Anda di halaman 1dari 8

Nama : Shirley Kristina (2008-61-072) Hamzah Pratama (2008-61-075) Keratitis

Keratitis adalah infeksi pada kornea yang diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena; yaitu keratitis superfisial apabila mengenai lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau keratitis interstitialis atau keratitis parenkimatosa yang mengenai lapisan stroma. Keratitis Superfisial Secara umum, gejala klinis yang dapat ditemukan yaitu : - penurunan visus - mata merah, berair, silau, dan nyeri (fotofobia) - adanya lesi/kekeruhan di kornea Keratitis superfisial non ulseratif Keratitis Pungtata Superfisial (Tygesons disease) Lesi berupa titik-titik putih abu-abu, berjumlah 1-50 lesi (rata-rata 20 lesi), oval, agak meninggi, terakumulasi di sentral kornea, tes fluoresensi -. Lesi terkumpul di daerah membrana Bowman, dapat disebabkan oleh virus atau imunogenik, bersifat bilateral kronis, rekuren, dan jarang ditemukan. Terapi : kortikosteroid topikal Keratitis Numularis dan Disiformis Penyakit ini berjalan lambat, unilateral, dengan infiltrat bulat, multiple, berbatas tegas, memberikan gambaran halo di lapisan kornea bagian superfisial, biasanya tidak menyebabkan uleserasi dan di tengahnya lebih jernih. Tes fluoresensi (-). Diduga diakibatkan oleh virus, umumnya pada petani sawah. Terapi : kortikosteroid topikal Keratokonjungtivitis Epidemika disebabkan oleh reaksi alergi terhadap adenovirus tipe 8. Penderita dapat mengalami flu like symptom (demam, malaise, gejala gangguan saluran napas, mual, muntah, diare, dan myalgia). Penyakit ini biasanya unilateral, edema kelopak mata dan folikel konjungtiva, pseudomembran pada konjungtivatarsal dapat membentuk jaringan parut, keratitis pungtata difus di permukaan kornea. Terapi : sembuh spontan (1-3 minggu), dapat dipakai kortikosteroid topikal, antiviral topikal Cidofovir dilaporkan menurunakan siklus replikasi virus dan juga efektif sebagai profilaksis. Pemeriksaan Penunjang Inflamasi aktif dapat dilihat dengan slit lamp, edema intraseluler dan interseluler pada epitel kornea sering ditemukan pada pemeriksaan histologi keratitis superfisial pungtata

Follow-up Pasien dengan keratitis superfisial non ulseratif perlu melakukan pemeriksaan mata rutin mengingat kemungkinan akan kekambuhan penyakit tersebut. Selain itu pada pasienpasien dengan pengobatan steroid topikal juga perlu monitoring rutin untuk mencegah terjadinya efek samping steroid seperti glaukoma dan katarak. Keratitis Superfisial Ulseratif Keratitis Herpes Simpleks Kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intra epitelial. Lesi berupa vesikel, ulkus dendritik atau geografik pada kornea. Terapi : sembuh spontan (3 minggu), debridement epitel untuk membuang infeksi, antiviral topikal atau oral. Trifluridine 1% topikal 8 kali/hari atau Vidarabine 3% 5 kali/hari. Respon dalam 2-5 hari dan sembuh sempurna dalam 2 minggu. Pemakaian dititrasi untuk menghindari toksisitas kornea dan segera dihentikan setelah sembuh sempurna. Acyclovir oral 2 g/hari tidak menimbulkan toksisitas okular, sehingga lebih dipilih dibandingkan antiviral topikal. Keratitis Herpes Zoster Reaktivasi virus herpes zoster pada ganglion trigeminal dapat menyerang cabang pertama nervus trigeminal (Ophthalmik) ke nervus nasociliaris. Fase prodromal influenza like illness 1 minggu kemudian rash unilateral pada dahi, kelopak mata atas, dan hidung. Manifestasi ocular diketahui dengan adanya tanda Hutchinson, yaitu terkenanya ujung hidung oleh infeksi herpes zoster. Hal ini mengindikasikan bahwa mata juga terkena infeksi virus herpes zoster karena percabangan nasal dari nervus nasosiliaris. Komplikasi pada mata dapat berupa keratitis epitelial punctata, keratitis dendritik, hingga keratitis stroma. Tes fluoresensi +. Terapi : Acyclovir oral 800 mg 5 kali/hari, Famciclovir atau Valacyclovir 500 mg 3 kali/hari selama 7-10 hari. Opioid, antidepresan, dan antikonvulsan dapat digunakan jika terjadi neuralgia postherpetika Pemakaian lidokain atau capsaicin topical juga dapat berguna pada sebagian pasien. Ketika refleks kedip dan fungsi kelopak mata terganggu, cairan lubrikasi untuk mata diperlukan untuk mencegah terjadinya kekeringan pada kornea. Pemeriksaan Penunjang Apusan epitel kornea dengan pewarnaan Giemsa memperlihatkan sel-sel raksasa dengan banyak inti, kultur virus, tes deteksi antigen virus herpes simpleks ELVIS (the enzymelinked virus inducible system), PCR sediaan air mata, epitel kornea, atau cairan kamera occuli anterior dapat mendeteksi DNA virus, OCT. Follow-up Perlu monitor ketat hingga sembuh. Infiltrat kornea perlu dikultur untuk kemungkinan adanya infeksi mikroba sekunder. 2

Lesi yang menetap perlu dicurigai adanya toksisitas kornea. Penghentian obat antiviral topikal perlu dilakukan. Meskipun jarang, infeksi dapat melanjut menjadi keratitis stroma dan dapat menjadi perforasi kornea.

Keratitis Flikten terjadi akibat reaksi imun, dimana terjadi penimbunan sel limfoid dan eosinofil terutama pada kornea. Pada limbus terdapat flikten yaitu benjolan putih kekuningan, berdiameter 2-3 mm, berjumlah 1 atau lebih, dikelilingi konjungtiva yang hiperemik. Pada kasus rekuren timbul pada anak kurang gizi dan menderita TBC sistemik. Penyakit ini diduga sebagai alergi terhadap tuberkulo-protein. Sekarang diduga juga merupakan reaksi imunologik terhadap stafilokokus aureus, koksidiodes imiitis serta bakteri pathogen lainnya.Terapi : steroid topikal Keratitis Sika disebabkan perlindungan lapisan air mata yang tidak adekuat karena kurangnya sekresi kelenjar lakrimal dan atau sel Goblet, dapat disebabkan oleh berbagai penyakit atau keadaan. Terjadi penurunan meniscus air mata, meningkatnya jumlah debris pada lapisan air mata, keratopati pungtata superfisial, tes fluoresensi +, hiperemi konjungtiva, adanya sekret, xerostomia (hubungan dengan Sjgren syndrome), defek pada epitel kornea atau ulserasi pada kasus yang berat, tes Schirmer berkurang, kejernihan konjungtiva dan kornea hilang, sukar menggerakkan kelopak mata. Pemeriksaan Penunjang : Analisa protein air mata, untuk mengukur kadar lysozyme dalam air mata, sitologi untuk melihat perubahan patologis epitel pada tahap lanjut, dimana akan ditemukan metaplasi sel squamosa, berkurangnya sel goblet, dan keratinisasi, histopatologi kelenjar lakrimal dapat ditemukan fibrosis periduktal dan atau atropi. Terapi : Air mata tiruan, jika komponen lemaknya yang kurang maka diberikan lensa kontak. Keratitis Rosacea biasanya didapati pada orang-orang yang menderita acne rosacea. Manifestasi ovular biasanya meliputi kelopak mata dan permukaan mata, keratopati pada sepertiga bagian bawah kornea, infiltrat, ulserasi, bahkan perforasi kornea. Terapi : menjaga hygiene kelopak mata, air mata tiruan, obat anti inflamasi oral. Tetrasiklin merupakan antibiotika yang sering digunakan dan paling efektif untuk mengobati rosacea. Follow-up : karena merupakan penyakit yang kronis, managemen jangka panjang dibutuhkan untuk mengontrol penyakit ini. Pemeriksaan ophthalmologi rutin diperlukan untuk mengontrol gejala dan mencegah kerusakan pada kornea. Keratitis Interstitial Klinis : Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat, permukaan kornea seperti permukaan kaca, terdapat injeksi siliar disertai serbukan pembuluh ke dalam sehingga memberikan gambaran merah kusam yang disebut salmon patch dari Hutchinson. Seluruh kornea dapat berwarna merah cerah. Etiologi : Umumnya karena sifilis kongenital (biasanya bilateral), terjadi pada dekade pertama atau kedua. Dapat juga karena sifilis yang didapat (unilateral, sektoral), tuberkulosis (unilaterla, sektoral), Cogan syndrome (bilateral, vertigo, tinnitus, hearing loss, serologi sifilis negatif), leprosy, virus herpes simpleks, virus herpes zoster, virus epstein barrm dan lyme disease. 3

Pemeriksaan - Riwayat penyakit menular seksual pada ibu saat hamil atau pada pasien - Pemeriksaan fisik, deformitas saddle-nose, Hutchinson teeth, frontal bossing, atau tanda-tanda lain sifilis kongenital. Apakah ada hipopigmentasi, anestesi kulit, hilangnya alis mata dan bulu mata sebagai tanda lepra. - Pemeriksaan slit lamp, apakah terdapat penebalan segmental saraf kornea seperti pada lepra, apakah terdapat nodul pada iris (pada lepra), dan hiperemia dengan nodul pink (pada sifilis). - Pemeriksaan fundus, melihat ada tidaknya salt and pepper chorioretinitis atau atropi optik pada sifilis - Tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory), FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption) - Purified protein derivative - Roentgen dada jika FTA-ABS negative - Laju endap darah, ANA test (Antinuclear Antibody), faktor rheumatoid, titer Lyme dan virus Epstein Barr. Terapi - Penyakit akut : steroid topikal, obati penyakit yang mendasari - Penyakit lama inaktif dengan skar sentral : transplantasi kornea dapat memperbaiki penglihatan - Jika FTA-ABS atau VDRL positif dan belum mendapat terapi sifilis sebelumnya, maka terapi sifilis merupakan suatu indikasi. - Jika PPD positif dan pasien < 35 tahun dan belum mendapat terapi TB sebelumnya, hal ini merupakan indikasi diberikannya terapi TB - Jika terdapat Cogan syndrome, rujuk pasien ke ahli THT dan ahli rheumatologi Follow-up Kontrol untuk penyakit akut, setiap 3-7 hari kemudian setiap 2 4 minggu. Penggunaan steroid diturunkan perlahan sesuai berkurangnya inflamasi. Pada penyakit lama inaktif : perlu kontrol tahunan Referensi : 1. Duszak R.S. Thygeson Superficial Punctate Keratitis. Philadelphia. 2010. http://emedicine.medscape.com/article/1197335 2. Bawazeer A. Keratoconjunctivitis, Epidemic. Saudi Arabia. 2008. http://emedicine.medscape.com/article/1192751-overview 3. Wang J.C. Keratitis, Herpes Simplex. 2009. New York. http://emedicine.medscape.com/article/1194268 4. Diaz M.M. Herpes Zoster Ophthalmicus. 2009. New York. http://emedicine.medscape.com/article/783223 5. Lopez F.H. Keratoconjungtivitis Sicca. 2009. http://emedicine.medscape.com/article/1196733 6. Randleman J.B. Ocular Rosacea. 2009. http://emedicine.medscape.com/article/1197341-overviewGeneral Information 4

KERATITIS PROFUNDA NON ULSERATIF KERATITIS INTERSTITIAL Gejala : terdapat injeksi silier, pada kornea didapatkan infiltrat terutama di stroma bagian dalam dengan bermacam-macam bentuk yang letaknya bisa di pinggir, tengah, ataupun tersebar. Pada stadium ini belum terdapat neovaskularisasi kornea. Terdapat pula gejala umum keratitis, dimana kekeruhan kornea berjalan progresif, disertai pembentukan pembuluh darah di lapisan dalam (berupa sikatriks) warna kornea menjadi bermacammacam antara warna putih dari infiltrate sampai merah dari pembuluh darah baru (neovaskularisasi profunda) salmon patch. Iris dan bagian mata yang lebih dalam selanjutnya bisa timbul gejala iridosiklitis (iris bengkak, coa keruh, pupil kecil ireguler), pada kornea bisa timbul keratik presipitat yang besar-besar mutton fat deposit. Pada puncak penyakit ini visus menjadi nol sesudah 6-8 minggu.

Etiologi : paling sering sifilis kongenital (lues), ada juga TBC, lepra, HSV, HZV, EBV. Work up :
1. 2. 3. 4. 5. Anamnesa : penyakit ibu selama kehamilan, gejala sulit mendengar atau tinnitus Pemeriksaan fisik : deformitas hidung (saddle nose), Hutchinson teeth, gejala lepra Slit lamp : penebalan saraf pada kornea, nodul di iris Funduskopi : korioretinitis atau atrofi optik (sifilis) VDRL tes, FTA-ABS

Pengobatan : menurut penyebabnya!!! Tetes mata lokal mengandung sulfas atropin 1% 3x sehari, antibiotika, kortikosteroid. Bila kornea masih tetap keruh bisa keratoplasti. KERATITIS PUSTULIFORMIS PROFUNDA Etiologi : umumnya lues akuisita, ada juga oleh TBC. Disebut sebagai acute syphilitic abscess of the cornea. Gejala klinik mirip dengan keratitis interstitial, dimana gejala yang ditimbulkan bisa lebih ringan atau lebih berat tergantung dari proses perjalanan penyakit. Pengobatan mirip dengan keratitis interstitial. KERATITIS DISIFORMIS Etiologi : oleh virus Herpes simpleks, dimana reaksi alergi terhadap virus adalah dasar terjadinya penyakit ini. Pengobatan : dapat diberikan sulfas atropin lokal, antibiotika, dapat pula kortikosteroid topikal dengan pengelolaan seksama.

KERATITIS SKLEROTIKANS Merupakan penyulit dari skleritis, yang letaknya biasanya di bagian temporal, berwarna merah, sedikit menonjol, disertai nyeri tekan. Proses dasarnya adalah reaksi alergi terhadap TBC, lues, rheumatoid arthritis. Gejala klinis yang biasa timbul adalah mata nyeri, fotofobia, ada skleritis, di kornea bisa ada infiltrate berbentuk segitiga di stroma bagian dalam yang berhubungan dengan benjolan yang terdapat pada sklera. Pengobatan menurut penyebabnya. KERATITIS PROFUNDA ULSERATIF KERATITIS ET LAGOFTALMUS Terjadi karena mata tak dapat menutup dengan sempurna, sehingga kornea menjadi kering dan mudah terkena trauma. Bila kerusakan ini terkena infeksi sekunder, dapat cepat berubah menjadi ulkus serpens akut. Umumnya pada lagoftalmus yang terkena kornea bagian bawah, kecuali lagoftalmusnya hebat, sehingga mata terbuka terus. Pada waktu tidur, secara refleks, bola mata bergerak kea rah temporal atas, sehingga pada lagoftalmus, bagian bawah kornea tidak terlindung. Gejala klinis :
1. Injeksi perikornea di bagian bawah, kornea menjadi keruh, tes fluoresin + 2. Bila terkena infeksi sekunder, sifatnya berubah menjadi ulkus serpens akut

Etiologi lagoftalmus :
1. 2. 3. 4. Ektropion Protrusio bulbi Paralisis M. orbikularis okuli atau N. VII Penderita dalam keadaan koma

Pengobatan : kausal terhadap lagoftalmus, untuk melindungi kornea, dilakukan tarsorafi yang ditinggalkan sebagian untuk pengobatan lokal. Jangan menutup mata dengan kain kasa pada lagoftalmus (kornea bisa rusak), tapi dengan gelas arloji. KERATITIS NEUROPARALITIK N. V merupakan saraf sensoris dari kornea dan juga mempunyai pengaruh trofik pada selsel kornea. Bila saraf ini terganggu, umpama setelah menderita herpes zoster, maka saraf ini menjadi tidak sensitif lagi dan metabolisme kornea menjadi terganggu. Mata menjadi mudah ken trauma da timbul keratitis. Penderita mengeluh visusnya menurun, fotofobia, namun mata tidak sakit. XEROFTALMIA Akibat defisiensi vitamin A, merupakan penyebab kebutaan utam di Indonesia. Etiologi : makanan kurang mengandung vitamin A, daya absorpsi vitamin A di usus tidak baik, penggunaan vitamin A di dalam badan tidak baik. Kekurangan vitamin A dalam badan menyebabkan hiperkeratinisasi epitel di seluruh badan dan gangguan pembentukan tulang, hal ini bila terjadi di tulang tengkorak (pembetukan otak normal) dapat menyebabkan kenaikan tekanan intracranial dan timbul edema papil N.II di mata. 6

Stadium I : rodopsin tidak terbentuk kembali dan sel batang tidak bereaksi terhadap cahaya redup dan timbul hemeralopia. Stadium II : hemeralopia ditambah xerosis (kering) konjungtiva dan kornea, pada keadaan lanjut timbul Bitot spot, yang berbentuk segitiga dengan basis pada limbus dan apexnya ke arah kantus eksternus. Stadium III : stadium I + II + keratomalasia (mencairnya kornea), sehingga dapat timbul perforasi yang disertai infeksi sekunder. Klasifikasi menurut WHO (1976) kode X :
X IA : xerosis konjungtiva X IB : xerosis konjungtiva + Bitot spot X 2 : xerosis kornea X 3A : ulserasi kornea X 3B : keratomalasia X n : night blindness X s : cacat pasca xeroftalmia

Pengobatan : lokal antibiotik dan mata ditutup, keadaan umum diperbaiki dengan makanan tinggi kalori tinggi protein, lemak, karbohidrat dan vitamin A, dapat juga dengan pemberian vitamin dosis terapeutik (50.000 IU/kg BB dengan max 400.000 IU; dengan pemberian 100.000 IU per minggu atau 50.000 IU 2 kali seminggu). TRAKOMA + INFEKSI SEKUNDER Virus trakomanya tidak menimbulkan kebutaan. Kebutaan dapat terjadi karena pada perjalanan penyakit dapat timbul panus di limbus kornea 1/3 atas yang berkembang menjadi suatu ulkus yang dalam dan timbul perforasi, lalu terdapat infeksi sekunder.

GONORE Kuman gonorea menyebabkan konjuntivitis purulenta akut disertai blefarospasme. Adanya blefarospasme menyebabkan sekret purulen penuh gonokok. Kuman mempunyai enzim proteolitik sehingga dapat timbul kerusakan kornea hebat bisa juga timbul kebutaan.

ULKUS SERPENS AKUT Etiologi : virus, pnumokok (terbanyak), E. coli, fungal, dll. Awalnya berupa trauma kecil lalu timbul infeksi sekunder yang disertai gejala nyeri, edema palpebra, pada kornea ada infiltrate dan ulkus yang penjalarannya dari sentral ke perifer. Bisa disertai dengan pembentukan hipopion karena toksin dari kornea, melalui membrane Descement dan endotel, masuk coa, menyebabkan iritis, dapat pula timbul glaucoma.

Pengobatan : kausal; antibiotic lokal dan sistemik, analgetik, anti fungal KRONIK (MOOREN ULCER, RODEN ULCER) Etoilogi : tidak jelas. Awalnya didapatkan injeksi silier, di kornea ada infiltrat kelabu lalu menjadi ulkus dengan bentuk bergaung. Khasnya adalah bentuk ulkus seperti digigiti tikus. Pengobatan :
Keratotomy, memotong pinggir ulkus Kauterisasi kimia atau termis Parasentesa Flap konjungtiva Keratoplasti