Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN LUKA BAKAR RUANG BEDAH G RSUD DR.

SOETOMO SURABAYA PERIODE TANGGAL15 APRIL 2002 S/D 19 APRIL 2002

DISUSUN SEBAGAI BAHAN LAPORAN KASUS PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESI DI RUANG BEDAH G, RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

DI SUSUN OLEH : SUBHAN NIM 010030170 B

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA PROGRAM STUSI S.1 ILMU KEPERAWATAN SURABAYA 2002

LEMBAR PENGESAHAN Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Klien dengan Luka Bakar Di Ruang Bedah G RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Surabaya, 19 April 2002

Mahasiswa

Subhan NIM. 010030170 B

Pembimbing Ruangan

Pembimbing Akademik

Endang larasati, SST NIP.

T J u T j u k, S.KP NIP.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)
1. PENDAHULUAN Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan. Dua puluh tahun lalu, seorang dengan luka bakar 50% dari luas permukaan tubuh dan mengalami komplikasi dari luka dan pengobatan dapat terjadi gangguan fungsional, hal ini mempunyai harapan hidup kurang dari 50%. Sekarang, seorang dewasa dengan luas luka bakar 75% mempunyai harapan hidup 50%. dan bukan merupakan hal yang luar biasa untuk memulangkanpasien dengan luka bakar 95% yang diselamatkan. Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius. Beberapa karakteristik luka bakar yang terjadi membutuhkan tindakan khusus yang berbeda. Karakteristik ini meliputi luasnya, penyebab(etiologi) dan anatomi luka bakar. Luka bakar yang melibatkan permukaan tubuh yang besar atau yang meluas ke jaringan yang lebih dalam, memerlukan tindakan yang lebih intensif daripada luka bakar yang lebih kecil dan superficial. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan yang panas (scald burn) mempunyai perbedaan prognosis dan komplikasi dari pada luka bakar yang sama yang disebabkan oleh api atau paparan radiasi ionisasi. Luka bakar karena bahan kimia memerlukan pengobatan yang berbeda dibandingkan karena sengatan listrik (elektrik) atau persikan api. Luka bakar yang mengenai genetalia menyebabkan resiko nifeksi yang lebih besar daripada di tempat lain dengan ukuran yang sama. Luka bakar pada kaki atau tangan dapat mempengaruhi kemampuan fungsi kerja klien dan memerlukan tehnik pengobatan yang berbeda dari lokasi pada tubuh yang lain. Pengetahuan umum perawat tentang anatomi fisiologi kulit, patofisiologi luka bakar sangat diperlukan untuk mengenal perbedaan dan derajat luka bakar tertentu dan berguna untuk mengantisipasi harapan hidup serta terjadinya komplikasi multi organ yang menyertai. Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar berhubungan langsung dengan lokasi dan ukuran luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai. Klien luka bakar sering mengalami kejadian bersamaan yang merugikan, seperti luka atau kematian anggota keluarga yang lain, kehilangan rumah dan lainnya. Klien luka bakar harus dirujuk untuk mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik untuk menangani segera dan masalah jangka panjang yang menyertai pada luka bakar tertentu. Definisi Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001). Etiologi 1. Luka Bakar Suhu Tinggi(Thermal Burn) a. Gas b. Cairan c. Bahan padat (Solid) 2. Luka Bakar Bahan Kimia (hemical Burn) 3

3. 4.

Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn) Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)

Fase Luka Bakar A. Fase akut. Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase ini, seorang penderita akan berada dalam keadaan yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok (terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih ditingkahi denagn problema instabilitas sirkulasi. B. Fase sub akut. Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan: 1. Proses inflamasi dan infeksi. 2. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional. 3. Keadaan hipermetabolisme. C. Fase lanjut. Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

Klasifikasi Luka Bakar A. Dalamnya luka bakar. Kedalaman Ketebalan partial superfisial (tingkat I)

Penyebab Penampilan Warna Jilatan api, sinar ultra Kering tidak ada gelembung. Bertambah merah. violet (terbakar oleh Oedem minimal atau tidak ada. matahari). Pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas.

Perasaan Nyeri

Lebih dalam dari ketebalan Kontak dengan bahan partial air atau bahan padat. (tingkat II) Jilatan api kepada Superfisial pakaian. Jilatan langsung Dalam kimiawi. Sinar ultra violet. Ketebalan sepenuhnya (tingkat III) Kontak dengan bahan cair atau padat. Nyala api. Kimia. Kontak dengan arus listrik.

Blister besar dan lembab yang ukurannya Berbintik-bintik yang kurang Sangat nyeri bertambah besar. jelas, putih, coklat, pink, Pucat bial ditekan dengan ujung jari, bila daerah merah coklat. tekanan dilepas berisi kembali.

Kering disertai kulit mengelupas. Putih, kering, hitam, coklat Tidak sakit, sedikit Pembuluh darah seperti arang terlihat tua. sakit. dibawah kulit yang mengelupas. Hitam. Rambut mudah Gelembung jarang, dindingnya sangat Merah. lepas bila dicabut. tipis, tidak membesar. Tidak pucat bila ditekan.

B. Luas luka bakar Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu: 1) Kepala dan leher : 9% 2) Lengan masing-masing 9% : 18% 3) Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36% 4) Tungkai maisng-masing 18% : 36% 5) Genetalia/perineum : 1% Total : 100% C. Berat ringannya luka bakar Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain : 1) Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh. 2) Kedalaman luka bakar. 3) Anatomi lokasi luka bakar. 4) Umur klien. 5) Riwayat pengobatan yang lalu. 6) Trauma yang menyertai atau bersamaan. American Burn Association membagi dalam : 1) Yang termasuk luka bakar ringan (minor) : a) Tingkat II kurang dari 15% Total Body Surface Area pada orang dewasa atau kurang dari 10% Total Body Surface Area pada anak-anak. b) Tingkat III kurang dari 2% Total Body Surface Area yang tidak disertai komplikasi. 2) Yang termasuk luka bakar sedang (moderate) : a) Tingkat II 15% - 25% Total Body Surface Area pada orang dewasa atau kurang dari 10% - 20% Total Body Surface Area pada anak-anak. b) Tingkat III kurang dari 10% Total Body Surface Area yang tidak disertai komplikasi. 3) Yang termasuk luka bakar kritis (mayor): a) Tingkat II 32% Total Body Surface Area atau lebih pada orang dewasa atau lebih dari 20% Total Body Surface Area pada anak-anak.. b) Tingkat III 10% atau lebih. c) Luka bakar yang melibatkan muka, tangan, mata, telinga, kaki dan perineum.. d) Luka bakar pada jalan pernafasan atau adanya komplikasi pernafasan. e) Luka bakar sengatan listrik (elektrik). f) Luka bakar yang disertai dengan masalah yang memperlemah daya tahan tubuh seperti luka jaringan linak, fractur, trauma lain atau masalah kesehatan sebelumnya.. American college of surgeon membagi dalam: A. Parah critical: a) Tingkat II : 30% atau lebih. b) Tingkat III : 10% atau lebih. c) Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah. d) Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.

B. Sedang moderate: a) Tingkat II b) Tingkat III C. Ringan minor: a) Tingkat II b) Tingkat III

: 15 30% : 1 10% : kurang 15% : kurang 1%

Patofisiologi Luka Bakar Eritrosit Metabolisme anemia Glukoneogenesis Kebutuhan O2 Luka Bakar Luas Resiko Kerusakan Pertukaran Gas Aldosteron Depresi miokard/ MDF Katekolamin Insufisiensi miokard Renal flow cardiac output Retensi Na+ GFR Ggn perfusi jaringan. K+ loss Asidosis Gagal ginjal Gagal hepar Hipoksia hepar Gangguan Perfusi Jaringan Vasokontriksi H2O loss Sekresi adrenal release

Perubahan Nutrisi:Kurang Kebutuhan Glikogenolisis Resiko Infeksi

Splenic flow

hipovolemik

Resiko Kekurangan Volume Cairan Nyeri Ansietas Kerusakan Mobilitas Fisik

(Hudak & Gallo; 1997)

Efek fisiologi yang merugikan pada luka bakar dapat ringan, pembentukan jaringan parut lokal atau luka bakar yang berat yang berupa kematian. Pada luka bakar yang lebih besar terjadi kecacatan. Setelah permulaan luka bakar dan akibat trauma kulit dapat berkembang dan merusak berbagai organ. Perkembangan ini kompleks dan pada beberapa kasus kejadiannya tak dapat dijelaskan. Yang penting besarnya perubahan fisiologi yang disertai dengan luka bakar berkisar pada dua kejadian yang mendasari yaitu : 1. Kerusakan langsung pada kulit dan gangguan fungsinya. 2. Stimulasi kompensasi reaksi pertahanan masif yang meliputi pengaktifan respon keradangan dan respon stress sistem syaraf simpatis.

1.

Kerusakan Kulit Dan Kehilangan Fungsi. Tubuh mempunyai beberapa metode untuk mengkompensasi terhadap luasnya variasi dalam temperatur eksternal. Sirkulasi darah bertindak menghasilkan dan menghantarkan panas, penghantaran pasas yang efisien di bawah normal. Bila panas diberikan pada kulit maka temperatur subdermal segera meningkat dengan cepat. Segera sumber panas dipindah (diangkat), tubuh akan kembali normal dalam beberapa detik. Jika sumber panas tidak segera dihilangkan atau diberikan rata-rata atau pada tingkat yang melebihi kapasitas kulit untuk menghantarkannya, maka terjadilah kerusakan kulit. Paparan panas yang relatif rendah yang lama atau paparan pendek temperaturnya yang lebih tinggi dapat menyebabkan kerusakan kulit yang progresif pada tingkat yang lebih dalam. Kebanyakan luka bakar pada ukuran yang berarti menyebabkan kerusakan sel melalui semua lapisan, meskipun tidak sama pada semua area. Ketebalan kulit yang terlibat tergantung pada kerusakan jaringan yang disebabkan oleh panas. Panas yang kurang dalam waktu yang diperlukan untuk kerusakan pada daerah tubuh dengan kulit tipis sebanding dengan daerah dimana kulit lebih tebal. Kulit yang paling tebal adalah pada daerah belakang dan paha, dan yang paling tipis sekitar tangan bagian medial, batang hidung dan wajah. Kulit umumnya lebih tipis pada anak-anak dan orang tua dari pada dewasa pertengahan. Orang tua mempunyai penurunan lapisan subkutan, kehilangan serat elastik dan pengurangan semua kemampuan untuk merespon terhadap trauma.

2.

Aktifitas Respon Kompensasi Terhadap Keradangan. Beberapa luka jaringan yang diterima tubuh sebagai ancaman homeostasis yang normal adalah respon pertahanan yang dirangsang sebagai sebagai kondisi dan kerusakan, urutan respun aktual ini selalu sama. Besarnya respon tergantung pada intensitas dan lamanya permulaam kerusakan. Satu hal yang penting untuk diingat dahwa respon keradangan (inflamatory respon) merupakan mekanisme kompensasi yang segera membantu tubuh bila invasi atau luka terjadi. Aksi-aksi ini merencanakan pertahanan lokal dan dalam waktu yang relatif pendek. Bila aksi-aksi ini menyebar cepat dan menetap, maka akan menyebabkan komplikasi fisiologis yang merugikan yang juga mempengaruhi pertahanan homeostasis. Respon terhadap keradangan pada luka terjadi secara primer pada tingkat vasculer. Kerusakan jaringan dan makrofage dalam jaringan mengurangi kelenjar kimia tubuh (histamin, bradikinin, serotonin dan vasoaktif-amin yang lain) yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah (vaso) dan meningkatkan permiabilitas kapiler. Bila kerusakan jaringan bersifat luas, substansi ini disekresi dalam jumlah besar, diedarkan secara sistemik dan menyebabkan perubahan vaskuler pada semua jaringan. perubahan vaskuler ini bertanggungjawab terhadapmanifestasi klinik dini pembuluh darah (kardiovasculer) dan komplikasi yang menyertai luka bakar. Substansi ini juga mempengaruhi darah dan pembuluh darah, substansi kimiawi (chemotaksik) yang disertai oleh jaringan makrofage yang mengikal leukosit khusus pada lokasi luka dan merubah sumsum tulang dan kematangan leukosit. Perubahan ini segera menyeluruh dan lebih jauh mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh.

3.

Aktifitas Respon Kompensasi Sistem Syaraf Simpatis. Respon sistem syaraf simpatis dibangkitkan oleh pemisahan simpatis pada sistem syaraf otonom pada hubungan sistem endokirn sebagai reaksi internal pada kondisi yang mengancam kekacauan homeostasis internal. Reaksi

ini kadang-kadang berbentuk gejala adaptasi umum (general adaptif syndrom) atau reaksi bertempur dan lari (fight or flight) karena mereka mempersiapkan tubuh untuk aktifitas yang mengijinkan perubahan pada keadaan semula. Respon terhadap stress segera menimbulkan perubahan fisiologi (adaptasi) yang merangsang atau menambah fungsi untuk keperluan bertempur atau lari (fight or flight) atau menambah fungsi agar tidak segera menyebabkan fight or flight. Perubahan rangsangan fisiologis meliputi peningkatan rata-rata dan kedalaman pernafasan, peningkatan rata-rata denyut jantung, vasokunstriksi selektif, peningkatan aliran darah otak, hati, muskuloskeletal dan miokardium, peningkatan metabolisme dan pembentukan substansi energi tinggi dan penurunan persediaan glikogen dan lemak. Perubahan fisiologis yang terhambat meliputi penurunan aliran darah ke kulit, ginjal dan saluran pencernaan (traktus intestinal) serta penurunan pergerakan sistem pencernaan (Gastrointestinal) dan sekresi. Respon ini berguna bagi tubuh untuk waktu yang pendek dan membantu mempertahankan fungsi organ vital dalam kondisi yang merugikan atau memperburuk keadaan. Bagaimanapun bila respon simpatis berlanjut untuk waktu yang lama tanpa pengaruh dari luar, respon tubuh menjadi lebih tertekan dan menyebabkan kondisi patologis menuju kehabisan sumber yang bersifat adaptasi.

10

Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar Perubahan Pergeseran cairan ekstraseluler. Fungsi renal. Tingkatan hipovolemik Tingkatan diuretik ( s/d 48-72 jam pertama) (12 jam 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari Vaskuler ke insterstitial. Hemokonsentrasi oedem Interstitial ke vaskuler. Hemodilusi. pada lokasi luka bakar. Aliran darah renal berkurang karena Oliguri. desakan darah turun dan CO berkurang. Na+ direabsorbsi oleh ginjal, tapi Defisit sodium. kehilangan Na+ melalui eksudat dan tertahan dalam cairan oedem. K+ dilepas sebagai akibat cidera Hiperkalemi jarinagn sel-sel darah merah, K+ berkurang ekskresi karena fungsi renal berkurang. Kehilangan protein ke dalam jaringan Hipoproteinemia. akibat kenaikan permeabilitas. Katabolisme jaringan, kehilangan Keseimbangan protein dalam jaringan, lebih banyak negatif. kehilangan dari masukan. Peningkatan aliran darah renal Diuresis. karena desakan darah meningkat. Kehilangan Na+ melalui diuresis Defisit sodium. (normal kembali setelah 1 minggu). K+ bergerak kembali ke dalam Hipokalemi. sel, K+ terbuang melalui diuresis (mulai 4-5 hari setelah luka bakar). Kehilangan protein waktu Hipoproteinemia. berlangsung terus katabolisme. nitrogen Katabolisme jaringan, kehilangan Keseimbangan protein, immobilitas. negatif. nitrogen

Kadar sodium/natrium. Kadar potassium.

Kadar protein. Keseimbangan nitrogen. Keseimbnagan asam basa.

Metabolisme anaerob karena perfusi Asidosis metabolik. jarinagn berkurang peningkatan asam

Kehilangan sodium bicarbonas Asidosis metabolik. melalui diuresis,

11

dari produk akhir, fungsi renal berkurang (menyebabkan retensi produk akhir tertahan), kehilangan bikarbonas serum. Respon stres. Terjadi karena trauma, peningkatan Aliran darah produksi cortison. berkurang. Terjadi karena panas, pecah menjadi Luka bakar termal. fragil.

hipermetabolisme peningkatan produk metabolisme.

disertai akhir

renal Terjadi karena sifat cidera Stres karena luka. berlangsung lama dan terancam psikologi pribadi. Tidak terjadi pertama. pada hari-hari Hemokonsentrasi. Peningkatan cortison. jumlah

Eritrosit Lambung.

Curling ulcer (ulkus pada gaster), Rangsangan central di Akut dilatasi dan paralise usus. perdarahan lambung, nyeri. hipotalamus dan peingkatan jumlah cortison. MDF meningkat 2x lipat, merupakan Disfungsi jantung. glikoprotein yang toxic yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar.

Jantung.

Peningkatan zat MDF (miokard CO menurun. depresant factor) sampai 26 unit, bertanggung jawab terhadap syok spetic.

12

Indikasi Rawat Inap Luka Bakar A. Luka bakar grade II: 1) Dewasa > 20% 2) Anak/orang tua > 15% B. Luka bakar grade III. C. Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll. Penatalaksanaan Seperti menangani kasus emergency umum yaitu: A. Resusitasi A, B, C. 1) Pernafasan: a) Udara panas mukosa rusak oedem obstruksi. b) Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin iritasi Bronkhokontriksi obstruksi gagal nafas. 2) Sirkulasi: gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler hipovolemi relatif syok ATN gagal ginjal. B. Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka. C. Resusitasi cairan Baxter. Dewasa : Baxter. RL 4 cc x BB x % LB/24 jam. Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal: RL : Dextran = 17 : 3 2 cc x BB x % LB. Kebutuhan faal: < 1 tahun : BB x 100 cc 1 3 tahun : BB x 75 cc 3 5 tahun : BB x 50 cc diberikan 8 jam pertama diberikan 16 jam berikutnya. Hari kedua: Dewasa : Dextran 500 2000 + D5% / albumin. ( 3-x) x 80 x BB gr/hr 100 (Albumin 25% = gram x 4 cc) 1 cc/mnt. Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal. D. Monitor urine dan CVP. E. Topikal dan tutup luka - Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik. - Tulle. - Silver sulfa diazin tebal. - Tutup kassa tebal. - Evaluasi 5 7 hari, kecuali balutan kotor. F. Obat obatan: o Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian. o Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur. o Analgetik : kuat (morfin, petidine)

13

Antasida

: kalau perlu

14

1.

2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian a) Aktifitas/istirahat: Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus. b) Sirkulasi: Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar). c) Integritas ego: Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan. Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.

d) Eliminasi: Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik. e) f) Makanan/cairan: Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah. Neurosensori: Gejala: area batas; kesemutan. Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).

g) Nyeri/kenyamanan: Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri. h) Pernafasan: Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).

15

i)

Keamanan: Tanda: Kulit umum: destruksi jarinagn dalam mungkin tidak terbukti selama 35 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar. Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).

j)

Pemeriksaan diagnostik: (1) LED: mengkaji hemokonsentrasi. (2) Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung. (3) Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap. (4) BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal. (5) Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas. (6) Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. (7) Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif. (8) Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

16

2.

Diagnosa Keperawatan Sebagian klien luka bakar dapat terjadi Diagnosa Utama dan Diagnosa Tambahan selama menderita luka bakar (common and additional). Diagnosis yang lazim terjadi pada klien yang dirawat di rumah sakit yang menderila luka bakar lebih dari 25 % Total Body Surface Area adalah : 1. Penurunan Kardiak Output berhubungan dengan peningkatan permiabilitas kapiler. 2. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan ketidak seimbangan elektrolit dan kehilangan volume plasma dari pembuluh darah. 3. Perubahan Perfusi Jaringan berhubungan dengan Penurunan Kardiak Output dan edema. 4. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan kesukaran bernafas (Respiratory Distress) dari trauma inhalasi, sumbatan (Obstruksi) jalan nafas dan pneumoni. 5. Perubahan Rasa Nyaman : Nyeri berhubungan dengan paparan ujung syaraf pada kulit yang rusak. 6. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan luka bakar. 7. Potensial Infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit. 8. Perubahan Nutrisi : Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan peningkatan rata-rata metabolisme. 9. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan luka bakar, scar dan kontraktur. 10. Gangguan Gambaran Tubuh (Body Image) berhubungan dengan perubahan penampilan fisik Klien luka bakar mungkin dapat terjadi Diagnosa Resiko dari satu atau lebih Diagnosa keperawatan berikut : 1. Ketidakefektifan coping keluarga berhubungan dengan kehilangan rumah, keluarga atau yang lain. 2. Ketidakefektifan pertahanan coping individu berhubungan dengan situasi krisis. 3. Kecemasan berhubungan dengan ancaman kematian, situasi krisis dan kehilangan pengendalian. 4. Takut berhubungan dengan nyeri, prosedur terapi dan keadaan masa depan yang tidak diketahui. 5. Kelebihan cairan berhubungan dengan pemberian cairan intra vena yang terlalu banyak. 6. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan nyeri, kontraktur dan kehilangan fungsi pada ekstrimitas dan bagian tubuh lain. 7. Gangguan fungsi (disfungsi) seksual berhubungan dengan luka bakar perineum, genetalia, payudara, imobilisasi, kelelahan, depresi dan gangguan dalam gambaran diri (body image). 8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, cara pengobatan dan lingkungan yang gaduh. 9. Isolasi sosial berhubungan dengan cara pengobatan dan perubahan dalam penampilan fisik. 10. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan gagal ginjal dan terapi obat. 11. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan pengaruh luka bakar.

17

Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning and documenting patient care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut : 1 Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada. 2 Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan. 3 Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher. 4 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi. 5 Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka. 6 Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena, contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema. 7 Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik (sebanyak 50 % - 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein. 8 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan. 9 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam). 10 Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri. 11 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi.

18

DAFTAR PUSTAKA Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 1328. Carolyn, M.H. et. al. (1990). Critical Care Nursing. Fifth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 752 779. Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan . Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya. Doenges M.E. (1989). Nursing Care Plan. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). F.A. Davis Company. Philadelpia. Donna D.Ignatavicius dan Michael, J. Bayne. (1991). Medical Surgical Nursing. A Nursing Process Approach. W. B. Saunders Company. Philadelphia. Hal. 357 401. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah . volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Goodner, Brenda & Roth, S.L. (1995). Panduan Tindakan Keperawatan Klinik Praktis. Alih bahasa Ni Luh G. Yasmin Asih. PT EGC. Jakarta. Guyton & Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik . Volume I. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta. Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya. (2001). Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB V) Tema: Asuhan Keperawatan Luka Bakar Secara Paripurna. Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo. Surabaya. Jane, B. (1993). Accident and Emergency Nursing. Balck wellScientific Peblications. London. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta. R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Senat Mahasiswa FK Unair. (1996). Diktat Kuliah Ilmu Bedah 1. Surabaya. Sylvia A. Price. (1995). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Edisi 4 Buku 2. Penerbit Buku Kedokteran Egc, Jakarta

19

STUDY KASUS PENGKAJIAN TANGGAL 15 APRIL 2002 JAM 10.00 WIB RUANGAN : BEDAH G I. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Suku/bangsa Agama Pekerjaan Pendidikan Alamat : Ny. Jm Tgl MRS : 3 April 2002 : 35 tahun : Perempuan : Jawa/Indonesia : Islam : Tidak bekerja ( Ibu Rumah tangga ) : SD ( tidak tamat/ klas 5 ) : Sepet, Lidah kulon 38 Surabaya.

Alasan dirawat: Terbakar lampu templek karena tiba-tiba tidak sadar dan jatuh Keluhan Utama sebelumnya : Luka pada pantatnya yang terbakar tidak sembuh-sembuh. Upaya yang telah dilakukan : Berobat di Rumah Sakit daerah Wiyung tidak sembuh-sembuh akhirnya diperiksakan ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Terapi/operasi yang pernah dilakukan : Bulan Februari 2002 menjalani operasi daerah mandibula karena open fraktur mandibula sequental. II. RIWAYAT KEPERAWATAN II.1 Riwayat Penyakit sebelumnya : - Bulan Februari 2002 menjalani operasi mandibula oleh karena open fraktur mandibula (sequental ) - Mempunyai penyakit Epilepsi, 2 bulan terakhir tidak pernah minum obat/kontrol dengan alasan tidak ada biaya. II.2 Riwayat Penyakit Sekarang : Klien mengatakan : Lukanya tidak sembuh-sembuh sejak terbakar 4 minggu yang lalu karena tiba-tiba tidak sadarkan diri dan jatuh dekat lampu templek. Sewaktu sadar klien mendapati pakaiannya sudah terbakar dan didapati luka bakar pada daerah kedua pantatnya. Klien segera diperiksakan oleh suaminya ke RS daerah Wiyung dengan cara berobat jalan. Karena lukanya tidak sembuh-2 dan keadaan klien yang gelisah, tidak mau makan dan sulit tidur bahkan berteriak teriak akhirnya diperiksakan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya disarankan untuk rawat inap. II.3 Riwayat Kesehatan Keluarga : Dari keluarga ayah maupun ibunya tidak ada yang menderita sakit kencing manis, Epilepsi ataupun sakit berat yang lainnya.

20

Genogram

Keterangan = Laki laki = Perempuan II.4 Riwayat Kesehatan lainnya : - Klien ikut KB suntik - Klien dirawat tanpa menggunakan alat bantu II.5 Aktivitas hidup sehari-hari Aktivitas Sehari-Hari Makan dan minum Sebelum Sakit Makan 3 kali sehari, nasi, sayur dan ikan, buah kadang-kadang, tidak ada makanan pantangan, semua makanan yang ada disukai. Minum air putih, sehari 1500-2000 cc. BAK lancar 5 6 kali sehari, warna kuning jernih, jumlah 1500-2000 cc / hari. BAB setiap hari konsistensi lunak. Tidak pernah tidur siang Di Rumah Sakit Tidak mau makan, habis seperempat porsi, dengan cara disuap oleh suaminya. = Klien = Tinggal dalam satu rumah

Eliminasi

Istirahat dan tidur Aktivitas

Kebersihan diri

BAK lancar 5 kali sehari dengan posisi menungging warna kuning agak gelap, BAB tiap pagi dengan bantuan. Tidak bisa tidur siang, tidur malam sering terbangun Sebagai ibu rumah tangga, Ditempat tidur jam 05.00 mulai memasak, mempersiapkan seragam anak-2 nya yang akan sekolah, mencuci dan membersihkan rumah kadang-kadang. Mandi dan gosok gigi 2 Mandi 2 kali sehari diseka kali sehari, mencuci suaminya, tidak gosok gigi rambut 2 kali seminggu, Mandi di kamar mandi memotong kuku bila sudah setiap 4 hari sekali panjang, tidak ada jadwal dimandikan perawat khusus, ganti baju setiap ruangan

21

Rekreasi

sore. Bila ada waktu senggang antara jam 10-00 12.00 menonton TV dirumah tetangganya, tidak pernah ketempat rekreasi.

III. PEMERIKSAAN FISIK : - Keadaan umum : Klien terbaring dengan posisi miring kekanan, kedua kaki ditekuk kadang menungging, gelisah, merintih kadang berteriak. Tanda Vital : Suhu axilla 36 C Nadi 88 x/menit, Tensi 110/80 mmHg, RR 18 x/menit

IV. PENGKAJIAN SISTEM : IV.1 Sistem Pernafasan : Hidung bersih, pernafasan spontan, bentuk dada bulat datar tidak ditemukan tarikan otot bantu pernafasan saat bernafas, suara nafas vesikuler, tidak ditemukan suara nafas tambahan. IV.2 Sistem Cardiovaskuler : Suara jantung S1 S2 suara tunggal lupdub. Ictus Cordis teraba 1 cm pada ICS med Clavicula kiri, percusi sonor, tidak ditemukan oedema pada palpebrae maupun extremitas, KRT kembali dalam detik pertama. Tensi : 110/80 mmHg, Nadi : 88x/menit, Suhu 36 C. Tangan kiri terpasang infus RL 28 tetes permenit. IV.3 Sistem Persyarafan : - Kesadaran Composmentis, GCS : E 4 V 5 M 6 dengan total nilai 15. - Kepala dan Wajah : Mata : Konjungtiva merah muda , Sklera : Warna putih terdapat gambaran tipis pembuluh darah, Pupil isocor. - Leher : Pergerakan bebas, tidak ditemukan pembesaran/bendungan vena yugolaris, pembesaran kelenjar gondok maupun limphe. - Persepsi Sensori : Klien mampu mendengar suara berbisik, mampu membedakan rasa manis, asin dan pahit, penglihatan sampai tak terhingga, ambang rasa raba terhadap hangat, dingin dan raba masih mampu membedakan. IV.4 Sistem Perkemihan : Bak lancar warna kuning jernih 5-6 kali sehari, jumlah 1500-200 cc perhari , baik sebelum sakit maupun selama dirawat dirumah sakit, tidak ada keluhan nyeri saat BAK. IV.5 Sistem Pencernaan : - Mulut dan tenggorok : Terpasang kawat rahang dengan membuka mulut maksimal 1 cm, gigi terdapat sisa-sisa makanan, tidak ditemukan stomatitis maupun aptea, tidak ada caries, tonsil/ovula warna merah muda tidak ada oedema. - Abdomen : Bentuk datar flat, Auskultasi bising usus terdengar 10 kali permenit, Perkusi timpani. Skibala -. - Rectum : Bersih, tidak ditemukan haemorrhoid.

22

Sebelum sakit BAB tiap hari konsistensi lunak, selama dirawat di rumah sakit BAB tiap pagi. Klien mendapat Flagyl suposutoria 3 x 1 sehari. IV.6 Sistem Tulang Otot Integumen - Kemampuan pergerakan sendi tangan bebas, ekstremitas bawah relatif jarang digerakkan dengan bebas karena nyeri , ekstremitas atas (tangan kiri terpasang infus RL 28tetes / menit menetes lancar, tidak ada ekstrapasase. Kekuatan otot ekstremitas atas 5 dan bawah X , Flaping tremor -, KRT dan turgor kulit kembali detik pertama. Akral hangat.Terdapat luka bakar pada daerah : Rectus Femoris Dextra grade II A 1 %, Rectus Femoris Sinistra grade II AB 5 % dan Gluteus dextra, sinistra grade II AB 3 %. IV.7 Sistem Endokren : Klien mengatakan tidak pertumbuhan dan perkembangan fisiknya berjalan sebagaimana orang lainnya. Tidak mempunyai keluhan yang berkaitan dengan hormonal misalnya poluri, polidipsi maupun kelemahan. IV.8 Sosial / Interaksi : Klien mendapat dukungan aktif dari keluarga, reaksi saat interaksi kooperatif, klien mengatakan konflik yang pernah dialami adalah saat ia sering sakit dan suaminya pekerjaannya tidak menetap. IV.9 Spiritual : Klien mengatakan bahwa sakit yang dialami adalah ujian dari sang pencipta, dan ia bersama suaminya hanya berusaha dan Tuhan yang menyembuhkan. Selama sakit tidak berhenti berdoa untuk kesembuhannya. Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium - Kalium Serum : 3,8 ( 3,8 5,5 ) - Natrium : 129 ( 136-144 ) - Clorida : 100 ( 97 113 ) - Kreatinin Serum: 0,89 ( kurang 1,2 ) - BUN : 11,7 ( 10 20 ) - Bilirubin terikat : 0,08 ( kurang 0,05 ) - SGOT : 40 ( kurang 29 ) - SGPT : 56,2 - Albumin : 2,82 ( 3,2 4,5 ) Darah lengkap tanggal 15 April 2002 - WBC 12 - RBC 3,78 - HGB 10,3 - HCT 33,3 - MCV 88,1 - MCH 28,6 - MCHC 32,4 - PLT 471 - LYMPH 10,5 - MXD 11,5% - NEUT 78 (L 4,3 10 P 4,3 11,3) (4,33 5,95) juta/ul (L 13,4 17,7 P 11,4 15,1) (L 40 47 P 38 42)% (80 93) (27 31) (30 35) gr/dl (150 350) (25 33)% (57 67)%

23

- LYMPH - MXD - NEUT - RDW-CV - PDW - MPV - P-LCK Terapi : - Tarivid 2 x 400 mg - Katrasil 3 x 50 mg - Clobazam 2 x 10 mg - Vit BC 3 x 1

1,3 1,4 9,3 13,1 7,4fl 70 87%

(1,5 4,0)% (2,0 7,5)% (11,5 14,5)% (65 12 fl)

Mahasiswa yang mengkaji,

(S u b h a n)

24

PENGELOMPOKAN DATA S : Klien mengatakan Lukanya tidak sembuh-sembuh sejak terbakar lamou templek 5 minggu yang lalu karena tibatiba tidak sadar dan jatuh. Mempunyai riwayat penyakit ayan (Epilepsi). Sudah berobat ke RUMAH SAKIT DAERAH WIYUNG tetapi belum sembeh. O : Terdapat kerusakan jaringan (Combustio) pada daerah : Pedis Dextra Gr II A 1% Cruris Sinistra Gr II AB 5% Gluteus Dextra Sinistra Gr II AB 3,5% S : Klien mengatakan Malas makan karena mual, badan tidak enak semua. Suami klien mengatakan istrinya sering teriak-teriak dan gelisah bila diberi makan langsung mual O : Conjunctiva merah muda Menolak makan, diit dari RS dimakan porsi Bising usus 10 X /mt. Lab. Albumin serum 2,82 gr/dl S : Klien mengatakan nyeri pada daerah luka bakar yang terus menerus, bertambah hebat bila bergerak O : Gelisah, kadang berteriak merintih. Tensi 110/70 mmHg, Nadi 88 X / mt

KEMUNGKINAN MASALAH PENYEBAB Trauma : kerusakan Kerusakan integritas kulit permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).

status hipermetabolik Perubahan nutrisi : Kurang (sebanyak 50 % - 60% dari kebutuhan tubuh lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.

Kerusakan kulit/jaringan; Nyeri pembentukan edema. Manipulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.

25

S : Klien mengatakan : Malas untuk menggerakkan kakinya dan tidur telungkup karena bertambah nyeri. Lebih senang tidur dengan posisi miring dan kaki ditekuk Subyektif : Klien mengatakan makan, mandi, BAB dan BAK dibantu oleh suami/kakaknya dan perawat. Obyektif : Kebutuhan makan, mandi, BAB dan BAK dibantu

gangguan neuromuskuler, Kerusakan mobilitas fisik nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.

Nyeri o/k luka bakar Pembatasan gerak deficit perawatan diri (ketergantungan )

Syndroma perawatan diri

deficit

Pertahanan primer tidak Resiko tinggi infeksi adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi

krisis situasi; kejadian Gangguan citra tubuh traumatik peran klien (penampilan peran) tergantung, kecacatan dan nyeri

26

Rumusan Diagnose Keperawatan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan destruksi permukaan kulit / otot sekunder luka bakar Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake kurang sekunder dari kebutuhan nutrisi yang meningkat, pemasangan kawat rahang, mual Nyeri akut berhubungan dengan discontinuitas jaringan sekunder luka bakar Resiko terjadi kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri Syndroma deficit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka bakar lebih dari 4 minggu. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri.

27

Rencana Intervensi dan Rasional Diagnosa Keperawatan Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam). Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Memumjukkan regenerasi Kaji/catat ukuran, warna, kedalaman luka, jaringan perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi Kriteria hasil: Mencapai sekitar luka. penyembuhan tepat waktu pada Lakukan perawatan luka bakar yang tepat area luka bakar. dan tindakan kontrol infeksi. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi. Tinggikan area graft bila mungkin/tepat. Pertahankan posisi yang diinginkan dan imobilisasi area bila diindikasikan.

Pertahankan balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi. Cuci sisi dengan sabun ringan, cuci, dan minyaki dengan krim, beberapa waktu dalam sehari, setelah balutan dilepas dan penyembuhan selesai. Lakukan program kolaborasi : Graft kulit diambil dari kulit orang itu - Siapkan / bantu prosedur bedah/balutan sendiri/orang lain untuk penutupan sementara biologis. pada luka bakar luas sampai kulit orang itu siap ditanam. Perubahan nutrisi :

Rasional Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penanaman kulit dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi pada aera graft. Menyiapkan jaringan untuk penanaman dan menurunkan resiko infeksi/kegagalan kulit. Kain nilon/membran silikon mengandung kolagen porcine peptida yang melekat pada permukaan luka sampai lepasnya atau mengelupas secara spontan kulit repitelisasi. Menurunkan pembengkakan /membatasi resiko pemisahan graft. Gerakan jaringan dibawah graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal. Area mungkin ditutupi oleh bahan dengan permukaan tembus pandang tak reaktif. Kulit graft baru dan sisi donor yang sembuh memerlukan perawatan khusus untuk mempertahankan kelenturan.

28

Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn status hipermetabolik (sebanyak 50 % - 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.

Nyeri

berhubungan Pasien

dapat Berikan anlgesik narkotik yang diresepkan Analgesik narkotik diperlukan utnuk memblok

29

dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manipulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.

mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan. Kriteria evaluasi: menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi wajah dan postur tubuh rileks.

prn dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas.

jaras nyeri dengan nyeri berat. Absorpsi obat IM buruk pada pasien dengan luka bakar luas yang disebabkan oleh perpindahan interstitial berkenaan dnegan peningkatan permeabilitas kapiler. Pertahankan pintu kamar tertutup, Panas dan air hilang melalui jaringan luka bakar, tingkatkan suhu ruangan dan berikan menyebabkan hipoetrmia. Tindakan eksternal ini selimut ekstra untuk memberikan membantu menghemat kehilangan panas. kehangatan. Berikan ayunan di atas temapt tidur bila Menururnkan neyri dengan mempertahankan diperlukan. berat badan jauh dari linen temapat tidur terhadap luka dan menuurnkan pemajanan ujung saraf pada aliran udara. Bantu dengan pengubahan posisi setiap 2 Menghilangkan tekanan pada tonjolan tulang jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan dependen. Dukungan adekuat pada luka bakar tambahan sesuai kebutuhan, khususnya bila selama gerakan membantu meinimalkan pasien tak dapat membantu membalikkan ketidaknyamanan. badan sendiri.

Kerusakan

mobilitas

30

fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.

Kurang

pengetahuan

31

tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi

Resiko tinggi infeksi Pasien bebas dari infeksi.

Pantau:

32

berhubungan dengan Kriteria evaluasi: tak ada - Penampilan luka bakar (area luka Pertahanan primer tidak demam, pembentukan jaringan bakar, sisi donor dan status balutan di adekuat; kerusakan granulasi baik. atas sisi tandur bial tandur kulit perlinduingan kulit; dilakukan) setiap 8 jam. jaringan traumatik. - Suhu setiap 4 jam. Pertahanan sekunder - Jumlah makanan yang dikonsumsi tidak adekuat; setiap kali makan. penurunan Hb, Bersihkan area luka bakar setiap hari dan penekanan respons lepaskan jarinagn nekrotik (debridemen) inflamasi sesuai pesanan. Berikan mandi kolam sesuai pesanan, implementasikan perawatan yang ditentukan untuk sisi donor, yang dapat ditutup dengan balutan vaseline atau op site. Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Gunakan sarung tangan steril dan beriakn krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka bakar dengan ujung jari. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka. Beritahu dokter bila demam drainase purulen atau bau busuk dari area luka bakar, sisi donor atau balutan sisi tandur. Dapatkan kultur luka dan berikan antibiotika IV sesuai ketentuan. Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka bakar luas yang mengenai area luas tubuh. Gunakan linen tempat tidur steril, handuk dan skort untuk pasien. Gunakan skort steril, sarung

Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan.

Pembersihan dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi.

Antimikroba topikal membantu mencegah infeksi. Mengikuti prinsip aseptik melindungi pasien dari infeksi. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk kultur pertumbuhan baketri. Temuan-temuan ini mennadakan infeksi. Kultur membantu mengidentifikasi patogen penyebab sehingga terapi antibiotika yang tepat dapat diresepkan. Karena balutan siis tandur hanya diganti setiap 5-10 hari, sisi ini memberiakn media kultur untuk pertumbuhan bakteri. Kulit adalah lapisan pertama tubuh untuk pertahanan terhadap infeksi. Teknik steril dan tindakan perawatan perlindungan lainmelindungi pasien terhadap infeksi. Kurangnya berbagai rangsang ekstrenal dan kebebasan bergerak mencetuskan pasien pada kebosanan.

33

tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Tempatkan radio atau televisis pada ruangan pasien untuk menghilangkan kebosanan. Bila riwayat imunisasi tak adekuat, berikan globulin imun tetanus manusia (hyper-tet) sesuai pesanan. Mulai rujukan pada ahli diet, beriakn protein tinggi, diet tinggi kalori. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral.

Melindungi terhadap tetanus. Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi pasien dan merencanakan diet untuk emmenuhi kebuuthan nutrisi penderita. Nutrisi adekuat memabntu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi.

Gangguan citra tubuh

34

(penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan dan nyeri.

35

TINDAKAN KEPERAWATAN TANGGAL/JAM 15 4 2002 Dinas Pagi 07.00 07.30 11.00 12.00 12.30 TINDAKAN PERAWAT Timbang terima klien Merapikan / membersihkan tempat tidur dan lingkungan klien. Bersama dengan dokter merawat luka padadaerah luka operasi Melaksanakan observasi ensi 110/70 mmHg, Suhu 36 C, Nadi 84x/mnt, RR 18 x/mnt. Membantu klien makan, tidak mau melanjutkan makan. Memberi minum susu habis 1 gelas kecil (150 cc). Membantu klien minum obat Tarivid 2 x 400 mg, Katrasil 3 x 50 mg dan Clobazam 2 x 10 mg dan Vit B Complek 3x1 tablet. Menjelaskan pada klien tentang : - Tehnik relaksasi untuk mengurangi nyeri - Upaya untuk mencegah infeksi - Pentingnya nutrisi dan kebutuhannya. - Menjelaskan pada klien tentang pentingnya latihan gerak sendi. Timbang terima klien Merapikan / membersihkan tempat tidur dan lingkungan klien. Mengobservasi Tensi 110/80 mmHg, Suhu 36 C, Nadi 88 x/mnt, RR 18 x /mnt. Menganjurkan klien menarik nafas panjang saat nyeri Mengisolasi klien dengan pakaian dan ruangan khusus. Membantu klien minum susu habis 1 gelas Memberikan diit dan membantu makan. Membantu klien minum obat Tarivid 2 x 400 mg, Katrasil 3 x 50 mg dan Clobazam 2 x 10 mg dan Vit B Complek 3x1 tablet. Melaksanakan latihan gerak sendi NAMA PERAWAT

Subhan

16 4 2002 Dinas Sore 14.00 14.30 15.00

Subhan

15.30 18.45 17 4 2002 Dinas Pagi

Subhan

36

07.00 07.30 08.30 08.45 09.00 12.00 12.30 13.30 18 4 - 2002 Dinas Pagi 07.00 07.30 08.30 08.45 09.00 12.00 12.30 19 4 - 2002 Dinas Pagi 07.00 07.30 08.30 12.00

Timbang terima klien Merapikan / membersihkan tempat tidur dan lingkungan klien Mengobservasi Tensi 110/80 mmHg, Suhu 36 C, Nadi 88 x/mnt, RR 18 x /mnt, Mengisolasi klien dengan pakaian dan ruangan khusus. Membantu klien minum susu habis 1 gelas Memberikan diit dan membantu makan. Membantu klien minum obat Tarivid 2 x 400 mg, Katrasil 3 x 50 mg dan Clobazam 2 x 10 mg dan Vit B Complek 3x1 tablet. Melaksanakan latihan gerak sendi Timbang terima klien Timbang terima klien. Merapikan tempat tidur. Mengobservasi tensi 100/70 mmHg, Suhu 36.5 C, Nadi 96 x/mnt, RR 18 x/mnt. Terpasang douer kateter dengan produksi urine 500 cc warna jarnih. Melatih tehnik relaksasi dengan menarik nafas panjang Membantu klien makan dan minum susu sedikit ( 50 cc ). Memberikan obat peroral Tarivid 2 x 400 mg, Katrasil 3 x 50 mg dan Clobazam 2 x 10 mg dan Vit B Complek 3x1 tablet. Melaksanakan latihan gerak sendi Timbang terima klien Merapikan / membersihkan tempat tidur dan lingkungan klien Mengobservasi Tensi 120/70 mmHg, Suhu 36 7 C, Nadi 108 x /mnt, RR 18 x / mnt. Urine jernih, 700 cc. Membantu klien makan dan minum susu sedikit ( 50 cc ). Memberikan obat peroral Tarivid 2 x 400 mg, Katrasil 3 x 50 mg, Clobazam 2 x 10 mg dan Vit B Complek 3x1 tablet.

Subhan

Subhan

37

EVALUASI DIAGNOSA TANGGAL 15-42002 KEPERAWATAN Kerusakan integritas kulit. CATATAN PERKEMBANGAN PERAWAT S. Mengatakan lukanya masih belum sembuh dan kelihatan menakutkan saat mandi kemarin . O. Terdapat combusio pada gluteal 3,5%, Cruris S 5% dan pedis D 1%. A. Masalah belum teratasi P. Lanjutkan Rencana Tindakan Keperawatan 1-7 S. Mengatakan makan habis dua sendok sudah mual dan nyeri hebat, minum susu habis tiga gelas ( 07.00-13.00 ) O. Makan pagi habis dua sendok , minum susu tiga gelas A. Masalah teratasi sebagian P. Lanjutkan rencana tanggal 8 Kolaborasi dengan team medis Vit B Complek 3x1 tablet. S. Mengatakan nyeri hebat pada luka daerah pantat O. Gelisah, bertyeriak-teriak A. Masalah belum teratasi P. Lanjutkan rencana . Kolaborasi dengan team medis Katrasil 3 x 50 mg S. Mengatakan sudah latihan melipat lutut kebelakang dan tidur telungkup. O. Bila diingatkan langsung latihan pergerakan sendi . A. Masalah teratasi P. Lanjutkan observasi . S. Mengatakan makan, mandi, BAB dan BAKdibantu suiami/ kakaknya dan NAMA

Nutrisi

Nyeri

Kerusakan Mobilitas fisik

Deficit perawatan diri

38

perawat O. Segala aktivitas dibantu oleh keluarganya dan perawat A. Masalah belum teratasi P. Lanjutkan rencana. Resiko infeksi S. Mengatakan lukanya belum sembuh-sembuh. O. Combusio Gr.2 AB 8,5 % suhu 36 C , Nadi 88X / menit A. Masalah tidak menjadi aktual P. Lanjutkan rencana Laksanakan program kolaborasi Tarivid 2 x 400 mg S. mengatakan nyeri hebat pada luka daerah pantat O. Gelisah, bertyeriak-teriak A. Masalah belum teratasi P. Lanjutkan rencana . Laksanakan program kolaborasi Katrasil 3 x 50 mg S. Mengatakan sudah latihan melipat lutut kebelakang dan tidur telungkup. O. Bila diingatkan langsung latihan pergerakan sendi . A. Masalah teratasi P. Lanjutkan observasi . S. Mengatakan lukanya belum sembuh-sembuh. O. Combusio Gr.2 AB 8,5 % suhu 36 C , Nadi 88X / menit A. Masalah tidak menjadi aktual P. Lanjutkan rencana Laksanakan program kolaborasi Tarivid 2 x 400 mg

Subhan

16=4-2002

Nyeri

Mobilitas fisik

Resiko infeksi

Subhan

17-4-2002

Integritas kulit

S. Mengatakan setelah operasi lukanya bertambah banyak dan bertambah sakit

39

O. Luka pada gluteal terdapat jaringan granulasi Telah dilakukan STG Terdapat luka baru ( donor STG ) pada daerah paha dextra A. Masalah bertambah luas P. Lanjutkan intervensi awal Jelaskan pada klien evaluasi daerah pantat 5 hari dan paha 2 minggu. Lakukan evaluasi sesuai program. Nutrisi S. Mengatakan makan habis dua sendok sudah mual dan nyeri hebat, menolak minum susu O. makan pagi habis dua sendok A. Masalah belum teratasi P. Lanjutkan rencana Kolaborasi dengan team medis Vit B Complek 3x1 tablet.. S. Mengatakan nyeri bertambah hebat terutama paha O. Gelisah, berteriak-teriak A. Masalah belum teratasi P. Laksanakan program kolaborasi Katrasil 3 x 50 mg S. Mengatakan lukanya belum sembuh-sembuh.dan bertambah banyak. O. Combusio Gr.2 AB 9,5 %, luka donor STG daerah paha dextra. suhu 36 C , Nadi 88X / menit A. Masalah tidak menjadi aktual P. Lanjutkan rencana Laksanakan program kolaborasi Tarivid 2 x 400 mg

Nyeri

Resiko infeksi

Subhan

18-4-2002

Integritas kulit

S. Mengatakan setelah operasi lukanya bertambah banyak dan bertambah sakit

40

Minta balutan kaki dibuka saja. O. Luka pada gluteal terdapat jaringan granulasi Telah dilakukan STG Terdapat luka baru ( donor STG ) pada daerah paha dextra A. Masalah bertambah luas P. Lanjutkan intervensi awal Jelaskan pada klien evaluasi daerah pantat 5 hari dan paha 2 mingguS. Mengatakan setelah operasi lukanya bertambah banyak dan bertambah sakit Minta balutan kaki dibuka saja. Nutrisi S. mengatakan makan habis dua sendok sudah mual dan nyeri hebat, menolak minum susu O. makan pagi habis dua sendok A. Masalah belum teratasi P. Lanjutkan rencana tanggal 8 Kolaborasi dengan team medis Vit B Complek 3x1 tablet. S. Mengatakan nyeri bertambah hebat terutama paha O. Gelisah, berteriak-teriak A. Masalah belum teratasi P. Laksanakan program kolaborasi Katrasil 3 x 50 mg S. Mengatakan lukanya belum sembuh-sembuh.dan bertambah banyak. O. Combusio Gr.2 AB 9,5 %, luka donor STG daerah paha dextra. suhu 36 C , Nadi 88X / menit A. Masalah tidak menjadi aktual P. Lanjutkan rencana Laksanakan program kolaborasi Tarivid 2 x 400 mg

Nyeri

Resiko infeksi

Subhan

41