Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR Kalorimeter

Disusun oleh : Nama NPM Kelompok Hari / Tanggal Waktu Asisten : Anjereva Enggar Metra Prasagi : 240110110020 : 1 / Shift A-1 : Selasa / 8 November 2011 : 15.00 17.00 : Fredy Agil Raynaldo

LABORATURIUM FISIKA DASAR JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2011 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah kalor digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu fenomena dan konsep yang berhubungan dengan kalor adalah kalor mengalir dari kompor ke ketel kopi, dari matahari ke bumi, dan dari mulut seseorang ke termometer demam. Fenomena yang berhubungan dengan kalor

tidak menggunakan model fluida, tetapi berhubungan dengan kerja dan energi. Kalor mengacu pada transfer energi dari satu benda ke benda yang lainnya karena adanya perbedaan temperatur. Kalor dengan demikian diukur dalam satuan energi, misalnya joule, kalori, atau kilokalori. Faktor pembanding antara satuan kalor dengan energi disebut tara panas listrik. Salah satu penerapan fisika yang berhubungan dengan kalor adalah kalorimetri. Kalometri adalah suatu dasar teknik yang dilakukan untuk melakukan suatu pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor. Untuk melakukan pengukuran tersebut digunakan alat yang disebut dengan kalorimeter. Jika pada kalorimeter, pertukaran kalor dengan sekitarnya diabaikan maka akan berlaku tara panas listrik. Pada praktikum kali ini, agar memahami sistem kerja kalorimeter dilakukan percobaan dengan menggunakan kalorimeter air sederhana untuk menentukan kadar energi atau kalori dan tara panas listrik. Kumparan yang terdapat pada kalorimeter akan dilalui arus listrik yang akan menimbulkan perubahan suhu atau timbul panas, yang sebanding dengan kuadrat arus, tahanan penghantar, dan lamanya arus mengalir. Panas yang terjadi tersebut diukur dengan kalorimeter yang pada sistemnya berlaku hukum kekekalan energi. 1.2 Tujuan Dapat memahami sistem kerja pada kalorimeter. Dapat memahami arti fisis tara panas listrik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kalor sebagai Transfer Energi Kalor mengalir dengan sendirinya dari suatu benda yang temperaturnya lebih tinggi ke benda lain yang temperaturnya lebih rendah. Penemuan baru pada kalor, yaitu fenomena-fenomena yang berhubungan dengan kalor dapat dideskripsikan secara konsisten tanpa perlu menggunakan model fluida. Kalor berhubungan dengan kerja dan energi. Satuan umum untuk kalor adalah kalori (kal) yang didefinisikan sebagai kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatut 1 gram air sebesar 1 derajat Celcius. Yang lebih sering digunakan adalah kilokalori (kkal) yang besarnya sama dengan 1000 kalori. Dengan demikian 1 kkal adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan 1 kg air sebesar 1 derajat Celcius. Gagasan bahwa kalor berhubungan dengan energi dikerjakan lebih lanjut oleh banyak ilmuwan, salah satunya adalah Joule. Joule melakukan sejumlah percobaan yang penting untuk menetapkan bahwa kalor, seperti kerja, mempresentasikan transfer energi. Percobaan-percobaan Joule melibatkan energi listrik, Joule menentikan bahwa sejumlah kerja tertentu yang dilakukan selalu ekialen dengan sejumlah masukan kalor tertentu. Secara kuantitaif, kerja 4.186 Joule (J)

ekivalen dengan 1 kalori (kal) kalor. Nilai ini dikenal sebagai tara panas listrik. Kalor bukanlah suatu zat atau bentuk energi, tetapi merupakan transfer energi. Kalor merupakan energi yang ditransfer dari satu benda ke benda lainnya karena adanya perbedaan temperatur. Dalam satuan SI, satuan yang digunakan adalah Joule melalui tara panas listrik, tetapi kalori dan kkal masih sering digunakan. 2.2 Kalor Jenis Besar kalor Q yang dibutuhkan untuk merubah temperatur zat tertentu sebanding dengan massa m zat tersebut dan dengan perubahan temperatur T, dapat dinyatakan dalam persamaan :

Q = m c T
Di mana c adalah besaran karakteristik dari zat tersebut, yang disebut kalor jenis. Karena

c=

Q , kalor jenis dinyatakan dalam satuan J/kgC atau kkal/kgC. Dari definisi kal dan m T

joule, diperlukan 1 kkal kalor untuk menaikkan temperatur 1 kg air sebesar 1 C . Sampai batas tertentu, nilai c bergantung pada temperatur (sebagaimana bergantung sedikit pada tekanan), tetapi untuk perubahan temperatur yang tidak terlalu besar, c seringkali dapat dianggap konstan.

Tabel 2-1 Kalor Jenis Beberapa Jenis Zat 2.3 Kalorimeter Ketika bagian-bagian yang berbeda dari sistem yang terisolasi berada pada temperatur yang berbeda, kalor akan mengalir dari bagian temperatur yang lebih tinggu ke bagian dengan temperatur lebih rendah. Jika sistem terisolasi seluruhnya, tidak ada energi yang bisa mengalir ke dalam atau ke luar. Jadi, kekekalan energi memainkan peran penting untuk kita, yaitu kehilangan kalor sebanyak satu bagian sistem sama dengan kalor yang didapat oleh bagian yang lain.

Persamaan tersebut biasa disebut sebagai hukum kekekalan energi atau azas black dan dapat ditulis sebagai berikut : kalor yang hilang = kalor yang didapat Pertukaran energi merupakan dasar teknik yang dikenal dengan nama kalorimetri, yang merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor. Untuk melakukan pengukuran tersebut, digunakan alat yaitu kalorimeter. Sangat penting bahwa kalorimeter diisolasi dengan baik sehingga hanya sejumlah minimum kalor dipertukarakan dengan luarnya. Satu kegunaan yang penting dalam penggunaan kalorimeter adalah dalam penentuan kalor jenis zat-zat. Pada teknik yang dikenal sebagai metode campuran, satu sampel zat dipanaskan sampai temperatur tinggi yang diukur dengan akurat, dan dengan cepat ditempatkan pada air dingin kalorimeter. Kalor yang hilang pada sampel tersebut akan diterima oleh aor dan kalorimeter, Dengan mengukur temperatur akhir campuran tersebut, kalor jenis dapat dihitung.

Gambar 2-1 Sederhana

Kalorimeter Air

Jika pada kalorimeter, pertukaran kalor dengan sekitarnya diabaikan maka akan berlaku rumus sebagai berikut :

a=

m c+ C T ( ) I V t

Keterangan : a m c = tara panas listrik = massa (kg) = kalor jenis (kJ/kgK)

T = perubahan suhu (K) I V t 2.4 = arus (A) = tegangan (V) = waktu (s) Hukum Ohm Hukum Ohm menyatakan bahwa kuat arus yang mengalir melalui suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar.

R=
Keterangan : R V I = hambatan () = tegangan (V) = arus (A)

V ,V = I R I

BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Alat dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. Kalorimeter dilengkapi dengan kumparan pemanas dan pengaduk : untuk menghitung pertukaran kalor atau pertukaran energi. Termometer Voltmeter Amperemeter Gelas ukur : untuk mengukur suhu . : untuk mengukur daya. : untuk mengukur arus. : untuk mengisi kalorimeter.

6. 7.

Stopwatch 5 kabel penghubung

: untuk menghitung waktu : untuk menghubukan kalorimeter dengan amperemeter dan voltmeter.

3.2

Prosedur 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dengan menggunakan gelas ukur, kalorimeter diisi dengan air suling sebanyak 50 ml. Massa air suling pada kalorimeter ditentukan. Alat-alat percobaan disusun seperti pada gambar dan sumber tegangan diaktifkan. Arus dihubungkan dalam waktu yang singkat dan arus diatur sebesar 1.5 A, kemudian sumber tegangan DC dimatikan lagi. Air diaduk lalu suhu awal dicatat sebagai T1. Arus listrik dialirkan kembali dan sumber tegangan DC diaktifkan lagi. Tegangan yang terakhir pada voltmeter dicatat. Suhu dicatat setiap 3 menit sekali sampai 15 menit dan diisi sebagai suhu akhir T 2 . Setelah 15 menit, sumber tegangan DC dimatikan. Air di dalam kalorimeter diganti dan percobaan diulangi dengan besar arus yang mengalir 3.0 A. Data pada tabel yang tersedia diisi. Tara panas listrik dan rata-ratanya, hambatan, dan daya listrik kumparan dihitung untuk masing-masing percobaan. 10. Ketelitian percobaan dihitung dengan literatur (1 kalori = 4.2 Joule). BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Percobaan Massa air suling = 50 gr = 0.05 kg a air c air = 0.238 = 4.2 kJ/kgK

I (A)

V (V)

t (s) 180 360 540 720 900 180 360 540

T1 (K)

T2 (K) 306 307 309 311 312 325 331 342

T (K) 1 2 4 6 7 12 30 31

m c T a= VIt
(x10-3) 0.389 0.389 0.519 0.583 0.544 1.037 0.864 0.893

arata-rata (x10-3)

Q= aI2RT (J) 0.209 0.419 0.838 1.256 1.465 2.519 4.199 6.509

1.5

2.0

305

0.4848

3.0

4.5

311

0.8602

720 900

348 352

37 41

0.799 0.708

7.766 8.602

P1 = V I = 2 1.5 = 3 V 2 R1 = = = 1.33 I 1.5


Kesalahan percobaan Kesalahan relatif = =
K p=

P2 = V I = 4.5 3 = 13.5 V 4.5 R2 = = = 1.5 I 3


a <a>a i r 1 0 0 % <a>a i r

K r = 1 0 0 % K p

K p .8% 1 =99 K r 1 =0.2%


4.2.

K p2 =9 9 .7% K r % 2 =0.3

Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan dua kali percobaan pada kalorimeter untuk menentukan

besarnya kadar energi atau kalor, tara panas listrik, hambatan, daya, ketelitian percobaan, dan kesalahan relatif, yaitu pada saat besar arus 1.5 A dan 3.0 A. Setelah dilakukan percobaan didapat data-data seperti di atas. Pada saat amperemeter menunjukkan besar arusnya 1,5 A, maka voltmeter menunjukkan tegangan sebesar 2.0 Volt. Maka besarnya daya adalah 3 watt dan besarnya hambatan adalah 1.33 . Suhu awal pada termometer terhadap air suling dalam kalorimeter adalah 305 K dan pengamatan terhadap suhu akhir dilakukan 3 menit sekali sampai 15 menit. Menurut hasil percobaan, suhu akhir setiap 3 menit semakin meningkat, yaitu 306 K , 307K , 311K , dan 312K. Setelah didapat hasil dari perubahan suhu, yaitu suhu akhir dikurang suhu awal, dapat ditentukan besar kalor dan tara panas listrik dari rumus yang telah ditentukan. Seperti suhu akhir, kalor dan tara panas listrik semakin lama waktunya, maka hasilnya akan semakin meningkat. Besarnya tara panas listrik (x10 -3) dari hasil percobaan adalah 0.389, 0.389, 0.519, 0.583, 0.544, sedangkan besar kalornya adalah 0.209 J, 0.419 J, 0.838 J, 1.256 J, dan 1.465 J. Untuk mengetahui ketelitian dan kesalahan relatif pada percobaaan, dilakukan perhitungan dengan rumus yang telah ditentukan dan didapat hasil yaitu, ketelitian percobaan sebesar 99.8 % dan kesalahan relatif sebesar 0.2 %. Besarnya tegangan pada voltmeter pada saat arus di amperemeter besarnya 3.0 A adalah 4.5 Volt, maka didapat besarnya daya adalah 13.5 watt dan besarnya hambatan adalah 1.5 . Suhu awalnya adalah 311K, sama seperti percobaan pertama, suhu akhir setiap 3 menit sekali sampai 15 menit terus meningkat, yaitu 325K, 331K, 342K, 348K, dan 352K, begitu juga dengan

perubahan suhunya, besar kalor, dan tara panas listrik terus meningkat setiap pertambahan waktu. Besarnya tara panas listrik (x10-3) pada percobaan kedua ini adalah 1.037, 0.864, 0.893, 0.799, dan 0.708, sedangkan besar kalornya adalah 2.519 J, 4.199 J, 6.509 J, 7.766 J, dan 8.602 J. Setelah didapat hasil tersebut, maka dapat ditentukan ketelitian percobaan dan kesalahan relatifnya. Pada percobaan kedua, ketelitian percobaan adalah 99.7 %, sedangkan kesalahan relatifnya adalah 0.3 %. Dari data-data percobaan tersebut, dapat diketahui bahwa semakin besar arusnya maka semakin besar tegangan, daya, dan hambatannya. Begitu juga dengan semakin lamanya waktu, maka semakin besar suhu akhir dan perubahan suhunya. Besarnya massa air suling, kalor jenis air, perubahan suhu, tegangan, arus, dan waktu mempengaruhi besarnya tara panas listrik. Besarnya tara panas listrik, kuadrat arus, hambatan, dan waktu mempengaruhi besarnya kalor yang dihasilkan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 4.3. Kesimpulan Dapat mengetahui sistem kerja kalorimeter air sederhana.

5.2

Dapat mengetahui arti fisis tara panas listrik. Dapat menentukan besarnya kalor dari percobaan terhadap kalorimeter. Dapat menentukan besarnya tara panas listrik dari percobaan terhadap kalorimeter. Dapat mengetahui besaran-besaran yang mempengaruhi besarnya kalor. Dapat mengetahui besaran-besaran yang mempengaruhi besarnya tara panas listrik.

Saran Alat-alat percobaan diperbanyak sehingga setiap orangnya dapat mengerti percobaan terhadap kalorimeter ini. Penggunaan stopwatch lebih teliti agar data-data yang didapat lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Douglas. 2001. Fisika Jilid I Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga. Zaida. 2010. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Universitas Padjajaran, Jatinangor. Institut Teknologi Telkom. 2009. http://ittelkom.ac.id/admisi/elearning/images/EP-6D06.JPG (diakses pada 12 November 2011 pukul 20.13). Institut Teknologi Telkom. 2009. http://ittelkom.ac.id/admisi/elearning/images/EP-6D03.JPG (diakses pada 12 November 2011 pukul 20.21).

LAMPIRAN

Laporan Kimia Fisika Hukum Hess

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyaknya kalor yang dihasilkan dalam suatu reaksi kimia dapat diukur dengan menggunakan kalorimeter. Kalor dapat diukur dengan menggunakan jalan jumlah total kalor yang disetiap lingkungan kalor yang diserap air merupakan hasil dari perkalian antara massa, kalor jenis dan kenaikkan suhu, sedangkan kalor yang diserap komponen lingkungan lain yaitu tom, pengaduk, termometer, dan lain sebagainya. Merupakan hasil kali jumlah kapasitas kalor komponen-komponen ini dengan suhu. Dari sini dapat diketahui bahwa penjumlahan kalor dapat diterapkan melalui hukum Hess (Attkins, 1999). Hukum Hess adalah sebuah hukum dalam kimia fisik untuk ekspansi Hess dalam siklus Hess. Hukum ini digunakan untuk memprediksi perubahan entalpi dari hukum kekekalan energi (dinyatakan sebagai fungsi dari keadaan H). Hukum Hess menyatakan bahwa besarnya entalpi dari suatu reaksi tidak ditentukan oleh jalan atau tahap reaksi, tetapi hanya ditentukan oleh jalan atau tahap reaksi, tetapi hanya ditentukan oleh keadaan awal dan keadaan akhir suatu reaksi. Setelah itu hukum Hess juga menyatakan bahwa entalpi suatu reaksi merupakan jumlah total dari penjumlahan kalor reaksi tiap satu mol dari masing-masing tahap atau orde reaksi. Sehingga besarnya H dapat ditentukan hanya dengan mengetahui kalor reaksinya saja. Dasar dari hukum Hess ini adalah entalpi atau energi internal artinya bersaran yang tidak tergantung pada jalannya reaksi. Suatu reaksi kadang-kadang tidak hanya berlangsung melalui satu jalur akan tetapi bisa juga melalui jalur lain dengan hasil yang diperoleh adalah sama. 1.2 Tujuan Menentukan entalpi reaksi pada arah 1 dan 2 Mengetahui prinsip dari percobaan hukum Hess Mengetahui fungsi pengadukan dalam kalorimeter.