Anda di halaman 1dari 14

A. Analisis Masalah Untuk menjawab permasalahan di atas, penulis menggunakan analisis sebagai berikut : 1.

Analisis Pelaksanaan Penatausahaan BMN Pelaksanaan penatausahaan BMN pada Kanwil XV DJKN laksanakan oleh subag Tata Usaha (eselon IV) serta di bantu oleh empat pelaksana. Untuk analisis ini, penulis melihat langsung data hasil pembukuan penatausahaan yang dilakukan oleh sub bagian TU di lapangan. Dari data yang diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: Table I Kegiatan Pembukuan BMN tahun 2007 - 2009 No Kegiatan pembukuan Tahun anggaran 2007 2008 2009 1 - Buku Barang Intrakomptabel - BukuBarang Ekstrakomptabel - Buku Barang Persediaan - Buku Barang Konstruksi Dalam Pengerjaan V V X XV V X XV V X V 2 - KIB Tanah - KIB Bangunan - KIB Alat Angkutan V V VV V VV V V 3 - Daftar Barang Ruangan - Daftar Barang Lainnya V XV XV V 4 Mencatat perubahan kondisi barang ke dalam Buku Barang X X V 5 Mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang bersumber dari pengelolaan BMN V V V 6. menggunakan Sistem Aplikasi yang sudah ada (SIMAK-BMN) V V V 7 Membuat Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) V V V 8. Menggunakan aplikasi persediaan X V V Sumber : data dan keterangan responden Keterangan : V = ya,telah dilaksanakan, X = tidak, belum dilaksanakan Table II Kegiatan Inventarisasi BMN tahun 2007 - 2009 No Kegiatan inventarisasi 2007 2008 2009

1 melakukan inventarisasi BMN sekurang-kurangnya dalam 5 tahun V X X 2 melakukan inventarisasi Persediaan setiap tahun X X X 3 melakukan inventarisasi Konstruksi Dalam Pekerjaan (KDP) setiap tahun X X X Sumber : data dan keterangan responden Table III Kegiatan Pelaporan BMN tahun 2007 - 2009 No Kegiatan pelaporan 2007 2008 2009 1 menyusun Laporan Barang Kuasa Pengguna (LBKP) semesteran V V V 2 menyusun Laporan Barang Kuasa Pengguna (LBKP) tahunan V V V 3 Menyusun laporan BMN di Neraca per semester / tahunan V V V 4 Membuat laporan kondisi barang V V V 5. Membuat laporan persediaan semesteran / tahunan X V V 6. Membuat laporan konstruksi dalam pekerjaan semesteran / tahunan X X X Sumber : data dan keterangan responden dari table kegiatan diatas terlihat bahwa kegiatan pembukuan barang intrakomptabel dan ekstrakomptabel telah dilaksanakan tetapi pada laporan persediaan baru dilaksanakan pada tahun 2009, sedangkan untuk buku barang konstruksi dalam pekerjaan (KDP) belum pernah dilaksanakan hingga tahun 2009. Kartu Inventaris Barang (KIB), Daftar Barang Ruangan (DBR), laporan PNBP telah dibuat hingga tahun 2009, begitupun pemakaian aplikasi penatausahaan BMN telah menggunakan SABMN tahun 2007 dan SIMAK BMN ditahun 2008 hingga tahun 2009. Aplikasi persediaan untuk tahun 2007 belum dilaksanakan karena pada saat itu aplikasi yang digunakan masih aplikasi SABMN, dimana aplikasi ini belum menampung pelaporan persediaan. Petugas penatausahaan telah membuat pelaporan persediaan secara manual atau non SABMN, hanya saja perhitungan nilai persediaan di akhir periode pelaporan belum menggunakan formula yang telah diatur. Untuk kegiatan inventarisasi BMN telah di laksanakan ditahun 2007 oleh tim Kanwil XV di bantu Tim penertiban BMN. Pada kegiatan ini dilaksanakan juga penilaian BMN untuk BMN yang tergolong intrakomptabel dan diperoleh tahun 2004 kebawah. Untuk persediaan dan KDP belum pernah dilakukan inventarisasi oleh petugas penatausahaan BMN Kanwil, padahal di peraturan penatausahaan BMN di atur agar satker melaksanakan invetarisasi melalui opname fisik setiap tahunnya. pelaporan BMN telah dilaksanakan sesuai aturan baik per semesteran maupun tahunan. Dari kegiatan pembukuan dapat di simpulkan kanwil XV DJKN telah melaksanakan pembukuan BMN sesuai penatausahaan BMN secara umum dengan baik, hanya saja pelaksanaan penatausahaan persediaan dan KDP yang belum berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari kegiatan pembukuan, inventarisasi dan laporan KDP yang belum pernah dilaksanakan hingga tahun 2009. Dengan tidak dilaksanakannya opname fisik, tentunya akan memberikan pengaruh terhadap nilai yang dilaporan pada data BMN, sehingga data BMN tidak mencerminkan nilai barang persediaan yang sesungguhnya. Hal ini akan menyebabkan tidak akuratnya data persediaan dan data KDP yang disajikan. 2. Analisis Data Laporan BMN Table IV Laporan Posisi BMN di neraca SAKPA dan SIMAK tahun 2007 2009 No AKUN NERACA SIMAK-BMN SAKPA Selisih 1 Semester II Tahun 2007 Persediaan Tanah

Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Aset Tetap Lainnya Aset tak berwujud lainnya Jumlah 10.700.013 1.159.105336 22.040.980 1.191.846.329 17.275.730 10.700.013 1.159.105.336 22.040.980 1.209.122.059 -17.275.730 -17.275.730 2 Semester I Tahun 2008 Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Aset Tetap Lainnya Aset tak berwujud lainnya Jumlah 47.281.085 10.700.013 1.451.065.342 22.040.980 1.897.000 1.532.984.420 47.281.085 10.700.013 1.451.065.342 22.040.980 1.897.000 1.532.984.420 -

3 Semester II Tahun 2008 Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Aset Tetap Lainnya Aset tak berwujud lainnya Aset tetap yg tdk di-gunakan dlm opers pemrnth Jumlah 38.221.850 328.560.000 1.296.246.606 208.800.000 3.629.000 17.296.400 5.360.000 1.898.113.856 38.221.850 328.560.000 1.296.246.606 208.800.000 3.629.000 17.296.400 5.360.000 1.898.113.856 4 Semester I Tahun 2009 Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Aset Tetap Lainnya Aset tak berwujud lainnya Aset tetap yg tdk di-gunakan dlm opers pemrnth

Jumlah 58.385.200 328.560.000 1.630.089.106 208.800.000 3.629.000 17.296.400 5.360.000 2.252.119.706 58.385.200 328.560.000 1.630.089.106 208.800.000 3.629.000 17.296.400 5.360.000 2.252.119.706 5 Semester II Tahun 2009 Persediaan Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Aset Tetap Lainnya Aset tak berwujud lainnya Aset tetap yg tdk di-gunakan dlm opers pemrnth Jumlah 80.441.000 328.560.000 1.898.247.680 208.800.000 16.595.360 17.296.400 5.360.000 2.555.300.440 80.441.000 328.560.000 1.794.037.106 208.800.000

7.622.000 17.296.400 5.360.000 2.442.116.506 104.210.574 8.973.360 113.183.934 Sumber : diolah oleh penulis dari laporan neraca SIMAK-BMN dan SAKPA Dari table IV di atas terlihat bahwa neraca SIMAK-BMN dan SAKPA di tahun 2007 pada akun neraca persediaan terdapat selisih Rp 17.275.730,- . Hal ini di sebabkan karena di tahun 2007, Kanwil XV DJKN Makassar masih menggunakan aplikasi SABMN untuk menatausahakan BMN. Aplikasi ini belum menampung transaksi persediaan sehingga di masukkan ke SAKPA secara manual dengan menggunakan pembukuan manual yang ada. Nilai persediaannya pun didapatkan tanpa melaksanakan cek fisik persediaan pada akhir tahun sehingga nilai yang di hasilkan tidak mencerminkan nilai persediaan riil yang ada. Pada tahun 2008 semester I dan semester II terlihat bahwa jumlah neraca pada SIMAK-BMN dan SAKPA telah menghasilkan nilai yang sama. Terlihat pula telah terjadi kenaikan nilai yang cukup signifikan pada akun tanah, gedung dan bangunan, hal ini disebabkan karena adanya penyesuaian dari nilai perolehan ke nilai wajar oleh Tim Penertiban BMN terhadap BMN sehingga menambah nilai tanah serta gedung dan bangunan yang dimiliki oleh Kanwil XV DJKN Makassar pada laporan keuangan. Hanya saja perubahan ini baru nampak di neraca semester II, padahal penilaian BMN dilakukan oleh Tim Penertiban BMN diakhir tahun 2007, semestinya nilai tersebut sudah harus tersaji sejak pelaporan Keuangan dan neraca satker di semester I tahun 2008.Dari data neraca tahun 2008 dapat disimpulkan bahwa petugas SIMAK-BMN telah melaksanakan pencocokan data dengan petugas SAKPA, sehingga didapatkan nilai yang sesuai pada periode pelaporan. Hal ini menandakan bahwa petugas SIMAK-BMN dan SAKPA telah menjalankan salah satu dari kegiatan penatausahaan BMN yakni petugas SIMAK-BMN telah menyampaikan laporan maupun ADK data BMN untuk dikirimkan ke SAKPA yang akan mempengaruhi nilai akun BMN di Neraca SAKPA. Hanya saja belum dilaksanakan verifikasi secara detail dari transaksi-transaksi yang ada, kegiatan ini untuk mengetahui apakah kodefikasi BMN dan akun yang dibebankan telah sesuai dengan jenis BMN dimaksud atau tidak. Terlihat pula bahwa petugas SIMAK-BMN tidak langsung melakukan koreksi nilai hasil Tim Penertiban pada awal semester I tahun 2008, sehingga nilai tersebut baru kelihatan di laporan neraca semester II tahun 2008. Untuk periode semester I tahun 2009, nilai neraca SIMAK-BMN dan SAKPA telah sesuai. Tetapi di semester II terdapat selisih nilai sebesar Rp 113.183.934 yakni pada akun peralatan dan mesin serta aset tetap lainnya. Hal ini terjadi karena terdapat pengadaan BMN berupa transfer masuk yang telah di catat di SIMAK-BMN, tetapi belum dikirimkan ADK-nya ke aplikasi SAKPA. Terlihat pula pada SIMAK-BMN terdapat pengadaan peralatan dan mesin baru yang dibebankan pada MAK 5231 yang

merupakan belanja pemeliharaan. Pengadaan ini tentunya tidak sesuai dengan aturan perbendaharaan dimana MAK tersebut seharusnya digunakan untuk belanja pemeliharaan. Begitupun dengan transaksi transfer masuk, terdapat transfer masuk berupa P.C unit dengan nilai Rp 8.973.360 yang diinput sebagai komputer di SIMAKBMN. Transaksi ini menyebabkan bertambahnya nilai aset tetap lainnya di akun neraca sebesar Rp 8.973.360,-. Seharusnya transaksi dimaksud akan menambah akun peralatan dan mesin di neraca sebesar Rp 8.973.360 karena P.C unit termasuk golongan barang peralatan dan mesin . Hal ini terjadi karena kesalahan penginputan kodefikasi dan penggolongan BMN untuk barang dimaksud pada SIMAK-BMN. Analisis laporan keuangan hanya bermanfaat jika laporan keuangan yang dianalisis disajikan dengan valid dan dapat diandalkan. Jika laporan keuangan yang dipublikasikan buruk, artinya laporan tersebut dihasilkan dari sistem akuntansi yang buruk sehingga di dalamnya mengandung kesalahan yang material dalam penyajian angka, tidak disusun sesuai dengan standar pelaporan, tidak tepat waktu dalam penyampaiannya, hal itu akan berdampak buruk bagi pengguna laporan dan pihak penyaji laporan sendiri.(mahmudi,2007:9). 3. Analisis Hasil Kuesioner Tabel V Hasil Kuesioner pelaksana Penatausahaan BMN No Pertanyaan Jawaban Komentar 1 Apakah Saudara telah memahami secara keseluruhan peraturan penatausahaan BMN - Paham - Belum semua (100%) - Tdk paham tetapi tidak secara keseluruhan 2 Apakah Saudara pernah mengikuti sosialisasi Penatausahaan BMN? Pernah (25%) Tidak pernah (75%) 3 Apakah saudara mencatat langsung pada buku persedian untuk penambahan atau pemakaian BMN persediaan? - Ya (25%) - Tidak langsung (50%) - Tdk pernah (25%) Tetapi hanya di pembukuan manual. Tetapi tidak semua Hanya memberitahukan secara lisan 4 Apakah saudara telah membuat buku/kartu KDP dan lembar analisis SPM/SP2D apabila terdapat BMN yang pekerjaannya dilaksanakan secara bertahap/per termin? Ya (0%) - Tdk (100%) Biasanya setelah selesai tahap terakhir baru di masukkan sebesar nilai kontrak 5 Apakah dilakukan perubahan secara langsung pada DBR apabila terdapat BMN yang di pindahkan dari ruang satu ke ruang lainnya - Ya (0%) - Jarang (100%) - Tdk (0%) Kadang pemindahan barang tdk disampaikan ke petugas Simak BMN 6. Apakah Saudara pernah mengikuti pelatihan SIMAK BMN? - Pernah (25%) - Belum pernah(75%) Dari lima pelaksana di subag TU hanya satu yg pernah mengikuti diklat SIMAK-BMN 7 Apakah Saudara mengetahui seluruh fungsi menu transaksi pada SIMAK-BMN dan persediaan? - Tahu (25%) - Tdk semua (25%) - Tidak tahu (50%) Terdapat transaksi yang belum saya ketahui karena belum pernah

dilakukan 8 Apakah Saudara langsung memasukkan ke SIMAK-BMN apabila terdapat transaksi BMN? - Ya (0%) - Kadang2 (100%) - Tidak (0%) Apabila ada BMN yang diterima, buktinya tdk di berikan kepada petugas SIMAK sehingga tdk dapat di input missal SPM/sp2d atau serah terima BMN 9 Apakah saudara tiap akhir bulan menyampaikan ADK SIMAK-BMN ke petugas SAKPA satker? - Kadang2 (100%) Biasanya pada saat pelaporan semester I dan II baru di serahkan 10 Apakah saudara telah melakukan pencocokan data antara SIMAK BMN dan SAKPA? - sudah (100%) Untuk Kuesioner pelaksana penatausahaan BMN, penulis membagikan kuesioner kepada empat orang responden yakni staf pelaksana penatausahaan BMN di sub bagian TU. Khusus untuk pertanyaan yang menyangkup aplikasi SIMAK-BMN dan Persediaan hanya diisi oleh petugas SIMAK-BMN dan petugas aplikasi Persediaan. Dari jawaban responden pada tabel V, terlihat bahwa seluruh responden menyatakan belum memahami secara keseluruhan peraturan tentang penatausahaan BMN. Hanya 25% responden yang pernah mengikuti sosialisasi BMN, sisanya belum pernah.Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran dari pegawai untuk membaca dan memahami peraturan yang ada, kurangnya bimbingan dari atasan langsung dan kurangnya sosialisasi peraturan penatausahaan BMN yang dilaksanakan oleh instansi pengelolah barang, kalaupun ada kadang yang diikutkan oleh satker adalah pegawai di seksi atau bidang lain. Padahal baru 25% responden yang mengikuti sosialisasi Penatausahaan BMN. Terhadap penambahan dan pemakaian barang persediaan, 25% menyatakan langsung mencatat, tetapi pencatatan hanya dilakukan di pembukuan manual. 50% menyatakan tidak langsung, hal ini dapat mengakibatkan responden lupa untuk mencatat di pembukuan baik di kartu persediaan, pembukuan dan aplikasi persediaan, 25% menyatakan tidak pernah, karena hanya disuruh untuk mengambil dan menyerahkan barang lalu hanya memberitahukan secara lisan kepada pencatat pembukuan manual. Terlihat bahwa transaksi persediaan belum tersinkronisasi antara pencatatan di kartu persediaan, pembukuan manual dan pencatatan di aplikasi persediaan. Hal ini akan menyebabkan data kuantitas dan nilai persediaan tidak sama di kartu persediaan, pembukuan manual dan yang tercatat di aplikasi persediaan. Untuk transaksi KDP, seluruh responden menyatakan belum tahu dan belum pernah membuat buku/kartu KDP dan lembar analisis SPM/SP2D, padahal hal ini telah diatur di peraturan penatausahaan BMN yakni di PMK 120/KMK/2007 dan PER38/PB/2006. Hal ini berpengaruh signifikan pada keakuratan data BMN. Ini terjadi di tahun 2009, terdapat pekerjaan BMN yang di bayarkan bertahap/ pertermin, tetapi di SIMAK di masukkan setelah aset tersebut telah siap digunakan. Padahal di pembukuan SAKPA pekerjaan tersebut di bayarkan bertahap, sehingga terjadi selisih data laporan di SAKPA pada saat pembayaran termin telah membentuk/menambah nilai aset tetapi di SIMAK belum muncul karena tidak dicatat pada saat termin dibayarkan dan petugas SIMAK BMN memasukkan transaksi setelah pekerjaan tersebut telah selesai sehingga transaksi KDP tidak muncul di SIMAK-BMN. Permasalahan lain yang terjadi pada saat terjadi pemindahan BMN dari ruangan keruangan lain ataupun antar ruangan, tidak dilakukan penyesuaian data secara langsung di SIMAK-BMN sehingga data Daftar Barang Ruangan (DBR) yang tercantum di tiap ruangan tidak sesuai dengan jumlah ril fisik BMN yang ada di tiap

ruangan. Ternyata masih terdapat sebanyak 75% responden yang belum pernah mengikuti pelatihan aplikasi SIMAK-BMN dan 25% telah mengikuti. Hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman petugas penatausahaan BMN terhadap aplikasi SIMAK-BMN. Dari responden yang ada 25% saja yang mengetahui fungsi dan transaksi-transaksi pada SIMAK-BMN, 25% lagi menyatakan tidak semua dan 50% tidak tahu. Terlihat kurangnya pengetahuan penatausahaan yang di miliki oleh petugas SIMAK_BMN. Transaksi BMN yang terjadi tentunya harus dimasukkan langsung ke SIMAK-BMN. Dari hasil kuesioner terlihat kalau petugas operator jarang menginput langsung transaksi yang terjadi dengan alasan bahwa kadang dokumen sumber sebagai dasar penginputan ke SIMAK-BMN tidak langsung diberikan, disampaikan tetapi data tidak lengkap atau kadang lupa disampaikan. Disini juga terlihat kurangnya kesadaran dari pegawai yang memegang dokumen sumber untuk menyampaikan ke petugas SIMAKBMN. Dokumen sumber disini bisa dari pemegang SPM, Kuitansi/ Faktur pembelian, Berita Acara Serah Terima dan dokumen sumber lain. Pada table IV kuesioner diatas terlihat pula bahwa petugas SIMAK-BMN tidak tiap bulan menyampaikan ADK untuk di masukkan ke SAKPA dengan alasan bahwa pada bulan berkenaan tidak terdapat transaksi di SIMAK-BMN atau belum sampai periode laporan semesteran. Hal ini dapat menyebabkan terdapat transaksi BMN yang tidak langsung masuk ke SAKPA apabila petugas lupa atau tidak ingat kalau terdapat transaksi pada bulan berkenaan. Padahal transaksi persediaan kemungkinan besar terjadi setiap bulannya, karena BMN persediaan dipergunakan untuk berjalannya operasional pekerjaan setiap bulannya. Untuk pencocokan data SIMAK-BMN dan SAKPA telah dilaksanakan tetapi biasanya saat akan masuk periode pelaporan semesteran, padahal kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap bulannya untuk meminimalisir adanya transaksi yang tidak akurat. Tabel V Hasil Kuesioner Atasan Langsung Pelaksana Penatausahaan BMN No Pertanyaan Jawaban Komentar 1 Apakah Saudara telah memahami secara keseluruhan peraturan penatausahaan BMN - Paham - Belum semua (100%) - Tdk paham tetapi tidak secara keseluruhan 2 Apakah saudara mengontrol persediaan BMN dengan buku/kartu dan aplikasi persediaan secara periodik? - Ya (0%) - Jarang (100%) - Tidak pernah (0%) 3 Apakah saudara mengontrol lembar analisis dan kartu KDP apabila ada BMN yang di bayarkan secara termin? - Ya (0%) - Tidak (100%) Jika ada BMN yg dibayarkan per termin belum dibuatkan lembar analisis dan kartu KDP 4 Apakah anda memahami seluruh transaksi-transaksi pada SIMAK BMN? Paham(0%) - Tidak semua(100%)

- Tidak paham (0%) Karena kurang dapat mengoperasikan aplikasi tersebut 5 Apakah anda langsung menghimbau kepada petugas SIMAK-BMN untuk menginput transaksi apabila terjadi transaksi BMN - Langsung (0%) - Kadang2 (100%) - Tdk langsung (0%) Kalau melihat dokumen sumber 6 Apakah anda mengontrol periode pelaporan BMN dan mengingatkan staf utk melaksanakan ? - Ya (100%) - Kadang2 (0%) - Tdk pernah (0%) Sumber : hasil kuesioner terhadap atasan langsung Kuesioner atasan langsung hanya diberikan kepada atasan langsung petugas penatausahaan BMN karena bertanggungjawab secara langsung terhadap kegiatan penatausahaan BMN yang dilaksanakan di Kanwil XV DJKN Makassar. Tabel V diatas terlihat kalau responden disini belum memahami secara keseluruhan peraturan penatausahaan BMN. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran dan respek terhadap kegaiatan penatausahaan BMN. Terlihat pula kalau atasan langsung kurang mengontrol petugas penatausahaan persediaan dalam menatausahakan BMN persediaan, malahan penatausahaan KDP seperti lembar analisi ataupun karu KDP belum pernah dibuatkan padahal seperti di tahun 2009 terdapat pekerjaan yang dilaksanakan secara bertahap atau per termin. Ini akan berpengaruh terhadap keakuratan data pelaporan BMN khususnya pada persediaan dan KDP. Pemahaman transaksi SIMAK-BMN oleh atasan langsung sedikit rendah, di tambah lagi dengan jarangnya melaksanakan instruksi kepada operator SIMAK-BMN untuk menginput langsung transaksi BMN yang baru terjadi. Hal ini menyebabkan lemahnya kontrol dari atasan langsung terhadap transaksi yang diinput oleh petugas atau transaksi apa yang telah terjadi tetapi belum diinput ke SIMAK-BMN. Tentunya hal ini juga akan menyebabkan kurangnya keakuratan data pada SIMAK-BMN. Untuk periode pelaporan data BMN, terlihat kalau atasan langsung telah mengingatkan kepada petugas penatausahaan untuk membuat dan menyampaikan laporan BMN sesuai dengan periode laporan BMN. Hal ini telah dilaksanakan dengan baik dan telah sesuai dengan peraturan penatausahaan BMN. Hasil analisis data data primer yakni melalui hasil kegiatan penatausahaan BMN dan hasil kuesioner, serta data sekunder (hasil laporan Neraca BMN pada SIMAK-BMN dan SAKPA) memiliki garis kesamaan yaitu kurang optimalnya pelaksanaan penatausahaan BMN sehingga mempengaruhi kurang akuratnya data BMN, mengapa demikian? Hal sesuai dengan identifikasi permasalahan karena pelaksanaan penatausahaan BMN belum dilaksanakan secara optimal dan berpengaruh terhadap kurang akuratnya data BMN yang disajikan. Pokok permasalah ini terangkum dalam suatu bagan analisis dengan pendekatan model Fish Bone Analysis, seperti dibawah ini :

B. Pemecahan Masalah Dari akar permasalahan masing-masing klasifikasi responden yang tertuang dalam bagan analisis tulang ikan diatas (Fish Bone Analysis) diatas, penulis mencoba menguraikan pemecahannya sebagai berikut : 1. Pelaksana Penatausahaan BMN a. Penatausahaan persediaan belum terlaksana dengan baik. 1) Untuk mengoptimalkan penatausahaan persediaan maka sebaiknya petugas persediaan setelah mencatat transaksi persediaan di buku persediaan, kemudian langsung menyesuaikan data pada kartu persediaan dan di input langsung ke aplikasi persediaan. Cara ini akan meminimalisir ketidakcocokan data persediaan antara buku, kartu dan di aplikasi persediaan. 2) Agar melaksanakan opname fisik persediaan pada akhir tahun dan menetapkan nilai per jenis persediaan yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus : NP = QP X HP dimana NP=Nilai perjenis persediaan pada tanggal neraca, QP=quantitas/ jumlah persediaan pada tanggal pelaporan (dalam unit)berdasarkan laporan persediaan, HP= harga pembelian terakhir persediaan (dalam rupiah per unit)berdasarkan faktur pembelian . 3) Petugas persediaan seharusnya memahami aplikasi persediaan dan rutin setiap bulannya menyampaikan ADK data persediaan ke petugas untuk dimasukkan ke aplikasi SIMAK-BMN. b. Penatausahaan KDP belum terlaksana dengan baik. 1) Jika terdapat pekerjaan BMN aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan atau proses perolehannya belum selesai pada akhir periode akuntansi agar pelaksana meminta salinan lembar SP2D/SPM, dokumen pendukung KDP dan lembar analisis SPM dari UAKPA untuk di analisis, lalu di tetapkan jenis-jenis KDP dan besaran belanja yang dapat di kapitalisasi sebagai biaya pembangunan aset. 2) Agar berpedoman pada peraturan penatausahaan BMN khususnya KDP yang berlaku, seperti : Peraturan Menteri Keuangan No.120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan BMN dan Peraturan Dirjen Perbendaharaan nomor : PER-38/PB/2006 tentang Pedoman Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan. c. Pemahaman aplikasi masih rendah 1) Seluruh pelaksana penatausahaan BMN agar di berikan pelatihan khusus aplikasi SIMAK-BMN dan Persediaan secara menyeluruh agar pelaksanan mengetahui dan memahami aplikasi dimaksud secara menyeluruh. Sehinggan kalaupun petugas SIMAK-BMN dan Persediaan berhalangan dapat di gantikan oleh pelaksana lain dengan kualitas yang seimbang. 2) Agar di pisahkan antara operator aplikasi persediaan dan operator aplikasi SIMAKBMN. Operator aplikasi persediaan diusahakan adalah pelaksana yang menangani persediaan, sehingga memahami data yang ada di pembukuan, kartu dan aplikasi. Hal ini dapat lebih meningkatkan keakuratan data karena masing-masing fokus pada tugasnya dan dapat saling memverifikasi data yang telah di input.

d. Rendahnya pemahaman peraturan Penatausahaan BMN 1) Perlunya pelaksana penatausahaan BMN di ikutkan sosialisasi ataupun mengundang pemateri dari DJKN untuk mensosialisasikan peraturan yang menyangkut penatausahaan BMN secara menyeluruh, contoh : sosialisasi dan simulasi Peraturan Menteri Keuangan No.120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan BMN, Penatausahaan persediaan ataupun KDP. 2) Atasan langsung agar menyampaikan langsung jika terdapat peraturan-peraturan baru mengenai penatausahaan BMN dan rutin mengadakan Gugus Kendali Mutu secara periodik. 2. Atasan Langsung a. Rendahnya penguasaan peraturan dan Pemahaman pelaksanaan penatausahaan BMN. Atasan langsung agar berusaha meningkatkan pemahaman pelaksanaan penatausahaan dengan lebih banyak membaca, melakukan diskusi, melaksanakan gugus kendali mutu, mengikuti sosialisasi dan berkonsultasi dengan pengelolah barang menyangkut peraturan dan teknis pelaksanaan penatausahaan BMN. b. Kurangnya pengawasan langsung terhadap pelaksana. Atasan dari atasan langsung agar mengontrol pengawasan pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh atasan langsung dan menegur apabila atasan langsung kurang menyadari tugas dan tanggungjawabnya. 3. Petugas Sistem Akuntansi Instansi a. Pemahaman tentang SAI yang rendah Perlunya pembinaan dari atasan langsung, atasan dari atasan langsung terhadap petugas SAI, dengan memberi pemahaman tentang tugas, tanggungjawab dan pentingnya SAI sebagai ujung tombak penyajian laporan keuangan kementerian/lembaga. b. Rendahnya koordinasi antara SIMAK-BMN dan SAKPA Perlu ditingkatkan Pengawasan dan kontrol dari atasan langsung petugas SIMAKBMN dan SAKPA terhadap koordinasi yang dilakukan antara petugas. Pemahaman juga perlu diberikan agar petugas menyadari kalau SIMAK-BMN dan SAKPA adalah sub-sub sistem yang saling mendukung dalam kerangka SAI. Data laporan keuangan dan data BMN dapat kurang akurat apabila koordinasi dari sub-sub sistem ini rendah. c. Data Pendukung tidak lengkap 1) Perlunya dibuatkan cek list kelengkapan data apa saja yang diperlukan oleh petugas SIMAK-BMN yang datanya berasal dari transaksi di SAKPA begitupun sebaliknya, sehingga data pendukung yang diperlukan dapat tersaji lebih lengkap. 2) Perlunya pengawasan dari kedua atasan langsung terhadap penyampaian dokumen pendukung tersebut. 4. DJKN sebagai pengelolah BMN a. Peraturan pelaksanaan yang belum rampung Pihak DJKN sebagai pengelolah BMN seharusnya cepat mengeluarkan petunjuk pelaksanaan terhadap peraturan-peraturan yang telah berlaku sehingga satker kementerian/lembaga tidak mengalami keraguan b. Rendahnya intensitas sosialisasi Sosialisasi ke satker kementerian / lembaga agar lebih sering dilaksanakan dan berkesinambungan, mengingat masih rendahnya pemahaman satker tentang pentingnya penatausahaan BMN terhadap keakuratan data BMN oleh satker kementerian/lembaga di daerah. c. Belum rampungnya sistem aplikasi penatausahaan BMN.

Perlunya percepatan penyelesaian aplikasi lanjutan khususnya aplikasi penatausahaan BMN guna mendukung pelaksanaan penatausahaan yang terintegrasi sehingga data BMN dapat lebih tersaji secara akurat. Pemecahan masalah yang disampaikan penulis diatas tentunya dapat menjadi salah satu solusi permasalahan penatausahaan BMN yang terjadi. Penatausahaan BMN sangat berperan terhadap keakuratan data BMN, karena informasi BMN memberikan sumbangan yang signifikan di dalam laporan keuangan (neraca) baik pada pos-pos persedian, aset tetap, maupun aset lainnya. Hal ini tentunya sangat dibutuhkan dalam mendukung laporan keuangan agar dapat tersaji secara wajar. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Secara umum pelaksanaan penatausahaan pada kanwil XV DJKN Makassar belum dilaksanakan secara optimal sehingga berpengaruh signifikan terhadap keakuratan data BMN yang tersaji. 2. Dari hasil analisis terlihat permasalahan pada pelaksana yaitu belum optimalnya penatausahaan persediaan dan KDP serta rendahnya pembinaan, pelatihan dan sosialisasi BMN yang didapatkan. Permasalahan dari Atasan Langsung yakni lemahnya SDM dan pengawasan yang dilakukan. Pada petugas SAI permasalahan yaitu pemahaman dan koordinasi yang lemah. Sedangkan permasalahan pada pengelolah barang yakni kurangnya pembinaan, infrastruktur yang ada dan lambannya penyelesaian petunjuk pelaksanaan BMN. 3. Langkah pemecahan yang dapat diambil untuk permasalah yang terjadi yakni mengoptimalkan pelaksanaan penatausahaan BMN sesuai aturan yang berlaku, memupuk kesadaran akan pentingnya pelaporan yang dilakukan, pembinaan dan pengawasan baik oleh atasan maupun pengelolah barang, serta perbaikan pelayanan dan infrastruktur dari pengelolah barang. B. Saran 1. Selanjutnya, agar seluruh pihak dapat mengoptimalkan penatausahaan BMN baik oleh pihak pengguna barang maupun oleh pengelolah barang. 2. Penulis menghimbau agar topik permasalahan yang diangkat dalam karya tulis ini dapat dikaji lebih dalam, dengan skala yang lebih besar, yaitu pada tingkat eselon lebih tinggi maupun oleh pengelolah barang. DAFTAR PUSTAKA Eko Kusdaryanto Tri Widiyono. 2007, Modul Sistem Akuntansi Keuangan. Jakarta : Ditjen Perbendaharaan Halim, Abdul.2007, Akuntansi Keuangan Daerah, Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat Mahmudi.2007, Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Panduan bagi Eksekutif, DPRD dan Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi, Sosial dan Politik. Yogyakarta: UPP STIM YKPN Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan; Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Pemerintah Pusat; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97/PMK.06/2007 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara;