Anda di halaman 1dari 6

A.

Pengertian Halusinasi Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998). Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. (Maramis, hal 119) Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar pada pasien dalam keadaan sadar. B. Tanda dan Gejala Halusinasi Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut: 1. Bicara sendiri 2. Senyum sendiri. 3. Ketawa sendiri 4. Menggerakkan bibir tanpa suara 5. Pergerakan mata yang cepat 6. Respon verbal yang lambat 7. Menarik diri dari orang lain. 8. Berusaha untuk menghindari orang lain. 9. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. 10. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah. 11. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik 12. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. 13. Sulit berhubungan dengan orang lain. 14. Ekspresi muka tegang. 15. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. 16. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. 17. Tampak tremor dan berkeringat. 18. Perilaku panik. 19. Agitasi dan kataton. 20. Curiga dan bermusuhan. 21. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan. 22. Ketakutan. 23. Tidak dapat mengurus diri.. C. Jenis Halusinasi 1. Halusinasi Pendengaran Klien mendengar bunyi dan suara yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengarnya. 2. Halusinasi Penglihatan Kien melihat gambaran yang jelas atau samar-samar tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihatnya.

3. Halusinasi Penciuman Membau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti darah, urin, atau feces. Kadang-kadang terhidu bau harum. 4. Halusinasi Pengecapan Merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan seperti rasa darah, urin atau feces. 5. Halusinasi Perabaan Mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. 6. Senestetik Merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena dan arteri, makanan dicerna atau pembentukan urin. D. Proses Terjadinya Halusinasi Menurut G.W Stuart dan S.Z Sunden 1. Fase I Perasaan terpisah, cemas, kesepian, stress mengakibatkan melamun dengan fokus menyenangkan, untuk sementara masih dapat mengontrol kesadarannya mengenai pikiran tetapi intensitas meningkat. 2. Fase II Cemas meningkat berhubungan pengalaman tentang internal dan eksternal, pikirn internal menonjol mengakibatkan halusinasi berupa bisikan yang tidak jelas, ketakutan orang lain mendengar, ketidakmampuan mengontrol pikiran. 3. Fase III Halusinasi menonjol, pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak, perhatian terhadap lingkungan berkurang, klien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya. 4. Fase IV Ancaman, perintah marah yang menimbulkan rasa takut, tidak berdaya, hilang kontrol sehingga dapat menyebabkan putus hubungan dengan orang lain. E. Pohon Masalah

F. Penatalaksanaan Prinsip asuhan keperawatan pada klien dengan halusinasi: 1. Melaksanakan validasi terhadap persepsi klien 2. Menghadirkan realitas 3. Menurunkan kecemasan 4. Melindungi klien dengan orang lain dari bahayaMeningkatkan sistem pendukung klien agar mampu mengontrol halusinasi. G. Diagnosa Keperawatan 1. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi. 2. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri. H. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa 1: Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi. 1. Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. 2. Tujuan khusus : a. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Tindakan : Salam terapeutik perkenalan diri jelaskan tujuan ciptakan lingkungan yang tenang buat kontrak yang jelas (waktu, tempat, topik). 2. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. 3. Empati. 4. Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan. 2. Klien dapat mengenal halusinasinya. Tindakan : 1. Kontak sering dan singkat. 2. Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal). 3. Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, tetapi perawat tidak. Katakan perawat akan membantu. 4. Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu, frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi. 5. Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi. 2. Klien dapat mengontrol halusinasinya. Tindakan : 1. Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi. 2. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya. 3. Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut saya tidak mau dengar.

4. Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan. 5. Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil. 6. Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi. 2. Klien dapat dukungan dari keluarga. Tindakan : 1. Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara, memutus halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan. 2. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. 2. Klien dapat menggunakan obat dengan benar. Tindakan : 1. Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping minum obat. 2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara, waktu). 3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. 4. Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar. Diagnosa 2: Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri. 1. Tujuan Umum: Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal 2. Tujuan Khusus: 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya Tindakan : 1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapetutik 1. sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal 2. Perkenalkan diri dengan sopan 3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien 4. Jelaskan tujuan pertemuan 5. Jujur dan menepati janji 6. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya 7. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien. 2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Rasional : Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya. Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian Tindakan: 2.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien 2.1. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif 2.1. Utamakan memberikan pujian yang realistik 3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan Rasional :

Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk berubah. Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya Tindakan: 1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit 2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya. 4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Rasional : Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya. Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan Tindakan: 1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan Kegiatan mandiri Kegiatan dengan bantuan sebagian Kegiatan yang membutuhkan bantuan total 1. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien 2. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan 5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya Rasional : Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan Tindakan: 1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien 5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 4. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Rasional: Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien. Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah. Tindakan: 6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah 2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat 3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah DAFTAR PUSTAKA Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995 Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003

Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000