Anda di halaman 1dari 9

Serat CDP (Cationic Dyeable Poliester) adalah serat poliester yang dimodifikasi, yang dapat dicelup dengan zat

warna kationik. Serat CDP merupakan serat kopoliester yang dihasilkan dari kopolimerisasi komponen ketiga yang dapat mengikat zat warna kationik. Komponen ketiga ini ditambahkan pada asam tereftalat dan etilena glikol sebagai komponen utamanya, dan dapat direaksikan ke dalam rantai poliester. Komponen ketiga yang biasa ditambahkan ini adalah asam sulfolsoftalat, yang mulai dikenalkan pada tahun 1960 oleh Du Pont. Oleh karena itu CDP dapat dicelup dengan zat warna dispersi dan atau dengan zat warna kationik.Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain, kemudian memasukkan bahan bahan tekstil kedalam larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zw kedalam serat. Penyerapan zat warna kedalam serat merupakan suatu reaksi eksotermik dan reaksi keseimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam, asam, alkali, atau lainnya ditambahkan ke dalam larutan celup dan kemudian pencelupan diteruskan hingga diperoleh warna yang dikehendaki. Pada pencelupan serat CDP dengan menggunakan zw dispersi-basa ini, tentunya ada beberapa hal yang perlu kita bahas dari proses pencelupan ini. Serat CDP merupakan suatu serat yang terbuat dari komponen asam tereftalat dengan etilenna glikol dan ditambahkan gugus samping asam sulfoisoptalat. Dimana serat CDP ini sebetulnya merupakan modifikasi serat polyester yang tentunya sifat dan karakteristik dari serat ini tentunya berbeda dari serat polyester biasa. Serat CDP dapat dicelup dengan menggunakan zw dispersi maupun basa. Adapun dapat dicelup dengan zw dispersi tidak perlu menggunakan carier maupun termosol karena serat CDP ini memiliki titek leleh yang rendah, sehingga pada suhu yang tidak terlalu tinggi serat CDP sudah mengembang dan dengan sangat mudah zat warna dispersi akan masuk kedalam serat CDP. Selain dapat dicelup dengan menggunakan zat warna dispersi, serat CDP ini juga dapat dicelup dengan menggunakan zat warna basa ( kationik )yang tergolong kedalam jenis zat warna yang kelarutannya dalam air besar. Serat CDP dapat dicelup dengan menggunakan zat warna basa karena pada serat CDP terdapat/mengandung gugus gugus sulfonat yang berasal dari penambahan asam sulfoisoptalat sebagai gugus samping dari serat polyester. Adapun gugus sulfonat (SO3Na) ini akan terionkan dalam air
Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

menjadi bermuatan negatif, sehingga mempunyai daya untuk menarik elektron yang bermuatan positif ( elektropositif ). Serat CDP (bermuatan negatif) akan berikatan

dengan zat warna basa (bermuatan positif) secara ionik dalam sistem pencelupannya.

Komponen ketiga yang sering digunakan untuk pembuatan serat CDP adalah asam sulfoisoftalat

HOOC

COOH

SO3Na

Asam sulfo-isofptalat

Komponen ketiga
HOOC P O COOH

SO3Na

HO

Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

Komponen ketiga
COOH
NaO3S O (CH2)nO COOH

NaO3S

CH2Si(OH)3. x H2O

NaO3S

CH2
3

SiOCH3

HO OC

COO(CH2)2O
m

OC

COO(CH2)2O

H n

SO3Na

POLIESTER

CDP

ADANYA GUGUS SAMPING MENYEBABKAN STRUKTUR KRISTAL MENJADI RUSAK

Sifat serat CDP adalah sebagai berikut : Bentuk mikroskopis


Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

Jika dilihat dengan menggunakan mikroskop, maka bentuk penampang melintang yang didapat adalah bulat, trilobal. Sifat Fisika 1. Pengaruh Panas Akibat dari adanya komponen ketiga, maka derajat orientasi dan derajat kristalinitasnya menjadi menurun. Jenis jenis komponen ketiga ini yang terdapat pada kopolimer akan menurunkan keteraturan susunan kristalinitasnya. Keadaan ini akan menurunkan kekuatan dan titik leleh. Oleh sebab itu proses persiapannya harus hati-hati dalam mengontrol temperatur. 2. Anti Pilling Memiliki sifat pilling yang baik jika dibandingkan dengan poliester biasa. Karena kekuatan gesekan filamen CDP relatif lebih rendah dibanding dengan poliester biasa. Serat yang putus karena gesekan tidak akan membentuk pilling, karena kekuatan seratnya yang rendah, sehingga serat tidak mudah terlepas. 3. Daya Mulur Serat Daya mulurnya lebih rendah dibanding dengan poliester biasa, tetapi lebih tinggi jika dibanding dengan wool.

Sifat Kimia 1. Ketahanan Terhadap Asam Ketahanan cukup baik terhadap asam lemah, tetapi mudah terpengaruh oleh asam kuat. Ketahanan CDP terhadap asam berbada-beda, tergantung kepada jenis dan konsentrasi asamnya, temperatur dan waktu pengerjaannya. 2. Ketahanan Terhadap Alkali Ketahanan terhadap alkali lemah pada temperatur yang rendah, tetapi jika temperatur diatas 1000C atau lebih dalam waktu yang lama akan menurunkan kekuatan serat. Jika serat CDP dididihkan dalam alkali dibawah tekanan, maka kerusakan akan

Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

semakin cepat Jika serat CDP dioksidasi dalam alkali kuat seperti NaOH, akan terjadi hidrolisa pada permukaan serat. 3. Ketahanan Terhadap Reduktor dan Oksidator Serat CDP kurang tahan terhadap reduktor, kekuatan akan cepat menurun, jika dikerjakan pada waktu yang lama. Tetapi tahan terhadap oksidator; Zat warna basa adalah zat warna yang mempunyai muatan positif atau sebagai kation pada bagian yang berwarna; maka zat warna tersebut disebut juga zat warna kation. Zat warna kationik merupakan zat warna sintetik yang pertama kali ditemukan oleh W.H Perkin pada tahun 1856, sebagai zat warna Mauvein, yakni Magenta dan Malachite Green. Zat warna kationik terionkan di dalam mediumnya dengan gugus kromofor yang bersifat kation, sehingga sering disebut sebagai zat warna kation, yang dapat mencelup serat protein, poliamida dan poliakrilat berdasarkan ikatan elektovalen. Zat warna ini tidak mempunyai afinitas terhadap selulosa, akan tetapi dengan pengerjaan pendahuluan ( mordanting ) memakai asam tannin, dapat juga mencelup serat selulosa. Zat warna basa yang telah dimodifikasi sangat sesuai untuk mencelup serat poliakrilat dengan sifat ketahanan yang cukup baik. Nama dagang zat warna basa diantaranya : 1. Aztrazon 2. Rhodamine 3. Sandocryl 4. Basacryl 5. Cationic ( Bayer ) ( I.C.I ) ( Sandoz ) ( BASF ) ( Mitsui )

Struktur Kimia Zat Warna Kationik Zat warna kationik sebagian besar molekulnya tersusun oleh senyawa alkilol fenilamina yang dapat membentuk garam dengan asam sebagai berikut :

Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

NH2

HCl

NH3+Cl-

Zat warna kation yang diperdagangkan dapat berbentuk garam dengan asam hidroklorida sebagai asamnya dan mungkin pula berbentuk garam rangkap dengan seng klorida. Berdasarkan inti kromofornya yang khas, maka zat warna kation dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yakni :

1.

Golongan 1 merupakan derivat trifenil metan, misalnya Malachite Green.

C N+(CH3)2Cl-

2. Golongan 2 merupakan derivat thiasin, misalnya Methylene Blue.


N (CH3)2N S+ ClN(CH3)2

3. Golongan 3 merupakan derivat oksazin, misalnya Meldola Blue.


N (CH3)2N

O+
Cl-

4. Golongan 4 merupakan derivat Azin, misalnya Neutral Red.


N CH3

(CH3)2N
N+H

NH2
Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

Cl-

5. Golongan 5 merupakan derivat Xanten, misalnya Rhodamine B. (C2H5)2N O N+(C2H5)2Cl-

C
COOH

6. Golongan 6 merupakan derivat azo, misalnya Bismark Brown.


NH2 H2N N=N N=N NH2 NH2

Sifat Sifat Zat Warna Basa Mempunyai kecerahan dan intensitas warna yang tinggi. Zat warna kation larut dalam alkohol dan asam asetat 30%, tetapi pada umumnya tidak mudah larut dalam air sehingga seringkali terjadi penggumpalan. Pendidihan yang lama akan mengakibatkan sebagian zat warna terurai yang menghasilkan penurunan intensitas warna. Zat warna kation dapat diendapkan dengan zat warna direk dan zat warna asam, terutama dalam larutan yang tidak encer.

Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

Ketahanan terhadap sinar tergantung pada gugus yang dikandung oleh serat, yang mengandung gugus sulfonat ketahanan sinarnya lebih baik daripada mengandung gugus karboksilat. Ketahanan terhadap pencucian sangat baik.

Mekanisme Pencelupan Serat CDP dengan Zat Warna Basa Secara umum, pencelupan CDP bertujuan memindahkan zat warna basa dari medium pencelupan ke dalam serat melalui distribusi yang merata disertai dengan sifat-sifat ketahanan warna yang optimum dari hasil celupannya, juga memelihara akibat sampingan yang minimum terhadap kekuatan serat itu sendiri.

1. Kecepatan pencelupan Pengontrolan temperatur dan waktu dilakukan untuk mengatur kecepatan celup dalam pencelupan CDP dengan zat warna basa. Energi aktivitas difusi zat warna basa pada CDP sekitar 25 kcal/mol yang kira-kira sebanding dengan dengan 30-34 kcal/mol untuk zat warna dispersi pada serat poliester biasa. Berdasarkan evaluasi ini diketahui kenaikan kecepatan celup CDP hanya 7% setiap 1 C. Karena itu pengontrolan temperatur adalah cara yang paling efektif untuk mengatur kecepatan celup ini.
o

2. Mekanisme pencelupan Setelah pelarutan zat warna, molekul-molekul zat warna akan bergerak mendekati bahan dan terserap pada permukaan bahan (serat). Selanjutnya terjadi difusi zat warna ke dalam serat sehingga terjadi ikatan. Kuat tidaknya ikatan ini tergantung pada jenis zat warna dan jenis serat yang dipakai.

Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

Adapun bentuk mekanisme pencelupan serat CDP didasarkan pada sifat kedua komponen ada 2 macam yaitu : a. Mekanisme dengan bantuan zat pengemban Jenis pengemban yang biasa dipakai untuk pencelupan CDP dengan zat warna basa adalah pengemban nonionik untuk mengurangi migrasi zat warna yang berlebihan. Mekanismenya : Zat pengemban, zat warna, dan air berada dalam satu kesetimbangan pada permukaan serat. Zat pengemban, zat warna, dan air berdifusi ke dalam serat. Zat pengemban bertindak sebagai pelunak dengan menghilangkan gaya-gaya di antara rantai-rantai molekul polimer. Serat terplastiskan akibat perusakan tersebut dan zat warna masuk ke dalam serat sehingga terjadilah pencelupan. Setelah pengemban keluar, serat akan kembali ke bentuk semula (sulit dicelup) sehingga zat warna yang sudah ada di dalam serat tidak keluar lagi dan terjadi ikatan antara serat dan zat warna.

b. Mekanisme dengan suhu dan tekanan tinggi Energi panas menyebabkan terjadinya gerakan-gerakan makromolekuler yang cepat sehingga terbentuk ruang-ruang antar molekul (pori-pori serat) yang memungkinkan zat warna masuk ke dalam serat. Adanya tekanan akan membantu perpindahan molekul zat warna dari larutan celup ke dalam serat. Setelah pencelupan, serat kembali ke bentuk semula dengan zat warna yang membentuk ikatan di dalamnya.

Ovie Hendri STT Tekstil - Bandung

Anda mungkin juga menyukai