Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Sistem Informasi Geospasial (SIG) adalah suatu perkembangan yang digolongkan ke dalam ilmu dan teknologi terapan. Dengan sentral kegiatan pada manajemen dan pengolahan informasi yang berdasarkan pada wahana spasial berbasis komputer. SIG merupakan sarana analisis multi disiplin yang semakin hari semakin penting dan potensial penerapannya. Teknologi Sistem Informasi Geospasial dapat digunakan untuk suatu perencanaan daerah rawan penyakit demam berdarah. Ada beberapa pengertian tentang SIG, diantaranya tentang suatu sistem berbasis komputer yang mempunyai kemampuan untuk membangun, menyimpan, memanipulasi, dan menayangkan informasi yang bereferensi geografis, yaitu data yang diidentifikasikan sesuai dengan lokasinya di lapangan. SIG juga dapat berarti tentang penyertaan unsur operator (sumber daya manusia) dan data masukan sebagai bagian dari SIG secara keseluruhan. Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang dipengaruhinya.Untuk Subyek menyembuhkan sistematik penyakit, penyakit orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Patologi adalah pelajaran tentang penyakit. pengklasifikasian disebut nosologi.Badan pengetahuan yang lebih luas tentang penyakit adalah kedokteran. Dimana dengan adanya tuntutan akan data keruangan, baik dalam kehidupan manusia sehari-hari maupun tujuan-tujuan khusus yang semakin banyak dan komplek menuntut diperlukannya data-data keruangan serta analisisnya. Kebutuhan akan data keruangan sangat diperlukan Pemerintah Daerah untuk perencanaan pengembangan tata ruang dan penetuan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus.Tempat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam 1

berdarah.Virus dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembap.Maka dari itu studi ini SIG di manfaatkan untuk mengetahui daerah rawan penyakit demam berdarah. Proses pengumpulan data untuk penyesuaian lokasi untuk pengembangan analisa Daerah Rawan Penyakit Demam Berdarah Kota Malang adalah sebagai berikut :
Persiapan

Pengumpulan Data Data Spasial : Peta Batas Administrasi Peta Curah Hujan Peta Kepadatan Penduduk Digitasi Penyusunan dan Pengelompokan data non spasial Penyusunan data base non spasial Editing No Checking Kebenaran Yes Data Non Spasial : Nama Kecamatan Curah Hujan Kepadatan Penduduk Penumpukan Sampah

Export ke Arc/INFO

Topologi No

Editing

Checking Kebenaran Yes Topologi Penggabungan data/Join Item Data Base Manajement System (DBMS) Analisa Hasil

Penyajian Informasi/Pencetakan

1.2. Maksud dan Tujuan Praktikum Sistem Informasi Geografis (SIG) bagi mahasiswa Teknik Geodesi Institut Teknologi Nasional Malang adalah untuk : Memperkenalkan softwer Autodesk Land Desktop 2004 dan ARC GIS 9.3 serta cara-cara pengolahan data (spasial dan non spasial) pada Sistem Informasi Geografis (SIG). Memberikan pengetahuan yang cukup agar mahasiswa dapat melakukan pekerjaan dan menyajikan produk Sistem Informasi Geografis. Sebagai wahana aplikasi dari teori Sistem Informasi Geografis yang telah diberikan dalam perkuliahan. 1.3. Materi Praktikum Materi praktikum dalam Sistem Informasi Geografis antara lain : a. Pengenalan software Autodesk Land Desktop 2004 dan ARC GIS 9.3 b. Menganalisis daerah Rawan Penyakit Demam Berdarah di kota Malang c. Pembuatan Topologi d. Eksport data ke ArcGIS e. Menampilkan data spasial di software ArcGIS 9.3 f. Editing tabel g. Join data spasial dan non spasial h. Overlay i. Mengganti nama layer j. Klasifikasi dan simbolis data spasial k. Menggunakan label feature l. Penyajian hasil (Lay out peta) m. Plot peta

1.4. Metode Penulisan Dalam penyusunan Laporan Praktikum Sistem Informasi Geografis (SIG) ini digunakan metode sebagai berikut : 1. Studi Literatur Metode ini sebagai referensi yang dapat memberikan dukungan secara teoritis dalam meyelesaikan laporan ini, disamping itu penyusun dapat memperoleh masukan baik secara praktis maupun secara alamiah yang dapat membantu dan menambah perbendaharaan pengetahuan dalam menyusun laporan ini. 2. Studi Laboratorium Penyusunan laporan ini didasarkan pengolahan data dengan menggunakan hardware yang berupa komputer dan software berupa Autodesk Land Desktop 2004 dan ARC GIS 9.3 yang diperlukan untuk pekerjaan di Laboratorium Sistem Informasi Geografis (SIG) Institut Teknologi Nasional Malang.

BAB II DASAR TEORI


2.1 Defenisi Sistem Informasi Geografi Sistem Informasi Geografi ( SIG ) merupakan suatu sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan, manipulasi dan keluaran informasi geografi ( Aronoff, 1993 ). Banyak lagi pengertian-pengertian tentang SIG yang dikemukakan oleh para ahli namun pada prinsipnya mempunyai kesamaan unsur yaitu berupa komponen perangkat keras, perangkat lunak, data geografis, data personel yang saling berkaitan dalam suatu sistem yang memungkinkan untuk perekaman, penyimpanan, analisis dan penayangan dari data geografis secara penuh. 2.2 Komponen SIG Banyak komponen dan faktor yang saling terkait guna mengembangkan Sistem Informasi Geografis terdiri atas lima komponen dasar yaitu data, perangkat keras, perangkat lunak, tata cara / prosedur dan pelaksana. Kelima komponen tersebut merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan saling berhubungan atau dengan kata lainnya, komponen utama dalam SIG adalah : A. Perangkat Keras Komponen utama perangkat keras SIG adalah alat untuk masukan data, alat penyimpanan data, pengolah data dan alat untuk penampil dan penyajian hasil dari proses 1. 2. 3. 4. SIG. Perangkat keras dalam Sistem Informasi Geografi dapat dikonfigurasikan sebagai berikut : Komputer; untuk memasukan, mengelola, menyajikan informasi data serta kompilasi akhir. Plotter atau printer, merupakan peralatan yang digunakan untuk pencetakan dari hasil proses yang berupa hardcopy dari data spasial dan data atribut. Digitizer atau scanner, alat yang berfungsi untuk input data spasial. Peralatan pendukung lainnya seperti keyboard, mouse, disket dan lain sebagainya yang mendukung dalam pekerjaan.

B. Perangkat Lunak Perangkat lunak adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan berbagai macam program yang digunakan pada sistem komputer, perangkat lunak dalam Sistem Informasi mempunyai fungsi melakukan operasi-operasi dalam SIG seperti Masukan dan pembentukan data Penyimpanan data dan pengolahan data dasar

Keluaran data dan penyajian hasil C. Data Data adalah kumpulan data tentang suatu benda atau kejadian yang saling berhubungan satu sama lain, sedangkan data merupakan fakta yang mewakili suatu obyek seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan yang dapat dicatat atau direkam dalam bentuk angka, huruf, simbol, gambar atau kombinasi keduanya. Pengertian basis data diatas masih sangat umum didalam praktek penggunaan istilah basis data menurut Elmasari R. ( 1994 ) lebih dibatasi pada arti yang khusus yaitu : a. b. Basis data merupakan penyajian suatu aspek dari dunia nyata misalnya basis data perbankan, perpustakaan dan sebagainya. Basis data merupakan kumpulan data dari berbagai sumber secara logika mempunyai arti implisit sehingga data yang terkumpul secara acak dan tanpa mempunyai arti tidak dapat disebut basis data. c. Basis data perlu dirancang, dibangun dan data dikumpulkan untuk suatu tujuan, basis data dapat digunakan oleh pemakai dan beberapa aplikasi yang sesuai dengan kepentingan pemakai. Dari batasan diatas dapat dikatakan bahwa basis data mempunyai berbagai sumber data dalam pengumpulan data, bervariasi derajat interaksi kejadian dari dunia nyata, dirancang dan dibangun agar dapat digunakan oleh beberapa pemakai untuk berbagai kepentingan. Data input SIG terdiri atas data spasial yang berupa data vektor, raster dan data non spasial yang berupa tabular alfanumerik.

Data spasial Data yang berisi informasi tentang lokasi dan bentuk-bentuk dari unsur-unsur geografi serta hubungannya yang dibuat dalam bentuk peta. Ada dua macam format data spasial yaitu format vektor dan raster. 1. Format Data Raster. Struktur data dalam bentuk sel yang terbentuk atas baris dan kolom, setiap sel mempunyai satu nilai dan terisi satu informasi, grup dari sel mewakili unsur-unsur.

Gambar2.1. Peta Raster

2. Format Data Vektor Merupakan tipe data yang menggunakan luasan, garis dan titik untuk menampilkan obyek.

Gambar 2.2. Peta vektor

Data Non Spasial Yaitu data yang berupa angka atau teks yang bersumber dari catatan statistik atau sumber lainnya seperti hasil survey, data non spasial ini merupakan pelengkap bagi data spasial karena berfungsi sebagai deskripsi tambahan pada titik, garis, poligon atau batas wilayah.

D . Pelaksana (Manusia) Teknologi SIG tidaklah menjadi bermanfaat tanpa manusia yang mengelola sistem dan membangun perencanaan yang dapat diaplikasikan sesuai kondisi dunia nyata. Sama seperti pada Sistem Informasi lain pemakai SIG pun memiliki tingkatan tertentu , dari tingkat spesialis teknis yang mendesain dan memelihara sistem sampai pada pengguna yang menggunakan SIG untuk menolong pekerjaan mereka seharihari E. Tata Cara (Metode) SIG yang baik memiliki keserasian antara rencana desain yang baik dan aturan dunia nyata, dimana metode, model dan implementasi akan berbeda-beda untuk setiap permasalahan. Prosedur atau tata cara dalam Sistem Informasi Geografi merupakan bentuk kegiatan yang berhubungan dengan pengoperasian interaksi sistem informasi dan penanganan data, dalam hal ini merupakan aturan yang telah ditentukan untuk pelaksanaan suatu pekerjaan.

2.3. Analisa Spasial Kekuatan SIG sebenarnya tereletak pada kemampuan untuk menganalisis dan mengolah data dengan volume yang besar. Pengetahuan mengenai bagaimana cara mengekstrak data dan bagaimana menggunakannya merupakan kunci analisis di dalam SIG. Kemampuan analisis berdasarkan aspek spasial yang dapat dilakukan oleh SIG (Prahasta, 2003), antara lain : 1. Klasifikasi, yaitu mengelompokan data spasial menjadi data spasial yang baru, contohnya adalah mengklasifikasi tata guna lahan untuk pemukiman, pertanian, perkebunan, ataupun hutan berdasarkan analisa data kemiringan atau data ketinggian. 2. Overlay, yaitu menganalisis dan mengintegrasi dua atau lebih data spasial yang berbeda, misalnya menganalisis daerah rawan erosi dengan mengoverlay-kan data ketinggian, jenis tanah dan kadar air. 3. Networking, yaitu analisis yang bertitik tolak pada jaringan yang terdiri dari garis-garis dan titik-titik yang saling terhubung. Analisis ini sering dipakai dalam berbagai bidang, misalnya pada sistem jaringan telepon, kabel listrik, pipa minyak atau gas. 8

4. Buffering, yaitu analisis yang akan menghasilkan buffer atau penyangga yang bisa berbentuk lingkaran atau polygon yang melingkupi suatu objek sebagai pusatnya sehingga kita bisa mengetahui beberapa para meter objek dan luas wilayahnya. Buffering dapat digunakan menentukan jalur hijau, menggambarkan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) ataupun mengetahui daerah yang terjangkau batas untuk daerah telepon seluler. 5. Analisa 3 (tiga) dimensi, analisa ini sering digunakan untuk memudahkan pemahaman, karena data divisualisasikan dalam 3 dimensi, contohnya penggunaannya adalah untuk menganalisis daerah yang terkena aliran lava. 2.4 Proses Sistem Informasi Geografis Sebelum data geografi digunakan dalam SIG, data tersebut harus dikonversi kedalam format digital. Proses tersebut dinamakan digitasi . Proses digitasi memerlukan sebuah hardware tambahan yaitu sebuah digitizer lengkap dengan mejanya. Untuk mendigitasi peta harus dilekatkan pada peta digitasi titik dan garis ditelusuri dengan kursor digitasi atau keypad. Digitasi ini memerlukan software tertentu seperti ARC/INFO Autocad, MapInfo atau software lain yang dapat mensupport proses digitasi tersebut. Untuk SIG dengan teknologi yang lebih modern, proses konversi data dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi scanning.

Gambar 2.3. Proses Sistem Informasi Geografi

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM


3.1. Membuat Topologi Topologi data merupakan tahap akhir pekerjaan yang dilakukan di Autodesk Land Desktop 2004. Pembuatan topologi berfungsi untuk membentuk hubungan eksplisit diantara feature geografi pada coverage, (meliputi connectivity, contiguity, dan definisi area). Proses pembuatan topologi ini membantu untuk mengidentifikasi kesalahan yang terdapat pada data, misal : Arc yang tidak berhubungan dengan arc lainnya dan poligon yang tidak tertutup. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut : 1. Memulai Program Autodesk Land Desktop 2004 dengan Klik start, All program, pilih Autodesk Land Desktop 2004. Seperti gambar dibawah :

Gambar 3.1 Autodesk Land Desktop 2004 2. Peta hasil digitasi di Clean Up dengan memilih menu Map pada Menu Bar, kemudian klik Tools Drawing cleanup akan tampil kotak dialog seperti gambar dibawah :

10

Gambar 3.2 Langkah Kerja Clean Up

Gambar 3.3 Langkah Kerja Clean Up 3. Pada gambar 3.6 klik Object Selection, kemudian klik Select Manually. Setelah muncul klik Select pada Kursor, lakukan select pada peta, kemudian klik kanan dan pada layer select pilih Batas Administrasi lalu klick next maka akan tampil jendela Cleanup Action seperti gambar berikut :

Gambar 3.4 Tampilan Clean Up actions 11

4. Pada gambar 3.7, add semua Atribut Cleanup Action kemudian klick next maka akan muncul lagi jendelah cleanup methode seperti gambar di bawah:

Gambar 3.5 Tampilan Clean Up Methode 5. Pilih Line to polyline, Arc to polyline, circle to polyline kemudian klik finish. Maka otomatis proses drawing cleanup telah selesai. 6. Klik kembali menu Map, kemudian pilih Topology dan klik Create Topologi, akan tampil kotak dialog create polygon topology seperti pada gambar dibawah :

Gambar 3.6 Tampilan jendela topologi type

12

7.

Pada jendela topology type pilih polygon dan pada topology name kasih nama Batas administrasi kemudian klik next. Maka akan tampil lagi jendela select links. seperti gambar berikut :

Gambar 3.7 Tampilan jendela select links 8. Pada gambar diatas pilih select manually kemudian select peta lalu klik kanan, pada layers pilih Batas administrasi kemudian klik next, maka akan tampil lagi gambar jendela select nodes, seperti dibawah :

Gambar 3.8 Kotak dialog select nodes 9. Pilih select manually Select map klik kanan untuk kembali ke kotak dialog Create Topology. Kemudian klik finish dan lihat kotak command dibawah apakah proses Create topology succsessfully atau tidak, kalau belum

13

sukses maka mengulang langkah awal hingga proses topologi sukses yang ditandai dengan adanya statement Topology Succesfully atau adanya tanda titik di bagian tengah poligon.

Kalau sudah sukses maka hasilnya akan seperti gambar di bawah ini :

Gambar 3.9 Tampilan hasil pembuatan topologi layer batas adm 10. Rubahlah data yang sudah topologi ke dalam bentuk garis poligon dengan klik pada menu map topology Create closed Polylines. Maka akan tampil jendela Create closed Polylines pilih layer dan beri tanda silang pada Group Complex Polygon, Copy Object Data From Centroid to Pline, dan Copy Database Links From Centroid to Pline. Klik OK, maka data telah menjadi Polygon. Seperti gambar dibawah :

14

Gambar 3.10 Tampilan create closed polylines 11. Lakukan hal yang sama untuk peta Curah hujan, Kemiringan dan Kepadatan Penduduk. 3.2. Eksport Data ke Arc GIS 1. Aktifkan peta batas administrasi pada Autodesk Land Desktop 2004 hasil proses topologi. 2. Arahkan kursor ke menu Map kemudian pilih Tools dan klik Export.

Gambar 3.13 proses Export Data hasil topology 3. Muncul kotak dialog export location, merubah export type menjadi ESRI shape. Karena ESRI shape type yang dapat dibaca oleh software ArcGIS. 4. Membuat folder data spasial dan data yang akan di export disimpan dengan File Name (Batas Adm).

15

Gambar 3.14 Kotak dialok Export Location 5. Pada gambar diatas klik Ok maka akan muncul kotak dialog seperti gambar berikut :

Gambar 3.15 Kotak dialok Export Options 6. Pada selection objcet type pilih poligon, pada select object to export pilih select manuallyselect layer, centang pada group complex polygons kemudian klik pada options beri centang pada convert to dan treat closed polilines as polygon kemudian klik Ok, maka proses export telah selesai. 7. Lakukan hal yang sama untuk peta Landuse, jenis tanah dan kemiringan. 3.3. Menampilkan Data Spasial di Software ArcGIS 1. Membuka software ArcGIS.

16

(Gambar3.3.1 Langkah Membuka software ArcGIS)

2.

Kemudian akan muncul kotak dialog ArcMap pilih A New Empty A Map klik Ok.

( Gambar 3.3.2. Kotak Dialog ArcMap)

3. Add.

Klik pada Icon Add Data

, buka directori tempat kita

menyimpan hasil eksport pilih data yang akan di buka pada ArcMAP klik

(Gambar 3.3.3. Kotak Dialog Add Data)

17

4.

Hasil dari data yang telah di buka (Add Data) pada ArcMAP.

(Gambar3.3.4 Tampilan Peta Pada ArcMAP)

1.

Editing Tabel Klik kanan pada salah satu Icon (misal BtsAdm) hasil tampilan pada ArcMAP pilih Open Atribute Table.

(Gambar3.3.5 Kotak Dialog Open Atribute Table )

2.

Lalu masukan Id ( 11,12,13,14,15 ) pada kolom BTSADM_ID sebelum dijoin dengan data nonspasial.

File of Type dBase Files 18

1. Memasukan data non spasial seperti tabel data non spasial dibawah ini kedalam software microsoft excel, dan setiap data non spasial di inputkan pada sheet yang berbeda. Data non spasial Batas Administrasi
ID_KECAMATAN 11 12 13 14 15 NAMA_KECAMATAN Lowokwaru Blimbing Sukun Klojen Kedungkandang NAMA_CAMAT Paijo Boiman Bonang Bejo Nakibek

Data non spasial Curah Hujan


ID_Curah_Hujan 21 22 23 24 25 CURAH_HUJAN/TH 0 10% 11 15% 16 20 % 21 25 % 26 30 % SKOR 10 15 25 30 20

Data non spasial Kemiringan Tanah


ID_Kemiringan 31 32 33 34 35 Kemiringan 0 5% 6 10 % 11 15 % 16 20 % 21 - 25 % SKOR 30 25 20 15 10

Data non spasial Kepadatan Penduduk


ID_Kepadatan 41 42 43 44 45 SUHU_OPTIMUM 0 10 % 11 20 % 21 30 % 31 40 % 41 50 % SKOR 30 25 20 15 10

2. Hasil dari penginputan tiap data nonspasial pada software excel.

19

(Gambar3.3.6 Tampilan Data Non Spasial)

3. Data non spasial Batas Administrasi, Curah Hujan, Kemiringan Tanah, Kepadatn Penduduk di inputkan pada software excel. dengan format pada tabel data non spasial. 4. Data kemudian di Blok kemudian Save as pada folder data non spasial dengan Save as type DBF 4 (dBase IV) Join Data Spasial dan Non Spasial 1. Buka kembali ArcMAP klik kanan pada salah satu Icon (misal BtsAdm) Join and Relates Join.

(Gambar3.3.7 Proses Joint Data)

2. Maka akan muncul kotak dialog Join Data. 20

(Gambar3.3.8 Kotak Dialog Joint Data)

3. Pada 4. Pada 5. Pada layer the joint will be based on)

(1. Choose the field in this layer the joint (2. Choose the to joint to this layer, or (3. Choose the field in the table to base the

will be based on) pilih BTSADM_ID (untuk Batas Administrasi). load the table from disk) browse data non spasial BtsAdm.dbf klik Add join on:) lakukan hal yang sama seperti pada no 3 (1. Choose the field in this 6. Hasil Pengisian pada setiap perintah.

(Gambar3.3.9 Kotak Dialog Hasil Joint Data)

7. Kemudian klik Ok.

21

8. Untuk menyimpan hasil join, klik kanan pada icon yang akan di simpan, Save As Layer file dan simpan pada folder hasil join kemudian Save.

(Gambar3.3.10. Save as Layer file)

9. Lakukan hal yang sama untuk data spasial Curah Hujan, Kemiringan Tanah dan Kepadatan Penduduk Overlay Untuk melakukan overlay lakukan perintah sebagai berikut: 1. Klik pada simbol Arc Toolbox 2. Klik Analysis Tools Overlay Union.

(Gambar3.3.11 Kotak Dialog Union)

22

3. Browse hasil join pada input features klik BtsAdm.lyr dan CrhHjn.lyr Add Ok (Union 1).

(Gambar3.3.12 Kotak Dialog Input Features)

4. Lakukan proses yang sama pada Kelembaban udara dan Suhu Udara (Union 2). 5. Lakukan proses overlay antara union 1 dan union 2 OK( Union 3).

(Gambar3.3.13 Hasil Overlay Union1 dan Union 2)

Mengganti Nama Layer Untuk Union 3 Hasil Overlay Klik kanan pada hasil overlay Union 1 dan Union 2(Union 3).

23

Klik properties dan pilih menu General, pada Layer Name, rubahlah Union 3 menjadi hasil overlay.

(Gambar3.3.14 Kotak Dialog Layer Properties)

Save As Layer hasil overlay pada folder Hasil Overlay.

(Gambar3.3.15 Proses Save As Layer File)

Klasifikasi dan Simbolis Data Spasial 1. Klik kanan pada icon BtsAdm Properties Symbology Categories Pilih Unique Values.

24

2. Pada

kolom

Value

Field

diganti

dengan

nama

layer

misalnya

NAMA_KECAM (pada icon lain kolom Value Field tidak perlu di ganti). 3. Setelah itu Add All Values lalu Ok.

(Gambar3.3.16. Kotak Dialog Layer Properties)

4. Klik kanan pada icon BtsAdm pilih Properties kemudian klik Labels. 5. Pada kolom Label Field ganti dengan Nama Layer yang telah dibuat di atas Ok.

(Gambar3.3.17 Proses Save As Layer File)

25

6. Klik kanan pada icon BtsAdm Label Features.

(Gambar3.3.18 Pemberian Label pada Layer File)

7. Lakukan langkah yang sama pada feature lainnya. 8. Klik kanan pada Hasil Overlay Open Atribute table. 9. Options Add Field. 10. Nama Total Skor Type Short Integer Ok Yes.

(Gambar3.3.19 KotakDialog Add Field)

11. Klik kanan pada Total Skor Field Calculator Yes. 26

12. Klik 2x pada Curah Hujan Skor + Kemiringan Skor + Kepadatan Skor Ok.

(Gambar3.3.20 Attributes Table Hasil Skoring)

13. Klik Option Add Field. 14. Nama Kesesuaian Lahan Type Text. 15. Mencari interval kelas untuk kesesuaian lahan
=

Skor Tertinggi SkorTerendah Kelas


70 40 = 15 2

Berpotensi Banjir Tidak Berpotensi Banjir

= 55 70 = 40 - 54

16. Klik Editor Start Editing masukan keterangan sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai pada Field kesesuaian lahan - Stop Editing.

27

(Gambar3.3.21 Attributes Tabel Kesesuaian Lahan)

17. Klik kanan pada hasil Overlay Properties Symbology Categories. 18. Pada Value Field dipilih Kesesuaian Add Values. 19. Klik Labels Label Field dipilih kesesuaian Ok. 20. Klik kanan pada icon Hasil Overlay Label Features.

(Gambar3.3.22 Peta Kesesuaian Lahan)

Query Membuat query data spasial, dalam tahapan ini kita akan melakukan query data spasial untuk mencari obyek. Tahapan membuat query sebagai berikut:

1.

Masih dalam aplikasi ArcMAP, klik menu Selection kemudian klik Select By Attributes.

28

(Gambar3.3.23 Proses Select By Attributes)

2.

a. Pada kotak dialog

Select By Attributes, masukan perintah

"POTENSI_BENCANA" = 'BERPOTENSI_BANJIR'. Dengan cara: Klik POTENSI_BENCANA. Kemudian (=). Pilih jenis kesesuaian dengan cara klik Get Unique Values, maka data yang tersimpan pada Attributes akan ditampilkan. Misal pilih Berpotensi Banjir

(Gambar3.3.24 Kotak Dialog Select By Attributes )

Kemudian klik Ok. Maka area yang Berpotensi Banjir akan terblok

29

(Gambar3.3.25 Hasil Query Sangat Sesuai)

Penyajian Hasil Klik View Layout View. Klik Insert legend next finish. Insert Nort Arow Ok. Insert Scale Bar Ok. Insert Title PETA DAERAH RAWAN BANJIR KOTA MALANG.

30

(Gambar3.3.26 Hasil Penyajian Peta Pada Layout)

Plot Peta Klik File Print Prevew. Klik Print jika menginginkan mengeplot peta.

(Gambar3.3.27 Tampilan Print Prevew)

BATAS ADMINISTRASI KEPADATAN PENDUDUK CURAH HUJAN KELEMBABAN UDARA DAEARAH RAWAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH
31