Anda di halaman 1dari 9

Asuhan keperawatan

A. Asuhan Keperawatan Kanker Kandung Kemih Kanker kandung kemih adalah suatu infiltrasi sel-sel ganas di dinding atau di dalam lapisan kandung kemih. 1. Etiologi Penyebab pasti masih belum diketahui, 80% dari kasus kanker kandung kemih berhubungan dengan paparan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa kanker kandung kemih secara potensial dapat dicegah. Merokok adalah faktor resiko yang paling sering dikaitkan den menyumbang sekitar 50% dari semua penyebab kanker kandung kemih. Nitrosamine, 2-naphthylamine, dan 4aminobiphenyl adalah agen karsinogenik yang mungkin ditemukan dalam asap rokok. Kanker kandung kemih juga berhubungan dengan paparan industri untuk amina aromatik dipewarna, cat, pelarut, debu, tinta, produk pembakaran, karet, dan tekstil. Oleh karena itu, pekerjaan yang memiliki resiko lebih tinggi terkait dengan kandung kemih adalah pelukis, mengemudi truk, dan bekerja dengan logam. Pasien dengan cedera tulang belakang yang memiliki kateter jangka panjang memiliki peningkatan resiko 20 kali lipat dalam pengembangan kanker kandung kemih. Pasien dengan paparan radiasi dari pelvis memiliki peningkatan resiko kandung kemih. Kemotrapi dengan siklofosfamid meningkatkan resiko kanker kandung kemih melalui paparan akrolein, suatu metabolit urin siklofosfamid. Konsumsi kopi tidak meningkatkan resiko kanker kandung kemih. Suatu studi pada tikus dan studi manusia menyebutkan koneksi yang lemah antara pemanis buatan (misalnya: sakarin, siklamat) dan kanker kandung kemih, namun studi terbaru tidak menunjukkan korelasi yang signifikan.

Meskipun tidak ada bukti yang meyakinkan ada untuk faktor keturunan dalam perkembangan kanker kandung kemih, kelompok keluarga kanker kandung kemih telah dilaporkan. Beberapa mutasi genetic telah diidentifikasi pada kanker kandung kemih.

2. Patofisiologi

Faktor-faktor resiko lingkungan dan meransang pertumbuhan sel

Pertumbuhan sel-sel baru pada jaringan kandung kemih

Proliferasi sel meningkat cepat Kerusakan struktur fungsional kandung kemih

Intervensi medis intravesical immunotherapy

3. Pengkajian Keluhan yang paling lazim didapatkan adalah adanya darah pada urine (hematuria). Hematuria mungkindapat dilihat dengan mata telanjang (gross), tetapi mungkin pula hanya terlihat dengan bantuan mikroskop (mikroskopis). Hematurian biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Keluhan lainnnya meliputi sering BAK dan nyeri saat BAK (disuria). Pasien dengan penyakit lanjut dapat hadir dengan nyeri panggul atau tulang, edema ekstremitas bawah dari kompresi korpus iliaka, atau nyeri panggul dari obstruksi saluran kemih. Superfisial kanker kandung kemih jarang ditemukan selama pemeriksaan fisik. Kadeng-kadang, massa abdomen atau pelvis dapat teraba. Periksa untuk limfadenopati. 4. Pengkajian diagnostic a. Laboratorium Urinalisis. Pemeriksaan mikroskopis didapatkan adanya darah dalam urine. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan sel-sel darah merah. Kultur urine untuk mendeteksi adanya ISK. Hb menurun karena kehilangan darah, infeksi, uremia, leukositosis, Acid phospatase meningkat, ACTH meningkat, Alkaline phosphatase meningkat, SGPT-SGOT meningkat.

b. USG

Sebelum pemeriksaan, pasien dipuasakan untuk meminimalkan gas di usus yang dapat menghalangi pemeriksaan. Pemeriksaan usg merupakan pemeriksaan yang tidak invasif yang dapat menilai bentuk dan kelainan dari buli.

c. Radiologi 1. IVP menunjukkan adanya massa pada buli 2. Fractionated cystogram adanya invasi tumor dalam dinding buli-buli 3. CT-Scan untuk menilai besar dan letak tumor

d. Sistokopi dan Biopsi Sistoskop hampir selalu menghasilkan tumor.

e. Sitologi Pengecatan Dalam Media Sieman/Papanicelaou Pada Sedimen Urine Terdapat Transionil Sel Daripada Tumor.

5. Pengkajian Penatalaksanaan Medis a. Pengobatan o Intravesical immunotherapy (Bacillus Calmette-Guerin [BCG] immunotherapy) o Intravesical kemoterapi o Kemoterapi Ajuvan o Terapi Radiasi

b. Intervensi Bedah 1. Terapi Endoskopik 2. Radikal Kistektomi a) Panggul Limfadenektomi. Setelah Melakukan Kistektomi, Sebuah Pengalihan Kemih Harus Dibuat Dari Segmen Usus. b) Conduit (Pengalihan): Conduits Dapat Di Bangun Baik Dari Ileum Atau Usus Besar. c) Kantong Indiana d) Neobladder

DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. Perubahan eliminasi urine b.d peradangan kandung kemih, pasca-diversi urine. 2. Nyeri b.d respons inflamansi kandung kemih, kerusakan jaringan pasca-bedah. 3. Risiko tinggi infeksi b.d penurunan imunitas pasca-kemoterapi dan radiasi, port de entree luka pasca bedah. 4. Kerusakan integritas kulit b.d pasca bedah, adanya stoma. 5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d asupan yang kurang, peningkatan metabolisme, mual muntah. 6. Kecemasan b.d tindakan invasif diagnostik, intervensi medik, rencana bedah. 7. Pemenuhan informasi b.d tindakan diagnostik invasif, intervensi kemoterapi, radiasi dan pembedahan, adanya stoma, perencanaan pasien pulang. 8. Koping maladaptif b.d intervensi pengobatan kanker.

9. Berduka disfungsional b.d peubahan anatomis seksual.

RENCANA KEPERAWATAN Untuk intervensi pada masalah pemenuhan informasi, ketidakseimbangan nutrisi, perubahan pola miksi, dan kecemasan dapat disesuaikan dengan masalah yang sama pada pasien batu ginjal. Sementara itu, untuk intervensi pada masalah keperawatan resiko tinggi infeksi, dapat disesuaikan dengan masalah yang sama pada pasien trauma ginjal.

Perubahan eliminasi urine b.d peradangan kandung kemih, pasca-diversi urine. Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam pola eliminasi urine membaik. KH : Secara objektif berpartisipasi dalam aktivitas yang berhubungan dengan perawatan stoma. Intervensi Kaji kemampuan partisipasi pasien dan keluarga. Lakukan dan ajarkan cara perawatan ostomi. Rasional Menjadi data dasar dalam memberikan informasi. Pasca bedah dengan stoma yang ada, maka pasien atau keluarga perlu diajak dalam berpartisipasi meningkat. Mencegah iritasi pada kulit daerah sekitar ostomi. Mengembangkan teknik yang benar. agar kemandirian

Pasang alat ostomi yang tepat ukuran.

Bantu pasien melakukan perawatan

ostomi secara mandiri. Mengembangkan

Pantau proses penyembuhan luka insisi pada ostomi.

intervensi

dini

terhadap kemungkinan komplikasi. Menurunkan kecemasan dan ketakutan terhadap kemampuan beradaptasi.

Anjurkan seseorang ostomi.

klien yang telah

mengunjungi mengalami

Sarankan

klien

untuk

mencegah

Menurunkan risiko infeksi.

kontak urine dengan kulit, untuk mencegah iritasi kulit akibat diversi urine. Bersihkan stoma dengan sabun dan air lalu dikeringkan pada setiap penggantian kantong urine. Memberi kesempatan dan penguatan terhaadap prosedur mengganti kantong dan mengevaluasi stoma. Siapkan endoskopi. klien dan bantu prosedur Intervensi prosedur endo-urologi untuk menghilangkan.

Ganti

kantung

ostomi

sesuai

kebutuhan.

Risiko tinggi b.d penurunan imunitas pascakemoterapi dan radiasi, port de entree luka pasca bedah Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam tidak terjadi infeksi. KH : TTV normal, tidak ada tanda dan gejala ISK Intervensi Gunakan sabun antimikrobal untuk cuci tangan. Pertahankan intake cairan adekuat. Meningkatkan aliran urine. Rasional Mencegah ttransmisi organisme.

Ajarkan klien cuci tangan.

Memberikan informasi tentang personal higiene.

Ajarkan klien tentang gejala dan tanda infeksi, serta anjurkan untuk

Memberikan info untuk meningkatkan kepatuhan.

melaporkannya. Ajarkan klien dan keluarga untuk sering mengalirkan kantong untuk mencegah refluks. Kaji jenis pembedahan, hari pembedahan, dan apakah adanya order khusus dari tim dokter bedah dalam melakukan perawatan luka. Lakukan mobilisasi miring kiri-kanan tiap 2 jam. Lakukan perawatan luka: Lakukan perawatan luka steril pada hari ketiga operasi dan diulang setiap dua hari sekali. Perawatan luka sebaiknya tidak setiap hari untuk menurunkan kontak Mencegah penekanan setempat yang Mengidentifikasi penyimpangan diharapkan. dari kemajuan tujuan atau yang Dapat mencegah infeksi.

berlanjut pada nekrosis jaringan lunak.

tindakan dengan luka yang dalam kondisi steril sehingga mencegah

kontaminasi kuman ke luka bedah. Bersihkan antiseptik Pembersihan debris dan kuman sekitar luka kelebihan dengan dari mengoptimalkan iodine providum

luka jenis

dengan iodine

cairan providum

dengan cara swabbing dari arah dalam ke luar.

sebagai antiseptik dan dengan arah dari dalam keluar dapat mencegah

kontaminasi kuman ke jaringan luka. Bersihkan bekas sisa iodine providum dengan alkohol 70% atau normal saline dengan cara swabbing dari arah dalam Antiseptik mempunyai

iodine

providum kelemahan

dalammenurunkan proses epitelisasi

ke luar.

jaringan

sehingga luka, dengan

memperlambat maka alkohol harus atau

pertumbuhan dibersihkan normal saline. Tutup luka dengan kasa steril dan tutup dengan plester adhesif yang

Penutupan secara menyeluruh dapat menghindari kontaminasi dari benda atau udara yang bersentuhan dengan luka bedah.

menyeluruh menutupi kasa.

(Muttaqin,arif. 2011.asuhan keperawatan gangguan system perkemihan.jakarta. Halaman : 215222)