Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN JIWA

HARGA DIRI RENDAH KRONIK

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA HARGA DIRI RENDAH KRONIK ANI PERMATASARI 220112080047 PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN

ANI PERMATASARI

220112080047

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XVI

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2009

HARGA DIRI RENDAH KRONIK I. Kasus (Masalah Utama)

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

II. Proses terjadinya masalah

1. Pengertian harga diri rendah

Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan ( Townsend, 1998 ). Menurut Schult & Videbeck ( 1998 ), gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999). Jadi dapat disimpulkan bahwa perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat diekspresikan secara langsung dan tak langsung. Teori – teori tentang harga diri rendah

Menurut Peplau dan Sulivan

Pengalaman interpersonal seseorang, masa lalu pada tahap perkembangan bayi s.d dewasa lanjut, seperti “Good me, bad me, not me”, anak sering dipermasalahkan, ditekan ”Kamu Salah” Kamu tidak berguna” akan menimbulkan perasaan aman yang tidak terpenuhi sehingga klien merasa ditolak oleh lingkungan dan apabila koping mekanisme yang digunakan tidak efektif akan menyebabkan harga diri rendah.

Menurut Kaplan

Lingkungan sosial akan mempengaruhi individu dan pengalaman seseorang dan adanya penebalan sosial seperti perasaan klien dikucilkan, ditolak oleh lingkungan sosial, klien tidak dihargai dalam berinteraksi sosial akan menyebabkan stress. Hal ini menimbulkan penyimpangan perilaku berupa harga diri rendah.

Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi secara :

1.

Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena

sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).

Pada klien yang dirawat dapat terjadi HDR, karena :

Privacy yang kurang diperhatikan. Misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal).

Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.

Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai misalnya

berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan. 2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Akibat yang terjadi bila harga diri rendah berlanjut (kronis) adalah :

Klien akan mengisolasi diri dari lingkungan dan menghindar dari orang lain, atau keramaian, yang pada akhirnya klien akan menarik diri.

HDR kronis yang berlangsung lama (berkepanjangan) tanpa adanya intervensi yang terapeutik dapat menyebabkan terjadinya depersonalisasi kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak kedalam kematangan aspek psikososial kepribadian.

Pada masa dewasa yang harmonis. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistik dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Faktor predisposisi terjadinya HDR adalah penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik. Sedangkan faktor pencetus /precipitasi HDR adalah trauma seperti penganiayaan sexual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, kehilangan bagian tubuh, perubahan aturan bentuk penampilan, serta adanya

kegagalan yang mengakibatkan produktifitas menurun. Tanda dan gejala :

Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)

Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)

Gangguan hubungan sosial (menarik diri)

Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)

Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang

suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999) Sedangkan menurut Stuart dan Sunden (1998), perilaku yang berhubungan dengan HDR adalah seperti tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada klien antara lain :

Mengkritik diri sendiri dan orang lain

Penurunan produktifitas

Destruktif yang diarahkan pada orang lain

gangguan dalam berlebihan

Perasan tidak mampu

Rasa bersalah

Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan

Perasaan tidak mampu

Rasa bersalah

Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan

Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri

Ketegangan peran yang dirasakan

Pandangan hidup yang pesimis

Pandangan hidup yang bertentangan

Penolakan terhadap kemampuan personal

Destruktif terhadap diri sendiri

Pengurungan diri

Menarik diri secara sosial dan dari realitas

Penyalahgunaan zat

III. A. Pohon Masalah

efek ← perubahan penampilan peran

Core problem ← Gangguan harga diri : Harga diri rendah →

isolasi sosial :

menarik diri

Causa ← ggn. citra tubuh

ideal diri

tidak realistik

koping tidak

efektif

ggn. sensori persepsi Halusinasi

resiko perilaku

kekerasan

resiko mencederai diri dan orang lain

B. Masalah Keperawatan

C. DATA Yang Perlu Dikaji

Wawancara

Gangguan harga diri : HDR

Perubahan penampilan peran

Gangguan citra tubuh

Ideal diri tidak realistis

Koping tidak efektif

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan sensori persepsi : Halusinasi

Resiko perilaku kekerasan

Resiko mencederai diri dan orang lain

o

Kaji tentang harapan orang tua terhadap klien

o

Kaji tentang keinginan/cita-cita harapan hidup klien

o

Kaji riwayat penganiayaan sexual/psikologis & hal-hal yang

mengancam kehidupan

o

Gali riwayat kegagalan

o

Kaji kemungkinan klien mendengar suara-suara, melihat benda, dll (halusinasi)

o

Kaji ungkapan rasa keputusasaan

o

Kaji ungkapan kata-kata pesimis, kritik terhadap diri

Pemeriksaan fisik dan observasi

o

Tidak ada kontak mata, selalu menundukan kepala

o

Berdiam diri di kamar, menyendiri

o

Menolak diajak berbincang-bincang

o

Posisi tidur janin

o

Respon terhadap stimulus melambat

o

Pasif, apatis

o

Lebih banyak tidur, menyendiri

o

Pakaian kotor, tidak rapi

o

Kurang perawatan diri

o

Menolak untuk makan

o

rambut kusut, kotor, dan berbau tidak sedap

o

Mudah tersinggung, jengkel

o

Perubahan dalam pola tanggung jawab

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Perubahan penampilan peran s.d harga diri rendah

Gangguan harga diri : HDR s.d gangguan citra tubuh

Kerusakan hubungan sosial : menarik diri s.d harga diri rendah

Gangguan sensori persepsi : Halusinasi s.d menarik diri

Resiko mencederai diri dan orang lain s.d perilaku kekerasan

Resiko perilaku kekerasan s.d Halusinasi

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, BA. 1999. Gangguan Konsep Diri pada Klien Gangguan fisik di Rumah Sakit Umum. Jakarta : FIK UI Maramis, WF. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press. Stuart & Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC. Towsend, MC. 1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatrik :

Pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta : EGC.