Anda di halaman 1dari 9

CHAPTER 3

ETIKA PRINSIP, TES CEPAT DAN PETUNJUK


PENGAMBILAN KEPUTUSAN

3.1 KRITERIA KEPUTUSAN UNTUK ALASAN ETIKA

Dalam pengambilan keputusan di banyak perusahaan multinasional umumnya


menggunakan tenaga yang telah terlatih sebelumnya, agar keputusan yang dihasilkan
tepat sasaran dan efektif. Di dalam dunia bisnis, banyak situasi yang biasanya timbul
yang sifatnya komplikatif. Di dalam kondisi seperti ini, pengambil keputusan biasanya
mengamati terlebih dahululingkungan bisnis adalah pemasarannya, sebelum membuat
keputusan yang mendukung tujuan pengembangan perusahaan.

Tipe-tipe Etika :
- Langkah I
Menggambarkan dilemma yang dialami banyak professional berdasarkan
pengalaman. Di situasi bagaimana ? siapa yang mengambil keputusan ? kenapa ?
apa yang terjadi ? bagaimana tindakan anda ? apa yang seharusnya anda tidak
lakukan ? menggambarkan proses alasan, laksanakan atau tidak dilaksanakan, apa
tindakan alternative anda ? apa hasilnya ?
- Langkah II
Membaca deskripsi tentang relativitas, keadilan, kebenaran, universitas dan moral
dalam mengambil keputusan. Menjelaskan prinsip-prinsip yang terbaik, kemudia
menganalisis, beraksi berdasarkan petunjuk dari langkah pertama.
- Langkah III
Dimana anda memperoleh alasan dan beraksi, atas prinsip etika sebelumnya dan
setelah anda mempelajari dilemanya ?
- Langkah IV
Setelah membaca bab 3, apakah anda mempunyai solusi lain atas dilemma yang
dialami ?

Pada bab sebelumnya, telah dijelaskan bahwa para pemegang saham belum
mengambil keputusan, terlebih dulu berkonsultasi dengan para pelaksana operasional,
manajer, lingkungan luar yang berkepentingan terhadap perusahaan. Kemudian
memutuskan aturan-aturan yang akan digunakan. Ketika para pembuat keputusan
menyangkut pautkan dengan kondisi bisnis maka keputussan tersebut akan mendukung
langkah perusahaan.

Pada bab ini terdapat 12 perbedaan yang dikembangkan oleh Laura Mash dimana
pertanyaan ini berkaitan erat dengan moral para pengambil keputusan yang telah
dikembangkan beberapa tahun sebelumnya :

1. sudahkah anda menilai-nilai masalah secara akurat.


2. bagaimana anda dapat mengambil keputusan atas masalah yang dihadapi jika
anda dalam posisi tersebut.
3. bagaimana situasi ini menempatkan anda pada posisi pertama.
4. untuk siapa dan bagaimana anda memberikan kesetiaan anda sebagai salah
satu pegawai pada perusahaan tersebut.
5. pendekatan apa yang anda lakukan dalam mengambil keputusan
6. bagaimana anda membandingkan dengan kemungkinan hasil yang lain.
7. siapa yang menjadi penilai dalam keputusan yang anda buat.
8. dapatkah anda berdiskusi mengenai masalah yang dialami sebelum anda
membuat keputusan.
9. apakah anda percaya diri atas keputusan yang anda buat, dan akankah
kebearannya berlaku di masa depan seperti yang terjadi di saat ini.
10. dapatkah anda mempertanggung jawabkan di depan manajemen, CEO,
pemegang saham, keluarga, lingkungan sosial mengenai keputusan yang anda
buat.
11. apakah anda mengerti dan memahami keputusan yang anda buat? Dan
bagaimana jika anda tidak mengerti.
12. dalam kondisi apa anda menggunakan keputusan anda tersebut.

Keduabelas pertanyaan ini dapat menolong individu maupun organisasi sekaligus


mempertanggung jawabkan dan mengembangkan etika dalam keputusan.
Dinegara eropa tengah, kekuatan tawar menawar dalam proses pengambilan
keputusan dapat berlangsung secara seimbang, sehingga menjadi kiblat dunia dalam
buku-buku teori pengambilan keputusan.

Tiga kriteria alasan-alasan :


1. Alasan moral harus logis, asumsi dan kenyataan, keduanya sangat Faktual dan
saling bergantung. Digunakan dalam menilai keputusan yang sifatnya
Eksplisit.
2. keputusan Faktual dapat mendukung perorangan maupun organisasi dalam
menilai keputusan secara akurat, Relevan dan komplit.
3. standar etika yang digunakan orang atau organisasi harus konsisten. Kapan
terjadi ketidak konsistenan maka argument tentang eika standar akan
terbentahkan.
Tanggung jawab moral :
Seseorang dikatakan memiliki tanggung jawab moral ketika:
1. Mereka yang mengetahui atau mengalami atas kejadian dimana mereka
harus membuat keputusan berdasarkan moral atas kejadian yang mereka
alami.
2. mereka mengtahui dan merasa terlibat ketika mereka mendapati orang
atau organisasi yang melakukan kesalahan.

Kedua kondisi iniakan menunjukkan tingkat moral seseorang walaupun sebenarnya


belum ada ukuran baku mengenai moral sehingga hanya didasarkan atas tingkah laku dan
keseharian organisasi atau perorangan. Informasi dan teknologi masih sangat banyak
dalam perkembangan etika berpikir, mengambil keputusan yang dibawakan oleh banyak
mentor dalam hal pengembangan SDM yang menggunakan system terpadu yang merujuk
pada banyak asumsi.
3.2 ETIKA RELATIF, PENDEKATAN SECARA PRIBADI-PRIBADI

Etika ini menggunakan standar yang universal serta aturan yang digunakan dalam
membimbing atau mengevaluais mengenai moralitas, mana yang benar atau mana yang
salah anda tentukan sendiri. Sehingga dapat dikatakan metode relative sangat naïf.
Bagaimanapun etikka dan kebudayaan kita selama ini mempertunjukkan kemalasan
individu yang justru membuat orang kurang percaya tanpa bicara. Seperti contoh:
apa yang saya percaya? Yang mana kebenaran relative? Siapa yang memutuskan dan
ruang lingkupnya sampai dimana? Prakteknya, etika relative sangat komplikatif karma
situasi ini mengandung toleransi keragu-raguan permissive. Bagaimanapun saran ini
sangat Fisibel, sensitive terhadap individu dan budaya moral yang berbeda di setiap
Negara.

Etika Relative Dan Analisis Pemegang Saham


Adapun pertanyaan tentang analisis tersebut yang dapat dikembangkan oleh perusahaan
dan individu adalah :
1. apakah anda mempercayai prinsip yang didasarkan atas isu yang dilemparkan
pemegang Saham dalam situasi tertentu.
2. Apakah anda mempercayai Moral dan prinsip dalam membuat keputusan.
3. Kepada siapa anda mempertanggungjawabkan Prinsip ketika keputusan yang
anda buat ditolak? Kenapa?
4. bagaimana mungkin anda dapat meningkatkan produksi perusahaan jika
terjadi konflik moral.

3.3 PENDEKATAN BERDASARKAN KONSEKUENSI HASIL

Jeremy Benthana (1748-1832) dan Jhon Stuart Mill (1806-1873) adalah penemu dari
konsep Utilittarisme. Walaupun Variasinya banyak dikembangkan sekolah beberapa abad
setelah mereka wafat, namun dasar konsep ini tetap eksis di era Global sekarang ini.
Konsep Utilitarisme mengandung beberapa pertanyaan :
1. Tindakan moral yang benar yang digunakan dalam memproduksi barang dan jasa
untuk mendukung jumlah penduduk Dunia yang terus meningkat.
2. Tindakan Moral yang benar dapat meningkatkan keuntungan terhadap biaya yang
dikeluarkan daripada keuntungan semua kemungkinan pilihan yang ada di Dunia
ini.
3. Tindakan moral sekarang dan masa depan secara langsung ataupun tidak langsung
akan memberikan keuntungan yang jauh lebih besar untuk setiap Individu, dan
keuntungan ini dapat digunakan pada berbagai alternative.

Konsep Utilitarisme tidak selamanya mengandung keuntungan, tapi ada beberapa


problem yang dihadapi dalam menghadapi konsep ini :
1. Tidak ada pejanjian kesepakatan mengenai Devinisi barang secara maksimal yang
kemungkinan, barang berarti kebenaran, kesehatan, perdamaian, keuntungan,
kesenangan, biaya penyusutan atau keamanan Negara
2. Tidak ada kesepakatan mengenai siapa yang memutuskan.
3. kebenaran atas kesalahan tindakan mereka tidak dapat di Nilai, namun itu adalah
konsekuensi
4. bagaimanapun Harga dan keuntungan dan nonmaterial seperti kesehatan,
keamanan, kesejahteraan masyarakat? Merupakan nilai materi yang tidak dapat di
ukur
5. prinsip Utiltarisme tidak menyangkut Individu. Ini bisa berarti Kolektive, Selisih,
perkiraan jumlah barang ketika mereka menilai dari sebuah keputusan
6. prinsip keadilan dan kebenaran ditolak oleh kaum Utilitarisme. Mereka
menganggap prinsip tersebut berlaku untuk distribusi barang dan bukan dalam hal
pengambilan keputusan melainkan keuntungan secara Kolektive.

3.4 KESATUAN : PENDEKATAN DEONOKOLIGAL

Imanuel Khan adalah salah satu dari penemu prinsip Universalitas atau kesatuan,
Atau yang sering disebut Etika Deonokoligal. Walaupun begitu pendekatan ini
berdasarkan atas prinsip Universalitas seperti keadilan, kebenaran, kejujuran dan saling
menghormati. Tidak seperti Utilitarisme, perinsip ini sangat berbeda jauh karena
mengatasnamakan penghormatan antar sesama.
Khan mengkategorikan para pengambil keputusan kedalam mereka-mereka yang
bertanggung jawab atas kesejahteraan manusia. Para pengambil keputusan juga harus
mengedepankan prinsip keadilan sebagai salah satu dasar yang diterapkan pada setiap
Individu.
Bagaimanapun Khan mengingatkan setiap Individu harus mengedepankan rasa
kemanusiaan diatas segalanya. Namun beberapa Individu yang menjadi pemimpin Dunia
menganggap ini sebagai dilemma. Para pesaing, competitor, konsumen, pegawai,
pemasok, pemilih dan media serta Publik menganggap hal tersebut sulit diterapkan
setelah persaingan Global diberlakukan.
Ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan etika Universalitas:
1. Identifikasi setiap Individu sebagai kelompok dan kemakmuran
serta Resiko pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan.
2. mengidentifikasi kebutuhan setiap Individu, pilihan informasi yang
mereka butuhkan untuk melindungi kemakmuran mereka
3. mengelompokkan setiap manipulasi yang terjadi yang dapat
merugikan para pengambil kebijakan
4. Sikap saling menghormati dan saling memperdulikan antar individu
yang diterapkan disetiap pengambilan keputusan.
5. bertanya ketika kebijakan yang diterapkan oleh Individu tidak
Kompetibel dengan lingkungan sekitar.
6. Dibeberapa situasi yang sama ketika memutuskan sesuatu yang
didasarkan atas kebijakan yang prinsipel harus sejalan dengan
kebijakan pemerintah.
3.5 PENDEKATAN ENTITLEMEN

Kebijakan moral yang didasarkan atas keputusan yang Legal dan sifatnya prinsipel
dapat digunakan oleh perusahaan sebagi dasar pengambilan keputusan
Adapun batasan-batasan atas Entitlemen Prinsip adalah :
1. setiap Individu dapat menggunakan kebijakan yang sifatnya Populis namun harus
jauh dari sifat dasar manusia Yaitu Keras kepala, saling mengakui kepemilikan
orang lain tanpa rasa saling menghormati
2. sikap proteksi dapat menjadi senjata yang ampuh untuk mencegah terjadinya
Klaim-klaim, diskriminasi yang saling menjatuhkan
3. Adapun batasannya yang kemudian menjadi pertanyaan, itu menjadi Tugas
pemerintah untuk bertanggung jawab kepada Publik.

Beberapa petunjuk untuk mengamati dasar prinsip ini adalah :


1. mengelompokkan setiap Individu kedalam kebijakan yang Partikuler atas aksi
mereka.
2. mereka mengelompokkan atas kebijakan yang Legal maupun tidak Legal yang
menjadi dasar pengambilan keputusan Organisasi.
3. Menilai moral dari prinsip Individu yang banyak diterapkan oleh banyak
kebijakan Publik atau Umum.

3.6 KEADILAN : PROSEDUR, KOMPENSASI DAN RETRIBUSI

Prinsip keadilan yang didasarkan atas dasar kesamaan banyak digunakan


Perusahaan untuk mengambil kebijakan popular.
Jhon Rawls (1971) yang menjadi penemu dari Filosofi yang berdasarkan keadilan
mengelompokkan kedalam dua prinsip keadilan :
1. setiap pribadi memiliki hak yang sama di berbagi Lini Kehidupan
2. sosial dan ekonomi adalah kelompok yang paling banyak mendapat kelakuan
yang berdasarkan prinsip keadilan yang menunjang terjadinya persaingan secara
Sehat.

Dilain pihak ada beberapa Ahli yang mengelompokkan tipe-tipe keadilan, salah
satunya adalah Richard De George mengelompokkan kedalam Empat tipe :
1. kompensasi keadilan untuk orang yang medapat ketidak adilan.
2. Keadilan yang berarti menjatuhkan hukuman bagi yang bersalah dan
memberikan Haknya kepada yang berhak
3. keadilan yang berarti distribusi pendapatan harus diterapkan oleh para
pengambil keputusan
4. prosedur keadilan yang diterapkan harus berdasar pada peraturan pemerintah.
keempat tipe tersebut merupakan prinsip dasar dari keadilan, bagaimanapun mereka
menerapkan tipe-tipe tersebut tetap saja pemerintah yang memegang kendali.

Hak Kekuatan, dan Transformasi Keadilan

Hak ditambah kekuatan sama dengan Transformasi keadilan. Hal tersebut


dikemukakan oleh T. Mc Mahon, sementara kekuatan alam yang menjadi dasar keadilan.
Pada dasarnya, yang memberi penilaian adalah institusi yang ditunjuk oleh lembaga
pemerintahan seperti pengadilan.
T. Mc Mahon mengelompokkan penyebaran kekuatan antara lain : otorisasi, kontrak,
kompetisi dan menempatkan manipulasi sebagai hal pembanding.
Adapun T. Mc. Mahon mengelompokkan penyebaran kekuatan :

1. Keadilan atas Hak dan kekuatan


2. Jika penyebaran kekuatan tidak menyebar secara merata maka akan timbul
salah satu pihak yang menjadi dominant atas salah satu pihak lainnya, oleh
karena itu T. Mc. Mahon menyarankan agar keduanya dapat berjalan secara
seimbang dengan Kontrol penuh dari penguasa.

Dibawah ini ada beberapa prinsip keadilan yang dapat diterapkan berdasarkan
pertanyaan yang timbul, yaitu :
1. bagaimana penyebaran antara keuntungan dan biaya, kesenangan dan
penderitaan, hadiah dan hukuman terhadap setiap individu yang menjadi
bagian dari perusahaan.
2. Bagaimana prosedur penyebaran biaya dan keuntungan yang tentu saja
merupakan akibat dari para pembuat kebijakan
3. Bagaimana menentukan biaya dari sebuah keputusan yang diambil.

3.7 TIDAK BERMORAL DAN MANAJEMEN MORAL

Manajemen yang tidak bermoral dapat terjadi ketika pemilik atau penyelia /
supervisor dan manajemen berbuat hal-hal yang negatif tanpa memandang perlunya
pengembangan perusahaan kearah positif, serikat pekerja dan para pemegang saham
memandang perlunya aturan yang jelas untuk menghadapi kompetisi global yang akan
menyeret setiap negara maupun organisasi kedalam persaingan yang ketat.
Sedangkan manajemen yang bermoral yang dikembangkan oleh T.McMahon
menyarankan kepada setiap pemilik, CEO, eksekutif, serikat pekerja untuk berkompetisi
secara adil dan tetap menjunjung asas saling menghormati walaupun tujuan utamanya
adalah mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya. Ini sangat mendukung tujuan dan
obsesi para manajer, pemilik, pekerja sehingga terjadi lingkungan bisnis yang sehat baik
secara keuangan maupun operasional. Dalam hal ini anda bertanggung jawab secara
moral kepada diri sendiri maupun kepada tuhan.
3.8 4 KRITERIA TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Gambar ini mengilustrasikan mengenai tujuan tanggung jawab sosial mengenai


perusahaan.
Tujuan
Model Model
Pihak-pihak yang berkepentingan Pemegang Saham

Pendekatan pribadi
2
Produktifitas progresif

Tanggung jawab moral 4


Philanthrophy etika idialisme

Keempat tipe diatas menggambarkan bahwa apabila terjadi perubahan demography


wilayah dan kependidikan, karakteristik dari tempat kerja, kebijakan dan prosedur yang
dikeluarkan oleh pemilik perusahaan harus diikuti dengan membuat kebijakan yang
mendukung bisnis perusahaan dengan mengedepankan tanggung jawab sosial dimana
perusahaan itu berdiri.
Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan tujuan sosial yang menggunakan dana
sosial milik perusahaan dan tidak ada sangkut pautnya dengan keuntungan. Pada akhirnya
etika-etika yang didasarkan atas idealisme sosial menjadi landasan pengembangan
tanggung jawab sosial perusahaan meskipun banyak tipe lain namun tipe seperti ini yang
banyak digunakan diseluruh dunia.
Tentu saja kalangan dunia bisnis memandang hal ini sebagai suatu sumbangsih nyata
untuk lingkungan sosial dimana bisnis mereka berada.

3.9 MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN


INDIVIDUALISME

Individualis adalah gaya alami yang berkembang yang berkembang di negara


kapitalis yang tidak memandang adanya tanggung jawab sosial. Moral individualis
cenderung kepada alasan tingkah laku sebelum beraksi. Individualis memandang
pekerjaan sosial adalah pekerjaan pemerintah seutuhnya. Individualis juga menggandeng
sikap fragmatis yang didasarkan pada moral dan motivasi untuk pencapaian keuntungan
sehingga kurang memandang lingkungan sekitar. Banyak momen yang terjadi dimana
aturan, nilai dan concern terhadap yang lain, fakta dan situasi yang terjadi sangat
signifikan terhadap prinsip nilai dari tindakan bisnis perusahaan.
Bab ini juga membahas idealisme yang menjadi penggerak dari prinsip, aturan dan
nilai dari sebuah hubungan atau konsekuensi atas aksi yang tidak didasarkan atas
penggantian sebuah idealisme prinsip
Kebanyakan orang yang memiliki standar moral yang tinggi, sikap idealisme-nya
juga bersifat fleksibel sehingga gampang menyesuaikan dengan lingkungan.

Komunikasi Dan Negosiasi Yang Melintasi Gaya Etika

Ketika anda bekerja dengan menggunakan komunikasi yang didasarkan atas gaya
etika, anda juga harus mengamati gaya bicara lawan anda. krolick mengelompokkan 4
tipe negosiasi untuk bekerja sama dengan orang lain. Adapun ke-4 tipe tersebut :
1. individual : hanya mementingkan kepentingan diri sendiri
2. idealis : berusaha mempertahankan prinsipnya sendiri
3. fragmatis : selalu bertindak berdasarkan apa yang diyakininya
4. altruist : fokus akan keuntungan atas apa yang dikerjakannya
mempelajari komunikasi dengan orang lain, kita harus bersikap fleksibel untuk
mengakomodasi tanpa rasa ketakutan akan dijatuhkan oleh saingan bisnis anda.

3.10 TES CEPAT

Pengusaha dapat menggunakan metode ini sebelum membuat keputusan, banyak


aturan dari metode ini yang didasarkan pada prinsip berdiskusi jika pengamatan di
lapangan dapat mengubah tindakan yang otomatis akan menghilangkan dilema yang
dihadapi dalam dunia bisnis.
Banyak metode tes cepat yang digunakan oleh kalangan bisnis sebelum membuat
keputusan, antara lain :
1. aturan emas : menyangkut pengetahuan bisnis anda
2. ide-ide cemerlang : ketika anda berfikir bahwa keputusan yang benar anda
ambil karena seseorang dengan pengetahuan yang lebih tinggi dari pada anda
3. etika berdasarkan cita rasa : ketika anda bertindak, maka anda harus siap atas
segala resiko ? berfikir sebelum bertindak.

Kebanyakan dari prinsip diatas menjadi petunjuk atau motivasi dari pemegang saham,
pembuat aturan dari pengambil keputusan untuk bertindak dalam hal pengembangan
perusahaan.

3.11 KESIMPULAN

Individual sebagai pemegang saham memiliki prinsip yang luas, tujuan, es cepat
berdasarkan kenyataan di lapangan sebelum mengambil tindakan.
Di banyak situasi bisnis banyak pengambil keputusan yang menjadi pemeran kunci
selain para manajer dan pemilik.

Ringkasan
1. banyak perjanjian bisnis yang gagal hanya karena para manajernya tidak
memiliki pendirian
2. sikap perspektif tidak dapat digunakan untuk menjadi acuan dalam proses
pengambilan keputusan
3. etika, moral, prinsip dapat dijadikan alat untuk mengevaluasi setiap individu
atau organisasi sekaligus menjadi penilai bagi mereka
4. tanggung jawab sosial perusahaan merupakan tindakan perusahaan yang tidak
berorientasi keuntungan
5. metode dan prinsip adalah isu dasar yang menjadi motivasi atau pendorong
pihak manajemen untuk mengembangkan perusahaan kearah yang lebih baik