ke dalam lubang dan tidak pula dan tidak pula mengikatnya,
melainkan ia tetap berdiri. Maka kami melemparinya dengan tulang.

2
Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam,1986, cet-3, Jakarta: PT Bulan Bintang
Bila ia melarikan diri dan pembuktiannya dengan pengakuan maka ia tidak
perlu dikejar, tetapi bila pembuktiannya dengan persaksian maka ia harus dikejar dan
hukuman dilanjutkan sampai ia mati.
Apabila orang yang dirajam itu seorang wanita, menurut Imam Abu Hanifah dan
Imam Syafii, ia boleh dipendam sampai batas dada., karena cara demikian itu lebih
menutup auratnya. Menurut mazhab Maliki dan pendapat yang rajjih dalam mahab
Hambali, wanita juga tidak dipendam sama seperti yang dilakukan laki-laki.
Menurut Imam Abu Hanifah, lemparan pertama dilakukan oleh para saksi apabila
pembuktiannya dengan saksi. Setelah itu dilanjutkan oleh imam atau pejabat yang
ditunjuk kemudian diteruskan oleh masyarakat. Namun ulama yang lain tidak
mensyaratkan hal demikian.
Hukuman rajam boleh dilaksanakan kapan saja, karena hukuman tersebut akan
berakhir pada kematian. Tetapi, apabila hukuman rajam dijatuhkan pada wanita hamil
maka pelaksanaan hukumannya dilakukan setelah wanita itu melahirkan.Bila tetap
dilakukan berarti menghukum juga bayi yang masih ada dalam kandungan.
3

D. Beberapa Pendapat Mengenai Hukuman Rajam
Hukuman rajam menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk
diperdebatkan.Banyak dari kalangan ulama yang menolak maupun menerima
hukuman rajam ini.Dari golongan khawarij, Mutazilah dan sebagian fuqaha Syiah
menyatakan, sanksi bagi pezina adalah hukum dera (cambuk). Adapun alasan mereka
yang menolak hukum rajam:
1. Hukum rajam dianggap paling berat di antara hukum yang ada dalam islam
namun tidak ditetapakan dalam al-quran. Seandainya Allah melegalkan
hukum rajam mestinya ditetapkan secara definitif dalam nas.

3
Ahmad Wardi Muslih, Hukum Pidana Islam, 2005, cet-2, Jakarta: Sinar Grafika, hlm 57-58
2. Hukuman bagi hamba sahaya separoh dari orang merdeka, kalau hukum rajam
dianggap sebagai hukuman mati, apa ada hukuman separoh mati. Demikian
juga ketentuan hukuman bagi keluarga Nabi dengan sanksi dua kali lipat
apakah ada dua kali hukuman mati. Secara jelas ayat yang menolak adalah
surat an-Nisa ayat 25:
}4`4-;7gC4-OEC7Lg`OCpEE:L4Cg
eE4=^-geE4g`u^-}gE`;e
U4`7NLEuC}g)`N7g-414-geE4g`u
^-_+.-4NU;N7gLEC))_7_u
4}g)`*u4_O}-O^p^O))O
})_)Uu-;-O>-474O}-4OON_q^Ou
E^)`eE4=^4`4OOENeEg=ON`
4VEOgC+-N`p-Eu_.-O)O};Oqup
)-u->lO4=E)O}jgOUE-g^
4`O>4NgeE4=^-;g`-EOE^-
_ElgO;}Eg"Og=E==e4LE^-7Lg`_p
4W-+O>OOE=7-+.-4EOO
EN_OgOO^g)
Artinya: dan Barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk
mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak
yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang
lain[285], karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka
menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan
(pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga
diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo
hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu,
adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara
kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu.dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat di atas menggambarkan bahwa hukum rajam tidak dapat
dilipatgandakan, yakni dua kali lipat.Jika diberlakukan hukuman dera 100 kali maka
dua kali lipatnya adalah 200 kali.
3. Hukum dera yang tertera dalam surat an-Nur ayat 2 berlaku umum, yakni
pezina muhsan dan ghairu muhsan. Sementara hadis nabi yang menyatakan
berlakunya hukum rajam adalah lemah.
Masih dalam aliran ini, Izzudin bin Abd as-Salam sebagaimana dikutip oleh
Fazlur Rahman, menyatakan bahwa hukum rajam dengan argumentasi seluruh materi
yang bersifat tradisional bersifat non reliable, disamping tidak ditegaskan dalam al-
quran juga warisan sejarah orang-orang Yahudi.
Sementara Anwar Haryono menyatakan, bahwa hukum rajam pertama kali
diterapkan dalam sejarah islam terhadap orang Yahudi dengan berdasarkan kitab
mereka, yakni Taurat. Kejadian itu kemudian rujukan hukum, artinya siapa saja yang
berzina dirajam. Demikian halnya dengan pendapat Hasbi ash-Shidieq, hukum rajam
ada dan dipraktekan dalam islam, akan tetapi terjadi sebelum diturunkan surat an-
Nur ayat (2).
O4Og^-EO-O)+-EO-4W-)-;_
E7lg4Egu+g)`OwWg`E4-E_W
47'O>EjgjO4OO)g1*.-p
)u7+L74pONLg`u>*.)gO4O^-4@
O=E-W;Og;41^4Eg4-EO4NOEj*
.C=}g)`4-gLg`u^-^g
Artinya : perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk
(menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Maka hukum yang muhkan sampai sekarang adalah hukum dera bagi pazina.
Alangkah bijaksananya kalau tidak mengatakan hukum had itu tidak boleh
dilaksanakan, kecuali telah sempurna perbuatan dosa seseorang, yakni terpenuhinya
syarat, rukun dan tanpa adanya unsur subhat.
Hukum rajam atau dera seratus kali bagi pezina bukanlah suatu kemutlakan.
Sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Syahrur dengan teorinya halah al-had
al-ala, (batas maksimal ketentuan hukum Allah), bahwa hukum rajam (dera) bisa
dipahami sebagai hukum tertinggi dan adanya upaya untuk berijtihad dalam kasus
tersebut dapat dibenarkan. Demikian halnya pelaku yang tidak diketahui oleh orang
lain, Islam memberikan peluang terhadapnya untuk bertobat. Sebagaimana Nabi
menjadikan sarana dialog dalam kasus Maiz bin Malik, yang mengaku berzina dan
minta disucikan kepada Nabi. Nabi berpaling dan bertanya berulang-ulang agar
pengakuan dicabut dan segera bertaubat.
Hukuman bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhsan) didasarkan
pada ayat al-quran an, yakni didera seratus kali.Sementara bagi pezinah muhsan
dikenakan sanksi rajam.Rajam dari segi bahasa berati melempari batu.Sedangkan
menurut istilah, rajam adalah melempari batu. Sedangkan menurut istilah, rajam
adalah melempari pezina muhsan sampai menemui ajalnya. Adapun dasar hukum
dera atau cambuk seratus kali adalah firman Allah dalam surat an-Nur ayat 2
Zina adalah perbuatan yang sangat tercela dan pelakunya dikenakan sanksi
yang amat berat, baik itu hukum dera maupun rajam, karena alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan secara moral dan akal.Kenapa zina diancam dengan hukuman
berat. Hal ini disebabkan karena perbuatan zina sanagt dicela oleh islam dan
pelakunya dihukum dengan hukuman rajam (dilempari batu sampai meninggal
dengan disaksikan oleh orang banyak), jika ia muhsan. Jika iaghairu muhsan, maka
dihukum cambuk 100 kali. Ada perbedaan hukuman tersebut karena muhsan
seharusnya bisa lebih menjaga diri untuk melakukan perbuatan tercela itu, apalagi
kalau masih dalam ikatan perkawinan yang berarti menyakiti dan mencemarkan nama
baik keluarganya, sementara ghairu muhsan belum pernah menikah sehingga nafsu
syahwatnya lebih besar karena didorong rasa keingintahuannya. Namun keduanya
tetap sangat dicela oleh Islam dan tidak boleh diberi belas kasihan.
Adapun tindak pidana yang terkait denagn tindakan asusila, seperti pelaku
lesbian dan homoseks, kebanyakan ahli hukum menyatakan bahwa si pelaku tidak
dihukum hadd melainakn dengan tazir.Dalam hal kejahatan perkosaan, hanya orang
yang melakukan pemaksaan saja (si pemerkosa) yang dijatuhi hukuman hadd.Namun
ada sebagian pendapat yang menyatakan, bahwa hukuman si pemaksa dikategorikan
sebagai hukuman yang sadis dan masuk dalam delik hirabah.Hal ini didasarkan pada
lafadz wayas auna fi al-ard fasadan (orang yang membuat kerusakan di muka
bumi).Kejahatan pemerkosa, sabotase, bahkan terorisme teermasuk dalam kategori
jarimah perampokan (perampasan) yang pelakunya dikenai hukuman berat.
E. Penerapan Hukuman Rajam di Berbagai Negara
Ada 7 negara yang sampai saat ini masih menggunakan hukuman rajam, Negara-
negra tersebut adalah:
1. Iran
Iran yang menerapkan hukum Islam, memberlakukan hukuman rajam bagi
siapa saja yang melakukan perzinahan di Negara itu.Berdasarkan ketepan yang
berlaku, tubuh pria pelaku perzinahan dibenamkan ke dalam bumi hingga setinggi
pinggangnya dan tubuh wanita pelaku perzinahan dibenamkan hingga setinggi
lehernya. Selanjutnya mereka dirajam hingga tewas. Namun pelaku perzinahan
yang berhasil meloloskan diri dari lubang tempat mereka dibenamkan akan
dianggap bebas dari hukuman. Hukuman yang tidak adil bagi perempuan karena
dibenam lebih dalam yaitu sebatas leher sedangkan pria hanya sebatas pinggang.
Contoh kasus: Pada bulan Juli 2008, hukuman rajam hingga mati diberikan
kepada Sembilan pelaku zina dan prostitusi. Sedikitnya delapan wanita dan satu
pria telah dijatuhi hukuman dilempar batu hingga mati atau rajam di Iran.
Delapan wanita berusia berkisar dari 27 hingga 43 tahun itu mendapat hukuman
karena terlibat prostitusi, hubungan sedarah dan perzinahan.Terpidana lainnya,
seorang pria guru musik berusia 50 tahun, dihukum karena hubungan seks tidak
sah dengan seorang siswa.
2. Arab Saudi
Contoh kasus: TKW asal Banyuwangi yang bernama Lilik (40) terancam
hukuman rajam. Kasus itu terjadi pada tahun 2007.Hal itu bermula dari
pembunuhan yang menimpa TKW Indonesia lainnya yang dilakukan oleh pria
asal Bangladesh.Tetapi saat polisi Arab memeriksa tempat kejadian mereka
menemukan foto lilik sedang bermesraan dengan pria tersebut.dan polisi langsung
menangkap Lilik. Walaupun hukuman rajam belum dilaksanakan, ini jelas bahwa
Arab Saudi masih memberlakukan hukuman Rajam untuk pelaku zina ataupun
yang mendekati zina.
3. Sudan
Pada 10 Juli 2012 pengadilan di ibukota Khartoum menjatuhi hukuman bagi
seorang wanita Sudan, berusia 23 tahun, Laila Ibrahim Issa Jamool karena
berzinah. Pengadilan menghukumnya mati dengan dirajam, dibawah pasal 146
Hukum Pidana Sudan tahun 1991.


4. Pakistan
Militan Taliban diduga menghukum rajam seorang wanita sampai mati di
Pakistan.Seorang wanita tergeletak diikat ke tanah dan sekelompok orang
berkumpul sekelilingnya, berulang kali melempar batu padanya. Dia berulang kali
berteriak memohon bantuan, tetapi meskipun dia menangis, mereka terus
menghujaninya dengan batu padanya sampai ia terbaring diam.Eksekusi diduga
berlangsung dua bulan yang lalu di daerah Orakzai.
5. Afganistan
Contoh kasus: Para Taliban Afganistan melakukan hukuman rajam bagi
pasangan lelaki dan perempuan itu dituduh telah berzina di kawasan distrik
Dashte Archi di provinsi Kunduz Agustus silam.
6. Nigeria
Contoh kasus: Amina Lawal, seorang perempuan Muslim, dijatuhi hukuman
mati pada hari Jumat tanggal 22 Maret 2002 dengan cara dirajam hingga mati
oleh Pengadilan Syariah di Bakori, Negara Bagian Katsina di Nigeria Utara.
Beliau mengandung sementara menjanda dan menurut hukum Syariah,
mengandung di luar pernikahan adalah bukti cukup bagi seorang perempuan untuk
dituduh melakukan pelacuran.
7. Somalia
Contoh kasus: Mohamed Abukar Ibrahim, nama pria malang berusia 48 tahun
itu, dikubur hidup-hidup dalam posisi berdiri, hanya leher dan kepala yang masih
di atas tanah, lalu dilempari batu hingga tewas.
Suatu golongan mengatakan bahwa kedua orang itu mengaku telah melakukan
masing-masing pembunuhan dan perzinahan.Untuk pasangan zinanya hakim telah
menjatuhkan hukuman cambuk 100 kali karena belum menikah.
F. Relevansi hukuman rajam dengan kemanusiaan
Kebanyakan orang memandang hukuman system dalam islam dianggap kejam
dan tidak manusiawi.dalam system ini misalnya dikenal hukuman rajam bagi pelaku
zina muhsan, hukuman cambuk 100x bagi pezina yang belum menikah. Hukuman
balasan dalam hal penganiayaan dan pembunuhan, hukum potong tanggan bagi
pencurian.
Tetapi menurut M. Hasbi Ash-shidiqqi, dipandang wajar karena mereka
dianggap gagal atau tidak mampu dalam menangkap ruh syariat islam. Sebetulnya
hukum-hukum tersebut ada bukan untuk alas an balas dendam meleinkan hukuman
tersebut memberikan ukuran konkrit tentang nilai keadilan. Dengan kata lain,
hukuman tersebut dijatuhkan karena telah melebihi kesalahan atas dosa yang mereka
lakukan.
Muhammad Iqbal Sidiqqi melihat kritik yang dilontarkan bagi hukuman rajam bukan
karena tidak suka terhadap ide hukuman fisik, tetapi lebih karena perasaan moral
,mereka yang belum terbangun seutuhnya. Menurut Iqbal bahwa hukuman rajam itu
sangat kejam. Akan tetapi sesungguhnya nilai-nilai kemanusiaan yang disentuh oleh
hukumanrajam adalah nilai kemanusiaan kolektif. Bahwa sesungguhnya martabat
manusia itu terletak pada pembentukan suatu tatanan suatu masyarakat yang beradab
dan manusiawi.
Martabat kemnusiaan inilah yang menjadi perhatian dan memang harus
dipertahankan. Sehingga menusia tetap dipandang sebagai makhluk yang paling
mulia, beradab, penuh dengan moralitas dan berbeda dari makhluk lain. Hukuman
rajam dipandang sebagai bbentuk disiplin dan merupakan upaya untuk
mempertahankan martabat dan moralitas manusia dalam lingkup yang luas.Sanksi
seperti ini dalam kehidupan masyarakat lebih menekankan aspek represif dari kaidah
hukum yang merupakan kaidah dari hukum pidana, dengan mendatangkan sanksi
yang mendatangkan penderitaan bagi yang melanggar.
Dalam hal ini kemanusiaan yang lebih besar dan menyangkut suatu tatanan
masyarakat luas jauh lebih unggul dalam bandingan satu individu dalam
masyarakat.Maka peradaban yang selayaknya terus ada dalam kehidupan manusia
tetap mengiringi sejarah kemanusiaan, dan tidak jatuh ke derajat yang lebih rendah
dari itu.














Kesimpulan
Hukuman rajam bukanlah suatu hukum mutlak yang diberikan kepada pelaku
zina.Tetapi merupakan suatu alternative hukuman yang terberat dalam Islam dan bersifat
insidentil.Artinya penerapannya lebih bersifat kasuistik.Karena hukuman mati dalam Islam
harus melalui pertimbangan matang kemaslahatan individu maupun masyarakat dan
diberlakukan bagi pelaku zina yang memang benar-benar memberikan efek yang sangat
buruk bagi orang-orang disekitarnya.Rajam merupakan hukuman yang tidak manusiawi.
Selain itu hukuman rajam merupakan peninggalan orang-orang Yahudi yang pada waktu
Rasulullah saw. Hukuman rajam diberlakukan karena untuk menyesuaikan adat kebiasaan
orang Yahudi agar hukum Islam dapat diterapkan.
Selain itu hukuman rajam tidak disebutkan dalam alQuran baik mengenai tatacaranya
maupun kewajibannya, alQuran hanya menerangkan bahwa hukuman bagi orang yang
berbuat zina adalah dijilid 100 kali sesuai dengan surat an-Nur ayat 2. Ayat ini lah yang
seharusnya menjadi hukuman yang layak bagi pelaku zina, karena sudah jelas diatur dalam
alQuran. Adapun as-sunnah yang mengatur diberlakukannya hukuman rajam kemungkinan
dilakukan sebelum turunnya surat an-Nur ini.
Alangkah lebih baiknya jika hukuman rajam tidak lagi diberlakukan di zaman
sekarang ini.Berilah kesempatan bagi para pelaku zina untuk bisa memperbaiki dirinya untuk
menyadari bahwa perbuatannya itu salah.Toh perbuatan yang dilakukan pelaku itu adalah
tanggungjawab antara dirinya dan Yang Maha Kuasa.Jika memang perbuatan yang dilakukan
tidak merugikan orang-orang disekitarnya. Contohnya jika perbuatan itu memang dilakukan
karna dasar suka sama suka. Kita sebagai manusia juga tidak berhak untuk menghakimi
perbuatan mereka, padahal tubuh dan jiwa kita ini masih banyak dosa.


Daftar Pustaka

Terjemahan dari Shariah the Islamic Law. Abdur Rahman. terjemahkan oleh
Masturi, Hadi dan Iba Asghary, Basri.Tindak Pidana dalam Syariat Islam. PT
Melton Putra. Jakarta : 1992
Wardi Muslich, Ahmad. Hukum Pidana Islam. Sinar Grafika.Jakarta: 2005
Hanafi, Ahmad. Asas-asas Hukum Pidana Islam, PT Bulan Bintang, Jakarta: 1986, cet-3,
Munajat, Makhrus. Fikih Jinayah. Pesantren Nawasea Press. 2010.