Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS ILMU KESEHATAN ANAK

I. A. Identitas Pasien Nama Tempat, tanggal lahir Jenis Kelamin Agama Alamat Status Tanggal Masuk : An. JR : Jakarta, 7 Maret 2009 : Laki-laki : Islam : Jl. H. Taiman, Gang Z, RT. 06, RW. 04, Kelurahan Tengah, : Anak : 23 Januari 2013

Kecamatan Keramat Jati, Jakarta Timur.

B. Identitas Orang Tua Ayah Nama Usia Agama Pekerjaan : : : : Tn. J 42 tahun Islam Satpam Ibu Ny. S 40 tahun Islam Ibu rumah tangga

II. Anamnesis (Alloanamnesis dengan ibu dan ayah pasien) 1.Keluhan utama 2.Keluhan tambahan : Paha kiri atas bengkak dan tidak bisa berjalan sejak 1 tahun yang lalu : Batuk, pilek, tidak nafsu makan, mual.

a) Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang diantar oleh orang tuanya ke Poli Anak RSUD Pasar Rebo dengan keluhan paha kiri atas bengkak dan mengeluarkan nanah, serta tidak bisa berjalan sejak 1 tahun yang lalu. Pada awalnya pasien tiba-tiba berjalan terpincangpincang, 2 hari kemudian pasien sudah tidak dapat berjalan. Orang tua pasien membawa pasien ke tukang urut. Pasien lalu diurut dan beberapa hari kemudian paha kiri atas pasien membengkak. Setelah beberapa hari, pada bengkak tersebut muncul luka seperti bisul yang terus mengeluarkan nanah. Nanah yang keluar pertama kali berbau amis dan berwarna kuning, kental, namun tanpa disertai darah. Pasien terus menjalani pengobatan di tukang urut daerah Cimande selama 1 tahun. Pasien juga berobat ke dokter umum dan diberikan obat oles untuk luka serta obat minum, namun orang tua pasien lupa apa nama obat yang diberikan. Luka pasien sempat mengering dan nanah berhenti keluar, namun dalam waktu kurang dari sebulan, paha kiri pasien mulai membengkak serta mengeluarkan nanah kembali. Pasien lalu dibawa ke Puskesmas kemudian pihak Puskesmas merujuk pasien ke RSUD Pasar Rebo. Pasien menjalani rawat inap di RSUD Pasar Rebo sejak tanggal 23 Januari sampai tanggal 5 Februari 2013.

b) Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak ada keluhan seperti ini sebelumnya c) Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat memiliki keluhan yang sama pada keluarga di sangkal d) Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

Perawatan Antenatal Morbiditas Kehamilan

Rutin kontrol ke puskesmas Ibu sehat selama kehamilan Tidak pernah mengkonsumsi obat yang tidak disarankan oleh dokter (hanya darah) Tidak merokok Tidak mengkonsumsi minuman keras obat untuk penambah

KEHAMILAN

Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi KELAHIRAN Keadaan bayi

Rumah bersalin Bidan Spontan Cukup bulan (9 bulan) o Berat lahir o Panjang badan o Lingkar kepala : 2500 gr : Lupa : Lupa

o Langsung menangis : Ya o Nilai APGAR o Kelainan bawaan : Lupa : Tidak ada

e)Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Pertumbuhan gigi I : 5 bulan (Normal = 59 bulan)

Gangguan perkembangan mental : Tidak ada Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Berbicara : : 6 bulan (Normal = 6 9 bulan) : 6 bulan (Normal = 69 bulan) : 12 bulan (Normal = 912 bulan) : 16 bulan (Normal = 1218 bulan) : 16 bulan (Normal = 12 18 bulan)

Kesan : Riwayat perkembangan baik sesuai dengan usianya

f) Riwayat Makanan : Pasien mendapatkan ASI hanya beberapa hari, kemudian diberikan susu formula. Usia 6 bulan pasien mulai mendapatkan menu pendamping berupa bubur dan nasi tim. Usia 2 tahun pasien sudah mendapatkan menu keluarga.

g) Riwayat Imunisasi Dasar :

Vaksin HEPATITIS B DPT / DT POLIO BCG CAMPAK Lahir 2 bulan 2 bulan 2 bulan 9 bulan

Dasar (umur) 1 bulan 4 bulan 4 bulan 6 bulan 6 bulan 6 bulan

h) Sosial, Ekonomi dan Lingkungan : Sosial Ekonomi Pasien tinggal bersama 2 orang anggota keluarga lainnya. Terdiri dari pasien, ibu, dan ayah pasien. Ayah pasien bekerja sebagai satpam, dan ibu pasien sebagai ibu rumah tangga dan mengurus warung di rumah. Lingkungan Rumah pasien berada di dalam suata gang sempit, dimana saling berdekatan antara satu rumah dengan rumah lainnya. Besar rumah kira-kira 4x5 m, dengan ventilasi yang kurang baik. Rumah pasien terdiri dari 1 kamar tidur tanpa pintu yang menyambung dengan warung dan dapur. Kamar mandi berada di dalam rumah dengan sumber air yang berasal dari pompa air. Tetangga di depan rumah pasien adalah seorang penderita TB paru, dan sebelum pasien sakit, pasien sering kali bermain dengan tetangganya tersebut.

III.

Pemeriksaan Fisik Keterangan data dibawah ini, diambil dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan

pada tanggal 16 Maret 2013. A. Pemeriksaan Umum 1. Keadaan Umum : Baik


5

2. Kesadaran 3. Tanda Vital Nadi RR : 80 x/menit : 20x/menit

: Compos Mentis : Suhu : 36,2o C

4. Status Gizi Antropometri BB TB LK : 11.5 kg : 90 cm : 46 cm

BB/U : 11,5/15 x 100 % = 76 % TB/U :90/99 x 100 % = 90 % BB/TB : 11,5/13 x 100 % = 88,5 % Kesan : Gizi kurang B. Pemeriksaan Khusus 1) Kepala : Normocephal Rambut berwarna hitam kecoklatan, tidak mudah dicabut, tumbuh teratur 2) Mata : Konjungtiva Sklera Pupil Refleks Cahaya : Anemis -/: Ikterik -/: bulat, isokor 2 mm/2mm : Langsung +/+ Tidak langsung +/+ Periorbita 3) THT : Telinga : Oedema -/: Liang telinga lapang kanan & kiri Sekret (serumen) Hiperemis : -/: -/6

Tonsil Hidung

: T1-T1 : Bentuk normal Tidak ada deviasi septum nasi Sekret -/Hiperemis -/-

Mulut

: Uvula tidak deviasi Lidah tidak deviasi

Leher

: Pembesaran KGB (-), Kelenjar Thyroid (-) Trakea ditengah (tidak deviasi)

4) Kulit

: Warna Suhu raba Ikterus Sianosis

: kuning langsat : Hangat : Tidak ada : Tidak ada

5) Thorax : Pulmo : Inspeksi : Kedua hemithorax kanan-kiri simetris pada keadaan statis dan dinamis Palpasi : Fremitus vokal simetris kanan-kiri Fremitus taktil simetris ki-ka Perkusi :Hemitorak kanan Hemitorak kiri Auskultasi : Ronki -/Wheezing -/7

: Sonor di seluruh lapang paru kanan : Sonor di seluruh lapang paru kiri

Cor

: Inspeksi Palpasi

: Pulsasi iktus kordis terlihat : Pulsasi iktus kordis teraba di ICS 5 linea midclavicula sinistra

Perkusi

: Batas jantung normal BJ 1- BJ 2 normal reguler Murmur (-) Gallop (-)

Auskultasi :

6) Abdomen : Inspeksi Auskultasi Palpasi

: Perut tampak datar, pelebaran vena (-), jejas (-) : BU (+) normal, Undulasi (-), Shiffting Dulness (-) : Hepar : Tidak teraba pembesaran Lien : Tidak teraba pembesaran Nyeri tekan (-) Nyeri lepas (-)

Perkusi

: Timpani di seluruh kuadran abdomen

7) Ekstremitas : Akral hangat

+ +

+ + -

Oedema

Kaki kiri tampak lebih kecil dan lebih pendek dari pada kaki kanan, tampak bekas luka menyerupai bisul mulai mengering pada paha kiri atas.
8

IV. Pemeriksaan Penunjang JENIS PEMERIKSAAN Hemoglobin Hematokrit Leukosit Thrombosit LED MCV MCH MCHC HITUNG JENIS Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit FUNGSI HATI Albumin Globulin 23/1/13 8.8 29 20850 ( ) 733000 120 67 20 30 0 3 0 51 41 5 3.6 2.6 04/2/13 9.4 29 15530 ( ) 879000

SGPT/ALAT SGOT/ASAT DIABETES GDS FUNGSI GINJAL Ureum Kreatinin darah GASDARAH ELEKTROLIT
9

10 28

119

13.5 0.6

Elektrolit Na + Elektrolit K + Elektrolit Cl URINALISA Warna Kejernihan BJ PH Glukosa Bilirubin Darah Protein Urobilinogen Nitrit Leukosit SEDIMEN Leukosit Eritrosit Silindris Epitel Kristal Bakteri

138 4.6 1.5 Kuning Jernih 1.010 6.0 2-3 0-1 + -

Pemeriksaan Feses (25-01-2013) Makroskopik Warna: kuning kehijauan Konsistensi: lunak


10

Lendir: Pus: Darah: Mikroskopik Amuba: Lemak: Serat otot: Serat tumbuhan: Amilum: Leukosit: 4-5 Eritrosit: 1-2 Jamur: Telur cacing: -

Hasil Pemeriksaan Rontgen Thorax AP/Lat (23/01/2013)

11

- Cor: besar dalam batas normal. Aorta baik, mediastinum baik - Pulmo: bercak-bercak di seluruh lapangan kedua paru. Hilus agak menebal. Perselubungan suprahiler kedua paru. Sinus costofrenicus dan diafragma baik. Kesan : Spesifik dikedua paru

Hasil pemeriksaan rontgen femur dextra & sinistra (23/01/2013)

12

- Femur dextra/sinistra: - lesi lucent oval pada caput femoris sinistra dengan destruksi caput dan pergeseran femur sinistra ke superior lateral, masih tampak fragmentasi pada acetabulum sinistra. Kesan: Destruksi caput femoris sinistra dengan dislokasi superior lateral.

13

VI. Diagnosis Kerja Osteomyelitis TB

VIII. Diagnosis Banding Selulitis Histiocytosis sel Langerhans Sarkoma Ewing

IX. Rencana Penatalaksanaan 23-01-2013: Infus D10 1/5NS 8 tpm Cefotaxime 2 x 500 gr Asam Folat 1 x 1 Mantoux test o Pembacaan hasil (25-01-2013): 20 mm (+) Perawatan luka Kultur aerob pus dari luka dan BTA o BTA 1(25-01-2013): Hasil Negatif

14

Penatalaksaan saat ini: SF 125 mg 2 x 1 Asam Folat 1 x 1 Etambutol 125 mg 1 x 1 INH 125 mg 1 x 1 PZA 125 mg 2 x 1 Rifampisin 125 mg 1 x 1 Enico 1 x 1 Mucopect 15mg/ml 2 x 1

X. Prognosis Ad Vitam Ad Fungtionam Ad Sanactionam : Ad Bonam : Dubia : Dubia

15

TINJAUAN PUSTAKA OSTEOMIELITIS TUBERKULOSA Definisi Ostemomielitis adalah suatu proses inflamasi akut maupun kronik pada tulang dan struktur disekitarnya yang disebabkan oleh organisme pyogenik (Randall, 2011). Dalam kepustakaan lain dinyatakan bahwa osteomielitis adalah radang tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya. Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sumsum, korteks, jaringan kanselosa dan periosteum. (Dorland, 2002). Osteomyelitis tuberkulosa adalah peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif akibat kuman spesifik yaitu Mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang. Tuberkulosis pada tulang adalah salah satu bentuk dari osteomyelitis kronis, dimana lebih sering ditemukan pada pasien muda dan pasien stadium akhir. Karena oesteomyelitis TB jarang ditemui, penyakit ini jarang menimbulkan kecurigaan dokter saat mendiagnosa, terutama bila tidak ada riwayat penyakit sistemik dan terapi (De Jong, 2003). Osteomyelitis tuberkulosa selalu merupakan penyebaran sekunder dari kelainan tuberkulosa dari tempat lain terutama dari paru-paru. Tuberkulosis pada tulang terbanyak ditemukan di tulang panjang bagian metafisis dan di trokanter mayor. Tuberkulosis tulang dan sendi tersering pada vertebra, diikiti oleh sendi panggul. Seperti pada osteomyelitis hematogen akut, penyebaran infeksi juga terjadi secara hematogen dan biasanya mengenai anak-anak. Perbedaannya, osteomyelitis hematogen akut umumnya terdapat pada daerah metafisis sementara osteomyelitis tuberkulosa terutama mengenai daerah tulang belakang (Mansjoer, 2004). Epidemiologi Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II; tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan infant. Anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan (4:1). Lokasi yang tersering ialah tulang-tulang panjang seperti femur, tibia, radius, humerus, ulna, dan fibula. (Yuliani 2010). Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak. Prevalensi
16

neonatal adalah sekitar 1 kasus per1.000. Kejadian tahunan pada pasien dengan anemia sel sabit adalah sekitar 0,36%. Insiden osteomielitis vertebral adalah sekitar 2,4 kasus per 100.000 penduduk. Kejadian tertinggi pada Negara berkembang. Tingkat mortalitas osteomielitis adalah rendah, kecuali jika sudah terdapat sepsis atau kondisi medis berat yang mendasari. KLASIFIKASI Terdapat beberapa macam klasifikasi osteomielitis, antara lain klasifikasi menurut waktu onset penyakit, klasifikasi Waldvogel, klasifikasi Cierny-Mader, klasifikasi Kelly: 1. Klasifikasi menurut waktu onset penyakit: a. Osteomielitis akut (penyakit berkembang dalam waktu kurang dari 2 minggu setelah onset) b. Osteomielitis subakut (penyakit berkembang dalam beberapa minggu seelah onset) c. Osteomielitis kronis (penyakit berkembang dalam beberapa bulan setelah onset) 2. Klasifikasi Waldvogel: a. Osteomielitis hematogen akut (osteomielitis primer) Osteomielitis jenis ini disebabkan oleh infeksi tulang oleh kuman yang menyebar melalui sirkulasi. Osteomielitis jenis ini lebih banyak dijumpai pada anak-anak (85% penderita berusia kurang dari 17 tahun), dan lebih sering dialami oleh laki-laki. Pada anak-anak, osteomielitis jenis ini biasanya terjadi pada tulang panjang, sedangkan pada dewasa biasanya terjadi pada vertebrae thoracalis atau lumbalis. b. Osteomielitis contiguous focus (osteomielitis sekunder) Osteomielitis jenis ini disebabkan oleh infeksi langsung pada tulang dari fokus infeksi di dekatnya (misalnya infeksi pada trauma jaringan lunak, fraktur terbuka, luka bekas operasi, ulkus dekubitus, dan lain-lain). Osteomielitis ini memiliki puncak distribusi yang bifasik, yakni banyak dijumpai pada usia muda sekunder akibat trauma dan luka bekas operasi serta pada usia tua sekunder akibat ulkus dekubitus. c. Osteomielitis dengan insufisiensi vaskular (osteomielitis sekunder) Osteomielitis jenis ini biasanya dialami oleh para penderita diabetes mellitus. Sebagian besar penderita berusia antara 40-70 tahun. Klasifikasi Waldvogel hingga kini tetap dianggap sebagai klasifikasi utama osteomielitis, tetapi klasifikasi ini lebih didasarkan atas etiologi penyakit sehingga kurang dapat digunakan untuk menentukan penatalaksanaan selanjutnya berupa pemberian antibiotika ataupun pembedahan. Oleh karena itu, berbagai sistem klasifikasi lain telah dikembangkan dengan menekankan pada aspek-aspek klinis tertentu dari osteomielitis. 3. Klasifikasi Cierny Mader: a. Tipe anatomi: - Tipe I (osteomielitis medular), bila infeksi terbatas pada daerah intramedular - Tipe II (osteomielitis superfisial), bila permukaan tulang yang nekrotik berhubungan dengan dunia luar dan mengalami infeksi
17

- Tipe III (osteomielitis lokal), ditandai dengan sekuesterasi seluruh korteks yang dapat diatasi dengan pembedahan tanpa mengurangi stabilitas tulang - Tipe IV (osteomielitis difusa), proses osteomielitis melibatkan seluruh bagian tulang dan sudah mengganggu stabilitas tulang b. Tipe penderita: - Host A, penderita dengan keadaan fisiologi, metabolisme, dan imunitas normal - Host B, penderita dengan penyulit sistemik, atau lokal, atau keduanya - Host C, penderita yang morbiditasnya menjadi lebih buruk dengan pengobatan yang diberikan Sistem klasifikasi Cierny-Mader merupakan contoh sistem yang baik digunakan dalam mendiagnosis dan menatalaksana osteomielitis pada tulang panjang, karena sistem ini didasarkan pada anatomi infeksi tulang dan fisiologi penderita. 4. Klasifikasi Kelly: a. Osteomielitis hematogen b. Osteomielitis pada fraktur dengan union c. Osteomielitis pada fraktur dengan non-union d. Osteomielitis pascaoperasi tanpa fraktur Sistem klasifikasi ini menekankan pada etiologi penyakit dan hubungannya dengan penyembuhan fraktur.

Etiologi Kelompok Umur Bayi yang baru lahir (lebih muda dari 4 bulan) Paling umum organisme ''S. Staphylococcus'',''''spesies Enterobacter, dan kelompok A dan B''Streptococcus''spesies

Anak-anak (usia 4 bulan ''S. Staphylococcus'',''Streptococcus grup A''spesies, Haemophilus sampai 4 y) influenzae'''', dan''''spesies Enterobacter Anak-anak, remaja (usia ''S. ''aureus (80%), Streptococcus grup A''''spesies,''H. influenzae'', 4 y untuk dewasa) dan''''spesies Enterobacter Dewasa ''S. Staphylococcus''dan kadangkadang''''atau''Enterobacter''Streptococcus spesies

Anemia sel sabit Pasien ''''Spesies Salmonella Pada anak-anak, tulang panjang biasanya terpengaruh. Pada orang dewasa, tulang belakang dan panggul yang paling sering terkena. Osteomielitis adalah komplikasi sekunder di 1-3% pasien dengan tuberkulosis paru) dan Escherichia coli''''biasanya terisolasi, dalam anak-anak dari 1 sampai 16 tahun usia,''S. Staphylococcus'',''Streptococcus pyogenes'', dan''''Haemophilus influenzae yang umum.
18

PATOGENESIS Penyebaran osteomielitis dapat terjadi melalui dua cara, yaitu: 1. Penyebaran umum melalui sirkulasi darah berupa bakterimia dan septikemia melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifokal di daerah-daerah lain 2. Penyebaran lokal abses subperiosteal akibat penerobosan abses melalui periosteum selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi artritis septik penyebaran ke medula tulang sekitarnya sehingga sistem sirkulasi dalam tulang terganggu, yang menyebabkan kematian tulang lokal dengan terbentuknya tulang mati yang disebut sekuester. Osteomielitis selalu dimulai dari daerah metafisis. Ada beberapa teori yang menjelaskan terjadinya infeksi pada daerah metafisis antara lain: 1. Teori vaskular (Trueta) Pada daerah metafisis terdapat banyak pembuluh darah yang berkelok-kelok dan membentuk sinus-sinus, sehingga aliran darah pada daerah ini menjadi lebih lambat. Lambatnya aliran darah menyebabkan bakteri mudah berkembang biak. 2. Teori fagositosis (Rang) Metafisis merupakan daerah pembentukan sistem retikulo-endotelial. Bila terjadi infeksi, bakteri akan difagosit oleh sel-sel fagosit matur yang banyak terdapat di daerah ini. Akan tetapi, pada daerah ini juga terdapat sel-sel fagosit imatur yang tidak dapat memfagosit bakteri sehingga beberapa bakteri tidak difagosit dan dapat berkembang biak. 3. Teori trauma Dari percobaan pada binatang, bila dilakukan trauma artifisial maka akan terjadi hematoma pada daerah lempeng epifisis. Bila setelah itu dilakukan penyuntikan bakteri secara intravena, maka akan terjadi infeksi pada daerah hematoma tersebut. Patogenesis osteomielitis bersifat multifaktorial dan masih belum banyak dipahami. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi sehingga dapat menyebabkan osteomielitis ialah umur penderita, daya tahan tubuh, lokasi infeksi, serta virulensi kuman. Infeksi pada tulang dapat terjadi dari fokus infeksi di tempat lain melalui aliran darah. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam juksta epifisis pada daerah metafisis tulang panjang. Selanjutnya terjadi hiperemi dan edema di daerah metafisis disertai pembentukan pus. Jaringan tulang tidak dapat berekspansi, sehingga pembentukan pus di dalam tulang akan mengakibatkan tekanan dalam tulang meningkat. Peningkatan tekanan dalam tulang akan mengganggu sirkulasi dan menyebabkan trombosis pada pembuluh darah tulang, sehingga akhirnya tulang akan mengalami nekrosis membentuk sekuester. Jaringan periosteum yang terangkat oleh pus kemudian akan membentuk jaringan tulang baru di bawahnya, yang dikenal sebagai reaksi periosteal. Di dalam tulang itu sendiri dibentuk tulang baru, baik pada trabekula maupun korteks, sehingga tulang terlihat lebih radioopak dan dikenal sebagai sklerosis. Tulang yang dibentuk di bawah periosteum ini membentuk bungkus bagi tulang lama dan disebut involukrum. Pembentukan pus yang terus menerus akan menembus tulang, lalu pus tersebut keluar melalui lubang di
19

involukrum yang disebut kloaka, terus menembus jaringan lunak dan kulit lalu keluar melalui muara fistula di permukaan kulit. Bila hingga tahap ini osteomielitis belum mendapat pengobatan yang adekuat, maka penyakit akan berkembang menjadi kronis. Berdasarkan umur dan pola vaskularisasi pada daerah metafisis dan epifisis, terdapat tiga jenis proses patologis pada osteomielitis, yaitu: 1. Pada bayi Pada bayi, kapiler-kapiler kecil menyeberangi lempeng epifisis, sehingga infeksi dapat menyebar dari metafisis dan epifisis ke dalam sendi. Dengan demikian, seluruh tulang termasuk persendian dapat terkena infeksi. 2. Pada anak-anak Dengan terbentuknya lempeng epifisis serta proses penulangan yang sempurna, maka risiko infeksi pada epifisis berkurang. Lempeng epifisis resisten terhadap infeksi. Selain itu, antara metafisis dan epifisis tidak ada hubungan vaskularisasi yang berarti. Infeksi pada sendi hanya dapat terjadi bila ada infeksi langsung intra-artikular. 3. Pada orang dewasa Pada orang dewasa, lempeng epifisis telah hilang sehingga infeksi dapat meyebar ke epifisis. Walaupun demikian, infeksi intra-artikular sangat jarang terjadi. Abses subperiosteal juga lebih sulit terjadi karena periosteum melekat erat dengan korteks. DIAGNOSIS Gambaran klinis osteomielitis akut sedikit berbeda dengan osteomielitis kronis. Pada osteomielitis akut, gejala-gejala yang dapat dijumpai antara lain: demam tinggi (pada neonatus hanya 50%) iritabilitas kelemahan malaise pseudoparalisis (pada neonatus) nyeri pada daerah yang terkena edema lokal dan eritema pada daerah yang terkena gangguan pergerakan Pada osteomielitis kronis, gejala-gejala yang dapat dijumpai antara lain: ulkus yang tak sembuh-sembuh, disertai pus kelemahan kronis malaise nyeri dan sulit menggerakkan daerah yang terkena demam pada beberapa kasus Berbagai gejala klinis di atas perlu ditanyakan dalam anamnesis. Selain itu, dari pemeriksaan fisik mungkin didapatkan tanda-tanda sebagai berikut: demam edema hangat pada tungkai yang terlibat nyeri tekan
20

- fluktuasi - luas gerak sendi berkurang - fistula dengan pengaliran pus Dari pemeriksaan laboratorium, didapatkan: 1. Pemeriksaan darah rutin: - leukosit meningkat, menandakan adanya infeksi, tetapi mungkin pula nilai leukosit tetap normal - shift to the left - C-reactive protein umumnya meningkat, tetapi hasil ini tidak spesifik - LED 90% mengalami peningkatan, tetapi hasil ini juga tidak spesifik 2. Kultur: - kultur darah untuk menentukan jenis bakteri positif pada 50% penderita osteomielitis hematogen, kemudian diikuti dengan uji sensitivitas - kultur/aspirasi dari lokasi infeksi (pada 25% kasus normal) Dari pemeriksaan radiologis, didapatkan: - Pemeriksaan foto polos dalam sepuluh hari pertama biasanya tidak ditemukan kelainan radiologis yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak. Gambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah lewat sepuluh hari (2 minggu) berupa proses osteolitik dan osteosklerotik, reaksi periosteal, pembentukan sekuester dan involukrum, disertai pembengkakan jaringan lunak. - Pemeriksaan radioisotop dengan 99mtechnetium akan memperlihatkan adanya penangkapan isotop pada daerah lesi. - Pemeriksaan ultrasonografi memperlihatkan adanya efusi pada daerah sendi. Kriteria diagnosis yang umum digunakan di Indonesia ialah: 1. Didapatkan pus pada aspirasi 2. Kultur darah atau tulang positif 3. Temuan pemeriksaan fisik klasik berupa nyeri tekan pada tulang dengan eritema dan edema jaringan lunak 4. Hasil pencitraan positif Diagnosis osteomielitis sudah dapat ditegakkan bila didapatkan positif 2 dari 4 kriteria di atas. Diagnosis banding dari osteomielitis meliputi selulitis, Ewing sarcoma, osteosarcoma, dan lain-lain.

PENATALAKSANAAN Osteomielitis diobati dengan pemberian antibiotika dan tindakan pembedahan. Penatalaksanaan konservatif adalah dengan melakukan immobilisasi, tungkai yang terlibat
21

diistirahatkan dan dielevasi (misalnya dengan back slab atau Thomas splint) dan memberikan antibiotika penisilin atau cloxacilin dengan probenecid intravena sebelum hasil kultur didapat, dilanjutkan dengan memberikan antibiotika yang sesuai dengan hasil uji sensitivitas. Pemberian antibiotika dilakukan selama sedikitnya 3-6 minggu dengan memperhatikan keadaan umum dan laju endap darah penderita. Antibiotika biasanya tetap diberikan hingga 2 minggu setelah laju endap darah kembali ke nilai normal. Kegagalan pemberian antibiotika dapat disebabkan oleh: pemberian antibiotika yang tidak sesuai dengan mikroorganisme penyebab infeksi dosis tidak adekuat lama pemberian tidak cukup timbul resistensi kesalahan hasil kultur (laboratorium) antibiotika kombinasi yang bersifat antagonis pengobatan suportif yang buruk kesalahan diagnosis Indikasi terapi bedah antara lain adalah bila produksi pus banyak, terapi konservatif gagal, pernderita mengalami nyeri yang hebat, ada sekuester, dicurigai ada perubahan ke arah keganasan (misalnya epidermoid carcinoma), atau penderita dengan infeksi pada ujung atas dan bawah femur atau humerus (untuk mencegah kerusakan epifisis). Saat terbaik untuk melakukan tindakan tindakan pembedahan adalah ketika involukrum sudah cukup kuat, sehingga fraktur pascaoperasi dapat dihindari. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada para penderita osteomielitis antara lain meliputi: - osteomielitis rekuren (pada 3-40% penderita) - osteomielitis kronis - gangguan stabilitas - gangguan neurologis - cacat ekstremitas permanen - kontraktur sendi - fraktur patologis - perubahan menjadi keganasan pada jaringan epidermis - kerusakan epifisis dan gangguan pertumbuhan Prognosis Prognosisnya bermacam-macam tetapi secara nyata diperbaiki dengan diagnosis dini dan terapi yang agresif. Pada osteomyelitis kronis kemungkinan kekambuhan infeksi masih besar. Ini biasanya disebabkan oleh tidak komplitnya pengeluaran semua daerah parut jaringan lunak yang terinfeksi atau tulang nekrotik yang tidak terpisah. DAFTAR PUSTAKA

22

Randall W King, MD, FACEP; Chief Editor: Rick Kulkarni. Osteomyelitis in Emergency Medicine. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/785020-overview#showall Robin, Cotrans. Pathologic Basis of Disease 7th Edition. 2007 Sjamsuhidajat R., Jong W.D., 1998, Buku-Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi, EGC, Jakarta. David R, Barron BJ, Madewell JE. Osteomyelitis, acute and chronic. Radio Clin North Am 1987;25:1171-1201. Samiaji E., 2003, Osteomyelitis, Bagian Ilmu Bedah BRSD Wonosobo, Fakultas Kedokteran UMY. Mansjoer S., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Penerbit Media Aesculapius, Jakarta. Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang Lamumpatue. http://www.news-medical.net/health/Osteomyelitis-Causes-(Indonesian).aspx Ngastiyah. 1998. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

23

Anda mungkin juga menyukai