Anda di halaman 1dari 4

Leukemia Limfoblastik Akut Definisi Leukemia Limfositik Akut (LLA) adalah suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana

selsel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. Sel-sel yang belum matang, yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit, berubah menjadi ganas. Sel leukemik ini tertimbun di sumsum tulang, lalu menghancurkan dan menggantikan selsel yang menghasilkan sel darah yang normal. Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke hati, limpa, kelenjar getah bening, otak, ginjal dan organ reproduksi; dimana mereka melanjutkan pertumbuhannya dan membelah diri. Sel kanker bisa mengiritasi selaput otak, menyebabkan meningitis dan bisa menyebabkan anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya. Klasifikasi Klasifikasi dapat dilakukan berdasarkan morfologi atau petanda imunologik. Kelompok French American British (FAB) mensubklasifikasikan ALL menjadi tiga sub tipe 1. tipe L1 memperlihatkan adanya sel blast kecil yang seragam dengan sitoplasma yang sedikit 2. tipe L2 terdiri dari sel blast yang berukuran lebih besar dengan anak inti dan sitoplasma yang lebih jelas dan lebih heterogen 3. blas L3 besar dengan anak inti yang jelas, sitoplasma yang sangat basofilik, dan vakuol sitoplasma petanda imunologik pada ALL adalah sebagai berikut 1. prekusor ALL-B :CD19+, CD22+ sitoplasma dan TdT+ 2. ALL-T yang memperlihatkan adanya antigen sel T 3. ALL-B yang memperlihatkan adanya imunoglobin permukaan dan TdT-

Insidens ALL adalah bentuk leukemia yang paling lazim dijumpai pada anak-anak, insidens tertinggi terdapat pada usia 3-7 tahun, dan menurun pada usia 10 tahun. Tipe prekusor B yang lazim dijumpai(CD10+), paling sering ditemukan pada anak dan mempunyai insidens yang sama untuk kedua jenis kelamin. Terdapat predominasi pria yang menderita ALL-T. Frekuensi kejadian ALL lebih rendah setelah usia 10 tahun dengan peningkatan sekunder setelah usia 40 tahun Etiologi Sebagian besar kasus tampaknya tidak memiliki penyebab yang pasti. Radiasi, bahan racun (misalnya benzena) dan beberapa obat kemoterapi diduga berperan dalam terjadinya leukemia. Kelainan kromosom juga memegang peranan dalam terjadinya leukemia akut. Faktor resiko untuk leukemia akut adalah: - sindroma Down - memiliki kakak/adik yang menderita leukemia - pemaparan oleh radiasi (penyinaran), bahan kimia dan obat. Gejala klinis Gejala yang khas ialah pucat, panas dan perdarahan disertai splenomegali dan kadangkadang hepatomegali serta limfadenopati. Penderita yang menderita gejala lengkap seperti yang telah disebutkan, secara klinis dapat didiagnosis leukemia. Pucat dapat terjadi mendadak, sehingga bila seorang anak terdapat pucat yang mendadak dan sebab terjadinya sukar diterangkan, waspadalah terhadap leukemia. Perdarahan dapat berupa ekimosis, peteki, epistaksis, perdarahan gusi, dsb. Pada stadium permulaan mungkin tidak terdapat splenomegali. Gejala yang tidak khas ialah sakit sendi atau sakit tulang yang dapat disalahtafsirkan sebagai penyakit rematik. Gejala lain dapat timbul sebagai akibat infiltrasi sel leukemia pada alat tubuh, seperti lesi purpura pada kulit, efusi pleura, kejang pada leukemia serebral,dsb Pemeriksaan laboratorium

1. darah tepi Gejala yang terlihat pada darah tepi sebenarnya berdasarkan pada kelainan sumsum tulang yaitu berupa pansitopenia, limfositosis yang kadang-kadang menyebabkan gambaran darah tepi monoton dan terdapatnya blast. Terdapatnya sel blast dalam darah tepi merupakan gejala patognomonik untuk leukemia. 2. sumsum tulang Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoietik patologis sedangkan sistem lain terdesak. Pemeriksaan lain 1. biopsi limpa 2. kimia darah 3. cairan serebrospinalis 4. sitogenetik Diagnosa Pemeriksaan darah rutin (misalnya hitung jenis darah komplit) bisa memberikan bukti bahwa seseorang menderita leukemia. Jumlah total sel darah putih bisa berkurang, normal ataupun bertambah; tetapi jumlah sel darah merah dan trombosit hampir selalu berkurang. Sel darah putih yang belum matang (sel blast) terlihat di dalam contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop. Biopsi sumsum tulang hampir selalu dilakukan untuk memperkuat diagnosis dan menentukan jenis leukemia. Pengobatan * Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang. * Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan:

- transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia - transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan - antibiotik untuk mengatasi infeksi. * Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. * Untuk mengatasi sel leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak. * Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. * Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. * Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi penyinaran. Prognosis Prognosis LLA pada anak-anak, lebih dari 95% terjadi remisi sempurna. Kira-kira 7080% dari pasien bebas gejala selama 5 tahun. Apabila terjadi relaps, remisi sempurna kedua dapat terjadi pada sebagian besar kasus. Para pasien ini merupakan kandidat untuk transplantasi sumsum tulang, dengan 35-65% kemungkinan hidup lebih lama