Anda di halaman 1dari 2

Konduktometri adalah metode yang digunakan dalam mengukur daya hantar larutan.

Daya hantar larutan merupakan kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus istrik karena adanya migrasi ion dalam medan listrik (Atkins 1999). Migrasi kation menuju elektroda negative, sedangkan anion menuju elektroda positif. Daya hantar ekivalen merupakan daya hantar larutan elektrolit dalam sejumlah 1 gram ekivalen zat di antara dua elktrode yang berjarak 1 cm (Keenan et al 1984). Factor yang mempengaruhi daya hantar suatu larytan antara lain : jumlah ion, kekeuatan ion, serta mobilisasi ion dalam larutan. Semakin banyak jumlah ion, semakin besar mobilisasi ion, serta semakin kuat sifat elektrolit suatu larutan, maka daya hantarnya akan semakin besar Larutan KCL digunakan untuk menentukan konstanta sel karena nilai konduktansnya telah diketahui. KCl adalah senyawa yang dapat mengion sempurna, sehingga daya hantar listriknya menjadi tinggi. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai tetapan sel sebesar 1,2415 x 10-6 mhos. Garam KCl merupakan garam yang mudah larut dalam air. Daya hantar jenis garam KCl disamakan dengan daya hantar larutan karena seluruh arus listrik dihantarkan oleh ion K+ dan Cl-. Sementara itu, daya hantar dari ion H+ dan OH- dapat diabaikan karena konsentrasinya yang sangat kecil. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai rerata daya hantar KCl sebesar 11,3733 x 103 mhos. Garam BaSO4 merupakan garam yang sulit larut dalam air. Karena konsentrasinya yang sangat kecil, sehingga daya hantar dari pelarut (air) tidak dapat diabaikan. Daya hantar jenis dari garam tersebut merupakan selisih dari daya hantar larutan dengan daya hantar air. Berdasarkan percobaan diperoleh daya hantar air sebesar 155,8455 x 10-6 mhos dan daya hantar jenis BaSO4 sebesar -129,3146 x 10-6. Nilai daya hantar garam yang diperoleh bernilai negatif karena daya hantar jenis air lebih besar daripada daya hantar jenis BaSO4. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan pengukuran karena ketidakstabilan larutan. Garam BaSO4 merupakan garam yang sulit larut dalam air sehingga daya hantar ekivalen diganti dengan daya hantar ekivalen pada pengenceran tak hingga dari kation dan anion. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai A BaSO4 pada suhu 30C sebesar 157,96. Berdasarkan nilai tersebut diperoleh C BaSO4 sebesar -8,1865x10-4 arek/L dan kelarutan garam BaSO4 sebesar -0,190 g/L. Bila dibandingkan nilai daya hantar ketiga larutan, maka nilai daya hantar larutan yang paling besar diperoleh larutan KCl dan yang paling kecil adalah larutan BaSO4. Hal ini tidak sesuai dengan teori. Nilai yang diperoleh berturut-turut adalah.. Simpulan Kelarutan garam dapat ditentukan secara konduktometri. Berdasarkan percobaan diperoleh konduktans Kcl paling besar di antara ketiga larutan. Hal ini disebabkan KCl merupakan garam yang mudah larut dalam air. Konduktans BaSO4 lebih kecil dibandingan konduktans air, sehingga diperoleh nilai daya hantar BaSO4 negatif. Hal ini dapat disebabkan kesalah praktikum. Nilai daya hantar garam BaSO4 adala sebesar.

Viskositas adalah ukuran kekentalan suatu cairan yang menyatakan besarnya gaya yang diperlukan untuk menggeser suatu cairan pada satuan kecepatan yang dinyatakan dalam mPas yang diukur pada suhu tertentu (Stevens 2001). Viskometer yang digunakan adalah viscometer Ostwald. Pada percobaan ini akan ditentukan viskositas larutan polimer yaitu PVOH. Polimer adalah gabungan dari satuan berulang yang disebut monomer dan memiliki bobot molekul yang besar mencapai ribuan dan puluhan ribu (Cowd 1981). Prinsipnya adalah viskositas ditentukan dengan mengukur waktu alir larutan polimer dan dibandingkandengan waktu alir pelarutnya. Larutan yang diukur viskositasnya memiliki konsentrasi yang berbeda. Larutan C1 dibuat dengan mengencerkan larutan induk, sedangakan larutan C2 dibuat dengan mengencerkan larutan C1. Hal ini terus dilakukan hingga didapatkan larutan C6. Jika viskositas larutan adalah dan viskositas pelarut murni adalah 0. Maka viskositas jenis sp larutan polimer diberikan oleh persamaan sp = r 1. relatif merupakan perbandingan waktu alir larutan terhadap pelarut murni. Persamaan ini menggambarkan peningkatan viskositas yang disebabkan oleh polimer. Nisbah sp /c disebutkan viskositas tereduksi atau pada pelarut tak terbatas disebut viskositas intrinsik [] (Stuart 2002). Pada percobaan ini akan dilihat perbedaan viskositas pada PVOH yang tidak didegradasi dan yang telah didegradasi oleh KIO3 dan dibantu dengan pemanasan. Degradasi adalah reaksi yang mencakup pemutusan ikatan kimia dalam polimer. Pemecahan atau pemutusan ikatan tersebut menyebabkan pengurangan bobot molekul (Stuart 2002). Mekanisme degradasi dapat melalui dua cara, yaitu secara enzimatik dan hidrolisis. KIO3 berfungsi sebagai oksidator yang mengoksidasi gugus OH pada PVOH dan memutus ikatan C-C alkohol. Pemanasan dapat menyebabkan PVOH terdegradasi. Oleh sebab itu, agar PVOH tidak terdegradasi pada percobaan pertama, PVOH hanya dilarutkan dalam air. Berdasarkan percobaan diperoleh waktu alir yang naik turun. Hal ini tidak sesuai dengan teori. Seharusnya semakin encer suatu larutan, maka akan semakin cepat waktu alir larutan tersebut. Dengan semakin rendahnya konsentrasi larutan dari larutan C1 hingga larutan C6, maka larutan c6 seharusnya memiliki waktu alir yang paling cepat. Kesalahan dapat terjadinya karena kesalahn paralaks sehingga mempengaruhi hasil percobaan. Berdasarkan percobaan didapatkan nilai viskositas intrinsic PVOH sebelum terdegradasi dan sesudah degradasi berturut-turut sebesar 775,3608 dan 1612,8359. Bobot molekul PVOH sebelum terhidrolisis dan sesudah terhidrolisis adalah sebesar dan. Bobot molekul sebelum lebih besar dibandingakan sesudah terhidrolisis. Simpulan Viskositas larutan polimer dapat diukur dengan membandingkan waktu alir larutan dengan waktu alir pelarut murni.