Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN Y DENGAN CKD DI POLI PENYAKIT DALAM RSUP DR SARDJITO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Laboratorium Klinik Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah I

Disusun oleh:
Rosy Azizah Rizki NIM. P07120111032

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2012

LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN Y DENGAN CKD DI POLI PENYAKIT DALAM RSUP DR SARDJITO

telah disahkan pada, Hari, tanggal Waktu Tempat : : : Poli penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan

Pembimbing Pendidikan

Sulaminah, AMK

Ns. Harmilah, SPd, M.Kep, Sp. MB

BAB I DASAR TEORI


A. Pengertian Chronic Kidney Disease (CKD) / CRF merupakan gangguan ginjal yang progresif dan irreversibel di mana kemampuan tubuh gagal untuk

mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah Gagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan

penurunanfungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut,hal ini terjadi bila laju filtrasi glomerular kurang dari 50 mL/min. (Suyono, etal, 2001)

B. Etiologi CKD / CRF dapat disebabkan oleh: 1. Infeksi: pielonefritis kronis 2. Penyakit peradangan: glumerulonefritis 3. Penyakit vaskuler hipertensif: nefrosklerosis benigna dan maligna, stenosis arteri renalis 4. Gangguan jaringan penyambung: SLE, Poli arteritis nodusa,Sklerosis sistemik progresif 5. Gangguan kengenital dan herediter: Penyakit ginjal polikistik, Asidosis tubuler ginjal 6. Penyakit metabolic: DM, Gout, Hiperparatiroidisme, Amiloidosis 7. Nefropati obstruktif a. Saluran kemih bag atas; kalkuli, neoplasma, fibrosis b. Saluran kemih bag bawah; Hipertrofi prostate,striktur Uretra

C. Klasifikasi Secara umun perjalanan umum GGK melalui 3 stadium: 1. Stadium I : Penurunan cadangan ginjal

Kreatinin serum dan kadar BUN normal Asimptomatik

Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR 2. Stadium II : Insufisiensi ginjal

Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet) Kadar kreatinin serum meningkat Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan) 3. Stadium III : gagal ginjal stadium akhir atau uremia

kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit air kemih/urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010

Menurut GFR (glomerulo filtrasi rate) Stage 1 2 3 4 5 Gambaran kerusakan ginjal Normal atau elevated GFR Mild decrease in GFR Moderate decrease in GFR Severe decrease in GFR Requires dialysis GFR (ml/min/1,73 m2) 90 60-89 30-59 15-29 15

D. Tanda dan Gejala 1. Sindrom uremia : fatigue, anoreksia, mual-muntah, nokturia, kelebihan volume cairan (edema kelopak mata, paru, dan tungkai), neuropati perifer, pruritus, bau nafas uremik, perikarditis, kejang, koma. 2. Gejala komplikasi : hipertensi, anemia, gagal jantung, asidosis metabolik, osteomalasia, gangguan keseimbangan elektrolit Gejala kerusakan nefron: 1. Kadar Kreatinin dan Ureum meningkat nafas bau amonia 2. Penurunan Ca, P di tulang osteomalasia, fraktur 3. Hipokalsemia rasa kesemutan, terbakar 4. Penimbunan Na volume ekstrasel meningkat, TD naik. 5. Produksi eritroprotein menurun anemia. 6. Kehilangan kemampuan menghasilkan urin yang konsentrat poliuria, nokturia.

E. Patofisiologi umum GGK Hipotesis Bricker (hipotesis nefron yang utuh) Bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal

F. Manifestasi klinik 1. Kelainan kardiovaskuler a. Hipertensi

b. Gagal jantung atau udema paru c. Pericarditis/pericard effuse d. Percepatan athero sclerosis e. Aritmia 2. Gastro Intestinal: a. Anorexia , hicthcup, b. Mual, muntah, stomatitis c. Uremik fetor (bau kencing) d. Gastro enteritis e. Ulcus peptikum f. Perdarahan gastro intestinal

g. Konstipasi dan diare 3. Integumen a. Warna kulit abu-abu mengkilat,hiperpigmentasi b. Kulit kering bersisik c. Pruritus d. Ekimosis, pallor e. Uremic frost 4. Pulmoner a. Krekels b. Sputum kental dan liat c. Nafas dangkal d. Pernafasan kusmoul 5. Neurologi a. Kelemahan dan keletihan b. Konfusi, sulit tidur c. Disorientasi, sulit konsentrasi d. Kejang, sakit kepala, seizures, coma e. Kelemahan pada tungkai f. Perubahan prilaku

6. Muskuloskeletal a. Osteodistropy, nyeri tulang, nyeri persendian b. Ketidakseimbangan kalsium/phospat c. Proximal myopathy

d. Hiperparatiroid bone deases 7. Perubahan hormon dan metabolic a. Aminore, penurunan kesuburan,libido b. Atrofi testikuler c. Gangguan hrmon pertumbuhan d. Intoleransi glukosa 8. Kelainan mata a. Visus hilang b. Red eye syndrome 9. Hematologi a. Anemia b. peningkatan kerusakan cel darah merah c. gangguan pembekuan/fibrinlisis d. masa perdarahan memanjang 10. Kekebalan tubuh a. Penurunan respon kekebalan b. Sangat lemah terhadap infeksi c. Fungsi cell darah putih terganggu

G. Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan Urin Warna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein, sedimen, SDM, keton,SDP, TKK/CCT 2. Laboratorium darah BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat), Hematologi (Hb, trombosit,Ht, Leukosit), protein, antibody (kehilangan protein dan immunoglobulin) 3. Pemeriksaan EKG Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia,dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia) 4. Pemeriksaan USG Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkimginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemihserta prostate

5. Pemeriksaan Radiologi Renogram, Intravenous Pyelography untuk menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter, Retrograde Pyelography dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversibel, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaanrontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen 6. Biopsi ginjal Mungkin dilakukan secara endoskopi untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histologis 7. Endoskopi ginjal nefroskopi Dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal ; keluar batu, hematuriadan pengangkatan tumor selektif H. Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Intervensi diit. Protein dibatasi karena urea, asam urat dan asam organik merupakan hasil pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada klirens renal. Protein yang dikonsumsi harus bernilai biologis (produk susu, telur, daging) di mana makanan tersebut dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel. Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam. Kalori untuk mencegah kelemahan dari KH dan lemak. Pemberian vitamin juga penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air melalui darah sewaktu dialisa.

Hipertensi ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskule. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu

pembatasan cairan, diit rendah natrium, diuretik, digitalis atau dobitamine dan dialisis. Asidosis metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu penanganan, namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis. Anemia pada CKD ditangani dengan epogen (erytropoitin manusia rekombinan). Anemia pada pasaien (Hmt < 30%) muncul tanpa gejala spesifik seperti malaise, keletihan umum dan penurunan toleransi aktivitas. Abnormalitas neurologi dapat terjadi seperti kedutan, sakit kepala, dellirium atau aktivitas kejang. Pasien dilindungi dari kejang. Pada prinsipnya penatalaksanaan Terdiri dari tiga tahap : Penatalaksanaan konservatif : Pengaturan diet protein, kalium, natrium,cairan Terapi simptomatik : Suplemen alkali, transfusi, obat-obat local&sistemik, antihipertensi Terapi pengganti : HD, CAPD, transplantasi I. Komplikasi 1. Hiperkalemia: akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diit berlebih. 2. Perikarditis : Efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat. 3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem reninangiotensin-aldosteron. 4. Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah. 5. Penyakit tulang serta kalsifikasi akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum rendah, metabolisme vitamin D dan peningkatan kadar aluminium. 6. Asidosis metabolic, Osteodistropi ginjal 7. Sepsis, Neuropati perifer, Hiperuremia J. Pengkajian 1. Aktivitas / istirahat

Gejala

: Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise, gangguan tidur

(insomnia / gelisah atau somnolen) Tanda 2. Sirkulasi Gejala : riwayat hipertensi lama, atau berat, palpitasi, nyeri dada (angina) Tanda : Hipertensi, nadi kuat,edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak,tangan, disritmia jantung. Nadi lemah halus,hipotensi ortostatik menunjukan hipovolemia, pucat, kecenderungan perdarahan. 3. Integritas ego Gejala : Factor stress, contoh financial, hubungan dan sebagainya, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan. Tanda : Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian 4. Eliminasi Gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare, atau konstipasi. Tanda : Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, cokelat,berawan, oliguria, dapat menjadi anuria. 5. Makanan/ cairan Gejala : Peningkatan berat badan cepat (edema), penuruna berat badan (malnutrisi), anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap di mulut (pernapasan amonia), penggunaan diuretic Tanda : Distensi abdomen / asites, pembesaran hati,, perubahan turgor kulit / kelembaban, edema (umum,tergantung), ulserasi gusi, perdarahan gusi / lidah, penurunan oto, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga. 6. Neurosensori Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, sindrom kaki gelisah, Tanda : Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkosentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma, rambut tipis, kuku rapuh dan tipis. 7. Nyeri / kenyamanan : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak

Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot/nyeri kaki (memburuk saat malam hari) Tanda : Perilaku berhati-hati/ distraksi, gelisah. 8. Pernapasan Gejala : napas pendek ; dispnea nocturnal paroksimal ; batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak. Tanda : Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman (pernapasan kusmaul), batuk produktif dengan sputum merah muda encer (edema paru). 9. Keamanan Gejala : Kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi Tanda : Pruritus, demam,(sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara actual terjdai peningkatan pada pasie yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal., petechie, 10. Seksualitas Gejala : Penurunan libido ; amenorea ; infertilitas 11. Interaksi social Gejala : kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankn fungsi peran biasanya dalam keluarga. 12. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : riwayat DM keluarga (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis herediter,kalkulus urinaria, malignasi, riwayat terpajan oleh toksin, contoh, obat, racun lingkungan

K. Diagnosa Keperawatan 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium. 2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia,retensi produk sampah dan prosedur dialysis 4. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan pada citra diri dan disfungsi seksual.

5. Kurang

pengetahuan b.d

tentang

kondisi,

prognosis kurang

dan

kebutuhan mis

pengobatan

keterbatasan

kognitif,

terpajan,

intepretasiinformasi L. Perencanaan 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium. Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan Kriteria Hasil : a. Hasil laboratorium mendekati normal b. BB stabil c. Tanda vital dalam batas normal d. Tidak ada edema e. Input dan output cairan seimbang Intervensi a. Kaji status cairan ; timbang berat badan,keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit dan adanya edema, distensi vena leher,tekanan darah, denyut dan irama nadi. R: pengkajian merupakan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi. b. Batasi masukan cairan R: pembatasan cairan akan menentuka berat tubuh ideal, haluaran urin,dan respon terhadap terapi. c. Identifikasi sumber potensial cairan ; medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan oral dan intravena, makanan. R: sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. d. Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan R:pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan. e. Beritahu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat

pembatasan cairan R: kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap

pembatasan diet.

f.

Tingkatkan dan dorong hygiene oral dengan sering R: hygiene oral mengurangi kekeringan membrane mukosa mulut.

2. Perubahan

nutrisi:

kurang

dari

kebutuhan

berhubungan

dengan

anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut. Tujuan : mempertahankan status nutrisi adekuat Kriteria hasil : berat badan stabil, tidak ditemukan edema, albumin dalam batas normal. Intervensi a. Kaji status nutrisi ; perubahan berat badan, nilai laboratorium BUN,Kreatinin. R: Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi b. Kaji pola diet nutrisi pasien ; riwayat diet, makanan kesukaan, hitung kalori. R: pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu. a. Kaji factor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi ; anoreksia, mual atau muntah, diet yang tidak menyenangkan bagi pasien, depresi,kurang memahami pembatasn diet,stomatitis. R: menyediakan informasi mengenai faktro lain yang dapat dirubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan oral. b. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet. R: Mendorong peningkatan masukan diet c. Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi telur, produk susu, daging. R: protein lengkapdiberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan. c. Anjurkan camilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium diantara waktu makan.

R: Mengurangimakanan dan protein yang dibatasi dan menyediakan kalori untuk energy, membagi protein untuk pertumbuhan dan penyembuhan jaringan. d. Jelaskan rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan penyakit ginjal dan peningkatan urea dan kadar kreatinin. R:Meningkatkan pemahaman pasien tentang hubungan antara diet, urea,kadar kreatinin dengan penyakit renal. e. Ubah jadwal medikasi sehingga medikasi ini tidak segera diberikan sebelum makan R: Ingesti medikasi sebelum makan menyebabkan anoreksia dan rasa kenyang. f. Sediakan daftar makanan yang dianjurkan secara tertulis dan anjuran untuk memperbaiki rasa tanpa menggunakan natrium atau kalium. R:Daftar yang dibuat menyediakan pendekatan positif terhadap pembatasan diet dan merupakan referensi untuk pasien dan keluarga yang dapat digunakan dirumah. g. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan R: Faktor yang tidak menyenangkan yang berperan dalam

menimbulkan anoreksia dihilangkan. h. Timbang berat badan harian R: Untuk memantau status cairan dan nutrisi.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia,retensi produk sampah danprosedur dialisis Tujuan: Berpartisipasi dalam dalam aktivitas yang dapat ditoleransi. Intervensi: a. Kaji factor yang menimbulkan keletihan ; anemia,ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,retensi produk sampah,depresi. R: Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan. b. Tingkatkan kemndirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi ; bantu jika keletihan terjadi. R: Meningkatkan aktivitas ringan / sedang dan memperbaiki harga diri. c. Anjurkan aktivitas alternative sambil istirahat.

R: Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat. d. Anjurkan untuk istirahat setelah dialisis R: Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialysis, yang bagi banyak paisen sangat melelahkan.

4. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan pada citra diri dan disfungsi seksual. Tujuan: Memperbaiki konsep diri Intervensi: a. Kaji respons dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganan. R: Menyediakan data tentang masalah pada pasien dan keluarga dalam menghadapi perubahan perubahan dalam hidup. b. Kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga terdekat. R: Penguatan dan dukungan terhadap pasien diidentifikasi c. Kaji pola koping pasien dan anggota keluarga R: Pola koping yang telah efektif dimasa lalu mungkin potensial destrukstif ketika memandang pembatasan yan ditetapkan akibat penyakit dan penanganan. d. Ciptakan diskusi terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganan ; perubahan peran, perubahan gaya hidup, perubahan dalam pekerjaan, perubahan sekual, ketergantungan pada tim tenaga kesehatan R: Pasien dapat mengidentifikasi masalah dan langkah- langkah yang diperlukan untuk menghadapinya. e. Gali cara alternative untuk ekspresi seksual lain selain hubungan seksual. R: Bentuk alternative ekspresi seksual dapat diterima. f. Diskusikan peran memberi dan menerima cinta, kehangatan, dan kemesraan. R: Seksualitas mempunyai arti yang berbeda bagi tiap individu, tergantung pada tahap maturitansnya.

5. Kurang pengetahuan tentang

kondisi, dan program penanganan

berhungan dengan kurang informasi. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang bersangkutan. Intervensi: a. Kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal, konsekuensinya, dan penanganannya ; penyebab gagal ginjal pasien, pengertian gagal ginjal, pemahaman mengenai fungsi renal, hubungan antara cairan, pembatasan diet dengan gagal ginjal, rasional penanganan

(hemodialisis, dialysis peritoneal, transplantasi) R: Merupakan instruksi dasar untuk penjelasan dan penyuluhan lebih lanjut. b. Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar R: Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penaganan setelah mereka siap untuk memahami dan menerima diagnosis dan konsekuensinya. c. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang

mempengaruhi hidupnya. R: Pasien dapa melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit. d. Sediakan informasi baik tertulis maupun secara oral dengan tepat tentang ; fungsi dan kegagalan renal, pembatasan cairan dan diet, medikasi, melaporkan masalah, tanda dan gejala, jadwal tindak lanjut, sumber di komunitas, pilihan terapi. R: Pasien memiliki informasi yang dapat digunakan untuk klarifikasi selanjutnya di rumah.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges E, Marilynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC Long, B C. 1996. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 1995 Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

BAB II TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian Tanggal Pengkajian Jam Oleh Metode : 20 November 2012 : 09.00 WIB : Rosy Azizah Rizki : Observasi, wawancara, pemeriksaan fisik dan studi dokumen Sumber : Klien, keluarga klien, buku status klien dan tim kesehatan

1. Identitas a. Pasien 1) Nama 2) Tempat, tanggal lahir 3) Jenis kelamin 4) Agama 5) Status perkawinan 6) Pendidikan 7) Pekerjaan 8) Suku 9) Alamat : Bp. Y : Gunung kidul, 9 Juli 1982 (30 tahun) : Laki-laki : Islam : Kawin : SMA : Buruh : Jawa : Sembuku RT 01 RW 04 Dadapayu, Semanu, Gunung Kidul DIY 10) Dx Medis 11) Dx Medis lain 12) No. CM 13) Tanggal masuk : CKD st V : anemia, hipertensi st.II, CHF : 1 59 97 02 : 20 November 2012

b. Keluarga/ Penanggung jawab 1) Nama 2) Umur 3) Pendidikan : Bp.N : 32 tahun : SMA

4) Pekerjaan 5) Alamat

: buruh : Sembuku RT 01 RW 04 Dadapayu, Semanu, Gunung Kidul DIY

6) Hubungan

: teman

2. Riwayat kesehatan a. Kesehatan pasien 1) Riwayat kesehatan sekarang Klien datang ke rumah sakit untuk kontrol setelah diopname satu minggu sebelumnya. Klien mengatakan sudah tidak ada keluhan. 2) Riwayat kesehatan yang lalu (a) Penyakit yang pernah diderita Pada waktu SMA klien pernah di opname di rumah sakit karena sakit typhus. Pada bulan September 2012 klien merasa pandangan matanya kabur dan mudah lelah untuk aktivitas biasa seperti berjalan dan naik tangga. Kemudian kontrol ke rumah sakit di Wonosari. Saat itu tekanan darah klien yaitu 200/100 mmHg. Klien tidak pernah memeriksa tekanan darah sebelumnya sehingga tidak tahu berapa tekanan darah biasanya. Lalu klien dirujuk ke poli mata RSUP DR.Sardjito, oleh poli mata dirujuk ke poli penyakit dalam. Setelah periksa di poli penyakit dalam, barulah diketahui bahwa klien menderita penyakit gagal ginjal st 5. (b) Tindakan atau operasi yang pernah dijalani Klien opname di RSUP DR.Sardjito pada tanggal 7-14 November 2012 karena merasa sesak nafas, batuk, pinggang terasa pegal, pusing dan mual. Setelah masuk IGD klien ditransfusi darah sebanyak 3 kolf karena Hb nya rendah. Selama klien opname, klien telah melakukan hemodialisa sebanyak dua kali sehingga sampai sekarang klien rutin melakukan cuci darah seminggu sekali pada hari sabtu.

b. Kesehatan keluarga 1) Genogram

Keterangan: : Laki-laki

: Perempuan

: Klien

: Keluarga yang menderita penyakit serupa _ _ _ _ _: Keluarga yang tinggal serumah

2) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien menyatakan, ibu klien menderita hipertensi. Ibu klien menderita hipertensi merupakan keturunan juga. Tetapi klien tidak mengetahui dari siapa hipertensi diturunkan kepada ibunya. Selain ibu klien yang menderita hipertensi, tidak ada riwayat penyakit lain di keluarga klien.

3. Pola kebiasaan pasien a. Aspek fisik biologis 1) Pola nutrisi (a) Sebelum sakit

Klien menyatakan bahwa klien makan tiga kali sehari, pagi, siang dan sore. Makanan pokok klien nasi. Klien memiliki makanan pantangan yaitu belalang karena menyebabkan gatal-gatal. Selain itu klien tidak punya makanan pantangan, sehingga bisa makan dengan bebas. Klien tidak mengkonsumsi suplemen tambahan dan vitamin. Intake cairan klien yaitu kurang lebih 8 gelas (1600 cc) per hari, klien biasa minum air putih. (b) Selama sakit Klien menyatakan saat ini nafsu makannya baik-baik saja, tetapi terbebani oleh banyaknya pantangan sehingga masukan makanan sedikit berkurang. Nafsu makannya berkurang ketika awal sakit bulan September karena mual. Klien memiliki makanan pantangan dari dokter yaitu melon, rambutan, pisang, jeruk, tempe, tahu, kacang-kacangan dan makanan yang asin. Klien menyatakan dirinya tidak memiliki gangguan menelan dan mengunyah. Klien tidak menggunakan alat bantu untuk makan. Klien menyatakan

mengalami penurunan berat badan sekitar 3 kg dalam waktu 2 minggu di awal September. Klien menyatakan, masukan cairan klien dibatasi yaitu tiga gelas per hari atau maksimal 800 ml per hari. Klien biasa minum air putih. Klien hanya minum ketika akan minum obat, karena tidak bisa minum obat tanpa air. Klien menyatakan sebenarnya agak keberatan minumnya dibatasi, karena ia cepat merasa haus terlebih apabila setelah makan tidak minum rasanya tidak nyaman dan mulut terasa kering. 2) Pola eliminasi (a) Sebelum sakit Klien mengatakan bahwa buang air kecil dan besar klien lancar. Klien buang air besar 1 kali sehari. Klien buang air kecil kurang lebih 6 kali sehari (1200 cc). Klien tidak sering buang air kecil pada malam hari (hanya kadang-kadang). Klien tidak pernah memakai obat pencahar. (b) Selama sakit

Klien mengatakan bahwa tidak ada masalah dalam buang air besar. Klien menyatakan bahwa buang air kecil 4 kali/24 jam (500 cc) berwarna jernih, volumenya sedikit karena masukannya juga sedikit. Klien sering berkemih pada malam hari sebelum melakukan hemodialisa, tetapi setelah melakukan hemodialisa klien jarang berkemih pada malam hari. Klien tidak menggunakan alat bantu untuk berkemih.

3) Pola aktivitas-istirahat (a) Sebelum sakit (1) Keadaan aktivitas sehari- hari Kegiatan sehari-hari klien adalah bekerja. Pekerjaan klien yaitu buruh harian lepas. Klien terkadang bekerja di sawah dan sebagai sopir. Klien jarang berolahraga. Klien tidak

menggunakan alat bantu untuk aktivitas sehari-hari. Klien melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. (2) Keadaan pernapasan Sebelum sakit, klien merokok. Klien tidak memakai obatobatan untuk melancarkan pernapasan. Klien tidak melakukan latihan pernapasan dan tidak alergi terhadap debu. (3) Keadaan kardiovaskuler Klien tidak cepat lelah. Klien tidak sering terkejut dan tidak berdebar-debar. Klien tidak menggunakan alat pacu jantung. (4) Kebutuhan tidur Klien tidur pukul 20.00 sampai 04.00 dan dapat tidur dengan nyenyak. Klien jarang terbangun untuk buang air kecil di malam hari. Klien tidak pernah tidur siang. Klien menyukai suasana tenang dan remang-remang. Klien tidak pernah menggunakan obat tidur. (b) Selama sakit (1) Keadaan aktivitas Klien melakukan aktivitas seperti biasa namun intensitasnya tidak seperti sebelum sakit. (2) Keadaan pernapasan

Saat ini klien tidak memiliki gangguan pernapasan namun apabila klien tidak melakukan hemodialisa maka klien akan mengalami sesak nafas.. Klien berhenti merokok sejak sakit. (3) Keadaan kardiovaskuler Saat ini klien tidak mengalami berdebar-debar, pusing, rasa berat di dada dan tidak mengalami nyeri dada namun apabila klien tidak melakukan hemodialisa maka klien merasa mudah lelah, lemas dan tidak nyaman dalam beraktivitas. (4) Kebutuhan tidur Klien mengatakan sekarang tidak ada gangguan dalam memenuhi kebutuhan tidur. Sejak melakukan hemodialisa, dirinya jarang terbangun di malam hari untuk buang air kecil. 4) Kebersihan diri (a) Kebersihan diri Klien mandi dua kali sehari menggunakan sabun. Kilen biasa mandi pada pagi dan sore hari. Pada sore hari klien mandi menggunakan air hangat. (b) Rambut Klien mencuci rambut seminggu dua kali menggunakan shampo. Klien menyisir rambut setiap hari. Klien menyatakan kadang mengalami gatal- gatal pada kulit kepala. (c) Telinga Klien menyatakan biasanya membersihkan telinga satu kali dalam seminggu. (d) Mata Klien menyatakan tidak menggunakan alat bantu untuk melihat dan tidak mengalami gangguan pada mata. (e) Mulut Klien menggosok gigi menggunakan pasta gigi 2 kali sehari setelah mandi. (f) Kuku/kaki Klien memotong kuku semiinggu sekali menggunakan pemotong kuku. Klien menyatakan tidak pernah mengalami gangguan pada kuku.

b. Aspek mental-intelektual-sosial-spiritual 1) Konsep diri a) Gambaran diri : klien menyadari bahwa dirinya baru menjalani pengobatan karena sedang sakit. Klien menerima kondisi yang telah terjadi pada dirinya. b) Identitas diri : klien mengatakan bahwa dirinya seorang laki-laki, yang mempunyai 1 orang anak. c) Harga diri dirinya. d) Peran diri : Klien menyatakan sedih karena menderita penyakit : klien menyatakan keluarganya sangat menghargai

gagal ginjal yang mengganggu aktivitasnya untuk mencari nafkah karena jadi tidak bisa bekerja terlalu lelah dan menghabiskan waktu untuk cuci darah dan kontrol setiap minggunya e) Ideal diri 2) Intelektual Klien menyatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan tidak tahu penyebabnya. Ketika ditanya, klien kurang tahu mengapa cairan dibatasi dan banyak makanan pantangan. Klien menyatakan tidak pernah mendapat informasi jelas tentang penyakitnya 3) Hubungan interpersonal (a) Sebelum sakit Hubungan interpersonal klien dengan lingkungannya baik. (b) Selama sakit Hubungan klien dengan anggota keluarga baik. Hubungan klien dengan tim kesehatan juga baik. Klien sangat kooperatif dan taat akan instruksi dokter. 4) Mekanisme koping Klien selalu berusaha dan berdoa untuk mengatasi masalah yang dialaminya. Walaupun rumahnya jauh dari RSUP Dr. Sardjito dan harus menginap sore hari sebelumnya, klien tetap berusaha untuk kontrol setelah dirawat di rumah sakit. 5) Support sistem Klien mendapat support penuh dari keluarganya untuk sembuh. Teman klien menyatakan istri klien sangat mendukung kesembuhannya, : klien mengatakan ingin cepat sembuh dari penyakitnya..

namun tidak dapat mengantarkan berobat karena mengurus anaknya. Klien berobat dengan diantar oleh temannya, karena harus menginap sehari sebelumnya. Klien berobat dengan mendapat jaminan dari jamkesmas, namun untuk transportasi yang jauh ke rumah sakit kadang-kadang klien tidak memiliki uang sehingga meminjam dari temannya. 6) Aspek mental- emosional Klien berkonsentrasi saat ditanya. Klien dapat berbicara dengan baik dan menjawab pertanyaan dengan baik. 7. Hubungan sosial (a) Hubungan komunikasi Klien mampu untuk bicara dengan baik. (b) Faktor kultural Klien merupakan seorang bapak yang harus menafkahi keluarga. Klien tetap bekerja walaupun membatasi diri agar tidak mudah lelah. (c) Tingkat ketergantungan Klien mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri. Tetapi untuk mengantarkan berobat ia bergantung bantuan temannya.

4. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan Umum 1) Kesadaran 2) Status gizi TB BB IMT 3) Tanda-tanda vital Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu : 140/90 mmHg : 80 x per menit : 18 x per menit : 36,2 oC : 161 cm : 57 kg : 21,9 : Composmentis

b. Pemeriksaan secara sistematik

1) Kepala Inspeksi luka 2) Rambut Inspeksi 3) Muka Inspeksi 4) Mata Inspeksi palpebra 5) Hidung dan sinus Inspeksi : Pernapasan 18x per menit, tidak ada pernapasan cuping : Konjungtiva pucat, mata simetris, tidak ada udem : Bentuk simetris, tidak ada pigmentasi : Hitam beruban, lurus, agak rapi dan bersih. : Bentuk kepala klien lonjong, kulit kepala kering, tidak ada

hidung, bentuk hidung simetris tidak ada secret yang keluar dari hidung, fungsi pembauan baik. 6) Bibir Inspeksi 7) Mulut Inspeksi 8) Leher Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pembesaran tiroid, tidak ada : Bersih, tidak bau urea : tampak kering, tidak sianosis

pembesaran kelenjar getah bening dan tidak ada pembesaran tonsil. 9) Kulit a. Inspeksi : tidak ada sianosis, warna kulit gelap b. Palpasi : hangat, tidak ada udem dan tidak ada penurunan turgor,

capilary reffil <2 detik 10) Jari dan kuku Inspeksi 11) Thoraks a. Inspeksi : Bentuk dada simetris, ekspansi dada simetris, pola napas tak ada kelainan, tidak batuk, tidak ada kelainan bentuk dada, tidak ada penggunaan otot-otot pernapasan tambahan. Ukuran dada transversal: antero posterior 1:2. b. Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa maupun : Tidak ada sianosis, tidak ada clubbing finger, bersih.

peradangan, ekspansi dada simetris. Heart rate 80 x per menit.

c. Perkusi

Suara resonan pada interkosta 1-3 dada kiri Suara dullness pada interkosta 4-6 dada kiri d. Auskultasi : Terdengar suara vesikuler. Suara jantung S1 dan S2 reguler. 12) Abdomen a. Inspeksi : Perut tidak membesar dan simetris, vena-vena tidak membesar, warna kulit sawo matang, tidak ada kelainan kulit, tidak ada benjolan. b. Auskultasi : peristaltik usus terdengar 7 x/menit c. Perkusi : Terdengar suara tympani pada empat kuadran, blunt

percussion tidak ada nyeri d. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa dan peradangan.

13) Ekstremitas atas a. Inspeksi : Tidak terpasang infus, anggota gerak lengkap, tidak ada sianosis, capilary refill tidak lebih dari 2 detik. Ekstremitas atas dapat digerakkan dengan baik. b. Palpasi : Tidak ada edema pada ekstremitas atas. Turgor kulit

ekstremitas baik. 14) Ekstremitas bawah a. Inspeksi : Anggota gerak lengkap, dapat digerakan, Tidak ada edema pada telapak kaki. b. Palpasi : tidak ada edema pada kedua kaki, turgor kulit baik.

5. Pengobatan yang didapat saat ini Furosemid 1-0-0 CaCO3 3x1 Asam folat 3x1 Captopril 3x 25 mg Amlodipin 1x 10 mg

6. Pemeriksaan yang pernah dilakukan dan hasilnya Pemeriksaan tanggal 14 November 2012 Komponen HB Leukosit (AL) Limfosit Monosit Eosinofil Basofil Trombosit (AT) Hematokrit Ureum darah Kreatinin darah Cholesterol Na K Cl Albumin MCV 8,1% 12 juta/ul 13,2% 7,3% 5,2% 0,2% 157 ribu/ul 22,6% 47 mg/dl 7,9 mg/dl 129 mg/dl 137 mmol/l 2,7 mmol/l 104 mmol/l 3,39 g/L 81,9 fl Hasil Nilai normal L=13-17% Dewasa=4-10 anak=9-12 20-40 2-8 1-3 0-1 150-450 L=42-52 P=36-46 17-43 L=0.9-1.3 P=0.6-1.1 <220 135-148 3.5-5.3 98-107 37-52 80-96

Analisa data No 1 DO a. Konjunctiva pucat b. Pemberian diuretik. c. Ureum 47 mg/dl d. kreatinin 7,9 mg/dl e. Tekanan darah mmHg DS a. klien menyatakan masukan cairan klien dibatasi yaitu tiga : 140/90 Kelebihan volume cairan Kegagalan mekanisme regulasi Data Masalah Penyebab

gelas per hari atau maksimal 800 ml per hari b. Klien menyatakan bahwa buang air kecil 4 kali/24 jam (500 cc) berwarna jernih, volumenya sedikit karena masukannya juga sedikit. c. Klien menyatakan sebenarnya agak keberatan minumnya dibatasi, karena ia cepat merasa haus terlebih apabila setelah makan tidak minum rasanya tidak nyaman dan mulut terasa kering. 2 DO a. Konjungtiva pucat b. Albumin 3,39 g/L c. HB 8,1% DS a. Klien menyatakan saat ini nafsu makannya baik-baik saja, tetapi terbebani oleh banyaknya pantangan sehingga masukan makanan sedikit berkurang b. Klien memiliki makanan pantangan dari dokter yaitu melon, rambutan, pisang, jeruk, tempe, tahu, kacangkacangan dan makanan yang asin c. Klien menyatakan mengalami penurunan berat badan Ketidakseimbangan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh Pembatasan diet

sekitar 3 kg dalam waktu 2 minggu di awal September. 3. DO: a. Tekanan darah : 140/90 mmHg b. HB 8,1% DS: a. Klien bekerja menyatakan tetap

walaupun

membatasi diri agar tidak mudah lelah. b. Klien menyatakan melakukan aktivitas seperti biasa namun intensitasnya tidak seperti sebelum sakit c. Klien menyatakan apabila klien tidak melakukan hemodialisa maka klien merasa mudah lelah, lemas dan tidak nyaman dalam beraktivitas. 4 DO: Untuk klien mengantarkan bergantung berobat bantuan Intoleran aktivitas Keletihan

temannya. DS: a. Klien menyatakan berobat dengan mendapat jaminan dari jamkesmas, namun untuk transportasi yang jauh ke rumah sakit kadang-kadang klien tidak memiliki uang sehingga meminjam dari Gangguan harga diri Ketergantungan

temannya b. Klien menyatakan sedih karena menderita penyakit gagal ginjal yang mengganggu aktivitasnya untuk mencari nafkah karena jadi tidak bisa bekerja terlalu lelah dan menghabiskan waktu untuk cuci darah dan kontrol setiap minggunya 5 DO: Ketika ditanya, klien kurang tahu mengapa cairan dibatasi dan banyak makanan pantangan DS: a. Klien menyatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan tidak tahu penyebabnya. b. Klien menyatakan tidak pernah mendapat informasi jelas tentang penyakitnya Kurang pengetahuan Kurang terpapar informasi

B. Diagnosa Keperawatan 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Kegagalan mekanisme regulasi, ditandai dengan: DO a. Konjunctiva pucat b. Pemberian diuretik. c. Ureum 47 mg/dl d. kreatinin 7,9 mg/dl e. Tekanan darah DS : 140/90 mmHg

a. klien menyatakan masukan cairan klien dibatasi yaitu tiga gelas per hari atau maksimal 800 ml per hari b. Klien menyatakan bahwa buang air kecil 4 kali/24 jam (500 cc) berwarna jernih, volumenya sedikit karena masukannya juga sedikit. c. Klien menyatakan sebenarnya agak keberatan minumnya dibatasi, karena ia cepat merasa haus terlebih apabila setelah makan tidak minum rasanya tidak nyaman dan mulut terasa kering.

2. Ketidakseimbangan nutrisi:kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembatasan diet, ditandai dengan: DO a. Konjungtiva pucat b. Albumin 3,39 g/L c. HB 8,1% DS a. Klien menyatakan saat ini nafsu makannya baik-baik saja, tetapi terbebani oleh banyaknya pantangan sehingga masukan makanan sedikit berkurang b. Klien memiliki makanan pantangan dari dokter yaitu melon, rambutan, pisang, jeruk, tempe, tahu, kacang-kacangan dan makanan yang asin c. Klien menyatakan mengalami penurunan berat badan sekitar 3 kg dalam waktu 2 minggu di awal September.

3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan, ditandai dengan: DO: a. Tekanan darah b. HB 8,1% DS: a. Klien menyatakan tetap bekerja walaupun membatasi diri agar tidak mudah lelah. b. Klien menyatakan melakukan aktivitas seperti biasa namun intensitasnya tidak seperti sebelum sakit : 140/90 mmHg

c. Klien menyatakan apabila klien tidak melakukan hemodialisa maka klien merasa mudah lelah, lemas dan tidak nyaman dalam beraktivitas.

4. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, ditandai dengan: DO: Untuk mengantarkan berobat klien bergantung bantuan temannya. DS: a. Klien menyatakan berobat dengan mendapat jaminan dari jamkesmas, namun untuk transportasi yang jauh ke rumah sakit kadang-kadang klien tidak memiliki uang sehingga meminjam dari temannya b. Klien menyatakan sedih karena menderita penyakit gagal ginjal yang mengganggu aktivitasnya untuk mencari nafkah karena jadi tidak bisa bekerja terlalu lelah dan menghabiskan waktu untuk cuci darah dan kontrol setiap minggunya

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi, ditandai dengan: DO: Ketika ditanya, klien kurang tahu mengapa cairan dibatasi dan banyak makanan pantangan DS: a. Klien menyatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan tidak tahu penyebabnya. b. Klien menyatakan tidak pernah mendapat informasi jelas tentang penyakitnya.