Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Perencanaan wilayah merupakan suatu upaya untuk menata suatu ruang atau wilayah supaya pada akhirnya tercipta suatu wilayah yang mengarah kepada perubahan yang lebih baik. Menurut Glasson (1977) mengemukakan bahwa tujuan perencanaan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi. Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan perencanaan yang efektif dan efisien. Dalam mewujutkan perencanaan yang efektif dan efisien diperlukan pemahaman antar ilmu yang yang saling terkait, seperti ilmu kependudukan, ilmu geologi, dan ilmu ekonomi itu sendiri. Ilmu ekonomi wilayah dan kota pada dasarnya merupakan cabang dari ilmu ekonomi konvensional,tradisonal,nasional yang mana telah dimasukkan unsur keruangan ke dalam teori, analisis dan metodologi ilmu perekonomian. Pada hakekatnya, inti dari teoriteori pertumbuhan tersebut berkisar pada dua hal yaitu: pembahasan yang berkisar tentang metode dalam menganalisis perekonomian suatu daerah dan teori-teori yang membahas tentang faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tertentu. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya-sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.

1.2 Tujuan dan Sasaran Laporan analisis ekonomi wilayah ini dibuat dengan tujuan dan sasaran tertentu yang akan dijelaskan sebagai berikut: 1.2.1 Tujuan Tujuan dari disusunnya laporan analisis ini ialah untuk mengidenifikasi serta menganalisis keadaan perekonomian wilayah studi yang diperoleh dari pengolahan data data sekunder untuk membuat suatu rekomendasi yang sesuai dengan keadaan perekonomian di wilayah tersebut untuk keadaan di masa mendatang yang lebih baik bagi stakeholder terkait di wilayah studi. 1.2.2 Sasaran Untuk mencapai tujuan diperlukan sejumlah sasaran. Sasaran yang harus dicapai pada laporan ini yaitu Membuat profil perekonomian wilayah studi; Menganalisis sektor basis di wilayah studi;

Menganalisis kinerja sektor ekonomi di wilayah studi; Menganalisis sektor ekonomi unggulan di wilayah studi; Membuat arahan pengembangan ekonomi di wilayah studi; Membuat rekomendasi bagi stakeholder terkait di wilayah studi.

1.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup dalam laporan ini terdiri dari dua bagian, yaitu ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup materi. 1.3.1 Ruang Lingkup Materi Ruang lingkup materi dalam laporan ini mencakup pengkajian aspek

perekonomian yaitu profil perekonomian wilayah studi, sektor basis, kinerja sektor ekonomi, dan sektor ekonomi unggulan di wilayah studi. 1.3.2 Ruang Lingkup Wilayah Ruang lingkup wilayah yang menjadi objek studi merupakan Kabupaten Cilacap. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Cilacap memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut Utara Timur Selatan Barat : Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas : Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banyumas : Samudera Hindia : Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat)

1.4 Metodologi Penulisan Laporan Untuk memperjelas dalam pembahasan dan penyusunan laporan, kelompok kami menggunakan metode pengumpulan data sekunder dan metode analisis. 1.4.1 Metode Penyusunan Laporan Pengumpulan data-data yang berhubungan dengan wilayah studi, dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data sekunder. Pengumpulan data sekunder Merupakan studi literatur dengan data-data sudah diketahui sumbernya serta memiliki keterkaitan dengan masalah yang dibahas dalam laporan ini. Data-data ini dapat diperoleh dari buku-buku atau literatur dan internet, serta dari instansi terkait seperti BPS. 1.4.2 Metode Analisis Metode analisis dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan mengetahui potensipotensi perekonomian di wilayah studi sebagai penunjang dalam menentukan

rekomendasi yang tepat bagi stakeholder terkait di wilayah studi. Metode yang digunakan

ialah metode analisis kuantitatif, yaitu metode analisis data yang tersaji dalam bentuk angka. 1.5 Sistematika Penulisan Laporan ini disajikan dalam lima bab yaitu pendahuluan, kajian teori, gambaran umum Kabupaten Cilacap, analisis perekonomian Kabupaten Cilacap, penutup, berikut sistematika penulisan laporan BAB I PENDAHULUAN Meliputi latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, metodologi penulisan laporan dan sistematika penulisan. BAB II KAJIAN LITERATUR Berisi pemaparan mengenai teori teori mengenai analisis perekonomian yang ada di wilayah studi. BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN CILACAP Berisi tentang gambaran umum wilayah studi Kabupaten Cilacap yang meliputi luas dan letak wilayah serta kondisi perekonomian di wilayah studi. BAB IV ANALISIS PEREKONOMIAN WILAYAH STUDI Berisikan analisis aspek aspek perekonomian di wilayah studi, yaitu profil perekonomian wilayah studi, sektor basis, kinerja sektor ekonomi, dan sektor ekonomi unggulan di wilayah studi serta pemberian arahan pengembangan ekonomi di wilayah studi. BAB V PENUTUP Meliputi kesimpulan dan rekomendasi pengembangan terhadap aspek perekonomian di wilayah studi yang dikaji.

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Teori Ekonomi Wilayah dan Kota Budiharsono (2001: 14) mendefinisikan Ilmu ekonomi regional adalah cabang ilmu ekonomi yang memasukkan unsur lokasi dalam bahasan ilmu ekonomi tradisional. Ilmu ekonomi regional memiliki kekhususan dalam menjawab pertanyaan where, yaitu tentang di mana lokasi dari suatu kegiatan yang seharusnya, namun tidak menunjuk pada lokasi konkret. Pada umumnya ilmu ekonomi regional memiliki tujuan yang sama dengan teori ekonomi umum, yaitu full employment, economic growth, dan price stability. Ilmu ekonomi regional bermanfaat untuk membantu perencana wilayah menghemat waktu dan biaya dalam memilih lokasi. Ilmu Ekonomi Wilayah (Regional Economics) dan juga Ekonomi Kota (Urban Economics) pada dasarnya merupakan cabang dari ilmu ekonomi

konvensional/tradisional/nasional; yang memasukkan unsur ruang (lokasi dan struktur) serta keragaman ruang (dalam hal ini keragaman wilayah) ke dalam teori, analisis dan metodologi ilmu ekonomi; yang mana hasil hasil analisis ekonomi tersebut dapat diaplikasikan dalam mendukung perencanaan suatu wilayah/kota ; dan juga dalam rangka mengatasi permasalahan - permasalahan ekonomi (dan sosial) di masyarakat sehingga akan terjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah/kota tersebut menjadi lebih optimal (Vinod, 1964). Ilmu ekonomi regional murni membicarakan prinsip-prinsip ekonomi yang terkait dengan wilayah. Terdapat 2 kelompok ilmu yang lazim menggunakan ilmu ekonomi regional sebagai peralatan analisis. Regional science adalah gabungan berbagai disiplin ilmu yang digunakan untuk menganalisis kondisi suatu wilayah dengan menekankan analisisnya pada aspek-aspek sosial ekonomi dan geografi, sedangkan regional planning yang lebih menekankan analisisnya pada aspek-aspek tata ruang, land use (tata guna lahan) dan perencanaan (planning). Hal-hal yang menjadi landasan pentingnya ekonomi regional 1. Keuntungan sumber daya alam ( natural resources advantage ) 2. Penghematan dari pemusatan ( economic of concentration ) 3. Biaya angkut Peran Ilmu Ekonomi Regional ialah sebagai penentuan kebijaksanaan awal, sektor mana yang dianggap strategis, memiliki daya saing dan daya hasilnya yang besar, comperative advantage dan dapat menyarankan komoditi / kegiatan apa yang perlu dijadikan unggulan dan disub wilayah mana komoditi itu dapat dikembangkan.

2.2

Aspek Perekonomian Wilayah Studi

2.2.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Total nilai atau harga pasar dari seluruh produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh perekonomian regional (propinsi, Kabupaten/kota, kecamatan) selama kurun waktu tertentu (1 tahun). PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi suatu wilayah. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar, dimana dalam penghitungan ini digunakan harga tahun 2000. Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Pada penyajian PDRB/PDB atas dasar harga berlaku, semua angka pendapatan regional/nasional dihitung/dinilai atas dasar harga yang berlaku pada tahun yang bersangkutan. Pada penyajian PDRB/PDB atas dasar harga konstan, semua angka pendapatan regional/nasional dihitung/dinilai atas dasar harga tahun dasar. Karena dihitung berdasarkan harga tahun dasar yang bersifat tetap, maka perkembangan yang terjadi mencerminkan perkembangan riil dan bukan karena pengaruh kenaikan harga (inflasi). Dalam analisis ekonomi di bidang ilmu PWK lebih diutamakan menggunakan PDRB atas dasar harga konstan, karena lebih dapat mencerminkan tumbuh kembangnya perekonomian suatu wilayah/kota secara riil (bukan karena kenaikan harga). 2.2.2 Analisis LQ (Location Quotient) Analisis LQ digunakan untuk menentukan sektor apa yang merupakan sektor basis dan apa yang bukan merupakan sektor basis. Rumusnya yaitu LQ = Keterangan: LQ ps pl PS PL = Location Quotient = Produksi/kesempatan kerja sektor i, pada tingkal lokal. = Produksi/kesempatan kerja total, pada tingkal lokal. = Produksi/kesempatan kerja sektor i, pada tingkal regional. = Produksi/kesempatan kerja total, pada tingkal regional. Jika LQ 1 sektor basis, bermakna bahwa sektor tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan permintaan pasar di dalam wilayah dan juga diekspor ke luar wilayah.

Dengan ketentuan:

2.2.3

Jika LQ < 1 sektor non-basis, bermakna bahwa sektor tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan permintaan di dalam wilayah.

Analisis Shift Share Analisis ShiftShare digunakan untuk menganalisis perubahan kegiatan ekonomi

pada periode waktu tertentu (> 1 tahun). Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui perbandingan perkembangan berbagai sektor pada suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Dalam analisis ini diasumsikan bahwa perubahan produksi atau kesempatan kerja dipengaruhi oleh tiga komponen pertumbuhan wilayah. Berikut adalah skemanya .

Sumber : Bahan ajar mata kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota Skema Tiga Komponen Pertumbuhan Wilayah KPN merupakan komponen share dan sering disebut sebagai national share. KPN adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yg disebabkan oleh perubahan produksi atau KK secara umum, kebijakan ekonomi nasional dan kebijakan lain yg mampu mempengaruhi sektor perekonomian dalam suatu wilayah. KPP merupakan komponen proportionalshift ;yaitu penyimpangan (deviation) dari national share dalam pertumbuhan wilayah. KPP adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yg disebabkan oleh komposisi sektorsektor industri di wilayah tsb, perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar. Apabila nilai KPP positif (KPP > 0) maka wilayah/daerah yang berspesialisasi dalam sektor yg secara nasional tersebut tumbuh cepat dan apabila nilai KPP bernilai negatif (KPP < 0) maka wilayah/daerah yang berspesialisasi dalam sektor yg secara nasional tersebut tumbuh dengan lambat . KPPW merupakan komponen differential shift, sering disebut komponen lokasional atau regional atau sisa lebihan.KPPW adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yg disebabkan oleh keunggulan komparatif wilayah tsb, dukungan kelembagaan, prasarana sosial ekonomi serta kebijakan lokal di wilayah tsb. Apabila nilai KPPW positif (KPPW > 0) pada sektor tersebut mempunyai keunggulan

komparatif (comparative advantage) di wilayah /daerah (disebut juga sebagai keuntungan lokasional) atau mempunyai daya saing, dan apabila nilai KPPW negatif (KPPW < 0) maka sektor tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif atau tidak dapat bersaing. PE = KPN = [Ra 1] Di mana PE = pertumbuhan ekonomi wilayah lokal. Yt = indikator ekonomi wil. Nasional, akhir tahun analisis. + KPP + KPPW = (Yt/Yo 1) + (Yit / Yio - Yt/Yo)+(yit / yio - Yit/Yio) + [ Ri - Ra ] + [ri - Ri]

Yo = indikator ekonomi wil. Nasional, awal tahun analisis. Yit = indikator ekonomi wil. Nasional sektor i, akhir tahun analisis. Yio = indikator ekonomi wil. Nasional sektor i ,awal tahun analisis. yit = indikator ekonomi wil. Lokal sektor i , akhir tahun analisis. yio = indikator ekonomi wil. Lokal sektor i , awal tahun analisis.

PB = KPP + KPPW Di mana Jika PB 0 sektor tersebut progresif Jika PB < 0 sektor tersebut mundur 2.2.4 Identifikasi Sektor Unggulan Identifikasi sektor unggulan dilakukan setelah melakukan analisis LQ dan Shift Share. Setelah dilakukan analisis, hasil analisis dimasukkan ke dalam diagramdiagram di bawah ini untuk diidentifikasi sektor apa yang bisa menjadi unggulan di wilayah / kota tersebut.

Sumber : Bahan ajar mata kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota Diagram Plotting LQ dan PB

BAB III GAMBARAN UMUM 3.1 Kondisi geografis Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah yang terletak pada posisi 10804-300 - 1090300300 Bujur Timur dan 70300 - 70450200 Lintang Selatan dengan batas wilayah sebagai berikut: 1. Sebelah selatan 2. Sebelah utara 3. Sebelah timur 4. Sebelah barat :Samudra Indonesia :Kabupaten Banyumas,Kabupaten Brebes dan Propinsi Jawa Barat :Kabupaten Kebumen :Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat

Kabupaten Cilacap mempunyai luas wilayah 2.253,61 km2 yang merupahan 6,94% dari luas wilayah Propinsi Jawa Tengah. Secara administratif kabupaten Cilacap terbagi menjadi 24 Kecamatan dengan sejumlah desa dan kelurahan. Memiliki curah hujan ratarata 1708 mm/tahun dengan wilayah tertinggi yaitu Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198m diatas permukaan laut sedangkan wilayah terendah adalah Kecamatan Kampung laut dengan ketinggian 1m diatas permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang. Berikut adalah tabel jumlah desa dan luas wilayah per-kecamatan di Kabupaten Cilacap Tabel III.1 Jumlah Desa dan Luas Kecamatan Jumlah Luas wilayah No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kecamatan Dayeuhluhur Wanareja Majenang Cimanggu Karangpucung Cipari Sidareja Kedungreja Patimuan Gandrungmangu Bantarsari Kawunganten Kampung laut desa 14 16 17 15 14 11 10 11 7 14 8 12 4 (km2) 185,06 189,73 138,56 167,44 115 121,48 54,95 71,44 75,32 143,19 95,54 129,19 142,22

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 3.2

Jeruklegi Kesugihan Adipala Maos Sampang Kroya Binangun Nusawungu Cilacap selatan Cilacap tengah Cilacap utara

13 16 16 10 10 17 17 17 5 5 5

96,8 82,31 84,5 28,04 27,3 59 51 61,26 9,1 22,16 18,83

Sumber : PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2011

Pertumbuhan Penduduk

Penduduk Kabupaten Cilacap setiap tahun terus bertambah. Menurut hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2010 mencapai 1.748.705 jiwa yang terdiri dari 875.825 laki-laki dan 872.880 perempuan. Selama 5 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk pertahun sebesar 0,38% dengan pertumbuhan tertinggi pada tahun 2008 (0,47%) dan terendah pada tahun 2010 (0,26%). Pertumbuhan ini merupakan yang terendah sejak tahun 1990. Tabel III.2 Banyaknya penduduk dan pertumbuhannya di Kabupaten Cilacap Tahun 1990-2010 Tahun 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Laki-laki 724.244 749.696 753.833 757.228 767.382 773.857 809.321 817.517 821.983 826.035 835.386 844.412 859.246 852.943 Perempuan 731.633 749.705 755.531 759.519 769.776 776.426 808.451 816.435 820.742 825.984 836.393 844.802 848.519 851.653 Jumlah 1.455.877 1.499.401 1.509.364 1.516.747 1.537.158 1.550.283 1.617.772 1.633.952 1.642.725 1.652.019 1.671.779 1.689.214 1.707.765 1.704.596 Pertumbuhan (%) 0,98 2,96 0,66 0,49 1,35 0,85 4,35 1,00 0,54 0,57 1,20 1,04 0,45 0,46

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

855.838 858.739 861.643 865.619 870.295 873.251 875.825

854.070 857.496 860.964 864.850 868.308 870.877 872.880

1.709.908 1.716.235 1.722.607 1.730.469 1.738.603 1.744.128 1.748.705

0,31 0,37 0,37 0,46 0,47 0,32 0,26

Sumber : PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2011

3.3

Perekonomian

3.3.1 Pertanian Pertanian tanaman pangan: Produksi padi sawah tahun 2010 tercatat sebesar 827.418 ton, meningkat 12,59% dari tahun 2009. Produksi padi gogo tahun 2010 sebesar 11.979 ton, naik 32,44% dari tahun 2009 yang tercatat sebesar 9.045 ton Produksi jagung tahun 2010 sebesar 34.069 ton Produksi ketela mengalami penurunan produksi sebesar 4,05% yakni dari 174.863 ton pada 2009, menjadi 167.781 ton pada 2010 3.3.2 Perkebunan Jenis tanaman perkebunan rakyat tahun 2010 yaitu kelapa, aren, cengkih, kopi, kapuk, kapulaga, vanili, sereh, kakao, lada, karet, dan pala. 3.3.3 Peternakan Jenis ternak besar yang diusahakan antara lain sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, babi, dan kelinci. Dari jenis-jenis tersebut kambing dan domba adalah yang paling dominan diternakkan masyarakat. Masing-masing 111.439 ekor kambing dan 17.554 ekor dombs. 3.3.4 Perdagangan Sarana Perdagangan yang tersedia antara lain : Pasar modern / Super market : 2 buah Mini market / swalayan : 12 buah Pasar tradisional / umum : 85 buah Pasar ikan dan hewan : 5 buah TPI Propinsi dan Kabupaten : 11 buah Pertokoan / Ruko : 965 unit

10

3.3.5

Perikananan Hasil tangkapan ikan dari laut merupakan yang terbesar di Kabupaten Cilacap.

Selanjutnya 3.3.6

disusul

perikanan

di

daerah

tambak

dan

perikanan

air

tawar.

Industri Industri yang terkenal di Kab. Cilacap kebanyakan merupakan industri energi dan

mineral: Minyak dan Gas Bumi Minyak dan gas bumi terdapat di Desa Cipari Kecamatan Dipari.telah dilakukan eksplorasi terhadap cebakan yang dilaksanakan oleh Lundin Banyhumas BV. Batubara Indikasi adanya potensi batubara terlihat dari adanya sisipan batu bara yang terdapat di wilayah Kecamatan Dayeuhluhur. Hasil penyelidikan Pemerintah Kabupaten Cilacap yang bekerjasama dengan CV. Multi Geosintek tahun 2003 Emas Terdapat di Desa Jambu Kecamatan Wanareja dan Desa Sadahayu Kecamatan Majenang. Cadangan Emas ersebut pernah dieksplorasi oleh PT.Gama Grahita dengan luas areal 2.000 hektar, kemudian dilakukan eksplorasi oleh PT. Multi Daya Sempama. Pasir Besi Endapan Pasir Besi terebut sepanjang pesisir pantai Kabupaten Cilacap,sebagian besar telah ditambang oleh PT. ANTAM Tbk. Gamping Terdapat di Pulau Nusakambangan dengan jumlah cadangan berkisar 1.170.000.000 ton yang merupakan Gamping Terumbu yang saat ini sedang ditambang oleh PT. Holcim. Lempung Tersebar di Kecamatan Jeruklegi (ditambang PT. Holcim). 3.3.7 Hotel dan Pariwisata Sepanjang tahun 2010 tercatat jumlah akomodasi atau hotel di Cilacap sebanyak 47 hotel. Dari jumlah tersebut, 9 diantaranya merupakan hotel berbintang. Sedangkan objek wisata yang ramai dikunjungi yaitu Teluk penyu, Benteng Pendhem, pantai Widarapayung, dan Air panas Cipari.

11

BAB IV Analisis Ekonomi Wilayah dan Kota Kabupaten Cilacap Tahun 2007-2011 4.1 Analisis Agregat Wilayah Kabupaten Cilacap Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah Jawa Tengah. Sehingga untuk mengetahui hasil dari analisis agregat wilayah Kabupaten Cilacap, data yang digunakan adalah data PDRB Kabupaten Cilacap dan PDRB jawa Tengah. Perkembangan ekonomi suatu wilayah dapat dilihat pada nilai PDRB dan kontribusi per sektor terhadap perkembangan PDRB. Tabel IV.1 Perkembangan PDRB Kabupaten Cilacap dan Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2007-2011
Tahun PDRB Kab.Cilacap (Jutaan Rupiah) 2007 2008 2009 2010 2011 8.314.556,30 8.730.436,89 9.174.597,98 9.660.586,58 10.169.957,05 Pertumbuhan (%) 2,64 6,07 1,53 4,43 4,44 159.110.253,77 167.790.369,90 175.685.267,56 186.995.480,65 198.226.349,47 PDRB Prov. Jawa Tengah Pertumbuhan (%) 5,59 5,61 5,14 5,84 6,01

Sumber : PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2011 dan PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011.

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa perkembangan PDRB Kabupaten Cilacap dalam kurun waktu 5 tahun, yaitu antara tahun 2007-2011, selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kabupaten Cilacap memiliki PDRB paling besar pada tahun 2011, yaitu sebesar 10.169.957,05. Sedangkan pertumbuhan PDRB di Kabupaten Cilacap mengalami fluktuatif setiap tahunnya, namun pertumbuhan PDRB terbesar terjadi pada tahun 2008, yakni 6,07%. Di Provinsi Jawa Tengah, perkembangan PDRB dan pertumbuhan PDRB nya selalu mengalami kenaikan setiap tahun. Perkembangan PDRB paling besar terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar 198.226.349,47, sedangkan pertumbuhan PDRB terbesar di Provinsi Jawa Tengah terjadi pada tahun 2011, yakni 6,01%. Perkembangan PDRB Kabupaten Cilacap dan Jawa Tengah dapat dilihat pada grafik berikut:

12

Grafik 4.1 Perkembangan PDRB Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2007- 2011

PDRB Kab.Cilacap (Jutaan Rupiah)


12,000,000.00 10,000,000.00 8,000,000.00 6,000,000.00 4,000,000.00 2,000,000.00 2007 2008 2009 2010 2011

PDRB Kab.Cilacap (Jutaan Rupiah)

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Grafik 4.2 Pertumbuhan PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2007- 2011

Pertumbuhan PDRB Kab. Cilacap (%)


7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 2007 2008 2009 2010 2011

Pertumbuhan PDRB Kab. Cilacap (%)

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Grafik 4.3 Perkembangan PDRB Provinsi Jawa Tengah ADHK Tahun 2007- 2011

PDRB Prov. Jawa Tengah


250,000,000.00 200,000,000.00 150,000,000.00 100,000,000.00 50,000,000.00 0.00 2007 2008 2009 2010 2011 PDRB Prov. Jawa Tengah

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

13

Grafik 4.4 Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007- 2011

Pertumbuhan PDRB Prov. Jateng (%)


6.2 6 5.8 5.6 5.4 5.2 5 4.8 4.6 2007 2008 2009 2010 2011

Pertumbuhan PDRB Prov. Jateng (%)

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Seperti yang kita ketahui, untuk melihat perkembangan perekonomian suatu wilayah, salah satunya juga dapat dilihat melalui kontribusi per sektor PDRB wilayah Kabupaten Cilacap. Berikut adalah table kontribusi per sektor PDRB Kabupaten Cilacap tahun 20072011:
Tabel IV.2 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2007-2011 No. 1 Sektor Pertanian Pertambangan dan 2 Penggalian 3 Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air 4 Bersih 5 Bangunan 6 Perdagangan Angkutan dan 7 Komunikasi Keuangan, Persewaan, 8 dan Jasa PSH 9 Jasa-jasa PDRB Kabupaten Cilacap 2007 2.787.658,76 247.963,81 11.583.445,10 72.987,04 390.003,46 4.546.258,57 456.236,47 409.412,99 614.736,72 21.108.693,92 2008 2.889.583,57 264.296,25 12.387.609,05 73.304,02 411.604,61 4.776.383,83 430.271,53 661.922,31 159.438,10 22.390.015,92 2009 3.000.872,76 282.102,44 12.197.839,93 76.527,71 441.659,06 5.050.559,09 522.388,37 454.409,07 706.557,90 22.732.979,33 2010 3.120.355,17 301.280,65 12.600.215,26 78.543,01 478.192,52 5.375.721,66 556.157,48 484.239,92 744.466,77 23.739.172,65 2011 3.187.497,16 320.251,39 13.035.197,63 81.526,53 517.184,18 5.752.997,13 597.510,11 512.676,47 787.312,36 24.792.152,83

Sumber : PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2011

Berdasarkan tabel dan diagram kontribusi per sektor PDRB Kabupaten Cilacap diatas, dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cilacap selama kurun waktu 2007 hingga 2011 adalah industri pengolahan. Sedangkan sektor yang memberikan kontribusi paling kecil terhadap PDRB Kabupaten Cilacap selama 2007-2011 adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. Untuk mempermudah pemahaman tentang kontribusi per sektor PDRB Kabupaten Cilacap, maka data diatas disajikan dalam diagram pie seperti berikut:

14

Diagram 4.1 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2007

PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap Tahun 2007 Pertanian


2% 2% 3% 22% 2% 0% 13% Pertambangan dan Penggalian 1% Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan

55%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Diagram 4.2 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2008

PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap Tahun 2008 Pertanian


0% 6% 4% 22% 24% 36% 6% 1% Perdagangan 1% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

15

Diagram 4.3 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2009

PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap Tahun 2009 Pertanian


Pertambangan dan Penggalian 11% 21% 6% 20% 1% Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan 1% Perdagangan

5%

4%

31%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Diagram 4.4 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2010

PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap Tahun 2010 Pertanian


Pertambangan dan Penggalian 5% 4% 10% 19% 1% Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan 1% Perdagangan

21% 6% 33%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

16

Diagram 4.5 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2011

PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap Tahun 2011 Pertanian


Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 1% Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa PSH Jasa-jasa

3% 2% 3% 0% 23%

13%

53% 2% 0%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Industri pengolahan sendiri dapat digolongkan menjadi 4, yang didasarkan pada konsep yang dicanangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Penggolongan tersebut adalah sebagai berikut: Tabel IV.3 Penggolongan Jenis Industri
Jumlah Tenaga Kerja No. 1. 2. 3. 4. Jenis Industri Industri Besar Industri Sedang Industri Kecil Industri Rumah Tangga
Sumber : PDRB Kabupaten Cilacaop Tahun 2012

Industri yang mempunyai jumlah tenaga kerja minimal 100 orang. Industri yang mempunyai jumlah tenaga kerja antara 20-99 orang. Industri yang mempunyai jumlah tenaga kerja antara 5-19 orang. Industri yang mempunyai jumlah tenaga kerja 1-4 orang.

Sebagai perbandingan, berikut adalah tabel kontribusi persektor PDRB Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2011.

17

Tabel IV.4 PDRB Per Sektor Provinsi Jawa Tengah ADHK Tahun 2007-2011
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa PSH Jasa-jasa 2007 31.862.697,60 178.288.665,00 50.870.785,69 1.340.845,17 9.055.728,78 33.898.013,93 8.052.597,04 5.767.341,21 16.479.357,72 159.110.253,80 2008 33.484.068,44 1.851.189,43 53.158.962,88 1.404.468,19 9.647.593,00 35.626.196,01 8.581.544,49 6.218.053,96 17741755.98 167.790.369,90 2009 34.949.138,35 1.952.866,70 54.137.598,53 1.482.643,11 10.300.647,63 37.766.356,61 9.260.445,64 6.701.533,13 19.134.037,85 175.685.267,60 2010 34.955.957,64 2.091.257,42 61.390.101,24 1.614.857,68 11.014.598,60 40.055.356,39 9.805.500,11 7.038.128,91 19.029.722,65 186.995.480,65 2011 35.421.522,97 2.193.964,23 65.528.810,98 1.684.217,01 11.712.447,46 43.072.198,15 10.645.260,49 7.503.725,18 20.464.202,99 198.226.349,47

PDRB Kabupaten Cilacap

Sumber : PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

Data dalam bentuk tabel diatas, untuk lebih mudah dipahami, maka dibuat juga dalam bentuk diagram sebagai berikut: Diagram 4.6 PDRB Per Sektor Provinsi Jateng ADHK Tahun 2007

PDRB Menurut Lapangan Usaha Provinsi Jateng 2007 Pertanian


2% 5% 0% 10% Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan 53% Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa PSH Jasa-jasa

2% 3% 0% 15%

10%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

18

Diagram 4.7 PDRB Per Sektor Provinsi Jateng ADHK Tahun 2011

PDRB Menurut Lapangan Usaha Prov. Jateng 2011


Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 10% 18% 1% Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa PSH Jasa-jasa

5%

4%

22% 6% 33%

1%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Berdasarkan data yang tersaji dalam tabel dan diagram diatas, jika diamati maka akan terlihat bahwa sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Jawa Tengah dari tahun 2007 hingga 2011 adalah sektor industri pengolahan, kecuali pada tahun 2007, sektor penyumbang kontribusi terbesar adalah sektor penggalian dan pertambangan, yaitu senilai 178.288.655,00 juta rupiah. Akan tetapi untuk tahun-tahun selanjutnya, penyumbang kontribusi adalah tetap sektor industri pengolahan. Sedangkan sektor yang memberikan kontribusi paling kecil terhadap PDRB Jawa Tengah dalam kurun waktu 5 tahun, yaitu 2007 hingga 2011 adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. Kontribusi sektor listrik. Gas, dan air bersih tersebiu kurang lebih berkisar antara 1,3 hingga 1,6 juta rupiah. 4.2 Analisis LQ (Location Quote) Analisis LQ digunakan untuk menentukan sektor apa saja yang merupakan sektor basis dan apa yang bukan merupakan sektor basis di suatu wilayah. Sehingga analisis ini dapat digunakan untuk menentukan sektor apa yang menjadi sektor basis di Kabupaten Cilacap, dan sektor apa yang bukan sebagai sektor basis di Kabupaten Cilacap. Data yang digunakan untuk analisis LQ adalah data PDRB per sektor Kabupaten Cilacap dan Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 hingga 2011 atas dasar harga konstan 2000.

19

Tabel IV.5 PDRB Per Sektor Kabupaten Cilacap ADHK Tahun 2007-2011
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Total Sektor PDRB 2007 2.787.658,76 247.963,81 11.583.445,10 72.987,04 390.003,46 4.546.258,57 456.236,47 409.412,99 614.736,72 21.108.693,92 Kabupaten Cilacap (rupiah) PDRB 2008 PDRB 2009 PDRB 2010 2.889.583,57 264.296,25 12.387.609,05 73.304,02 411.604,61 4.776.383,83 430.271,53 661.922,31 159.438,10 22.390.015,92 3.000.872,76 282.102,44 12.197.839,93 76.527,71 441.659,06 5.050.559,09 522.388,37 454.409,07 706.557,90 22.732.979,33 3.120.355,17 301.280,65 12.600.215,26 78.543,01 478.192,52 5.375.721,66 556.157,48 484.239,92 744.466,77 23.739.172,65 PDRB 2011 3.187.497,16 320.251,39 13.035.197,63 81.526,53 517.184,18 5.752.997,13 597.510,11 512.676,47 787.312,36 24.792.152,83

Sumber : PDRB Kabupaten Cilacap Tahun 2011

Tabel IV.6 PDRB Per Sektor Provinsi Jawa Tengah ADHK Tahun 2007-2011 Provinsi Jawa Tengah (rupiah) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Total PDRB 2007 31.862.697,60 178.288.665,00 50.870.785,69 1.340.845,17 9.055.728,78 33.898.013,93 8.052.597,04 5.767.341,21 16.479.357,72 159.110.253,80 PDRB 2008 33.484.068,44 1.851.189,43 53.158.962,88 1.404.468,19 9.647.593,00 35.626.196,01 8.581.544,49 6.218.053,96 17.741.755,98 167.790.369,90 PDRB 2009 34.949.138,35 1.952.866,70 54.137.598,53 1.482.643,11 10.300.647,63 37.766.356,61 9.260.445,64 6.701.533,13 19.134.037,85 175.685.267,60 PDRB 2010 34.955.957,64 2.091.257,42 61.390.101,24 1.614.857,68 11.014.598,60 40.055.356,39 9.805.500,11 7.038.128,91 19.029.722,65 186.995.480,65 PDRB 2011 35.421.522,97 2.193.964,23 65.528.810,98 1.684.217,01 11.712.447,46 43.072.198,15 10.645.260,49 7.503.725,18 20.464.202,99 198.226.349,47

Sumber : PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

20

Kedua data PDRB per sektor tersebut kemudian diolah dengan menggunakan analisis LQ, dengan rumus sebagai berikut: LQ = Keterangan: LQ ps pl PS PL = Location Quotient = Produksi/kesempatan kerja sektor i, pada tingkal lokal. = Produksi/kesempatan kerja total, pada tingkal lokal. = Produksi/kesempatan kerja sektor i, pada tingkal regional. = Produksi/kesempatan kerja total, pada tingkal regional. Jika LQ 1 sektor basis, bermakna bahwa sektor tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan permintaan pasar di dalam wilayah dan juga diekspor ke luar wilayah. Jika LQ < 1 sektor non-basis, bermakna bahwa sektor tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan permintaan di dalam wilayah. Berikut adalah tabel perhitungan analisis Location Quotient (LQ) tahun 2007 hingga tahun 2011: Perhitungan LQ tahun 2007
Tabel IV.7 Perhitungan Analisis LQ Tahun 2007 Kabupaten Provinsi pi/p total 0,132062115 0,011746999 0,548752336 0,003457677 0,018475964 0,21537375 0,021613676 0,019395468 0,029122442 Pi/P total 0,200255463 1,120535357 0,319720348 0,008427145 0,056914803 0,213047325 0,05061017 0,036247452 0,10357194

Dengan ketentuan:

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian

Sektor

Tahun 2007 LQ 2007 0,659468224 0,010483381 1,716350992 0,410302275 0,324624923 1,010919758 0,427061909 0,535085001 0,281180812

Ket non basis non basis basis non basis non basis basis non basis non basis non basis

Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Perhitungan LQ tahun 2008


Tabel IV.8 Perhitungan Analisis LQ Tahun 2008 Kabupaten Provinsi pi/p total 0,129056789 0,011804201 0,553264861 Pi/P total 0,19955894 0,011032751 0,316817723

No. 1 2 3 Pertanian

Sektor

Tahun 2008 LQ 2008 0,646710135 1,069923603 1,746319166

Ket non basis basis basis

Pertambangan dan Penggalian Industri

21

4 5 6 7 8 9

Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

0,00327396 0,0183834 0,213326504 0,019217116 0,02956328 0,007120946

0,008370374 0,057497895 0,21232563 0,005172418 0,037058467 0,10573763

0,391136652 0,319723005 1,004713865 0,375742034 0,797746967 0,067345431

non basis non basis basis non basis non basis non basis

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Perhitungan LQ tahun 2009


Tabel IV.9 Perhitungan Analisis LQ Tahun 2009 Kabupaten Provinsi pi/p total 0,132005256 0,012409391 0,536570229 0,003366374 0,01942812 0,222168815 0,022979318 0,01998898 0,031080744 Pi/P total 0,198930387 0,011115711 0,308151043 0,0084392 0,058631254 0,214965985 0,052710428 0,038145106 0,108910884

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian

Sektor

Tahun 2009 LQ 2009 0,663575122 1,11638304 1,74125722 0,398897286 0,331361159 1,033506838 0,435953933 0,524024762 0,285377754

Ket non basis basis basis non basis non basis basis non basis non basis non basis

Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Perhitungan LQ tahun 2010


Tabel IV.10 Perhitungan Analisis LQ Tahun 2010 Kabupaten Provinsi pi/p total 0,131443299 0,012691287 0,530777355 0,003308582 0,020143605 0,226449411 0,023427838 0,020398349 0,031360266 Pi/P total 0,186934773 0,011183465 0,328297246 0,008635811 0,05890302 0,214204944 0,052437097 0,037637963 0,101765682

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian

Sektor

Tahun 2010 LQ 2010 0,703150609 1,134825997 1,616758476 0,383123524 0,341979155 1,057162393 0,446779837 0,541962083 0,308161508

Ket non basis basis basis non basis non basis basis non basis non basis non basis

Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Perhitungan LQ tahun 2011


Tabel IV.11 Perhitungan Analisis LQ Tahun 2011 Kabupaten Provinsi pi/p total Pi/P total 0,178692303 0,128568793

No. 1 Pertanian

Sektor

Tahun 2011 LQ 2011 0,719498212

Ket non basis

22

2 3 4 5 6 7 8 9

Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

0,01291745 0,525779174 0,003288401 0,020860802 0,232049115 0,024100776 0,020678982 0,031756514

0,011067975 0,330575684 0,008496434 0,059086229 0,217287955 0,05370255 0,037854328 0,103236543

1,16710149 1,590495611 0,387033049 0,353056912 1,067933632 0,448782701 0,546277871 0,30760924

basis basis non basis non basis basis non basis non basis non basis

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Berdasarkan perhitungan analisis LQ tersebut, kemudian dapat diketahui sektor apa yang menjadi sektor basis dan sektor apa yang bukan merupakan sektor basis. Sektor basis adalah sektor yang mempunyai nilai LQ 1, sedangkan sektor non basis adalah sektor yang mempunyai nilai LQ < 1. Dari hasil perhitungan LQ di atas, pada tahun 2007 di Kabupaten Cilacap terdapat dua sektor basis yakni Sektor Industri dan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Sedangkan selama kurun waktu tahun 2008-2011, Kabupaten Cilacap memiliki tiga sektor basis yang sama, yakni Pertambangan dan Penggalian, Industri, dan Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Kemudian, setelah dilakukan perhitungan untuk mencari nilai rata-rata dari hasil analisis LQ, maka hasilnya sebagai berikut:
Tabel IV.12 Rata-rata Hasil Perhitungan Analisis LQ Tahun 2007-2011 Kabupaten Cilacap dan Provinsi Jawa Tengah
Sektor 2007 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan 0,659468224 0,010483381 1,716350992 0,410302275 0,324624923 1,010919758 0,427061909 0,535085001 2008 0,646710135 1,069923603 1,746319166 0,391136652 0,319723005 1,004713865 0,375742034 0,797746967 Location Quotient (LQ) 2009 0,663575122 1,11638304 1,74125722 0,398897286 0,331361159 1,033506838 0,435953933 0,524024762 2010 0,703150609 1,134825997 1,616758476 0,383123524 0,341979155 1,057162393 0,446779837 0,541962083 2011 0,719498212 1,16710149 1,590495611 0,387033049 0,353056912 1,067933632 0,448782701 0,546277871 0,67848046 0,899743502 1,682236293 0,394098557 0,334149031 1,034847297 Non Basis 0,426864083 0,589019337 0,249934949 Non Basis Non Basis Non basis Basis Basis Non basis Non basis Non basis Rata-rata Keterangan

Jasa-jasa 0,281180812 0,067345431 0,285377754 0,308161508 0,30760924 Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Dari hasil perhitungan rata-rata nilai LQ per sektor selama tahun 2007-2011 diatas, maka dapat kita ketahui sektor yang yang menjadi sektor basis di Kabupaten Cilacap adalah: 1. Sektor Industri 2. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

23

Model Ekonomi Basis Kabupaten Cilacap


Pertanian, Pertambangan dan Penggalian

Sektor NonBasis

SEKTOR BASIS Industri Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Sektor NonBasis

Listrik, Gas, dan Air Minum, Konstruksi, Transportasi dan Komunikasi, Keuangan, dan Jasa-jasa

4.3

Analisis Shift Share Analisis shift share adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui sektor apa

yang berkembang dalam suatu wilayah dan sektor apa yang justru sebaliknya mengalami kemunduran. Sama halnya seperti analisis LQ, analisis shift share juga menggunakan data PDRB Kabupaten Cilacap per sektor dan PDRB Jawa Tengah per sektor. Bedanya adalah, apabila pada analisis LQ dihitunga atu dianalisis setiap tahun, maka pada analisis shift share yang dihitung hanya tahun pertama, yaitu 2007 dan tahun terakhir, yaitu 2011. Berikut adalah datadata dasar dalam perhitungan analisis shift share Kabupaten Cilacap dan Provinsi Jawa Tengah.
Tabel IV.13 Perhitungan Data Dasar untuk Analisis Shift Share Kabupaten Cilacap dan Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2007 dan 2011 (dalam juta rupiah)
Sektor Kabupaten (rupiah) PDRB 2007 PDRB 2011 yo Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran 2.787.658,76 247.963,81 11.583.445,10 72.987,04 390.003,46 yt 3.187.497,16 320.251,39 13.035.197,63 81.526,53 517.184,18 Provinsi (rupiah) PDRB 2007 PDRB 2011 Yo 31.862.697,60 178.288.665,00 50.870.785,69 1.340.845,17 9.055.728,78 Yt 35.421.522,97 2.193.964,23 65.528.810,98 1.684.217,01 11.712.447,46 ri yit/yio 1,1434 1,2915 1,1253 1,1170 1,3261 Ri Yit/Yio 1,1117 0,0123 1,2881 1,2561 1,2934 Ra Yt/Yo 1,2458 1,2458 1,2458 1,2458 1,2458

4.546.258,57

5.752.997,13

33.898.013,93

43.072.198,15

1,2654

1,2706

1,2458

24

Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Total

456.236,47 409.412,99 614.736,72

597.510,11 512.676,47 787.312,36

8.052.597,04 5.767.341,21 16.479.357,72

10.645.260,49 7.503.725,18 20.464.202,99

1,3097 1,2522 1,2807

1,3220 1,3011 1,2418 10,0971

1,2458 1,2458 1,2458 1,2458

21.108.693,92 24.792.152,83 159.110.253,80 198.226.349,47 11,1114 Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Selanjutnya dilakukan analisis shift share dengan perhitungan sebagai berikut: Tabel IV.14 Perhitungan KPN, KPP, KPPW, PE Kabupaten Cilacap dan Provinsi Jawa Tengah (Dalam %)
KPN Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Ra-1 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% 25% KPP Ri-Ra -13,42% 123,35% 4,23% 1,02% 4,75% 2,48% 7,61% 5,52% -0,40% KPPW ri-Ri 3,17% 127,92% -16,28% -13,91% 3,27% -0,52% -1,23% -4,88% 3,89% Koreksi*) Pertumbuhan KPN+KPP+KPPW Ekonomi (PE) 14,34% 14,34% 29,15% 12,53% 11,70% 32,61% 26,54% 30,97% 25,22% 28,07% 29,15% 12,53% 11,70% 32,61% 26,54% 30,97% 25,22% 28,07%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Dari hasil perhitungan KPN, KPP, dan KPPW serta pertumbuhan ekonomi tersebut, dapa kita lihat ada beberapa sektor yang nilainya negatif atau minus, akan tetapi lebih banyak sektor yang nilainya positif. Pada perhitungan pertumbuhan ekonomi diatas, ratarata nilai sektor relatif tinggi, sehingga dapat dianalisis bahwa sektor-sektor yang ada di Kabupaten Cilacap tersebut memberikan pengaruh positif dalam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Cilacap. ` Berikut adalah hasil perhitungan analisis shift share secara lebih rinci dalam tabel-

tabel perhitungan analisis: 1. Berdasarkan Prestasi Pergeseran Bersih (PB) Prestasi pergeseran bersih dapat dianalisis dengan ketentuan: Jika besaran Pergeseran Bersih sektor tersebut progresif/maju Jika besaran Pergeseran Bersih < sektor tersebut mundur

Sehingga dari perhitungan pergeseran berrsih Kabupaten Cilacap, didapat hasil seperti yang tertera pada tabel dibawah.

25

Tabel IV.15 Tabel Interpretasi Pergeseran Bersih Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa KPP -13,42% -123,35% 4,23% 1,02% 4,75% 2,48% 7,61% 5,52% -0,40% KPPW 3,17% 127,92% -16,28% -13,91% 3,27% -0,52% -1,23% -4,88% 3,89% KPP+KPPW (PB) -10,25% 4,57% -12,05% -12,89% 8,02% 1,96% 6,38% 0,64% 3,49% KETERANGAN Mundur Progresif Mundur Mundur Progresif Progresif Progresif Progresif Progresif

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa ada tiga sektor yang mengalami kemunduran, yaitu sektor pertanian, industri, dan listrik, gas dan air bersih. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami kemajuan, atau dapat dikatakan progresif. 2. Berdasarkan Interpretasi KPP Apabila KPP bernilai positif (KPP > 0) pada wilayah/daerah yang berspesialisasi dalam sektor yg secara nasional tumbuh cepat. Dan sebaliknya, apabila KPP bernilai negatif (KPP < 0) pada wilayah/daerah yang berspesialisasi dalam sektor yg secara nasional tumbuh lambat.
Tabel IV.16 Tabel Interpretasi KPP KPP (+/-) Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan -13,42% 123,35% 4,23% 1,02% 4,75% 2,48% 7,61% 5,52% Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Lambat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Lambat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat

Sektor

Keterangan

26

Jasa-jasa

-0,40%

Spesialisasi Dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Lambat

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada tiga sektor yang secara nasional tumbuh lambat, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor jasa-jasa. Sedangkan sektor lainnya, seperti industri pengolahan, konstruksi, keuangan, ketiga sektor lainnya merupakan sektor yang secara nasional tumbuh cepat. 3. Berdasarkan Interpretasi KPPW Apabila dari hasil perhitungan didapat nilai KPPW yang positif (KPPW > 0) , maka sektor tersebut mempunyai keunggulan komparatif (comparative advantage) di wilayah tersebut atau sering disebut juga sebagai keuntungan lokasional. Dan

sebaliknya, apabila KPPW bernilai negatif (KPPW < 0) maka sektor tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif atau tidak dapat bersaing.
Tabel IV.17 Tabel Interpretasi KPPW

Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa

KPPW (+/-) 3,17% 127,92% -16,28% -13,91% 3,27% -0,52% -1,23% -4,88% 3,89%

Keterangan Mempunyai Daya Saing Mempunyai Daya Saing Tidak Mempunyai Daya Saing Tidak Mempunyai Daya Saing Mempunyai Daya Saing Tidak Mempunyai Daya Saing Tidak Mempunyai Daya Saing Tidak Mempunyai Daya Saing Mempunyai Daya Saing

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Dari tabel-tabel diatas, kemudian dapat disimpulkan bahwa: a. Sektor yang mengalami kemajuan (progresif) adalah: Sektor Konstruksi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Sektor Transportasi dan Komunikasi Sektor Keuangan Sektor Jasa-jasa Sektor Pertambangan dan Penggalian b. Sektor yang secara nasional tumbuh cepat adalah: Sektor Industri Sektor Listrik, Gas, dan Air Minum Sektor Konstruksi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Sektor Transportasi dan Komunikasi

27

c. Sektor 4.4

Sektor Keuangan yang mempunyai daya saing adalah: Sektor Pertanian Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor Konstruksi Sektor Jasa-jasa

Analisis Sektor Ekonomi Unggulan (LQ dan Shift Share) Analisis sector ekonomi unggulan adalah anlisis dapat digunakan untuk mengetahui

sector-sektor apa saja yang dianggap sebagai sektor yang dapat meningkatkan perekonomian daerah. Dalam laporan ini maka dianalisis sector ekonomi unggulan Kabupaten Cilacap. Untuk menganalisis sector ekonomi unggulan, dibutuhkan data hasil perhitungan rata-rata LQ selama lima tahun dan Shift Share.
Tabel IV.18 Gabungan Hasil LQ dan Shift Share Kabupaten Cilacap 2007-2011 I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Sektor Location Quotient LQ 0,67848046 0,899743502 1,682236293 0,394098557 0,334149031 1,034847297 0,426864083 0,589019337 0,249934949 Shift Share PB -10,25% 4,57% -12,05% -12,89% 8,02% 1,96% 6,38% 0,64% 3,49%

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Dari table diatas, kemudian diubah dengan ketentuan sebagai berikut:


Tabel IV.19 Gabungan Hasil LQ dan Shift Share Kabupaten Cilacap 2007-2011 II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Sektor Location Quotient LQ <1 <1 1 <1 <1 1 <1 <1 <1 Shift Share PB <0 >0 <0 <0 >0 >0 >0 >0 >0

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

28

Kemudian berdasarkan nilai plotting pada tabel diatas, maka sektor ekonomi unggulan di Kabupaten Cilacap dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Kuadran Plotting Nilai LQ dan PB PB > 0
Sektor Berkembang Pertambangan dan Penggalian Konstruksi Keuangan Transportasi dan Komunikasi Jasa-jasa Sektor Unggulan Perdagangan, Hotel, dan Restoran LQ= 1,034847297 atau LQ 1 dan PB > 0, maka sektor tersebut dijadikan prioritas utama

LQ

LQ 1
Sektor Potensial Industri LQ=1,682236293 atau LQ 1 dan PB < 0, maka sektor tersebut dijadikan priorita kedua, dikarenakan sektor industri dkategorikan mundur sehngga perlu didorong agar menjadi sektor unggulan

Sektor Terbelakang

Pertanian Listrik, Gas, dan Air Minum

PB < 0

Prioritas Pengembangan Sektor Ekonomi (Sektor Unggulan) PB > 0


Sektor Berkembang Pertambangan dan Penggalian Konstruksi Keuangan Transportasi dan Komunikasi Jasa-jasa Sektor Unggulan Perdagangan, Hotel, dan Restoran

LQ

Sektor Terbelakang

Prioritas 1 : Perdagangan , Hotel, dan Restoran Prioritas 2 : Industri

LQ= 1,034847297 atau LQ 1 dan PB > 0, maka sektor tersebut dijadikan prioritas utama

LQ 1
Sektor Potensial Industri LQ=1,682236293 atau LQ 1 dan PB < 0, maka sektor tersebut dijadikan priorita kedua, dikarenakan sektor industri dkategorikan mundur sehngga perlu didorong agar menjadi sektor unggulan

Pertanian Listrik, Gas, dan Air Minum

PB < 0

29

4.5

Arahan Pengembangan Ekonomi Untuk menyusun arahan pengembangan ekonomi, perlu dilakukan pengkajian

dengan menggunakan gabungan hasil perhitungan Analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share (PB) dengan cara sebagai berikut.
Tabel IV.18 Gabungan Hasil LQ dan Shift Share Kabupaten Cilacap 2007-2011 II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Sektor Location Quotient LQ <1 <1 1 <1 <1 1 <1 <1 <1 Shift Share PB <0 >0 <0 <0 >0 >0 >0 >0 >0 Sektor Terbelakang Sektor Berkembang Sektor Potensial Sektor Terbelakang Sektor Berkembang Sektor Unggulan Sektor Berkembang Sektor Berkembang Sektor Berkembang Tipologi Sektor

Sumber : Hasil pengolahan data Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

Berdasarkan tabel analisis gabungan hasil LQ dan Shift Share Kabupaten Cilacap di atas, didapatkan : 1. Sektor yang termasuk sektor unggulan adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Sektor tersebut merupakan sektor yang paling pertama diprioritaskan dalam pengembangan dan meningkatkan perekonomian di Kabupaten Cilacap. 2. Sektor yang termasuk sektor potensial adalah Sektor Industri. . Sektor tersebut merupakan sektor yang kedua diprioritaskan dalam pengembangan dan meningkatkan perekonomian di Kabupaten Cilacap.
Gambar 4.1 Peta Sektor Unggulan di Kabupaten Cilacap

Sumber : Hasil Analisis Kelompok 8 Mata Kuliah Ekonomi Wilayah dan Kota, 2012

30

Berdasarkan Peta Sektor Unggulan yang ada di tiap kecamatan di Kabupaten Jawa Tengah, didapatkan bahwa kecamatan yang memiliki potensi untuk pengembangan sektor unggulan tertinggi, yakni sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran adalah Kecamatan Kroya. Sehingga untuk dapat meningkatkan

perekonomian dan kontribusi sektor tersebut dalam PDRB di Kabupaten Cilacap haruslah mengutamakan pengembangan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang ada di Kecamatan Kroya. Selain itu, berdasarkan tabel analisis gabungan hasil LQ dan Shift Share Kabupaten Cilacap dapat juga dilakukan pengembangan sektor yang pertama diprioritaskan yakni sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran guna meningkatkan perekonomian Kabupaten Cilacap ke arah luar. Dan mengembangkan sektor potensial sebagai sektor yang kedua diprioritaskan yakni sektor industri. Dengan mengembangkan sektor industri, maka akan mendukung sektor unggulan dalam kontribusinya meningkatkan perekonomian di antar wilayah (kecamatan) di Kabupaten Cilacap, serta ke arah luar (ekspor) dari Kabupaten Cilacap. Sehingga sektor potensial tersebut dapat menjadi sektor unggulan apabila lebih difasilitasi untuk dikembangkan lagi.

31

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Analisis perekonomian dalam hal ini perkembangan PDRB selalu mengalami kenaikan dalam kurun waktu antara tahun 2007-2011, Sektor yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cilacap selama kurun waktu 2007 hingga 2011 adalah sektor industri pengolahan. Sedangkan sektor yang memberikan kontribusi paling kecil terhadap PDRB Kabupaten Cilacap selama 2007-2011 adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. Berdasarkan tabel analisis gabungan hasil LQ dan Shift Share Kabupaten Cilacap di atas, didapatkan : 1. Sektor yang termasuk sektor unggulan adalah Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran. Hal ini dikarenakan : a. Berdasarkan perhitungan LQ, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, LQ 1 b. Berdasarkan besaran Pergeseran Bersih, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran bernilai positif sehingga tergolong mengalami progresif. c. Berdasarkan interprestasi KPP bernilai positif, sehingga Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Spesialisasi dalam Sektor Yang Secara Nasional Tumbuh Cepat d. Berdasarkan besaran KPPW, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran memiliki KPPW negatif, maka tergolong tidak mempunyai daya saing. e. Berdasarkan perhitungan Shift Share, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran Sektor memiliki nilai >0. Sehingga sektor tersebut adalah sektor yang paling pertama diprioritaskan dalam pengembangan dan meningkatkan perekonomian di Kabupaten Cilacap. 2. Sektor yang termasuk sektor potensial adalah Sektor Industri. Sektor tersebut merupakan sektor yang kedua diprioritaskan dalam pengembangan dan meningkatkan perekonomian di Kabupaten Cilacap.

Rekomendasi Pengembangan sektor unggulan tertinggi, yakni sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran adalah di Kecamatan Kroya. Sehingga untuk dapat meningkatkan perekonomian dan kontribusi sektor tersebut dalam PDRB di Kabupaten Cilacap haruslah mengutamakan pengembangan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang ada di Kecamatan Kroya. Kabupaten Cilacap dapat juga dilakukan pengembangan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran guna meningkatkan perekonomian Kabupaten Cilacap ke arah luar (Provinsi Jawa Tengah). Dan mengembangkan sektor potensial sebagai sektor yang kedua diprioritaskan yakni sektor industri. Pengembangan sektor Industri akan mendukung sektor unggulan

32

dalam kontribusinya meningkatkan perekonomian di antar wilayah (kecamatan) di Kabupaten Cilacap, serta ke arah luar (ekspor) dari Kabupaten Cilacap. Sehingga sektor potensial tersebut dapat menjadi sektor unggulan apabila lebih difasilitasi untuk dikembangkan lagi.

33

Daftar Pustaka (BPS). 2012. Kecamatan Dalam Angka tahun 2012. Cilacap: Kerjasama Bappeda dan BPS Cilacap. (BPS). 2012. PDRB Kabupaten Cilacap tahun 2011 (Buku 1). Cilacap: Kerjasama Bappeda dan BPS Cilacap (BPS). 2012. PDRB Kabupaten Cilacap tahun 2011 (Buku 2). Cilacap: Kerjasama Bappeda dan BPS Cilacap PDRB Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 Propinsi Jateng tahun 2007-2011. http://jateng.bps.go.id. Diunduh Minggu, 9 Desember 2012. _____. http://www.cilacapkab.go.id. Diakses Minggu, 9 Desember 2012.

34