Anda di halaman 1dari 37

1|Page

Yang Umum diucapkan di Awal Pembicaraan [JAP] Ohayou / Ohayou gozaimasu [INA] selamat pagi [JAP] Konnichiwa [INA] selamat siang [JAP] Konbanwa [INA] selamat malam [JAP] Yoroshiku onegaishimasu [INA] mohon bimbingannya / mohon bantuannya---> (biasanya diucapkan pada saat berkenalan, atau pada saat akan mengerjakan sesuatu bersama-sama) [JAP] O genki desu ka? [INA] Apakah Anda sehat? [JAP] O kage desu [INA] Saya sehat-sehat saja. > (digunakan untuk menjawab O genki desu ka?) [JAP] Kyou wa ii o tenki desu ne? [INA] Cuaca hari ini bagus, bukan? [JAP] Youkoso! [INA] Selamat datang! [JAP] Moshi-moshi [INA] Halo (berbicara lewat telepon) Yang Umum diucapkan Selama Percakapan Berlangsung [JAP] Hai [INA] Ya> (untuk menyetujui sesuatu atau menjawab pertanyaan) [JAP] Iie [INA] Tidak> (kebalikannya hai) [JAP] Arigatou / Arigatou gozaimasu [INA] Terima kasih

> (gozaimasu di sini dipakai untuk ucapan formal, atau bisa juga menyatakan terima kasih banyak) [JAP] Gomen na sai [INA] Mohon maaf [JAP] Sumimasen [INA] Permisi> (bisa juga diterapkan untuk minta maaf seperti gomen na sai ) [JAP] Zannen desu [INA] sayang sekali / amat disayangkan [JAP] Omedetou, ne [INA] Selamat ya> (untuk beberapa hal yang baru dicapai, e.g. kelulusan, menang lomba, dsb) [JAP] Dame / Dame desu yo [INA] jangan / sebaiknya jangan [JAP] Suteki desu ne [INA] Bagus ya / indah ya > (untuk menyatakan sesuatu yang menarik, e.g. hari yang indah) [JAP] Sugoi! / Sugoi desu yo! [INA] Hebat! [JAP] Sou desu ka [INA] Jadi begitu---> (menyatakan pengertian atas suatu masalah) [JAP] Daijoubu desu / Heiki desu [INA] (saya) tidak apa-apa / (saya) baik-baik saja Jika Anda Kesulitan menangkap Ucapan Lawan Bicara Anda [JAP] Chotto yukkuri itte kudasai. [INA] Tolong ucapkan lagi dengan lebih lambat. [JAP] Mou ichido itte kudasai. [INA] Tolong ucapkan sekali lagi.

2|Page

[JAP] Motto hakkiri itte kudasai. [INA] Tolong ucapkan dengan lebih jelas. Untuk Mengakhiri Pembicaraan [JAP] Sayonara [INA] Selamat tinggal [JAP] Mata aimashou [INA] Ayo bertemu lagi kapan-kapan [JAP] Ja, mata / mata ne [INA] Sampai jumpa [JAP] Mata ashita [INA] Sampai jumpa besok Beberapa Kalimat yang Tidak Selalu Muncul dalam Dialog, tetapi merupakan Elemen Kebudayaan Jepang [JAP] Irasshaimase! [INA] Selamat datang!--> (kalimat ini hanya diucapkan oleh petugas toko ketika Anda berkunjung) [JAP] Ittekimasu! [INA] Berangkat sekarang!--> (kalimat ini diucapkan ketika Anda hendak pergi meninggalkan rumah pada orang yang tetap tinggal di dalam) [JAP] Itterasshai [INA] Hati-hati di jalan--> (diucapkan ketika seseorang hendak pergi ke luar rumah; umumnya sebagai jawaban untuk Ittekimasu) [JAP] Itadakimasu [INA] [literal] Terima kasih atas makanannya---> (kalimat ini sebenarnya tidak diartikan secara harfiah. Masyarakat Jepang biasanya mengucapkan kalimat ini sebagai ungkapan rasa syukur atas makanan yang dihidangkan) [JAP] Gochisousama deshita [INA] [literal] perjamuan/hidangan sudah

selesai---> (seperti Itadakimasu, kalimat ini juga tidak diartikan secara harfiah. Masyarakat Jepang pada umumnya mengucapkan kalimat ini seusai makan) [JAP] Kimochi ii! [INA] [literal] terasa nyaman> (umum diucapkan jika Anda merasakan sesuatu yang nyaman di suatu tempat. E.g. ketika Anda pergi ke gunung dan merasa bahwa udaranya bagus, kalimat ini bisa dipakai untuk mengekspresikannya. ^^ ) yang mudah dan sering ditemui pemakaiannya (bukan nawar juga sih tapi): [JAP] : kore wa ikura desu ka? [INA] : Ini berapa harganya? Minta ditraktirin , mungkin bisa pakai ini, (soalnya belum pernah berani minat ditraktir, segan T_T ) [JAP] : watashi no wa, haratte itadakemasen ka? [INA] : Bersediakah membayarkan punya saya? pernyataan cinta : Kimi dake wo aishiteru. do itashimashite. Artinya kurang lebih sama-sama Oyasuminasai = Selamat Istirahat Tadaima = (salam pada saat datang) Okaeri = (salam menyambut yang datang) Shitsurei shimasu = permisi onamaewa nan desu ka? = namanya siapa? Secara umum, bahasa Jepang memiliki struktur kalimat yang berbeda dengan bahasa Indonesia dan Inggris. Perbedaannya bisa dijabarkan sebagai berikut: [ENG] I eat chocolate. [INA] Saya makan coklat. Dari contoh di atas, terlihat bahwa bahasa Indonesia memiliki struktur kalimat yang mirip dengan bahasa Inggris. Jika kita

3|Page

hendak menerjemahkan kalimat pertama ke bahasa Indonesia, maka kita cuma perlu mengganti kata I dengan Saya, eat dengan makan, dan chocolate dengan coklat. Di sini, kita tidak perlu menukar posisi antara subyek, predikat, maupun obyek untuk melakukan penerjemahan. Bagaimana dengan bahasa Jepang?

[INA] Oleh saya, coklat dimakan. Dengan panduan tersebut, kita bisa menerjemahkan bentuk kalimat Jepang yang paling dasar. That is, kalimat aktif sederhana. Tentunya kosakata baru harus dipelajari sendiri baik lewat kamus maupun otodidak. Contoh lainnya

Dalam bahasa Jepang, hal tersebut tidak bisa diterapkan. Terjemahan kata-per-kata dari kalimat di atas adalah sebagai berikut: saya = watashi = makan = taberu = coklat = CHOKOREETO = Meskipun begitu, contoh saya makan coklat di atas akan diterjemahkan dalam bahasa Jepang menjadi: [JAP] Watashi wa CHOKOREETO wo taberu. [JAP]

[JAP] Neko wa nezu o oikakeru. [JAP] -> neko () = kucing -> nezu () = tikus -> oikakeru () = mengejar [INA1] Oleh kucing, tikus dikejar. [INA2] Kucing mengejar tikus (bentuk disempurnakan) *** Jika kita tidak menggunakan obyek dalam kalimat dan hanya memakai subyekpredikat, maka cara penerjemahan di atas tak perlu dilakukan. Kita bisa menerjemahkan kata-per-kata begitu saja. E.g. [JAP] Ano hito ga hashiru. [JAP] -> ano hito () = orang itu -> hashiru () = berlari [INA] Orang itu berlari [JAP] Kaze ga fuku. [JAP] -> kaze () = angin -> fuku () = bertiup [INA] Angin bertiup.

Mengapa?

Ini karena kalimat dalam bahasa Jepang memakai struktur Subyek-Obyek-Predikat, dan menggunakan partikel tertentu sebagai pelengkap (yaitu wa/ga setelah subyek, dan wo untuk obyek). Kalau dilihat kata-per-kata dalam bahasa Indonesia, maka terjemahan di atas akan jadi seperti berikut: [JAP] Watashi wa CHOKOREETO o taberu. [INA] Saya, coklat, makan Hmm, tapi ini kurang enak untuk dibaca. Lebih cocok kalau kita menerjemahkannya sebagai berikut: [JAP] Watashi wa CHOKOREETO wo taberu.

4|Page

Ini juga berlaku untuk menjelaskan perihal suatu benda atau orang, hanya saja di akhirnya perlu ditambahkan partikel desu (atau bentuk informalnya, da). [JAP] Namae wa Sora desu. [JAP] -> namae () = nama [INA] Nama (saya) adalah Sora. [JAP] Aitsu wa otoko da. [JAP] -> aitsu () = orang itu (bentuk informal) -> otoko () = laki-laki/pria dewasa [INA] Orang itu laki-laki *** Yang sudah dijelaskan di atas adalah struktur kalimat aktif sederhana dalam bahasa Jepang. Dalam pembahasan selanjutnya, saya akan coba menulis tentang partikel pembentuk keterangan dalam bahasa Timur ini. Beberapa Partikel Keterangan yang Umum Dipakai

[INA] Jam milik saya Perhatikan bahwa di sini posisi subyek (saya) dan benda (jam) bertukar, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Prosesnya sendiri kurang-lebih sama dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Contoh lain [JAP] Okaa-san no kimono [JAP] -> okaa-san () = ibu -> kimono () = baju tradisional Jepang [INA] Kimono milik Ibu (b) menerangkan benda yang dimaksud Dalam penggunaan yang ini, partikel no bermakna mirip dengan kata yang di Bahasa Indonesia. Fungsinya adalah menjelaskan sesuatu benda secara detail. Contoh: [JAP] Ano hidari no e ga kirei desu. [JAP] -> ano () = itu -> hidari () = kiri/sebelah kiri -> e () = lukisan -> kirei () = cantik [INA1] Yang sebelah kiri, lukisannya cantik. (literal) [INA2] Lukisan yang sebelah kiri itu cantik. (bentuk disesuaikan) Contoh lain [JAP] Ichiban no eiyuu wa ULTRAMAN desu. [JAP] ULTRAMAN

1. Partikel no ( )

Secara umum, partikel no memiliki dua fungsi, yaitu (1) menyatakan kepemilikan dan (2) menerangkan benda yang dimaksud. Contoh penggunaannya adalah seperti berikut: (a) menyatakan kepemilikan [JAP] Watashi no tokei [JAP] -> watashi () = saya -> tokei ( = )jam

5|Page

-> ichiban () = terbaik/terhebat -> eiyuu () = pahlawan [INA1] Yang terhebat, pahlawan, adalah ULTRAMAN. (literal) [INA2] Pahlawan terhebat adalah ULTRAMAN. (bentuk disesuaikan) Berbagai penggunaan lain dari partikel ini bisa diturunkan dari dua fungsi di atas, walaupun terkadang agak kurang berterima dalam bahasa Indonesia. E.g. [JAP] kumo no ue [JAP] -> kumo () = awan -> ue () = atas [INA1] Atasnya awan [INA2] Di atas awan (bentuk disesuaikan)
2. Partikel de ( )

-> Kissaten () = kafe -> hataraku () = bekerja [INA1] Di kafe, (saya) bekerja. [INA2] Saya bekerja di kafe. (bentuk disesuaikan) [JAP] Asoko de matteta. [JAP] -> Asoko () = sana -> matteta () = menunggu (bentuk lampau) [INA1] Di sana, (saya) menunggu. [INA2] Saya menunggu di sana. (disempurnakan)

(b) untuk menyatakan cara Anda mungkin pernah menyatakan dalam bahasa Indonesia kalimat semacam ini: [INA] Saya pergi menggunakan bis. Dalam bahasa Inggris, kalimat tersebut bisa diterjemahkan sebagai berikut: [ENG] Im going by bus. Bagaimana dalam bahasa Jepang? Dalam Bahasa Jepang, kita bisa melakukan penerjemahan sebagai berikut: [INA] Saya pergi menggunakan bis. -> saya = watashi = -> pergi = iku = -> bus = BASU = [JAP] Watashi wa BASU de iku [JAP] Perhatikan bahwa di sini kalimat menggunakan pola Subyek-KeteranganPredikat sedikit mirip dengan pola

Seperti halnya partikel no, partikel de mempunyai dua fungsi umum. Yang pertama, menyatakan tempat; dan kedua, menyatakan cara. (a) untuk menyatakan tempat Maknanya kira-kira sama seperti kata di dalam Bahasa Indonesia. Penggunaan ini agak mirip dengan partikel ni akan tetapi, untuk saat ini, kita belum akan membahasnya. Contoh penggunaan: [JAP] Kissaten de hataraku. [JAP]

6|Page

Subyek-Obyek-Predikat ada tuli an mengenai kalimat akti sederhana yang lalu. C nt h lain,

e.g. watashi wa Sora desu watashi wa basu de iku (contoh di atas) (2 ga dipakai untuk penanda subyek, di mana subyek bukan merupakan topik utama. e.g. Pan wa watashi ga taberu > topik utama: pan (roti) > subyek: watashi (saya) watashi wa ano hito ga suki > topik utama: watashi (saya) > subyek: ano hito (orang itu) nande = kenapa nani ga = apa yang > (biasanya ada lanjutannya) nanika = sesuatu nani ga atta = ada apa > (bentuk lampau/past tense) na no = akhiran untuk bertanya, mirip dengan ka > (contoh: sou na no?) nanda yo? = apaan tuh? > (ini terjemahan Indonesia gaul nani yo? = sama dengan nanda yo

[JAP] Ano hito w hitori de i iru. [JAP]


-> Ano hito () = orang itu -> hitori () = sendiri/seorang diri -> ikiru = () hidup/ menjalani hidup [INA1] Orang itu sendirian menjalani hidup. [INA2] Orang itu hidup sendiri. (bentuk di esuaikan) Ikut tambahin fungsi partikel `de` ya, menyatakan sebab. contoh : 1. [JAP] Jishin de, biru ga taoreta. [ENG] Because of earthquake, a bulding collapsed. > jishin = gempa > biru = gedung > taoreta = roboh 2. [JAP] Byouki de, shigoto wo yasumimashita. *lirik yang lagi KP kerja *

[ENG] Because of illness, I took a day off work. > byouki = sakit > shigoto = peker jaan > yasumimashita = libur/cuti (1 wa dipakai untuk penanda topik pembicaraan. Atau umum juga untuk menyatakan sesuatu hal.

y kalau gedung itu milik saya bahasa jepangnya Ano tatemono wa watashino ya? Begitu juga bisa. Tapi umumnya ditambahkan desu untuk menegaskan. (o_0)\

7|Page

I.e.: Ano tatemono wa watashi no desu. = Gedung itu milik saya Tapi ada juga kalimat yang lebih nggak ribet untuk menyatakan kepemilikan, yakni: Are wa watashi no tatemono desu. = Itu gedung milik saya. Kurang lebih begitu. ^^

[sesuatu] de [kata kerja] =BASU de IKU > pergi dengan bis BA de HATARAKU > bekerja di bar dst. Kalau iku de basu, hasilnya agak kurang nyambung. Kalau dipaksa terjemahkan sih bisa tapi jadinya agak aneh. (saya bis dengan pergi ) ^^a Kurang lebih begitu.

ada yang ketinggalan. Benar gak? Aku bingung nih belajar kata sifat (ga), milik (no), dan tempat/cara (de). Sebenarnya, untuk kata sifat, bukan tergantung pada ga. Partikel ga fungsinya untuk menyatakan penunjuk. Jadi formatnya: (saya) ga (mengerjakan sesuatu) (saya) ga (kata sifat) (saya) ga (kata benda) di atas kan ada penjelasan: [INA] Saya pergi menggunakan bis. [JAP] Watashi wa BASU de iku bisa g kalo dibuat seperti: Watashi ga iku de basu di atas kan ada penjelasan: [INA] Saya pergi menggunakan bis. [JAP] Watashi wa BASU de iku bisa g kalo dibuat seperti: Watashi ga iku de basu Setahu saya sih, itu terbalik. Sebab formula dasarnya memiliki bentuk sbb:

[JAP] Ando no purin wa Sora ga tabenai [INA] Pudingnya Ando tidak dimakan oleh Sora Kalau pokok bahasannya Sora, jadinya Sora wa dst. [JAP] Sora wa Ando no purin o tabenai [INA] Sora tidak makan pudingnya Ando naide itu imbuhan yang menyatakan perintah jangan. Misal: nakanaide = jangan menangis, iwanaide = jangan katakan, dst. Sedangkan -nakute adalah bentuk -te dari nai. Bentuk ini dipakai kalau kita hendak menyambung antar klausa. Misal: [JAP] Okane ga nakute, kore wa mondai da. [INA] (Saya) tak ada uang, gawat ini. [JAP] Setsunakute, demo ii yo ne. [INA] Rasanya menyakitkan, tapi tak mengapa Tips: kata-kata sifat yang berakhiran -i bisa diubah jadi bentuk -te dengan menambahkan -kute. Misalnya samishii => samishikute,

8|Page

utsukushii = utsukushikute, dsb. Jadi tidak terpaku pada -nai saja. ^^v b. Ada petunjuk kecil ga? membedakan ruverb, dgn u-verb yg berakhiran -ru. . .seperti , kiru. *selain dari kanji nya* Lha kalau berakhiran -ru, sudah pasti itu ru-verb. Nggak mungkin u-verb tapi berakhiran -ru. ^^;; Kalau berakhiran -u, baru itu u-verb betulan. Contoh: taberu => ru-verb mamoru => ru-verb iu => u-verb au => u-verb Kurang lebih seperti itu. Semoga membantu.
3. Partikel ni

[JAP] Daigaku ni, RABU ga aru [JAP] -> daigaku () = kampus -> RABU () = lab/laboratorium -> aru () = ada/terdapat [INA] Di kampus, terdapat laboratorium Perlu diperhatikan bahwa di sini partikel ni hanya menjelaskan situasi di suatu tempat. Jika kita hendak menuliskan suatu kejadian dengan keterangan tempat, maka kita harus mengunakan partikel de. Contoh perbedaan:

[INA] Di sana, saya menunggu. [JAP1] Asoko ni, watashi ga matteta > penggunaan yang SALAH [JAP2] Asoko de, watashi ga matteta > penggunaan yang BENAR Meskipun begitu, terkadang beberapa lirik lagu (yang kalimatnya terpenggal-penggal) mengesankan seolah kedua partikel ini bisa dipertukarkan. E.g.

Secara umum, partikel ni memiliki kegunaan yang luas. Penggolongannya dapat dijabarkan lewat poin sebagai berikut:
(a) menyatakan situasi di suatu tempat

[JAP1] Kokoro no naka ni [JAP1] Kokoro no naka de [INA] Di dalam hati Sebenarnya ini agak menipu. Penggunaan partikel di atas tidak menyertakan kalimat lanjutan, yang boleh jadi sifatnya menjelaskan kegiatan (harus menggunakan de) atau sekadar menjelaskan situasi (harus menggunakan ni).

Sekilas, penggunaan partikel ni di sini mirip dengan partikel de yang telah dibahas sebelumnya. Meskipun begitu, ada perbedaan kecil yang harus diperhatikan: Partikel ni digunakan untuk menjelaskan situasi tempat. Sedangkan partikel de berfungsi menjelaskan lokasi berlangsungnya kejadian . Sehubungan dengan itu, penggunaan partikel ni kurang lebih bisa dicontohkan seperti berikut.

9|Page

(b) menyatakan waktu

[INA] Kalau bagi saya, hal itu tidak masalah Contoh yang lebih kompleks, bisa juga sebagai berikut: [JAP] Yo no naka ni wa, mahou kishi ga aru [JAP] -> yo no naka () = dalam dunia ini -> mahou kishi () = ksatria sihir -> aru = ada/terdapat = [INA] Di dalam dunia ini, terdapat ksatria sihir Pada dasarnya, partikel ni yang disertai wa ini berfungsi menjelaskan keadaan si subyek yang disebut sebelumnya. ^^
(d) menjelaskan perlakuan obyek pada subyek

Partikel ni juga bisa digunakan untuk menyatakan waktu berlangsungnya suatu peristiwa. Umumnya digunakan bersama dengan bilangan jam atau penunjuk waktu lainnya. Contoh: [JAP] Ichiji ni, watashi ga iku [JAP] -> ichiji () = jam satu / pukul satu -> watashi () = saya -> iku () = pergi [INA] Saat pukul satu, saya pergi Contoh lain, [JAP] Juunigatsu ni, yuki ga furu [JAP] -> Juunigatsu () = Desember (literal: bulan ke-12) -> yuki () = salju -> furu () = jatuh/turun (e.g. untuk hujan, salju, dsb) [INA] Saat Desember, salju turun

Judul di atas agak terlalu teknis; jadi baiknya kita langsung jelaskan dengan contoh saja ^^;; Misalnya Anda punya teman, yang mengalahkan Anda dalam bermain game. Maka, dalam bahasa Indonesia, hal itu bisa digambarkan sebagai berikut: [INA] Saya kalah melawan dia

(c) menjelaskan keadaan subyek

Untuk penggunaan ini, partikel ni tidak berdiri sendiri, melainkan ditemani oleh partikel wa. Dengan demikian, polanya akan menjadi [subyek] ni wa Contoh penerapannya: [JAP] Watashi ni wa, sore de ii [JAP] -> watashi () = saya -> sore () = itu / hal itu -> ii () = baik / tidak masalah

Nah, dalam bahasa Jepang, pernyataan ini bisa diterjemahkan sebagai: [JAP] Watashi wa aitsu ni maketa [JAP] -> watashi () = saya -> aitsu () = orang itu / dia (bentuk informal) -> maketa () = kalah (bentuk lampau dari makeru) [INA] Saya kalah dari dia

10 | P a g e

Pada dasarnya, penggunaan partikel ni yang ini berfungsi menunjukkan apa yang dilakukan obyek (dia) kepada subyek (saya). Contoh lain, [JAP] Kira wa Shinn ni awadateru [JAP] -> awadateru () = memukul / menampar -> Kira () dan Shinn () adalah nama orang [INA] Kira ditampar oleh Shinn [JAP] kanashimi ni makenaide [INA] Jangan kalah pada kesedihan. > (yang terancam kalah = saya)

memiliki beda arti : Nomimono o katte ikimasu (Saya pergi membeli minuman) Nomimono o kai ni ikimasu (Saya pergi dan membeli minuman) Apakah memang keduanya beda arti? Dan apakah pengubahan kata kerjanya (kau) sesuai? Ooh, itu (o_0)\ Penjelasannya begini: Katte ikimasu berasal dari kau + bentuk tte + iku (pergi) + bentuk -masu: kau > katte > katte iku > katte ikimasu Artinya saya pergi membeli minuman. Ada juga yang menulis te iku sebagai imbuhan (-teiku, sejenis dengan teiru). Artinya sama dengan penjelasan di atas tapi ini dibahas lain kali saja. Sedangkan partikel ni dalam ni ikimasu, maknanya kurang lebih sama dengan sambil (atau dan) di bahasa Indonesia. [JAP] kai ni ikimasu [INA] pergi membeli (=pergi sambil membeli) [JAP] asobi ni kita [INA] datang bermain (= datang dan bermain) Sebenarnya nggak beda jauh sih. Kalau di bahasa Indonesia ibaratnya dua kalimat sbb: 1) Saya pergi beli minum 2) Saya pergi sekalian beli minum

[JAP] Kanashimi wo makenaide [INA] Kesedihan jangan sampai kalah. > (yang terancam kalah = kesedihan) Kalau mengenai penggunaan pada obyek, perbedaannya begini: - partikel o menyatakan obyek diperlakukan X oleh subyek - partikel ni menyatakan obyek melakukan X pada subyek Misalnya: Watashi wa aitsu ni maketa > saya dikalahkan oleh dia Watashi wa aitsu o maketa > saya mengalahkan dia Jadi sebenarnya maknanya berkebalikan. Yang satu obyeknya aktif, sementara yang satu lagi obyeknya pasif. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa jenis penggabungan kata kerja di bawah ini

Kurang lebih begitu. CMIIW, though.

11 | P a g e

Saya juga pernah menemukan kata seperti: Watashi wa oyogu koto ga suki Kenapa tidak seperti ini : Watashi wa oyogu koto o suki Sejauh yang saya tahu, itu karena suki sebenarnya bukan kata kerja. Dia itu kata sifat. ^^ Orang sering menerjemahkan suki sebagai love (kata kerja). Ini agak kurang tepat yang benar adalah is loved. Contoh: [JAP] Anpan ga suki [ENG1] Melon bread is loved disempurnakan menjadi:

(gurai) [JAP] Kore wa ikura gurai desu ka? [ENG] What does this approximately cost? [JAP] Jikan wa sanjuppun gurai desu. [ENG] Our time is about thirty minutes. Kembali ke contoh pertanyaan. Saya lihat pertanyaannya berbunyi: ada berapa mobil macet antara Bandung-Jakarta? Ya, karena yang ditanya jumlah, otomatis pakai gurai. Goro cuma dipakai dalam menunjukkan waktu saja semisal jam berapa, atau kapan. ^^ (hint: asalnya dari kata koro = waktu di bahasa Indonesia) Arigatou Gozaimasu. Ojamashimasu

[ENG2] (I) love melon bread. Do itashimashite. ^^ Kalau menggunakan partikel o, harus diikuti oleh kata kerja. Sedangkan suki itu bukan kata kerja. Alhasil yang dipakai adalah wa atau ga. Pertanyaan terakhir, saya pernah menemukan kalimat seperti di bawah ini : Jakarta kara Bandung made kuruma de dono gurai kakarimasu ka? Apakah bisa kata dono gurai diganti dengan dono goro? Agak beda. gurai dipakai untuk menyatakan kira-kira secara umum (jarak, kuantitas, posisi, dsb.). Sedangkan goro hanya untuk menunjukkan waktu. Misal: (goro) [JAP] Itsu goro ka? Ni-ji goro desu. [ENG] Around when? Around oneo clock. [JAP] Watashi to Taro wa tomodachi desu. [JAP] -> watashi () = saya -> tomodachi () = sahabat / teman dekat
4. Partikel ya dan to

Partikel ya dan to memiliki arti yang mirip, yaitu sama dengan kata sambung dan dalam bahasa Indonesia. Fungsinya adalah menyatakan sejumlah benda secara bersamaan. Meskipun demikian, terdapat suatu perbedaan. Partikel to digunakan untuk menyatakan himpunan lengkap . Sedangkan partikel ya dipakai untuk menyatakan himpunan sebagian . Well kedengarannya memang agak rumit sih. Meskipun begitu, penjelasannya akan lebih mudah jika diterapkan dalam contoh berikut:

12 | P a g e

*) Taro di sini adalah nama orang [INA] Saya dan Taro adalah teman dekat. Dalam contoh di atas, subyek dibatasi pada saya dan Taro. Dengan kata lain, hanya saya dan Taro yang menjadi pokok pembicaraan di sini. Sedangkan penggunaan partikel ya agak sedikit berbeda: [JAP] Shiki ya Arihiko ga KAFETERIA ni iru [JAP] -> KAFETERIA () = kantin/kafetaria -> iru () = ada/berada *) Shiki serta Arihiko di sini adalah nama orang [INA] Shiki dan Arihiko berada di kafetaria Dalam penggunaan di atas, terlihat bahwa Shiki dan Arihiko sama-sama berada di kafetaria. Meskipun demikian, tidak hanya mereka berdua saja yang ada di kafetaria melainkan juga terdapat orang-orang lain. Dapat dikatakan bahwa partikel to mewakili complete list. Sedangkan partikel ya menyatakan incomplete list.
5. Partikel he

[JAP] Watashi wa daigaku he iku [JAP] -> watashi () = saya -> daigaku () = kampus -> iku () = pergi [INA] Saya pergi ke kampus Contoh lain [JAP] Ano otoko wa TOIRETTO he hashiru [JAP] -> ano otoko () = pria itu -> TOIRETTO () = toilet -> hashiru () = berlari [INA] Pria itu berlari ke arah toilet. Jadi di sini, terlihat bahwa partikel he menyatakan arah dari suatu pergerakan/aktivitas. Misalnya pergi (iku), berlari (hashiru), berjalan (aruku), dan lain sebagainya. ^^
6. Partikel kara

Partikel kara memiliki tiga fungsi dalam kalimat bahasa Jepang, dengan pembagian sebagai berikut: (a) menyatakan asal Dalam konteks ini, kara dipakai untuk menjelaskan dari mana suatu benda X berasal. Dalam Bahasa Indonesia, penggunaan ini diwakilkan oleh kata dari. Misalnya Anda hendak menjelaskan bahwa Anda baru saja datang dari Jakarta. Dalam bahasa Jepang, Anda bisa menggunakan kalimat sebagai berikut: [JAP] Watashi wa Jakarta kara kita. [JAP] Jakarta

Partikel he (atau biasa diucapkan e) berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan arah. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kita biasa menyatakan: [INA] Saya pergi ke kampus Dalam bahasa Jepang, kalimat tersebut akan berbunyi sebagai berikut:

13 | P a g e

-> Watashi () = saya -> kita () = datang (bentuk lampau dari kuru) [INA] Saya datang dari Jakarta. Contoh lain [JAP] Kimi kara no PUREZENTO [JAP] -> kimi () = kamu -> PUREZENTO () = hadiah [INA] Hadiah dari kamu (b) menyatakan sejak Well seperti kata sejak dalam bahasa Indonesia. What else? ^^; [JAP] Nananen mae kara, Taro wa BA de hataraku. [JAP] -> nananen mae () = tujuh tahun lalu = -> BA () = bar (serapan dari kata Inggris yang sama) -> hataraku () = bekerja [INA] Sejak tujuh tahun lalu, Taro bekerja di bar. [JAP] Daigaku toki kara, ano futari wa tomodachi desu. [JAP] -> daigaku toki () = saat kuliah / waktu kuliah -> ano futari () = dua orang itu / mereka berdua -> tomodachi () = teman baik

[INA1] Sejak kuliah, mereka berdua teman baik. (literal) [INA2] Mereka berdua teman baik sejak kuliah. (bentuk kalimat disempurnakan) (c) menyatakan sebab Untuk penggunaan ini, partikel kara memiliki fungsi yang mirip dengan kata karena dalam Bahasa Indonesia. Tujuannya adalah menghubungkan dua buah klausa dengan hubungan sebabakibat. Contoh: [JAP] Okane ga aru kara, karaoke he ikimashou! [JAP] ! -> okane () = uang -> aru () = ada / dimiliki -> ikimashou () = ayo pergi [INA] Karena kita ada uang, mari pergi karaoke! [JAP] Jikan ga nai kara, watashi wa KURASU he hashiru. [JAP] -> jikan () = waktu -> nai () = tidak ada / kehabisan -> KURASU () = kelas -> hashiru () = berlari [INA] Karena kehabisan waktu, saya berlari ke kelas. ***

14 | P a g e

7. Partikel made

Partikel made merupakan kebalikan dari fungsi (b) partikel kara yang telah dibahas sebelumnya. Jika kara diantaranya berfungsi menyatakan sejak, maka partikel made memiliki fungsi menyatakan makna hingga. Bersinonim juga dengan kata sampai dalam bahasa Indonesia. Contoh penggunaan: [JAP] Juunigatsu made, Arima-san wa Yokohama ni imasu. [JAP] -> juunigatsu () = Desember / bulan Desember -> imasu () = ada / berada (bentuk -masu dari iru) [INA1] Hingga bulan Desember, Tuan Arima berada di Yokohama (literal) [INA2] Tuan Arima berada di Yokohama hingga bulan Desember. (bentuk alternatif) [JAP] Tokyo made arukidasou! [JAP] ! -> arukidasou () = ayo berjalan kaki [INA] Ayo jalan kaki sampai Tokyo! Partikel made bisa juga digunakan untuk menjelaskan hingga kondisi tertentu. Misalnya, [JAP] Moetsukiru made ore wa ganbaru! [JAP] !

-> moetsukiru () = kelelahan / tak mampu lagi -> ore () = saya (laki-laki, informal) -> ganbaru () = berjuang [INA1] Sampai tak mampu lagi, saya akan berjuang! (literal) [INA2] Saya akan berjuang sampai tak mampu lagi! (bentuk alternatif) [JAP] Asa ga kuru made, boku wa nemurenai. [JAP] -> asa () = pagi -> kuru () = tiba -> boku () = saya (untuk laki-laki) -> nemurenai () = tak bisa tidur [INA] Hingga pagi tiba, saya tak bisa tidur. ***
8. Partikel dake

Dalam bahasa Indonesia, partikel dake umum diterjemahkan sebagai kata hanya. Dengan demikian, kegunaannya adalah untuk menyatakan ekspresi tidak lebih dari benda yang dinyatakan dalam kalimat. Well, agak sulit jika dijabarkan dalam bentuk kalimat seperti di atas; jadi lebih baik kita langsung beranjak dengan contoh: [JAP] Sonna koto wa Sensei dake ga wakaru. [JAP] -> sonna koto () = hal semacam itu -> sensei () = guru

15 | P a g e

-> wakaru () = mengerti / tahu [INA] Hal seperti itu, hanya Pak Guru saja yang mengerti. Contoh lain [JAP] Kokoro wa watashi dake no. [JAP] -> kokoro = hati = [INA] Hati (ini) hanya milik saya seorang. [JAP] Daisuki na tabemono wa, AISUKURIIMU dake desu! [JAP] ! -> daisuki na () = yang paling disukai -> tabemono () = makanan -> AISUKURIIMU () = es krim [INA] Makanan yang paling saya suka hanya satu, es krim!
1. Partikel ka

+ ka [JAP] C-san wa AMERIKA-jin desu ka ? [JAP] C- ? [INA] Apakah Tuan C orang Amerika? Di sini partikel ka berperan sebagai question mark. Apabila suatu kalimat diakhiri dengan ka, maka kalimat itu pastilah kalimat tanya! Asli: [JAP] Yoshi-kun wa koko ni imasu. [JAP] [INA] Yoshi-kun ada di sini.

+ ka [JAP] Yoshi-kun wa koko ni imasu ka ? [JAP] ? [INA] Apakah Yoshi-kun ada di sini?
2. Partikel yo

Partikel ka berfungsi untuk membentuk kalimat tanya. Partikel ini bisa dibilang cukup sakti kalimat berita apapun, apabila ditambahkan partikel ini di akhir kalimatnya, akan seketika berubah menjadi kalimat tanya. Contoh: Asli: [JAP] C-san wa AMERIKA-jin desu. [JAP] C- [INA] Tuan C (adalah) orang Amerika.

Partikel yo berfungsi untuk memberi penegasan dalam kalimat. Pada umumnya, partikel ini digunakan ketika menyampaikan ide/pendapat/opini yang cenderung subyektif; meskipun begitu bisa juga dipakai untuk menekankan kebenaran dari informasi yang disampaikan. Adapun contoh penggunaannya adalah sebagai berikut: [JAP] Ano ko wa kawaii desu yo. [JAP] -> ano ko () = anak itu -> kawaii () = lucu / imutimut [INA] Menurut saya, anak itu lucu. (menyampaikan opini)

16 | P a g e

Contoh lain: [JAP] Omae o matteru, yo. [JAP] -> omae () = kamu (informal) -> matteru () = tunggu [INA] Kamu sedang ditunggu, lho.

-> kimochi () = perasaan -> dakara () = karena itu / oleh karena itu -> kinishinaide () = jangan khawatir [INA] (Saya) mengerti perasaanmu; oleh karena itu, jangan khawatir. Ya? (melakukan persuasi)

(menekankan berita) Sedangkan untuk penggunaan yang kedua, Intinya, partikel yo adalah yang dibutuhkan jika kita hendak menegaskan sesuatu hal. Sebagai perbandingan: dalam bahasa Inggris fungsi ini biasanya diwakili oleh frase you know atau so I think di akhir kalimat. ^^
3. Partikel ne

[JAP] Kyou wa Sanae-san ga kirei desu, ne? [JAP] ? -> kyou () = hari ini -> kirei () = cantik [INA] Hari ini, Nona Sanae terlihat cantik, bukan? (menanyakan pendapat lawan bicara) [JAP] Hachigatsu no yuki ga aru no? Kiseki da ne? [JAP] ? ? -> hachigatsu () = bulan Agustus -> yuki () = salju -> kiseki () = keajaiban / mukjizat [INA] Ada salju di bulan Agustus? Itu pasti mukjizat, bukan? (menanyakan pendapat lawan bicara) *** Variasi Penggunaan dalam Kalimat Dalam penggunaan sehari-hari, terkadang ada beberapa varian partikel end sentence yang diturunkan dari tiga partikel di atas. Umumnya perubahan ini terjadi karena nuansa informal yang ingin dihadirkan;

Yang ini berfungsi sebagai pemberi kesan halus/persuasi dalam berbicara. Meskipun demikian, ne juga memiliki kegunaan lain yakni memunculkan pertanyaan balik di akhir kalimat (question tag ). Misalnya, untuk penggunaan yang pertama, [JAP] Ashita kara, kore wa kimi no gakkou da, ne? [JAP] ? -> ashita kara ( ) = mulai besok -> gakkou () = sekolah [INA] Mulai besok, ini sekolahmu yang baru. OK? (melakukan persuasi) [JAP] Sono kimochi ga wakaru; dakara, kinishinaide. Ne? [JAP] ?

17 | P a g e

e.g. ketika Anda sedang berbicara dengan teman atau keluarga. Beberapa variasi yang terjadi, antara lain: 1. ne menjadi na~ Na~ dengan a panjang; berbeda dengan partikel na memiliki manfaat yang sama persis dengan ne. Meskipun demikian, kesan yang ditimbulkannya sangat informal dan berkesan setengah hati. Kesan ini lebih tampak dalam penerjemahan sebagai berikut: [JAP] Aitsu wa okotteirunda. Taihen, da na~ [JAP] [INA] Dia sedang marah. Susah juga yaa [JAP] Hai, hai, wakatteiru. Warui na~ [JAP] [INA] Ya, ya, saya mengerti. Maaf deh 2. yo menjadi zo Yang ini biasanya diucapkan oleh pria; kesannya cenderung informal dan berpretensi kasar. [JAP] Ano MATRIX no eiga wa kakkoii da zo. [JAP] MATRIX [INA] Film MATRIX yang itu keren, lho.

[JAP] Aa, Rika-chan da! Kawaii zo! [JAP] ! ! [INA] Ah, itu Rika-chan. Dia lucu sekali! 3. ne di awal kalimat Yang ini agak berbeda dengan pokok bahasan kita tentang partikel end-sentence, sebab partikelnya sendiri justru diletakkan di awal kalimat. Meskipun demikian, saya rasa ada baiknya bila sekalian dijelaskan di sini. (o_0)\ Dalam penggunaan ini, partikel ne digunakan untuk memanggil orang yang sedang diajak bicara. Konsepnya kurang lebih sama dengan kata hei dalam bahasa Indonesia: [JAP] Ne, chotto matte yo! [JAP] ! [INA] Hei, tunggu sebentar! 4. Question mark dengan kai Bentuk yang lebih lembut untuk bertanya dibandingkan ka, digunakan oleh pria. Kalau Anda pernah mendengar lagu Konayuki dari Remioromen, Anda bisa mendengar penggunaan question mark model ini di dalamnya. ^^ [JAP] Sore ga dekita no kai? [JAP] ? [INA] Bisakah seperti itu?

18 | P a g e

Catatan Khusus: Kalimat Tanya tanpa Question Mark Walaupun secara default kalimat tanya dalam bahasa Jepang memerlukan partikel ka, terdapat satu kondisi di mana Anda tak perlu memanfaatkannya sama sekali. Meskipun demikian, sebagai gantinya, Anda harus memberikan intonasi yang tepat untuk mengesankan pertanyaan Anda. Dalam bahasa Jepang, intonasi yang tepat ini dimunculkan dengan memberi penekanan pada suku bunyi terakhir dalam kalimat. Contoh: [JAP] Sonna koto iwanaide! Otoko da yo!? [JAP] ?! ! [INA] Jangan bicara seperti itu! Kamu laki-laki, kan!? (bagian yo diucapkan agak tinggi dan memanjang) [JAP] Okane ga arimasu? [JAP] ? [INA] Apakah kamu ada uang? (bagian su diucapkan agak tinggi dan memanjang) Hal yang sama berlaku jika kita hendak mengajukan pertanyaan singkat dan sekedarnya, e.g.: [JAP] Hitori? [JAP] ? [INA] (Anda) sendirian? (bagian ri diucapkan agak tinggi dan memanjang)

[JAP] Shitteru? [JAP] ? [INA] (Anda) sudah tahu? (bagian ru diucapkan agak tinggi dan memanjang) Tentunya harus dicatat bahwa penggunaan di atas itu cenderung crippled secara gramatikal, dan tidak untuk digunakan dalam pembicaraan resmi. Walaupun masih efektif jika dipakai untuk keseharian saja. Walaupun posisinya juga di akhir, partikel ni di sini perannya lebih sebagai pembentuk keterangan. Yakni: kagayaku sora ni -> menyatakan tempat, i.e. di langit yang bersinar ai dake tayori ni -> menyatakan tempat juga, sebab tayori itu bentuk noun dari tayoru (=bergantung pada ) Yang terakhir agak rancu, tapi kalau dibaca kalimat lengkapnya: kaze ga yoseta kotoba ni, oyoida kokoro -> menyatakan tempat juga. Penjelasannya:

kaze ga yoseta kotoba ni = di antara kata-kata yang terbawa angin oyoida kokoro = hati (saya) berenang

Bentuk-bentuk Kata Kerja Dalam Bahasa Jepang


Dalam bahasa Jepang, kata kerja dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni: (1) Godan, (2) Ichidan, dan (3)

19 | P a g e

Irregular (i.e. tidak tergolong dalam dua grup sebelumnya). Secara fungsi hampir tidak ada bedanya antara tiga grup tersebut semuanya sama-sama bersifat kata kerja, punya bentuk waktu, dan sebagainya. Yang membedakan cuma infleksi (perubahan bentuk)-nya saja. Seperti apa perbedaan dan ketentuannya, akan segera kita lihat berikut ini. 1. Ichidan Verb Ichidan verb ( ) adalah kata kerja yang bentuk dasarnya berakhiran -*eru atau -*iru. Sebagai contoh, [latin] Kakeru [kana] [kanji] (en: to wear, to put on) > -*eru diwakili oleh -keru [latin] Oriru [kana] [kanji] (en: to descend) > -*iru diwakili oleh -riru [latin] Taberu [kana] [kanji] (en: to eat) > -*eru diwakili oleh -beru Di sini kita lihat bahwa Ichidan verb ditentukan oleh akhiran -*iru atau -*eru. Perlu dicatat bahwa -*iru dan -*eru tersebut BUKAN imbuhan mereka adalah bagian dari kata dasar. Jadi, kalau kita hendak lihat di kamus, maka di sana akan tertulis kakeru, oriru, dan taberu. Inilah yang disebut sebagai Ichidan verb.

2. Godan Verb Godan ( ) adalah kelompok kata kerja yang paling besar di antara ketiga grup kata kerja. Godan verb pada umumnya memiliki akhiran sebagai berikut: -ku ( - ), -gu ( - ), -su ( - ), tsu ( - ), -nu ( - ), -bu ( - ), mu ( - ), -ru ( - ), -u ( - ) Sebagai contoh [latin] Kaoru [kana] [kanji] (en: to smell sweet) [latin] Asobu [kana] [kanji] (en: to play) [latin] Kau [kana] [kanji] (en: to buy) Satu hal yang harus diingat: terkadang, jika melihat kata berakhiran -ru, kita langsung menilai bahwa itu Godan. Padahal belum tentu sebagaimana sudah dibahas, ada kemungkinan bahwa itu adalah Ichidan (akhiran -*iru, -*eru). Perbedaan antara Ichidan dan Godan akan berpengaruh dalam membentuk infleksi, terutama bentuk waktu jika tidak ada halangan, ini akan kita bahas di bagian 8 kelak.

3. Irregular Verb Di samping Ichidan dan Godan, terdapat satu grup yang kata kerjanya bersifat pengecualian/tidak tergabung di antaranya. Grup ini hanya berisi dua kata kerja, yakni:

20 | P a g e

IRREGULAR I: [latin] suru [kana] [kanji] ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan kana (en: to do) IRREGULAR II: [latin] kuru [kana] [kanji] (en: to come) Dengan demikian, kita sudah membahas tentang pengelompokan kata kerja. Selanjutnya kita akan membahas tentang bentuk positif dan negatif.

b) Bentuk Negatif: Godan

c) Bentuk Negatif: Irregular

Infleksi (Perubahan Bentuk): Positif dan Negatif


Sebagaimana umumnya sebuah bahasa, bahasa Jepang juga mempunyai bentuk positif dan negatif. Sekarang kita akan membahas bentuk positif dan negatif dari kata kerja yang sudah dibahas. Untuk memudahkan, berikut ini saya tampilkan dalam bentuk tabel:

Sebagaimana bisa dilihat, bentuk negatif dalam bahasa Jepang pada umumnya berakhiran -nai ( - ). Meskipun begitu akhiran yang berbeda memberikan bentuk negatif yang berbeda sebagai contoh, asoBU memiliki bentuk negatif asoBANAI. Jadi tidak bisa sekadar mencomot akhiran dan menggantinya dengan -nai. ^^

Bentuk -masu ( - ) dalam Bahasa Jepang


Sebagaimana sudah disinggung di salah satu komentar, sebenarnya tidak ada perbedaan makna antara kata kerja standar dan bentuk -masu. Yang membedakan hanyalah nilai kesopanannya saja. Kata kerja bentuk -masu umum dipakai dalam suasana formal. Misalnya ketika berbicara dengan guru, kakak kelas, atau atasan di kantor. Tidak ada batasan resmi kapan bentuk -masu harus dipakai yang penting adalah suasananya formal atau tidak. Ilustrasi: misalnya dengan teman yang baru kenal. Berhubung kita ingin sopan, maka menggunakan -masu. Tetapi, kalau

a) Bentuk Negatif: Ichidan

21 | P a g e

sudah akrab, boleh pakai bentuk kata kerja yang biasa. Kurang lebih seperti itu penjelasannya. ^^ Nah, tulisan ini bertujuan menjelaskan bagaimana membentuk akhiran -masu dari kata kerja yang dibahas tempo hari.

[latin] kau > kaimasu [kana] > [kanji] > (en: to buy)
(c) Irregular Verb

Bagaimana caranya?
Untuk membuat bentuk -masu, aturannya dikelompokkan menjadi tiga bagian, sesuai dengan jenis kata kerjanya. Detailnya adalah sebagai berikut:
(a) Untuk Ichidan Verb

Sebagaimana dibahas di tulisan lalu, terdapat dua buah kata kerja irregular dalam bahasa Jepang. Bentuk -masu untuk mereka adalah: [latin] suru > shimasu [kana] > [kanji] > * (en: to do)
*) bentuk ini jarang dipakai. suru dan shimasu umumnya ditulis dengan kana

Cara pembentukan: ganti akhiran -ru ( - ) dengan -masu ( - ) Contoh: [latin] taberu > tabe masu [kana] > [kanji] > (en: to eat) [latin] oriru > orimasu [kana] > [kanji] > (en: to descent)

[latin] kuru > kimasu [kana] > [kanji] > *** Dengan demikian, kita sudah paham bagaimana membuat bentuk -masu dari kata kerja standar. Kata kerja yang dihasilkan bersifat positif. Sekarang kita akan melihat bagaimana membuat versi negatif dari bentuk -masu.

(b) Untuk Godan Verb

Cara pembentukan: ganti suku bunyi terakhir -*u dengan -*imasu. Contoh: [latin] asobu > asobimasu [kana] > [kanji] > [latin] hanasu > hanashimasu [kana] > [kanji] > ( en: to speak)

Infleksi (Perubahan Bentuk): Kata Kerja Negatif


Untuk membuat bentuk negatif dari kata kerja berakhiran -masu, aturannya sangat sederhana, yakni: Ganti akhiran -masu ( - ) dengan masen ( - ) Sudah. Cuma begitu saja. bukan? Mudah

Adapun yang penting di sini adalah membuat bentuk -masu yang benar dulu. Kalau bentuk -masu kita sudah benar,

22 | P a g e

maka tinggal diganti akhirannya jadi masen. Contoh: [latin] tabemasu > tabe masen [kana] > [kanji] > [latin] hanashimasu > hanashimasen [kana] > [kanji] > [latin] kimasu > kimasen [kana] > [kanji] > Tentunya masih banyak contoh yang lain. Meskipun begitu, tiga di atas harusnya cukup untuk menjelaskan konsepnya. Masing-masing satu contoh dari ichidan, godan, dan irregular. Darou itu versi lebih kasar dari deshou . Artinya kira-kira, benar begitu kan? kalau di bahasa Indonesia. Asal katanya: desu () + akhiran -ou (menanyakan konfirmasi) = deshou () Secara teknis sebenarnya dia bukan imbuhan, cuma kata bantu biasa saja. Cuma kadang ada kalimat yang bunyinya seperti berikut (contoh) [formal] Shitteru n desu [kasar] Shitteru n da + akhiran -ou [formal] Shitteru n deshou? [kasar] Shitteru n darou?

Jadi kedengarannya seperti akhiran. Padahal sebenarnya tidak. ^^ Lebih lanjut mengenai struktur [verb] + [n] + [desu] bisa dibaca di link: [What is -n desu which is sometimes in the end of a sentence?]

Kata Kerja Bentuk Lampau () dalam Bahasa Jepang


Sebagaimana dibahas di [nihongo-7], infleksi kata kerja Bahasa Jepang ditentukan lewat tiga grup: Ichidan, Godan, dan Irregular. Hal yang sama berlaku jika kita hendak membuat kata kerja bentuk lampau. Aturan untuk masing-masing grup adalah sebagai berikut:
a) Untuk Ichidan Verb:

Ganti akhiran -ru (- ) dengan -ta ( - ). Contoh: [latin] taberu > tabeta [kana] > [kanji] > [latin] oriru > orita [kana] > [kanji] >

b) Untuk Godan Verb:

Godan verb memiliki akhiran yang beragam, di antaranya: -ku ( - ), -gu ( - ), -su ( - ), tsu ( - ), -nu ( - ), -bu ( - ), mu ( - ), -ru ( - ), -u ( - )

23 | P a g e

Masing-masing akhiran memiliki aturan infleksinya tersendiri. Oleh karena itu, untuk memudahkan, di bawah ini saya tampilkan dalam bentuk tabel.

Bagaimana dengan Negatif Lampau?


Bicara bentuk lampau, tentunya ada juga bentuk negatif lampau. Bagaimana cara membuat bentuk negatif lampau di bahasa Jepang? Cara melakukannya adalah: Ganti akhiran -nai ( - ) pada bentuk standar dengan -nakatta ( - ) Aturan ini bersifat universal dan dapat diterapkan pada ketiga jenis grup baik itu ichidan, godan, maupun irregular. Contoh: [latin] tabenai > tabenakatta [kana] > [kanji] > [latin] nagasanai > nagasanakatta [kana] > [kanji] > [latin] shinai > shinakatta [kana] > [kanji] >

c) Untuk Irregular Verb:

Terdapat dua buah kata kerja irregular dalam bahasa Jepang, yakni suru ( ; to do) dan kuru ( ; to come ). Bentuk lampau untuk mereka adalah sebagai berikut. IRREGULAR I: suru [latin] suru > shita [kana] > [kanji] > *
*) bentuk ini jarang dipakai. suru dan shita umumnya ditulis dengan kana

Tentunya masih banyak contoh yang lain. Meskipun begitu tiga di atas harusnya cukup sebagai ilustrasi. ^^

IRREGULAR II: kuru [latin] kuru > kita [kana] > [kanji] >

24 | P a g e

Catatan Khusus: Bentuk Lampau untuk -masu ( ) dan -masen ( - )


Di [nihongo-7b] kita membahas tentang akhiran -masu ( - ) dan versi negatifnya, -masen ( - ). Kata kerja yang diakhiri dua imbuhan tersebut memiliki nilai kesopanan lebih tinggi. Nah, mereka juga punya bentuk lampaunya sendiri. Bagaimana membuat bentuk lampau untuk akhiran -masu dan masen? Aturannya kurang lebih seperti berikut:

[kanji] > [latin] asobimasen > asobi masen deshita [kana] > [kanji] > Sudah, cuma begitu saja. Mudah bukan?

Adapun yang penting di sini adalah membuat bentuk -masu (dan -masen) yang benar dulu. Kalau bentuk -masu dan masen sudah benar, maka tinggal mengikuti aturan di atas. ii yokatta >> benarkah?

a) Untuk akhiran -masu ( - )

Ubah akhirannya menjadi: -mashita ( ) Contoh: [latin] orimasu > orimashita [kana] > [kanji] > [latin] asobi masu > asobimashita [kana] > [kanji] >

Bukan, itu rada beda. Kalau yang itu bentuk lampau kata sifat aturannya beda lagi daripada kata kerja. Yokatta asalnya dari yoi ( ), bukan ii ( ). Jadi perubahannya: yoi ( ) yokatta ( ) Kalau buat belajar Kanji saya pakai referensi sbb. J.Y. Mitamura & Y.K. Mitamura: Lets Learn Kanji: An introduction to radicals, components, and 250 very basic kanji . J.Y. Mitamura, Y.K. Mitamura, R.G. Covington: Lets Learn Family Groups, Learning Stategies, and 300 Complex Kanji Dalam bahasa Indonesia, kita membagi penggunaan kata ganti untuk menyebut orang lain berdasarkan tingkat kesopanan. Misalnya, [INA] Saya > untuk pembicaraan formal

b) Untuk akhiran -masen ( - )

Ubah akhirannya menjadi: -masen deshita ( - ) Contoh: [latin] orimasen > orimasen deshita [kana] >

25 | P a g e

[INA] Aku > untuk suasana yang lebih santai

[INA] Gue, Aing, dan sebagainya > untuk pembicaraan antar teman, berkesan kasar (contoh mengambil dialek Jakarta dan Bandung) [INA] Anda > untuk pembicaraan formal

> kata ganti sangat formal; biasa diucapkan oleh politisi/orang yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Beberapa kali digunakan oleh Lacus Clyne dalam pidato politiknya di Gundam SEED Destiny. nyontohin dari anime ajalah xD [JAP] atashi [Kanji] sama dengan watashi > kata ganti saya, khusus digunakan oleh wanita. Lebih informal daripada watashi. [JAP] atakushi [Kanji] sama dengan watashi > bentuk lebih formal dari atashi; merupakan bentuk feminin dari watakushi. [JAP] boku [Kanji] > mirip seperti aku dalam bahasa Indonesia. Umumnya hanya digunakan oleh pria, walaupun tokoh-tokoh wanita seperti Ayu Tsukimiya dan Hiyori Kusakabe juga memakai kata ini untuk menyebut diri mereka. ^^;; [JAP] ore [Kanji] > penggunaannya mirip kata gue dalam bahasa gaul Indonesia. HANYA digunakan oleh pria dalam pergaulan; tendensinya lebih kasar daripada boku dan cenderung meninggikan diri sendiri. [JAP] washi [Kanji] tidak ada; hanya ditulis dengan hiragana > yang ini hanya digunakan oleh orangorang tua. Priest Amon di serial GARO sering menggunakan kata ini ketika berbicara. ^^ [JAP] ware [Kanji]

[INA] Kamu > untuk suasana yang lebih santai

[INA] Lo, Maneh, dan sebagainya > untuk pembicaraan antar teman, berkesan kasar (contoh mengambil dialek Jakarta dan Bandung) Dalam bahasa Jepang, prinsip yang sama juga berlaku. Kata ganti yang kita gunakan akan berbeda tergantung pada siapa orang yang kita ajak bicara. Meskipun demikian, kata ganti bahasa Jepang memiliki variasi lebih luas daripada yang kita miliki di Bahasa Indonesia. Pembagiannya dapat dijelaskan sebagai berikut: Kata Ganti Orang Pertama (i.e. saya, aku, dan sebagainya) [JAP] watashi [Kanji] > kurang lebih sama dengan saya di Bahasa Indonesia. Konotasinya netral; bisa digunakan baik oleh pria maupun wanita. [JAP] watakushi [Kanji] sama dengan watashi

26 | P a g e

> artinya sama dengan saya. IMO, penggunaannya tak jauh berbeda dibandingkan dengan watashi. Kata Ganti Orang Kedua (i.e. Anda, Kamu, dan sebagainya) [JAP] anata [Kanji] ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana > bentuk umum untuk menyatakan Anda. Bisa juga digunakan untuk kepentingan formal. [JAP] kimi [Kanji] > kurang lebih sama dengan kata kamu di Bahasa Indonesia. Bisa dipakai untuk berdiskusi dengan teman atau orang yang lebih muda daripada Anda. [JAP] omae [Kanji] > lebih kasar dibandingkan kimi. Umumnya digunakan dalam pergaulan di mana Anda tak merasa perlu menghormati orang-orang di dalamnya. Penggunaannya mirip kata lu dalam dialek gua-elu. ^^ [JAP] anta [Kanji] tidak ada, hanya ditulis dengan hiragana > hanya digunakan pada rekan akrab, atau pada orang yang lebih tinggi tapi tidak Anda ingin hormati ( ). Sering dipakai oleh Shirou Kamui ketika berbicara dengan Hinoto-hime dalam serial X. [JAP] temme [Kanji] tidak ada, hanya ditulis dengan hiragana > kata ini digunakan jika Anda sedang ingin merendahkan lawan bicara. Umumnya dipakai di dunia kaum berandal semacamnya Harima Kenji dan Sawamura Seiji. ^^;; [JAP] kisama [Kanji]

> kata kamu yang sarkastis. Bisa digunakan kalau Anda punya orang yang Anda benci, sedemikian hingga Anda siap berkelahi dengannya saat itu juga. [JAP] onore [Kanji] > hanya digunakan untuk mengutuk dan menghina. SANGAT kasar. Pernah diucapkan oleh Horror menara jam di GARO episode 3. *** Derajat Kesopanan? Berhubung kesopanan adalah hal yang sangat menentukan dalam bahasa dan budaya Jepang (di samping situasi di mana diskusi berlangsung), maka berikut ini saya mengurutkan kata ganti di atas berdasarkan nilai kesopanannya. Urutannya kurang lebih sebagai berikut: Untuk Kata Ganti Orang Pertama 1. watakushi = atakushi (sangat sopan) 2. watashi = washi = ware (sopan, tapi umum juga digunakan dalam keseharian) 3. atashi = boku (informal) 4. ore (sangat informal) Untuk Kata Ganti Orang Kedua 1. anata (sopan, tapi umum juga digunakan dalam keseharian) 2. kimi (informal) 3. anta (tidak hormat) 4. omae (agak kasar) 5. temme = kisama (sangat menghina ) 6. onore (mengutuk lawan bicara. Jarang digunakan, IMO. )

27 | P a g e

1) On umumnya dipakai untuk kata yang bersifat compound, yakni gabungan dari lebih dari satu kanji. Contoh: (on gaku) + (on sei) = gakusei 2) Kun dipakai untuk kanji yang berdiri sendiri, atau diikuti oleh imbuhan (okurigana). Contoh: dan yang sudah disebut sebelumnya (kun shiro) + (hiragana i) = shiroi Lebih lanjut, bisa dibaca di link-link sbb: http://lingwiki.com/index.php?title=On_vs ._Kun_readings http://japanese.about.com/blqow44.htm

orang). Dipakai untuk pembicaraan formal. [latin] aitsu [kanji] ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana -> Bentuk informal/kasar dari ano hito yang disebut sebelumnya. Berasal dari gabungan kata ano (, itu) + yatsu (, orang/'seseorang). [latin] soitsu [kanji] ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana -> Informal, sama dengan aitsu. Gabungan dari kata sono (, itu) + yatsu (). Relatif jarang dipakai dibandingkan aitsu. [latin] koitsu [kanji] ; meskipun begitu lebih sering ditulis dengan hiragana -> Bentuk informal dari kono hito. Gabungan dari kata kono (, ini) + yatsu ().

Kata Ganti Orang Ketiga Tunggal


(i.e. dia, orang itu, dan sebagainya) [latin] kare [kanji] > Dipakai untuk menyatakan dia yang merujuk pada laki-laki. Kurang lebih sama dengan kata he dalam bahasa Inggris. Catatan: kata ini bisa juga digunakan untuk menyebut kekasih (pria). Meskipun begitu bentuk yang lebih umum untuk fungsi tersebut adalah kareshi (). [latin] kanojo [kanji] > Dipakai untuk menyatakan dia yang merujuk pada perempuan; kurang lebih sama dengan kata she dalam bahasa Inggris. Sama dengan kare, kanojo juga bisa dipakai untuk menyebut kekasih (dalam hal ini wanita). [latin] ano hito [kanji] -> Secara harfiah bermakna orang itu (dari kata ano (, itu) + hito ( orang). Dipakai untuk pembicaraan formal. [latin] kono hito [kanji] -> Secara harfiah bermakna orang ini (dari kata kono (, itu) + hito (

Kata Ganti untuk Bentuk Jamak


(i.e. kami, mereka, dan sebagainya) Untuk membentuk kata ganti jamak, aturannya cukup mudah. Kita tinggal dengan menambahkan akhiran -tachi (untuk penggunaan formal) atau -ra (untuk penggunaan informal) pada kata ganti tunggal. Contoh: [JAP] watashi() + -tachi () = watashitachi() [INA] (saya) + (-tachi) = (kami) [JAP] kare() + -ra () = karera ( ) [INA] (dia) + (-ra) = (mereka) -> umumnya untuk menyatakan sekelompok laki-laki Meskipun begitu, penggunaan akhiran -ra dan -tachi ini sangat tergantung pada kata ganti yang hendak diimbuhi. Sebagai contoh, kita bisa membentuk jamak dari

28 | P a g e

kata boku () menjadi bokura () serta bokutachi (). Akan tetapi kita tak bisa membentuk kata ganti jamak berupa kimira (kimi + ra) atau watashira (watashi + ra) untuk itu kata ganti jamaknya adalah watashitachi () dan kimitachi (). Pembagiannya bisa dilihat dalam tabel berikut: Bentuk Asal -tachi -ra watashitachi watashi atashitachi atashi watakushitac watakushi hi atakushi atakushitachi boku bokutachi bokura ore oretachi anata anatatachi anta antatachi kimi kimitachi omae omaetachi omaera temae temaera kare karera [1] kanojo ano hitotachi ano hito kono kono hito hitotachi aitsu aitsura aitsutachi soitsu soitsura soitsutachi koitsu koitsura koitsutachi

Keterangan: [1] kanojo biasanya tak disebut dengan jamak; penggunaan untuk ini umumnya dicover oleh aitsura.

Catatan Tambahan mengenai suffix -tachi


Secara umum, -tachi mempunyai kegunaan tambahan, yaitu menyatakan grup yang menyertai seseorang. Di Bahasa Indonesia, kita biasa menyebutnya dan kawan-kawan. Contoh: [JAP] Yamada-san-tachi wa Tokyo e ikimasu [INA] Tuan Yamada dan kawan-kawan pergi ke Tokyo Akhiran -tachi juga dapat digunakan untuk menyatakan keadaan benda yang banyak atau lebih dari satu. Misal: [JAP] koibitotachi [INA] pasangan kekasih > bisa juga bermakna pasanganpasangan kekasih [JAP] hitotachi [INA] orang-orang / banyak orang

Intro: Apa itu Huruf Kana?


Huruf kana adalah huruf-huruf dasar yang membentuk bahasa Jepang. Terdapat dua jenis huruf kana yang umum dipakai, yakni: Hiragana dan Katakana. Huruf kana memiliki kekhasan sebagai berikut: Satu karakter mewakili satu suku bunyi Setiap suku bunyi, e.g. ha, wa, ga, dan sebagainya, diwakili menggunakan satu huruf. Kita akan menyebut huruf-huruf ini sebagai huruf wa, huruf ga, huruf ha, dan seterusnya. Pengecualian: huruf n. Huruf kana n adalah satu-satunya yang

29 | P a g e

tidak memiliki bunyi vokal.


y

Tidak semua suku bunyi dicakup oleh huruf kana tradisional Ini adalah hal terpenting yang perlu Anda ingat. Terdapat beberapa suku bunyi yang tidak dicakup oleh huruf kana tradisional, di antaranya: yi, ye, wu, ti, tu ; semua ejaan yang mengandung huruf L ; semua ejaan yang mengandung huruf V *) huruf ye aslinya terdapat di ejaan kuno, tapi kini sudah tak digunakan Meskipun begitu, beberapa huruf katakana modern telah ditambahkan untuk mencakup suku-suku bunyi tersebut, walaupun tidak sepenuhnya sempurna. Lebih lanjut bisa dibaca di tulisan bagian 2.

Nah, dua hal di atas adalah rule of thumb dalam membaca dan mempelajari huruf kana. Setelah memahami petunjuk tersebut, maka kita siap untuk melangkah lebih lanjut.

Huruf Hiragana
Huruf Hiragana adalah huruf paling dasar dalam bahasa Jepang. Huruf ini memiliki tiga kegunaan utama, yakni: (a) membentuk imbuhan dalam kalimat (disebut okurigana)

30 | P a g e

(b) menjelaskan bacaan kanji (disebut furigana) (c) menuliskan partikel dan honorific Adapun daftar huruf Hiragana, beserta cara membacanya, dapat dilihat sebagai berikut:

Ketentuan Menulis Hiragana


Dalam menulis hiragana, terdapat tiga aturan utama, yakni: 1. Pertama-tama, susun huruf untuk membentuk kata yang diinginkan (sudah jelas) 2. Konsonan tebal diwakili oleh huruf tsu kecil Contoh: = (ha)(tsu) (ki)(ri) = hakkiri 3. Vokal panjang ditulis dengan menambahkan huruf terkait Contoh: = (o)(ka)(a)(sa)(n) = okaa-san

Pada contoh di atas, kanji untuk ai ( ; love) diikuti oleh hiragana suru ( ; to do). Di sini suru berperan sebagai imbuhan pembentuk kata kerja, sehingga hasil akhirnya adalah aisuru = to love. Maka, okurigana-nya adalah (suru). Contoh yang lain [JAP] [JAP] shiroi [ENG] white (adj.), white-colored Di awal mula hanya terdapat kanji (shiro), yang berarti warna putih (noun). Meskipun demikian, hiragana i menjadi imbuhan pembentuk kata sifat sehingga hasil akhirnya adalah shiroi = berwarna putih. Dengan demikian, okurigana bisa dibilang sebagai imbuhan pembentuk kelas kata di bahasa Jepang. Mulai dari kata kerja, kata sifat, hingga tenses, semuanya diindikasikan oleh okurigana yang dipakai. (b) Sebagai Furigana Furigana adalah petunjuk bagaimana cara membaca suatu kanji. Pada umumnya, sebuah kanji (atau banyak kanji) memiliki lebih dari satu cara pembacaan. Misalnya kanji berikut: Ini adalah nama keluarga. Bisa dibaca sebagai: Furuya, Furutani, atau Kotani (mengenai kenapa ini bisa terjadi, kapankapan akan saya bahas di tulisan tersendiri tentang Kanji) Lalu, bagaimana dong? Kalau misalnya saya jadi guru, dan harus mengabsen murid, tentunya saya tak bisa ambil resiko salah sebut. (masa Furuya jadi Furutani ?) Nah, untuk menyelesaikan masalah ini, dibuatlah sistem penulisan furigana. Nama dengan kanji ditulis dengan ukuran normal

Kapan Memakai Hiragana?


Sebagaimana sudah disebut sebelumnya, terdapat tiga jenis pemakaian huruf hiragana dalam bahasa Jepang. Sekarang kita akan lihat bagaimana huruf-huruf tersebut dipakai (a) Sebagai Okurigana Okurigana bisa dibilang sebagai imbuhan/tambahan yang melekat pada dalam sebuah kata bahasa Jepang. Kata yang ditempeli oleh okurigana adalah pokok perhatian kata ini biasanya ditulis dengan huruf kanji. Misalnya contoh berikut: [JAP] [JAP] aisuru [ENG] to love

31 | P a g e

sedangkan hiragana ditulis berukuran kecil sebagai pembantu.

Ternyata kanji tersebut dibaca Furuya, bukannya Furutani atau Kotani Meskipun demikian, terdapat juga penggunaan furigana yang bukan untuk nama. Biasanya teknik ini dipakai di buku pelajaran bahasa Jepang, komik-komik (manga), atau panduan wisata.

Contoh:

Misalnya untuk kepentingan administrasi (pengisian formulir), penulisan nama, dan juga untuk entry cara baca on (on-yomi) kanji dalam kamus. Katakana juga dipakai untuk menekankan semangat/menarik perhatian. Penggunaan ini umum dipakai di majalah-majalah dan brosur promosi berbahasa Jepang. (tambahan dari yan9n dan yusahrizal) Terdapat juga kegunaan sampingan dari katakana, yakni menuliskan onomatopeia (efek bunyi). Hal ini akan saya bahas sekilas di bagian selanjutnya. Daftar huruf katakana, beserta cara membacanya, dapat dilihat sebagai berikut:

Furigana di atas menjelaskan bahwa kalimat tersebut berbunyi: nihongo ga suki (= saya suka bahasa Jepang) (c) Menuliskan partikel dan honorific Semua partikel dalam bahasa Jepang ditulis menggunakan hiragana. Di sisi lain, terdapat juga beberapa honorific (sebutan perorangan) yang ditulis menggunakan hiragana, misalnya -kun, -san, -chan, dan tan. Meskipun demikian honorific yang lebih formal umumnya ditulis dengan menggunakan kanji bukan hiragana. Misalnya -dono (), -sama (), dan sensei ().

Huruf Katakana
Huruf Katakana adalah huruf dasar kedua dalam bahasa Jepang. Berbeda dengan hiragana yang memiliki banyak kegunaan, kegunaan utama katakana adalah menulis kata serapan dari bahasa asing dalam bahasa Jepang. [Update] Walaupun banyak dipakai untuk kata serapan, katakana juga memiliki penggunaan dalam konteks bahasa Jepang keseharian.

32 | P a g e

Ketentuan Menulis Katakana


Aturan menulis katakana kurang lebih sama dengan hiragana. Meskipun begitu terdapat sedikit perbedaan, yakni di nomor (3): 1. Pertama-tama: susun huruf untuk membentuk kata yang diinginkan (sudah jelas) 2. Konsonan tebal diwakili oleh huruf tsu kecil Contoh: (HAKKU) = (HA)(TSU)(KU) = HACK (bahasa Inggris) 3. Vokal panjang diwakili tanda strip () (SUTAATO) = (SU)(TA)()(TO) = START (bahasa Inggris)

Set Katakana Modern (Extended Katakana)

Di samping yang sudah disebut di atas, terdapat juga katakana yang ditambahkan di era modern. Huruf-huruf ini berfungsi mentransliterasikan kata-kata bahasa asing yang suku bunyinya tidak dicakup oleh huruf katakana tradisional (misal: ve, rye, kwa, dsb.). Daftarnya bisa dilihat sebagai berikut:

33 | P a g e

Kapan Memakai Katakana?


Sebagaimana sudah disebutkan di awal, katakana memiliki kegunaan utama menuliskan kata serapan dan istilah asing. Termasuk di dalamnya adalah nama benda dan tempat yang bukan berasal dari Jepang. Contoh: (BURITANIA) = Britannia
(KONPYUUTA) = Komputer (MINERARU) = Mineral

Kegunaan Lain: Menulis Onomatopeia

Katakana juga sering dipakai untuk menghasilkan onomatopeia (efek bunyi) dalam tulisan; terutama untuk bunyi yang keras/menyentak. Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti menulis dug-dug untuk menggambarkan detak jantung. Penggunaan ini umum untuk SFX di berbagai manga. Jadi, jika Anda sering melihat huruf-huruf SFX yang tak diterjemahkan di scanslation, hampir pasti huruf tersebut ditulis dengan katakana. Contoh:
(GATSU) = bunyi hentakan, cf. gats atau bats (GOGOGOGOGO) = bunyi ledakan beruntun, cf. dor-dordor (DOKUN) = bunyi detak jantung mendadak, cf. DUGG

Nama orang juga bisa ditransliterasikan menggunakan katakana walaupun untuk kepentingan formal biasanya nama nonJepang ditulis dengan huruf latin. Contohnya antara lain:
(EMIRI) = Emily (RUNAMARIA HOOKU) = Lunamaria Hawke (MARIANNU VI BURITANIA) = Marianne vi Britannia

dsb. Dengan cara yang sama, katakana juga bisa dipakai untuk menggambarkan teriakan (cf. AAAAAAAAAAAAAAA!!!). Menarik juga untuk dicatat bahwa katakana umumnya diterjemahkan sebagai ALL CAPS di huruf latin; paralel dengan bagaimana kita memakai ALL CAPS untuk efek bunyi di berbagai terjemahan. (e.g. DUGG, CRASH, BAM, dsb.)

Intinya, semua kata/istilah/nama yang berasal dari bahasa asing ditulis menggunakan katakana. Mungkin bisa dibilang bahwa katakana adalah perwakilan asing dalam bahasa Jepang.

Catatan Akhir
Berdasarkan pembahasan dari tulisan bagian pertama dan kedua, maka dapat kita tarik kesimpulan mengenai dua huruf kana yang sudah dibahas, yakni hiragana dan katakana:

34 | P a g e
Hiragana

1. Merupakan huruf dasar dalam bahasa Jepang 2. Dipakai untuk kepentingan gramatikal, e.g. membentuk kelas kata (okurigana) dan menulis partikel 3. Juga dipakai untuk menjelaskan cara baca kanji (furigana) 4. Hiragana juga dipakai untuk menuliskan honorific seperti -san, kun, -chan, dan -tan. Tidak ada honorific yang ditulis dengan katakana.
Katakana

Merupakan huruf yang dipakai menulis kata serapan dan nama asing Sering juga dipakai untuk menirukan efek bunyi/onomatopeia Kesan yang dihasilkan katakana adalah emphasis/penekanan, identik dengan italic atau ALL CAPS dalam huruf latin

Sekilas Huruf Kanji


Huruf Kanji (jp: ) adalah huruf Jepang yang diimpor dari aksara Cina. Dinamai Kanji karena menyesuaikan dengan istilah Mandarin Hanzi. Hanzi adalah nama aksara tradisional Cina. Seiring berlalunya waktu, aksara ini diserap penggunaannya oleh Bahasa Jepang. Berbeda dengan huruf latin, Kanji memiliki ciri khas yang unik. Aksara kanji bersifat ideogram yakni, satu aksara melambangkan sebuah gagasan. Misalnya sebagai berikut. Contoh Kanji: = sungai = angin = bintang (dan seterusnya) Uniknya, meskipun contoh-contoh melambangkan satu ide, mereka bisa dibaca dengan cara yang berbeda. Kalau di pelajaran bahasa Indonesia kita sering mendengar istilah homograf penulisannya sama tapi bacaannya

lain. Kasusnya di sini rada mirip dengan itu. Contoh Kanji: = sungai bisa dibaca kawa ( ) atau SEN ( ) = angin bisa dibaca kaze ( ) atau FUU ( ) = bintang bisa dibaca hoshi ( ) atau SEI ( ) (dan seterusnya) Peristiwa di atas terjadi karena huruf Kanji memiliki lebih dari satu cara membaca. Di atas tadi saya sekadar mencontohkan dua, tetapi sebenarnya, terdapat tiga macam cara membaca kanji. Masing-masing disebut cara baca ON (on-yomi), cara baca KUN (kun-yomi), dan cara baca NANORI (nanori-yomi). Mengenai tiga cara baca tersebut akan kita bahas lebih lanjut di bawah ini.

Cara Membaca Kanji: On, Kun, dan Nanori


a) Cara Baca On (On-yomi) Sebagaimana sudah diceritakan di awal, Kanji adalah huruf Jepang yang diimpor dari aksara Cina. Oleh karena itu terdapat pengucapan Kanji yang menyesuaikan dengan bahasa Cina. Nah, pengucapan kanji jenis ini disebut sebagai On-yomi. Meskipun begitu, karena perbedaan dialek antara Cina dan Jepang, jadinya pengucapan Kanji tersebut tidak sempurna. Misalnya contoh berikut. Contoh Kanji: = kebenaran/kejujuran -> dalam bahasa cina dibaca: xin -> dalam on-yomi disesuaikan menjadi: shin ( ) Sebagaimana bisa dilihat, terdapat penyesuaian dari Mandarin xin

35 | P a g e

menjadi Jepang shin. Meskipun demikian intinya tetap: cara baca ON (on-yomi) adalah cara baca Kanji menyesuaikan dengan aksara Cina . Otomatis, karena pertalian dengan huruf Cina tersebut, setiap kanji memiliki on-yomi. Sekarang kita kembali ke tiga contoh yang sudah disebut di awal. Contoh Kanji: = asal Mandarin: chuan menjadi on-yomi: SEN ( ) = asal Mandarin: feng menjadi on-yomi: FUU ( ) = asal Mandarin: xing menjadi on-yomi: SEI ( ) Tentunya contoh lain dapat dicari di kamus. Untuk dicatat, setiap kamus bahasa Jepang menuliskan on-yomi dalam huruf katakana. Jadi ada baiknya memastikan hafalan katakana sebelum belajar on-yomi. ^^
CATATAN PENTING!

Walaupun yang dicontohkan di atas cuma satu on-yomi, kadang ada kanji yang memiliki dua atau tiga on-yomi. Misalnya kanji (batu) dapat dibaca: SEKI ( ) SHAKU ( ) KOKU ( ) Untuk memastikan cara baca selengkapnya, jangan lupa selalu mencocokkan dengan kamus. b) Cara Baca Kun (Kun-yomi) Apabila on-yomi adalah cara baca Kanji berdasarkan bahasa Cina, maka cara baca KUN (kun-yomi) adalah sebaliknya. Kun-yomi adalah cara baca Kanji yang ASLI Jepang . Asli Jepang di sini dalam artian tidak terpengaruh oleh Mandarin. Misalnya contoh berikut. Contoh Kanji:

= pedang/mata pisau -> dalam bahasa Jepang dibaca tsurugi ( ) -> TAK BERHUBUNGAN DENGAN: Mandarin jian / on-yomi KEN ( ) Dari contoh di atas terlihat bahwa cara baca KUN adalah asli Jepang. Dalam segi pengucapan dia tidak ada perhubungan dengan Mandarin hanya penulisannya saja yang menumpang aksara Cina. Jadi di sini on-yomi dan kun-yomi berperan saling melengkapi. Apabila yang satu membaca Kanji berdasarkan Mandarin, maka yang lain melakukannya secara Jepang. Kembali ke tiga contoh paling awal di muka, maka perbandingan ON/KUNnya adalah: Contoh Kanji: = kun-yomi: kawa ( ) / on-yomi: SEN ( ) = kun-yomi: kaze ( ) / on-yomi: FUU ( ) = kun-yomi: hoshi ( ) / on-yomi: SEI ( ) Untuk dicatat, penjelasan kun-yomi dalam kamus selalu dituliskan dalam huruf hiragana. Oleh karena itu jangan lupa melatih hafalan hiragana untuk membacanya.
CATATAN PENTING!

Walaupun yang dicontohkan di atas cuma satu kun-yomi, kadang ada kanji yang memiliki banyak kun-yomi. Misalnya kanji (langit/kosong) dapat dibaca: sora ( ) kara ( ) aku ( ) Seperti sebelumnya, jangan lupa untuk selalu mencocokkan dengan kamus. c) Cara Baca Nanori (Nanori-yomi) Berbeda dengan dua cara bacaan sebelumnya, cara baca NANORI

36 | P a g e

(nanori-yomi) tidak berhubungan langsung dengan Bahasa Jepang sehari-hari. Pada kenyataannya nanori agak lebih unik; ini adalah pembacaan kanji yang khusus dipakai untuk nama. Nama ini bisa diberikan untuk orang atau tempat/daerah. Meskipun demikian perlu dicatat bahwa banyak nama Jepang disusun menggunakan kombinasi on-yomi / kun-yomi saja (jadi tidak mutlak harus melibatkan nanori). Barangkali kalau boleh diibaratkan: mau pakai nanori atau tidak itu tergantung yang memberi nama saja. Apapun pilihannya, aturan penggunaan nanori adalah untuk pemberian nama. Contoh kanji yang dapat berdiri sendiri sebagai nama, lewat bacaan nanori: = berkah / kebaikan -> dapat dibaca secara nanori sebagai: satoshi -> dapat dibaca secara nanori sebagai: aya -> meskipun begitu, secara kunyomi dibacanya megumi Nanori bisa juga dipakai sebagai kombinasi dengan on/kun-yomi untuk membentuk nama, misalnya: = Iida -> dibaca nanori: ii -> dibaca kun: ta (gabungan ii + ta dibaca Iida) Karena khusus untuk dipakaikan nama, tidak semua kanji memiliki nanoriyomi. Kata berkonotasi negatif biasanya tidak punya nanori hanya sebatas on- dan kun-yomi saja.

yang tergolong radical dapat bergabung dengan kanji lain; membentuk kanji yang baru. Oleh karena itu, radicals dalam Kanji berarti akar yang membentuk Kanji yang lebih kompleks. Misalnya contoh berikut. Contoh Radical: = gunung dapat diturunkan menjadi kanji baru:
(gunung) + (batu) = (tebing/batu cadas) (gunung) + (angin) = (badai) [i.e. "angin besar"] (gunung) + (patahan) + (turun) = (curam)
*) mengenai cara baca kanjinya, silakan copypaste ke WaKan atau JLookUp. =P

Elemen Dasar Kanji: Radicals (Bushu, )


Radicals (jp: bushu, ) adalah kelas kanji yang paling mendasar. Dinamai seperti itu karena mengacu pada bahasa latin radix dalam bahasa Indonesia berarti akar. Kanji

Mengenai radicals sendiri aturannya sangat kompleks, oleh karena itu kita takkan membahas terlalu jauh. Lebih lagi tulisan ini maksudnya sekadar pengenalan Kanji. Meskipun begitu intinya relatif sederhana. Radicals adalah elemen dasar yang membentuk kanji. Kerumitan kanji pada dasarnya adalah sekadar susunrangkai radicals. Apabila kita hafal radicals, maka menghafalkan kanji jadi lebih mudah. Adapun jumlah radical selengkapnya mencapai angka di atas 200. Daftar radical yang lengkap beserta turunannya bisa dilihat di: [sini] *** Sekarang kita kembali membahas contoh. Di atas tadi kita melihat contoh radicals yang relatif straightforward, yakni, mudah ditebak artinya. Meskipun begitu ada juga kombinasi yang agak susah dipahami biarpun komponen pembentuknya relatif jelas. Misalnya sebagai berikut. Contoh Radical:

37 | P a g e

= sawah

oleh karena itu: dapat diturunkan menjadi kanji baru:


(sawah) + (tenaga) = (pria/lelaki) (sawah) + (hati) = (berpikir) (sawah) + (atap) + (kaki) = (dunia)
*) mengenai cara baca kanjinya, silakan copy paste ke WaKan atau JLookUp. =P

= kendaraan listrik = kereta listrik Contoh lain yang lebih dari dua kanji, misalnya: (bushidou)

dapat dipecah menjadi:


(sifat ksatria) + (samurai) + (jalan)

Entah bagaimana asal-usul pengartiannya, barangkali orang Jepang asli lebih tahu. Yang jelas radicals adalah komponen penting dalam membentuk kanji elemen yang harus dikuasai jika kita ingin bisa baca-tulis Bahasa Jepang.

oleh karena itu:


= jalan keksatriaan samurai Sebagaimana sudah diutarakan, prinsipnya sama dengan bagaimana kita bermain kata di bahasa Indonesia. Semakin kita ingin detail, maka akan semakin banyak gabungan kanjinya. ^^

Gabungan Antar Kanji ( Jukugo, )


Di bagian sebelumnya kita membahas tentang radicals, yakni gabungan komponen untuk membentuk sebuah kanji. Sekarang kita akan membahas tentang gabungan lebih dari satu kanji. Secara istilah kebahasaan gabungan antar kanji ini disebut compound (jp: jukugo, ) . Kalau di Bahasa Indonesia, kita sering merangkai kata untuk menjelaskan detail. Misalnya rumah + kayu = rumah kayu. Hal yang sama juga berlaku dalam konteks jukugo dua buah kanji berperan membentuk ide yang lebih detail. Misalnya contoh berikut. (densha) dapat dipecah menjadi:
(listrik) + (mobil/kendaraan)

Catatan Khusus: Aturan Membaca Jukugo Pada umumnya kombinasi jukugo dibaca secara on-yomi. Dalam contoh bushidou ( ) tiga kanji dibaca secara ON-ON-ON. Demikian juga densha ( ) dibaca secara ON-ON. Meskipun begitu terdapat pengecualian. Jukugo untuk Asahi( ) dibaca secara KUN-KUN; ousama ( ) dibaca ON-KUN, dan sebagainya. Pengecualian ini banyak macamnya, oleh karena itu, mesti dihafalkan sendiri-sendiri. Pengecualian juga terdapat pada nama orang/tempat di Jepang. Jukugo pada nama dapat dibaca berupa kombinasi ON, KUN, dan NANORI. Sebagai contoh Sakurada ( ) dibaca KUN-KUN; Satou ( ) dibaca ON-ON; dan Gunma ( ) dibaca ON-KUN.

Anda mungkin juga menyukai