Anda di halaman 1dari 5

TUGAS INDIVIDU BLOK 11 UNIT PEMBELAJARAN 5 SAPI PAK TONO PINCANG DAN GOMEN

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 6

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

SAPI PAK TONO PINCANG DAN GOMEN

I.

LEARNING OBJECTIVE 1) Jelaskan tentang Aphtovirus! 2) Jelaskan tentang Penyakit Mulut dan Kuku, meliputi: a. Etiologi b. Pathogenesis c. Gejala klinis d. Diagnosa

II.

PEMBAHASAN 1) APHTOVIRUS Virus famili Picornaviridae Virion picornavirus : ikosahedron, tidak beramplop, diameter 25-30 nm; ssRNA; sintesa di sitoplasma Aphtovirus tidak stabil pada ph 7,0 Menyerang hewan ungulata (berkuku belah)/ teracak sapi, domba, kerbau, kambing, babi, ruminan liar Aphtovirus, memiliki 4 jenis, yaitu FMD (Foot and Mouth Desease) virus yang terdiri dari 7 tipe : A (Allemagne), O (Oise), C, SAT (South African territories) 1, SAT 2, SAT 3, Asia. Selain itu ada Bovine Rhinitis Virus tipe A dan B, serta Equine Rhinitis Virus Tipe A.

(Fenner, 1993)

2) PENYAKIT MULUT DAN KUKU a. Etiologi Virus PMK dapat tinggal dalam farings beberapa jenis hewan sampai beberapa lama setelah sembuh. Pada sapi, virus dapat dideteksi sampai dua tahun setelah terinfeksi, pada domba sekitar 6 bulan. Namun pada domba tidak terjadi kemenetapan virus. Virus bersifat stabil dalam lingkungan terbuka untuk jangka waktu yang lama, yang kemudian disebarkan secara aerosol, terutama bila kelembaban udara melebihi 70% dan suhu udara yang dingin. Virus bersifat peka terhadap alkali maupun asam Penyakit ini dibagi menjadi 3 macam bentuk : bentuk dermostomatitis yang tenang (benigna), bentuk interrmediate toxic dengan penyakit yang lebih berat, dan bentuk ganas (malignant) dengan perubahan pada otot jantung dan sklelet. Pencegahan atas penyakit ini ialah dengan sanitasi yang baik, dan mencegah impor daging sapi dari negara yang belum bebas PMK karena Indonesia sudah bebas PMK. Selain itu, dapat dilakukan vaksin untuk mencegah penularan PMK untuk sapi-sapi di Indonesia. (Subronto, 2003) b. Pathogenesis Rute Primer Melalui inhalasi: aerosol dari hewan yang terinfeksi akan terhirup oleh hewan yang peka partikel virus akan masuk ke dalam faring kemudian virus berplikasi dalam epitel faring setelah 24-72 jam berikutnya akan terjadi viremia terjadi kenaikan suhu tubuh hewan akan mengalami demam akhirnya demam akan turun fase viremia berakhir terjadi lepuh-lepuh pada lidah/ gingiva sapi (Fenner, 1993) Rute Sekunder Melalui makanan yang tercemar, vaksinasi yang tercemar, alat-alat kedokteran yang tercemar dan inseminasi yang tercemar (Fenner, 1993). c. Gejala Klinis SAPI Setelah masa inkubasi 2-8 hari terjadi demam, hilangya nafsu makan, depresi, turunnya produksi susu selama periode laktasi yang tersisa (dalam waktu lama), pertumbuhan sapi pedaging terhambat.

Dalam 24 jam leleran air liur mulai terjadi, terbentuk vesikel pada lidah dan gusi. Membuka dan menutup mulut disertai suara melenguh yang khas Vesikel dapat ditemukan pada kulit di antara jari dan pita koroner dari kuku dan pada puting Bila vesikel pecah menghasilkan lesi ulseratif terbuka yang besar Lesi pada lidah seringkali sembuh dalam beberapa hari, tetapi pada kaki dan rongga hidung mengakibatkan kelemasan yang berkepanjangan dan pengeluaran ingus yang kental Pada pedet umur 6 bulan, menyebabkan kematian karena miokarditis Pada sapi dewasa, walaupun virus tidak melewati plasenta dapat menyebabkan keguguran Gangguan fertilitas. Ternak produktif yang terserang PMK akan kehilangan kemampuan untuk melahirkan setahun setelah terserang penyakit tersebut.Ternak baru dapat beranak kembali setelah dua tahun kemudian. Jika pada awalnya seekor ternak mampu beranaklima ekor, karena penyakit ini kemampuan melahirkan menurun menjadi tiga ekor atau kemampuan menghasilkan anak menurun 40%. BABI Kelemasan merupakan tanda awal Lesi pada kaki dapat serius dan terasa sakit sehingga babi susah untuk berdiri Daerah yang terkelupas di antara kuku biasanya terinfeksi bekteri Vesikel pada mulut kurang kentara dibandingkan pada sapi, walaupun vesikel yang besar, pecah dengan cepat, sering timbul pada cungur HEWAN LAIN Penyakit klinis pada domba, kambing, dan ruminansia liar biasanya lebih ringan dibandingkan pada sapi dan dicirikan oleh lesi pada kaki yang disertai oleh kelemasan (Ressang, 1983) d. Diagnosa Uji yang biasanya dilakukan adalah identifikasi virus dalam bahan yang diterima, isolasi virus dalam biakan sel, inokulasi hewan percobaan atau hewan

besar. Untuk penelitian tersebut, bahan yang dikirimkan dapat diawetkan dengan glycerol phosphate vuffer dengan pH 7,6 (Subronto, 2003). Untuk diagnosa retrospektif digunakan uji serologik. Selain itu ada mikronetralisasi, Enzyme Linked Immune Sorbent Assay (ELISA), dan Virus Infecting Antigent (VIA), suatu uji agar gel difusi. Inokulasi pada mencit yang sedang menyusu digunakan untuk mengetahui adanya virus, yang berupa gejala paralisa (Subronto, 2003). PCR (Polymerase Chain Reaction) Prinsipnya perbanyakan DNA yang diambil sequen spesifik. Melalui sequen spesifik tersebut akan diperbanyak dan melalui sequen tersebut dapat dibentuk peta atau pencocokan DNA dengan DNA dari bakteri atau virus tertentu yang telah diketahui (Fenner, 1993). Pemeriksaan klinikopatologis Jumlah eritrosit menurun, Packed cell volume menurun, Haemoglobin menurun, Trombosit menurun, Anemia normositik normokromik, Uremia, Total protein plasma menurun, Leukopenia, Neutropenia ringan, Limfositopenia, Eosinopenia (Fenner, 1993).

III. DAFTAR PUSTAKA Fenner, dkk. 1993. Virologi Veteriner. California : Academic Press Inc. Ressang, A.A. 1983. Patologi Khusus Vetriner. Bali Cattle Desase Investigation Unit : Denpasar, Bali Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I (Mamalia). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press