Anda di halaman 1dari 14

TUGAS UTS TAKE HOME

FILSAFAT MANAJEMEN
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah FILSAFAT MANAJEMEN
pada Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
UIN Sunan Gunung Djati Bandung















Oleh
Nopan Mustapa
NIM 1211801087
Kelas : C










UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
1433/2012



SOAL

1.Filsafat mempelajari komponen pengetahuan adalah the
knower(aspek ontologi) ,knowing(aspek epistemologi),dan
aksiologi (aspek knowledge).Jelaskan apa yang dimaksud dari
ketiga komponen tersebut dan apa kaitannya dengan pembangunan
ilmu dan pengetahuan khususnya dibidang manajemen !

2.Jelaskan hakikat ilmu sebagai proses imu sebagai metode dan
ilmu sebagai produk.Berikan contoh pembahasannya dalam bidang
ilmu manajemen !



JAWABAN
O) *.- ^}4uOO-
1gOO-

1. the knower(aspek ontologi)
A. ASPEK ONTOLOGI
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
Dalam kaitan dengan ilmu, aspek ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh
ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang
berada dalam jangkauan pengalaman manusia dan terbatas pada hal yang sesuai dengan akal
manusia.
Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta
universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Dalam rumusan
Lorens Bagus; ontology menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua
bentuknya.
Ontologi adalah hakikat yang ada yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut
sebagai kenyataan dan kebenaran. Ontologi menurut Anton Bakker (1992) merupakan ilmu
pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh..
1. Objek Formal
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif,
realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan
tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.
2. Metode dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi
fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat
khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri
semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetengahkan prinsip umum yang menjadi
dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Aspek ontologi ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan/ditelaah secara :
a. Metodis; Menggunakan cara ilmiah
b. Sistematis; Saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan
c. Koheren; Unsur-unsurnya harus bertautan,tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan
d. Rasional; Harus berdasar pada kaidah berfikir yang benar (logis)
e. Komprehensif; Melihat obyek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara
multidimensional atau secara keseluruhan (holistik)
f. Radikal; Diuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya
g. Universal; Muatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku di mana saja
Ontologi adalah suatu spesifikasi formal dan eksplisit dari konseptualisasi yang dapat
dibagi.Yang dimaksud dengan konseptualisasi adalah suatu model abstrak dari fenomena-
fenomena yang ada pada dunia nyata. Sedangkan kata eksplisit menunjukkan bahwa tipe dari
konsep-konsep yang ada berikut relasinya didefinisikan secara terbuka dan dengan tujuan
tertentu. Kata formal merujuk pada fakta bahwa suatu ontologi haruslah bisa dibaca dan diakses
oleh mesin (machine-readable and accessible). Konseptualisasi tersebut dapat dibagi karena
ontologi menangkap pengetahuan-pengetahuan yang telah disetujui oleh suatu kelompok.
Ontologi adalah ilmu tentang definisi, jenis, dan struktur dari obyek, properti-properti, kejadian-
kejadian, proses-proses dan relasi-relasi yang ada dalam setiap area kenyataan.
keterkaitanya Aspek Ontologi dalam Manajemen
Landasan Ontologi Ilmu Manajemen, Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis
dari manajemen. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan manajemen melalui pengalaman
pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kwalitas maupun
kwantitas hasil yang dicapai. Objek materi ilmu manjemen ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh
kegiatan ekonomi (bisnis), yaitu, Perencanaan, pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan,
pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negosiasi serta pengembangan organisasi) dan
pengendalian (Meliputi Pemantauan,penilaian, dan pelaporan)
Tema dari tulisan ini adalah dengan pertimbangan bahwa globalisasi berdampak pada hampir semua
keputusan manajemen. Misalnya Internet telah mengubah hakikat pembelian dan penjualan di hampir
semua industri, serta telah mengubah secara mendasar perekonomian dan bisnis setiap industri di seluruh
dunia. Internet telah menjadi suatu alat manajemen strategis penting sudah merasuk pada masyarakat.
Lingkungan hidup telah menjadi suatu isu strategis yang penting sudah merambah kedesa-desa yang
masih perawan.



B.knowing(aspek epistemologi)
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua
kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan,
sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik.
Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai
pengetahuan. Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologi
sebagai The Study of method and ground of knowledge, especially with reference to its
limits and validity. Paul Edwards, dalam The Encyclopedia of Philosophy, menjelaskan
bahwa epistemologi adalah the theory of knowledge. Pada tempat yang sama ia
menerangkan bahwa epistemologi merupakan the branch of philosophy which
concerned with the nature and scope of knowledge, its presuppositions and basis, and the
general reliability of claims to knowledge.

Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika
dibedakan menjadi dua, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari
struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari hal
pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi.
Gerakan epistemologi di Yunani dahulu dipimpin antara lain oleh kelompok yang disebut
Sophis, yaitu orang yang secara sadar mempermasalahkan segala sesuatu. Dan kelompok
Shopis adalah kelompok yang paling bertanggung jawab atas keraguan itu.
Oleh karena itu, epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu
disiplin yang disebut Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan
untuk menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar. Critica berasal dari
kata Yunani, krimoni, yang artinya mengadili, memutuskan, dan menetapkan. Mengadili
pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang agak dekat dengan episteme
sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya.
Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak
diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan,
asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.
Masalah epistimologi bersangkutan dengan pertanyaan-partanyaan tentang
pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba
untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui.Sebenarnya kita baru
dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-
pertanyaan epistimologi.
Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh
pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai
hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat
menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian
yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Dalam penyelesaiaan masalah epistimologi hendaknya kita mempelajari naskah psikologi
yang baik dalam bab-bab mengenai pengindraan, pencerahan, penyimakan dan
pemikiran, karena di dalam suatu penyelesaian yang di sarankan terhadap masalah,
bahan-bahan keterangan yang terdapat di dalam naskah tersebut harus di perhitungkan.
Makna pengetahuan jika di katakana masalah epistimologi bersangkutan dengan
pertanyaan tentang pengetahuan, apakah yang kita maksudkan dengan pengetahuan? Di
misalkan saya berkata Saya mempunyai pengetahuan tentang kenyataan bahwa Caesar
telah di bunuh, atau Saya tahu siapa yang membunuh Cock Robin. Tepatnya, apakah
yang saya maksudkan? Yang pertama di antara kedua pernyataan tersebut dapat di
singkat membacanya,Saya tahu Bahwa Caesar di bunuh. Dapatlah kiranya di mengerti
bahwa kapanpun kita mempunyai pengetahuan, maka pengetahuan itu merupakan
pengetahuan mengenai sesuatu. Demikianlah di dalam kedua kalimat tersebut, terdapat
fakta-fakta: Caesar telah di bunuh dan Cock Robin di bunuh oleh seseorang yang saya
ketahui.
C.aksiologi (aspek knowledge)

Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti
sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori
nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran
atau suatu sistem seperti politik, social dan agama. Sistem mempunyai rancangan
bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu
institusi dapat terwujud.
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah
polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut
sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang
didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value baound. Sekarang
mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan
pada keterikatan nilai.
Bagi ilmuwan yang menganut faham bebas nilai kemajuan perkembangan ilmu
pengetahuan akan lebih cepat terjadi. Karena ketiadaan hambatan dalam melakukan
penelitian. Baik dalam memilih objek penelitian, cara yang digunakan maupun
penggunaan produk penelitian. Sedangkan bagi ilmuwan penganut faham nilai terikat,
perkembangan pengetahuan akan terjadi sebaliknya. karena dibatasinya objek penelitian,
cara, dan penggunaan oleh nilai.
Kendati demikian paham pengetahuan yang disandarkan pada teori bebas nilai
ternyata melahirkan sebuah permasalahan baru. Dari yang tadinya menciptakan
pengetahuan sebagai sarana membantu manusia, ternyata kemudian penemuannya
tersebut justru menambah masalah bagi manusia. Meminjam istilah carl Gustav Jung
bukan lagi Goethe yang melahirkan Faust melainkan Faust-lah yang melahirkan
Goethe.
Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika.
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah
moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia.
Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi
pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan
mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam
buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran
kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Isi
dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-
norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri, etika
tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah
pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi
dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Dalam perkembangan sejarar etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafat
moral yaitu, hedonisme, eudemonisme, utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adalah
padangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesenangan.
Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan tujuan manusia
adalah kebahagiaan. Selanjutnya utilitarisme, yang berpendapat bahwa tujuan hukum
adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-
perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati. Selanjutnya deontologi,
adala h pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant,
yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak baik. Semua hal lain
disebut baik secara terbatas atau dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila
digunakan dengan baik oleh kehendak manusia. Sementara itu, cabang lain dari aksiologi,
yakni estetika dibahas dalam sesi lain. yang jelas, estetika membicarakan tentang indah
dan tidak indah.

Keterkaitannya dalam bidang manajemen dari ketiga aspek tersebut yakni sebagai
berikut :

Setiap pembahasan tentang gejala atau objek sesuatu ilmu pengetahuan (Ilmu
manajemen), paling sedikit kita pertanyakan.
(1) apa hakikat gejala/objek itu (landasan ontologis).
(2) bagaimana cara mendapatkan atau penggarapan gejala/objek itu (landasan
epistemologis).
(3) apa manfaat gejala/objek itu (landasan aksiologis).
Landasan Ontologi Ilmu Manajemen, Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan
dasar ontologis dari manajemen. Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan
manajemen melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara
empiris baik yang berupa tingkat kwalitas maupun kwantitas hasil yang dicapai. Objek
materi ilmu manjemen ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan ekonomi
(bisnis), yaitu, Perencanaan, pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan,
pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negosiasi serta pengembangan
organisasi) dan pengendalian (Meliputi Pemantauan,penilaian, dan pelaporan)
Tema dari tulisan ini adalah dengan pertimbangan bahwa globalisasi berdampak
pada hampir semua keputusan manajemen. Misalnya Internet telah mengubah hakikat
pembelian dan penjualan di hampir semua industri, serta telah mengubah secara
mendasar perekonomian dan bisnis setiap industri di seluruh dunia. Internet telah menjadi
suatu alat manajemen strategis penting sudah merasuk pada masyarakat. Lingkungan
hidup telah menjadi suatu isu strategis yang penting sudah merambah kedesa-desa yang
masih perawan.
Manajemen adalah tentang bagaimana mencapai dan mempertahankan keunggulan
kompetitif. Dengan definisinya sebagai Ilmu pengetahuan dan seni perumusan dalam
menerapkan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan suatu
Organisasi untuk mencapai tujuannya telah menimbulkan Istilah Manajemen yang
bersinonim dengan Perencanaan namun Manajemen: lebih sering digunakan didalam
dunia akademis, sedangkan perencanaan lebih sering digunakan didalam dunia bisnis
termasuk tapi tidak dibatasi oleh Organisasi Manajemen yang mengacu pada perumusan,
implementasi dan evaluasi strategi. Sedangkan perencanaan lebih mengacu pada
perumusan strategi.
Secara bertahap Manajemen dikembangkan dalam:
(a) Tahap I Perumusan meliputi Visi dan Misi, Peluang dan Tantangan, Kekuatan dan
Kelemahan, Saaran Jangka Panjang, Strategi Alternatif, Pemilihan Strategi.
(b) Tahap II Implementasi meliputi Sasaran Tahunan, Kebijakan, Motivasi Karyawan,
Alokasi Sumber Daya.
(c) Tahap III Evaluasi meliputi Peninjauan Internal dan Eksternal, Mengukur Kinerja,
Tindakan Perbaikan.
Landasan Epistemologis Manajemen menurut Husaini (2006:7) pengertian manajemen
adalah seni atau ilmu mengelola sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia
(SDM) untuk mewujudkan suasana atau kegiatan ekonomi (bisnis) dan proses dalam
bisnis agar seorang produsen (pengusaha) secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaa, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Manajemen dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya alam
(SDA) dan sumber daya manusia (SDM) mencapai tujuan ekonomi secara efektif dan
efisien. Sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) adalah sesuatu alat
yang dipergunakan dalam penyelenggaraan kegiatan ekonomi yang meliputi enam hal:

(1) administrasi peserta (pelaku ekonomi)
(2) administrasi tenaga kerja (SDM)
(3) administrasi keuangan
(4) administrasi sarana dan prasarana
(5) admistrasi hubungan pelaku (produsen) dengan masyarakat (konsumen)
(6) administrasi layanan khusus.

Perencanaan adalah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan
pada suatu periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan.
Tujuan perencanaan adalah:
(1) standar pengawasan
(2) Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan ekonomi.
(3) mengetahui siapa saja yang terlibat
(4) mendapatkan kegiatan yang sitematis
(5) meminimalkan kegiatan yang tidak produktif
(6) mendeteksi hambatan dan kesulitan yang ditemui
(7) mengarahkan pada pencapaian tujuan.

Manfaat dari perencanaan adalah :
1.sebagai standar pengasaan dan pengawasan.
2.pemuilihan sebagai alterbatif terbaik
3.penyusunan skala proritas, baik sasaran maupun kegiatan
4.membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
6.alat yang memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait.
7.alat yang meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti.
Pengorganisasian adalah (1) penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan organisasi, (2) proses perencanaan dan pengembangan suatu
organisasi, (3) penguasaan tanggung jawab tertentu, (4) pendelegasian wewenangyang
diperlukan untuk individu-individu dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Tiga komponen pengorganisasian:
1. ada kerja sama.
2. ada orang (pelaksana).
3. adanya tujuan bersama.

Manfaat Pengorganisasian adalah:
1.Mengatasi terbatasnya kemampuan, kemauan, dan sumber dayayang dimiliki.
2.untuk mencapai tujuan yang lebih efektif dan efesien,
3.wadah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara bersama-sama.
4.wadah mengembangkan potensi dan spesialisasi yang dimiliki sesorang.
5.wadah mendapatkan jabatan dan pembagian kerja.
6.dawah mencari keuntungan bersama.
7.wadah mengelola lingkungan bersama-sama.
8.wadah menggunakan kekuasaan dan pengawasan
9.wadah mendapatkan pengahrgaan.
10.wadah memenuhi kebutuhan manusia.
11.wadah menambah pergaulan

Salah satu fungsi manejeman adalah pengerahan atau pelaksanaan. Setelah
melaksanakan perencaan dan pengorganisian yang terpenting adalah implementasi dari
perencaaan yaitu pelaksaan. Pelasanaan dalam program organisasi sangat terggantung
dari dua aspek, yaitu: Kepemimpinan, dan motivasi kerja anggota organisasi. Antar
pemimpin dan pelaksana mempunyai tugas dan bertanggung jawab masing masing atas
tugasnya. Program tidak akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan apabila tidak
didukung oleh kepemimpinan yang kuat dan motivasi kerja para anggota organisasi.
Pengendalian adalah proses pemantauan, penilaian dan pelaporan perencanaan atas
pencapaian tujuan yang dicapai yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna
penyempurnaan lebih lanjut. Pengendalian sering disebut dengan pengawasan atau
controlling, tujuannnya adalah:

1. Menghentikan atau meniadakan masalah, penyimpangan, penyelewengan,
pemborosan, banbatan dan ketidak adilan.
2. Mencegah terulangnya kembali kesalahan penyimpangan, penyelewengan,
pemborosan, banbatan dan ketidak adilan.
3. Menciptakan cara yang lebih baik untuk membina yang telah baik.
4. Menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, partisipasi dan akuntabilitas organisasi.
5. Meningkatkan kelancaran operasi organisasi.
6. Memberikan opini atas kerja organisasi.

Menciptakan terwujudnya pemerintahan yang bersih. Manfaat pengawasan adalah
menigkatnya akuntabilitas dan keterbukaan dalam organisasi. Dasar epistemologis
diperlukan dalam manajemen atau pakar ilmu Manajemen demi mengembangkan
ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalipun pengumpulan data di
lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga pemula namun telaah atas objek formil
ilmu manajemen memerlukaan pendekatan fenomenologis yang akan menjalin studi
empirik dengan studi kualitatif-fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat
kualitaatif, artinya melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data
secara pasca positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh
ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya. Karena penelitian
tertuju tidak hanya pemahaman dan pengertian (verstehen, Bodgan & Biklen, dalam
Umaedi: 1999). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni
pengelolaan peningkatan mutu atau kualitas di masa mendatang harus berbasis
manajemen sebagai institusi paling depan dalam kegiatan ekonomi. Pendekatan ini,
kemudian dikenal dengan sekolah manajemen (School Based Quality Management) atau
dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut School Based
Quality Improvement.

Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah ini ditulis dengan tujuan;
a. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah bisnis
khususnya kepada masyarakat.
b. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplentasikan dengan
mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman
kultural, sosio-ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya.
c. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan
individu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan.
d. Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlibat dan berpikir mengenai peningkatan
mutu pendidikan/pada sekolah masing masing.
e. Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis
dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.
f. Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan
pendidikan dari individu dan masyarakat sekolah yang berada di garis paling depan
dalam proses pembangunan tersebut.
g. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung
jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan
(terus menerus) pada tataran sekolah.
h. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada tiap sekolah harus dirumuskan
dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun.
Peran Esensial Pemimpin Kepemimpinan mempunyai peran strategis dalam upaya
perbaikan kualitas. Setiap anggota organisasi harus memberikan konstribusi penting
dalam upaya tersebut. Namun, setiap upaya perbaikan yang tidak didukung secara aktif
oleh pimpinan, komitment, kreatifitas, maka lama-kelamaan akan hilang.

Dasar Aksiologis Managemen, Aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan
mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain nilai-
nilai tersebut ditanamkan dalam pribadi para pemimpin bisnis (Manajer), staf dan
pegawai. Sesuai dengan tujuannya, maka manfaat manajemen adalah;
Pertama, terwujudnya suasana ekonomi dan proses kegiatan perekonomian yang Aktif,
Inovative, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).
Kedua, terciptanya pelaku kegiatan ekonomi yang aktif mengembangkan potensinya
untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Ketiga, terpenuhinya salah satu dari 4 kompetensi tenaga kerja (tertunjangnya
kompetensi profesional sebagai pelaku ekonomi dan tenaga kerja sebagai manajer).
Keempat, tercapainya tujuan perekonomian secara efektif dan efisien.
Kelima, terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas
administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer pendidikan atau
konsultan manajemen pendidikan); Keenam, teratasinya masalah mutu
pendidikan.(Husaini, 2006:8)

Kemanfaatan teori Manajemen pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom
tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan
sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai manajemen
pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan
juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam
praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh
yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai
mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan administrasi pendidikan
dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan
pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu
sebabnya pendidikan memerlukan teknologi pula untuk menjembatani persoalan yang
sedang berlangsung maupun yang akan terjadi.







2. Ilmu Sebagai Proses
Definisi Ilmu sebagai Proses, Prosedur, Produk, dan Masyarakat
Istilah ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang cukup bermakna ganda, yaitu
mengandung lebih dari satu arti. Oleh karena itu, dalam memakai istilah tersebut seseorang harus
menegaskan atau sekurang-kurangnya menyadari arti nama yang dimaksud
Jadi, yang dimaksud ilmu sebagai proses di sini adalah ilmu secara nyata dan khas merupakan
suatu aktivitas manusia yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia, ilmu
tidak hanya aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan
suatu proses.

Ilmu Sebagai Metode

Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu
maksud. Dalam kamus Inggris-Indonesia berasal dari kata Method yang berarti metode, cara.
Jadi metode adalah suatu proses atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip-
prinsip dan tehnik ilmiah yang dipakai oleh suatu disiplin untuk mencapai suatu tujuan
Dalam pembicaraan mengenai masalah ilmu pengetahuan, yang dimaksudkan dengan
metode adalah tentu saja yang dipergunakan oleh ilmu pengetahuan. Metode yang bersifat
keilmuan, atau sering disebut metode ilmiah.
Metode ini perlu, agar tujuan keilmuan yang berupa kebenaran obyektif dan dapat
dibuktikan bisa dicapai. Oleh sebab itu, dengan metode, kedudukan suatu pengetahuan sebagai
ilmu pengetahuan menjadi benar dan tetap.
Ilmu pada dasarnya sama dengan pengetahuan, karena keduanya memiliki obyek. Jadi untuk
mencapai suatu kebenaran maka ilmu itupun harus sesuai dengan obyeknya.
Persesuaian antara pengetahuan dengan obyeknya (kebenaran) harus dicari jalan tertentu
untuk mencapai kebenaran, cara untuk mencapai kebenaran itu dalam ilmu ini disebut metode
Kebenaran tentang suatu obyek dalam keseluruhannya yang telah dicapai dengan
mempergunakan metode, serta dirumuskan secara baik sehingga mencakup seluruh obyek serta
dengan aspek-aspeknya disebut sistem. Dengan demikian jika pengetahuan hendak disebut ilmu,
maka harus memiliki obyek, metode dan sistem.
Dengan menggunakan metode-metode teknik ilmu dapat membantu manusia untuk
memberi pengaruh langsung kepada kehidupan dan cara berfikir. Sebab kemampuan dalam
menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan kemampuan di bidang metodologi
sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat dikembangkan.

Ilmu Sebagai Produk
Ilmu sebagai produk berarti ilmu merupakan kumpulan pengetahuan sistematisyang
merupakan produk dari aktivitas penelitian dengan metode ilmiah sebagai sistem pengetahuan.
Ilmu menurut salah satu maknanya adalah pengetahuan. Pengetahuan itumengenai sesuatu pokok
soal (objek materi) dan berdasarkan suatu titik pusat minat(objek formal). Objek formal dan
objek materi ini kemudian membentuk sasaran yangsesuai dengan ilmu yang bersangkutan
ilmu sebagai produk menggambarkan hasil-hasil yang berupa karya ilmiah,
teori, paradigma, teknologi. Sehingga ilmu sebagai produk adalah bebas nilai menurut
sebagianahli. Adapun menurut sebagian lainnya ilmu tidaklah bebas dari nilai etik yang
menggiringnya menuju produk yang dapat memberikan kemanfaatan kepadakemanusiaan, bukan
malah sebaliknya





Contoh Pembahasan dalam ilmu Manajemen dari ketiga aspek Ilmu Sebagai
Proses,Ilmu sebagai metode,dan Ilmu sebagai Produk

Manajemen merupakan ilmu ilmu yang saling berhubungan antara ke tiga aspek tersebut
karena meliputi Proses,Metode/cara dan Produk tentu saja ini menjadi seni yang mengatur
proses pemanfaatan sumber daya manusia dan non manusia dalam rangka mencapai tujuan
tertentu. llmu teknik manajemen didasari oleh konsep bahan tugas manajer (orang yang
melaksanakan manajemen) yaitu untuk merancang dan mendukung pelaksanaan pekerjaan
individu pada saat kelompok, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Manajemen semakin dibutuhkan setelah adanya pemisahan antara Rumah Tangga Kunsumen
(RTK) dan Rumah Tangga Produsen (RTP), dalam hal ini adalah dua pihak yang paling
membutuhkan, di mana konsumen dapat memenuhi kebutuhannya dengan berbagai jenis barang
yang disediakan produsen, dan produsen dapat menjual barang-barangnya yang betul-betul
dibutuhkan konsumen sesuai dengan selera, mode dan daya belinya.
Produksi yaitu suatu kegiatan yang menciptakan atau meningkatkan kegunaan suatu barang.
Peningkatan atau penambahan kegunaan suatu barang bisa melalui kegunaan tempat, kegunaan
waktu, kegunaan bentuk atau gabungan dari beberapa kegunaan tersebut.
Untuk perusahaan-perusahaan saat ini cenderung dapat menggabungkan beberapa kegunaan
sekaligus suatu barang, baik kegunaan waktu, tempat, maupun kegunaan bentuk. Hal ini
diciptakan untuk dapat mengantisipasi kebutuhan konsumen yang bersifat heterogen (berbeda-
beda).
Manajemen Produksi
Fungsi manajemen yang paling mendasar yaitu adanya Perencanaan, Pengorganisasian,
penempatan Sumber Daya Manusia (Staffing), pemberian motivasi dan fungsi yang terakhir
adalah kegiatan pengawasan yang mutlak harus dilakukan oleh setiap organisasi atau perusahaan.
Manajemen produksi merupakan proses manajemen yang diterapkan dalam bidang produksi.
Proses manajemen produksi adalah penggabungan seluruh aspek yang terdiri dari produk, pabrik,
proses, program dan manusia.
lstilah-istilah yang biasa digunakan dalam manajemen produksi yaitu produksi, produk,
produsen, produktivitas, proses produksi, sistem produksi, perencanaan produk, perencanaan
produksi, dan luas perusahaan.
Sistem Produksi
Sistem adalah sekumpulan bagian-bagian yang saling berhubungan dengan satu sama lain, dan
bersama-sama beraksi menurut pola tertentu terhadap input dengan tujuan menghasilkan output.
Sistem produksi yaitu sekumpulan sub-sistem yang terdiri dari pengambilan keputusan, kegiatan,
pembatasan, pengendalian dan rencana yang memungkinkan berlangsungnya perubahan input
menjadi output melalui proses produksi. Sedangkan sub-sistem yang terlibat dalam kegiatan
produksi adalah: subsistem input, subsistem output, subsistem perencanaan dan subsistem
pengendalian.
Proses Produksi
Proses produksi yaitu suatu cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah
kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin,
bahan-bahan dan dana) yang ada. Adapun jenis proses produksi secara garis besar dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu proses produksi terus menerus (Continuous processes) dan proses
produksi yang terputus-putus (Intermittent Process). Sedangkan jenis proses produksi yang
didasarkan atas kepentingan yang berbeda, maka jenis proses produksi terdiri dari proses
produksi menurut wujudnya dan proses produksi menurut pengawasan proses produksi yang
bersangkutan.
Proses Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi merupakan penentuan tujuan pokok (tujuan utama) organisasi beserta
cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Langkah-langkah pokok perencanaan terdiri dari;
menetukan tujuan yang akan dicapai, menentukan kedudukan perusahaan dalam kaitannya
dengan tujuan yang hendak dicapai, menentukan faktor-faktor yang mendukung atau
menghambat tercapainya tujuan tersebut dan merumuskan kegiatan yang harus dilaksanakan.
Kegiatan produksi dapat dilakukan dengan tiga macam pendekatan yaitu; Pendekatan
perkembangan yang menguntungkan (Profitable Growth Approach), Pendekatan SWOT
(Strenghth, Weakness, Opportunity and Threathment) dan Pendekatan Sistem.

UNSUR-UNSUR UTAMA DALAM PROSES MANAJEMEN

Karena dalam ilmu-ilmu manajemen terdapat unsur-unsur atau komponen-komponen yang
membuatnya menjadi suatu proses yang berifat mengatur dan mengontrol, unsur tersebur
seperti:

1. Perencanaan: memutuskan apa yang harus terjadi di masa depan (hari ini, minggu depan,
buland epan, tahun depan, setelah lima tahun, dsb.) dan membuat rencana untuk dilaksanakan.
Planning adalah kegiatan seorang manajer dalam menyusun rencana. Menyusun rencana berarti
memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Agar dapat membuat
rencana secara teratur dan logis, sebelumnya harus ada keputusan terlebih dahulu sebagai
petunjuk langkah-langkah selanjutnya.
Dalam perencanaan, ada proses seperti 1) pemilihan atau penetapan tujuan dari organisasi, dan 2)
penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, anggaran dan standar
yang dibuthkna untuk mencapai tujuan.

2. Pengorganisasian: membuat penggunaan maksimal dari sumberdaya yang dibutuhkan untuk
melaksanakan rencana dengan baik.
Organizing berarti menciptakan suatu struktur organisasi dengan bagian-bagian yang terintegrasi
sedemikian rupa sehingga hubungan antarbagian-bagian satu sama lain dipengaruhi oleh
hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut.
Pengorganisasian bertujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih
kecil. Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang
yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.

Pengorganisasian seperti, 1)penentuan sumberdaya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan organisasi, 2) perencanaan dan pengembangan suatu organisasi, 3) penugasan
tanggung jawab tertentu, dan 4) pendelegasian wewenang yang di[perlukan kepada individu
untuk melaksanakan tugas-tugasnya.

3. Leading/Kepemimpinan dan motivasi: memakai kemampuan di area ini untuk membuat yang
lain mengambil peran dengan efektif dalam mencapai suatu rencana.
Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha
untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi
actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau
penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif.
Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).

4. Pengendalian: monitoting memantau kemajuan rencana, yang mungkin membutuhkan
perubahan tergantung apa yang terjadi
Controlling adalah proses pengawasan performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya
perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk
menemukan masalah yang ada dalam operasional perusahaan, kemudian memecahkannya
sebelum masalah itu menjadi semakin besar mengevaluasinya
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam
proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk
mencapai tujuan.