Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH CASE JEJAS

Kelompok Tutorial B2 Disusun Oleh :

-DANDY IRAWAN (1110211020) -ROZANDRA D.A.K.P (1110211044) -IZZATUN NISA (1110211058) -VIRDA DWI S (1110211042) -MADE JANUARTA M (1110211096) -GARNIS N (1110211098)

-ILLINA DEWI NUR (1110211112) -BENEDICTA F.S (1110211147) -UMI KHULSUM (1110211192) -N ARIEF K (1110211158) -WIDYA K.A (1110211191) -PRIMA CAESAREA U (1010211154)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA Tahun Ajaran 2011/2012

Case XI Ganjalan Sang Bintang Page I


Pada pertandingan sepak bola antara Timnas Indonesia melawan Tim kesebelasan LA Galaxi yang berlangsung di Jakarta pada bulan Desember 2011, mempunyai kesan yang cukup baik bagi sejumlah pemain namun tidak begitu dengan salah satu pemain timnas Indonesia Andik Vermansyah 2o tahun. Pada saat pertandingan berlangsung Andik mendapat ganjalan yang sangat keras dari salah satu bintang LA Galaxi. Andik merasakan sakit sampai dia terkapar di tengah lapangan. Karena tidak dapat melanjutkan pertandingan maka Andik ditandu ke pinggir lapangan, dan langsung mendapat pertolongan dari dokter yang bertugas.

Page II
Dari hasil pemeriksaan dokter, ditemukan bahwa lengan andik mengalami memar, sedang lututunya mengalami luka terbuka yang mengeluarkan darah. Tiga hari kemudian luka di lengan andik mulai tampak baik tetapi luka di lutut memerah, bengkak, dan mengeluarkan cairan, andik mengalami kesulitan berjalan Satu minggu kemudian, luka di lengan Andik sudah sembuh namun luka di lutut masih tampak sebagai jaringan hitam di atasnya dan sebagian lagi merupakan jaringan segar berwarna merah yang menonjol. Namun Andik sudah dapat berjalan dan melalukan latihan ringan bersama rekan Timnas lainnya

Terminologi
1. Atrophy 2. Hypertrophy : mengecilnya sel, jaringan, organ atau bagian tubuh. : pembesaran atau pertumbuhan suatu organ atau bagian secara

berlebihan akibat peningkatan ukuran sel pembentuknya. 3. Metaplasia : perubahan jenis sel dewasa dalam jaringan menjadi bentuk sel

dewasa lain yang bukan sel normal untuk jaringan tersebut. 4. Dysplasia : abnormalitas perkembangan, dalam patologi berarti perubahan

ukuran bentuk dan organisasi sel-sel matur.

Problem
1. Andik mendapatkan ganjalan yang menyebabkan dia cedera (jejas). Apa itu jejas/lesi/cedera? 2. Apa saja penyebab jejas? 3. Bagaimana mekanisme terjadinya jejas?

4. Macam-macam jejas? 5. Bagaimana respon tubuh terhadap cedera? 6. Mengapa lengan andik mengalami luka memar? 7. Mengapa luka lutut yang terbuka mengeluarkan darah? 8. Mengapa setelah 3 hari lututnya memerah, bengkak dan mengeluarkan cairan? 9. Mengapa setelah 1 minggu, luka dilute andik masih tampak adanya jaringan hitam diatasnya dan sebagian merupakan jaringan segar berwarna merah yang sedikit menonjol?

Hipotesis
1. Jejas adalah cedera sel 2. fisika : kontak fisika, sinar UV kimia : pestisida biologi: bakteri dan virus hipoksia-iskemik genetik nutrisi reaksi imunologi 3. Mekanisme biokimia Mekanisme intraseluler Mekasnisme ATP deplesion 4. Reversible Irreversible 5. Adaptasi sel 6. Inflamsi 7. Robeknya pembuluh darah 8. Cirri-ciri terjadinya inflamasi 9. Merupakan mekanisme perbaikan luka

I dont know
1. Jejas

2. Adaptasi sel 3. Inflamasi 4. Pemulihan sel

Learning Issues
1. Definisi jejas Penyebab+mekanisme jejas Jenis-jenis cedera sel Bentuk, gambaran mikroskofik Bentuk+morfologi kerusakan sel 2. Atrofi Hipertrofi Metaplasia Dysplasia 3. Definisi Mediator+fungsi Local Sistemik Macam-macam inflamasi Tanda-tanda+mekanisme 4. Definisi Mekanisme Faktor-faktor pada proses penyembuhan Angiogenesis Hibrosisi Remodeling

Sekilas Tentang Jejas Sel


Manusia sesungguhnya, berupa kelompok sel-sel yang tersususn rapi dan rumit. Kesehatan perorangan berasal dari kesehatan selnya. Penyakit mencerminkan disfungsi sejumlah penting sel-sel. Dalam bereaksi terhadap tekanan yang progresif, sel akan : Menyesuaikan diri Terjadi jejas yang dapat pulih kembali (reversible) Mati Kelangsungan fungsi dan struktur fungsi sel normal, beradaptasi, terjejas ireversibel, mati merupakan keadaan yang berbatas kaburSemua tekanan atau pengaruh berbahaya berdampak pertama-tama pada tingkat molekul. Perubahan molekul dan fungsi selalui mendahului perubahan morfologi. Waktu yang diperlukan untuk menimbulkan perubahan yang tampak pada adaptasi sel, jejas dan kematian berbeda-beda sesuai dengan kemampuan pemilihan cara-cara yang dipakai untuk mendetiksi perubahan tersebut. Setelah nanti akhirnya sis el mengalami kematian yaitu pada tahap jejas ireversibel, ada pola dasar kematian sel. Pola tersbut mempunyai mekanisme yang berbeda,tetapi terdapat juga pertimbangan yang tumpang tindih di antara dua proses: Nekrosis(Khususnya nekrosis koagulatif) terjadi setelah suplai darah hilang atau setelah terpajan toksin dan ditandai dengan pembengkakan sel ,denaturasi protein dan kerusakan organela. Jalur lintas kematian sel tersebut dapat menyebabkan disfungsi berat jaringan. Apoptosis terjadi sebagai akibat program bunuh diri yang dikontrol secara jaringan

internal,setelah sel mati yang disingkirkan dengan gangguan minimal dari

sekitarnya. Keadaan tersebut terjadi dalam kondisis fisiologis, saat sel yang tidak dikehendaki dieleminasi (missal, embryogenesis), dan dalam berbagai kondisi patologis (misal, kerusakan mutasi yang tidak dapat diperbaiki. Hubungan antara sel normal, sel yang beradaptasi, serta cedera sel reversible dan ireversibel digambarkan pada penjelasan berikut. Miokardium menjadi sasaran terhadap peningkatan beban yang menetap, seperti pada hipertensi atau dengan katup stenotik,

breradaptasi dengan mengalami hipertrofi (suatu penambahan ukuran sel dan akhirnya selurug jantung) untuk menimbulkan tekanan lebih tinggi yang diperlukan. Sebaliknya, selama masa kelaparan yang lama atau kakeksia (kehilangan berat badan, seperti akibat tumor ganas), miokardium mengalami atrofi (pengurangan ukuran sel tanpa perubahan dalam jumlah sel). Miokardium menjadi sasaran terhadap penurunan aliran darah (iskemia) dari arteria koronaria yang mengalami oklusi, yang bias menyebabkan cedera reversible apabila oklusi tidak lengkap atau cukup singkat, atau dapat mengalami cedera irversibel (infark) setelah sumbatan lengkap atau dalam waktu lama. Catat juga, stress dan jejas tidak hanya berpengaruh terhadap morfologi, tetapi juga status fungsional sel dan jaringan. Jadi , miosit yang mengalami jejas reversible tidak mati dan kenyataanya hamper mirip miosit normal. Namun, miosit itu sementara nonkontraktil sehingga dapat berdampak klinis yang secara potensial bersifat letal. Apakah bentuk khas stress menginduksi adaptasi atau menyebabkan jejas reversible atau ireversibel tidak hanya bergantung pada sifat dan keparahan stress, tetapi juga pada penyebab jejas sel lainnya yang akan di bahas berikutnya

Penyebab Jejas sel


a. Hipoksia : Penyebab jejas dan kematian sel paling penting Mempengaruhi respirasi oksidasi aerob Hilangnya perbekalan darah, penyebab hipoksia yang paling sering Oksigenasi darah yang tidak memadai karena kegagalan kardiorespirasi

b. Bahan Kimia dan Obat : Penyebab penting adaptasi, jejas dan kematian sel. Setiap agen kimia atau obat dapat dilibatkan. Bahan yang tidak berbahaya bila konsentrasinya cukup sehingga dapat merusak lingkungan osmosa sel akan berakibat jejas atau kematian sel tersebut. Racun dapat menyebabkan kerusakan hebat pada sel dan kemungkinan kematian seluruh organisme. Masing-masing agen biasanya memiliki sasaran khusus dalam tubuh

c. Agen Fisika : Trauma mekanik pada organel intrasel atau pada keadaan yang ekstrem, dapat merusak sel secara keseluruhan. Suhu rendah Vasokonstriksi dan mengacau perbekalan darah untuk sel-sel, bila suhu semakin rendah, air intrasel akan mengalami kristalisasi. Suhu tinggi yang merusak dapat membakar jaringan. Perubahan mendadak tekanan atmosfer juga dapat berakibat gangguan perbekalan darah untuk sel-sel. Penyakit caison Tenaga Radiasi menyebabkan ionisasi lansung senyawa kimia yang dikandung dalam sel, mutasi yang dapat berjejas atau membunuh sel-sel. Tenaga Listerik meyebabkan luka bakar, dapat mengganggu jalur konduksi syaraf dan sering berakibat kematian karena aritmia jantung.

d. Agen Mikrobiologi : Virus dan rcketsia merupakan parasit obligat intrasel yang hidupnya hanya di dala sel-sel hidup. Virus yang menyebabkan perubahan pada sel : Sitolisis (dapat menyebabkan kematian sel), Onkogen (merangsang replikasi sel, berakibat tumor). Kuman dengan membebaskan eksotoksin dan endotoksin yang mampu mengakibatkan jejas sel, melepaskan enzim sehinga dapat merusak sel. Jamur, protozoa dan cacing dapat menyebabkan kerusakan dan penyakit pada sel

e. Mekanisme Imun : Penyebab kerusakan sel dan penyakit pada sel. Antigen penyulut berasal dari eksogen (Resin tanaman beracun), endogen (antigen sel) yang menyebabkan penyakit autoimun.

f. Cacat Genitika : Kesalahan metabolisme keturunan dapat mengurangi sutu enzem sel. Dalam keadaan parah meyebabkan kelangsungan hidup sel tidak sesuai. Beberapa keadaan abnormal genetika diturunkan sebagai sifat keluarga (anemia sel sabit).

g. Ketidak seimbangan Nutrisi : Defesiensi nutrisi penyebab jejas sel yang penting, mengancam menjadi masalah kehancuran di masa mendatang. Defesiensi protein-kalori, avitaminosis, kalori berlebihan dan diet kaya lemak merupakan masalah ketidakseimbangan nutrisi di dunia.

h. Penuaan : Penuaan dan kematian sel merupakan akibat penentuan progresif selama jangka waktu hidup sel dengan informasi genitik yang tidak sesuai akan menghalangi fungsi normal sel.

Mekanisme Kerusakan Sel


Sel merupakan partisipan aktif di lingkungannya, yang secara tetap menyesuaikan struktur dan fungsinya untuk mengakomodasi tuntutan perubahan dan stres ekstrasel. Sel cenderung mempertahankan lingkungan segera dan intraselnya dalam rentang parameter fisiologis yang relatif sempit Sel mempertahankan homeostatis normalnya. ketika mengalami stres fisiologis atau rangsangan patologis, sel bisa beradaptasi, mencapai kondisi baru dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kerusakan sel dapat terjadi pada berbagai organel sel, tetapi yang paling sering mengalami kerusakan adalah 1. Membran sel 2. Mitokondria 3. Nukleus 4. Sitoskeleton Faktor yang menentukan respon yang diberikan sel saat mengalami stress : 1. Intensitas (dosis) faktor yang menyebabkan kerusakan sel 2. Sel yang mengalami stress. Dikarenakan setiap sel memiliki kemampuan yang berbedabeda saat mengalami stress.

Respon dari sel ketika terjadi stress : 1.Adaptasi, Respons adaptasi utama adalah atrofi, hipertrofi, hiperplasia, dan metaplasia. Apabila kemampuan adaptatif berlebihan, maka akan mengalami Jejas sel (cell injury).

Sel memiliki homeostatis. Contoh : Untuk melindungi kulit dari sinar UV maka diproduksi melanin. 2. Kerusakan/ Luka pada sel Ketika sel tidak dapat beradaptasi, sel yang berfungsi untuk memperbaiki kerusakan sel mengalami kerusakan . Contoh : Ketika sinar UV dengan intensitas yang besar/serius mengenai kulit, kulit akan terbakar sunburn. Ketika sel mengalami kerusakan : Sel yang rusak kembali pulih ketika stress pulih. Maka kerusakan sel ini disebut reversible Sel tidak dapat pulih dikarenakan stress yang serius. Dan kerusakan sel ini disebut irreversible . Namun, dengan stress berat atau menetap, terjadi cedera ireversibel dan sel yang terkena mati.. Maka sel tersebut akan tetap mengalami kerusakan hingga akhirnya sel tersebut mati (nekrosis atau apaptosis). Pola Dasar Kematian Sel: Nekrosis terjadi setelah suplai darah hilang atau setelah terpajan toksin dan ditandai dengan pembengkakan sel, denaturasi protein, dan kerusakan organela.jalur lintas kematian sel tersebut menyebabkan disfungsi berat. Apoptosis kematian sel yang telah diprogramkan bunuh diri. Keadaan tersebut terjadi dalam kondisi fisiologis, saat sel yang tidak dikehendaki dieliminasi, dan dalam berbagai kondisi patologis contohnya kerusakan mutasi yang tidak dapat diperbaiki). Prinsip umum yang relevan dengan sebagian besar cedera sel :

1. Respons selular terhadap stimulus yang berbahaya bergantung pada tipe cedera, durasi, dan keparahannya. 2. Akibat suatu stimulus yang berbahaya bergantung pada tipe, status, kemampuan adaptasi, dan susunan genetik sel yang mengalami jejas. 3. Empat sistem intraselular yang paling mudah terkena adalah 1) keutuhan membran sel, 2) pembentukan adenosin trifosfat (ATP) paling besar melalui respirasi aerobik mitokondria, 3) sintesis protein, dan 4) keutuhan perlengkapan genetik. 4. Komponen struktural dan biokimiawi suatu sel terhubung secara utuh tanpa memandang lokus awal jejas, efek mutipel sekunder yang terjadi sangat cepat. 5. fungsi sel hilang jauh sebelum terjadi kematian sel, dan perubahan morfologi jejas Prinsip Biokimiawi Dasar yang Muncul pada Penyebab Cedera : 1. Deplesi ATP (Adenosin Trifosfat) 2. Deprivasi oksigen atau pembentukan spesies oksigen reaktif. peran oksigen pada jejas sel. Iskemia menyebabkan jejas sel dengan mengurangi suplai oksigen selular; stimulus lain seperti radiasi, menginduksi kerusakan lewat spesies oksigen teraktivasi yang toksisk.

3. Hilangnya homeostasis kalsium. 4. Defek pada permeabilitias membran plasma.

5. Kerusakan Mitokondria

Dengan prinsip yang ada Jejas pada sel dikenal 4 bentuk yang lazim terjadi yaitu Jejas iskemikhipoksik, Jejas iskemia/reperfusi, jejas yang diinduksi radikal bebas, jejas kimiawi. 1. Jejas hipoksia disebabkan paling banyak karena iskemia. Efek pertama hipoksia adalah pada respirasi aerobik sel, yaitu fosforilasi oksidatif oleh mitokondria akibat penurunan tegangan oksigen, pembentukan ATP intrasel yang jelas berkurang. Hasil dari deplesi ATP mempunyai efek yang luas pada banyak sistem dalam sel. Aktivitas pompa natrium menurun sehingga terjadi akumulasi natrium intrasel dan difusi kalium keluar sel. Glikolisis anaerob meningkat akibat meningkatnya ATP disertai AMP yang meningkat.

Penurunan kadar pH dan ATP menyebabkan ribosom lepas dari REK dan polisom untuk berubah menjadi monosom (sintesis protein menurun). 2. Jejas reperfusi/iskemia terjadi jika sel mengalami jejas sel mengalami perbaikan aliran darah secara paradoks, pada terakselerasi dan dieksaserbasi (lebih buruk) sehingga jaringan yang menyokong menjadi kehilangan sel selain sel yang rusak ireversibel. 3. Jejas sel yang diinduksi radikal bebas juga mendasari cedera zat kimia dan radiasi, toksisitas oksigen dan gas lain, penuaan selular, pembunuhan mikroba oleh sel fagositik, kerusakan sel radang, destruksi tumor oleh makrofag, dan proses cedera lainnya. Radikal bebas dapat dibentuk di dalam sel oleh reaksi redoks, nitrit oksida (NO), penyerapan energi radian (mis. sinar ultraviolet, sinar X), juga oleh metabolisme zat kimia eksogen (mis. karbon tetraklorida). Jejas sel yang diinduksi oleh radikal bebas melewati prosesproses: peroksidasi lipid membran, fragmentasi DNA, dan ikatan silang protein. Tiga Reaksi yang Paling Relevan dengan Jejas Sel yang Diperantarai Radikal Bebas

Peroksidasi lipid membran. Ikatan ganda pada lemak tak jenuh membran mudah terserang radikal bebas berasal dari oksigen.

Fragmentasi DNA. Reaksi radikal bebas dengan timin pada DNA mitokondria dan nuklear menimbulkan rusaknya untai tunggal.

Ikatan silang protein. Radikal bebas mencetuskan ikatan silang protein yang diperantarai sulfhidril, menyebabkan peningkatan kecepatan degradasi enzimatik. Radikal bebas memang tidak stabil, dan umumnya rusak secara spontan. Sel juga membentuk beberapa sistem enzimatik dan nonenzimatik untuk menonaktifkan radikal bebas. Kecepatan kerusakan spontan meningkat bermakna oleh kerja superoksida dismutase (SOD). Glutation peroksidase (GSH) juga melindungi sel agar tidak mengalami jejas dengan mengatalisis perusakan radikal bebas. Katalase yang terdapat dalam peroksisom, langsung mendegradasi hidrogen peroksida. Antioksidan endogen atau eksogen (misal, vitamin E,A, dan C, serta beta karoten) dapat menghambat pembentukan radikal bebas.

4. Jejas kimiawi

Zat kimia menginduksi jejas sel dengan salah satu dari dua mekanisme umum berikut ini : a. Beberapa zat kimia bekerja secara langsung dengan cara bergabung dengan komponen molekuler kritis atau organel seluler. Misalnya keracunan merkuri klorida, merkuri berikatan dengan gugus sulfhidril berbagai protein membrane sel, menyebabkan inhibisi transport yang bergantung ATPase dan meningkatkan permeabilitas membrane. Banyak agen

kemoterapeutik antineoplastik dan antibiotic juga menginduksi kerusakan sel dengan efek sitoksik langsung yang serupa. Pada kondisi ini, kerusakan terbesar tertahan oleh sel yang menggunakan, mengabsorpsi, mengekskresi atau mengonsentrasikan senyawa. b. Banyak zat kimia lain yang tidak aktif secara intrinsic biologis, tetapi pertama kali harus dikonversi menjadi metabolit toksik reaktif, yang kemudian bekerja pada sel target. Modifikasi ini biasanya disempurnakan oleh oksidase fungsi campuran p-450 dalam reticulum endoplasmic halus (SER) hati dan organ lain. Meskipun metabolit dapat menyebabkan kerusakan membrane dan jejas sel dengan pengikatan kovalen langsung pada protein lipid , mekanisme jejas sel terpenting melibatkan pembentukan radikal bebas aktif. Mekanisme Cedera Sel Akibat Iskemia Iskemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan suplai oksigen terhadap suatu jaringan atau organ tertentu. Iskemia dapat disebabkan oleh oklusi (bendungan) terhadap aliran darah misal karena aterosklerosis, trombus atau emboli dan spasme pembuluh darah. Iskemia merupakan penyebab cedera sel yang paling sering terjadi. Iskemia pada suatu organ menyebabkan terjadinya hipoksia pada sel-selnya, karena sel mengalami penurunan suplai oksigen sehingga menyebabkan metababolisme di dalam sel berubah anaerob.

Akibatnya terjadi penurunan produksi ATP sebagai sumber energi terhadap berbagai aktifitas sel, termasuk didalammya adalah penurunan energi untuk aktifitas transport aktif. transport aktif

menggerakan pompa natrium memompa natrium dari intrasel ke luar sel, karena adanya penurunan sumber energi untuk menggerakkan pompa natrium maka terjadi kelebihan ion natrium di dalam sel. Sebagai dampak kelebihan ion natrium intraselular ini terjadi pemindahan air dari ekstrasel ke dalam intrasel sehingga terjadilah penumpukan cairan dalam sel/udem sel (pembengkakan seluler). Pada kondisi ini sitoplasma secara mikroskopik akan tampak pucat. Apablia kondisi berlangsung terus menerus organela-organela dapat mengalami pembengkakan, termasuk retikulum endoplasma. Bila penyebab keadaan ini segera teratasi maka sel akan berangsur kepada fungsi dan struktur semula, akan tetapi kalau faktor penyebabnya tidak hilang dan terus menerus (persisten) terjadi kondisi yang kekurangan oksigen maka bisa terjadi penurunan fungsi mitokondria dan organela lain seperti retikulum endoplasma yang mensintesa protein dan lipid untuk regenerasi membran sel. Kerusakan membran sel juga terjadi karena tidak berfungsinya pompa kalsium juga menyebabkan kalisum bebas masuk ke intrasel dan mengaktifkan enzim phospolipase sehingga mengakibatkan kerusakan membran sel. Selain hal tersebut di atas, iskemia menyebabkan metabolisme anaerob. Dampak negatif metabolisme anaerob adalah penumpukan asam laktat intrasel, selanjutnya menurunkan pH cairan intrasel dan mengganggu proses kerja dari enzim-enzim intrasel.

Jenis Cedera Sel Apabila sebuah stimulus menyebabkan cedera sel maka perubahan yang pertama kali terjadi adalah terjadinya kerusakan biokimiawi yang mengganggu proses metabolisme. Sel bisa tetap normal atau menunjukkan kelainan fungsi yang diikuti dengan perubahan morfologis. Gangguan

fungsi tersebut bisa bersifat reversibel ataupun ireversibel sel tergantung dari mekanisme adaptasi sel. Cedera reversibel disebut juga cedera subletal dan cedera ireversibel disebut juga cedera letal. 1. Cedera Subletal (reversible) cedera subletal terjadi bila sebuah stimulus menyebabkan sel cedera dan menunjukkan perubahan morfologis tetapi sel tidak mati. Perubahan subletal ini bersifat reversibel dimana bila stimulusnya dihentikan maka sel akan kembali pulih seperti sebelumnya. Cedera subletal ini disebut juga proses degeneratif. Perubahan degeneratif lebih sering mengenai sitoplasma, sedangkan nukleus tetap dapat mempertahankan integritasnya. Bentuk perubahan degeneratif yang paling sering terjadi adalah akumulasi cairan di dalam sel akibat gangguan mekanisme pengaturan cairan. Biasanya disebabkan karena berkurangnya energi yang digunakan pompa natrium untuk mengeluarkan natrium dari intrasel. Sitoplasma akan terlihat keruh dan kasar (degenerasi bengkak keruh).

Dapat juga terjadi degenerasi lebih berat yaitu degenerasi lemak atau infiltrasi lemak dimana terjadi penumpukan lemak intrasel sehingga inti terdesak ke pinggir. Jaringan akan bengkak dan bertambah berat dan terlihat kekuning-kuningan. Misalnya perlemakan hati (fatty liver) pada keadaan malnutrisi dan alkoholik. Pada jejas reversible : - Membran sel menggelembung - Pembengkakan umum (sitoplasma) - Penggumpalan kromatin inti - Autofagi oleh lisosom - Penggumpalan partikel intramembran - Pembengkakan ER - Kebocoran ribosom - Pembengkakan mitokondria - Pemadatan kecil-kecil pada mitokondria

2. Cedera Letal (irreversible) Bila stimulus yang menyebabkan sel cedera cukup berat dan berlangsung lama serta melebihi kemampuan sel untuk beradaptasi maka akan menyebabkan kerusakan sel yang bersifat ireversibel (cedera sel) yang berlanjut kepada kematian sel. Dua fenomena yang konsisten menandai irreversible: pertama, ketidakmampuan memperbaiki disfungsi mitokondria ( kekurangan fosforilasi oksidatif dan pembentukan ATP), bahkan setelah resolusi jejas asal (missalnya, restorasi aliran darah). Kedua, terjadinya gangguan fungsi membrane yang besar. . Pada jejas irreversible - Kelainan (defek) membrane sel - Gambaran myelin pada membrane sel - Inti mengalami : piknosis atau kariolisis atau karioreksis - Lisosom pecah dan autolisis - Lisis ER - Pembengkakan mitokondria menurun dan pemadatan besar pada mitoko

Pola Kematian Sel

Stimulus yang terlalu berat dan berlangsung lama serta melebihi kapasitas adaptif sel akan menyebabkan kematian sel dimana sel tidak mampu lagi mengkompensasi tuntutan perubahan. Sekelompok sel yang mengalami kematian dapat dikenali dengan adanya enzim-enzim lisis yang melarutkan berbagai unsur sel serta timbulnya peradangan. Leukosit akan membantu mencerna sel-sel yang mati dan selanjutnya mulai terjadi perubahan-perubahan secara morfologis. Kematian sekelompok sel atau jaringan pada lokasi tertentu dalam tubuh disebut nekrosis. Nekrosis biasanya disebabkan karena stimulus yang bersifat patologis. Selain karena stimulus patologis, kematian sel juga dapat terjadi melalui mekanisme kematian sel yang sudah terprogram dimana setelah mencapai masa hidup tertentu maka sel akan mati. Mekanisme ini disebut apoptosis, sel akan menghancurkan dirinya sendiri (bunuh diri/suicide), tetapi apoptosis dapat juga dipicu oleh keadaan iskemia.

Apoptosis Apoptosis adalah kematian sel yang terprogram (programmed cell death), adalah suatu komponen yang normal terjadi dalam perkembangan sel untuk menjaga keseimbangan pada organisme multiseluler. Sel-sel yang mati adalah sebagai respons dari beragam stimulus dan selama apoptosis kematian sel-sel tersebut terjadi secara terkontrol dalam suatu regulasi yang teratur. Informasi genetik pemicu apoptosis aktif setelah sel menjalani masa hidup tertentu, menyebabkan perubahan secara morfologis termasuk perubahan pada inti sel. Kemudian sel akan terfragmentasi menjadi badan apoptosis, selanjutnya fragmen tersebut diabsorpsi sehingga sel yang mati menghilang.

Molekul yang juga berfungsi untuk apoptosis adalah p53. Apoptosis: kematian sel yang terprogram. Komponen yang normal pada perkembangan. Setiap hari dalam tubuh kita terjadi apoptosis. Sel ada yang berproliferasi (lahir) dan ada yang mati. Untuk terjadi apoptosis ada berbagai macam stimulus. Stimulusnya sangat regulated fashion (sangat terkontrol, bukan sesuatu yang asal lalu mati). Apoptosis dibedakan dengan necrosis karena necrosis menginduksi inflamasi yang dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Proses dimana sel memegang peranan dalam kematiannya sendiri.

Langkah apotosis: (A) merusak kromatin pada nucleus; (B) sel melanjutkan menyusut; (C) mengepak dirinya sendiri untuk dimakan makrofag; (D) terjadi apoptotic body, hancuran sel di dalam bukan dilepas (pada recrosis organelanya pecah dan keluar sehingga oleh dikenali oleh antibody). Sel-sel dalam tubuh bisa diibaratkan dengan daun pada sebatang pohon. Ada saatnya daun menjadi kering dan mati, lalu digantikan dengan daun yang baru. Begitu pula dengan sel-sel dalam tubuh. Dalam dunia kedokteran, proses itu disebut apoptosis. Selain karena apoptosis, sel juga bisa mati karena faktor dari luar seperti trauma, gangguan nutrisi, dan racun. ''Pola kematian sel karena apoptosis merupakan suatu proses yang amat teratur dan terencana. Lalu, mengapa dalam tubuh kita terjadi proses apoptosis? ada dua penyebab. Pertama, apoptosis diperlukan dalam perkembangan organisma seperti pada

metamorfosis dan pembentukan organ tertentu, misalnya menghilangkan selaput antara jari-jemari. Kedua, untuk menghilangkan sel-sel yang mungkin merupakan ancaman terhadap organisma seperti sel-sel yang terinfeksi virus. Dalam hal ini, sel limfokin sitotoksik akan membunuh sel yang mengandung virus. Misalnya, menghilangkan sel-sel sistem imun yang tidak diperlukan lagi untuk menghindari timbulnya penyakit autoimun seperti lupus, serta menghilangkan sel-sel yang telah mengalami kerusakan DNA. Ini untuk mencegah sel tersebut berkembang menjadi sel yang dapat menimbulkan kelainan bawaan atau menjadi sel kanker.

Nekrosis Nekrosis merupakan kematian sel sebagai akibat dari adanya kerusakan sel akut atau trauma (mis: kekurangan oksigen, perubahan suhu yang ekstrem, dan cedera mekanis), dimana kematian sel tersebut terjadi secara tidak terkontrol yang dapat menyebabkan rusaknya sel, adanya respon peradangan dan sangat berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Dua proses penting yg menunjukan perubahan nekrosis : yaitu :

a. Digestif enzimatik sel, baik autolisis (dimana enzim berasal dari sel mati) atau heterolysis ( enzim berasal dari leukosit). Sel mati dicerna dan sering meninggalkan cacat jaringan yg diisi oleh leukosit imigran dan menimbulkan abses. b.Denaturasi protein, jejas atau asidosis intrasel menyebabkan denaturasi protein struktur dan protein enzim sehingga menghambat proteolisis sel sehingga untuk sementara morfologi sel dipertahankan.

1. Perubahan Mikroskopis Perubahan pada sel yang nekrotik terjadi pada sitoplasma dan organel-organel sel lainnya. Inti sel yang mati akan menyusut (piknotik), menjadi padat, batasnya tidak teratur dan berwarna gelap. Selanjutnya inti sel hancur dan meninggalkan pecahan-pecahan zat kromatin yang tersebar di dalam sel. Proses ini disebut karioreksis. Kemudian inti sel yang mati akan menghilang (kariolisis).

2. Perubahan Makroskopis Perubahan morfologis sel yang mati tergantung dari aktivitas enzim lisis pada jaringan yang nekrotik. Jika aktivitas enzim lisis terhambat maka jaringan nekrotik akan mempertahankan bentuknya dan jaringannya akan mempertahankan ciri arsitekturnya selama beberapa waktu. Nekrosis ini disebut nekrosis koagulatif, seringkali berhubungan dengan gangguan suplai darah. Contohnya gangren. Jaringan nekrotik juga dapat mencair sedikit demi sedikit akibat kerja enzim dan proses ini disebut nekrosis liquefaktif. Nekrosis liquefaktif khususnya terjadi pada jaringan otak, jaringan

otak

yang

nekrotik

mencair

meninggalkan

rongga

yang

berisi

cairan.

Pada keadaan lain sel-sel nekrotik hancur tetapi pecahannya tetap berada pada tempatnya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dan tidak bisa dicerna. Jaringan nekrotik ini tampak seperti keju yang hancur. Jenis nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa, contohnya pada tuberkulosis paru. Jaringan adiposa yang mengalami nekrosis berbeda bentuknya dengan jenis nekrosis lain. Misalnya jika saluran pankreas mengalami nekrosis akibat penyakit atau trauma maka getah pankreas akan keluar menyebabkan hidrolisis jaringan adiposa (oleh lipase) menghasilkan asam berlemak yang bergabung dengan ion-ion logam seperti kalsium membentuk endapan seperti sabun. Nekrosis ini disebut nekrosis lemak enzimatik.

3. Perubahan Kimia Klinik Kematian sel ditandai dengan menghilangnya nukleus yang berfungsi mengatur berbagai aktivitas biokimiawi sel dan aktivasi enzim autolisis sehingga membran sel lisis. Lisisnya membran sel menyebabkan berbagai zat kimia yang terdapat pada intrasel termasuk enzim spesifik pada sel organ tubuh tertentu masuk ke dalam sirkulasi dan meningkat kadarnya di dalam darah. Misalnya seseorang yang mengalami infark miokardium akan mengalami peningkatan kadar LDH, CK dan CK-MB yang merupakan enzim spesifik jantung. Seseorang yang mengalami kerusakan hepar dapat mengalami peningkatan kadar SGOT dan SGPT. Namun peningkatan enzim tersebut akan kembali diikuti dengan penurunan apabila terjadi perbaikan. Dampak Nekrosis Jaringan nekrotik akan menyebabkan peradangan sehingga jaringan nekrotik tersebut dihancurkan dan dihilangkan dengan tujuan membuka jalan bagi proses perbaikan untuk mengganti jaringan nekrotik. Jaringan nekrotik dapat digantikan oleh sel-sel regenerasi (terjadi resolusi) atau malah digantikan jaringan parut. Jika daerah nekrotik tidak dihancurkan atau dibuang maka akan ditutup oleh jaringan fibrosa dan akhirnya diisi garam-garam kalsium yang diendapkan dari darah di sekitar sirkulasi jaringan nekrotik . Proses pengendapan ini disebut

kalsifikasi dan menyebabkan daerah nekrotik mengeras seperti batu dan tetap berada selama hidup. Perubahan-perubahan pada jaringan nekrotik akan menyebabkan : 1. Hilangnya fungsi daerah yang mati. 2. Dapat menjadi fokus infeksi dan merupakan media pertumbuhan yang baik untuk bakteri tertentu, misalnya bakteri saprofit pada gangren. 3.Menimbulkan perubahan sistemik seperti demam dan peningkatan leukosit. 4. Peningkatan kadar enzim-enzim tertentu dalam darah akibat kebocoran sel-sel yang mati. Adaptasi Seluler terhadap Jejas Sel Adaptasi fisiologis biasanya mewakili respons sel terhadap perangsangan normal oleh hormone atau mediator endogen ( misalnya pembesaran payudara dan induksi laktasi oleh kehamilan). Sedangkan, adaptasi patologik sering berbagi mekanisme yang sama tetapi memungkinkan sel untuk mengatur lingkungannya, idealnya melepaskan diri dari cedera sel. Jadi, adaptasi seluler adalah keadaan yang berada antara kondisi normal, sel yang tidak stress dan sel yang stress berlebihan. Berikut ini adalah jenis-jenis dari adaptasi seluler, yaitu a. Atrofi Pengecilan ukuran sel bagian tubuh yang pernah berkembang sempurna dengan ukuran normal dan hilangnya substansi sel. Meskipun atrofi biasanya merupakan proses patologik dikenal juga atrofi fisiologis. Beberapa alat tubuh dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa perkembangan/kehidupan, dan jika alat tubuh tersebut sesudah masa usia tertentu tidak menghilang, malah dianggap patologis. Contoh : kelenjar thymus, ductus omphalomesentericus, ductus thyroglissus. Penyebab : Berkurangnya beban kerja (imobilisasi, disuse atropi) Hilangnya persarafan Berkurangnya suplai darah

Malnutrisi Hilangnya rangsangan endokrin Penuaan Alat tubuh pada orang yang sudah berumur lanjut umumnya mengecil, misalnya payudara yang menegcil pada wanita menopause, ovarium dan uterus juga, kulit menjadi tipis dan ringan, dan lainnya. Starvation atrophy terjadi bila tubuh tidak mendapat makanan dalam waktu yang lama. Para pwnderita mungkin akhirnya mendapat makanan dan minuman yuang cukup, tetapi makanan tidak dapat mencapai lambung dan usus karena disemprotkan kembali, akibatnya badan jadi kurus kering mengalami emasiasi, inanisi. Pada atropi terjadi pengurangan komponen struktural sel mempengaruhi keseimbangan antara sintesis dan degradasi.

Atropfi setempat (local atrophy) Terjadi akibat keadaan-keadaan terentu. Atrofi inaktivitas (disuse atrophy) Terjadi akbita inaktivitas alat tubuh atau jaringan; misalnya inaktivitas otot-otot mengakibatkan otot-otot tersebut menjadi kecil. Atrofi desakan (pressure atrophy) Terjadi akibat desakan terus menerus atau desakan dalam waktu yang lamadan yang mengenai suatu alat tubuh atau jaringan. Atrofi desakan fisiologis terjadi pada gusi akibat desakan gigi yang mau tumbuh dan yang mengenai gisu (pada anak-anak). Atrofi desakan patologik contohnya terjadi pada sternum akibat aneurisme aorta. Atrofi endokrin

Terjadi pada alat tubuh yang aktivitasnya bergantung kepada rangsangan hormon tertentu. Atrofi akan terjadi apabila pembentukkan hormon berkurang atau terhenti sama sekali.

b. Hipertrofi Ukuran sel jaringan atau organ yang menjadi lebih besar dari ukuran normalnya, tanpa diikuti dengan pertambahan jumlah sel. Hipertrofi dapat fisiologis atau patologik dan disebabkan juga oleh peningkatan kebutuhan fungsional atau rangsangan hormonal spesifik. Contoh hipertrofi fisiologis adalah pada uterus pada masa kehamilan, ini terjadi akibat rangsangan esterogen dari hipertrofi otot polos dan hyperplasia otot polos atau pada otot skelet seperti pada tungkai pengemudi becak. Contoh hipertrofi sel patologik mencakup perbesaran jantung yang terjadi akibat hipertensi atau penyakit katup aorta.

3. Hiperplasia Peningkatan jumlah sel dalam organ atau jaringan diikuti dengan perbesaran organ atau jaringan tersebut. Hiperplasia dan hipertrofi sering kali bersamaan dalam jaringan. Jenis-jenis hiperplasia, yaitu: Hiperplasia fisiologis dibagi menjadi dua, yaitu i. Hiperplasia hormonal : proliferasi epitel kelenjar payudara perempuan pada saat pubertas dan selama kehamilan ii. Hiperplaisia kompensatoris : terjadi saat sebagian jaringan dibuang atau sakit. Misalnya, saat hepar direksessi sebagiabn, aktivitas miotik pada sel yang tersisa berlangsung paling cepat selama 12 jam berikutnya, tetapi akhirnya terjadi perbaikan hati ke berat normal kembali Hiperplasia patologik, sebagian besar merupanak stimulasi faktor

pertumbuhan atau hormonal yang berlebih. Hal ini dapat erjadi akibat stimulasi faktor pertumbuhan atau hormonal yang berlebihan. Misal. Hiperplasia endometrium akibat ketidak seimbangan hormone estrogen dan progesterone.

4. Metaplasia

Perubahan suatu jenis jaringan dewasa (yang telah berdiferensiasi) menjadi jaringan lain yang juga dewasa. Perubahan ini biasanya terjadi pada jaringan epitel atau mesenkim dan bersifat reversible.

Contohnya yaitu pada epitel torak (kolumner) yang dinatikan oleh epitel gepeng berlapis (skwasoma). Ini terjadi pada saluran nafas, paru-paru epitel duktus eksretorik, mukosa endocervix dan tuba fallopius, duktus eksretorik kelenjar liur, pada epitel kantung kemih dan kantung empedu yang menahun. Pada kejadian ini epitel torak yang bersekresi digantikan oleh epitel gepeng berlapis yang tidak bersekresi, tetapi mempunyai daya protektif, dan lebih resisten terhadap epitel torak. Pada bentuk umum kanker paru, metaplasia skuwamosa epitel pernafasan sering kali muncul bersamaan dengan penyusunan kanker sel skwamosa maligna.

5. Displasia Merupakan perubahan kearah kemunduran pada sel dewasa. Tampak dari bentuk, besar dan orientasinya tidak terorganisasi. Dapat terjadi pada epitel, bisa juga pada jaringan mesenkim. Pada displasis teraturnya inti menghilang. Ada sel yang mengecil dan membesar. Inti tampak lebih gelap, sering kali menjadi lebig besar dari biasa, juga relatif lebih besar terhadap besarnya sel. Sering terjadi pada bagian tubuh yang mengalami iritatif, misalnya cervix. Karsinoma cervix sering didahului oleh displasia yang dianggap sebagai manifestasi radang menahun. Displasa merupakan perubahan yang bersifat reversible, jadi bila iritasi dapat dihilangkan maka displasia menghilang.

6. Anaplasia Merupaka pertumbuhan ke arah kemunduran. Terjadi pada sel dewasa yang mempunyai sifat kebih primitif. Ini adalah ciri dari tumor ganas. Berbeda dengan displasia, anaplasia bersifat irreversible. Perubahan terjadi dalam bentuk, ukuran, kualitas kromatin,jumlah mitosis dan orientasi daripada sel-sel. Kadang besarnya sel dapat menjadi tiga samapi empat kali ukuran normal, dan menjadi cell datia (giant cell). Kadang sel memiliki ukuran lebih kecil daripada ukuran normalnya, timbul variasi bentuk dan ukuran. Hal ini disebut pleomorfi. Perbandingan initi dan sitoplasma berubah puladapat menjadi 1 : 2, yang normalnya 1 : 4 sampai 6, bisa juga menjadi 1 : 1. Pada anaplasia dapat ditemukan gambaran mitosis yang abnormal. Karena terjadi disorientasi, maka jaringan gagal membentuk struktur-struktur yang normal. Oleh kerenanya terlihat gambaran sel yang tidak teratur. Karena itu asalnya sering tidak diketahui lagi.

INFLAMASI
Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002). Inflamasi adalah suatu respons protektif yang di tunjukan untuk menghilangkan penyebab awal sel serta membuang sel dan jaringan nekrotik yang diakibatkan oleh kerusakan asal.inflamasi melakukan tugas pertahanannya dengan mengencerkan, menghancurkan dan menetralkan agen berbahaya. Inflamasi kemudian menggerakkan berbagai kejadian yang akhirnya menyembuhkan dan menyusun kembali tempat terjadinya jejas. Denan demikian, inflamasi juga saling berkaitan erat dengan proses perbaikan.Inflamasi terbagi menjadi 2 pola dasar . (1) inflamasi akut (2) inflamasi kronik A. Inflamasi akut Adalah respons segera dan dini terhadap jejas yang dirancang untuk mengirimkan leukosit ke tempat jejas. Sesampainya di tempat jejas, leukosit memnersihkan setiap mikroba yang menginvasi dan memulai proses penguraian jaringan nekropik. Mekanisme atau prosesnya itu sendiri ada 2 proses Perubahan vaskular Berbagai kejadian yang terjadi pada sel

Ciri-ciri inflamasi akut 1. kerusakan terjadi dengan durasi yang singkat 2. terjadi pengeluaran cairan 3. terjadi migrasi PMN Tanda-tanda utama terjadinya inflamasi akut 1.Panas (kalor) : Terjadi peningkatan aliran darah dan meningkatnya metabolisme seluler

2.Kemerahan (Rubor) : Terjadi Pelebaran pembuluh darah dan peningkatan aliran darah 3.Pembengkakan (tumor) : Terjadi pelebaran pembuluh darah, keluarnya cairan, kemotaksis, dan peningkatan metabolisme seluler 4.Nyeri (dolor) : Dilepaskannya mediator yang larut, terjadi kemotaksis dan peningkatan metabolisme seluler 5. Kehilangan fungsi Akibat inflamasi akut Walaupun akibat yang ditimbulakan oleh inflamasi akut diubah oleh sifat dan intensitas jejas tempat dan jaringan yang terkena setra kemampuan penjamu meningkatkan suatu response, pada umumnya inflamasi akut itu memiliki 3 akibat. Yaitu : Resolusi Jika cedra bersifat terbatas atau berlangsung singkat, tidak terdapat kerusakan jaringan atau kerusakan kecil dan apabila jaringan mampu mengganti setiap sel yang cedra secara irreversibel, bisa terjadi perbaikan terhadap normalitas dan fungsional. Pembentukan jaringan parut Terjadi stlah destruksi jaringan yang substansial atau etika terjadi inflamasi pada

jaringan yang tidal beregenerasi. Selain itu penyebab terjadinya jaringan parut di karenakan memualsnya eksudat fibrinosa tidak bisa di absorbsi sempurna dan terjadi organisasi dengan pertumbuhan jaringan ikat yang menimbulakan fibrinosis. Pembentukan abses dapat terjadi pada keadaan meluasnya infiltrat neutrofil atau infeksi jamur atau bakteri tertentu . satu satunya akibat dari pembentukan abses adalah

terbentukanya jaringan parut.

Kemajuan kearah inflamasi kronik Hal ini bisa terjadi setelah inflamasi akut walau pun tanda inflamasi akut dapat muncul pada awal jejas , inflamasi kronik dapat diikuti oleh regenerasi pada struktur dan fungsi normal atau bisa menimbulakn jaringan parut tergantung pada luasa jejas jaringan awal

dan jejas yang terus berlangsung serta kemampuan jaringan yang terinfeksi untuk tumbuh kembali.

B. Inflamsi kronik Dalam arti paling sederhana Inflamasi adalah Suatu respons protektif yang ditujukan untuk menghilangkan penyebab awal jejas sel serta membuang sel dan jaringan nekrotik yang diakibatkan oleh kerusakan sel. Inflamasi kronik adalah inflamasi memanjang(berminggu-minggu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun), dan terjadi inflamasi aktif, jejas jaringan,dan penyembuhan secara serentak.

Inflamasi kronik ditandai dengan : Infiltrasi sel mono nuklear (radang kronik) mencakup makrofag,limfosit,dan sel plasma. Destruksi Jaringan diatur oleh sel radang Repair (perbaikan) melibatkan proliferasi pembuluh darah baru (angiogenesis) dan fibrosis.

Inflamasi kronik terjadi pada keadaan Infeksi virus Infeksi virus intrasel apapun secara khusus memerlukan limfosit (dan makrofag ) untuk mengidentifikasi dan mengeradikasi sel yang terinfeksi. Infeksi mikroba persisten pajanan mikroba yang patogenisitasnya lemah namun berlangsung dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan hipersensitivitas lambat yang berpuncak pada reaksi granulomatosa (salah satu contoh radang kronik). Contohnya pada infeksi Treponema pallidum.. Pejanan yang lama terhadap agen yang berpotensi toksik Agen-agen asing dapat menyebabkan radang kronik apabila terpajan dalam jangka waktu yang lama. Agen tersebut dapat berupa agen endogen (seperti jaringan adiposa yang

nekrotik, kristal asam urat, tulang) dan dapat berupa agen eksogen (seperti materi silika yang terinhalasi atau serabut benang yang tertanam) Gambaran makroskopik dan mikroskopik radang kronik Gambaran makroskopik umum yang sering ditemukan pada radang kronik adalah: 1. Ulkus kronik, yaitu ulkus yang dasarnya dibatasi oleh jaringan granulasi dan fibrosa, contohnya pada ulkus peptik kronik lambung dengan luka pada mukosa. 2. Rongga abses kronik, yaitu rongga yang terbentuk oleh pus pada radang supuratif. Contohnya osteomyelitis. 3. Penebalan dinding rongga viskus, contohnya penebalan dinding pada kolesistitis kronik. Penebalan biasanya bersamaan dengan infiltrat sel radang kronik. 4. Radang granulomatosa, yaitu kumpulan histiosit epiteloid sebagai akibat tidak dapat dihancurkannya substansi tertentu oleh makrofag. Contohnya pada penyakit tuberkolosis paru. 5. Fibrosis, yaitu proliferasi jaringan fibroblas setelah sel-sel radang kronik

menghilang/mereda. Gambaran mikroskopik radang kronik Pada radang kronik dapat ditemukan gambaran mikroskopik sebagai berikut. Infiltrat seluler terdiri dari limfosit, sel plasma dan makrofag. Beberapa eosinofil polimorf mungkin dapat ditemukan, tetapi neutrofil polimorf (yang lazimnya terdapat pada radang akut) jarang ditemukan. Beberapa makrofag dapat membentuk sel datia berinti banyak. Cairan eksudat sedikit ditemukan, tetapi mungkin ditemukan produksi jaringan ikat baru yang berasal dari jaringan granulasi. Mungkin juga ditemukan kejadian perusakan jaringan yang berkelanjutan, yang bersamaan dengan proses regenerasi dan perbaikan jaringan. Nekrosis jaringan mungkin merupakan gambaran yang mencolok, terutama pada keadaan granulomatosa seperti tuberkulosis. Gambaran morfologi inflamasi akut dan kronik

Tingkat keparahan respons inflamasi, penyebab spesifiknya, dan jaringan khusus yaang terlibat semuanya dapat mengubah gambaran morfologi dasar inflamasi akut dan kronik. Misal :Morfologi inflamasi serosa Radang ini ditandai dengan keluarnya cairan yang berair yang relatif sedikit protein yang bergantung pada tempat jejas di bentuk dr serum atau sekresi sel mesotelium yang melapisi rongga peritoneum, rongga pleura, dan rongga perikard. Lepuh pada kulit yang berasal dari infeksi krn luka bakar atau virus merupakan contoh yang baik dari efusi serosa yang terakumulasi di dalam ataupun serta merta dibawah epidermis. Morfologi inflamasi fibrinosa Radang ini terjadi akibat jejas yang lebih berat, dengan permeabilitas vasikulernya yang lebih besar memungkinkan molekul yang lebih besar ( khususnya fibrinogen ) . secara hitologis akumulasi vibrin ektravaskular tampak sebagai suatu anyaman eosinifilik. Efek sistemik inflamasi Demam Merupakan salah salah sau efek sistemik dari inflamasi , efek lainnya yaiyu peningkatan somnolen, malaise, anoreksia, degradasi protein oto skelet yang di percepat, hipotensi, sintesis hepatik berbagai protein dan perubahan pool sel darah putih dalam sirkulasi. Sitokin IL-1, IL-6 da n TNF. Sitokin sebagai respons terhadap infeksi, atau terhadap cedera imun dan toksik, dan dilepaskan secara sistemikaskade sitokin TNF menginduksi produksi IL-1 yang selanjutnya F merangsang produksiIL-6.I L - 6 merangsang sintesis beberapa protein plasma khususnya fibrinogen; peningkatan kadar fibrinogen yang me nyebabkan eritrosit lebih mudah beraglutinasi sehingga menjelaskan me ngapa inflamasi akan disertai dengan laju endap darah yang meningkat. Leukositosis gambaran umum reaksi radang, khususnya yang diinduksi oleh infeksi bakteri Terjadi karena pelepasan sel dari sumsum tulang (disebabkan IL-1 d anTNF)d an di sertai peningkatan sejumlah neutrofil yang relatif imature dalam darah.

Mekanisme Inflamasi Akut dan Kronik


Mekanisme inflamasi secara garis besar : stimulus awal radang memicu pelepasan mediator kimiawi dari plasma atau dari sel jaringan ikat. Mediator terlarut, bekerja bersama atau secara berurutan, memperkuat respons awal radang dan mempengaruhi perubahannya dengan mengatur respons vaskular dan selular berikutnya. Respons radang diakhiri ketika stimulus yang membahayakan menghilang dan mediator radang telah hilang, dikatabolisme, atau diinhibisi. A. Inflamasi akut Inflamasi akut disebabkan oleh infark, infeksi bakteri, toksin, dan trauma. Pada inflamasi akut, jaringan yang mendapat cedera tidak rusak sepenuhnya, melainkan mendapat gangguan. Pada tahap kerja inflamasi akut, akan terjadi perubahan vaskular, rekrutmen neutrofil, dan pelepasan mediator yang membantu kerja leukosit. Pada akhir inflamasi akut, dapat terjadi resolusi (perbaikan; berisi pembersihan rangsang penyebab cedera, pembersihan mediator dan sel radang akut, penggantian sel yang mengalami jejas, dan fungsi kembali normal) dan pembentukan jaringan parut. Dalam inflamasi akut, dua komponen utama respons radang adalah perubahan vaskuler (vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas vaskular) dan berbagai kejadian yang terjadi pada sel (emigrasi leukosit, rekrutmen dan aktivasi selular).Proses respons radang dalam inflamasi akut meliputi beberapa tahap, antara lain : Perubahan vaskuler : bersama dengan rekrutmen menentukan 3 dari 5 tanda inflamasi (panas/kalor, merah/rubor, pembengkakan/tumor) Perubahan pada kaliber dan aliran pembuluh darah : dilakukan relatif cepat setelah jejas terjadi. Tahapannya : I. Setelah vasokonstriksi selama beberapa detik, terjadi vasodilatasi arteriol yang mengakibatkan peningkatan aliran darah dan penyumbatan lokal pada aliran darah kapiler selanjutnya. Perubahan ini menimbulkan warna merah (eritema) dan hangat pada inflamasi akut. Mikrovaskulatur menjadi lebih permeabel sehingga cairan kaya protein masuk ke jaringan ekstravaskular. Hal ini menyebabkan sel darah merah menjadi lebih terkonsentrasi, berakibat meningkatnya viskositas darah dan memperlambat sirkulasi. Secara mikroskopik perubahan digambarkan oleh dilatasi sejumlah pembuluh darah kecil yang dipadati eritrosit. Proses tersebut dinamakan stasis.

II.

III.

Pada saat stasis, leukosit (terutama neutrofil) mulai keluar dari aliran darah dan berakumulasi di sepanjang permukaan endotel pembuluh darah. Proses ini disebut

marginasi. Setelah melekat pada sel endotel, leukosit menyusup diantara sel endotel dan bermigrasi melewati dinding pembuluh darah dan menuju jaringan interstisial. Pada awal inflamasi juga dilakukan peningkatan permeabilitas vaskular. I. Disebabkan oleh vasodilatasi arteriol dan aliran darah yang bertambah. Hal tersebut menyebabkan tekanan hidrostatik intravaskular meningkat dan pergerakan cairan yang disebut transudat (mengandung sedikit protein dan merupakan ultrainfiltrat protein) dari kapiler. II. Transudasi (menyusupnya cairan transudat) berlangsung singkat karena terjadi eksudat (permeabilitas vaskular meningkat yang memungkinkan pergerakan cairan kaya protein, bahkan sel, ke dalam interstisium).

III.

Hilangnya cairan kaya protein ke dalam ruang perivaskular menurunkan tekanan osmotik intravaskular dan meningkatkan tekanan osmotik cairan interstisial. Menghasilkan aliran air dan ion ke dalam jaringan ekstravaskular. Akumulasi cairan tersebut dinamakan edema.

- Kebocoran vaskular Inflamasi akut menyebabkan kebocoran selapis endotel melalui sejumlah cara. Proses ini dipengaruhi faktor mekanisme yang berperan, onset, durasi, volume, dan karakteristik cairan yang dihasilkan. Berikut mekanosme kebocoran vaskuler yang dapat dilaksanakan I. Kontraksi sel endotel menimbulkan intracellular gap pada venula. Histamin, bradikinin, leukotrien menyebabkan respon sementara dalam betuk kontraksi sel yang memperlebar intracellular gap pada venula. Hanya berlangsung selama 15-30 menit. Retraksi sel endotel. Diinduksi oleh mediator sitokin, menginduksi retraksi melalui reorganisasi sitoskeleton. Butuh waktu 4-6 jam untuk aktivasinya, bertahan selama 24 jam atau lebih.

II.

III.

Jejas endotel langsung. Luka yang parah dapat menyebabkan hal ini. Menyebabkan nekrosis dan lepasnya sel endotel. Kebocoran dimulai segera setelah terjadi jejas dan menetap selama beberapa jam/hari sampai pembuluh darah yang rusak mengalami trombosis atau diperbaiki. Mekanisme ini disebut immediate sustained response. Venula, kapiler, dan arteriol dapat mengalami hal ini.

IV.

Jejas langsung pada sel endotel juga dapat menginduksi kebocoran memanjang yang melambat (delayed prolonged leakage) yang mulai terjadi 2-12 jam, berlangsung selama beberapa jam atau berhari-hari. Terjadi pada venula dan kapiler. Jejas endotel yang bergantung leukosit (leukocyte-dependent endothelial cell injury), disebabkan akumulasi leukosit selama respons inflamasi. Marginasi dan leukosit adherensel endotel dapat bertumpuk dan menyebabkan hal tersebut. Peningkatan transitosis melalui jalur vesikular intrasel meningkatkan permeabilitas venula. Disebabkan mediator tertentu (VEGF : Vascular Endothelial Growth Factor). Semua mekanisme dapat berperan serta pada keadaan adanya rangsangan khusus

V.

VI.

VII.

Berbagai peristiwa yang terjadi pada sel

Extravasasi leukosit (keluarnya leukosit dari lumen pembuluh darah) ke ruang ekstravaskular melalui urutan kejadian berikut : I. Marginasi dan Rolling Dengan meningkatnya permeabilitas vaskuler, cairan meninggalkan pembuluh darah menyebabkan leukosit keluar dari kolom pusat aliran dan berakumulasi disepanjang permukaan endotel, membentuk baris sehingga disebut marginasi.

Sel endotel dan leukosit memiliki molekul adhesi permukaan komplemen yang menyebabkan leukosit melekat untuk sementara dan berguling sepanjang endotelium sampai berhenti ketika adhesi permukaan mencapai puncaknya. Kejadian tersebut dinamakan rolling. Adhesi transien (sementara) yang terlibat dalam proses rolling dilakukan oleh sekelompok selektin. Selektin merupaan reseptor yang dikeluarkan pada leukosit dan endotel, ditandai dengan adanya daerah ekstrasel yang mengikat gula tertentu. Beberapa famili selektin : E-selectin (endotelium), P-selectin (endotel dan trombosit), L-selectin (sebagian besar permukaan leukosit)

II.

Adhesi Leukosit yang melakukan rolling akan berhenti dan melekat kuat pada permukaan endotel (adhesi) sebelum merayap diantara sel endotel dan melewati membran basalis masuk ke ruang ekstravaskular. Adhesi kuat diperantarai molekul superfamili imunoblobulin pada sel endotel yang berinteraksi dengan integrin yang muncul pada permukaan sel leukosit. Molekul adhesi yang berpartisipasi antara lain : Endotel : ICAM-1 (intracellular adhesion molecule 1) dan VCAM-1 (vascular cell adhesion molecule 1) Leukosit : LFA-1, Mac-1, VLA-4 ICAM-1 mengikat LFA-1/Mac-1, VCAM mengikat VLA-4 Integrin biasanya muncul pada membran plasma leukosit, tetapi tidak melekat pada ligan yang sesuai sampai leukosit diaktivasi oleh agen kemotaktik atau rangsang lainnya. Transmigrasi (Diapedesis) Terjadi setelah adhesi kuat dengan venula pembuluh darah sistemik dan dapat terjadi pada kapiler sirkulasi pulmonal dengan bantua PECAM-1 (platelet endhotelial cell adhesion molecule 1, merupakan molekul adhesi sel-ke-sel) Setelah adhesi kuat pada permukaan endotel, leukosit merembes di antara sel pada intercellular junction. Setelah melewati endothelial junction, leukosit menembus membran basalis dengan mendegradasi membran basalis secara fokal menggunakan kolagenasi yang disekresi. Pada saat awal respon inflamasi, sitokin dan signal kemotaktik berubah seiring respon inflmasi. Pengubahan ekspresi molekul adhesi sel endotel mengaktifkan populasi leukosit lain untuk ber-adhesi (monosit, limfosit, dll)

III.

IV.

Kemotkasis Setelah terjadi ekstravasasi dari darah, leukosit bermigrasi menuju tempat jejas dengan mengikuti gradien kimiawi (kemotaksis). Zat eksogen dan endogen dapat bersifat kemotaktik terhadap leukosit. Zat kemotaktik tersebut antara lain : produk bakteri yang dapat larut, komponen sistem komplemen, sitokin, dan produk metabolisme asam arakidonat (AA) jalur lipoksigenasi.

Agen kemotaktik mengikat reseptor permukaan, menginduksi mobilisasi kalsium dan merangkai elemen kontraktil sitoskeleton yang diperlukan untuk pergerakan. Leukosit bergerak dengan memanjangkan pseupodia dengan bantuan integrin yang berikatan dengan matriks ekstraseluler selama kemotaksis.

V.

Faktor kemotaksis menginduksi respons leukosit lain yang disebut aktivasi leukosit : Menyapkan metabolit AA dari fosfolipid Persiapan untuk degranulasi dan sekresi enzim lisosom, menghasilkan pembakaran oksidatif Regulasi (pengaturan) afinitas molekul adhesi leukosit sesuai yang diperlukan.

Fagositosis dan Degranulasi Saat berada di situs cedera, leukosit melakukan fagositosis melalui tiga langkah berbeda yang saling terkait : 1. Pengenalan dan perlekatan partikel pada leukosit yang menelan. Proses ini dibantu oleh protein serum yang disebut opsonin. Opsonin (terpenting imunoglobulin G khususnya bagian Fc molekul, fragmen C3b komplemen) mengikat molekul spesifik pada permukaan mikroba dan memfasilitasi pengikatannya dengan reseptor opsonin spesifik (FcR, CR1,2,3) pada leukosit. 2. Penelanan (membentuk vakuola fagositik) Memicu penelanan (engulfment) yang disebabkan pengikatan partikel teropsonisasi. Pada penelanan, pseudopodia diperpanjang mengelilingi objek sampai membentuk vakuola fagositik

Membran vakuola kemudian berfusi dengan membran granula lisosom sehingga terjadi pengeluaran kandungan granula masuk ke dalam fagolisosom dan terjadi degranulasi leukosit.

3. Pembunuhan dan degradasi material yang ditelan Pembunuhan mikroba dilakukan sebagian besar oleh spesies oksigen reaktif Fagositosis merangsang pembakaran oksidatif (oxidative burst) yang ditandai dengan peningkatan konsumsi oksigen secara tiba-tiba, glikogenolisis, peningkatan oksidasi glukosam, produksi metabolit oksigen reaktif, dan pembentukan superoksida (O2-) dai oksigen saat mengoksidasi NADPH oleh NADPH oksidase leukosit. Superoksida kemudian diubah melalui dismutasi spontan menjadi hidrogen peroksida. Namun hidrogen peroksida yang dihasilkan pada umunya tidak cukup untuk membunuh sebagian besar bakteri dengan efektif. Karena dari itu, lisosom neutrofil (granula azurofilik) mengandung enzim mieloperoksidase (MPO) mengubah hidrogen peroksida menjadi HOCL- (bila ada CL-), sebuah agen antimikroba yang sangat kuat dan dapat membunuh bakteri melalui halogenasi atau dengan peroksidasi protein dan lipid Produk akhir reaktif hanya dibentuk dalam fagolisosom. Hidrogen peroksida akan diurai oleh katalase menjadi air dan oksigen. Mikroorganisme yang telah mati akan didegradasi oleh kerja hidrolase asam lisosom. 4. Selain dengan pembakaran oksigen, unsur granula leukosit lain mampu membunuh bakteri dan agen infeksi lainnya. Granul-granul tersebut adalah : Bactericidal permeability increasing protein (BPI) (protein yang meningkatkan permeabilitas bakterisidal, aktivasi fosfolipase dan degradasi fosfolipid membran) Lisozim (degradasi oligosakarida selubung bakteri) Laktoferin (unsur granula eosinofil yang penting dengan sitotoksisitas yang kuat terhadap bakteri) Defensin (peptida yang membunuh mikroba dengan membentuk lubang dalam membrannya).

Defek pada fungsi leukosit


Defek pada fungsi leukosit secara genetik atau akuista meningkatkan kerentanan terhadap infeksi yang sering kali berulang dan mengancam jiwa Berikut adalah jenis-jenis defek : 1. Defek pada adhesi

Leukocyte adhesion deficiency 1 (LAD-1) : Subunit LFA-1 dan Mac-1 mengalami defek integrin yang berakibat pada gangguan adhesi Leukocyte Adhesion Deficiency 2 (LAD-2) : Defek menyeluruh pada metabolisme fukosa mengakibatkan hilangnya sialil-Lewis X dan defek pada epitop oligosakarida E- dan Pselektin.

2. Defek pada pembentukan fagolisosom

Defek pada perakitan mikrotubulus menyebabkan gangguan defranulasi lisosom menjadi fagosom dan lokomosi (pergerakan) (Chediak-Higashi Syndrome).

3. Defek pada aktivitas mikrobisidal

Terjadi defisiensi genetik pada salah satu dari beberapa komponen NADPH oksidase yang betanggung jawab dalam pembentukan superoksida, sehingga tidak ada mekanisme pembunuhan mikroba dependen-oksigen (chronic granulomatous disease/CGD).

Mediator kimiawi inflamasi


a. Prinsip umum mediator kimiawi : Dapat bersirkulasi dalam plasma, atau dapat dihasilkan secara lokal olehsel tempat terjadinya inflamasi Sebagian besar mediator menginduksi efeknya dengan berikatan pada reseptor spesifik pada sel target Mediator dapat merangsang sel target untuk melepaskan molekul efektor sekunder. Molekul sekunder mempunyai bahan yang sama dengan molekul inisial yang berfungsi memperkuat respon utama Hanya dapat bekerja pada satu atau mempunyai target yang sangat sedikit, atau dapat mempunyai aktivitas luas; bisa terdapat perbedaan hasil yang sangat besar bergantung pada jenis sel yang dipengaruhi Fungsi mediator diatur secara ketat. Sekali teraktivasi dan dilepaskan dari sel, sebagian mediator cepat rusak/hilang (metabolit AA), diinaktivasi oleh enzim, dieliminasi, atau diinhibisi Alasan utama check and balance karena sebagian besar mediator memiliki potensi menyebabkan efek berbahaya.

b. Mediator spesifik : 1. Amina vasoaktif


Histamin : menyebabkan vasodilatasi, kontraksi sel endotel venula, pelebaran cell junction. Dilepaskan oleh sel MAST, basofil, platelet dalam respon terhadap cedera, reaksi imun, anafilatoksin, sitokin, neuropeptida, protein pelepas histamin yang berasal dari leukosit Serotonin : memiliki efek yang sama dengan histamin, pelepasan dipicu oleh agregasi platelet

2. Neuropeptida

Seperti amina vasoaktif, dapat menginisiasi respons radang Merupakan protein kecil yang mentransmisikan sinyal nyeri, mengatur tonus pembuluh darah, dan mengatur vaskular

3. Protease plasma

Sebagai perantara efek peradangan yang berasal dari plasma. Terdapat 3 faktor efek peradangan yang saling terkait : kinin, sistem pembekuan, dan komplemen. Semuanya diaktivasi oleh inisial faktor Hageman. Faktor Hageman, dikenal sebagai faktor XII pada kaskade koagulasi intrinsik, merupakan protein yang disintesisi oleh hati yang bersirkulasi dalam bentuk inaktif sampai bertemu dengan kolagen, membran basalis, atau tempat trombosit teraktivasi. Sistem pembekuan - Diaktifkan faktor Hageman (faktor XII). - Kolagen mengaktivasi faktor XII menjadi bentuk aktif, faktor XII dengan bantuan kofaktor kininogen dengan berat molekul besar (HMWK, high molecular-weight kininogen). - Fibrinogen yang dapat dipecah akan diolah oleh faktor XIIa menjadi bekuan fibrin yang tidak mudah larut. - Faktor XIIa secara bergantian mengaktifkan sistem fibrinolisis ketika menginduksi pembekuan. Mekanisme terjadi sebagai kontraregulasi proses pembekuan dengan memecah fibrin sehingga dapat melarutkan bekuan fibrin. Sistem Kinin - Aktivasi sistem ini menyebabkan pembentuk brandikinin dari perkusornya dalam sirkulasi, HMWK (high molecular-weight kininogen) - Seperti histamin,brandikinin menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular, dilatasi arteriol, dan kontraksi otot polos. Juga menyebabkan nyeri saat diinjeksi ke dalam kulit

Kallikrein, bentuk perantara pada kaskade kinin dengan aktivitas kemotaktik, merupakan akticator kuat faktor Hageman sehingga memungkinkan pengauatan seluruh jalur proses pembekuan Sistem Komplemen - Terdiri atas kaskade protein plasma yang berperan penting, baik dalam imunitas maupun inflamasi. - Pada imunitas, fungsinya membentuk membrane attack complex (MAC) yang secara efektif membuat lubang pada membran mikroba yang menginvasi - Komponen sistem dari C1-C9 terdapat dalam plasma dalam bentuk inaktif o Tahap paling kritis dalam elaborasi fungsi biologis komplemen adalah aktivasi komponen ketiga, C3. o Pemecahan C3 terjadi melalui jalur klasik dipicu fiksasi C1 terhadap kompleks antigen-antibodi, atau melalui jalur alternatif yang dipicu polisakarida bakteri, kompleks, atau IgA teragregasi, dan melibatkan serangkaian komponen serum yang berbeda-beda. o Dari kedua jalur tersebut, C3 yang dipecah digunakan untuk membentuk MAC (C5-C9) yang membuat lubang pada membran mikroba. o Faktor yang mempengaruhi fenomena pada inflamasi akut Efek vaskular : vasodilatasi, permeabilitas vaskular, degranulasi sel MAST. C3a dan C5a berperan Aktivitas leukosit, adhesi, dan kemotaksis, meningkatkan afinitas integrin, agen kemotaktik kuat terhadap neutrofil, monosit, eosinofil, basofil, dan mengaktivasi leukosit. C5a yang berperan Fagositosis, sebagai opsonin, meningkatkan fagositosi. C3b dan C3bi berperan

4.Metabolit Asam Arakidonat (Eikosanoid)

Prostaglandin dan thromboxane yang dihasilkan dari jalur siklooksigenase menyebabkan vasodilatasi, edema lama Siklooksigenase dapat dihambat kerjanya oleh aspirin dan obat anti-inflamasi nonsteroid

Leukotrien, dibentuk melalui jalur lipoksigenase, adalah kemotaksin, vasokontriktor, menyebabkan meningkatnya permeabilitas vaskular dan bronkospasm

5. PAF (Platelet Activating Factor) Berasal dari fosfolipid membran sel, menyebabkan vasodilatasi, meningkatnya permeabilitas vaskular, adhesi leukosit meningkat. 6. Sitokin

Produk polipeptida dari banyak jenis sel yang bekerja sebagai pesan kepada sel lain, memerintahkan mereka untuk bekerja sesuai pesan Protein IL-1, TNF-alpha dan beta, IFN-gamma sangat dibutuhkan dalam inflamasi Dapat digolongkan menjadi 5 kelompok berdasarkan cara kerja atau sel target : Sitokin yang mengatur fungsi limfosit Sitokin yang terdapat pada imunitas bawaan Sitokin yang mengaktifkan sel radang selama terjadi respons imun yang diperantarai oleh sel Kemokin yang memiliki aktivitas kemotaksis terhadap berbagai leukosit Sitokin yang merangsang hematopoiesis, yaitu faktor perangsang koloni monosit-granulosit dan IL-3

7. Interleukin 1 dan faktor nekrosis tumor

Dihasilkan oleh makrofag teraktivasi, sekresi dirangsang oleh endotoksin, kompleks imun, toksin, cedera fisik, atau mediator peradangan

Menginduksi aktivasi endotel dengan meningkatkan pengeluaran molekul adhesi, menyekresi sitokin dan faktor pertumbuhan tambahan, memproduksi eikosanoid dan NO, serta meningkatkan trombogenisitas endotel. Menyebabkan respons demam, letargi, sintesis hepatik protein, kaheksia, pelepasan neutrofil ke dalam sirkulasi, dan pelepasan hormon adrnokorikotriopik. TNF berperan utama dalam perantara efek hipotensif pada syok septik, berkurangnya kontraktilitas miokard, dan relaksasi vaskular otot polos.

8. Kemokin Kelompok protein kecil (8-10 kD), bekerja sebagai aktivator dan kemoatraktan untuk bagian leukosit. Merekrut populasi sel khusus yang muncul di suatu tempat yang terkena radang Merangsang sel prekursor hematopoietik serta merekrut dan mengaktivasi sel mesenkim(fibroblas, sel otot polos) Kemokin berikatan pada matriks ekstraseluler, untuk mempertahankan gradien kemotaksis untuk migrasi terarah sel yang direkrut 2 kelompok utama kemokin : Kemokin CXC memiliki satu asam amino yang memisahkan sistein yang tersimpan dan bekerja utama pada neutrofil. IL-8 khas pada kelompok ini. Dihasilkan makrofag teraktivasi, endotel, atau fibroblas. Respons terhadap IL-1 dan TNF Kemokin CC punya residu sistem berdekatan dan termasuk untuk kemotaktik secara predominan terhadap monosit (MCP-1 dan MIP-1alpha), pengatur aktivasi normal ekspresi dan sekresi sel T (RANTES), kemotaktik terhadap eosinofil (eotaksin), kemotaktik terhadap sel T CD4+ memori dan monosit. 9. Nitrit Oksida Gas radikal bebas yang mudah larut dan berumur pendek, dihasilkan berbagai sel dengan banyak fungsi Apabila diproduksi oleh sel endotel, makrofag, dapat mengakibatkan : Relaksasi vaskular otot halus dan vasodilatasi Membunuh mikroba dalam makrofag aktif Antagonisme semua tahap aktivasi trombosit (adhesi, agregasi, dan degranulasi) Penurunan rekrutmen leukosit pada tempat radang 10. Unsur pokok lisosom Granula lisosom neutrofil dan monosit mengandung banyak molekul yang dapat memerantarai inflamasi akut Molekul dapat dilepaskan setelah terjadi kematian sel karena kebocoran selama pembentukan vakuola fagositik, atau oleh fagositiosis yang gagal melawan permukaan yang luas dan tidak dapat dicerna

Protease asam memiliki pH optimal asam dan hanya aktif dalam fagolisosom Protease netral, termasuk enzim seperti elastase, kolagenase, dan katepsin, aktif dalam matriks ekstraselular dan menyebabkan perusakan jejas jaringan yang destruktif Dapat dilawan oleh serum dan antiprotease matriks ekstraseluler

B. Inflamasi Kronik MEKANISME INFLAMASI KRONIK Seperti yang kita ketahui,bahwa inflamasi kronik adalah pemanjangna dari inflamasi akut.Jika respon akut tidak dapat teratasi karena agen cedera yang menetap atau karena gangguan proses penyembuhan normal maka akan berlanjut ke respon kronik.Pada keadaan tertentu inflamasi kronik dapat terjadi tanpa melalui inflamasi akut,hal ini bisa terjadi karena inflamasi kronik yang disebabkan oleh infeksi virus. Sel dan Mediator Inflamasi kronik Makrofag,makrofag berfungsi sebagai penyaring terhadap bahan berukuran partikel,mikroba,dan sel-sel yang mengalami proses kematian,makrofag juga bekerja sebagai sentinel untuk memperingatkan komponen spesifik sistem imun terhadap rangsang yang berbahaya.Makrofag ini merupakan sel jaringan yang berasaldari monosit dalam sirkulasi setelah beremigrasi dari aliran darah.Monosit mulai beremigrasi ke tempat jejas dalam waktu 24-48 jam pertama.Setelah onset inflamasi akut,seperti dijelaskan sebelumnya.Pada saat mencapai jaringan

ekstravaskular,monosit berubah menjadi makrofag yang lebih besar,dan mampu melakukan fagositosit besar.Makrofag juga bisa teraktivasi,suatu proses yang menyebabkan ukuran sel bertambah besar,meningkatnya kandungan enzim lisosom,memiliki metabolisme yang lebih aktif,dan memiliki kemampuan lebih besar untuk membunuh organisme yang dimangsa.Sel ini tampak besar,pipih,dan aktivasi berwarna mencakup merah muda,sel yang teraktivasi disekresi ini oleh disebut makrofag yang

epiteoid.Sinyal

sitokin

limfosit-T

tersensitisasi,endotoksin bakteri,berbagai mediator yang dihasilkan selama inflamasi akut dan protein matriks ekstraselular sepertifibronektin.Setelah aktivasi,makrofag yang telah teraktivasi menghasilkan produk yaitu

Protease asam dan protease netral

Protase asam dan protease netral merupakan mediator kerusakan jaringan pada peradangan.

Komponen komplemen dan faktor koagulasi

Makrofag teraktivasi dapat mengeluarkan komponen komplemen dan faktor koagulasi, meliputi protein komplemen C1-C5, properdin, faktor koagulasi V dan VIII dan faktor jaringan.

Spesies oksigen reaktif dan NO

Spesies oksigen reaktif berfungsi dalam proses fagositosis dan degradasi mikroba.

Metabolit asam arakhidonat

Metabolit asam arakhidonat seperti prostaglandin dan leukotrien merupakan mediator dalam proses peradangan.

Sitokin

Sitokin seperti IFN dan , IL 1, 6 dan 8, faktor nekrosis tumor (TNF ) serta berbagai faktor pertumbuhan yang mempengaruhi proliferasi sel otot polos, fibroblas dan matriks ekstraselular. Jika pengeluaran produksi oleh makrofag teraktivasi ini terjadi secara berlebihan,maka dapat menyebabkan jejas jaringan dan menimbulkan tanda fibrosis inflamasi kronik. Limfosit, sel plasma, eosinofil dan sel mast Selain makrofag, pada peradangan kronik juga ditemukan limfosit, sel plasma, eosinofil dan sel mast. Limfosit-T dan limfosit-B bermigrasi ke tempat radang dengan menggunakan beberapa pasangan molekul adhesi dan kemokin yang serupa dengan molekul yang merekrut monosit. Limfosit dimobilisasi pada keadaan setiap ada rangsang imun spesifik (infeksi) dan peradangan yang diperantarai nonimun (infark atau trauma jaringan). Telah disebutkan di atas bahwa aktivasi limfosit memiliki hubungan dengan aktivasi makrofag, menyebabkan terjadinya fokus radang akibat proliferasi dan akumulasi makrofag di tempat cedera. Sel plasma merupakan produk akhir dari aktivasi sel limfosit-B yang mengalami diferensiasi akhir. Sel plasma dapat menghasilkan antibodi yang diarahkan untuk melawan antigen di tempat radang atau melawan komponen jaringan yang berubah. Eosinofil secara khusus dapat ditemukan di tempat radang sekitar terjadinya infeksi parasit atau bagian reaksi imun yang diperantarai oleh IgE yang berkaitan khusus dengan alergi. Kedatangan

eosinofi dikendalikan oleh molekul adhesi yang sama seperti yang digunakan oleh neutrofil dan juga kemokin eotaksin yang dihasilkan oleh sel leukosit atau sel epitel. Granula eosinofil mengandung suatu protein disebut MBP (major basic protein), yaitu suatu protein kationik bermuatan besar dan bersifat toksik terhadap bakteri. Adapun sel mast merupakan sel yang tersebar luas dalam jaringan ikat dan dilengkapi oleh IgE terhadap antigen tertentu. Apabila terpajan dengan antigen tersebut, maka sel mast akan mengeluarkan histamin dan produk asam arakhidonat yang menyebabkan perubahan vaskular pada radang akut. Sel mast juga dapat mengelaborasi sitokin seperti TNF yang berperan pada respons kronik yang lebih besar. Inflamasi granulomatosa Infalamasi granulomatosa merupakan suatu inflmasi kronik khusus yang ditandai dengan agregrasi makrofag teraktivasi yang gambarannya menyerupai sel skuamosa

(epitelioid).Granuloma ditemukan relatif sedikit pada keadaan patologis,akibatnya pola pengenalan granulomatosa menjadi penting karena terbatasnya kondisi yang

menyebabkannya.Granuloma dapat terbentuk pada keadaan respons sel T yang peresisten terhadap mikroba tertentu yang sitokinnya berasal dari sel T,Bertanggung jawab atas aktivasi makrofag persisten.Granuloma juga dapat berespons terhadap benda asing yang relatif inert (misalnya,benang,serpihan,implan payudara),membentuk sesuatu yang disebut juga granuloma benda asing.Pembentukan granuloma merupakan benteng yang efektif terhadap agen penyerang sehingga granuloma merupakan mekanisme pertahanan yang bermanfaat.

Kelenjar getah bening


Kelenjar getah bening adalah sekumpulan kelenjar yang merupakan sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah bening, namun hanya di daerah submandibular (bagian bawah rahang bawah; sub: bawah;mandibula:rahang bawah), ketiak atau lipat paha yang teraba normal pada orang sehat. KGB terbungkus oleh kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel-sel pembentuk pertahanan tubuh dan merupakan tempat penyaringan antigen (protein asing) dari pembuluh-pembuluh getah bening yang melewatinya. Pembuluh-pembuluh limfe akan mengalir ke KGB sehingga dari

lokasi KGB akan diketahui aliran pembuluh limfe yang melewatinya. Kelenjar getah bening berfungsi untuk menghasilkan sel darah putih dan menjaga agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut. Kelenjar limfa terdapat di sepanjang saluran atau pembuluh KGB. Saluran KGB yang disebut limfatik merupakan saluran halus yang sukar terlihat pada potongan jaringan biasa karena saluram tersebut akan mudah kolaps, kecuali terisi oleh cairan edema atau leukosit yang kembali masuk sirkulasi. Saluran ini tersusun oleh endotel yang berkesinambungan dengan cell junction yang tumpang tindih dan longgar, serta membran basalis yang tipis. Saluran KGB dibedakan menjadi dua macam yaitu pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa kiri. Pembuluh limfa kanan berfungsi menampung cairan limfa yang berasal dari daerah kepala, leher bagian kanan, dada kanan, dan lengan kanan. Pembuluh ini bermuara pada vena yang berada di bawah selangka kanan. Pembuluh limfa kiri berfungsi menampung getah bening yang berasal dari daerah kepala, leher kiri, dada kiri, dan lengan kiri serta tubuh bagian bawah. Pembuluh ini bermuara pada vena di bawah selangka kiri Fungsi sistem peredaran getah bening adalah sebagai berikut. 1. Untuk sistem pertahanan tubuh. 2. Mengangkut kembali cairan tubuh, cairan plasma darah, sel darah putih yang berada di luar pembuluh darah, dan mengangkut lemak dari usus ke dalam sistem peredaran darah. LALU LINTAS SALURAN KELENJAR GETAH BENING PADA SAAT INFLAMASI Selama inflamasi aliran saluran KGB (limfe) meningkat dan membesar sehingga dapat mengalirkan cairan edema (cairan limfe). Cairan limfe mengandung sel-sel darah putih, sel plasma, monosit dan histiosit yang berfungsi mematikan kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Sebelum cairan ini keluar dari pembuluh darah dan mengisi ruang antarsel terjadi

pembesaran nodus limfatikus akibat dari infeksi, pembesaran ini disebabkan karena poliferasi limfosit B dan diferensiasi Limfosit B menjadi sel plasma kumpulan perubahan histologi ini dinamakan limfadenitis reaktif atau limfadenitis meradang. Setelah itu sel-sel ini ke organ infeksius sehingga membuat jaringan membekak, memerah dan terasa panas dan sakit.

Pada saat inflamasi luas aliran limfe juga dapat mengangkut agen penyerang seperti mikroba dan kimiawi. Akbatnya saluaran limfe itu sendiri dapat mengalami peradangan sekunder (limfangitis), begitu pula dengan KGB dapat menyebabkan limfadenitis

Pemulihan jaringan
Pada proses peradangan, pemulihan dimulai sangat dini dan melibatkan dua proses yang sangat berbeda, yaitu: Regenerasi jaringan yang mengalami jejas oleh sel parenkim dari jenis yang sama. Penggatian oleh jaringan ikat (fibrosis), yang menimbulkan jaringan parut.

A. Pemulihan oleh jaringan ikat (fibrosis) Jejas jaringan berat atau menetap yang disertai kerusakan pada sel parenkim dan kerangka stromamenimbulkan suatu keadaan yang pemulihannya tidak dapat dilaksanakan melalui regenerasi parenkim saja. Dalam kondisi seperti ini, pemulihan terjadi melalui penggantian sel parenkim nonregeneratif oleh jaringan ikat. Terdapat empat komponen umum proses ini, yaitu : Pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) Migrasi dan proliferasi fibriblas Deposisi ECM Maturasi dan reorganisasi jaringan fibrosa (remodeling)

Pemulihan dimulai dalam waktu 24 jam setelah jejas melalui emograsi fibroblas dan induksi proliderasi fibroblast dan endotel. Dalam 3 sampai 5 hari, muncul jenis jaringan khusus yang mencirikan terjadinya penyembuhan, yang disebut jaringan granulasi. Istilah jaringan granulasi berasal dari gambaran jaringan mikriskopisnya yang berwarna merah muda, lembut, dan bergranula seperti yang terlihat dibawah keropeng pada luka kulit. Jaringan granulasi kemudian akan mengumpulkan matriks jaringan ikat secar progresif. yang akhirnya akan menghasilkan fibrosis padat yang dapat melakukan remodelling lebih lanjut seiring berjalnnya waktu. 1. Angiogenesis Pembuluh darah dibangun melalui dua proses: vaskulogenesis , yang jaringan

pembuluh sarah primitifnya dibentuk dari angioblas (prekursor sel endotel) selama perkembangan embrionik, dan angiogenesis atau neovaskularisasi, yaitu proses pembuluh darah yang telah ada sebelumnya akna mengeluarkan tunas kapiler untuk menghasilkan pembuluh darah baru. Angiogenesi merupakan proses penting dalam penyembuhan lokasi jejas, dalam pengembangan sirkulasi kolateral pada lokasi iskemia, dan memberi kemungkinan pada tumor untuk semakin besar melampaui desakan pasokan darahnya semula. Empat tahapan yang terjadi dalam perkembangan pembuluh darah kapiler yang baru, yaitu : Degradasi proteolitik pada ppembuluh darah induk BM, memungkinkan pembentukan suatu tunas kapiler. Migrasi sel endotel dari kapiler asal menuju suatu rngsang angiogenik Proliferasi sel endotel di belakang ujung terdepan sel yang bermigrasi. Maturasi sel endotel dengan penghambatan pertumbuhan dan penataan menjadi pembuluh kapiler. Tahapan ini mencakup rekrutmen dan proliferasi perisit (untuk kapiler) dan sel otot polos (untuk pembuluh darah yang lebih besar ) untuk menyokong pertumbuhan endotel dan untuk memberikan fungsi tambahan. Beberapa faktor menginduksi angiogenesis, tetapi yang terpenting adalah faktor pertumbuhan dasar fibroblas (bFGF) dan faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF). 2. Fibrosis ( pembentukan jaringan parut ) Fibrosis atau pembentukan jaringan parut, menambah kerangka jaringan granulasi pada pembuluh darah baru dan ECM longgar yang berkembang dini pada tempat pemulihan. Proses fibrosis berlangsung dalam dua langkah, yaitu: a. Emigrasi dan proliferasi fibroblas ke dalam tempat jejas, b. Deposisi sel ini pada ECM Tempat peradangan juga kaya sel mast dan dengan lingkungan kemotaksis yang sesuai, dapat muncul pula limfosit. Tiap- tiap sel ini dapat turut berperan langsung ataupun tidak langsung terhadap proliferasi dan aktivitas fibroblas. Ketika proses penyembuhan mengalami kemajuan, jumlah fibroblas yang berproliferasi dan pembuluh darah baru akan berkurang, namun, secara progresif fibroblast akan mengambil fenotipe sintesis sehingga terjadi peningkatan deposisi ECM. Saat jaringan parut matang, akhirnya regresi pembuluh darah akan mengubah

jaringan granulasi yang sangat banyak pembuluh darahnya menjadi suatu jaringan parut yang sangat pucat dan avaskular. 3. Remodeling jaringan parut Perubahan pada jaringan granulasi menjadi jaringan parut melibatkan dalam komposisi ECM. Bahkan, setelah sintesis dan deposisinya, ECM jaringan parut akan terus diubah dan dilakukan remodeling. Degradasi kolagen dan komponen ECM lainnya dilakukan oleh sekelompok metaloproteinase. Metaloproteinase ini harus dibedakan dengan elastase neutrofil, katepsin G, plasmin, proteinase serin laain yang dapat memecah ECM, tetapi bukan metaloenzim.