Anda di halaman 1dari 20

Skenario 2 Nama: Yusrina Alvi Fauzziah NPM: 1102009309 Penemu Mayat Menghilang

I. Memahami dan Menjelaskan Tentang Perubahan Perubahan Setelah Mati Ilmu kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi disebut Tanatologi. Tanatologi ini berguna dalam : Menentukan apakah korban sudah mati atau belum Menentukan lama korban telah mati, dan Menentukan apakah korban tersebut mati wajar atau tidak. Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Dahulu kematian ditandai dengan tidak berfungsinya lagi jantung. Konsep baru sekarang ini mengenai kematian mencakup berhentinya fungsi pernafasan, jantung dan otak. Dimana saat kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada saat itulah jika diperiksa dengan elektro-ensefalo-grafi (EEG) diperoleh garis yang datar. Tanda yang segera dikenali setelah kematian; Berhentinya sirkulasi darah Berhentinya pernafasan Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian: Perubahan pada mata Perubahan pada kulit Perubahan temperatur tubuh Lebam mayat Kaku mayat

Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama: Proses pembusukan Saponifikasi atau adiposera Mumifikasi Tanda kematian dibagi menjadi dua: 1. Tanda kematian tidak pasti: a. Berhentinya sistim pernafasan dan sistim sirkulasi.
1

Secara teoritis, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung dan paru berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya seringkali terjadi kesalahan diagnosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dengan cara mengamati selama waktu tertentu. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mendengarkannya melalui stetoscope pada daerah precordial dan larynx dimana denyut jantung dan suara nafas dapat dengan mudah terdengar. Kadang-kadang jantung tidak segera berhenti berdenyut setelah nafas terhenti, selain disebabkan ketahanan hidup sel tanpa oksigen yang berbeda-beda dapat juga disebabkan depresi pusat sirkulasi darah yang tidak adekwat, denyut nadi yang menghilang merupakan indikasi bahwa pada otak terjadi hipoksia. Sebagai contoh pada kasus judicial hanging dimana jantung masih berdenyut selama 15 menit walaupun korban sudah diturunkan dari tiang gantungan. b. Kulit yang pucat Kulit muka menjadi pucat ,ini terjadi sebagai akibat berhentinya sirkulasi darah sehingga darah yang berada di kapiler dan venula dibawah kulit muka akan mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna kulit muka tampak menjadi lebih pucat. Akan tetapi ini bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya. Kadang-kadang kematian dihubungkan dengan spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan. Pada mayat yang mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon monoksida) warna semula dari raut muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat. c. Relaksasi otot Pada saat kematian sampai beberapa saat sesudah kematian , otot-otot polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada stadium ini disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang turun kebawah yang menyebabkan mulut terbuka, dada menjadi kolap dan bila tidak ada penyangga anggota gerakpun akan jatuh kebawah. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga orang mati tampak lebih muda dari umur sebenarnya, sedangkan relaksasi pada otot polos akan mengakibatkan iris dan sfincter ani akan mengalami dilatasi. Oleh karena itu bila menemukan anus yang mengalami dilatasi harus hati-hati menyimpulkan sebagai akibat hubungan seksual perani/anus corong. d. Perubahan pada mata Perubahan pada mata meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya yang menyebabkan kornea menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang negatif. Hilangnya reflek cahaya pada kornea ini disebabkan karena kegagalan kelenjar lakrimal untuk membasahi bola mata. Kekeruhan pada kornea akan timbul beberapa jam setelah kematian tergantung dari posisi kelopak mata. Walaupun sering ditemui kelopak mata tertutup secara tidak komplit, ini terjadi oleh karena kekakuan otot-otot kelopak mata. Kekeruhan pada lapisan dalam kornea ini tidak dapat dihilangkan atau diubah kembali walaupun digunakan air untuk membasahinya. Bila kelopak mata tetap terbuka sclera yang ada disekitar kornea akan mengalami kekeringan dan berubah menjadi kuning dalam beberapa jam yang kemudian berubah menjadi coklat
2

kehitaman. Area yang berubah warna ini berbentuk trianguler dengan basis pada perifer kornea dan puncaknya di epikantus. Area ini disebuttaches noires de la sclerotiques. Iris masih bereaksi dengan stimulasi kimia sampai 4 jam sesudah kematian somatik, tetapi reflek cahaya segera hilang bersamaan dengan iskemik pada batang otak. Pupil biasanya pada posisi mid midriasis yang disebabkan oleh karena relaksasi dari muskulus pupilaris walaupun ada sebagian ahli yang menganggap ini sebagai proses rigor mortis. Diameter pupil sering dihubungkan dengan sebab kematian seperti lesi di otak atau intoksikasi obat seperti keracunan morphin dimana sewaktu hidup pupil menunjukan kontraksi. Setelah kematian tekanan intra okuler akan turun, tekanan intra okuler yang turun ini mudah menyebabkan kelainan bentuk pupil sehingga pupil kehilangan bentuk sirkuler setelah mati dan ukurannya pun menjadi tidak sama ,pupil dapat berkontraksi dengan diameter 2 mm atau berdilatasi sampai 9 mm dengan rata-rata 4-5 mm oleh karena pupil mempunyai sifat tidak tergantung dengan pupil lainnya maka sering terdapat perbedaan sampai 3 mm. 2. Tanda kematian pasti: a. Penurunan suhu mayat (Algor Mortis) Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama dengan suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya menurun. Proses pemindahan panas ini berlangsung secara : Konduksi, Radiasi, dan evaporasi. Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu lingkungan dan suhu mayat tu sendiri. Pada iklim yang dingin maka penurunan suhu mayat berlangsung cepat. Menurut Sympson (Inggris), menyatakan bahwa dalam keadaan biasa tubuh yang tertutup pakaian mengalami penurunan temperatur 2,50 F setiap jam pada enam jam pertama dan 1,6-2,0 F pada enam jam berikutnya, maka dalam 12 jam suhu tubuh akan sama dengan suhu sekitarnya. Maka itu penurunan suhu mayat dipengaruhi oleh faktor sbb: o Besarnya perbedaan suhu tubuh mayat dengan lingkungan o Suhu tubuh mayat saat mati o Aliran udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat o Kelembaban udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat o Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat o Aktivitas sebelum meninggal o Sebab kematian o Pakaian tipis makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat o Posisi tubuh dihubungkan dengan luas permukaaan tubuh yang terpapar Cara melakukan penilaian algor mortis: o o o o o Tempat pengukuran suhu memegang peranan penting Dahi dingin setelah 4 jam post mortem Badan dingin setelah 12 jam post mortem Suhu organ dalam mulai berubah setelah 5 jam post mortem Bila mayat mati dalam air, penurunan suhu tubuhnya tergantung dari suhu, aliran dan keadaan airnya

Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu jenazah perrektal (Rectal Temperature/RT). Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus PMI (Post Mortem Interval) berikut. Formula untuk suhu dalam Celcius PMI = 37C Suhu Rektal C + 3 Formula untuk suhu dalam Fahrenheit PMI = 98,6F Suhu Rektal F (1,5)

b. Lebam mayat (Livor Mortis) Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu kemerahan. Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat pada awalnya berupa bercak yang biasanya muncul seperti lebam keunguan yang terlihat kurang dari 1 jam setelah kematian. Lebam ini akan semakin jelas dalam beberapa jam berikutnya. Fenomena ini biasanya menjadi lengkap dalam 6-12 jam dan dikatakan menetap (lebam tidak hilang pada penekanan dengan jari dan tidak akan hilang bila mayat dipindahkan). Pembekuan darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam mayat ini bisa berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan posisi mayat. Karena itu penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum disentuh oleh orang lain. Posisi mayat ini juga penting untuk menentukan apakah kematian disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri. Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab kematian : o Merah kebiruan merupakan warna normal lebam o Merah terang menandakan keracunan CO(cherry red), keracunan CN (bright scarlet) atau suhu dingin (bright pink) o Merah gelap menunjukkan asfiksia o Perunggu pucat bergaris-garis menandakan kematian akibat abortus septic o Coklat (chocolate brown) menandakan keracunan potassium chlorate nitrate Kepentingan medikolegal dari lebam mayat Merupakan tanda dari kematian Bisa membantu menentukan posisi dari mayat dan penyebab kematian Jika mayat terletak pada posisi punggung dibawah, maka lebam mayat pertama sekali terlihat pada bagian leher dan bahu, baru kemudian menyebar ke punggung. o Pada mayat dengan posisi tergantung, lebam mayat tampak pada bagian tungkai dan lengan. o Pada beberapa kasus, warna dari lebam mayat ini bisa lain daripada normal. o Dapat juga digunakan memperkirakan saat kematian. o o o

Lebam mayat menyerupai luka memar, maka harus dibedakan. Perbedaannya adalah: Sifat Lebam mayat Memar

Letak

Epidermal, karena pelebaran pembuluh Ruptur pembuluh darah yang darah letaknya bisa superfisial atau lebih dalam yang tampak sampai ke permukaan kulit

Kutikula

Tidak rusak

Kulit ari rusak

Lokasi

Terdapat pada daerah yang luas, terutama Terdapat di sekitar bisa tampak di luka pada bagian tubuh yang letaknya mana di mana saja pada bagian tubuh rendah. dan tidak meluas

Gambaran Pinggiran

Pada lebam mayat tidak ada evalasi dari Biasanya membengkak kulit Jelas Tidak jelas

Warna .

Warnyanya sama

Memar yang lama warnanya bervariasi. Memar yang baru berwarna lebih tegas daripada warna lebam mayat disekitarnya

Darah ke jaringan sekitar, susah dibersihkan jaringan sekitar, susah Pada pembuluh, dan mudah dibersihkan. dibersihkan jika hanya dengan air pemotongan mengalir. Jaringan subkutan Jaringan subkutan tampak pucat. berwarna merah kehitaman. Pada pemotongan, darah tampak dalam

Dampak setelah penekanan

Akan hilang walaupun hanya diberi Warnanya berubah sedikit saja jika penekanan yang ringan. Maksimal 8 jam lebam mayat tidak hilang dalam penekanan diberi penekanan.

c. Kaku mayat (Rigor Mortis) Rigor mortis atau kaku jenazah terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat kematian terjadi penurunan cadangan ATP maka ikatan antara aktin dan myosin akan menetap (menggumpal) dan terjadilah kekakuan jenazah. Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah hingga mencapai maksimal pada 12 jam postmortem. Kemudian setelah itu akan berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya. Pada 12 jam setelah kekakuan maksimal (24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi. Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap : o Periode relaksasi primer (flaksiditas primer) Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga akan turun dan lemas. o Kaku mayat (rigor mortis) Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher, rahang bawah, wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi. Keadaan ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada musim panas. o Periode relaksasi sekunder Otot menjadi relaks (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia. Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi primer dengan relaksasi sekunder. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kaku Mayat o Keadaan Lingkungan. Pada keadaan yang kering dan dingin, kaku mayat lebih lambat terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan pada lingkungan yang panas dan lembab. Pada kasus di mana mayat dimasukkan ke dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lebih lama. o Usia. Pada anak-anak dan orangtua, kaku mayat lebih cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada bayi prematur biasanya tidak ada kaku mayat. Kaku mayat baru tampat pada bayi yang lahir mati tetapi cukup usia (tidak prematur) o Cara kematian. Pada pasien dengan penyakit kronis, dan sangat kurus, kaku mayat cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada pasien yang mati mendadak, kaku mayat lambat terjadi dan berlangsung lebih lama. o Kondisi otot. Terjadi kaku mayat lebih lambat dan berlangsung lebih lama pada kasus di mana otot dalam keadaan sehat sebelum meninggal, dibandingkan jika sebelum meninggal keadaan otot sudah lemah.

Diagnosis Banding Kaku Mayat o Kekakuan karena panas (heat stiffening). Keadaan ini terjadi jika mayat terpapar pada suhu yang lebih tinggi dari 750 C, atau jika mayat terkena arus listrik tegangan tinggi. Kedua keadaan diatas akan menyebabkan koagulasi protein otot sehingga otot menjadi kaku. Pada kasus terbakar, keadaan mayat menunjukkan postur tertentu yang disebut dengan sikap pugilistik, yaitu suatu posisi di mana semua sendi berada dalam keadaan fleksi dan tangan terkepal. Sikap yang demikian disebut juga sikap defensif. Perbedaan antara kaku mayat dengan kaku karena panas adalah : Adanya tanda kekakuan bekas terbakar pada permukaan mayat pada kaku karena panas. Pada kasus kekakuan karena panas, otot akan mengalami laserasi jika dipaksa diregangkan. Pada kaku karena panas, kekakuan tersebut akan berlanjut akan melanjut terus sampai terjadinya pembusukan.

Kekakuan karena dingin (cold stiffening). Jika mayat terpapar suhu yang sangat dingin, maka akan terjadi pembekuan jaringan lemak dan otot. Jika mayat dipindahkan ke tempat yang suhunya lebih tinggi maka kekakuan tersebut akan hilang. Kaku karena dingin cepat terjadi dan cepat juga hilang. Spasme kadaver (Cadaveric spasm). Otot yang berkontraksi sewaktu masih hidup akan lebih cepat mengalami kekakuan setelah meninggal. Pada kekakuan ini tidak ada tahap pertama yaitu tahapan relaksasi. Keadaan ini biasanya terjadi jika sebelum meninggal korban melakukan aktivitas berlebihan. Bentuk kekakuan akan menunjukkan saat saat terakhir kehidupan korban. Fenomena ini sangat jarang ditemukan.

Perbedaan antara Kaku Mayat dengan Spasme Kadaver

Sifat Mulai timbul

Kaku Mayat 1-2 jam setelah meninggal

Spasme Kadaver Segera setelah meninggal

Faktor predisposisi

Kematian mendadak,aktivitas berlebih, ketakutan, terlalu lelah, perasaan tegang, dll.

Otot yang terkena

Semua otot, termasuk otot volunter dan involunter

Biasanya terbatas pada satu kelompok otot volunter

Kaku otot

Tidak jelas, dapat dilawan dengan sedikit tenaga.

Sangat jelas, perlu tenaga yang kuat untuk melawan kekakuannya.

Kepentingan dari segi Medikolegal

Untuk perkiraan saat kematian

Menunjukkan cara kematian yaitu bunuh diri,pembunuhan atau kecelakaan

Suhu mayat Kematian sel Rangsangan listrik

Dingin Ada Tidak ada respon otot

Hangat Tidak ada Ada respon otot

Kepentingan Kaku Mayat dari segi medikolegal : o Pada kasus bunuh diri, mungkin alat yang digunakan untuk tujuan bunuh diri masih berada dalam genggaman. o Pada kasus kematian karena tenggelam, mungkin pada tangan korban bisa terdapat daun atau rumput. o Pada kasus pembunuhan, pada gemgaman korban mungkin bisa diperoleh sesuatu yang memberi petunjuk untuk mencari pembunuhnya. d. Proses pembusukan (Dekomposisi) Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis dan kerja bakteri. Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut dan berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lain-lain. Gas yang terjadi menyebabkan pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak dan lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu lingkungan yang hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab kematiannya adalah penyakit infeksi maka pembusukan berlangsung lebih cepat. Tanda-tanda pembusukan: Warna kehijauan pada dinding perut daerah caecum, yang disebabkan reaksi hemoglobin dengan H2S menjadi sulfmethemolobin o Wajah dan bibir membengkak o
8

o o o o o o o

Scrotum dan vulva membengkak Abdomen membengkak, akibat adanya gas pembusukan dalam usus sehingga mengakibatkan keluarnya fese dari anus dan isi lambung dari mulut dan lubang hidung Vena-vena superfisialis pada kulit berwarna kehijauan disebut Marbling Pembentukan gas-gas pembusukan di bawah lapisan epidermis sehingga timbul bulla Akibat tekanan gas-gas pembusukkan, gas dalam paru terdesak, sehingga darah keluar dari mulut dan hidung Bola mata menonjol keluar akibat gas pembusukkan dalam orbita Kuku dan rambut dapat terlepas, serta dinding perut dapat pecah

Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang timbul akan menarik lalat untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan telurnya pada mayat, di mana dalam waktu 8-24 jam telur akan menetas menghasilkan larva-yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-5 hari, belatung ini lalu menjadi pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan menjadi lalat dewasa. Pada tahap ini bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Proses-proses spesifik pada jenazah karena kondisi khusus: o Mummifikasi Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi dengan cepat. Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah menjadi keras, kering, warna coklat gelap, berkeriput dan tidak membusuk. o Adipocere Adipocere adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan berminyak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan terhidrolisis menjadi asam lemak bebas karena kerja lipase endogen dan enzim bakteri. Faktor yang mempermudah terbentuknya adipocere adalah kelembaban dan suhu panas. Pembentukan adipocere membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberap bulan. Adipocere relatif resisten terhadap pembusukan.

III. Memahami dan Menjelaskan Investigasi Kasus Perkosaan


1. Kronologis Pemeriksaan Kasus Kejahatan Seksual:

1. Informed consent 2. Anamnesa Pasien : a. Umum : Umur, tempat/tanggal lahir, status perkawinan, siklus haid
Penyakit kelamin/penyakit kandungan/penyakit lain Apa pernah bersetubuh Kapan persetubuhan terakhir Apakah memakai kondom

b. Khusus: 3. 4. Waktu kejadian, tanggal, jam, tempat kejadian Apakah korban melawan Apakah korban pingsan Apa ada penetrasi dan ejakulasi Apa setelah kejadian korban mencuci, mandi, atau ganti pakaian

Memeriksa pakaian Robekan Kancing putus Bercak darah Air mani Lumpur Rapi atau tidak Memeriksa tubuh korban

Umum -Penampilan -Keadaan emosional -Tanda bekas hilang kesadaran -Tanda needle mark -Tanda kekerasan -Tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, reflex cahaya, TB, BB, TD, keadaan jantung, paru, abdomen -Adakah trace evidence pada tubuh korban Khusus *Rambut kemaluan yang saling melekat karena air mani mongering gunting *Bercak air mani kerok/swab *Vulva tanda kekerasan *Introitus vagina *Selaput daratentukan orifisiumperawan= 2,5cm ; persetubuhan= 9cm *Frenulum labiorum pudenda *Vagina dan cervix
5. Pemeriksaan Laboratorium

Tes Penyaring cairan mani Tes fosfatase asam, visual/taktil, UV Tes Penentu cairan mani Berberio, Florence, Puranen Tes Penentu spermatozoa Sediaan langsung, Malascheet Green, Baechii Tes toksikologi (urin,darah)
10

Tes kehamilan Tes kuman Gonorrhea

2. Pemeriksaan laboratoriun pada kasus kejahatan seksual Pemeriksaan cairan mani Semen merupakan cairan agak kental, berwarna putih kekuningan, keruh dan berbau khas. Dapat mengandung/ tidak mengandung spermatozoa (pada azospermia). Mengandung spermatozoa, sel-sel epitel, dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermin dan beberapa enzim seperti fosfatase asam. Karena kekhasan kandungan zat ini, zat ini dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu cairan atau bercak adalah sperma atua bukan. Bahan yang diambil dari tubuh korban: Cairan mani dalam vagina untuk membuktikan adanya persetubuhan. Swab dilakukan dengan bantuan spekulum. Dengan cotton but dilakukan swab pada forniks posterior vagina dan permukaan mulut rahim. Penentuan ada/ tidaknya spermatozoa Tanpa pewarnaan

Untuk melihat apakah ada spermatozoa yang masih bergerak Umumnya, dalam 2-3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang sampai 3-4 jam. Cara pemeriksaan: satu tetes lendir vagina diletakan pada kaca obyek, dilihat dengan pembesaran 500 x serta kondensor diturunkan. Perhatikan gerakan sperma.

Spermatozoa dapat ditemukan 3-6 hari pasca persetubuhan

Dengan pewarnaan

Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api. Pulas dengan HE, methy lene blue atau malachite green Malachite green adalalh cara yang mudah dan baik digunakan. Warnai dengan larutan malachite green 1% selama 10-15 menit, lalu cuci dengan air mengalir dan setelah itu lakukakn counterstain dengan Eosin Yellowish 1% selama 1 menit, terakir cuci lagi dengan air Terlihat gambaran sperma: kepala (merah), leher( merah muda), ekor (hijau)

Penentuan cairan mani (kimiawi) Reaksi fosfatase asam

Mendeteksi adanya enzim Fosfatase asam dalam bercak/ cairan Merupakan reaksi penyaring ada/ tidaknya mani, dikonfirmasi ulang lagi dengan menggunakan tes penentu sehingga kharus
11

Cara pemeriksaan : Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring ang telah terlebih dahulu dibasahi dengan akuades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring diangkat dan disemprotkan dengan reagens. (+) timbul warna ungu dalam waktu 30 detik + palsu dapat ditemukan pada feses, air teh, kontraseptik, sari buah dan tumbuh-tumbuhan.

Reaksi Berberio

Dasar reaksi: menentukan adanya spermin dalam semen Merupakan reaksi penentu ada/ tidaknya mani Reagen yang digunakan larutan asam pikrat jenuh (+) kristal spermin pikrat yang kekuning-kuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul, kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal

Reakssi florence

Dasar reaksi adalah untuk menentukan ada/ tidaknya kholin. Cara pemeriksaan: Ekstrak diletakan pada kaca obyek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet dibawah kaca penutup. (+) kristal kholin-periodida berwarna cokelat, berbentuk jarum dengan ujung sering terbelah. + palsu ekstrak jaringan berbagai organ (putih telur, ekstrak seranggga) akan memberikan warna serupa.

Pemeriksa bercak mani pada pakaian Visual Bercak manu berbatas tegas, dan lebih gelap dari sekitarnya, bercak yang sudah agak tua berwarna agak kekuning-kuningan. Pada bahan tekstil yang tidak menyerap, bercak yang segar akan menunjukkan permukaan mengkilap dan translusen, kemudian akan mengering. Dengan bantuan sinar Ultraviolet bercak semen akan menunjukkan warna putih Dengan bantuan lampu wood: dapat ditemukan bercak putih pada kulit/ tubuh Taktil Bercak mani terasa memberi kesan kaku seperti kanji

Pewarnaan baecchi

Untuk mengetahui adanya spermatozoa pada bercak kain Dengan jarum diambil 1-2 helai benang, leyakkan pada gelas obyek dan diuraikan sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan gelas tutup dan balsem kanada,
12

periksa dengan mikroskop pembesaran 400 kali. Serabut pakaian tidak mengambil warna, spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor merah muda terlihat banyak menempel pada selaput benang.
Pemeriksaan pria tersangka Cara lugol

Kaca obyek ditempelkan dan ditekankan pada glans penis, terutama pada bagian kolom, korona serta frenulum Kemudian letakkan dengan spesimen menghadap ke bawah dengan spesimen menghadap ke bawah dia atas tempat yang berisi larutan lugol dengan tujuan agar uap iodium akan mewarnai sediaan tersebut. Hasik + menunjukan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna cokelat karena mengandung banyak glikogen. Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu ditentukan adanya kromatin seks (barr body).

II. Memahami dan Menjelaskan Tentang Visum Et Repertum (VER) Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Visum et repertum adalah laporan tertulis (termasuk kesimpulan mengenai sebab-sebab perlukaan/kematian) yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatan, mengenai apa yang dilihat/diperiksa berdasarkan keilmuannya, atas permintaan tertulis dari pihak berwajib untuk kepentingan peradilan. Dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut: Pasal 133 KUHAP menyebutkan: 1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana,ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP :
13

Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta visum et repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP). Pasal 179 KUHAP (1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan (2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya Sanksi hukum bila siapa saja yang menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana : Pasal 216 KUHP : Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah Pasal 224 KUHP : Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam : dalam perkara pidana, dengan penjara paling lama sembilan bulan. Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHP: Alat bukti yang sah adalah : (a) Keterangan saksi, (b) Keterangan ahli, ( c ) Surat, (d) Petunjuk, (e) Keterangan terdakwa Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil
14

pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia. Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP. Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk mengungkapkan perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan visum et repertum. Macam-macam visum et repertum: o Visum et Repertum korban hidup : Visum et repertum. Visum et Repertum sementara. Visum et Repertum lanjutan. o Visum et Repertum mayat (Harus dibuat berdasarkan hasil autopsi lengkap) o Visum et Repertum pemeriksaan TKP. o Visum et Repertum penggalian mayat. o Visum et Repertum mengenai umur. o Visum et Repertum Psikiatrik. o Visum et Repertum mengenai BB Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut: o o o o o o o o o o Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa Bernomor dan bertanggal Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan pemeriksaan Tidak menggunakan istilah asing Ditandatangani dan diberi nama jelas Berstempel instansi pemeriksa tersebut Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya

15

berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli o Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun Bagian-bagian visum et repertum: 1. PRO JUSTISIA. Kata ini dicantumkan disudut kiri atas, dan dengan demikian visum et repertum tidak perlu bermaterai, sesuai dengan pasal 136 KUHAP. 2. PENDAHULUAN. Bagian ini memuat antara lain : Identitas pemohon visum et repertum. Identitas dokter yang memeriksa /membuat visum et repertum. Tempat dilakukannya pemeriksaan (misalnya rumah sakit X Surabaya). Tanggal dan jam dilakukannya Identitas korban. Keterangan dari penyidik mengenai cara kematian, luka, dimana korban dirawat, waktu korban meninggal. o Keteranganmengenai orang yang menyerahkan / mengantar korban pada dokter dan waktu saat korban diterima dirumah sakit. 3. PEMBERITAAN. o Identitas korban menurut pemeriksaan dokter, (umur, jenis kel,TB/BB), serta keadaan umum. o Hasil pemeriksaan berupa kelainan yang ditemukan pada korban. o Tindakan-tindakan / operasi yang telah dilakukan. o Hasil pemeriksaan tambahan o Syarat-syarat : - Memakai bahasa Indonesia yg mudah dimengerti orang awam. - Angka harus ditulis dengan huruf, (4cm ditulis empat sentimeter). - Tidak dibenarkan menulis diagnosa luka, (luka bacok, luka tembak dll). - Luka harus dilukiskan dengan kata-kata - Memuat hasil pemeriksaan yang objektif (sesuai apa yang dilihat dan ditemukan). 4. KESIMPULAN. o o o o o o o Bagian ini berupa pendapat pribadi dari dokter yang memeriksa, mengenai hasil pemeriksaan sesuai dgn pengetahuan yang sebaik-baiknya. o Seseorang melakukan pengamatan dengan kelima panca indera (pengelihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan perabaan). o Sifatnya subjektif. 5. PENUTUP. o Memuat kata Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan.
16

o Diakhiri dengan tanda tangan, nama lengkap/NIP dokter. Contoh visum et repertum terlampir Penyidik dibenarkan mencabut SPVR (Instr. Kapolri No.Pol:INS/E/20/IX/75): Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan visum et repertum bedah mayat, maka adalah kewajiban dari petugas Polri cq. Pemeriksa untuk secara persuasif memberikan penjelasan perlu dan pentingnya autopsi untuk kepentingan penyidik, kalau perlu ditegakkannya pasal 222 KUHP. Pada dasarnya penarikan/pencabutan kembali visum et repertum tidak dapat dibenarkan. Bila terpaksa visum et repertum yang sudah diminta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali, maka hal tersebut hanya dapat diberikan oleh Komandan Kesatuan paling rendah setingkat Komres dan untuk kota besar hanya oleh Dantabes. Pada kesimpulan visum et repertum untuk orang/korban hidup, yaitu pada visum et repertum lanjutan, harus dilengkapi dengan kualifikasi luka. Kualifikasi luka akan memudahkan hakim untuk menjatuhkan pidana. Kualifikasi luka (KUHP) terdiri dari : o Derajat 1 Luka yang tergolong luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian penganiayaan ringan (Psl.352) o Derajat 2 Luka yg tergolong luka yg menimbulkan penyakit atau halangan utk menjalankan pekerjaan atau pencaharian penganiayaan (Psl.351 [1]). o Derajat 3 Luka yang tergolong luka berat penganiayaan berat (Psl.351 [2]). o Luka yang menyebabkan mati Penganiayaan yang mati (ps. 351(3) KUHP), pembunuhan (338 jo 340 KUHP) Yang termasuk luka berat menurut pasal 90 KUHP: o Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau yang menimbulkan bahaya maut. o Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian. o Kehilangan salah satu panca indera. o Mendapat cacat berat. o Menderita sakit lumpuh. o Terganggu daya pikirnya selama 4 minggu lebih. o Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. Berikut ini adalah contoh format Visum et Repertum yang sudah diisi. -----------------------------------------------------------------------------------------------INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKO LEGAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
17

KEDIRI -----------------------------------------------------------------------------------------------VISUM ET REPERTUM ( JENAZAH ) Th.2008 No. KF. 05. 333. PRO JUSTITIA. Berhubung dengan surat Saudara.-----------------------------------------------------------------------Nama : AGUK NUGROHO, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.--------------------------------Alamat : Kepolisian Sektor Kota Kediri,Jl.Raya Made No.50 Kediri 64219.---------------------Jabatan : An. Kepala.Kepolisian Sektor kota Kediri.-------------------------------------------------Tertanggal : 2 Agustus 2008, -No.Pol:224/01/10/2008.----------------------------------------------Yang kami terima pada tanggal ; 2 Agustus 2008, maka kami, Dr. Hj. Andati Tyagita SpF. Dokter Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Mediko Legal RSUD Kediri, telah melakukan pemeriksaan luar pada tanggal: 2 Agustus 2008, pukul: 16.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 2 Agustus 2008, pukul: 16.30 WIB di rumah sakit tersebut di atas, atas jenazah yang menurut surat Saudara tersebut,---------------------------------------------------------------------------------------Bernama: Supadno, -Jenis kelamin: Laki-laki, -Umur: 50 Tahun.----------------------------------Alamat : Jalan Adityawarman 50 Kediri,---------------------------------------------------------------Bangsa : Indonesia ---------------------------------------------------------------------------------------Dengan dugaan meninggal karena : Pembunuhan. ---------------------------------------------------Korban ditemukan/ meninggal : di Ruang tamu rumahnya dalam keadaan mengeluarkan busa dari dalam mulutnya---------------------------------------------------------------------------------------- Pada tanggal : 2 Agustus 2008, - Pukul : 07.00 WIB.----------------------------------------------Korban dibawa ke kamar jenazah RSU. Dr.Soedomo Kediri,----------------------------------------Oleh : AGUK NUGROHO, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan No.Pol.: AG 1234 UA -------------------------------------------------------------------------------------Pada tanggal: 2 Agustus 2008,----------------------------Pukul : 11-30-----------------------------HASIL PEMERIKSAAN--------------------------------------------------------------------------------PEMERIKSAAN LUAR :---------------------------------------------------------------------------------

1. Korban seorang Laki-laki, Usia Lima puluh tahun , Tinggi badan kurang lebih seratus enam puluh lima centimeter, Berat badan lima puluh kilogram, keadaan gizi baik, warna kulit sawo matang. ----------------------------------------------------------------------------------2. Lebam mayat dan kaku mayat negatif. -----------------------------------------------------3. Korban berlabel dan tidak bersegel, keadaan gizi baik. --------------------------------------4. Pakaian sarung, celana dalam putih dan memakai kaos singlet. --------------------------5. Kepala / leher : baik rambut hitam lurus.----------------------------------------------------- di samping bibir masih terdapat sedikit busa putih------------------------------------------ kedua pupil mata melebar -------------------------------------------------------------------- bibir atas dan bawah membiru --------------------------------------------------------------18

- mulut berisi busa warna putih. ---------------------------------------------------------------- di bawah leher ada bekas cengkeraman kuku------------------------------------------------6. Dada : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.---------------------------7. Perut : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.---------------------------8. Punggung : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.---------------------9. Alat kelamin luar : --------------- ---------------------------------------------------------- dari lubang alat kelamin keluar cairan putih-------------------------------------------------10. Anggota gerak atas : --tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam-------11. Anggota gerak bawah : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam----PEMERIKSAAN DALAM :---------------------------------------------------------------------

1. Kepala / leher : ----------------------------------------------------------------------------- saluran kerongkongan tampak merah dan berlendir. --------------------------------------2. Dada : --------------------------------------------------------------------------------------- paru dan jantung tidak ditemukan kelainan. ------------------------------------------------- perut : jaringan hati, limpa, kelenjar ludah perut, kandung empedu, usus dan ginjal, kandung seni, ditemukan kelainan, ----------------------------------------------------------------PEMERIKSAAN TAMBAHAN :----------------------------------------------------------------

Ditemukan racun pada hati, usus, limpa, jantung korban--------------------------------------KESIMPULAN :-------------------------------------------------------------------------------

1. Korban seorang Laki-laki, Usia Lima puluh tahun , Tinggi badan kurang lebih seratus enam puluh lima centimeter, Berat badan lima puluh kilogram, keadaan gizi baik, warna kulit sawo matang, rambut lurus hitam, panjang kurang lebih lima centimeter. ------------------------------------------------------------------------------------------------------2. Pemeriksaan Luar : --------------------------------------------------------------------------------tidak ditemukan luka memar, luka lubang, luka robek di sekitar mulut, serta mulut berbusa--------------------3. Pemeriksaan Dalam: ------------------------------------------------------------------------------tidak ditemukan memar di bawah kulit kepala, memar di bawah kulit leher dan memar di bawah kulit dada serta ditemukan cairan warna merah di rongga dada. -----------------------------------------4. Pada alat kelamin ditemukan keluar cairan warna putih dari lubang kelamin. -----------5. Jadi korban meninggal dunia oleh karena keracunan. ---------------------------------------Demikian Visum Et Repertum ini kami buat dengan mengingat sumpah waktu menerima jabatan. Tanda tangan,

19

DAFTAR PUSTAKA DiMaio, Vincent & Dominick. 2001. Forensic Pathology second edition. Florida: CRC press Idries, Abdul M. 2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan . Jakarta: sagung seto
Budiyanto A, widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S et al. Ilmu Kedokteran forensik. Jakarta, Indonesia : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. Budiyanto A, widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S et al. Teknik Autopsi Forensik. Jakarta, Indonesia : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/VetR.pdf www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/TANATOLOGI.pdf ocw.usu.ac.id/course/download/1110000120.../gis156_slide_tanatologi.pdf

20