Anda di halaman 1dari 6

REKRISTALISASI DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS INKLUSI KATEKIN DENGAN MENGGUNAKAN SIKLODESTRIN

Ridwan Alfita, Deddi Prima Putraa, Syofyana Faculty of Pharmacy, Andalas University,Padang 25163, Indonesia E-mail address: alfit.ridwan@yahoo.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang rekristalisasi katekin yang diperoleh dari gambir dan dilanjutkan dengan pembentukan komplek inklusi katekin menggunakan -siklodestrin. Rekristalisasi katekin dilakukan dengan dua metode yaitu metode pendinginan dan metode spray drying. Kadar katekin yang didapat dengan metode pendinginan adalah 71,53% dan dengan metode spray dryingadalah 65,81%. Selanjutnyasalahsatudarimetodetersebutdikompleksdengan -siklodekstrin, dimana didapatkadar katekin sebesar 87,30%. Dari penelitian yang telah dilakukan, ternyata hasil katekin yang dikompleks dengan -siklodekstrin memiliki laju disolusi yang lebih baik, dibandingkan dengan tanpa dikompleks.

ABSTRACT
Researched on recrystallization catechins obtained from gambir and continued with the formation of inclusion complexes using -siklodestrin catechins. Rekristalisasi catechins done by two methods, they are the method of cooling and spray drying methods. Catechin levels obtained by the method of cooling is 71.53% and the spray drying method was 65.81%. Next, one of these methods dikompleks with -siklodestrin, which obtained catechin levels is 87.30%. From there search that has been done, apparently the result dikompleks catechins with siklodestrin has a better solubilty.

PENDAHULUAN Gambir merupakan salah satu tanaman unggulan Sumatera Barat, yang mengandung senyawa kimia berupa katekin, asam kateku tanat, gambir fluoresensi, kuersetin, lendir, lemak dan lilin (Bakhtiar, 1991; Suherdi, 1995).Kandungan kimia gambir yang paling banyak dimanfaatkan adalah katekin dan tanin (Bakhtiar, 1991). Persyaratan mutu gambir yang berlaku saat ini adalah SNI 01-3391-1994 yang telah direvisi berdasarkan hasil Pertemuan Teknis Evaluasi Standar Mutu pada bulan November 1999. Di dalam SNI 01-3391-1994 (revisi 1999) disebutkan bahwa kadar katekin sebagai syarat mutu gambir berkisar antara 40% sampai dengan 60%. Katekin merupakan senyawa golongan polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan. Katekin biasa disebut asam katekuat atau asam katekinat dengan rumus kimia (2R-trans)-2-(3,4dihidroxi fenil) 4-dihidro-2 H-1 benzopiran3,5,7 triol).Katekin hidrat dengan rumus molekul C15H14O6. 4H2O mempunyai titik lebur 175-177C. Katekin anhidrat dengan rumus molekul C15H14O6 mempunyai titik lebur 235237C (Anonim, 1983).

Jika dilihat dari strukturnya, katekin merupakan flavanoid dengan banyak gugus hidroksi, maka diperkirakan gugus hidroksi pada cincin B dari struktur molekul ini akan menjadi faktor utama yang menyebabkan ketidakstabilan katekin terhadap oksidasi. Peristiwa oksidasi ini dipengaruhi oleh oksigen, pH larutan, cahaya dan adanya bahan antioksidan (Connors, et al., 1992). Kristal katekin dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan selama penyimpanan. Dimana kristal katekin ini dapat meleleh dengan adanya pengaruh suhu lingkungan dalam penyimpanannya sehingga akan memberikan rasa yang agak pahit. Selain itu derajat kelembabannya selama penyimpanan pada suhu ruangan selama proses produksi akan menyebabkan perubahan terhadap kandungan utama dari kristal katekin. Selain sebagai antioksidan katekin juga memilikiefek lain seperti sebagai antibakteri (Pambayun,et al., 2007) sebagai antivirus(Uesato,et al., 2003) sebagai antiseptik mulut (Lucida, Bachtiar & Putri, 2007)antidiare (Anonim, 1983), antitumor (Valcid, et al., 1996), untuk penyakit kardiovaskular, anti inflamasi (Dubey, et al., 1984). Untuk penggunaan sebagai kosmetik,telah dilakukan

uji ekstrak gambir diantaranya sebagai antiaging (Maurya, 2009)dan untuk menurunkan berat badan (Heller, 2009). Dengan melihat aktivitas farmakologis yang cukup banyak dari katekin, maka katekin menjadi potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat untuk itu perlu dilakukan kajian terhadap sifat fisikokimia katekin agar dapat didesain dalam bentuk sediaan obat yang stabil, efektif dan amandigunakan.Sebagai langkah awal dalam mendisain bentuk sediaan obat tersebut, dilakukan kajian terhadap sifat fisikokimia obat, terutama sifat dasar obat yaitu stabilitas dan kelarutannya.Kajian terhadap sifat fisikokimia obat ini disebut dengan istilah preformulasi. Untuk memperoleh katekin yang memenuhi persyaratan sifat fisikokimia yang baik dalam tahap preformulasi, maka perlu dilakukan optimasi katekin yang telah diperoleh dari gambir salah satunya dengan melakukan rekristalisasi terhadap katekin.Dengan melakukan rekristalisasi terhadap katekin diharapkan dapat dihasilkan katekin dengan sifat fisikokimia seperti kelarutan yang lebih baik. Berdasarkan hal diatas, maka dilakukan penelitian berupa metode yang berbedayaitu metode pendinginan dipercepat dan metode dengan spray drying.Hasil rekristalisasi kedua metode ini dibandingkan, kemudian salah satu dari metode tersebut dilanjutkan prosesnya dengan pembentukan kompleks inklusi dengan -siklodekstrin. Pada pembentukan kompleks inklusi digunakan bentuk - siklodekstrin karena -siklodekstrin mudah diperoleh dan umum digunakan. Selain itu, - siklodekstrin dapat membentuk kompleks dengan berbagai molekul obat. Dari ketiga jenis siklodekstrin, siklodekstrin memiliki kemampuan terbaik dalam membentuk kompleks inklusi. Tingkat kemampuan siklodekstrin dalam membentuk kompleks dapat dilihat sebagai berikut : siklodekstrin > - siklodekstrin > siklodekstrin. Selain itu - siklodekstrin juga tidak toksik bila diberikan secara oral terutama digunakan dalam formulasi tablet atau kapsul. (Bekers et al.,1991). sehingga diharapkan dapat

MATERIAL DAN METODA Material Bahan yang digunakan adalah, pasta gambir, standar katekin, air suling, etil asetat, siklodekstrin, KH2PO4, NaOH. Metoda 1. Isolasi Katekin dari Gambir Pasta gambir yang diperoleh, ditimbang sebanyak 100 g dilarutkan dalam etil asetat sebanyak 500 mL, disaring dengan kertas saring kemudian dirotari, selesai dirotari tambahkan aquades sebanyak add 100 mL, simpan dalam freeze dryer, sehingga dihasilkan serbuk katekin. 2. Penetapan Kadar Katekin (SNI, 2000) 1. Persiapan katekin standar Katekin standar dikeringkan di dalam oven pada temperatur 105C selama 3 jam. 2. Persiapan katekin uji Katekin uji dihaluskan, keringkan lapisan gambir tersebut di dalam oven pada temperatur 105C selama 3 jam. 3. Persiapan larutan standar katekin 50 mg katekin standar ditimbang dan dilarutkan dengan etil asetat hingga 50 ml (larutan induk). Larutan induk mengandung katekin dengan kadar 1 mg/mL. Dari larutan induk ini dipipet 2 mL dan diencerkan dengan etil asetat dalam labu ukur hingga 50 mL. 4. Persiapan larutan contoh Sebanyak 50 mg katekin yang didapatkan ditimbang dan dilarutkan dengan etil asetat hingga 50 mL. Larutan contoh mengandung katekin dengan kadar 1 mg/mL, dari larutan ini dipipet 2 ml dan diencerkan dengan etil asetat dalam labu ukur hingga 50 mL. 5. Pengukuran absorban larutan Pengukuran absorban larutan dengan menggunakan spektrofotometer UV dengan panjang gelombang 279 nm. a. Ukur absorban blanko (etil asetat) b. Ukur larutan absorban standar

terjadi peningkatan laju disolusi katekin.

c. 6.

Ukur larutan contoh (larutan katekin yang didapat) Perhitungan Et 279 Ws % kadar katekin = 100% Ec 279 W Keterangan : Et 279 = Penyerapan larutan contoh pada panjang gelombang 279 nm Ec 279 = Penyerapan larutan standar pada panjang gelombang 279 nm Ws = Berat katekin standar (mg) W = Berat katekin contoh (mg)

3. Rekristalisasi katekin Katekin yang diperoleh dari isolasi gambir selanjutnya diperlakukan sebagai berikut: 1. Rekristalisasi katekin dengan metode pendinginan Sebanyak 10 gram katekin dilarutkan dengan air panas sebanyak 50 mL dinginkan selama 24 jam di dalam free zer, kemudian saring sehingga di dapat serbuk katekin. 2. Rekristalisasi katekin dengan metode spray drying Sebanyak 50 gram katekin dilarutkan dalam air panas sebanyak 150 mL, di spray drying sehingga akan menghasilkan serbuk yang kering. 4.Pembentukan kompleks inklusi katekin dengan -siklodestrin Serbuk katekin yang diperoleh dengan metode spray drying dikompleks dengan siklodekstrin, dengan perbandingan 1;1 molaritas, dimana katekin yang digunakan sebanyak 300 mg dan siklodestrin 1144 mg. Kompleks dibentuk dengan cara metode cogrinding selama 30 menit. (BM Katekin: 290, 27 dan BM Siklodestrin: 1135). HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini digunakan pasta gambir yang diperoleh dari kebun tanaman obat farmasi (KTO) universitas andalas. Penentuan kadar katekin dilakukan dengan mengukur serapan dengan menggunakan spektrofotometri

UV-Vis pada panjang gelombang 279 nm. Kadar katekin yang diperoleh adalah 92,85%. Kadar katekin cukup tinggi jika dibandingkan dengan gambir yang diolah masyarakat secara tradisional di daerah Sumatera Barat dengan kadar katekin 40-80 % (amos 2010). Perbedaan ini disebabkan karena cara pengolahan dan perlakukan yang berbeda terhadap gambir, pengaruh suhu dan lama perebusan sangat mempengaruhi kandungan katekin pada produk gambir. Hal ini dikarenakan sifat katekin yang akan kehilangan 1 molekul air pada saat pemanasan di atas 1100C menjadi asam kateku tanat (Thrope,JF., and Whiteley, M.A., 1921) Kadar katekin di dalam sampel yang digunakan sesuai dengan ketetapan SNI yaitu minimal mengandung 60% katekin. Hal ini disebabkan sampel yang digunakan masih segar sehingga kadar yang terhitung menjadi optimal. Katekin bersifat asam sangat lemah dengan nilai pKa 7,2 dan 10,2. Dari literatur diketahui bahwa kelarutan katekin dalam air adalah sukar larut (berada pada rentang 0,1 1%). Menurut wells, 1998, untuk senyawa kandidat obat yang mempunyai kelarutan kecil dari 1% akan bermasalah pada absorpsinya, maka perlu cara untuk meningkatkan kelarutannya. Disamping itu katekin merupakan senyawa fenolik yang tidak stabil, mudah teroksidasi, mudah berubah warna jadi cokelat terutama dalam larutan, sehingga sukar untuk diformula menjadi suatu bentuk sediaan. Maka dari itu digunakan pengompleks -siklodekstrin yang merupakan senyawa oligosakarida siklik, yang dapat memerangkap molekul lain dalam rongganya, sehingga molekul tersebut terinklusi di dalamnya. Dari publikasi tersebut dijelaskan bahwa katekin dapat terinklusi di dalam rongga -siklodekstrin dan model pembentukannya (Kriz, 2003). Hasil pemeriksaan pendahuluan terhadap katekin memperlihatkan panjang gelombang 278 nm dengan menggunakan dapar pospat . Kelarutan katekin sampel sedikit berbeda dengan literatur, hal ini disebabkan karna perbedaan kemurnian, cara rekristalisasi dan sumber katekin tersebut. Pemeriksaan morfologi atau habit kristal dilakukan pada percobaan katekin dengan metode pendinginan dan katekin yang di kompleks dengan -siklodekstrin. Pemeriksaan

ini, dilakukan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dengan perbesaran 2500 kali. Hasil yang diperoleh menunjukkan bentuk habit morfologi kristal dari katekin berbentuk kristal batang. Sedangkan, bentuk habit dari katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin adalah bentuk yang tidak beraturan, ada yang berbentuk mendekati bulat dan ada yang berbentuk persegi, Dari hasil SEM ini juga dapat dilihat katekin dengan metode pendinginan masih menunjukan kristal yang jelas sedangkan katekin yang dikompleks dengan -siklodekstrin habit kristal yang terbentuk tidak tajam tapi belum berbentuk amorf. Pemeriksaan distribusi ukuran partikel menggunakan mikroskop okuler perbesaran 10 kali yang di kalibrasi dengan menggunakan mikrometer pentas sehingga diketahui bahwa nilai 1 okuler sama dengan 13,33 m. Pemeriksaan distribusi ukuran partikel katekin dengan metode pendinginan lebih tinggi dari katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin. Dimana hasil % frekuensi distribusi ukuran partikel katekin dengan metode pendinginan dibandingkan dengan katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin pada diameter 0-26,66 m (katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin = 73<katekin yang dipanaskan = 76 ). Distribusi ukuran partikel paling banyak pada semua perlakuan ditunjukkan pada rentang 0-26,66 m. Pada rentang tersebut, persentase frekuensi paling besar ditunjukan pada katekin yang di spray drying dan paling rendah pada katekin yang dikompleks. Dari data tersebut dapat kita lihat dengan penambahan pengompleks akan menurunkan persentase distribusi ukuran partikel. Secara umum, kurva yang terbentuk dari semua formula menyerupai lonceng (kurva distribusi ukuran partikel normal), namun jarak antara diameter (d) terbesar dan yang terkecil cukup jauh berarti kurang homogen. Hal ini disebabkan kalau perbesaran yang digunakan terlalu besar, seharusnya perbesaran yang digunakan lebih menunjukkan hasil yang kecil sehingga dapat mengamati perbedaan ukuran partikel lebih jelas. Penentuan perolehan kembali zat aktif katekin dilakukan menggunakan

spektrofotometer uv. Sebelum menentukan penetapan kadar zat aktif dilakukan penentuan panjang gelombang serapan maksimum. Penentuan panjang gelombang maksimum katekin dengan cara membuat larutan induk dengan melarutkan 50 mg katekin dalam 50 ml etil asetat. Kemudian, dibuat larutan dengan konsentrasi 0,08 mg/ mL dari larutan induk diukur serapannya pada panjang gelombang 278 dengan menggunakan spektrofotometer UV. Pembuatan kurva kalibrasi diperoleh dengan cara membuat larutan katekin dengan konsentrasi : 0,02, 0,04, 0,06, 0,08, 0,10. dan ukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang didapat. Persamaan garis yang didapat adalah: y = 0,53x -+0,201 dengan nilai r = 0,995. Pada hasil penentuan perolehan kembali katekin, didapatkan hasil sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam British Pharmacoipea tahun 2009 yaitu tidak boleh kurang dari 90% dan tidak boleh lebih dari 100,5%. Dari penelitian, di dapatkan hasil 94,2%. Uji disolusi dari katekin dengan metode pendinginan, katekin dengan metode spray drying dan katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin menggunakan medium dapar fosfat pH 4,7. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum katekin dalam medium dapar fosfat menggunakan larutan dengan konsentrasi 0,20mg/mL dan panjang gelombang serapan maksimum yang didapat 278 nm, dimana didalam literatur 279 nm, hal ini disebabkan karna perbedaan kemurnian, cara rekristalisasi dan sumber katekin tersebut. Kurva kalibrasi diperoleh dengan cara membuat larutan katekin dengan konsentrasi 0,04, 0,06, 0,08, 0,10, 0,12 dan 0,20 mg/mL dan diukur serapanya pada panjang gelombang maksimum. Persamaan garis yang didapat adalah y= 6,455x +0,013dengan r=0,9959 dapat dilihat pada (lampiran 6). Persamaan regresi diatas digunakan untuk menghitung persen zat terdisolusi katekin dengan metode pendinginan, katekin dengan metode spry drying dan katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin. Uji disolusi untuk semua perlakuan baik katekin dengan metode pendinginan, katekin dengan metode spry drying dan katekin yang

dikompleks dengan -siklodekstrin dilakukan pada medium dapar fosfat pH 4,7 sebanyak 900 mL, pada suhu 37 C, dengan Apparatus II (metoda paddle) dengan kecepatan 100 rpm. Hasil uji disolusi, dari katekin dengan metode pendinginan dibandingkan dengan katekin dengan metode spray drying, dimana kelarutan katekin dengan metode pendinginan lebih baik dibandingkan dengan katekin dengan metode spray drying, untuk itu dilakukan pengomplekan, dimana tujuan dari pengomplekan tersebut untuk memperbaiki kelarutan dari katekin yang di spray drying. Dari hasil yang di dapat katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin didapatkan peningkatan laju disolusi obat. Dimana katekin dengan metode pendinginan pada persentase disolusi menit ke-30 adalah 77,59 %, sedangkan untuk katekin yang dikompleks dengan -siklodekstrin menit ke-30 = 95,74%. Peningkatan laju disolusi katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin dipengaruhi oleh pengurangan ukuran partikel yang disebabkan oleh energi yang diberikan saat penggilingan dengan ball mill dalam tabung kaca. Partikel kecil dengan energi permukaan yang tinggi dan ikatan kisi sangat lemah menyebabkan perubahan dari fase kristal menjadi fase amorf yang kelarutannya sangat tinggi dalam air. Selain itu, dengan pengurangan ukuran partikel, akan menyebabkan luas permukaan semakin besar, sehingga kelarutan obat dalam medium akan meningkat dan laju disolusi juga akan meningkat. Dibandingkan dengan katekin dengan metode pendinginan memiliki bentuk kristal dan ukuran partikel lebih besar. Hasil efisiensi disolusi dari katekin dengan metode pendinginan, katekin dengan metode spray drying dan katekin dikompleks dengan berturut-turut 71,53%, 65,88%, 87,31%. Untuk membandingkan ketiga perlakuan terhadap persentase efisiensi disolusi menggunakan uji anova dua arah dengan menggunakan program SPSS 16. Dari hasil yang di dapat nilai Sig 0,00 (Sig<0,00) antara katekin dengan metode pendinginan, katekin dengan metode spray drying dan katekin yang dikompleks dengan -siklodekstrin menunjukan perbedaan yang signifikan (berbeda secara nyata) dari rata-rata katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin adalah yang paling besar

yaitu 87,30%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa katekin yang dikompleks dengan siklodekstrin dapat meningkatkan laju disolusi obat lebih besar dibandingkan dengan katekin dengan metode pendinginan atau katekin dengan metode spray drying. Persamaan garis lurus untuk menentukan model kinetika pelepasan zat dilakukan dengan kinetika orde 0, orde 1, dan persamaan higuchi. Dari ketiga persamaan tersebut yang menunjukkan persamaan garis lurus untuk katekin dengan metode pendinginan adalah persamaan orde Higuchi, katekin dengan metode spray drying adalah persamaan orde 1, sedangkan katekin yang dikompleks dengan siklodestrin adalah persamaan orde 1. Dimana persamaan orde 1 menunjukkan nilai r yang terbesar dibandingkan dengan model kinetika orde 0 dengan Higuchi.

KESIMPULAN DAN SARAN


Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa kadar katekin

yang diperoleh 92,85%. Katekin yang dikomplek dengan siklodekstrin memiliki kelarutan yang lebih baik dibandingkan dengan katekin dengan metode pendinginan dan katekin dengan metode spray drying. Katekin yang di komplek dengan siklodekstrin memilki ukuran partikel yang lebih halus di bandingkan katekin dengan metode pendinginan dan katekin dengan metode spray drying.
Dari penelitian ini, disarankan peneliti selanjutnya menggunakan metode/

rekristalisasi katekin sehingga didapatkan katekin yang memiliki sifat fisikokimia yang lebih baik. Mencari metode perlakuan yang lain dalam pengomplek inklusi katekin. RUJUKAN
Achmad, S.A. 1988. Kimia organik bahan alam (Modul 4).Jakarta :DepartemenPendidikan dan Kebudayaan, Universitas Terbuka. Ay New Jersey. Anonim, 1983, An Encyclopedia of chemicals and drugs, 9th ed., The Merk Index, Merck & Co Inc, Pathway New Jersey.

Azad,

KA.,Ogiyama., Koichi., Sassa., & Takeshi. 2001. Isolation of (+)catechin and a new polyphenolic compound inBengal catechu. Journal Wood Sci 47:406-409. Bakhtiar, A., 1991, Manfaat Tanaman gambir.Makalah Penataran Petani dan Pedagang Pengumpul Gambir di Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota. 29-30 November 1991. Padang : FMIPA Universitas Andalas Brown, P. 2009. The complete herbalist. Diakses tanggal 12 Mei 2011. Cannors, K.A., Amidon, 1992, Stabilitas kimiawi sediaan farmasi, Edisi II, terjemahan Didik Gunawan , IKIP Semarang Press, Semarang Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III, Jakarta Dewan Standarisasi Nasional-DSN. 2000. Standar Nasional Indonesia-Gambir. SNI.001-3391. 2000. Dril, V. A. 1985. Pharmacology in medicine. New York: .M. C. Graw Hill Book Company Inc. Dubey, P., K. R. Sundram & S. Nundy, 1984, Effects of tea in Gastric Acid Secrestion Dig. Emo, Chiellini, et al, 2002, Biomedical Polymers Theraupetics, USA, Kluwer. Ghayur, M,N., Khan H., & Gilani, A.H. 2007 Antispasmodic, bronchodilator and vasodilator activities of (+)-catechin.a Naturally Occurring Flavonoid,Arch Pharm Res Vol 30, No 8, 970-975. Heller, L. 2009. Green tea catechins linked to weight loss. The Journal of Nutrition.Jerman. Isogai, H., Isogai, E., Takahashi, K., & Kurebayashi, Y. 2008. Effect of catechin diet on gingivitis in cats.International Journal App. Res. Med. Vol.6, Japan. Lachman, Leon, 1994, Teori dan Prakter Farmasi Industri, Jakarta, Universitas Indonesia Press, 860-866. Lucida, H., Amri, B., & Putri, W.A. 2007.Formulasi sediaan antiseptik mulut dari katekin gambir.Jurnal

Teknologi Farmasi 12 (1) 2007. Padang: FMIPA Unand. Maurya, PK., Rizvi, S. 2009. Protective role of tea catechins on erythrocytes subjected to oxidative stress during human aging. India : Departement of Biochemistry University of Allahabad. Muchtar, H., Yesmeiarti, & Gustri Yeni. 2008. Pengaruh jenis absorban dalam proses isolasi katekin gambir. Journal Riset Industri , Vol. 2, No. 1, 14Pambayun, R. et al., 2007. Kandungan fenol dan sifat antibakteri dariberbagai jenis ekstrak produk gambir (Uncariagambir Roxb).Majalah Farmasi Indonesia, 18(3), 141 146. Standar Nasional Indonesia.Gambir. Badan Standarisasi, SNI 01-3391-2000, Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Padang. Departemen Perindustrian dan Perdagangan23(Juni 2008). Rauf, et al., 2010.Aktivitas penangkapan Radikal DPPH Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb).Agritech.30(1):1-5 Suherdi, A. Denian dan H. Syamsu. 1991. Budidaya dan pasca panen gambir serta permasalahannya. Biro Bina Pengembangan Sarana Perekonomian, Dati I Sumbar. Padang. Uesato, Shinichi., Keisuke, T., Ayako, K., Yasuo, N., Ryota, S., Yukihiko, H., Harukuni, T.,& Hoyoku, N. 2003. Inhibitory effect of 3-O-acetyl-(+)catechins on Epstein-Barr virus activation.Chem. Pharm. Bull 51(12) 1448-1450. Valcid, S., Timmermann B.N., Alberts D.S., Wachter G.A., 1996, Inhibitory Effect of six Green Tea Catecchins and Cafein on The Growth of Four Slected Human Tumor Cells Lines.