Anda di halaman 1dari 6

pemeriksaan pada strabismus riwayat: riwayat pada pasien sangat penting dalam menentukan diagnosis strabismus riwayat keluarga:

strabismus dan amblyopia sering terjadi dan diturunkan melalui genetic keluarga onset : hal ini juga merupakan factor penting . makin cepat onset, makin buruk prognosis dari strabismus gejala: mengindikasikan dekompensasi dari heterophoria atau yang didapat belakangan tipe deviasi: ketidaksejajaran dapat terjadi kea rah manapun, dapat lebih berat pada posisi gaze tertentu, termasuk pada posisi primer jarak jauh ataupun dekat fiksasi: satu mata dapat terdeviasi secara konstan , atau fiksasi secara bergantian dapat terlihat visual acuity cover-uncover test alternate cover test

prism and alternate vover test

fusi sensoris Visual axis :garis yang melewati fovea, menembus nodal point mata menuju fiksasi (dalam hal ini objek) pada binocular single vision (BSV ) 2 visual axis berinterseksi pada titik fiksasi, yang disejajarkan oleh releks fusi dan digabungkan oleh sel responsive binokuler pada visual cortex yang menjadikan BSV Orthophoria Heterophoria: kecenderungan mata untuk deviasi ketika kemampuan fusi diblok (latent squint). Bila hal ini tidak dapat dikoreksi oleh reflex fusi, maka menyebabkan dekompensasi yaitu terjadinya diplopia Heterotropia: manifestasi dimana deviasi dari axis visual tidak bertemu pada titik fiksasi. Gambaran dari dua mata tidak sejajar atau sering pada anak2, di supres pada level kortikal. Pada anak-anak hal ini dapat disebabkan oleh kegagalan perkembangan system fusi binokuler atau hasil dari oculomotor imbalance sebagai akibat sekunder dari perbedaan refraksi kedua mata (ametropia) Anatomical axis: garis yang melewati pole posterior menembus centre kornea. Karena fovea biasanya sedikit temporal dari center antomis dari pole posterior mata, axis visual biasnaya tidak mengikuti axis anatomis dari mata Angle Kappa: sudut yang dibentuk dari axis visual dan axis anatomis, biasanya sekitar 5

MOTORIS

HUKUM OKULER MOTILITAS


Agonist-antagonist pairs arc muscles or the same eye that move the eye in opposite directions. The agonist is the primary muscle moving the eye in a given direction. The antagonist acts in the opposite direction to the agonist. For example the right lateral rectus is the antagonist to the right medi,d rectus. 2. Synergists are muscles or the same eye that move the eye in the same direction. For example. the right superior rectus and right inrerior oblique act synergistie<dly in elevat ion. 3. Yoke muscles (contralateral synergists) are pairs or muscles. one in each eye. that produce conjugate ocular movements. For example. the yoke muscle or the left superior oblique is the right inrerior rectus. 4. Sherrington law or reciprocal innervation (inhibition) states that increased innervation to an extraocular muscle (e.g. right medial rectusl is accompanied by a reciproe<d decrease in innervation to its antagonist (e.g. right lateral rectus) (Fig. 20.10). This means that when the medial rectus conlr,lcts the latentl rectus autom,ltically relaxes and vice versa. Sherrington law applies to both versions and vcrgences. 5. Hering law or equal innervation states that during any conjugate eye mO\'ement. equal and simultaneous innervation nows to the yoke muscles (Fig. 20.!!). In the case or a paretic squint. the amount or innervation to both eyes is symmetrical. and always determined by the lixating eye. so that the angle or deviation will vary according to which eye is used ror lixation. For example if. in the case or a left lateral rectus palsy. the right normal eye is used ror I1xation. there \\'ill be an in\\'ard deviation or the left eye due to the unopposed action or the antagonist or the paretic left lateral rectus (left medial rectus). The amount or misalignment or the t\\'o eyes in this situation is called the primary deviation (Fig. 20.!2. leli). II' the paretic left eye is no\\' used I()r lixation. additional innervation will rIow to the leli lateral rectus. in order to establish Ihis. Ho\\'ever. according to Hering law. an equal amount or innervation will also !low to the right medial rectus (yoke muscle). This \\'ill result in an overaction or the right medial rectus and an excessive amount or adduction or the right eye. The amount or misalignment bet\\'een the two eyes in this sitlwtion is called the secondary deviation (Fig. 20.!2. right). In a paretic squint. the secondary deviation exceeds the primary deviation. 6. Muscle sequelae are the efrects or the intenlctions described by these la\\'s. They are or prime importance

ADAPTASI TERHADAP STRABISMUS