Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Otitis Media Akut (OMA) merupakan inflamasi akut telinga tengah yang berlangsung kurang dari tiga minggu (Donaldson, 2010). Yang dimaksud dengan telinga tengah adalah ruang di dalam telinga yang terletak antara membran timpani dengan telinga dalam serta berhubungan dengan nasofaring melalui tuba Eustachius (Tortora dkk, 2009). Perjalanan OMA terdiri atas beberapa aspek yaitu efusi telinga tengah yang akan berkembang menjadi pus oleh karena adanya infeksi mikroorganisme, adanya tanda inflamasi akut, serta munculnya gejala otalgia, iritabilitas, dan demam (Linsk dkk, 1997; Kaneshiro, 2010; WHO, 2010). Dalam realita yang ada, OMA merupakan salah satu dari berbagai penyakit yang umum terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara dengan ekonomi rendah dan Indonesia, serta memiliki angka kejadian yang cukup bervariasi pada tiap-tiap negara (Aboet, 2006; WHO, 2006; WHO-SEARO, 2007). Penyakit ini juga telah menimbulkan beban lain yang cukup berarti, diantaranya waktu dan biaya. Ramakrishnan menemukan bahwa OMA merupakan penyakit infeksi yang paling sering terjadi di Amerika Serikat (Ramakrishnan, 2007). Salah satu laporan Center for Disease Control and Prevention (CDC) dalam salah satu programnya yaitu CDCs Active Bacterial Core Surveillance (ABCs) di Amerika Serikat tahun 1999 menunjukkan kasus OMA terjadi sebanyak enam juta kasus per tahun. Meropol, dkk juga mendapati 45-62% indikasi pemberian antibiotik pada anak-anak di Amerika Serikat disebabkan OMA (Meropol dkk, 2008). Di Indonesia sendiri, belum ada data akurat yang ditemukan untuk menunjukkan angka kejadian, insidensi, maupun prevalensi OMA. Suheryanto menyatakan bahwa OMA merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, bahkan di poliklinik THT RSUD Dr. Saiful Anwar Malang pada tahun 1995 dan tahun 1996, OMA menduduki peringkat enam dari sepuluh besar penyakit terbanyak dan pada tahun 1997 menduduki peringkat lima, sedangkan di poliklinik THT RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 1995 menduduki peringkat dua (Suheryanto, 2000). Di sisi lain, penelitian maupun pendataan yang meninjau hubungan faktor usia dan kejadian OMA belum pernah dilakukan di Medan. Situasi
1

ini mencetuskan pemikiran untuk mengetahui hubungan faktor usia dengan terjadinya OMA, secara khusus di RSUP H. Adam Malik Medan periode 2009-2010. Dan pada Poli THT RSUD Lubuk Basung, di temukan kasus OMA yang terjadi pada anak usia di atas 11 tahun, tepatnya usia 14 tahun yang berinisial Ny. R. Yang mana merupakan kasus yang di angkat dalam pembuatan makalah ini. 1.2 TUJUAN 1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada klien yaitu NY. R 1.2.2 Tujuan Khusus Mahasiswa dapat memahami definisi OMA Mahasiswa dapat memahami tentang penyebab OMA Mahasiswa dapat memahami tentang patofisiologi OMA Mahasiswa dapat memahami tentang manifestasi klinis OMA Mahasiswa dapat menerapkan tentang asuhan keperawatan dengan OMA pada NY. R

1.3 BATASAN MASALAH


Agar batasan masalah ini tidak meluas penulis membatasi batasannya hanya seputar : Defenisi Anatomi Fisiologi Etiologi Patofisiologi Manifestasi klinis Penatalaksanaan Asuhan keperawatan P engkajian Diagnosa Keperawatan Intervensi Implementasi Evaluasi

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 DEFINISI Otitis media akut merupakan radang infeksi atau inflamasi pada telinga tengah oleh bakteri atau virus dengan gejala klinik nyeri telinga, demam, bahkan hingga hilangnya pendengaran, tinnitus dan vertigo. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan umumnya berlangsung dalam waktu 3-6 minggu( Revai, Krystal et al. 2007). Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999). Otitis media adalah infeksi telinga tengah yang dapat terjadi dalam beberapa bentuk. Otitis media akut (OMA) adalah efusi supuratif (nanah ) pada telinga tengah dan tanda-tanda peradangan telinga tengah(Efiaty Arsyad, S, Nurbaiti Iskandar, 1997). OMA (Otitis Media Akut) adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah (Mansjoer, 2001). OMA adalah peradangan telinga bagian tengah yang disebabkan oleh pejalaran infeksi dari tenggorok (farinitis) A sering terjadi pada anak-anak (Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas). 2.2 ANATOMI FISIOLOGI

Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbanga) anatominya juga sangat rumit . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. 1. Telinga Luar Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. 2. Telinga Tengah

Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. 3. Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran,
5

dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis (akus-dk), yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus membawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak

2.3 ETIOLOGI Penyebab utama otitis media akut (OMA) adalah invasi bakteri piogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus, Haemophilus Influenzae (27%), Staphylococcus aureus (2%), Streptococcus Pneumoniae (38%), Pneumococcus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Haemofilus influenza, Escherichia coli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurogenosa. Haemofilus influenza sering ditemukan pada anak berusia dibawah 5 tahun. Infeksi saluran napas atas yang berulang dan disfungsi tuba eustachii juga menjadi penyebab terjadinya OMA pada anak dan dewasa. Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal(Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas).

2.4 PATOFISIOLOGI Tabung eustachius melindungi telinga tengah dari sekresi dan memungkinkan untuk drainase sekret ke nasofaring. Hal ini juga memungkinkan pemerataan tekanan udara dengan tekanan atmosfer di telinga tengah. Sebuah obstruksi mekanis tabung eustachius dapat mengakibatkan infeksi dan efusi telinga tengah. Sebuah obstruksi fungsional dapat terjadi dengan terus-menerus dari pembuluh, terutama pada bayi dan anak kecil, karena jumlah dan kekakuan tulang rawan mereka kurang dibandingkan anak yang lebih tua dan orang dewasa. Obstruksi tuba Eustachius menyebabkan tekanan telinga tengah dan negatif MEE steril. Drainase efusi ini dihambat oleh aksi mukosiliar gangguan dan tekanan negatif yang berkelanjutan. Kontaminasi dari telinga tengah dapat terjadi dari sekret nasofaring dan menyebabkan infeksi. Karena bayi dan anak-anak memiliki tabung estachius lebih pendek dari anak yang lebih tua, itu membuat mereka lebih rentan terhadap refluks sekresi nasofaring ke telinga tengah dan pengembangan infeksi. Faktor predisposisi lainnya termasuk infeksi saluran pernapasan atas, alergi, sindrom Down(Kapita selekta kedokteran, 1999). Bakteri masuk ke tabung eustachius menyebabkan akumulasi cairan purulen di telinga tengah. Bakteri umum termasuk Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. S. pneumoniae adalah jenis yang paling umum infeksi (40 persen sampai 50 persen dari semua kasus) dan yang paling mungkin untuk menyelesaikan tanpa pengobatan antibiotik.
7

2.5 KOMPLIKASI Sebelum ada antibiotika, OMA dapat menimbulakn komplikasi. Baru setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari OMSK. Bila pengobatan OMA tidak tepat dan adekuat, maka OMA bisa memberikan komplikasi atau perluasan ke mastoid.

Komplikasi OMA menurut Mawson 1978, Youwer 1983 dan Paparella 1988 dapat dibagi menjadi: 1. Komplikasi Intra temporal a. Otitis media supuratif kronik Dapat terjadi karena penanganan OMA yang terlambat, penanganan yang tidak adekuat, daya tahantubuh yang lemah dan virulensi kuman yang tinggi. Secara klinis ada 2 stadium yaitu stadium aktif dimana dijumpai sekret pada liang telinga dan stadium nonaktif dimana tidak ditemukan sekret di liang telinga. b. Mastoiditis Akut Adanya jumlah pus yang berlebihan akan masuk mendesak selulae mastoid dan terjadi nekrosis pada dinding selule dengan bentuk empiema, mastoidkapsul akan terisi sel peradangan sehingga bentuk anatomi akan hilang. Dan infeksi dapat melanjut menembus tulang korteks sehingga terjadi abses subperiosteal. Pada beberapa kasus dimana drainase cukup baik akan terjadi keadaan kronik dimana didapat retensi pus di dalam selule mastoid yang disebut sebagai mastoid reservoir dengan gejala utama otore profus. Klinis : panas tinggi, rasa sakit bertambah hebat, gangguan pendengaran bertambah, sekret bertambah, bengkak dan rasa sakit di daerah mastoid. c. Petrositis Terjadi karena pneumotisasi di daerah os petrosus umumnya kurang baik. Walau demikian, petrositis jarang terjadi pada OMA. d. Fasial paralisis

Adanya pembengkakan pada selubung saraf di dalam kanalis falopian akan terjadi penekanan pada saraf fasial. Pada OMA jarang terjadi kecuali bila ada kelainan kongenital di mana terdapat hiatus pada kanal falopian. Klinis : gejala pertama adalah klemahan pada sudut mulut yanng cenderung menjadi berat. Paralisis terjadi pada stadium hiperemi atau supurasi. Kelumpuhan ini akan sembuh sempurna bila otitis medianya sembuh.

e. Labirintitis Meskipun jarang terjadi perlu diketahui bahwa infeksi disini adalah kelanjutan dari petrositis atau karena masuknya kuman melaui foramen ovale dan rotundum. Peradangan ini dapat mengenai koklea, vestibulum dan kanalis semi sirkularis. Klinis : mual, tumpah, vertigo dan kurang pendengaran tipe sensorineural. f. Proses adhesi atau perlengketan Dapat 6 minggu. Sekret mukoid lebih dari terjadi pada otitis media yang berlangsung yang kental dapat menyebabkan kerusakan tulang pendengaran atau menyebabkan perleketan tulang pendengaran dengan dinding cavum timpani. g. Ketulian 2. Komplikasi Intrakranial a. Abses extradural Terjadi penimbunan pus antara duramater dan tegmen timpani. Seringkali tegmen timpani mengalami erosi dan kuman masuk ke dalam epitimpani, antrum, adn celulae mastoid. Penyebaran infeksi dapat pula melalui pembuluh darah kecil yang terdapat pada mukosa periosteum menuju bulbus jugularis, nervus facialis, dan labirin. Klinis : otalgia, sakit kepala, tampak lemah. b. Abses subdural

Jarang terjadi penimbunan pus di ruang antara duramater dan arachnoid. Penyebaran kuman melalui pembuluh darah. Klinis : sakit kepala, rangsang meningeal, kadang kadang hemiplegi. c. Abses otak Terjadi melalui trombophlebitis karena ada hubunganb antara vena vena daerah mastoid dan vena vena kecil sekitar duramater ke substansia alba. Klinis : sakit kepala hebat, apatis, suhu tinggi, tumpah, kesadaran menurun, kejang, papil edema.

d. Meningitis otogenik Terjadi secara hematogen, erosi tulang atau melalui jalan anatomi yang telah ada. Pada anak komplikasi ini sering terjadi karena pada anak jarak antara ruang telinga tengah dan fossa media relatif pendek dan dipisahkan oleh tegmen timpani yang tipis. Klinis : tampak sakit, gelisah, iritabel, panas tinggi, nyeri kepala, rangsang meningeal. e. Otitic Hodrocephalus Jarang terjadi. Infeksi ini terjadi melalui patent sutura petrosquamosa. Klinis : sakit kepala terus menerus, diplopia, paresis N VI sisi lesi, mual, tumpah, papil edem.

2.6 FAKTOR PREDISPOSISI Faktor pencetus terjadinya OMA dapat didahului oleh terjadinya infeksi saluran pernapasan atas yang berulang disertai dengan gangguan pertahanan tubuh oleh silia dari mukosa tuba eusthachii,enzim dan antibodi yang menimbulkan tekanan negative sehingga terjadi invasi bakteri dari mukosa nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba eusthachii dan menetapdi dalam telinga tengah menjadi otitis media akut. Ada 5 stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan pada perubahan mukosa telinga tengah, yaitu :

10

1. Stadium Oklusi Ditandai dengan gambaran retraksi membrane timpani akibat tekanan negative telinga tengah. Kadang- kadang membrane timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi sulit di deteksi. 2. Stadium Hiperemis Tamapak pembuluh darah yang melebar di sebagian atau seluruh membrane timpani disertai oedem. Sekret yang mulai terbentuk masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar dinilai. 3. Stadium Supurasi Oedem yang hebat pada mukosa telinga tengah disertai dengan hancurnya sel epitel superficial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani menyebabkan membrane timpani menonjol kea rah liang telinga luar. Gejala klinis pasien Nampak terasa sakit, nadi, demam, serta rasa nyeri pada telinga bertambah hebat. Pada keadaan lebih lanjut, dapat terjadi iskemia akibat tekanan eksudat purulent yang makin bertambah, tromboflebitis pada vena-vena kecil bahkan hingga nekrosis mukosa dan submukosa. 4. Stadium Perforasi Rupturnya membrane timpani sehingga nanah keluar dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang pengeluaran secret bersifat pulsasi. Stadium ini sering diakibatkan oleh terlambatnya pemberian antibiotika dan tingginya virlensi kuman. 5. Stadium Resolusi Ditandai oleh membrane timpani yang berangsur normal hingga perforasi membrane timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Hal ini terjadi jika membrane timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah(Kapita selekta kedokteran, 1999).

2.7 MANIFESTASI KLINIS

11

Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia anak anak umumnya keluhan berupa. Rasa nyeri di telinga dan demam. Biasanya dari riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penih. Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit. OMA harus dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Untuk membedakannya dapat diperhatikan hal-hal berikut.

Gejala dan tanda Nyeri telinga, demam, rewel Efusi telinga tengah Gendang telinga suram Gendang yang menggembung Gerakan gendang

OMA + + + +/+

Otitis media dengan efusi + +/+ +

berkurang Berkurangnya pendengaran +

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG


12

1. Pemeriksaan dengan atoskop (alat untuk memeriksa liang-liang gendang telinga dengan jelas). 2. Melihat ada tidaknya gendang telinga yang menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan / agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga. 3. Otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan udara kecil). Untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara. 2.9 PENATALAKSANAAN A. Antibiotik OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotic. Penggunaan antibiotic tidak mengurangi komplikasi yang terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotic diberikan. America Academy of Pediatric (APP) mengkatagorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera di terapi dengan antibiotic sebagai berikut;

USIA < 6 bulan 6 bulan 2 tahun >2 tahun

DIAGNOSIS PASTI Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan

Gejala ringan adalah apabila nyeri telinga ringan dan demam <390C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang sampai berat atau demam 390C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia 6 bulan-2 tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan atau diagnosis meragukan pada anak di atas 2 tahun. Analgesia harus tetap diberikan selama observasi.

13

Pilihan pertama pemberian antibiotik pada OMA adalah dengan amoxycilin. American Academy of Family Physicians (AAFP) menganjurkan pemberian dosis standar 40mg/kgBB/hari pada anak dengan resiko rendah (umur >2tahun, tidak dalam perawatan intensif, belum pernah menerima pengobatan antibiotik dalam 3 bulan terakhir). Sedangkan pemberian dosis tinggi 80mg/kgBB/hari diberikan pada anak dengan resiko tinggi ( umur <2tahun, dalam perwatan, ada riwayat pemberian antibiotik dalam 3 bulan terakhir serta resisten terhadap pemberian dosis rendah amoxycilin) . Sementara itu The Centre for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan terapi antibiotik pada OMA sebagai berikut :

KKONDISI Otitis media dengan penonjolan (bulging) membrane timpani Otitis media tanpa bulging membrane timpani Otitis media berulang Otitis media e.cre sistensi bakteri terhadap amoxycilin dosis tinggi

TERAPI High-dose amoxycilin (80100mg/kgBB/hari per oral) selama 7 hari Penundaan pemberian antibiotik, (sembuh spontan) Penundaan pemberian antibiotic, pemberian vaksin influenza High-dose amoxycilin clavulanate (80-90 mg/kgBB/hari per oral selama 7 hari); cefuroxime axetil (30 mg/kgBB 2 kali/hari per oral); ceftriaxone (50mg/kg/hari IM selama 3 hari)

Penundaan antibiotik dan pengaturan pemberian antibiotik dilakukan pada otitis media tanpa bulging karena pada otitis media jenis ini umumnya dapat sembuh spontan tanpa pemberian antibiotik sebab pemberian antibiotic pada kasus ini dianggap hanya akan menambah efek samping terhadap tubuh. Pengaturan pemberian resep dapat dilakukan dengan pemberian acetaminophen jika terjadi otalgia serta demam, dan jika setelah pemberian tersebut demam masih berlangsung serta tidak ada perbaikan gejala klinis selama 3 hari , maka baru diberikan amoxycilin dosis tinggi. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam waktu 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedangkan pada 24 jam kedua mulai
14

terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 3 hari atau kembali muncul dalam 14 hari kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai/kurang adekuat atau bahkan telah terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut. Jika pasien alergi terhadap golongan Penicilin alternative antibiotik yang digunakan adalah cefuroxime axetil, ceftriaxone injeksi (2-3x50mg/kg/hari) atau generasi kedua sefalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime atau cefuroxime. Pilihan lainnya adalah golongan makrolid seperti azithromycin dan clarithromicyn. B. Analgesia/ pereda nyeri Selain antibiotik, penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan karena pemberian ibuprofen dapat memperburuk keadaan tersebut.

Pemberian antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat pada anak. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. Miringotomy, dengan melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan dari dalam telinga juga tidak dianjurkan, kecuali jika terjadi komplikasi berat. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis hanya akan meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik

15

16

2. 10 WOC

Infeksi sekunder (ISPA) Bakteri Streptococcus, Hemophylus Influenza

Trauma, Benda Asing Ruptur Gendang Telinga

Invasi Bakteri Infeksi telinga tengah (kavum timpani, tuba eustachius)

Kesulitan/sakit menelan dan mengunyah

Proses peradangan Peningkatan produksi cairan serosa Nyeri Akumulasi cairan mukus dan serosa Ruptur membran timpani krn desakan Sekret keluar dan berbau tidak enak (otorrhoe)

Tekanan udara pd telinga tengah (-) Retraksi membran timpani

Pengobatan tdk tuntas Episode berulang Infeksi berlanjut dpt sampai ke telinga dalam

Kurangnya Informasi

Resiko pemenuhan kebuth nutrisi kurang dari kebuth

Ggn Body Image

Hantaran suara / udara yg Merusak tulang krn diterima menurun Tjd erosi pd kanalis adanya epitel skuamosa Tinitus semisirkularis di dlm rongga telinga Penurunan fungsi tengah (kolesteatom) pendengaran Tuli konduktif ringan Pening / vertigo Kesimb. Tbh menurun Tindakan operasi dgn mastoidektomi Ggn persepsi sensori Resiko tjd injuri / pendengaran trauma

Kurang pengetahuan

17

Nyeri akut

Cemas

Resiko Infeksi

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN OMA PADA NY. R

Nama Kelompok Hari/ tanggal Pengakajian 3.1 PENGKAJIAN

: I (satu) : kamis 19 Juli 2012

1. Identitas Pasien : Nama Pasien Umur Suku / Bangsa Status Perkawinan Agama Pendidikan Alamat Tanggal / waktu datang Orang yang dapat dihubungi Nama Alamat Hubungan dengan pasien Diterima dari Diagnosa Medis :::: Poli THT : OMA : Ny. R : 18 tahun : Minang/ Indonesia : Belum Kawin : Islam : SMA : PT. MA : 19 Juli 2012

18

2. Riwayat Kesehatan 1. Keluhan Utama Klien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada telinga dan susah untuk mendengar serta keluarnya cairan (pus) dari telinga 2. Riwayat Kesehatan Dahulu Klien mengatakan pernah mengalami penyakit yang sama semenjak kecil, umur 12 tahun. Klien tidak ada riwayat penyakit seperti DM dan penyakit pada organ pernapasan. 3. Riwayat Kesehatan Sekarang Klien mengalami nyeri pada telinga dan adanya gangguan pendengaran seperti ada yang menyumbat dan pendengaran menurun. Dari telinga klien keluar pus, mukus dan juga rubor 4. Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama. Klien juga mengatakan dari keluarga tidak ada riwayat DM, hipertensi, dan penyakit jantung. 5. Riwayat Kesehatan Lingkungan Klien mengatakan lingkungannya di sekitar rumah tenang, karena tidak di tepi jalan. Klien mengatakan masyarakat di sana mandi dan nyuci di sungai yang tidak jernih. 6. Riwayat Kesehatan Psikososial Klien mengatakan hubungan dengan keluarga terjalin baik, tetapi agak susah dalam berkomunikasi

3. Pemeriksaan Fisik a) Keadaan umum Kesadaran : Composmetis


19

b) Tanda vital Tekan darah Nadi Pernafasan Suhu : 100/ 90 mmHg : 80 x/i : 22 x/i : 36, 5 C

c) Kulit Warna Turgor Kelembaban Edema : Sawo matang : Baik/ elastis : Lembab : Tidak ada tanda edema

d) Rambut Warna Disribusi Karakteristik : Hitam : Tebal : Tidak rontok

e) Kelenjar getah bening Bentuk Tanda radang Lainnya : Normal : Tidak ada tanda radang : Tidak ada

f) Kepala Bentuk Ukuran Rambut Kulit kepala Edema : Normochepal :: Hitam : Bersih : Tidak ada edema

g) Mata Visus Silia dan supersilia Kornea Palpepbra : Baik, simetris kiri dan kanan : Simetris kiri dan kanan : Jernih : Tidak ada edema

20

Konjungtiva Sklera Pupil Refleks Pupil Lensa Lapang Pandang Persepsi Warna

: Tidak anemis : Tidak ada ikterik : 3mm/ 3mm, sama besar kiri dan kanan : Sama baik kiri dan kanan : Jernih : Sama baik kiri dan kanan : Baik

h) Telinga Membran timpani Mastoid Telinga luar o Kartilago o Tragus o Lainnya Webber Rinne : Ada tekanan nyeri : Simetris kiri dan kanan : Ada ptanda peradangan : Telinga kiri (+), telinga kanan (-) : Telinga kiri (+), telinga kanan (-) : Infeksi pada telinga tengah dan berlubang, ada pus : Adanya pembengkakan

i) Hidung Bentuk Tanda radang Septum hidung Mukosa : Simertis kiri dan kanan : Tidak ada tanda peradangan : Ada : Tidak ada tanda radang

j) Mulut Mukosa bibir Gusi : Bersih, tidak anemis : Warna merah muda, tidak ada pendarahan

k) Leher Carotid bruit Vena (JVP) Kelenjer : Tidak ada pembesaran : 5-2 H2O : Tidak ada pembesaran kelenjer

l) Dada/thorax Bentuk dada


21

Postur Bentuk dada Kesimetrisan dada

: Tegap : Normal : Simetris kiri dan kanan

m) Ektremitas/ muskuloskeletal Kekuatan otot : 5555 5555 Tonus otot 5555 5555

: Bernilai 5

4. Pengakajian Pendekatan Fungsional Pola persepsi terhadap kesehatan dan pemeliharaan kesehatan. DO : Personal hygiene klien tampak bersih DS : Klien mengatakan jarang membersihkan telinganya Pola aktivitas Latihan DO : Klien tampak dapat beraktivitas dengan baik DS : Klien mengatakan tidak ada masalah dalam beraktivitas Pola eliminasi DS : Klien mengatakan BAK dan BAB normal Pola tidur dan istirahat DS : Klien mengatakan tidur biasanya pukul 11.00 WIB Pola nutrisi dan metabolisme DO : Tubuh klien tamapak bugar dan segar DS : Klien mengatakan ada memakan sayur, buah dan daging Pola persepsi DO : Klien tampak payah dalam mendengar
22

DS : Klien mengatakan suara terdengar kurang jelas pada telinga kanan Pola toleransi dan koping terhadap stress. DO : Klien tampak tidak suka dengan penyakit DS : Klien mengatakan ingin cepat sembuh, agar tidak menganggu sekolah Pola nilai dan keyakinan DO : Klien terdengar mengucapakan Ya Allah dalam menahan kesakitan DS : Klien mengatakan ada dalam beribadah

3.2 ANALISA DATA NO 1 DO: Klien tampak meringis kesakitan Klien tampak sering memegang telinga Proses peradangan Skala nyeri klien adalah 7 (1-10) Telinga klien terlihat berwarna merah DS: Klien mengatakan nyeri pada telinga Klien mengatakan Nyeri Infeksi telinga tengah DATA ETIOLOGI Invasi bakteri MASALAH Gangguan rasa nyaman : Nyeri

23

telinga terasa panas Klien mengatakan sukar tidur karena nyeri 2 DO: Klien tampak susah mendengar Dari telinga klien tampak ada pus dan mukus Klien tampak kebingungan DS: Klien mengatakan adanya terasa penyumbatan pada telinga Klien mengatakan payah dalam mendengar Klien mengatakan terasa pekak pada telinga Klien mengatakan ada cairan keluar dari telinga dan berbau 3. DO : Telinga kanan klien
24

Penurunan persepsi sensori : pendengaran

Invasi bakteri Infeksi telinga tengah Tekanan udara pada telinga tengah (-) Retraksi membran tympani Hantaran udara menurun

Invasi bakteri

Gangguan body image

berbau tidak enak Sekret sering keluar Klien terlihat minder Infeksi telinga tengah Peningkatan produksi cairan serosa Akumulasi cairan mukus dan serosa Ruptur membran tympani karena desakan Sekret keluar dan berbau tidak enak Klien mengatakan tidak percaya diri keluar rumah

DS : Klien menyatakan selama sakit, malas masuk sekolah Klien mengatakan merasa di asingkan oleh temannya

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang akan muncul sebagai berikut : 1 2 3 Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga Perubahan sensori-persepsi : Auditorius berhubungan dengan Gangguan penghantar bunyi pada organ pendengaran Gangguan body image berhubungan dengan adanya sekret pada telinga

3.4 INTERVENSI No 1. Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan : nyeri berkurang atau hilang Intervensi a. Kaji tanda-tanda perluasan infeksi, mastoiditis, vertigo Rasional a. Untuk mengantisipasi perluasan lebih lanjut.

25

b. Untuk KH : b. Jaga kebersihan Klien tidak meringis Skala nyeri : 1/2 pada daerah liang telinga mengurangi pertumbuhan mikroorganism e c. untuk c. Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa/ terlalu keras (sisi) tengah. menghindari transfer organisme dari tuba eustacius ke telinga d. mengurangi nyeri karena infeksi e. Teknik relaksasi : tarik nafas dalam e. mengurangi rasa nyeri

d. Kompres hangat

f. Kolaborasi pemberian terapi : pemberian obat antibiotik, seperti amoxcylin dan analgesia, seperti paracetamol dan ibuprofen

f. Mempercepat proses penyembuhan

2.

Perubahan sensoripersepsi : Auditorius

Tujuan : memperbaiki komunikasi


26

a. Mengurangi kegaduhan pada lingkungan klien.

a. Mengurang bising pada klien

berhubungan dengan Gangguan penghantar bunyi pada organ pendengaran KH : a. Klien dapat kembali mendengar dengan normal b. Komunikasi terjalin baik c. Berbicara jelas dan tegas pada klien tanpa perlu berteriak. d. Memberikan pencahayaan yang baik bila klien bergantung pada gerak bibir. e. Menggunakan tanda-tanda nonverbal (mis. Ekspresi wajah, mununjuk, atau gerakan tubuh) dan komunikasi lainnya. f. Instruksikan kepada keluarga atau orang terdekat klien tentang bagaimana teknik komunikasi yang efektif g. Bila klien menginginkan, klien dapat menggunakan alat bantu
27

b. Membuat klien b. Memandang klien ketika berbicara. lebih mengerti dalam berkomunikasi c. Membuat klien lebih mengerti tanpa harus berteriak d. Berkomunikasi berfokus pada gerak bibir

e. Memperlancar komunikasi dan membuat klien lebih mengerti

f. Dapat saling berinteraksi dengan klien dengan baik.

g. Alat bantu yang menggantikan fugsi dari gendang telinga

pendengaran. 3. Gangguan body image berhubungan dengan adanya sekret pada telinga KH : Body image positif Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh Mempertahankan interaksi sosial c. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit d. Dorong klien mengungkapkan perasaannya d. Memberikan kekuatan batin pada klien untuk lebih tegar Tujuan : gangguan body image klien teratasi a. Kaji secara verbal dan nonverbal respon klien terhadap tubuhnya b. Monitor frekuensi mengkritik dirinya b. Mengetahui berapa besarnya respon klien terhadap penyakitnya c. Menerangkan dalam mempercepat proses penyembuhan a. Mengetahui respect klien

e. Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu e. Mengembalikan fungsi telinga dengan alat bantu

28

3.5 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI No 1. Tanggal/ jam 19-07-12/ Pukul 09.00 wib Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga Implementasi a. periksa adanya tanda-tanda perluasan infeksi b. bersihkan daerah liang telinga c. beritahu klien agar tidak memaksa dalam mengeluarkan ingus d. Berikan kompres hangat e. Ajarkan teknik relaksasi : tarik nafas dalam f. Berikan anti inflamasi sesuai
29

Evaluasi (SOAP) S : Klien mengatakan nyeri pada telinga O : Klien tampak meringis A : Masalah belum teratasi P : Intervensi di lanjutkan oleh klien

Paraf

resep 2. 19-07-12/ Pukul 11.00 wib Perubahan sensoripersepsi : Auditorius berhubungan dengan Gangguan penghantar bunyi pada organ pendengaran a. Hindari kegaduhan S : Klien di dekat klien b. Pandangi klien ketika berbicara c. Berbicara yang jelas, jangan berteriak d. Berikan pencahayaan pada bibir klien e. Gunakan komunikasi nonverbal f. Ajari keluarga cara menggunakan teknik komunikasi yang efektif g. Beri alat bantu pendengaran bila klien ingin 3. 19-07-12/ Pukul 12.00 wib Gangguan body image berhubungan dengan adanya sekret pada telinga a. Kaji respon klien secara verbal dan non verbal b. Kaji frekuensi mengkritik dirinya c. Beritahu tentang perawatan dan pengobatan
30

mengatakan terasa ada hambatan pada lubang telinga O : Dari telinga klien tampak pus dan mukus A: Masalah belum teratasi P: Intervensi di lanjutkan oleh klien

S : Klien mengatakan tidak percaya diri keluar rumah O : Sekret berbau tidak enak A : Masalah belum teratasi

penyakit klien d. Dorong klien mengungkapkan perasaannya e. Selidiki arti kekurangan melalui alat bantu

P : Intervensi dilanjutkan oleh klien

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN Otitis media akut merupakan radang infeksi atau inflamasi pada telinga tengah oleh bakteri atau virus dengan gejala klinik nyeri telinga, demam, bahkan hingga hilangnya pendengaran, tinnitus dan vertigo. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan umumnya berlangsung dalam waktu 3-6 minggu. Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus, Haemophilus Influenzae (27%), Staphylococcus aureus (2%), Streptococcus Pneumoniae (38%), Pneumococcus. Diagnosa yang muncul pada Ny. R adalah : 1 2 3 Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga Perubahan sensori-persepsi : Auditorius berhubungan dengan Gangguan penghantar bunyi pada organ pendengaran Gangguan body image berhubungan dengan adanya sekret

4.2 SARAN
31

Berdasarkan hasil pembuatan makalah dan hasil dari pengkajian di ruangan Poli THT dengan kasus OMA, diharapkan khususnya pada mahasiswa/i mampu memahami dan melakukan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, dan implementasi serta evaluasi yang sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang sudah di pelajari baik dikampus maupun di RSUD Lubuk Basung khususnya di Ruangan Poli THT.

DAFTAR PUSTAKA
Charismawati, Anisa, Otitis Media Akut, Kepaniteraan Klinik lab/SMF Ilmu Farmasi Fakultas Kedokteran UNS / RSUD DR. MOERWADI. Surakarta. 2011 Efiaty Arsyad, S, Nurbaiti Iskandar, Buku Ajar Ilmu Penyakit TelingaHidung Tenggorokan, Edisi III, FKUI,1997. Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. PEDIATRICS Vol. 113 No. 5 May 2004, pp.1451-1456. Djaafar, Zainul A., Helmi, Ratna D. Restuti. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi Keenam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. h. 65-68 Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R. Kapita Selekta Kedokteran Bagian THT FK UI. Penerbit : Media Aeusculapeus FK UI, Jakarta, 2001 ; hal. 79.. Revai, Krystal et al. 2007. IncidenceofAcuteOtitisMedia and Sinusitis Complicating Riece H. Komplikasi Otitis Media Akuta. Kumpulan Karya Ilmiah Wellbery C. Standard-Dose Amoxicilin for Acute Otitis Media May 1 2005

32