Anda di halaman 1dari 14

1

Nutrisi Ternak Itik I. Pendahuluan


Di Indonesia, ternak itik penghasil telur cukup potensial disamping ayam. Kelebihan dari lebih tahan penyakit dibandingkan ayam ras. Umumnya, itik masih dipelihara secara tradisional, penggembalaan berpindah-pindah dari sawah satu ke sawah yang lain. Semakin sempitnya areal penggembalaan, banyaknya kasus kematian ternak akibat keracunan pestisida, maka pemeliharaan cara ini makin terancam kelestariannya. Salah satu usaha yang mampu mengatasi adalah mengalihkan sistem pemeliharaannya ke sistem intensif dengan cara dikandangkan. Pakan dan minum disediakan dalam kandang (Gambar 1). Air untuk berenang-renang tidak disediakan sehingga energinya untuk produksi telur. Keuntungan pemeliharaan itik secara intensif adalah produktivitas telur lebih tinggi, kesehatan dan keselamatan itik lebih terjamin serta biaya pemeliharaan lebih efisien. Produksi telur itik yang dipelihara dengan cara digembalakan rata-rata 124 butir/ekor/tahun, sedangkan dengan sistem pemeliharaan intensif telurnya dapat mencapai lebih dari 200 butir/ekor/tahun produksi lebih banyak, lebih stabil dan lebih baik mutunya daripada yang digembalakan. Pertimbangan ekonomis lainnya untuk memelihara itik secara intensif adalah dapat menghemat tenaga. Seorang peternak dalam sistem penggembalaan hanya mampu merawat paling banyak 100 ekor itik, sedangkan dengan cara dikandangkan mampu merawat 600-1.000 ekor itik sekaligus, dengan demikian biaya tenaga kerja lebih sedikit dan usaha ini cocok dijadikan usaha keluarga. Semakin meningkatnya pemeliharaan itik secara intensif (dikandangkan), maka pengetahuan dan keterampilan tentang penyusunan ransum dan pemberian pakan sangat diperlukan. Dalam upaya untuk membantu peternak itik dalam penyusunan ransum yang tepat guna, efisien dan hemat telah dilakukan beberapa kegiatan pengkajian di wilayah DKI Jakarta. Hasil yang diperoleh dalam pengkajian tersebut ditampilkan dalam brosur ini

II.

Persyaratan Kecukupan Gizi

Penyediaan pakan untuk itik yang dipelihara secara intensif sering menjadi kendala dalam peralihan cara pemeliharaan dari tradisional ke intensif, karena itik yang dipelihara secara intensif biasanya diberi pakan produksi pabrik atau pakan komersial yang menghabiskan 60-70% biaya produksi. Hal ini merupakan beban yang cukup berat apabila itik yang dipelihara hanya berproduksi rata-rata kurang dari 60%. Keadaaan ini memacu peternak untuk menyusun ransum itik sendiri. Penggunaan pakan komersial hanya terbatas untuk itik periode awal (umur 0-28 hari), hal ini berkaitan dengan alasan yang sifatnya ekonomis, disamping karena bahan baku pakan itik tidak mudah diperoleh.Pada pemeliharaan itik intensif semua kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan atau bertelur harus diberikan oleh peternak sehingga biaya yang dibutuhkan untuk pembelian pakan cukup tinggi. Oleh karena itu pemberian pakan yang murah dan memenuhi kebutuhan zat gizi sangat perlu untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan itik. Zat gizi yang dibutuhkan oleh itik untuk dapat hidup, bertumbuh dan bertelur adalah: air, protein, sumber energi (lemak dan karbohidrat), vitamin dan mineral.

1. Air. Air merupakan zat gizi yang penting terutama untuk proses metabolism (pemecahan atau pembentukan zat gizi dalam tubuh), pengangkutan zat gizi dan zat khusus didalam darah serta untuk pengeluaran panas tubuh. Penyediaan air secara terus menerus sangat diperlukan karma ternak itik tidak dapat minum air dalam jumlah banyak pada suatu saat. Kekurangan air akan menyebabkan ternak kerdil bahkan mati. Berbeda dengan ayam, selain sebagai zat gizi (diminum), air juga dibutuhkan itik untuk membasahi kepalanya. Oleh karma itu ke dalaman air pada tempat minum harus dapat membasahi kepala itik. 2. Protein dan Energi Protein adalah zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, menggantikan jaringan tubuh yang sudah tua dan untuk pembentukan antibodi yang berguna untuk melawan penyakit di dalam tubuh. Penentuan kebutuhan protein selalu dihubungkan dengan tingkat energi dalam pakan karma protein dapat dijadikan sebagai sumber energi dan dibutuhkan dalam pembentukan protein. Untuk itik periode bertelur, pemberian pakan dengan kadar protein tinggi (18%) dapat memproduksi telur lebih balk dibandingkan pakan dengan kadar protein lebih rendah (16%), sedangkan energi metabolisme untuk itik yang sedang bertelur adalah 2.700 Kkal/kg. Pemberian kadar protein yang lebih rendah menyebabkan telur yang dihasilkan lebih kecil, sedangkan bila kadar energi pakan yang lebih rendah akan menyebabkan penurunan produksi telur, tetapi tidak mempengaruhi berat telur. 3. Vitamin dan Mineral Vitamin adalah zat gizi yang dibutuhkan sebagai pernbantu (katalis) dalam proses pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka (tulang) tubuh, membantu pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk pembentukan kerabang (kulit) telur. Zat kapur atau (Calcium = Ca) dan fosfor (P) adalah zat mineral yang paling banyak dibutuhkan. Kedua zat ini mempunyai hubungan yang saling terkait. Untuk itik yang sedang bertelur dibutuhkan zat kapur dan fosfor yang cukup tinggi dalam pakannya berkisar 3,0% Ca dan 0,60% P. Penurunan zat kapur hingga 1,25% dalam pakan menyebabkan penurunan produksi telur dan kerabang telur yang lebih tipis. Kekurangan zat fosfor akan menurunkan nafsu makan dan menyebabkan pertumbuhan yang terlambat, serta penurunan produksi dan berat telur. Penambahan garam dapur 0,2% hingga 0,5% sudah dapat menunjang pertumbuhan dan produksi telur yang balk. Kebutuhan akan mineral lain (Mg, K, Zn, Fe, I, Mn, Mo, Se, Co, Cl) dan vitamin adalah dalam jumlah yang sangat sedikit. Dalam praktek sehari-hari digunakan campuran mineral dan vitamin (premix) yang telah banyak diperdagangkan dengan komposisi yang telah disesuaikan, sehingga hanya perlu diberikan sebanyak 0,25 - 0,5 Kg premix untuk tiap 100 Kg pakan. Secara ringkas kebutuhan zat gizi utama untuk itik yang disarankan disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Beberapa Zat Gizi Untuk Itik Petelur. Anak itik (0-8) minggu Energi metabolis (KkaI/Kg) Protein kasar (%) Ca (%) P (%) 3100 17 - 20 0,6-1,0 0,6 Itik dara (9-20) minggu 2700 15 - 18 0,6-1,0 0,6 Itik petelur (>20) minggu 2700 17 19 2,9-3,25 0,6

III.

Bahan Pakan Alternatif Untuk Ternak Itik

Banyak bahan pakan alternatif (bahan pakan pilihan) yang bisa digunakan, namun dalam mencari bahan yang akan dipakai hendaknya berpegang pada kadar protein dan energy yang diperlukan itik. Bahan pakan sumber energi untuk itik antara lain adalah dedak padi, jagung, menu, tepung singkong, polar, nasi keying, roti afkir dan mie afkir, namun dalam pemberiannya sebaiknya tidak dalam bentuk keying, tetapi agak basah atau jika terlalu keras perlu direndam sebelum diberikan pada itik. Sebagai contoh perendaman diperlukan jika itik diberi nasi kering, sehingga nasi tersebut menjadi agak lunak/lembek dan dapat ditelan dengan mudah oleh itik. Bahan pakan sumber protein yang sangat disukai oleh itik dalam bentuk segar adalah ikan rucah, cangkang udang dan keong, namun pemberiannya haruslah dalam ukuran yang cukup kecil untuk memudahkan itik menelannya. Selain itu berbagai jenis bahan pakan sumber protein yang berbentuk tepung yang dapat diberikan kepada itik antara lain bungkil kelapa, tepung ikan, bekicot dan sebagainya. Kandungan zat gizi beberapa bahan pakan: Tabel 2. Kandungan Nutrisi Beberapa Bahan Pakan . Jenis Bahan EM P.Kasar Fosfor Kalsium (kcaI/kg) (%) (%) (%) Dedak padi 2400 12,0 1,0 0,20 Menir 2660 10,30 0,12 0,09 Jagung 3300 8,50 0,30 0,02 Bungkil kelapa 1410 18,60 0,60 0,10 Tp. cangkang udang 2000 30,0 1,15 7,86 Udang segar 2900 54,20 1,40 4,20 Ikan rucah segar 3122 64,33 3,37 4,15 Tepung ikan 2960 55,11 2,85 5,30 Tepung bekicot 2700 44,0 0,43 0,69 Polar 1300 15,50 1,17 0,14 Limbah Roti 10,50 0,13 0,17 Tepung Keong Mas 46,20 0,35 2,98 Tepung Singkong 3200 2,00 0,40 0,33

Metionin (%) 0,25 0,17 0,18 0,30 0,57 0,57 1,79 1,79 0,89 0,20 0,30 0,01

Lisin (%) 0,45 0,30 0,20 0,55 1,50 1,50 5,07 5,07 7,72 0,30 1,37 0,07

1. Dedak Padi Dedak path (bekatul) merupakan hash dari prows penggilingan path yang digiling, jumlahnya sekitar 10% dari total berat path. Pemanfaatan dedak sebagai bahan pakan ternak mempunyai kandungan karbohidrat atau sumber energi yang cukup tinggi. Penggunaan dedak path hingga 75% dalam ransum itik petelur tidak mengganggu produksi telur, asalkan kandungan nutrisi yang lainnya cukup. 2. Singkong Singkong merupakan tanaman yang mudah dijumpai dart banyak dihasilkan di Indonesia. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai bahan pakan itik adalah umbi gaplek. Tepung singkong/gaplek mempunyai kandungan karbohidat atau sumber energy yang tinggi, hampir menyamai jagung, tetapi miskin akan protein (sekitar 2%). Pada umbi singkong, sebagian besar sianida terdapat pada kulitnya. Pengupasan kulit umbi, perendaman dan pengeringan dapat menurunkan kadar sianida tersebut. Tepung singkong dapat digunakan dalam pakan ink hingga 30%. Pemberian dalam jumlah yang lebih tinggi akan menyebabkan ternak mencret (diare). 3. Onggok 4. Pod Kakao dan Rumput Gajah Pod kakao dan rumput gajah umum digunakan sebagai pakan ternak sapi, kandungan serat kasarnya tinggi, jika untuk ternak unggas dibatasi penggunaan pod kakao hingga 10% dalam ransum, demikian pula tepung rumput gajah dapat digunakan pada unggas sampai 10% setara dengan pod kakao. Ditinjau dari komposisi zat makanannya, pod kakao dapat disetarakan dengan rumput gajah ( Pennisetum purpureum). Komposisi zat makanan pod kakao dan rumput gajah berdasarkan bahan keringnya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi zat makanan pod kakao dan rumput gajah (% bahan kering) Nutrien dan Energi Bahan kering (%) Abu (%) Potein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) BETN (%) TDN (%) ME (MJ/kg BK) Ca (%) P (%) Sumber: Sutardi et al. (1996) Pod Kakao 14,5 16,6 9,27 1,24 31,7 41,2 50,1 7,59 0,31 0,19 Rumput Gajah 22,2 12,0 8,69 2,71 32,3 44,3 54,0 8,17 0,28 0,33

5. Bekicot Bekicot yang umumnya terdapat di pedesaan dapat digunakan sebagai sumber protein untuk itik. Bekicot segar mengandung protein kasar sekitar 15%, kadar protein ini dapat ditingkatkan dengan membuat tepung bekicot (dipisahkan dari kulit, dikeringkan lalu digiling). Tepung bekicot yang dibuat dari bekicot mentah mengandung 52% protein, sedangkan yang dibuat dari bekicot rebus mengandung 32,7% protein. Tepung bekicot mentah dapat dicampurkan dalam pakan itik hingga 15%, sedangkan tepung bekicot rebus hingga 20%. 6. Keong Emas Keong emas balk digunakan untuk campuran pakan itik karma hewan air ini mengandung banyak protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap ternak, yaitu dapat menyebabkan penurunan produksi ternak karma di dalam lendir keong tersebut terdapat suatu zat anti nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan ternak, oleh sebab itu dianjurkan menggunakan keong Emas yang telah direbus, karma zat anti nutrisi yang ada akan berkurang atau bahkan hilang setelah proses perebusan selama 15-20 menu. 7. Cangkang Udang Cangkang udang (terdiri dari kepala dan kulit) merupakan limbah yang banyak ditemui di daerah pantai terutama di daerah yang mempunyai pabrik kerupuk udang dan penampungan (pengolahan) udang untuk ekspor. Cangkang udang basah mempunyai kadar air 60-65% dan apabila dikeringkan mengandung 50% protein kasar, 11% calcium dan 1,95% fosfor. Pemberian cangkang udang kering hingga 30,% dapat meningkatkan produksi telur itik cukup tinggi. 8. Ikan Rucah Ikan rucah yang banyak dihasilkan di berbagai daerah dapat digunakan sebagai sumber protein bagi itik. Pemberian ikan rucah akan saling melengkapi kebutuhan protein jika diberikan bersamaan dengan cangkang udang.

IV.

Pemberian Pakan

Berdasarkan hash survei yang dilakukan terhadap peternak itik di Jakarta Timur diketahui bahwa jumlah pakan yang digunakan oleh peternak terbukti sangat berlebihan, yaitu rata-rata sebanyak 380 gr/ekor/hari, jauh melebihi jumlah yang dianjurkan yaitu hanya sebanyak 150 gr/ekor/hari. Kelebihan dalam jumlah pemberian pakan tersebut mengakibatkan terjadinya kelebihan dalam jumlah energi metabolis dan protein kasar. Jumlah energi metabolic dan protein kasar yang diberikan masingmasing 4.800 Kkal/kg dan 40,95%, jauh melebihi kebutuhan itik petelur yang hanya 2.500 Kkal/kg dan 18,28%. Melalui penghematan jumlah pakan yang diberikan akan dapat dilakukan penghematan dalam biaya pakan yang dikeluarkan. 1. Macam bahan pakan yang digunakan Bagi peternak skala kecil dengan jumlah itik puluhan ekor sampai ratusan ekor, dianjurkan untuk mengusahakan pakan alternatif Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan

alternatif bahan paling murah dan mudah didapat di sekitar lokasi usaha. Berbagai bahan pakan yang dapat digunakan antara lain adalah: dedak, menir, cangkang udang, ikan rucah, seng (ZnSo4), kapur dan Top Mix. Untuk dapat digunakan sebagai bahan pakan terlebih dahulu perlu dilakukan analisis terhadap bahan pakan tersebut, apalagi wring dilaporkan bahwa kandungan gizi suatu bahan pakan dapat berubah tergantung kepada asal bahan tersebut, ada atau tidak adanya pemalsuan, lama/baru kondisi penyimpanan dan prows produksinya. Tabel 8. Bahan Pakan dari Limbah Industri Pertanian No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis bahan Ampas Tahu Ampas kecap Ampas bir Ampas gula cair Ampas brem Bungkil kedelai Bungkil klp sawit Bungkil kacang tanah Tepung gaplek Dedak padi Polard Onggok kering Molasses Tumpi kedelai Tumpi jagung Kedelai BS BK(%) 10,788 85,430 31,174 34,314 81,634 89,413 92,524 91,447 87,024 91,267 89,567 90,170 30,22 91,417 87,385 85,430 PK(%) 25,651 36,381 26,448 5,106 3,130 52,075 14,112 36,397 2,412 9,960 16,412 2,839 8,300 21,314 8,657 38,380 LK(%) 5,317 17,257 10,254 6,237 2,120 1,011 11,903 17,242 0,792 2,320 4,007 0,676 3,029 0,532 4,840 SK (%) 14,527 17,816 7,059 8,014 2,111 25,528 10,722 0,895 8,930 18,513 5,862 8,264 23,1719 21,297 17,810 TDN (%) 76,00 89,553 78,708 54,956 55,826 40,265 67,435 71,721 73,489 55,521 74,828 77,249 63,000 69,425 48,475 69,930

Sumber: Yusuf, (2010)

2. Cara penyusunan Ransum

1. Teknik Penyusunan Ransum Penyusunan ransum ternak dan ayam petelur sedang produksi dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya: 1. 2. 3. 4. menggunakan formula berdasarkan hasil-hasil penelitian, menggunakan segi empat, menggunakan perangkat lunak program EXCEL, penerapan program aplikasi yang tersedia, berikut diberikan contoh cara penyusunan ransum dengan data hasil penelitian oleh karena itu perlu dipilih yang terbaik. Tabel 9. Contoh formula ransum ayam petelur produksi Bahan pakan I Jagung Konsentrat layer Dedak padi Dedak gandum Total Kandungan nutrient Energi (kcal/kg) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Fosfor (%) 2914,50 16,70 6,41 6,11 3,37 1,16 2836,10 16,79 5,78 6,39 3,28 1,05 2757,70 16,88 5,15 6,67 3,20 0,93 2679,30 17,00 4,52 6,96 3,11 0,81 40 30 30 0 100 II 40 30 20 10 100 Ransum III 40 30 10 20 100 IV 40 30 0 30 100

4.1 Teknik segi empat Teknik penyusunan ransum dengan menggunakan segi empat dengan prinsip mencampur dua bahan pakan yang mengandung nutrient dengan kadar tertentu dengan nilai diantara kebutuhan nutrient yang diharapkan. Contoh: Mencampur jagung dan konsentrat agar didapatkan campuran bahan pakan jagung-konsentrat dengan kandungan protein bahan campuran 16%. Jagung 8,89 PK 16 % Konsentrat 31,51 7,11 Bag. konsentrat 7,11 kg 15,51 Bagian jagung 15,51 kg

4.3 Contoh penyusunan ransum menggunakan program EXCEL Tabel 10. Kandungan nutrien dalam bahan pakan
Bahan Jagung Dedak padi halus Minyak sawit PMM Bungkil Kedele DL-metionin L-lisin CaCO3 Tepung tulang Na Cl Mineral -mix 32.00 10.00 92.0 5 87.6 4 BK (%) 88.0 5 88.8 1 ME PK Met Lis LK SK Ca P (%) kcal/k (%) h. . (%) (%) (%) g (%) (%) 3,370. 9.28 0.18 3.65 3.40 0.02 0.30 00 1,956. 8.61 0.26 0.7 28.3 1.31 0.39 96 7 9 8,600. 100. 0.00 00 00 2,750. 56.4 0.50 1.8 1.60 1.16 25.09 8.14 00 8 0 2216. 49.0 0.50 2.5 1.35 7.06 0.29 0.27 00 1 6 5020. 58.6 99,0 00 0 0 3990. 95.6 78. 00 0 8 40.00 0.00 32.45 0.03

10

Tabel 11. Susunan ransum itik jantan umur 2-8 minggu, perhitungan menggunakan Excel Bahan Ransum Jagung Dedak padi halus Minyak sawit PMM Bk. Kdl. DL-Meth. L-lisin CaCO3 Tp. Tulang Na Cl Mineralmix Pasir Total Kebutuha n Komposis i 61.00 6.00 0.10 0.40 19.00 0.34 0.33 1.00 0.00 0.25 2.00 9.59 100.01 100.00 ME kcal/kg 2055.7 0 117.42 8.60 11.00 421.04 17.07 13.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2643.9 9 2600.0 0 PK (%) 5.66 0.52 0.00 0.23 9.31 0.20 0.32 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 16.2 3 16.0 0 Meth . (%) 0.11 0.02 0.00 0.00 0.10 0.34 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.56 0.43 Lis. (%) 0.1 8 0.0 5 0.0 0 0.0 1 0.4 9 0.0 0 0.2 6 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.9 8 0.8 5 LK (%) 2.2 3 0.0 0 0.1 0 0.0 1 0.2 6 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 2.5 9 8.0 0 SK (%) 2.0 7 1.7 0 0.0 0 0.0 0 1.3 4 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 5.1 2 5.0 0 Ca (%) 0.0 1 0.0 8 0.0 0 0.1 0 0.0 6 0.0 0 0.0 0 0.4 0 0.0 0 0.0 0 0.6 4 0.0 0 1.2 9 0.8 0 P (%) 0.18 0.02 0.00 0.03 0.05 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.20 0.00 0.49 0.61

11

Tabel 12. Contoh formula ransum itik jantan umur 2-6 minggu Bahan pakan I Jagung Tepung ikan Bungkil kelapa Dedak padi Kac. Kedele Minyak kelapa NaCl Premix Pod kako Jumlah Kandungan nutrient Energi (kcal/kg) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Fosfor (%) 2903 16,10 7,06 4,54 0,98 0,59 2902 26,01 6,56 6,88 0,98 0,58 2901 16,01 5,72 9,24 1,01 0,58 2900 16,00 6,55 11,95 0,98 0,57 60,53 12,04 4,76 20,25 1,28 0,67 0,17 0,30 100,00 II 58,13 12,28 3,29 12,95 1,95 1,00 0,10 0,30 10,00 100,00 Ransum III 55,73 12,70 1,82 5,76 2,62 0,97 0,10 0,30 20,00 100,00 IV 48,01 12,48 0,56 1,75 4,38 2,32 0,20 0,30 30,00 100,00

Sumber: Warmadewi et al. (2000).

12

Setelah diketahui kebutuhan gizi serta kandungan gizi bahan pakan yang tersedia, selanjutnya dapat disusun pakan yang tepat agar campuran pakan tersebut dapat memenuhi kebutuhan itik untuk berproduksi dengan baik. Contoh susunan pakan itik petelur adalah sebagai berikut: 1. Dedak = 54,64 % 2. Menir = 13,66 % 3. Cangkang Udang Segar = 19,58 % 4. Ikan Rucah Segar = 9,11 % 5. Seng (ZnSO4) = 0.05 % 6. Kapur = 2,73 % 7. Top Mix = 0,23 %

3. Cara Pemberian Pakan Semua bahan selain cangkang udang dan ikan rucah segar ditimbang untuk keperluan satu minggu. Kemudian dicampur secara merata lalu dibagi menjadi 7 bagian dan masing-masing bagian dimasukkan kedalam kantong plastik yang berbeda. Masingmasing kantong plastik berisi 10,70 kg campuran perhari untuk 100 ekor. Ikan rucah segar (1,37 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran dalam kantong plastic (5,40 kg) diberikan dalam bentuk agak basah pada jam 07.00 (pagi), kemudian cangkang udang segar (2,94 kg) dan setengah bagian dari pakan campuran tadi (5,40 kg) diberikan jam 15.00 (sore hari) dalam bentuk agak basah yaitu dengan jalan menambahkan sedikit air supaya tidak mudah ditiup angin dan memudahkan itik untuk mengkonsumsinya.

V. Analisis Usaha
Jika dibandingkan dengan penggunaan pakan tradisional, pakan hasil ramuan dapat meningkatkan produksi telur rata-rata sebesar 42,86%, dengan berat telur 68,57 gram, dan kekentalan putih telur (Naught-Unit) 82,54. Selain itu pakan tersebut dapat meningkatkan warm kuning telur sebesar 12,17% yang menimbulkan warm kuning telur cukup baik yaitu warm kuning kemerahan sebagai akibat adanya pigmen astaxanthin didalam cangkang udang. Biaya pakan harian yang diperlukan untuk pemeliharaan 100 ekor itik dengan pemberian pakan tersebut adalah sebesar Rp. 11.048,- jauh lebih murah dibandingkan biaya pakan yang biasa dilakukan petani yaitu Rp. 21.138,-. Sedangkan pendapatan harian yang diperoleh dari hasil penjualan telur itik, jika diumpamakan harga jual telur itik Rp. 600/butir adalah sebesar Rp. 25.716,- Dengan demikian pemeliharaan itik dengan pemberian pakan tersebut mempunyai nilai ekonomis sebesar 2,33% jauh lebih tinggi dibandingkan dengan cara petani (1,08%). Selain itu pendapatan harian yang diperoleh dari pemeliharaan 100 ekor itik dengan menggunakan pakan tersebut sebesar Rp. 14.668, sedangkan dengan cara petani hanya sebesar Rp. 1.614,- jadi akan diperoleh tambahan pendapatan kotor sebesar Rp. 13.054/ 100 ekor/hari untuk penggunaan pakan perbaikan.

13

VI. Kesimpulan
Penggunaan pakan perbaikan selain terbukti lebih hemat, juga dapat meningkatkan produksi telur itik sebanyak 4,94 butir/ 100 ekor/hari dan mempunyai nilai efisien ekonomi lebih tinggi dari pada pakan tradisional. Tambahan pendapatan kotor yang diperoleh dengan menggunakan pakan perbaikan apabila dibandingkan dengan pakan tradisional adalah sebesar Rp. 13.054/100 ekor/hari.

DAFTAR BACAAN
Agus. A. 2008. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Fak. Peternakan UGM Andayani, D. Muflihani, Y. Y.C.Rahardjo, B.Wibowo dan B.Bakrie, 1999. Laporan Akhir Penelitian Adaptif Teknologi Pakan dari Cangkang Udang Ikan Rucah untuk Itik Petelur. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta. BPT, 1990 Potensi Pengembangan Itik dengan Pemeliharaan Terkurung . Balai Penelitian Ternak Ciawi. Marwadewi, D.A., A.P.P Wibawa, I.G.N.G Bidura, 2000. Pengaruh Tingkat Penggunaan Pod Kakao dalam Ransum terhadap Penampilan Itik Bali Umur 2-8 minggu. Univ. Udayana. Bali. NRC. 1984. Tabel kandungan dan kebutuhan nutrient Unggas Rahardjo, 1985. Nilai Gizi Cangkang Udang dan Pemanfaatannya untuk Ink. Prosidings Seminar Peternakan dan Forum Peternakan Unggas dan Aneka Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor Rasyaf, M.1984. Beternak Itik Petelur. Yayasan Kanisius, Yogyakarta. SNI 01-3929-1995. Ransum Ayam Ras Petelur (Layer). jajo66.wordpress.com. Sutardi, T. 1997. Peluang dan Tantangan Pengembangan Ilmu-ilmu Nutrisi Ternak. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Nutrisi, Fapet IPB, Bogor. Sinurat, A. P.2000. Penyusunan Ransum Ayam Buras dan Itik. Balai Penelitian Ternak Ciawi. Tilman, A.D., Hartadi, H., Reksohadiprodjo, S., Prawirokusumo, S., Lebdosukojo, S. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada Univ. Press. Fak. Peternkaan UGM. Sandhy, S.W.2000. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya Jakarta.

14

Whendrato, I dan Madyana, LM, 1986. Beternak Itik Tegal Secara Populer. Eka Offset, Semarang.

Yusuf, D. 2010. Tabel Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Ternak. http:// www. lembahgogoniti. .com

Nomor : O1/Bros/IPPTP JKT/2000 Oplag : 1000 eksemplar Sumber dana : Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif (PAATP) DKI Jakarta Produksi : Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta TIDAK DIPERDAGANGKAN