Anda di halaman 1dari 62

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masyarakat Indonesia cenderung memiliki pendapatan yang rendah sedangkan pengeluaran untuk konsumsi sehari-hari mereka cukup tinggi, sehingga menyebabkan banyaknya masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan. Hal ini sebenarnya bukan hanya disebabkan oleh mahalnya harga kebutuhan tetapi juga karena gaya hidup masyarakat sendiri. Gaya hidup masyarakat Indonesia yang suka mencontoh pula konsumsi di negara maju membuat jumlah pengeluaran dan pendapatan mereka menjadi tak seimbang. Gaya hidup seperti ini serupa dengan teori James Dussenberry (1994) yang mengemukakan bahwa orang yang berpendapatan lebih rendah akan meniru pola konsumsi orang yang

berpendapatan lebih tinggi di sekelilingnya. Namun tidak semua masyarakat Indonesia berperilaku seperti itu. Sebagian masyarakat Indonesia ada pula yang pengeluaran rumah tangganya disesuaikan degan pendapatan mereka. Pendapatan masyarakat Indonesia biasanya lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok daripada untuk investasi atau menabung. Salah satu kebutuhan pokok yang akhir-akhir ini cukup mendapat sorotan karena harganya yang melonjak tinggi adalah minyak tanah. Sebagian besar masyarakat Indonesia terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah menggunakan minyak tanah baik sebagai bahan bakar untuk memasak ataupun beberapa kegiatan lainnya. Namun akhir-akhir ini minyak tanah menjadi sulit didapatkan dan kalaupun ada

harganya juga relatif mahal, sehingga masyarakat menjadi kesulitan untuk memperolehnya. Kelangkaan dan mahalnya harga minyak tanah ini terjadi karena adanya pengurangan supply dan pengurangan subsidi pada minyak tanah sehubungan dengan adanya kebijakan pemerintah tentang program konversi minyak tanah ke gas LPG (elpiji). Program konversi minyak tanah ke gas LPG (elpiji) dipilih oleh pemerintah sebagai solusi agar masyarakat dapat berhemat dalam pemakaian bahan bakar untuk sehari-hari. Hal ini disebabkan karena semakin melambungnya harga minyak di pasar dalam beberapa tahun terakhir. Harga komiditi tersebut diperkirakan akan terus naik di masa mendatang dan hal ini akan diiringi dengan berkurangnya suplai bahan bakar minyak. Dua tahun yang lalu misalnya, harga minyak dunia masih berkisar pada harga US$50 per barrel dan kini sudah mencapai US$70 per barrel. Di Indonesia bahan bakar minyak masih di subsidi (khususnya minyak tanah), maka dengan semakin mahalnya harga minyak di pasar dunia, subsidi yang dikucurkan pemerintahpun akan semakin besar. Hal ini disebabkan karena harga minyak tanah di Indonesia tidak bisa dinaikkan mengikuti harga pasar dunia. Padahal, sebagian minyak tanah yang dikonsumsi di dalam negeri masih diimpor dari negara lain. Melihat keadaan tersebut maka LPG (elpiji) dipilih karena produksi dan potensi kandungannya masih cukup besar di Indonesia. Dari segi biaya pemakaian LPG (elpiji) juga jauh lebih hemat daripada minyak tanah dalam menghasilkan pembakaran. Sedangkan dari segi kebersihan, LPG lebih bersih daripada minyak

tanah karena pada saat pembakaran tidak menimbulkan asap yang banyak, sehingga dapat mengurangi polusi udara. Namun dibalik program yang telah diupayakan di atas timbul permasalahan baru yang harus dihadapi oleh masyarakat. Terjadi permasalahan pada umumnya berupa kecelakaan-kecelakaan yang diakibatkan oleh keadaan tabung gas elpiji ataupun kompor yang merupakan pembagian cuma-cuma dari pemerintah. Seiring berjalannya waktu, dari pihak pemerintah sendiri masih menuai berbagai pro kontra di dalam mengatasi permasalahan-permasalahan ini. Ada yang saling lempar tanggung jawab terkait dengan pertanggungjawaban terhadap permasalahan yang muncul di kalangan masyarakat terkait dengan kecelakaan tabung gas LPG (elpiji). Di Kota Mataram sendiri program konversi minyak tanah ke gas belum terealisasi. Sehingga masyarakat atau penduduk Kota Mataram masih sebagian menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar rumah tangga atau kegiatan usaha sehari-hari. Meskipun begitu jumlah konsumen pengguna elpiji sebagai bahan bakar cukup banyak. Ini berdasarkan jumlah data konsumsi elpiji di Provinsi NTB dimana pengguna elpiji terbanyak terdapat di Lombok khususnya di Kota Mataram. Berikut akan disajikan data penjualan elpiji Pertamina untuk wilayah pulau Lombok tahun 2008 dan 2009 pada tabel berikut:

Tabel 1.1. Penjualan LPG Pertamina di Pulau Lombok Tahun 2008 dan 2009 No 1 2 3 4 Wilayah Penjualan LPG (Ton) 2008 2009 326,68 351,14 209,00 248,12 231,00 255,70 379,90 402,15 1.146,58 1.257,11

Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Jumlah Sumber: Pertamina

Berdasarkan pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa penjualan LPG di pulau Lombok mengalami peningkatan yang pada tahun 2008 sebanyak 1.146,58 ton meningkat menjadi 1.257,11 ton pada tahun 2009. Penjualann LPG tertinggi terjadi di wilayah Lombok Timur, yaitu sebesar 379,90 ton pada tahun 2011 dan sebesar 402,15 ton pada tahun 2012. Selanjutnya penjualan LPG tertinggi kedua dan seterusnya beturut-turut adalah Kota Mataram, Lombok Tengah dan terakhir adalah Lombok Barat. Dari data tersebut, masyarakat Kota Mataram merupakan masyarakat terbesar kedua yang menggunakan LPG setelah Lombok Timur. Secara tidak langsung konsumen yang berada di kota-kota besar sangat memperhatikan berbagai aspek dalam mengambil keputusan untuk menggunakan suatu produk, begitu pula yang terjadi di Kota Mataram. Ini patut diperhatikan sebab sekarang masyarakat sebagai konsumen tidak hanya berpedoman pada harga yang murah saja, tetapi juga pada kenyamanan, kebersihan, kecepatan sistim pelayanan dan sebagainya. Artinya, sekarang konsumen sudah mulai selektif, efisien dalam waktu dan rasional dalam mengambil keputusan untuk berbelanja. Sementara itu, jika diamati kondisi masyarakat Kota Mataram yang masih tetap menggunakan minyak tanah masih kurang puas dengan kebijakan

konversi minyak tanah ke gas tersebut. Akibat dari kebijakan ini masyarakat menjadi merasa kesulitan untuk mencari barang yang diperlukan seperti minyak tanah, kualitas barang pengganti (tabung gas 3kg) yang belum terjamin mutunya. Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa keputusan pembelian suatu produk dapat dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti pendapatan, referensi kelompok, motivasi, pelayanan dan bauran pemasaran. Yang masih menjadi permasalahan adalah apakah beberapa variabel tersebut juga dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk menggunakan produk pengganti minyak tanah sebagai bahan bakar dengan gas elpiji. Masing-masing produk tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu marketing mix (bauran pemasaran) merupakan bauran dari unsur-unsur pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan lokasi yang dapat menstimulus konsumen. Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, maka penulis mencoba untuk menganalisis persepsi konsumen tentang gas elpiji di Kota Mataram dengan judul: PERSEPSI KONSUMEN TENTANG GAS LPG (ELPIJI) DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN GAS ELPIJI DI KOTA MATARAM.

1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut: 1. Adanya kebijakan Pemerintah tentang konversi minyak tanah ke gas LPG yang mengharuskan masyarakat untuk mengganti pola konsumsi mereka akan sumber daya bahan bakar. 2. Adanya pemberitaan dari media baik media cetak atau pun media elektronik mengenai kecelakaan yang ditimbulkan oleh penggunaan gas elpiji khususnya gas elpiji 3 kg yang mengakibatkan rendahnya minat masyarakat untuk menggunakan gas LPG. 3. Kota Mataram merupakan daerah terbesar kedua yang mengkonsumsi LPG setelah daerah Lombok Timur berdasarkan data dari Pertamina.

1.3. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram? 2. Apakah persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram?

3. Variabel persepsi dilihat dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) manakah yang berpengaruh dominan secara sugnifikan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram?

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin di peroleh dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi secara simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 2. Untuk mengetahui persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi secara parsial berpengaruh terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 3. Untuk mengetahui variabel persepsi dilihat dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram.

1.4.2. Manfaat Penelitian 1. Secara akademik merupakan salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi program Strata Satu (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas Mataram. 2. Secara teoritis merupakan suatu kesempatan mengaplikasikan ilmu ekonomi, khususnya manajemen pemasaran.

3. Secara praktis diharapkan hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan masukan bagi perusahaan mengenai peresepsi masyarakat terhadap gas LPG (elpiji).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan oleh Sandy (2004) dengan skripsi yang berjudul Persepsi Konsumen Terhadap Produk Sepeda Motor Nasha Puma X. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap produk sepeda motor Nasha Puma X. Variabel yang diteliti terdiri dari tujuh komponen yaitu kualitas, model, kenyamanan, harga, kecepatan, keiritan dan kemudahan suku cadang. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif, metode yang digunakan adalah sampel survei dan prosedur analisisnya adalah analisis rata-rata hitung. Dari hasil penelitian diperoleh jawaban bahwa persepsi konsumen terhadap Nasha Puma X adalah positif dengan analisis rata-rata aritmatik sebesar 2,74. Penelitian yang dilakukan oleh Sukmawati (2006) dengan skripsinya yang berjudul Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Pelayanan Jasa pada AHASS 6151 Sinar Tubalong di Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap pelayanan jasa pada AHASS 6151 Sinar Tubalong di Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Variabel yang diteliti terdiri dari lima komponen atau dimensi pelayanan yakni: langsung (tangibles), kehandalan (reliability), daya tanggap (responsive), jaminan (insurance), empati (empathy), jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif, metode yang digunakan adalah sampel survei dan

10

prosedur analisisnya adalah Analisis nilai Kualitas Jasa (NKJ). Untuk mengetahui tingkat harapan dan kinerja aktual atas unsur pelayanan yang disajikan AHASS 6151 Sinar Tubalong digunakan alat analisis kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian diperoleh kesesuaian antara harapan dan kinerja aktual atas pelayanan jasa yang disajikan oleh pihak AHASS 6151 Sinar Tubalong, dari kelima komponen yang menjadi unsur pelayanan tergolong sangat baik, ini diketahui dari hasil NKJ yang dihasilkan lebih dari 1 (>1) sehingga hipotesis yang diajukan ditolak. Penelitian oleh Haryani (2006) dengan judul Pengaruh, Harga, Produk dan Promosi terhadap Keputusan Pembelian Deterjen Daia Konsumen Ibu Rumah Tangga di Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui adanya pengaruh harga, produk dan promosi terhadap keputusan pembelian deterjen Daia di Kecamatan Gebang dan 2) Untuk mengetahui faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian deterjen Daia di Kecamatan Gebang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu rumah tangga yang menggunakan deterjen Daia di Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo, dengan jumlah populasi sebanyak 3.352 orang. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik area random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 98 orang yang ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari harga, produk dan promosi sebagai variabel bebas dan keputusan pembelian sebagai variabel terikat. Metode pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda dan deskriptif persentase.

11

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diperoleh persamaan Y= 3,092 + 0,325X1 + 0,410X2 + 0,228X3. Uji keberartian persamaan regresi dengan Uji F diperoleh F hitung = 57,590 > 3,07 F tabel, yang berarti secara simultan ada pengaruh antara harga, produk dan promosi terhadap keputusan pembelian deterjen Daia. Hasil uji parsial diperoleh t1 = 3,641 > 1,98 t tabel, hal ini berarti bahwa ada pengaruh antara harga terhadap keputusan pembelian, t2 = 7,858 > 1,98 t tabel, hal ini menunjukkan ada pengaruh antara produk dengan keputusan pembelian dan t3 = 4,251 > 1,98 t tabel, hal ini berarti bahwa ada pengaruh antara promosi terhadap keputusan pembelian. Besarnya pengaruh secara simultan antara harga, produk dan promosi terhadap keputusan pembelian adalah 64,8%. Besarnya pengaruh masing-masing variabel yaitu harga sebesar 12,4%, produk sebesar 39,7% dan promosi sebesar 16,2%. Dari kajian terdahulu tersebut, terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Adapun persamaannya adalah menggunakan jenis penelitian yang sama, metode pengumpulan data, alat analisis yang sama dan menggunakan variabel penelitian yang sama. Sedangkan pebedaannya dengan penelitian terdahulu yaitu terletak pada objek penelitian dan juga lokasi penelitian.

2.2. Tinjauan Teoritis 2.2.1. Pemasaran 2.2.1.1. Pengertian Pemasaran Pemasaran pada suatu perusahaan merupakan salah satu dari beberapa kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha atau manajer di dalam

12

usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, perkembangan usaha di masa yang akan datang, serta mendapatkan laba. Berhasil tidaknya di dalam pencapaian tujuan tersebut ditentukan oleh keahlian para pembuat keputusan tersebut dalam menentukan kebijakan dan strategi yang tepat dalam bidang pemasaran, produksi keuangan, maupun pada bidang lainnya dengan memperhatikan situasi serta kondisi yang ada. Kegiatan pemasaran bukan hanya sekedar kegiatan untuk menjual barang atau jasa tetapi lebih luas dari pada itu. Pemasaran adalah fungsi bisnis yang mengidentifikasikan keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi sekarng dan mengukur beberapa besarnya, menentukan pasar-pasar target mana yang paling baik dilayani oleh perusahaan dan menentukan berbagai produk, jasa dan program yang tepat untuk melayani pasar tersebut. Jadi pemasaran berperan sebagai penghubung antara kebutuhan-kebutuhan masyarakat dengan pola jawaban industri yang bersangkutan (Kotler, 1995:124). Jadi kegiatan pemasaran bertujuan untuk menimbulkan pertukaran yang diinginkan, baik yang menyangkut barang dan jasa atau benda-benda lain yang dapat memenuhi kebutuhan. Proses pertukaran dapat ditimbulkan baik oleh penjual maupun pembeli yang menguntungkan kedua belah pihak. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan pemasaran bukan semata-mata merupakan kegiatan yang hanya menjual barang dan jasa saja. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang akan dilayani, menentukan produk yang hendak diproduksi, menentukan cara-cara promosi dan penyaluran atau pendistribusian produk tersebut. Sehingga dengan demikian kegiatan pemasaran merupakan kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan sebagai suatu sistem. Sehingga kegiatan pemasaran dapat dikatakan mempunyai ruang lingkup yang cukup luas.

13

2.2.1.2. Konsep Pemasaran Dalam menjalankan kegiatan pemasarannya, perusahaan dapat

berpedoman pada salah satu konsep atau falsafah bisnis yaitu konsep pemasaran. Menurut Stanton, konsep pemasaran didefinisikan sebagai sebuah falsafah bisnis dimana kepuasan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (Swasta dan Handoko, 2000). Dari konsep tersebut terdapat tiga unsur pokok yang terdiri dari orientasi konsumen, penyusunan kegiatan pemasaran secara integral dan kepuasan konsumen. Jadi konsep pemasaran memusatkan perhatian pada kebutuhan dan keinginan konsumen dimana kegiatannya harus dimulai dengan merumuskan dan mengenal keinginan dan kebutuhan konsumen. Sejalan dengan itu analisis tentang perilaku konsumen tentunya sangat diperlukan untuk memuaskan konsumen serta langgengnya perusahaan yang bersangkutan.

2.2.2. Perilaku Konsumen 2.2.2.1. Pengertian Perilaku Konsumen Tujuan dari kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Untuk itu memahami konsumen adalah suatu hal yang sangat perlu dilakukan perusahaan, walaupun untuk melakukan hal tersebut secara utuh tidaklah mudah karena perilaku konsumen sangat kompleks. Perilaku konsumen merupakan bagian dari perilaku manusia, maka perusahaan pun mempunyai kepentingan dengan hampir setiap kegiatan manusia dalam sistem ini, sehingga perusahaan harus mengetahui

14

dengan baik perilaku konsumen dan pemenuhan kebutuhannya. Adapun definisi dari perilaku konsumen adalah kegiatan individu secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang-barang, jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan tersebut. (Swasta dan Handoko, 2000). Berdasarkan pengertian di atas, ada dua elemen penting dari arti perilaku konsumen yaitu proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik. Yang semua itu melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barangbarang dan jasa-jasa ekonomis. Adapun menurut Setiadi (2003:3), perilaku adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Sedangkan menurut The American Marketing Association yang dikutip oleh Setiadi (2003:3), perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka. Dasar konsep pemasaran adalah perusahaan tetap berdiri dan dapat beroperasi untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan konsumen (Kotler, 2000). Kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi apabila manajer perusahaan dapat memahami masyarakat atau organisasi yang akan menggunakan produk atau jasa yang dijual, dan apa yang mereka berikan pada masyarakat lebih baik daripada pesaingnya. Tanggapan konsumen merupakan sebuah alat penguji untuk sebuah strategi pemasaran perusahaan. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai konsumen harus dimasukkan dalam setiap strategi pemasaran. Data mengenai konsumen dapat membantu perusahaan menentukan pasar dan mengidentifikasi tantangan dan

15

kesempatan, serta memastikan bahwa produknya dapat terus bertahan dalam pasar. 2.2.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen menurut Kotler dan Amstrong (2004:200), yaitu: 1. Faktor-Faktor Budaya Faktor budaya memiliki pengaruh yang terluas dan terdalam dalam perilaku konsumen. Pemasar perlu memahami peranan yang dimainkan oleh budaya, sub budaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab dasar keinginan dan perilaku konsumen. Perilaku manusia sebagian besar merupakan hasil proses belajar. Sewaktu tumbuh dalam suatu masyarakat, seorang anak belajar mengenai nilai persepsi keinginan dan perilaku dasar dari keluarga dan lembaga penting lainnya. 2. Faktor-Faktor Sosial Perilaku konsumen banyak dipengaruhi oleh faktor sosial, yaitu; a. Kelompok Perilaku konsumen banyak dipengaruhi oleh kelompokkelompok kecil. Kelompok yang memiliki pengaruh langsung dan tempat seorang berada disebut kelompok keanggotaan. Sebaliknya kelompok acuan berfungsi sebagai titik pembanding atau acuan secara langsung maupun tidak langsung dalam pembentukan sikap atau perilaku seseorang. b. Keluarga Anggota keluarga memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembeli. Keluarga merupaka organisasi pembelian di masyarakat tempat konsumen berada yang paling penting. c. Peran dan Status Seseorang merupakan bagian dari kelompok keluarga, klub, organisasi. Posisi orang tersebut dalam tiap kelompok dapat didefinisikan berdasarkan peran dan statusnya. 3. Faktor Pribadi Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi karakteristik pribadi, di antaranya: a. Umur dan Tahap Siklus Hidup Sepanjang hidupnya, orang akan mengubah barang dan jasa yang dibelinya, selera terhadap makanan, pakaian,

16

perabotan, rekreasi sering terkait dengan masalah umur. Pembelian juga dibentuk oleh tahap siklus hidup keluarga, tahap-tahap ini yang dilalui oleh suatu keluarga hingga menjadi matang. b. Pekerjaan Pekerjaan akan mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Sehingga perusahaan dapat mengidentifikasi dan berspesialisasi dalam membuat produk untuk melayani pekerjaan tertentu. c. Situasi Ekonomi Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk. Pemasar barang yang sensitif terhadap pendapatan akan memperhatikan trend pendapatan, tabungan dan tingkat suku bunga. d. Gaya Hidup Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang tergambar pada psikografisnya yaitu kegiatan/interest dan pendapat/opinion. Gaya hidup menggambarkan sesuatu yang lebih dari kelas sosial atau kepribadian seseorang. Gaya hidup menunjukkan seluruh pola kegiatan dan interaksi seseorang di dunia. e. Keperibadian dan Konsep Diri Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang menghasilkan tanggapan yang secara konsisten dan terusmenerus terhadap lingkungannya. Sedangkan dasar konsep diri adalah kepemilikan seseorang dapat menimbang dan mencerminkan ke identitas diri mereka. 4. Faktor Psikologi Dalam pilihan pembelian konsumen juga dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama yaitu: a. Motivasi Motivasi merupakan kebutuhan yang mendorong seseorang secara kuat mencari kepuasan atas kebutuhan tersebut. b. Persepsi Persepsi adalah proses menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti tentang dunia. c. Pembelajaran Pembelajaran menunjukkan perubahan perilaku seseorang karena pengalaman. d. Keyakinan dan Sikap Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dipertahankan seseorang mengenai sesuatu, sedangkan sikap adalah evaluasi, perasaan dan kecenderungan yang konsisten atas suka atau tidak sukanya seseorang terhadap objek atau ide.

17

2.2.3. Persepsi Konsumen 2.2.3.1. Pengertian Persepsi Konsumen Menurut Kotler (1997), definisi dari persepsi adalah suatu proses bagaimana seorang individu memilih, mengorganisasi dan menginterpretasi masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Sedangkan menurut Robbins (1998), definisi dari persepsi ialah Perception is a process by which individuals organize and interpret their sensory impresions in order to give meaning to their environment. Definisi di atas dapat diartikan bahwa persepsi adalah proses dimana seseorang mengorganisasi dan menginterpretasikan kesan yang diterima oleh panca indera untuk memberi arti pada lingkungannya. Persepsi dapat dikatakan sebagai proses untuk mengenali suatu stimulus yang melibatkan unsur-unsur kognisi dan afeksi seseorang. Thoha (1998) mengemukakan bahwa persepsi merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi, pada hakekatnya adalah kognitif yanag dialami setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan,

pendengaran, penghayatan dan penciuman. Menurut Leavit (1992), persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan bagaimana cara seseorang melihat sesuatu. Sedangkan dalam arti luas persepsi diartikan sebagai pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Gibson dkk (1993:53) mengatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Lebih lanjut Gibson dkk (1993:54) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan

18

seseorang untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitar. Dengan kata lain persepsi mencakup penerimaan stimulus, pengorganisasian dan penerjemahan stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Persepsi konsumen adalah sebuah proses dimana seseorang memilih mengorganisir dan menginterpretasikan rangsangan ke dalam pikiran. Bagaimana seorang konsumen melihat realitas di luar dirinya atau dunia sekelilingnya. Konsumen seringkali memutuskan pembelian suatu produk berdasarkan persepsinya terhadap produk tersebut (Sumarwan, 2002). Persepsi dapat digambarkan sebagaimana kita melihat lingkungan di sekitar kita. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda terhadap situasi yang sama. Hal ini disebabkan karena kita semua menerima obyek rangsangan melalui penginderaan yaitu arus informasi itu masuk melalui kelima alat indera kita, penglihatan, pendengaran, pembauan, peradapan dan perasaan. Namun demikian tiap-tiap orang menanggapi, mengorganisasi dan menafsirkan informasi sensorik ini menurut masing-masing sebagai individu. Dua orang yang mengalami dorongan yang sama dalam situasi yang sama mungkin dalam menanggapi, menyeleksi dan mengorganisir rangsangan tersebut akan berbeda, karena tiap orang tidak sama dalam hal kebutuhan, nilai harapan dan kesukaan orang dapat muncul dengan persepsi yang berbeda terhadap obyek rangsangan. Persepsi seringkali berbicara lebih kuat daripada fakta, sehingga menimbulkan kesan bahwa persepsi konsumen terlihat lebih bermanfaat daripada menunjukkan fakta yang belum tentu dapat diterima oleh konsumen. Persepsi

19

dapat juga diartikan sebagai suatu proses yang dilewati seseorang untuk menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi-informasi tertentu dalam rangka membentuk makna tertentu mengenai produk atau merek tertentu. Persepsi tidak hanya tergantung pada sifat-sifat rangsangan fisik, tapi juga pada pengalaman dan sikap sekarang dari individu. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatannya di masa lampau atau dapat pula dipelajari, sebab dengan belajar seseorang akan dapat memperoleh pengalaman, hasil dari pengalaman yang berbeda-beda, akan membentuk suatu pandangan yang berbeda pula. Makin sedikit pengalaman dalam perilaku pembelian, maka makin terbatas pula luasan interpretasinya. Persepsi ini juga ada hubungannya antara rangsangan dengan medan yang mengelilingi dan kondisi dalam diri seseorang. Menurut Ong et al (1997:105), untuk melihat persepsi konsumen terhadap sebuah promosi bonus dalam kemasan yang diberikan oleh sebuah perusahaan, dapat diketahui melalui beberapa hal, yaitu: 1. Kepercayaan atas penawaran (harga dan kuantitas). 2. Nilai yang dirasakan. 3. Niat pembelian 4. Persepsi mengenai perusahaan yang menawarkan bonus dalam kemasan. Kepercayaan menurut Morgan dan Hunt (1994:23) adalah We

conceptualliz trust as existing when one party has confidence in a excharge partners realibility and integraty. Yang dapat diartikan bahwa kepercayaan akan ada bila salah satu pihak telah mempercayai akan sesuatu hal serta kejujuran dari

20

pihak lain. Sedangkan menurut Weitz et al (1992:43) mengemukakan bahwa kepercayaan adalah Trust is believe by one party that the other party will fulfill its obligations in a relationship. Maksudnya adalah kepercayaan mengakui adanya suatu keuntungan dalam berhubungan. Sedangkan harga menurut Stanton et al (1994:294) adalah Price is amount of money and or item with utility need to acquire a product. Jadi dapat disimpulkan bahwa harga adalah sejumlah uang dan atau produk yang dibutuhkan untuk memperoleh produk lain. Kuantitas menurut Ong (1997:105) adalah volume atau isi yang terdapat pada kemasan. Kepercayaan pada penawaran yang dipengaruhi oleh kepercayaan pada harga dan kuantitas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kepercayaan pada harga adalah konsumen mempercayai harga yang ditawarkan oleh perusahaan dan mempercayai kejujuran perusahaan dalam memberikan harga. 2. Kepercayaan akan kuantitas adalah konsumen mempercayai kuantitas atau isi yang terdapat dalam kemasan dan mempercayai kejujuran perusahaan dalam hal kuantitas bonus dalam kemasan. Yang dimaksud dengan nilai yang dirasakan adalah kepercayaan konsumen terhadap promosi yang ditawarkan. Promosi menurut Kotler adalah Promotion means activities that communicate the merit of the product and persuade target customer to buy it. Promosi merupakan aktivitas yang memberitahukan kegunaan produk dan meyakinkan konsumen untuk membelinya.

21

Jadi maksud dari kepercayaan atau keyakinan konsumen terhadap promosi yang ditawarkan adalah bahwa konsumen mempercayai akan aktivitas yang memberitahukan mengenai kegunaan dari bonus dalam kemasan dan yang bertujuan untuk meyakinkan konsumen untuk membelinya. Menurut Wells et al (1996:40), definisi pembelian adalah pusat dari perilaku konsumen dipengaruhi dan pertukaran dari sesuatu yang memiliki untuk sebuah produk pada individu yang akan memuaskan kebutuhan mereka. Jadi, maksud dari niat pembelian adalah pusat dari perilaku konsumen yang dipengaruhi dalam hal ini promosi bonus dalam kemasan yang memiliki nilai bagi konsumen produk shampoo Sunsilk yang akan memuaskan kebutuhan konsumen itu yang diyakini akan dilakukan oleh konsumen itu sendiri. Menurut Ong (1997:105), untuk mengukur persepsi konsumen terhadap bonus dalam kemasan dapat dilakukan dengan melihat pendapat konsumen mengenai pernyataan mengenai niat pembelian. At X% more free, I will likely to buy one bottle, artinya konsumen akan membeli pada penawaran yang menawarkan X% ekstra bonus gratis. Menurut Ong (1997:105) untuk mengukur persepsi konsumen terhadap perusahaan yang memberikan bonus gratis dalam kemasan diukur dari pendapat dan kepercayaan konsumen akan hal-hal seperti yang tertera di bawah ini: 1. In general, manufacturer are sincere in their bonus pack offer, artinya secara umum, perusahaan menaruh perhatian terhadap penawaran bonus dalam kemasan ini. 2. Manufacturers offer bonus pack to get rid of old excess inventory, artinya perusahaan bertujuan untuk mengurangi kelebihan persediaan yang ada di perusahaan dengan jalan penawaran bonus dalam kemasan ini. 3. Manufacturers do raise prices slightly when offering bonus pack, artinya perusahaan hanya mengambil sedikit keuntungan dari penawaran bonus dalam kemasan ini. 2.2.3.2. Proses Persepsi Konsumen Menurut Kotler (1997), orang dapat memiliki persepsi berbeda-beda terhadap obyek yang sama disebabkan ada tiga proses persepsi konsumen, yaitu:

22

1. Perhatian Selektif Orang terlibat kontak dengan sangat banyak rangsangan harian, seseorang tidak mungkin dapat menanggapi rangsanganrangsangan ini akan disaring melalui proses yang disebut perhatian selektif. Tantangan yang sesungguhnya adalah menjelaskan rangsangan mana yang akan diperhatikan oleh orang-orang. 2. Distorsi Selektif Adalah kecenderungan orang untuk mengubah informasi ke dalam pengertian pribadi dan menginterpretasikan informasi dengan cara yang akan mendukung pra-konsepsi mereka, bukannya yang akan menentang pra-konsepsi tersebut. 3. Ingatan Selektif Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun cenderung akan mengingat informasi yang menyokong pandangan dan keyakinan mereka. Ingatan selektif menjelaskan mengapa para pemasar menggunakan drama dan pengulangan dalam mengirimkan pesan kepada sasaran mereka. 2.2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Konsumen Menurut Robbins (1996), ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi konsumen, yaitu: 1. Pelaku persepsi Pelaku persepsi (perceiver) dalam mempersepsi sesuatu dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti sikap (Attitudes), motif (Motives), kepentingan atau minat (Interest), pengalaman masa lalu (Experience), pengharapan (Expectation). 2. Target Karakteristik-karakteristik dalam target yang akan diamati dapat mempengauhi apa yang dipersepsikan, seperti bunyi (Sounds), gerakan (Motion), hal baru (Novelty), ukuran (Sizes), latar belakang (Background) dan kedekatan (Proximity). 3. Situasi Situasi merupakan suatu konteks yang penting dalam melihat suatu peristiwa. Unsur-unsur dalam lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi, setiap waktu kerja (Time Setting), keadaan tempat kerja (Work Setting), lingkungan sosial tempat kerja (Social Setting) dan sebagainya.

23

Faktor sasaran: o Sesuatu yang baru o Gerakan o Suara o Ukuran o Latar belakang Faktor situasi: o Waktu o Lingkungan kerja o Lingkungan sosial

o kedekatan

PERSEPSI

Faktor perasaan: o o o o o Sikap Dorongan Minat Pengalaman Harapan

(Robbins, 1996:135) Gambar 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Hal penting yang perlu diperhatikan sebagai

pembentuk persepsi

konsumen adalah individu itu sendiri (konsumen). Menurut Stanton hal ini dapat dilihat sebagai berikut: 1. Stimulus pemasaran yang sampai pada konsumen terbatas jumlahnya (konsumen mempunyai batas fisik untuk menampung motivasi). 2. Persepsi hanya menangkap sebagian saja yang dihadapkan pada konsumen (konsumen dalam membaca surat kabar tidak memperhatikan sebuah iklan, konsumen yang membaca surat kabar dapat saja tidak memperhatikan siaran niaga televisi). 3. Tidak semua persepsi yang sudah diingat konsumen melekat dalam ingatan. 4. Akhirnya konsumen bertindak hanya berdasarkan sebagian saja dari persepsi yang melekat di ingatannya (Latifah, 2003:17).

24

Keempat komponen pembentuk persepsi tersebut harus diperhatikan oleh perusahaan, sehingga stimuli atau rangsangan-rangsangan yang diberikannya pada konsumen tidak sia-sia.

2.2.4. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Salah satu unsur dalam strategi pemasaran adalah bauran pemasaran, yang merupakan strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana perusahaan menjanjikan penawaran produk pada segment pasar tertentu, yang merupakan sasarannya. Marketing mix merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan nilai dari sistem pemasaran, variabel makna dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksi para pembeli atau konsumen. Jadi marketing mix terdiri dari himpunan variabel yang dapat dikendalikan dan dapat digunakan oleh perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen dalam pasar sasarannya. Variabel atau kegiatan tersebut perlu dikombinasikan dan dikoordinasikan oleh perusahaan seefektif mungkin, dalam melakukan tugas atau kegiatan pemasarannya. Dengan demikian perusahaan tidak hanya sekedar memiliki kombinasi kegiatan yang terbaik saja, akan tetapi dapat mengkoordinasikan berbagai variabel marketing mix tersebut, untuk melakukan program pemasaran secara efektif (Assauri, 2002:180-181). Bauran pemasaran (marketing mix) menetapkan komposisi yang terbaik dari keempat komponen atau variabel pemasaran (produk, harga, distribusi dan promosi) untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dan sekaligus mencapai tujuan dan sasaran perusahan. Definisi bauran pemasaran (marketing mix) yang dikemukakan oleh para ahli pemasaran, di antaranya:

25

1. Menurut Kotler, (2000:123) Marketing mix adalah serangkaian alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai sasaran pemasarannya dalam pasar sasaran. 2. Menurut Swasta dan Irawan (2008:78) 3. Marketing mix adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yakni: produk, struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Klasifikasi alat bauran pemasaran terdiri dari: 1. Produk Produk yaitu semua yang ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan/dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan/kebutuhan pemakainya. Adapun atribut produk meliputi: merek, kemasan, kualitas produk, desain produk dan pelabelan. Atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. a. Merek Merek merupakan nama, istilah, simbol/lambang, desaian warna, gerak atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensiasi terhadap produk pesaing. b. Pengemasan Pengemasan merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah/pembungkus untuk suatu produk.

26

c. Kualitas Produk Kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya. d. Desain Produk Desain merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan gaya, ketertarikan, kinerja, kemudahan dan kemurahan biaya, penggunaan produk serta kesederhanaan dan keekonomisan produk. e. Pemberian Label Pemberian label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual. 2. Harga Menurut Stanton harga adalah jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Keputusan penetapan harga berkenaan dengan kebijakan strategis seperti tingkat harga, syarat pembayaran dan tingkat diskriminasi harga di antara berbagai komponen pelanggan. Keputusan penetapan harga sangat berarti dalam menentukan nilai bagi pelanggan. Penetapan harga juga berhubungan dengan pendapatan dan turut mempengaruhi dalam penawaran. Adapun tujuan penetapan harga adalah sebagai berikut (Lupiyadi, 2003): a. Kelangsungan hidup. b. Maksimalisasi keuntungan. c. Maksimalisasi penjualan.

27

d. Gengsi. e. Pencapaian ROI yang diinginkan. 3. Promosi Merupakan salah satu bauran pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan dengan tujuan untuk membentuk gambaran dan penilain positif bagi produknya, dengan jalan melakukan upaya untuk berkomunikasi dengan konsumen. Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya (Lupiyadi, 2001:108). Dalam melakukan promosi biasanya perusahaan menggunakan bauran promosi (promotional mix) yang terdiri dari, periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), personal selling dan public relation. Menurut Swasta (2000:349) yang mengutip dari Wiliam G. Nickels mendefinisikan promosi adalah arus informasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dan pemasaran. Senada dengan yang diungkapkan oleh Tjiptono (2001:219) bahwa Promosi adalah berarti komunikasi pemasaran. Yang dimaksudkan dengan komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi atau membujuk dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya atau bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Karena sifat dan tujuan dari promosi maka promosi merupakan unsur yang sangat penting dan seringkali merupakan penentu bertahan atau tidaknya

28

produk dalam pasar. Dari beberapa pengertian di atas, maka sesungguhnya promosi merupakan suatu kegiatan yang mempunyai keterkaitan dengan aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan, baik pemasaran produk barang maupun jasa. 4. Distribusi/Tempat Saluran distribusi merupakan suatu jalan atau jalur yang dilalui oleh arus barang-barang dari produsen ke perantara dan akhirnya sampai pasa pemakai. Tempat menunjukan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau pihak pemasaran untuk membuat produknya (barang/jasa) tersedia di pasar atau dapat dijangkau oleh konsumen secara efektif dan efisien. Dalam melakukan penempatan produknya perusahaan bekerja sama dengan perantara pemasaran sehingga membentuk jaringan atau saluran distribusi.

29

2.3. Kerangka Konseptual Penelitian Gambar 2. Kerangka Konseptual Penelitian

Produk

Harga

Promosi

Keputusan Pembelian LPG

Distribusi

Parsial

= Simultan

Dari kerangka pikir tersebut dapat dijelaskan bahwa produk, harga, promosi dan distribusi yang dihasilkan atau dipasarkan kepada masyarakat atau konsumen oleh produsen gas LPG (elpiji) akan diseleksi, diorganisir dan akan diinterpretasikan oleh konsumen atau masyarakat yang kemudian akan membentuk tinggi rendahnya penjualan gas elpiji (LPG).

30

2.4. Perumusan Hipotesis 1. Diduga bahwa secara simultan variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi berpengaruh terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 2. Diduga bahwa secara parsial variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi berpengaruh terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 3. Diduga bahwa variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian LPG (elpiji) di Kota Mataram adalah variabel produk.

31

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian Menurut Sugiyono (2006:11) penelitian asosiatif sebab akibat adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya. Dengan penelitian ini dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramal dan mengontrol suatu gejala sebab akibat (kausal), yaitu untuk mengetahui pengaruh produk, harga, distribusi dan promosi terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram.

3.2. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada masyarakat kota Mataram. Adapun alasan pemilihan lokasi adalah sebagai berikut: 1. Adanya fenomena yang menunjukkan bahwa sangat sedikitnya masyarakat kota Mataram yang menggunakan gas LPG (elpiji) sebagai sumber bahan bakar rumah tangga yang ramah lingkungan. 2. Masyarakat kota Mataram merupakan suatu komunitas yang berpikiran terbuka terhadap segala informasi dan dengan latar belakang pendidikan merka mempunyai pengetahuan yang cukup untuk memberikan penilaian terhadap produk gas LPG (elpiji). 3. Jumlah masyarakat kota Mataram yang cukup banyak memungkinkan untuk melakukan penelitian dan bisa mewakili konsumen lainnya.

32

3.3. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sampel survei, yaitu mengambil sebagian dari total populasi sebagi sampel dan mengadakan wawancara, dimana peneliti langsung turun ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data atau informasi yang dibutuhkan dari responden yang menjadi sampel penelitian dengan menggunakan kuesioner

3.4. Penentuan Populasi dan Sampel 3.4.1. Populasi Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung ataupun pengukuran kuantitatif maupun kualitatif pada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap (Nawawi, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat yang ada di Kota Mataram, yang menggunakan gas LPG (elpiji).

3.4.2. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi Karena populasinya tidak diketahui secara pasti maka jumlah sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 orang. Pengambilan sampel ini berdasarkan pedoman yang dikemukakan oleh Surakhmadi (1990) yaitu untuk penyelidikan deskriptif, sampel manusia hendaknya diambil di atas 30 unit besarnya.

33

Berikutnya adalah pemilihan teknik sampling, yaitu merupakan upaya penelitian untuk mendapatkan sampel yang representatif yang dapat

menggambarkan populasi. Pengambilan sampel akan dilakukan dengan tehnik purposive random sampling yaitu sampling dimana pengambilan elemen-elemen yang dimasukan dalam sampel dilakukan dengan sengaja, dengan catatan bahwa sampel tersebut representatif atau mewakili populasi. Selain itu tehnik pengambilan sampel juga menggunakan sampel yang dipilih dengan

pertimbangan kemudahan (convenience sampling), yaitu dalam memilih sampel peneliti tidak memiliki pertimbangan lain selain berdasarkan kemudahan saja. Seorang responden dijadikan sampel karena kebetulan orang tersebut berada di lokasi penelitian atau bisa juga karena peneliti mengenal orang tersebut dan cocok untuk dijadikan sampel.

3.5. Teknik dan Alat Pengumpulan Data 3.5.1. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan responden untuk memperoleh data yang dibutuhkan. 2. Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memanfaatkan dokumen-dokumen tertulis, gambar, foto, atau benda-benda lainnya yang berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti.

34

3.5.2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan yang disebarkan kepada responden untuk diminta keterangan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang diteliti

3.6. Jenis dan Sumber Data 3.6.1. Jenis Data Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif, yang dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Data kuantitatif merupakan data yang besarannya dapat diukur secara langsung dan berupa angka-angka. Data kuantitatif dalam penelitian ini antara lain adalah pengguna gas LPG (elpiji). 2. Data kualitatif yaitu data yang tidak dapat diukur besarannya secara kuantitatif, seperti nama responden, pendidikan, pekerjaan responden dan tanggungan responden.

3.6.2. Sumber Data Dalam suatu penelitian, data tidak diperoleh dengan sendirinya. Dalam penelitian ini terdapat dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. 1. Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti secara langsung, tanpa melalui atau dikumpulkan oleh pihak lain. Data primer dalam penelitian ini antara lain hasil pengisian kuisioner oleh responden.

35

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur yang berkaitan dengan penelitian ini sehingga dapat mendukung penelitian ini.

3.7. Identifikasi Variabel dan Klasifikasi Variabel 3.7.1. Identi fikasi Variabel Variabel-variabel yang diukur berkaitan dengan penelitian ini adalah: 1. Persepsi konsumen yang terdiri: a. Produk b. Harga c. Promosi d. Distribusi 2. Keputusan pembelian

3.7.2. Klasifikasi Variabel Variabel yang telah diidentifikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Variabel bebas (Independent Variable) yaitu variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari: a. Produk (X1) b. Harga (X2) c. Promosi (X3) d. Distribusi (X4)

36

2. Variabel Terikat (Dependent Variable) yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian (Y).

3.8. Definisi Operasional Variabel 1. Produk adalah tanggapan responden atas gas LPG (elpiji) yang ditawarkan baik itu berupa kemasan, keamanan dan kualitas yang bisa memuaskan konsumen gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 2. Harga adalah tanggapan responden atas sejumlah biaya (dalam satuan rupiah) yang dikeluarkan dalam proses pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 3. Promosi adalah tanggapan responden terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pertamina di dalam memperkenalkan gas LPG (elpiji) kepada masyarakat di Kota Mataram baik melalui media cetak, elektronik bahkan secara langsung dengan cara mengadakan sosialisasi tentang gas LPG. 4. Distribusi adalah tanggapan responden terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pertamina dalam memindahkan produk yang dijual dari pihak perusahaan kepada konsumen akhir, baik secara langsung atau tidak langsung terhadap penyaluran gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 5. Keputusan Pembelian adalah pendapat atau tanggapan responden atas serangkaian proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen dalam rangka memilih suatu barang yaitu gas LPG (elpiji) untuk pemenuhan kebutuhan pada masyarakat Kota Mataram.

37

3.9. Prosedur Analisis 3.9.1. Pengukuran Variabel Setiap variabel yang diteliti dapat diukur dengan menggunakan skor yang mengacu pada penggunaan Skala Likert. Menurut Supranto (2001:85), skala Likert digunakan untuk sikap seseorang dengan mencoba untuk menempatkan posisinya berkisar dari sangat positif hingga ke sangat negatif terhadap suatu objek yang dilakukan dengan mencatat penguatan respon. Adapun bobot/skor dari poin penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk alternatif a diberi skor 5. 2. Untuk alternatif b diberi skor 4. 3. Untuk alternatif c diberi skor 3. 4. Untuk alternatif d diberi skor 2. 5. Untuk alternatif e diberi skor 1. Dimana skala Likert ini memiliki kriteria jawaban sebagai berikut: Jawaban a : Sangat Setuju/Sangat Berpengaruh Jawaban b : Setuju/Berpengaruh Jawaban c : Netral/Cukup Berpengaruh Jawaban d : Kurang Setuju/Kurang Berpengaruh Jawaban e : Sangat Tidak Setuju/Tidak Berpengaruh Nilai skor atribut produk yang diperoleh untuk masing-masing variabel atribut produk dari responden dapat dikelompokkan dan dikonversikan ke kategori masing-masing variabel.

38

3.9.2. Uji Kualitas Instrumen Untuk menjamin kualitas instrumen yang diperoleh dalam penelitian ini dilakukan analisis instrumen dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu SPSS (Statistical Package for Social Science). Ada beberapa teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 3.9.2.1. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Mengukur validitas data dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: 1. Melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. 2. Uji validitas dapat juga dilakukan dengan melakukan korelasi bivariat antara masing-masing skor indikator dengan total skor konstruk. 3. Uji dengan Confirmatory Factor Analysis (CFA) (Ghozali, 2006:45-47). Dalam penelitian ini pengujian validitas menggunakan metode yang pertama yaitu dengan melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. 3.9.2.2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kesioner yang merupakan inidikator dari variabel atau konstruk.. Suatu variabel dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil

39

dari waktu ke waktu. Pengukuran reliabilitas data dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1. Repeated Measure atau pengukuran ulang. Disini seseorang akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya. 2. One shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaanya (Ghozali, 2006:42). Dalam penelitian ini uji reliabilitas yang digunakan yaitu dengan menggunakan cara yang kedua yaitu One Shot dengan menggunakan fasilitas SPSS untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha ( ). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2006:42).

3.9.3. Analisis Regresi Linier Berganda Permasalahan pertama dalam penelitan ini adalah apakah persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari harga, produk, distribusi dan promosi berpengaruh terhadap keputusan pembelian gas elpiji (LPG) di Kota Mataram. Untuk menjawab permasalahan ini maka dilakukan uji signifikansi sebagai berikut: 3.9.3.1. Pembentukan Fungsi Regresi Persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Analisis regresi linear berganda yaitu suatu teknik analisis

40

yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Persamaan yang digunakan yaitu: Y = + b1X1 + b2 X2 + b3X3 + b4X4 + e Keterangan: Y : Persepsi Konsumen : Konstanta : Koefisien Regresi : Produk : Harga : Distribusi : Promosi : Faktor pengganggu di luar model

bi X1 X2 X3 X4 e

3.9.3.2. Uji Signifkansi 1. Uji Simultan (F) Uji serentak atau uji simultan digunakan untuk menejelaskan pengaruh antara variabel dependen dengan semua variabel independen secara bersamasama. Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis ini adalah sebagai berikut: 1. Kriteria pengujian signifikansi yaitu: Ho = b1,b2b4 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara serentak antara variabel bebas (X1, X2, X3 dan X4) terhadap variabel terikat (Y).

41

Ho = b1,b2b4 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara serentak antara variabel bebas (X1, X2, X3 dan X4) terhadap variabel terikat (Y). 2. Menentukan Level Of Significance adalah sebesar 5% dan derajat kebebasan df1 = k-1, dan df2 = n-k. 3. Tentukan Fhitung

F hitung
Keterangan:

R 2 k 1 1 R 2 n k

R2 = Koefisien determinasi. n k = Jumlah sampel. = Jumlah variabel independen dan dependen.

4. Kriteria pengujian hipotesis yaitu dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel. Gambar 3. Kurva Uji F

Daerah Ho diterima F ; k-1 (n-1)

Daerah Ho ditolak

5. Kesimpulan Ho diterima jika FF;k-1;k(n-1) Ho ditolak jika F>F;k-1;k(n-1)

42

2. Uji Parsial (t) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh dari variabel persepsi konsumen dilihata dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi secara parsial terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram maka akan digunakan uji t yang akan dihitung melalui bantuan SPSS. Adapun langkahlangkah dalam melakukan Uji-t adalah sebagai berikut: 1. Rumusan Hipotesis Ho : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara variabel Xi terhadap variabel terikat Y. Ho : bi 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara variabel Xi terhadap variabel terikat Y. 2. Menentukan Level Of Significance adalah sebesar 5% dan derajat kebebasan n-k, dimana n adalah banyaknya observasi, dan k adalah banyaknya variabel yang diteliti. 3. Tentukan t-hitung
t hitung i Si

Keterangan: i = koefisien regresi masing-masing variabel independen.

S (i) = standar deviasi masing-masing variabel. 4. Kriteria pengujian hipotesis yaitu dengan membandingkan t hitung dengan t tabel.

43

Gambar 4. Kurva Uji t Daerah ditolak Daerah diterima Daerah ditolak

-t(/2) 5. Kesimpulan Ho diterima apabila Ho ditolak apabila

t(/2)

: -t (/2)< t hitung < t tabel (/2) : -t hitung>t(/2) atau t hitung< -t(/2)

44

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Responden 4.1.1. Karakteristik Responden Dalam kajian ini akan ditampilkan mengenai berbagai data tentang responden yang bukan merupakan variabel yang diteliti. Gambaran umum responden penelitian pada masyarakat Kota Mataram berdasarkan umur, jenis kelamin, dan penghasilan per bulan yang diperoleh melalui jawaban responden dari kuisioner yang diberikan. Dari penelitian terhadap 50 orang responden, maka diperoleh karakteristik responden sebagai berikut: 4.1.1.1. Umur Responden Tabel 4.1. Jumlah Responden Menurut Umur pada Masyarakat Kota Mataram Umur Jumlah Responden (Tahun) (Orang) 1 21 30 9 2 31 40 19 3 41 50 20 4 51 60 2 Jumlah 50 Sumber: Data primer, diolah. No Persentase (%) 18,00 38,00 40,00 4,00 100,00

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah responden pada masyarakat Kota Mataram yang terbanyak adalah berkisar pada interval umur antara 41 50 tahun dengan persentase sebesar 40,00%. Persentase terbanyak

45

berikutnya adalah interval umur 31 40 yaitu sebesar 38,00%, kemudian 21 30 yaitu sebesar 18,00%, kemudian interval umur 51 60 tahun sebesar 4,00%. 4.1.1.2. Jenis Kelamin Berikut ini adalah data responden berdasarkan jenis kelamin yang disajikan dalam tabel berkut ini. Tabel 4.2. Jumlah Responden Menurut Jenis Kelamin pada Masyarakat Kota Mataram Jumlah Responden (Orang) 1 Laki 5 2 Perempuan 45 Jumlah 50 Sumber: Data primer, diolah. No Klasifikasi Persentase (%) 10,00 90,00 100,00

Dari tabel di atas terliat bahwa masyarakat Kota Mataram yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 45 orang atau 90,00%, sedangkan yang berjenis kelamin laki-laki perempuan dengan jumlah 5 orang atau 10,00%. Dengan demikian responden perempuan lebih banyak dari responden laki-laki. Banyaknya responden perempuan pada masyarakat Kota Mataram disebabkan oleh karena adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan psikologis yang hirarki dalam kehidupan sehari-hari karena sebagian besar responden perempuan adalah ibu rumah tangga yang bertugas memasak dan menyiapkan masakan bagi keluarganya.

46

4.1.1.3. Berdasarkan Penghasilan Adapun data responden berdasarkan tingkat penghasilannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel. 4.3. Jumlah Responden menurut Masyarakat Kota Mataram No 1 2 3 4 Penghasilan Tingkat Penghasilan pada

< Rp1.000.000 Rp1.000.000 Rp2.000.000 Rp2.000.0000 Rp3.000.000 > Rp3.000.000 Jumlah Sumber: Data primer, diolah.

Jumlah Responden (Orang) 15 10 23 2 50

Persentase (%) 30,00 20,00 46,00 4,00 100,00

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa masyarakat Kota Mataram terdapat tingkat penghasilan terendah < Rp1.000.000 dan tingkat penghasilan tertinggi > Rp3.000.000. Berdasarkan tingkat penghasilannya, jumlah responden dengan persentase yang paling tinggi adalah tingkat penghasilan Rp2.000.000 Rp3.000.000 sebanyak 23 orang atau 46,00%, tingkat penghasilan < Rp1.000.000 sebanyak 15 orang atau 30,00% dan tingkat penghasilan Rp1.000.000 Rp2.000.000 sebanyak 10 orang atau 20,00%. Untuk tingkat penghasilan > Rp3.000.000 sebanyak 2 orang atau 4,00%. Adanya jumlah persentase responden dengan tingkat penghasilan yang terbanyak pada tingkat Rp2.000.000 Rp3.000.000 dikarenakan sebagian besar masyarakat Kota Mataram memiliki pekerjaan yang layak sehingga tingkat penghasilannya tergolong tinggi dan juga kehidupan yang sejahtera.

47

4.2. Hasil Penelitian Pada bagian ini akan dijelaskan hubungan antara variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri atas produk, harga, promosi dan distribusi terhadap variabel keputusan pembelian gas LPG (elpiji) dengan menggunakan analisis statistik yaitu regresi linear berganda, untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan oleh peneliti. Namun sebelum menggambarkan pengaruh antara variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri atas produk, harga, promosi dan distribusi terhadap variabel keputusan pembelian gas LPG (elpiji) pada masyarakat Kota Mataram, maka terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen (kuisioner) yang diajukan sehingga instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data valid dan dapat dipercaya. 4.2.1. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Pengujian validitas dan reliabilitas terhadap kuisioner dilakukan untuk menjamin bahwa instrumen tersebut akurat dan dapat dipercaya, serta dapat diandalkan sebagai alat dalam pengumpulan data. Dalam penelitian ini, untuk uji validitas digunakan korelasi product moment dari pearson, sedangkan alat uji reliabilitas digunakan koefisien reliabilitas (cronbach alpha). Pengujian validitas dan reliabilitas kuisioner dilakukan dengan program SPSS. 4.2.1.1. Uji Validitas Instrumen Penelitian Hasil uji validitas kuisioner penelitian sebagaimana terlihat pada lampiran 3, dapat dilihat pada tabel berikut:

48

Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Item r hitug r kritis Keterangan X1.1 0,716 0,30 Valid X1.2 0,795 0,30 Valid X1.3 0,730 0,30 Valid X1.4 0,665 0,30 Valid X2.1 0,675 0,30 Valid X2.2 0,709 0,30 Valid X2.3 0,676 0,30 Valid X3.1 0,725 0,30 Valid X3.2 0,703 0,30 Valid X3.3 0,400 0,30 Valid X4.1 0,714 0,30 Valid X4.2 0,746 0,30 Valid Y1 0,776 0,30 Valid Y2 0,575 0,30 Valid Y3 0,607 0,30 Valid Y4 0,607 0,30 Valid Y5 0,619 0,30 Valid Sumber: Lampiran 3.

Dari hasil pengujian validitas untuk kuisioner penelitian sebagaimana terlihat pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa hasil pengujian validitas untuk kuisioner penelitian secara keseluruhan adalah valid. Hal ini ditunjukkan oleh nilai r hitung lebih besar dari r kritis atau r hitung > 0,30. 4.2.1.2. Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Hasil uji reliabilitas kuisioner untuk setiap variabel dalam penelitian ini sebagaimana terlihat pada lampiran 4 dapat terlihat pada tabel berikut:

49

Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach X1 0,809 X2 0,719 X3 0,856 X4 0,708 Y 0,753 Sumber : Lampiran 4. Variabel Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel

Berdasarkan Tabel 4.5. di atas menunjukkan nilai alpha seluruhnya adalah reliabel, karena memiliki alpha di atas 0,6 sehingga dapat digunakan untuk tahap selanjutnya. 4.2.2. Analisis Regresi Linear Berganda Untuk mencapai tujuan penelitian, maka digunakan pula analisis statistik regresi linier berganda. Analisis statistik ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan, yaitu untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara simultan dan parsial dari pengaruh sikap konsumen dilihat dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Variabel sikap konsumen dilihat dari bauran pemasaran manakah yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program aplikasi SPSS (Statistical Package for Social Science) dengan taraf signifikansi 5% ( = 5%). Langkah-langkah dalam melakukan analisis data dimaksud adalah sebagai berikut:

50

1. Menghitung rata-rata jawaban responden untuk masing-masing variabel bebas, yakni variabel produk, harga, promosi, distribusi dan variabel keputusan pembelian. 2. Menghitung rata-rata nilai dari masing-masing responden. 3. Mengolah data dengan bantuan program aplikasi SPSS. Selengkapnya hasil pengolahan data disajikan dalam lampiran 5. Berikut disajikan sebagian dari hasil pengolahan data pada lampiran 5 dimaksud. Tabel 4.6. Hasil Analisis Regresi Berganda Persepsi Konsumen Dilihat dari Bauran Pemasaran yang Terdiri Atas Produk, Harga, Promosi dan Distribusi Terhadap Variabel Keputusan Pembelian Gas LPG (Elpiji) pada Masyarakat Kota Mataram
Coefficients
a

Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients

Model

Std. Error

Beta

Sig.

(Constant)

1.516

.300

5.053

.000

X1

.541

.095

.549

5.688

.000

X2

.213

.058

.259

3.669

.001

X3

.109

.046

.135

2.369

.015

X4 a. Dependent Variable: Y

.275

.080

.340

3.450

.001

Sumber: Lampiran 5.

Sehingga diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 1,516 + 0,541 X1 + 0,213 X2 + 0,109 X3 + 0,275 X4 + e

51

Analisisnya: 1. Dari persamaan regresi diperoleh bo = 1,516 nilai positif menunjukkan bahwa secara bersama-sama persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi dapat meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Hal tersebut menyatakan bahwa nilai dari variabel keputusan pembelian gas LPG di Kota Mataram adalah sebesar 1,516 dengan asumsi variabel persepsi konsumen yang dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada produk, harga, promosi dan distribusi tetap atau konstan. 2. Variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada produk (X1) mempunyai nilai positif (+) sebesar b1 = 0,541. Nilai ini menunjukkan bahwa apabila variabel produk ditingkatkan sebanyak 1 satuan, maka akan meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram sebesar 0,541, dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap atau konstan. 3. Variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada harga (X2) mempunyai nilai positif (+) sebesar b1 = 0,213. Nilai ini menunjukkan bahwa apabila variabel harga ditingkatkan sebanyak 1 satuan, maka akan meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram sebesar 0,213, dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap atau konstan. 4. Variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada promosi (X3) mempunyai nilai positif (+) sebesar b1 = 0,109. Nilai ini

52

menunjukkan bahwa apabila variabel promosi ditingkatkan sebanyak 1 satuan, maka akan meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram sebesar 0,109, dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap atau konstan. 5. Variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada distribusi (X4) mempunyai nilai positif (+) sebesar b1 = 0,275. Nilai ini menunjukkan bahwa apabila variabel distribusi ditingkatkan sebanyak 1 satuan, maka akan meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram sebesar 0,275, dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap atau konstan. 1. Koefisien Determinasi Koefisien ini digunakan untuk mengukur secara serentak sumbangan yang diberikan oleh variabel independen (X1, X2, X3, X4) terhadap variabel dependen (Y). Tabel 4.7. Model Summary Koefisien Determinasi Berganda (R2)
Model Summary
b

Adjusted R Model R
a

Std. Error of the Estimate

R Square

Square

.915

.837

.823

.21582

a. Predictors: (Constant), X4, X3, X2, X1 b. Dependent Variable: Y

Sumber: Lampiran 5.

53

Analisis: Koefisien determinasi nilai R2 sebesar 0,837 menyatakan besarnya sumbangan variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Artinya sebesar 83,70% keragaman nilai persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran ditentukan oleh besarnya skor produk, harga, promosi dan distribusi. Sedangkan sisanya sebesar 16,30% ditentukan oleh faktor-faktor lain di luar penelitian ini.

2. Uji Statistik F Analisis ini digunakan untuk melakukan pengujian pengaruh persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Tabel 4.8. Hasil Uji Statistik F
ANOVA
b

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

Sig.
a

Regression

10.775

2.694

57.836

.000

Residual

2.096

45

.047

Total

12.871

49

a. Predictors: (Constant), X4, X3, X2, X1 b. Dependent Variable: Y

Sumber: Lampiran 8.

54

Dari perhitungan di atas, maka diperoleh Fhitung = 57,836 dan Ftabel = 2,580 dengan tingkat signifikan sebesar 0,000. Karena Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak atau Ha diterima. Ini berarti variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 3. Uji t Uji t ini digunakan untuk menguji dan mengetahui tingkat keberartian atau derajat keyakinan antar variabel yang diteliti secara individual atau parsial. Tabel 4.9. Hasil Uji t
Coefficients
a

Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients

Model

Std. Error

Beta

Sig.

(Constant)

1.516

.300

5.053

.000

X1

.541

.095

.549

5.688

.000

X2

.213

.058

.259

3.669

.001

X3

.109

.046

.135

2.369

.015

X4 a. Dependent Variable: Y

.275

.080

.340

3.450

.001

Sumber: Lampiran 5.

55

Analisisnya: 1. Uji t untuk variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada produk (X1) mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu thitung = 5,688 > ttabel = 2,009 dengan tingkat signifikan sebesar 0,000. Ini berarti bahwa variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada produk (X1) dapat mempengaruhi secara signifikan dan searah, serta dapat meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 2. Uji t untuk variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada harga (X2) mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu thitung = 3,669 > ttabel = 2,009 dengan tingkat signifikan sebesar 0,001. Ini berarti bahwa variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada harga (X2) dapat mempengaruhi secara signifikan dan searah, serta dapat meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 3. Uji t untuk variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada promosi (X3) mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu thitung = 2,369 > ttabel = 2,009 dengan tingkat signifikan sebesar 0,015. Ini berarti bahwa variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada promosi (X3) dapat mempengaruhi secara signifikan dan searah, serta dapat meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 4. Uji t untuk variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada distribusi (X4) mempunyai nilai thitung > ttabel yaitu thitung = 3,450 > ttabel = 2,009 dengan tingkat signifikan sebesar 0,001. Ini berarti

56

bahwa variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang didasarkan pada distribusi (X4) dapat mempengaruhi secara signifikan dan searah, serta dapat meningkatkan keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. 4. Pengujian Hipotesis Ketiga Berdasarkan uji t pada Tabel 4.9. tersebut, nilai koefisien untuk variabel produk adalah 0,541 lebih besar dari koefisien variabel harga (0,213), promosi (0,109) dan distribusi (0,275). Dengan demikian variabel produk adalah faktor yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Sehingga hipotesis ketiga yang menyatakan diduga bahwa variabel produk adalah faktor yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram dapat diterima.

4.3. Interpretasi Data Dari hasil perhitungan di atas, maka diperoleh taksiran yaitu: Y = 1,516 + 0,541 X1 + 0,213 X2 + 0,109 X3 + 0,275 X4 + e Dimana bo = 1,516 yang menyatakan bahwa besarnya nilai keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram adalah sebesar 1,516. Koefisien determinasi nilai R2 sebesar 0,837 menyatakan besarnya sumbangan variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Artinya sebesar 83,70% keragaman nilai persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) ditentukan

57

oleh besarnya skor produk, harga, promosi dan distribusi. Sedangkan sisanya sebesar 16,30% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dalam menguji kekuatan pengaruh kedua variabel, digunakan analisis uji F melalui hasil uji secara simultan diperoleh hasil sangat meyakinkan yaitu Fhitung yang lebih besar dari Ftabel (57,836 > 2,580). Hal ini berarti bahwa Ho ditolak atau Ha diterima, yang menyatakan bahwa variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) secara simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Dalam melakukan keputusan pembelian suatu produk, selain pertimbangan harga, tentunya ada pertimbangan-pertimbangan lain yang penting untuk dicermati oleh konsumen dan salah satunya adalah kualitas produk yang akan dibelinya. Sebagian besar responden yang melakukan pembelian diketahui bahwa gas LPG (elpiji) memiliki spesifikasi yang cukup baik, ditinjau dari merek, kemasan, warna, maupun substansi atau ukuran produk yang ditawarkan. Hasil analisis produk gas LPG (elpiji) di Kota Mataram pada 50 responden banyak yang mengatakan menyukai gas LPG (elpiji). Namun demikian ada beberapa responden yang mengatakan kurang menyukai dan kurang bangga terhadap citra dari gas LPG (elpiji). Ini disebabkan karena ketidaksesuaian antara keinginan dan harapan konsumen, kurang bangga terhadap citra merek Daia disebabkan sebagian dari mereka belum lama menggunakan gas LPG (elpiji).

58

Variabel produk memberi sumbangan secara parsial sebesaar 54,10% terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Variabel produk memberikan sumbangan paling besar dibanding dari variabel-variabel lainnya. Kemasan mempunyai arti penting di dalam mempengaruhi konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung, di dalam menentukan pilihan terhadap sebuah produk yang akan dibelinya. Keragaman desain/suatu corak produk yang unik lain daripada yang lain bisa merupakan salah satu ciri pembeda suatu produk. Desain/corak adalah suatu aspek pembentuk citra produk. Kekurang tahuan tentang suatu produk bisa menyebabkan penilaian yang tidak tepat terhadap suatu produk. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa harga, tingkat harga, harga saingan, dan permintaan bisa dikatakan pada tingkat cukup murah dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Beberapa faktor harga tersebut berpengaruh terhadap keputusan pembelian yang ditunjukkan dengan adanya pembelian ulang. Variabel harga memberi sumbangan secara parsial sebesar 21,30% terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram, meskipun persentasenya kecil namun pada dasarnya faktor harga juga sangat

dipertimbangkan oleh konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk. Dari kajian di lapangan, sebagian besar responden menyatakan harga gas LPG (elpiji) relatif cukup murah sehingga mampu bersaing dengan produk lain yang sejenis. Selain itu cukup baiknya tingkat harga dari gas LPG (elpiji) yang ditawarkan kepada konsumen tersebut juga ditunjukkan dari kesesuaian dan

59

manfaat yang didapatkan. Dorongan seseorang konsumen untuk melakukan tindakan pemilihan sumber daya bahan bakar, salah satunya adalah faktor harga. Harga sering dijadikan faktor kualitas oleh konsumen. Konsumen/pembeli sering memilih harga yang relatif lebih tinggi di antara dua jenis bahan bakar, karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas di dalamnya. Apabila harga lebih tinggi konsumen cenderung beranggapan kualitasnya juga lebih baik. Konsumen juga sering menggunakan harga sebagai kriteria dalam menentukan nilainya. Dalam hal ini, perusahaan harus menerapkan harga yang sesuai dengan keinginan atau daya beli konsumen. Selain melalui harga yang kompetitif dan produk yang berkualitas ditinjau dari kemasan maupun isinya, perusahaan juga melakukan kegiatan promosi guna memperkenalkan produknya tersebut agar lebih dikenal dan dekat dengan calon konsumen. Kegiatan-kegiatan promosi yang telah mampu mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian gas LPG (elpiji) di antaranya adalah cukup intensifnya kegiatan periklanan yang dilakukan perusahaan baik melalui media cetak maupun elektronik dengan frekuensi yang cukup sering sehingga mampu memberikan informasi yang lengkap tentang produk yang diiklankan kepada konsumen. Variabel promosi memberi sumbangan secara parsial sebesaar 10,90% terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Variabel promosi memberikan sumbangan yang relatif lebih kecil dibanding dengan variabel produk, harga dan distribusi. Secara umum dapat dijelaskan bahwa dalam melakukan pembelian konsumen cenderung akan memilih produk yang kemasannya menarik, kualitas

60

yang baik sesuai dengan harga yang ditawarkan. Pada umumnya perilaku konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk menitik beratkan pada produk yang memiliki karakteristik mudah diperoleh, lebih murah dan lebih baik ditinjau dari manfaat yang diperolehnya. Dengan demikian dari hasil analisa yang dilakukan maka hipotesis yang diajukan dapat diterima, dimana variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram adalah variabel produk (X1).

61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Ada pengaruh yang signifikan antara variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Besarnya pengaruh produk, harga, promosi dan distribusi terhadap keputusan pembelian produk gas LPG (elpiji) di Kota Mataram adalah 83,70%. 2. Ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara variabel persepsi konsumen dilihat dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan distribusi terhadap keputusan pembelian gas LPG (elpiji) di Kota Mataram. Besarnya pengaruh produk, harga, promosi dan distribusi terhadap keputusan pembelian produk gas LPG (elpiji) di Kota Mataram dengan sumbangan secara parsial variabel produk (54,10%), harga (21,30%), promosi (10,90%) dan distribusi (27,50%). 3. Variabel produk memberikan sumbangan paling besar dalam keputusan pembelian, disini kualitas produk merupakan faktor utama yang menentukan konsumen untuk memutuskan menggunakan produk gas LPG (elpiji). Kenyamanan konsumen dalam menggunakan produk tersebut juga merupakan

62

bagian yang menentukan untuk pengambilan keputusan dalam menggunakan produk tersebut.

5.2. Saran Dari simpulan hasil penelitian di atas, maka disarankan: 1. Kegiatan promosi gas LPG (elpiji) yang telah mampu menarik perhatian konsumen tersebut hendaknya tetap dipertahankan dan berusaha

meningkatkan frekuensi penayangannya di media masa agar semakin dekat dengan calon konsumennya. 2. Pemerintah dan Pertamina hendaknya menyesuaikan harga dengan kualitas produk, melalui kemasan yang menarik dan ukuran (berat) yang sesuai dengan harga yang telah ditetapkan, diharapkan bisa menjadikan konsumen puas dengan produk yang dikonsumsinya. 3. Sebelum melakukan pembelian, konsumen hendaknya lebih berhati-hati dalam memilih produk gas LPG (elpiji), jangan hanya tertarik dengan harga yang ditawarkan, kemasan yang dibuat dan iklan yang ditayangkan, akan tetapi mereka hendaknya mempertimbangkan juga kualitas dan manfaat yang diperoleh dari produk tersebut.