KERAJAAN SRIWIJAYA

Dalam sejarah Indonesia ada dua kerajaan kuno yang selalu disebutkan sebagai kerajaankerajaan yang megah dan jaya, yang melambangkan kemegahan dan kejayaan Indonesia di zaman dulu. Kedua kerajaan itu adalah Sriwijaya dan Majapahit.

Lokasi Kerajaan Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang bukan saja dikenal di wilayah Indonesia, tetapi dikenal di setiap bangsa atau negara yang berada jauh di luar Indo¬nesia. Hal ini disebabkan letak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat dengan Selat Malaka. Telah kita ketahui, Selat Malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan yang sangat ramai dan dapat menghubung-kan antara pedagang-pedagang dari Cina dengan India maupun Romawi. Dari tepian Sungai Must di Sumatra Selatan, pengaruh Kerajaan Sriwijaya terus meluas yang mencakup Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Bangka, Laut Jawa bagian barat, Bangka, Jambi Hulu, dan mungkin juga Jawa Barat (Tarumanegara), Semenanjung Malaya hingga ke Tanah Genting Kra. Luasnya wilayah laut yang dikuasai Kerajaan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar pada zamannya.

Dengan kemenangan itu. Prasasti tersebut sebagian besar mengguna-kan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Keberadaan Kerajaan Sriwijaya juga diketahui dari sebutan orangorang Arab terhadap Kerajaan Sriwijaya seperti Zabaq. Sebagai gantinya. Dalam prasasti tersebut dinyatakan Raja Nalanda yang bernama Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 desa dari pajak. atau Sribusa. b) Berita dalam Negeri Berita-berita dalam negeri berasal dari prasasti-prasasti yang dibuat oleh raja-raja dari Kerajaan Sriwijaya. Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah daerah Binaga yang terletak di Jambi.000 orang berhasil menundukkan Minangatamwan. Prasasti itu antara lain sebagai berikut.Sumber Sejarah Sumber-sumber sejarah yang mendukung keberadaan Kerajaan Sriwijaya berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti. banyak pedagang-pedagang asing yang datang untuk melakukan aktivitas di Kerajaan Sriwijaya.  Dengan Kerajaan Nalanda disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan satu prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Nalanda. Kerajaan Sriwijaya juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Chola (Cholamandala) yang terletak di India Selatan. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan. . Hubungan ini menjadi retak setelah Raja Rajendra Chola ingin menguasai Selat Malaka. Sabay.  Berita Arab Dari berita Arab dapat di-ketahui bahwa banyak pedagang Arab yang melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya.  Prasasti Kedukan Bukit Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan bahwa Raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang membawa tentara sebanyak 20. Para pedagang Cina sering singgah di Kerajaan Sriwijaya untuk selanjutnya meneruskan perjalanannya ke India maupun Romawi. Bahkan di pusat Kerajaan Sriwijaya ditemukan perkam-pungan-perkampungan orang-orang Arab sebagai tempat tinggal sementara.  Di samping menjalin hubungan dengan Kerajaan Nalanda. dapat diketahui bahwa pedagang-pedagang Kerajaan Sriwijaya telah menjalin hubungan perdagangan dengan pedagang-pedagang Cina.  Berita India Dari berita India dapat diketahui bahwa raja dari Kerajaan Sri¬wijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di India seperti Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Chola. Kerajaan Sriwijaya menjadi makmur. Berita asing tersebut antara lain sebagai berikut. Untuk itu banyak ditemukan informasi mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya ini. kelima desa itu wajib membiayai para mahasiswa dari Kerajaan Sriwijaya yang menuntut ilmu di Kerajaan Nalanda. a) Berita Asing Mengingat Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim dengan letak yang sangat strategis.  Berita Cina Dari berita Cina.

itu menyebutkan tentang ibukota Ligor dengan tujuan untuk mengawasi pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka. Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa. Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kejayaannya. Raja Balaputra Dewa meningkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar yang megah dan jaya di masa lampau. Kehidupan Politik Dalam perkembangan sejarah Indonesia. itu menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya berusaha untuk menaklukkan Bumi Jawa yang tidak setia kepada Kerajaan Sriwijaya. Raja-raja yang berhasil diketahui pernah memerintah Kerajaan Sriwijaya adalah sebagai berikut. Prasasti Telaga Batu Prasasti itu menyebutkan tentang kutukan raja terhadap siapa saja yang tidak taat terhadap Raja Sriwijaya dan juga melakukan tindakan kejahatan. yaitu dengan menduduki wilayah Minangatamwan. tidak semua raja yang pernah memerintah meninggalkan prasasti. Raja Balaputra Dewa adalah raja dari Kerajaan Syailendra (di Jawa Tengah). sehingga kedatangan Raja Balaputra Dewa di Kerajaan Sriwijaya disambut baik. a) Raja Dapunta Hyang Berita mengenai raja ini diketahui melalui Prasasti Kedukan Bukit (683 M).  Prasasti Ligor Prasasti berangka tahun 775 M. Di bawah Raja Rajendra Chola. Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat. Sejak awal pemerintahannya. Raja Balaputra Dewa lari ke Sriwijaya.  Prasasti Karang Berahi Prasasti berangka tahun 686 M. b) Raja Balaputra Dewa Pada masa pemerintahan Balaputra Dewa. Raja Dapunta Hyang telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Jambi. Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Dinasti Syailendra. itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikesetra atas perin¬tah Raja Dapunta Hyang. Kerajaan Chola . itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi. Pada masa pemerintahannya. Raja Dapunta Hyang telah mencita-citakan agar Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.  Prasasti Nalanda Prasasti ini menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Pada masa pemerintahannya. yang menunjukkan penguasaan Kerajaan Sriwijaya atas daerah itu. Namun.  Prasasti Talang Tuwo Prasasti berangka tahun 684 M. Balaputra Dewa mengalami kekalahan. Kemudian. Kerajaan Sriwijaya mengalami ancaman dari Kerajaan Chola. Dalam prasasti itu. Prasasti tersebut ditemukan di Pulau Bangka. Di Kerajaan Sriwijaya berkuasa Raja Dharma Setru (kakak dari ibu Raja Balaputra Dewa) yang tidak memiliki keturunan. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.  Prasasti Kota Kapur Prasasti berangka tahun 686 M. Pada awalnya. c) Raja Sanggrama Wijayatunggawarman. Akibat kekalahan itu. ia diangkat menjadi raja. Ketika terjadi perang saudara di Kerajaan Syailendra antara Balaputra Dewa dan Pramodhawardani (kakaknya) yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya).

terutama dalam bidang kebudayaan dan agama. Kerajaan Sriwijaya dengan mudah dapat menguasai daerah-daerah di sekitamya seperti Bangka. Banyak Bhiksu dari Kerajaan Sriwijaya belajar agama di perguruan tinggi Nalanda. prasasti itu juga berisi pernyataan bahwa Raja Balaputra Dewa terusir dari Kerajaan Syailendra akibat kalah perang melawan kakaknya Pramo-dhawardani dan kemudian diangkat menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya menjadi Kerajaan Laut terbesar di Asia Tenggara. Sedangkan pendudukan terhadap Tanah Genting Kra bertujuan untuk menguasai jalur perdagangan antara Cina dan India. Di samping pembebasan lima desa dari pajak. Jambi Hulu dan mungkin juga Jawa Barat (Tammanegara). Sanggrana Raja Wijayattunggawarman kembali. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman dibebaskan Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Pada awal pertumbuhannya. Tanah Genting Kra sering digunakan oleh para pedagang untuk menye-berang dari perairan Laut Hindia ke Laut Cina Selatan.melakukan serangan dan berhasil berhasil ditawan. Pendudukan terhadap daerah Semenanjung Malaya bertujuan untuk menguasai daerah penghasil lada dan timah. Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara. dan Laut Jawa bagian barat. Maka dalam abad ke-7 M. Setelah berhasil menguasai Palembang. baik yang melalui Selat Sunda maupun Selat Malaka. Pada akhir abad ke-8 M. Selat Malaka. Dari Palembang. Dengan wilayah kekuasaan itu. a) Sriwijaya dan Pala Sekitar abad ke-8 M hingga abad ke-11 M daerah Benggala diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Pala. Pada abad ke-8 M. yaitu menduduki Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra. Dengan demikian. seperti Kerajaan Pala (Nalanda) di Benggala dan Kerajaan Cholamandala di pantai timur India Selatan. Seorang rajanya yang terbesar bernama Raja Dewa Paladewa (abad ke-9 M). untuk menghindari persinggahan di pusat Kerajaan Sriwijaya. Selat Bangka. perluasan Kerajaan Sriwijaya ditujukan ke arah utara. Selat Karimata. Hubungan baik ini dibuktikan dengan Prasasti Nalanda (860 M). terutama dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India. merebut Namun Kerajaan pada Sriwijaya. Hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Kera¬jaan Pala amat baik. masa pemerintahan Kulottungga I di Kerajaan Chola. Hubungan Luar Negeri Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di luar Indonesia. Kerajaan Sriwijaya mengadakan perluasan wilayah kekuasaan ke daerah-daerah sekitamya. Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai kunci-kunci jalan perdagangan yang penting seperti Selat Sunda. ibukota Kerajaan Sriwijaya dipindah dari Muara Takus ke Palembang. Kedua kerajaan ini menganut agama Buddha. dan Tanah Genting Kra. hubungan dengan Kerajaan .

Namun. yang pada waktu itu diperintah oleh Raja Kertanegara. karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalam dunia perdagangan. a) Faktor Politik Kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak. sehingga mengakibatkan kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak. maka jaringan pelayaran perdagangan di wilayah Asia Tenggara hingga India dapat dikuasai oleh Kerajaan Chola. Dalam ekspedisi ini. Raja Sriwijaya yang bernama Sanggrama Wijayattunggawarman mendirikan satu biara (1006 M) di Kerajaan Chola untuk tempat tinggal para bhiksu dari Kerajaan Sriwijaya. sebagai saingannya. Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Kerajaan Singasari mengadakan pendudukan terhadap Kerajaan Melayu. sehingga ketika kekuatan Kerajaan Sriwijaya pulih kembali. Raja Rajendra Chola yang berkuasa di Kerajaan Chola melakukan dua kali serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Mundurnya Kerajaan Sriwijaya Pada akhir abad ke-13 M. Dalam waktu singkat keruntuhan Kerajaan Dharmawangsa dapat ditegakkan kembali. Kelumpuhan Kerajaan Sriwijaya merupakan peluang baik bagi Airlangga di Jawa Timur yang dengan cepat menyusun kekuatan angkatan perangnya. karena tujuannya hanya membinasakan armada Kerajaan Sriwijaya. b) Sriwijaya dan Cholamandala Pada awalnya hubungan kedua kerajaan itu amat baik. Walaupun serangan Kerajaan Chola tidak mematikan Kerajaan Sriwijaya. . Jatuhnya Tanah Genting Kra ke dalam kekuasaan Kerajaan Siam mengakibatkan kegiatan pelayaran perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Pahang.Pala adalah untuk mendapat-kan dukungan dalam memperkuat kedudukannya menjadi raja di Sriwijaya. Serangan pertama tahun 1007 M mengalami kegagalan. Serangan itu tidak mengakibatkan terjadinya penjajahan. Hal ini disebabkan oleh faktor politik dan ekonomi. dan Kalimantan. Kerajaan Siam memperluas kekuasaannya ke arah selatan dengan menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaka termasuk Tanah Genting Kra. Kerajaan Singasari yang berdta-cita menguasai seluruh wilayah Nusantara mulai mengirim ekspedisi ke arah barat yang dikenal dengan istilah Ekspedisi Pamalayu. Kerajaan Sriwijaya terdesak oleh perkembangan Kerajaan Singasari. Dari daerah timur. tetapi untuk sementara kekuatan Sriwijaya lumpuh. serangan kedua (1023/1024 M) berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya/ bahkan Raja Sanggrama Wijayattunggawarman berhasil ditawan. Persahabatan kedua kerajaan berubah menjadi permusuhan akibat persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan. baik di darat maupun di laut. seperti Kerajaan Siam di sebelah utara. Jika kekuatan Kerajaan Sriwijaya berhasil ditaklukkan. di Jawa Timur telah berdiri negara besar dan kuat.

Prasasti Boom Baru Prasasti Kota Kapur Prasasti Telaga Batu Prasasti Telaga Batu . maka sejak akhir abad ke-13 M Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas pada daerah Palembang. para pedagang yang melakukan penyeberangan ke Tanah Genting Kra atau yang melakukan kegiatan ke daerah Melayu (sudah dikuasai Kerajaan Singasari) tidak lagi melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya. karena daerah-daerah strategis yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya telah jatuh ke kekuasaan raja-raja sekitarnya.b) Faktor Ekonomi Para pedagang yang melakukan aktivitas perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang. Prasasti Karang Berahi ditemukan pada tahun 1904 4. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Peninggalan kerajaan Sriwijaya ada dua macam. Kerajaan Sriwijaya yang kecil dan lemah akhirnya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit tahun 1377 M. yakni secara fisik yang berupa benda yang membuktikan kerajaan ini pernah ada di masa lalu dan peninggilan sosio-kultural yang hingga saat ini masih dianut oleh bangsa kita. Prasasti kerajaan Sriwijaya antara lain: 1. Prasasti Kota Kapur di Bangka 2. Keadaan seperti ini tentu mengurangi sumber pendapatan kerajaan. Peninggalan fisik ini berupa candi. Prasasti Talang Tuo ditemukan pada tahun 1920 6. prasasti dan bendabenda lain seperti keramik dan gerabah yang ada di berbagai daerah di wilayah Asia Tenggara. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada tahun 1920 5. Akibatnya. Dengan alasan faktor politik dan ekonomi. Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1918 3.

Prasasti Kedukan Bukit Prasasti Talang Tuo Prasasti Boom Baru Candi Muaro Takus Candi Muaro Jambi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful