Asuhan Keperawatan Rheumatic Heart Disease

1:10 AM Asuhan Keperawatan Full No comments

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyakit jantung reumatik (PJR) adalah salah satu komplikasi yang membahayakan dari demam reumatik.Penyakit jantung reumatik adalah sebuah kondisi dimana terjadi kerusakan permanen dari katup-katup jantung yang disebabkan oleh demam reumatik. Katupkatup jantung tersebut rusak karena proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus β hemoliticus tipe A (contoh: Streptococcus pyogenes), bakteri yang bisa menyebabkan demam reumatik. Sebanyak kurang lebih 39 % pasien dengan demam reumatik akut bisa terjadi kelainan pada jantung mulai dari gangguan katup, gagal jantung, perikarditis (radang selaput jantung), bahkan kematian.Dengan penyakit jantung reumatik yang kronik, pada pasien bisa terjadi stenosis katup (gangguan katup), pembesaran atrium (ruang jantung), aritmia (gangguan irama jantung) dan gangguan fungsi ventrikel (ruang jantung).Penyakit jantug reumatik masih menjadi penyebab stenosis katup mitral dan penggantian katup pada orang dewasa di Amerika Serikat. RHD terdapat diseluruh dunia. Lebih dari 100.000 kasus baru demam rematik didiagnosa setiap tahunnya, khususnya pada kelompok anak usia 6-15 tahun. Cenderung terjangkit pada daerah dengan udara dingin, lembab, lingkungan yang kondisi kebersihan dan gizinya kurang memadai.Sementara dinegara maju insiden penyakit ini mulai menurun karena tingkat perekonomian lebih baik dan upaya pencegahan penyakit lebih sempurna. Dari data 8 rumah sakit di Indonesia tahun 1983-1985 menunjukan kasus RHD rata-rata 3,44 ℅ dari seluruh jumlah penderita yang dirawat.Secara Nasional mortalitas akibat RHD cukup tinggi dan ini merupakan penyebab kematian utama penyakit jantung sebelum usia 40 tahun.

1.2 2. 3. 4.

Rumusan Masalah Apa definisi Rheumatic Heart Disease? Apa etiologi Rheumatic Heart Disease? Bagaimana pemeriksaan Diagnostik / PenunjangRheumatic Heart Disease?

3. Bagaimana klasifikasi Rheumatic Heart Disease? 8. Klasifikasi Rheumatic Heart Disease 7. Definisi Rheumatic Heart Disease 2. 1.3. Etiologi Rheumatic Heart Disease 3. Prognosis Rheumatic Heart Disease 6. . Patofisiologi sekaligus askep pada pasien Rheumatic Heart Disease.2 Tujuan Khusus Agar Mahasiswa mengetahui: 1.3 Tujuan 1. Bagaimana manifestasi klinik Rheumatic Heart Disease? 9. Bagaimana patofisiologi sekaligus askep pada pasien Rheumatic Heart Disease? 1.1 Tujuan Umum Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami baik konsep penyakit RHD maupun konsep keperawatan pada klien dengan Reumatoid Heart Disease( RHD ). Komplikasi Rheumatic Heart Disease 5.5. Bagaimana penatalaksanaan Rheumatic Heart Disease? 10. Manifestasi klinik Rheumatic Heart Disease 8. Penatalaksanaan Rheumatic Heart Disease 9. Pemeriksaan Diagnostik / PenunjangRheumatic Heart Disease 4. Apa komplikasi Rheumatic Heart Disease? 6. Bagaimana prognosis Rheumatic Heart Disease? 7.

jantung dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A (Pusdiknakes. penyakit ini paling sering mengenai anak berumur 5-18 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. namun pada umumnya disetujui bahwa ada factor keturunan pada penyakit jantung rheumatic. sedangkan cara penurunannya belum dapat dipastikan 2. menurut LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. Faktor Genetik Banyak penyakit jantung rheumatic yang terjadi pada satu keluarga maupun pada anak-anak kembar. Golongan Etnik dan Ras Di Negara-negara barat umumnya stenosis mitral terjadi bertahun-tahun setelah penyakit jantung rheumatic akut. jantung berdebar keras.Pada orang dewasa gejala sisa berupa stenosis mitral sering didapatkan pada wanita. penyakit ini jarang dijumpai pada anak dibawah usia 4 tahun dan penduduk di atas 50 tahun. 2. Umur Umur agaknya merupakan factor predisposisi terpenting pada timbulnya penyakit jantung rheumatic.83seperti : 1. meskipun pengetahuan tentang factor genetic pada penyakit jantung rheumatic ini tidak lengkap. c. b. Penyakit ini cenderung berulang dan dipandang sebagai penyebab penyakit jantung didapat pada anak dan dewasa muda di seluruh dunia.3 a. Demam reumatik adalah suatu sindroma penyakit radang yang biasanya timbul setelah suatu infeksi tenggorok oleh steptokokus beta hemolitikus golongan A. hanya 6 bulan – 3 tahun. 1994) Demam reumatik akut ditandai oleh demam berkepanjangan. Puncak insiden demam rematik terdapat pada kelompok usia 5-15 tahun. Jenis Kelamin Dahulu sering dinyatakan bahwa lebih sering didapatkan pada anak wanita dibanding anak laki-laki. 1994.2 ETIOLOGI Disebabkan oleh karditis rheumatic akut dan fibrosis. Sedangkan insufisiensi aorta lebih sering ditemukan pada laki-laki 3. mempunyai kecenderungan untuk kambuh dan dapat menyebabkan gejala sisa pada jantung khususnya katub (LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. 1993). kadang cepat lelah. KOMPLIKASI Komplikasi rheumatic heart disease menurut LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin. terutama persendian. d.88 adalah: Kambuh demam reumatik Gagal jantung Endokarditis bakterial subakut Fibrilasi atrium . tetapi di India menunjukkan bahwa stenosis mitral organic yang berat sering kali tejadi dalam waktu yang singkat.1 DEFINISI Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh.BAB II PEMBAHASAN 2. tidak biasa ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun 2. dan beberapa factor predisposisi lainnya. 1994.Kelainan katub sebagai gejala sisa penyakit jantung rheumatic menunjukkan perbedaan jenis kelamin. 4.

atau asimtomatik. Pathway : 2. Produk streptokokus yang antigenik secara difusi keluar dari sel-sel tenggorok dan merangsang jaringan limfoid untuk membentuk zat anti. harga hidup. diikuti fase laten (asimtomatik) selama 1 sampai 3 minggu. Pembentukan trombus yang dapat lepas atau menimbulkan obstruksi f.e. Robekan korda tendiena 2.83 adalah: Demam reumatik dan penyakit jantung reumatik biasanya didahului oleh radang saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh infeksi streptokokus beta-hemolitikus golongan A. Kelainan pada jantung dapat berupa endokarditis. tingkat kematian. Pada demam reumatik dapat terjadi keradangan berupa reaksi eksudatif maupun proliferatif dengan manifestasi artritis. ringan. Yang masih dianut dengan sekarang adalah teori autoimunitas.4 PATOFISIOLOGI Patofisiologi Rheumatic Heart Disease menurut LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. sedang. prospek untuk pemulihan. 1994. dan perikarditis.6 PROGNOSIS Prognosis RHD terdiri dari lama penyakit. sehingga kuman termasuk dianggap sebagai penyebab demam reumatik akut. Beberapa antigen streptokokus. Hingga sekarang masih belum diketahui dengan pasti hubungan langsung antara infeksi streptokokus dengan gejala demam reumatik akut. KLASIFIKASI . Baru setelah itu timbul gejala-gejala demam reumatik akut. miokarditis. Infeksi tenggorokan yang terjadi bisa berat. nodul subkutan eritema marginatum dan khorea. karditis.5 2. kemungkinan hasil. kesempatan komplikasi dari penyakit. pemulihan periode untuk penyakit. khususnya Streptolisin O dapat mangadakan reaksi-antibodi antara zat anti terhadap streptokokus dan jaringan tubuh. dan hasil kemungkinan lainnya dalam keseluruhan prognosa dari penyakit jantung reumatik.

pasien kadang – kadang sulit menggerakkan tungkainya Demam tidak lebih dari 390 C Leukositosis Peningkatan laju endap darah (LED) C-Reaktif Protein (CRP) positif . 2. 3.Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum dan menifesrasi spesifik demam reumatik /penyakit jantung reumatik. 6. lesu. Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantun reumatik dapat dibagi dalam 4 stadium menurut Ngastiyah. Rasa sakit disekitar sendi. Sakit perut Stadium IV Disebut juga stadium inaktif. Lekas tersinggung.kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan kemudian. endokarditis) Eritema Marginatum Tanda kemerahan pada batang tubuh dan telapak tangan yang tidak gatal. 4. 1. saat ini timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik /penyakit jantung reumatik. radang sendi – sendi besar. 2. 2. Muntah. 4. Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan katup jantung. Rasa sakit waktu menelan.Pasa fase ini baik penderita demam reumatik maupun penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya. Epistaksis. gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya kelainan. Athralgia. 3. Karditis Peradangan pada jantung (miokarditis. Kriteria minor: Mempunyai riwayat menderita demam reumatik atau penyakit jantung reumatik Artraliga atau nyeri sendi tanpa adanya tanda obyektif pada sendi. Peradangan pada tonsil yang disertai eksudat Stadium II Stadium ini disebut juga periode laten. b. persendian kaki. 5. Gejala peradangan umum : Demam yang tinggi. 5. Stadium III Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik. ruas jari. biasanya periode ini berlangsung 1-3 minggu. 3. Keluhan : Demam. Khorea Syndendham Gerakan yang tidak disengaja / gerakan abnormal.ialah masa antara infeksi streptococcus dengan permulaan gejala demam reumatik. 2. pergelangan tangan. tidak nyeri dan dapat bebas digerakkan. Anoreksia.7 a.1. sebagai manifestasi peradangan pada sistem saraf pusat. Batuk. lutut. Diare. Kelihatan pucat. siku (Poliartitis migran). Nodul Subkutan Terletak pada permukaan ekstensor sendi terutama siku. 4. MANIFESTASI KLINIS Untuk menegakkan diagnose demam dapat digunakan criteria Jones yaitu: Kriteria mayor: Poliarthritis Pasien dengan keluhan sakit pada sendi yang berpindah – pindah. Berat badan menurun. 1. lutut.Pada stadium ini penderita demam reumatik tanpa kelainan jantung / penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala apa-apa. 1995:99 adalah: Stadium I Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus Grup A. pergelangan kaki.

Radiologi Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung. Pengobatan/ pencegahan medical 2. Gagal jantung  Tirah baring  Diit rendah garam. 1994.7.9 PEMERIKSAAN DIAGNOSIS / PENUNJANG 1. Valvuloplasti balon untuk stenosis mitral murni 2. 5. Pemeriksaan laboratorium Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO.10 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan penyakit jantung reumatik terdiri dari 2 tahapmenurut LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. peningkatan laju endap darah ( LED ). Tanda keluhan/komplikasi:tidak perlu pengobatan b. pembedahan secara terbuak untuk mengoreksi atau mengganti katup mitral dan/atau katup aorta bila katup sudah sangat rusak atau mengalami perkapuran. 3.88 adalah: Kelainan jantung bawaanadalah suatu keadaan kelainan pada jantung bayi termasuk didalamnya struktur dan fungsi dari peredaran darah jantung bayi. Pemeriksaan Elektrokardiogram Menunjukan interval P-R memanjang.8 P-R interval memanjang Peningkatan pulse/denyut jantung saat tidur Peningkatan Anti Streptolisin O (ASTO) DIAGNOSIS BANDING Diagnosa banding penyakit reumatic heart disease menurut LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. 2. Keadaan ini terjadi sejak awal masa pertumbuhan dan perkembangan hasil pembuahan dalam kandungan 2. Endokarditis bacterial subakut:  Antibiotika yang disesuaikan dengan kuman penyebabnya d.tinggi kalori  Digitalisasi  Deuretika  Vasodilator c.88 adalah: 1. Pembedahan Pengobatan medikal penderita penyakit jantung reumatik ditujukan pada penyulit yag timbul. 9.terjadi leukositosis. perlu dipertimbangkan tindakan invasive/pembedahan untuk mengoreksi kelainan anatomic katup: 1. Fibrilasi atrium:  Obat antiaritma  Defibrilasi DC Bila pengobatan katup medical telah optimal. Pemeriksaan Echokardiogram Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi 4. dan dapat terjadi penurunan hemoglobin. 1994.11 PENCEGAHAN . 2. Hapusan tenggorokan Ditemukan steptococcus hemolitikus b grup A 2. 2. a. 8.

Penisilin Benzatin 600. Pada penderita dengan penyakit jantung reumatik dengan gagal jantung atau katup buatan dianjurkan pemberian pencegahan seumur hidup. Sulfadiazin 1 x 500 mg/hari untuk anak dibawah 30 kg dan 1 g untuk anak lebih dari 30 kg. 1994. Pencegahan diberikan sekurang-kurangnya sampai 5 tahun bebas serangan ulang demam reumatic.89 adalah: 1. 2.Pencegahan penyakit rheumatic heart disease menurut LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak. .2 juta U bila berat badan lebih dari 30 kg diberikan sekali dalam 4 minggu.000 U untuk anak dengan berat badan kurang dari 30 kg dan 1.

mata. dehidrasi. ADL a. muntah.BAB III TEORI ASUHAN KEPERAWATAN 3. d. ancaman pada konsep diri. 7. Integritas ego Faktor stres akut/ kronis seperti finansial. Cardio vaskuler Fenomena reynoud jari tangan/ kaki misalnya pusat intermitten sianosis. Abdomen pembesaran hati. Riwayat penyakit dahulu: Fonsilitis. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan darah Astopiter LED Hb Leukosit . Keluhan utama: Sakit persendian dan demam. minggu pertama. Aktifitas Keletihan.pekerjaan. autitis media. 3. cloera. nodu noktan timbul minggu. faringitis. Pemeriksaan fisik a. keterbatasan rentang gerak atropi otot. c. b. b. suara nafas. kesulitan mengunyah. Nutrisi Penurunan berat badan kekeringan pada membran mukosa. diastole b. ruang interiostae dari nosostae takipnos serta takhikardi c. Pemeriksaan a. lingkungan sosial juga ikut berpengaruh. 2. e. timbul gerakan yang tiba-tiba. rambut. Interaksi social Perubahan peran. 4. isolasi. sakit persendian. malaise. Riwayat penyakit keluarga: Ada keluarga yang menderita penyakit jantung 6. ketidakmampuan. berbagai kesulitn untuk melaksanakan aktifitas perawatan pribadi. mual. Identitas Klien Timbul pada umur 5-15 th. Nada perkusi redup. anoreksia. kardits. kemerahan pada jari c. Riwayat penyakit sekarang Demam. Pemeriksaan Umum Keadaan umum lemah Suhu : 38 – 390 Nadi cepat dan lemah BB: turun TD: sistol. kontraktur/ kelainan pada sendi otot. 5. mual. f. wanita dan pria = 1 : 1 Sering ditemukan pada lebih dari satu anggota keluarga yang terkena. Kepala dan leher meliputi keadaan kepala. Higiene Ketergantungan pada orang lain.1 Pengkajian 1. entena marginatun timbul pada akal penyakit.

Melaporkan penurunan episode dispnea.2 Diagnosa Keperawatan 1. 3. 4. Pucat menunjukkan adanya penurunan perfusi perifer tidak Kaji perubahan terhadap adekuatnya curah warna kulit jantung. Kriteria hasil: Memonitor adanya perubahan sirkulasi jantung sedini mungkin dan terjadinya takikardia-disritmia sebagai kompensasi meningkatkan curah jantung 1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan adanya gangguan pada penutupan katup mitral ( stenosiskatup ) 2. RR. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi. Menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang).3 Intervensi Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: Intervensi Rasional Diagnosa I Penurunan curah jantung berhubungandengan adanya gangguan pada penutupan katup mitral ( stenosiskatup ) 1. Stres emosi menghasilkan vasokontriksi yang meningkatkan TD . obstruksi aliran darah pada ventrikel. 2. Kaji frekuensi 1. Ketidakseimbangan nutrisi . 3.angina. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan asam lambung akibat kompensasi sistem saraf simpatis 3. Sianosis terhadap terjadi sebagai sianosis dan akibat adanya pucat. menurunkan komsumsi O2 dan kerja berlebihan. 2. destruksi sendi. haluaran urine adekuat). bebas gejala gagal jantung (mis : parameter hemodinamik dalam batas normal. 3. nadi. Istirahat memadai Ikut serta dalam akyivitas diperlukan untuk yang mengurangi beban memperbaiki kerja jantung. 2. Batasi aktifitas jantung dan secara adekuat.Pemeriksaan EKG Pemeriksaan hapus tenggorokan. efisiensi kontraksi 3.penurunan curah jantung dapat diminimalkan. keperawatan. TD teratur Setelahdiberikan asuhan secara setiap 4 jam. 3.

Observasi gejala organ-organ tubuh. R/ membantu dalam memetukankebutuha n dan manajemen nyeri dan keefektifan program.4.Catat yang Menunjukkan nyeroi faktor memcepat dan berkurang/hilang tanda sakit non Terlihat rileks. 6. Kolaborasi untuk pemberian meningkatkan kontraktilitas oksigen miokard dan menurunkan beban kerja jantung. Menigkatkan 3. sebelum mengurangi aktifitas/latihan ketegangan yang otot/spasme. 5. direncanakan. Pada penyakit yang berat torah baring sangat diperlukan untuk membatasi nyeri/cidera berlanjut. juga dapat kardinal. Beri obat relaksasi. Diberikan untuk 5. destruksi sendi. Berikan kondisi dan meningkatkan psikologis kerja jantung. Meningkatkan sediaan oksigen untuk fungsi miokard dan mencegah hipoksia. Kolaborasi untuk pemberian digitalis Diagnosa II Nyeri akut/kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses 1) inflamasi. kemampuan. 4. 2) 3) Tujuan : nyeri dapat 1. memberikan . dapat verbal. Gejala kardinal menunjukkan keadaan fisik dari vital 4. lingkungan yang tenang. 3. catat lokasi dan intensitas ( skala Kriteria hasil: 0-10). 6. tidur/istirahat 2. berkurang/hilang nyeri. Biarkan pasien Berpartisipasi dalam mengambil yang aktifitas sesuai posisi nyaman. Kaji keluhan 1. 2.

Kaji pola diet nutrisi klien( Kriteria hasil : riwayat diet. Anjurkan makan dengan perangsang dari luar porsi sedikit tubuh tetapi sering dan tidak makan makanan yang merangsang 5. 2. Kaji status 1. 2. kondisi Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi Membantu dalam mempertimbangkan penyusunan menu sehingga klien berselera makan Menyediakan informasi mengenai faktor yang harus ditanggulangi sehingga asupan nutrisi adekuat. / hilang. BB dalam rentang normal. epitel lambung dingin. 3. Mendorong obat penetral peningkatan asam lambung makan. pedas 5. masukan makanan adekuat dan kelemahan hilang. Membantu pembentukan mengurangi Hcl seperti produksi HCL oleh terlalu panas. Membantu mengurangi produksi asam lambnung/HCl akibat faktor-faktor 4. Kolaborasi untuk penyediaan makanan selera . Diagnosa III Ketidakseimbangan nutrisi . Kaji faktor yang berperan untuk menghambat asupan nutrisi ( anoreksia. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan asam lambung akibat kompensasi sistem saraf simpatis Tujuan : 1. seperti antasida 6. Klien mengatakan mual makanan dan anoreksia berkuarang kesukaan) 3. nutrisi( Setelah dilakukan perubahan BB< tindakan keperawatan pengukuran antropometrik masalah ketidakseimbangan nutrisi dan nilai HB kurang dari kebutuhan serta protein dapat teratasi. Kolaborasi untuk pemberian 6.gambaran pasien. mual)4.

4 Implementasi Implementasi dapat dilaksanakan sesuai dengan intervensi setiap diagnosa yang diangkat dengan memperhatikan kemampuan pasien dalam mentolerir tindakan yang akan dilakukan. atau asimtomatik. Infeksi oleh kuman Streptococcus Beta Hemolyticus group A yang menyebabkan seseorang mengalami demam rematik dimana diawali terjadinya peradangan pada saluran tenggorokan.5 1. Demam reumatik akut biasanya didahului oleh radang saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh infeksi streptokokus beta-hemolitikus golongan A. ringan. mempunyai kecenderungan untuk kambuh dan dapat menyebabkan gejala sisa pada jantung khususnya katub. Baru setelah itu timbul gejala-gejala demam reumatik akut. diikuti fase laten (asimtomatik) selama 1 sampai 3 minggu. Akibatnya daun-daun katup mengalami perlengketan sehingga menyempit. sehingga kuman termasuk dianggap sebagai penyebab demam reumatik akut. Evaluasi Interview dengan keluarga pasien tentang pengetahuan dalam menghindari faktor pencetus terjadinya jantung reumatik Observasi gejala dan serangan kelemahan kontrktilitas jantung.kesukaan yang sesuai dengan diet klien 3. maka hal utama yang terlintas dari Tim Dokter adalah pemberian antibiotika dan anti radang.1 KESIMPULAN Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh. 4. Observasi klien dan bicarakan dengan keluarga tentang macam –macam permasalahan yang dihadapi dan komplikasi lain Interview dengan klien tentang kegiatan sehari-dari Tentukan persetujuan dimana keluarga dan klien mengerti kondisi klien dan perpanjangan terapi yang dilaksanakan. Apabila diagnosa penyakit jantung rematik sudah ditegakkan dan masih adanya infeksi oleh kuman Streptococcus tersebut. Demam reumatik adalah suatu sindroma penyakit radang yang biasanya timbul setelah suatu infeksi tenggorok oleh steptokokus beta hemolitikus golongan A. sedang. Misalnya pemberian obat antibiotika penicillin secara oral atau benzathine penicillin G. Pada penderita yang allergi terhadap kedua obat . Infeksi tenggorokan yang terjadi bisa berat. terutama persendian. 3. Seseorang yang mengalami demam rematik apabila tidak ditangani secara adekuat. 2. 5. 3. jantung dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A. Maka sangat mungkin sekali mengalami serangan penyakit jantung rematik. dikarenakan penatalaksanaan dan pengobatannya yang kurah terarah menyebabkan racun/toxin dari kuman ini menyebar melalui sirkulasi darah dan mengakibatkan peradangan katup jantung. BAB IV PENUTUP 4. atau menebal dan mengkerut sehingga kalau menutup tidak sempurna lagi dan terjadi kebocoran.

Penderita dianjurkan untuk tirah baring dirumah sakit.2 SARAN Seseorang yag terinfeksi kuman streptococcus hemoliticus dan mengalami demam reumatik. alternatif lain adalah pemberian erythromycin atau golongan cephalosporin.tersebut. Pasien akan diberikan diet bergizi tinggi yang mengandung cukup vitamin. selain itu Tim Medis akan terpikir tentang penanganan kemungkinan terjadinya komplikasi seperti gagal jantung. . Seseorang yang terinfeksi kuman Streptococcus beta hemolyticus dan mengalami demam rematik. harus diberikan therapy yang maksimal dengan antibiotiknya. harus diberikan terapi yang maksimal dengan antibiotika. hal ini untuk menghindari kemungkinanserangan kedua kalinya bahkan menyebabkan penyakit jantung reumatik. Hal ini untuk menghindarkan kemungkinan serangan kedua kalinya atau bahkan menyebabkan Penyakit Jantung Rematik 4. Sedangkan antiradang yang biasanya diberikan adalah Cortisone and Aspirin. endokarditis bakteri atau trombo-emboli.

Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga. Edisi III EGC . Jumiarni Ilyas.DAFTAR PUSTAKA Doengoes. (1989) Nursing Care Plans. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Philadelphia. Perawatan Anak Sakit.Jakarta.A Davis Company. Marylin E. Surabaya Ngastiyah (1997). . Kes RI. F.dkk (1993). USA.PusatPendidikan Tenaga Kesahatan Dep. Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo. Jakarta LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak (1994).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful