Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS METABOLISME PUASA DAN SETELAH MAKAN Mardhiyah Fithriana Mufti 11613086/B1/Kelas B ABSTRAK Metabolisme adalah keseluruhan reaksi

yang terjadi di dalam sel, yang meliputi proses penguraian dan sintesis molekul kimia yang menghasilkan dan membutuhkan panas (energi) serta dikatalisis oleh enzim. Pada kondisi setelah makan, terjadi penyimpanan energi karena asupan energi yang dibutuhkan oleh tubuh berlebih. Pada kondisi puasa, terjadi pembongkaran cadangan energi karena tidak ada asupan energi dari luar. Tujuan dari percobaan ini adalah agar dapat menjelaskan aspek biokimia yang terjadi pada kondisi lapar dan setelah makan, dan agar dapat melakukan pemeriksaan parameter biokimia terkait dengan metabolisme. Metode yang digunakan untuk menentukan kadar glukosa yaitu dengan metode GOD-PAP (Glukosa Oxidase Phenol Amino Peroksidase), untuk penentuan kadar trigliserida dengan metode GPO-PAP (glyseril-3-phospate oxidase). A. PENDAHULUAN
Glukosa merupakan bahan bakar utama untuk jaringan misalnya otak dan susunan saraf, serta satu-satunya bahan bakar bagi sel darah merah. Kadar glukosa darah memuncak pada sekitar 1 jam setelah makan, dua jam setelah makan, kadar kembali ke rantang puasa (antara 80-100 mg/dL) seiring dengan oksidasi atau pengubahan glukosa menjadi bentuk simpanan bahan bakar oleh jaringan. Penurunan glukosa menyebabkan penurunan sekresi insulin. Hati berespon terhadap hal ini dengan memulai degradasi simpanan oksigen dan melepaskan glukosa dalam darah. Namun, apabila kita terus-terusan berpuasa selama 12 jam, kita masuk ke status basal yang juga dikenal sebagai keadaan pasca absorptif. Seseorang umumnya dianggap pada keadaan basal setelah berpuasa semalam tidak makan lagi sejak malam terkahir . Pada awalnya, simpanan glikogen diuraikan untuk memasok glukosa ke dalam darah, tetapi simpanan ini terbatas. Walaupun kadar glikogen hati dapat meningkat sampai 200-300 g setelah makan, hanya sekitar 80 g yang masih tersisia setelah puasa 1 malam. Hati memiliki mekanisme lain untuk menghasilkan glukosa darah. Proses ini yang dikenal sebagai glukoneogenesis yang menggunakan sumber-sumber karbon berupa laktat (glikolisis di dalam sle darah merah), gliserol (lipolisis triasilgliserol adiposa), dan asam amino (pemecahan protein otot). Asam lemak tidak dapat menyediakan karbon untuk glukoneogenesis. Dari simpanan energi makanan triasilgliserol jaringan adiposa yang berjumlah besar, hanya sebagian kecil terutama gugus gliserol yang dapat digunakan untuk menghasilkan glukosa dalam darah. Setelah beberapa jam puasa glukoneogenesis mulai menambah glukosa yang dihasilkan glikogenolisis di hati. Bila puasa berlanjut, glukoneogenesis menjadi lebih penting sebagai sumber glukosa darah. Setelah sekitar 30 jam berpuasa, simpanan glikogen hati habis

dan glukoneogenesis menjadi satu-satunya sumber glukosa darah. Pasokan minimal glukosa mungkin diperlukan dalam jaringan ekstra hepatik untuk mempertahankan konsentrasi oksaloasetat dan bentukan siklus asam sitrat. Disamping itu, glukosa merupakan sumber utama gliserol 3 fosfat dalam jaringan yang tidak mempunyai energi gliserol kinase seperti jaringan adiposa. Selama makan, kita memasukkan karbohidrat, lemak, dan protein, yang kemudian dicerna dan diserap. Sebagian bahan makanan ini digunakan dalam jalur-jalur yang menghasilkan ATP, untuk memenuhi kebutuhan energi segera. Kelebihan konsumsi bahan bakar yang melebihi kebutuhan energi tubuh dibawa ke depot bahan bakar, tempat bahan tersebut disimpan. Selama periode dari permulaan absorpsi sampai absorpsi selesai, kita berada dalam keadaan kenyang atau keadaan absorptif . Karbohidrat dalam makanan dicerna menjadi monosakarida oleh enzim pencernaan. Monosakarida kemudian diserap oleh sel epitel usus dan dilepaskan ke dalam vena porta hepatika. Sesampainya di hati, sebagian glukosa dioksidasi dalam jalur-jalur yang menghasilkan ATP untuk memenuhi kebutuhan energi segera sel-sel hati. Sebagian lagi diubah menjadi glikogen dan triasilgliserol .

B. METODE
Dalam percobaan ini dilakukan penetapan kadar glukosa dan kadar trigliserida pada saat puasa dan setelah makan. Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu alat spektrofotometri, mikropipet, rak tabung reaksi, tabung reaksi, vortex dan waterbath. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu aquadest, kit pemeriksaan glukosa, kit pemeriksaan trigliserida, makanan tinggi lemak, makanan tinggi karbohidrat dan sampel dalam bentuk serum. Dalam penetapan kadar glukosa, disiapkan 3 tabung reaksi dan masing-masing tabung diisi dengan 1000 mikroliter reagen. Kemudian ditambahkan aquadest sebanyak 10 mikroliter pada tabung 1, setelah itu dicampur dan diberi label blanko. Diinkubasi selama 20 menit pada suhu 20-25C atau selama 10 menit pada suhu 37C dan dibaca absorbansinya pada 502 nm. Pada tabung 2, ditambahkan larutan standar glukosa sebanyak 10 mikroliter, dicampurkan dan diberi label standar. Diinkubasi larutan standar tersebut selama 20 menit pada suhu 20-25C atau selama 10 menit pada suhu 37C dan dibaca absorbansinya pada 502 nm. Pada tabung 3, ditambahkan sampel serum sebanyak 10 mikroliter, dicampurkan dan diberi label, diinkubasi larutan standar tersebut selama 20 menit pada suhu 20-25C atau selama 10 menit pada suhu 37C dan dibaca absorbansinya pada 502 nm. Dalam penetapan kadar trigliserida, disiapkan 3 tabung reaksi dan masing-masing tabung diisi dengan 1000 mikroliter reagen. Kemudian ditambahkan aquadest sebanyak 10 mikroliter pada tabung 1, setelah itu dicampur dan diberi label blanko. Dibaca absorbansinya

pada panjang gelombang 502 nm, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37C kemudian dibaca lagi absorbansinya pada panjang gelombang yang sama. Pada tabung 2, ditambahkan larutan standar trigliserida sebanyak 10 mikroliter, dicampurkan dan diberi label standar, dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 502 nm, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37C kemudian dibaca lagi absorbansinya pada panjang gelombang yang sama. Pada tabung 3, ditambahkan sampel serum sebanyak 10 mikroliter, dicampurkan dan diberi label, dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 502 nm, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37C kemudian dibaca lagi absorbansinya pada panjang gelombang 502 nm.

C. HASIL DAN PERHITUNGAN


Data Hasil Probandus 1 (P1) Diet tinggi lemak Tinggi: 184 cm, Berat : 80 Kg, BMI :23,629 Probandus 2 (P2) Diet tinggi karbohidrat Tinggi: 170, Berat: 56 kg, BMI: 19,377 Absorbansi Trigliserida Keterangan Blanko Standar P1 Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5 Sampel Standar 0,0968 0,0968 0,1246 0,1564 X 0,1186 0,056 0,739 0,878 0,2101 X 0,8085 0,2101 0,3418 0,2101 0,3430 0,1637 0,2763 0,1577 0,6899 Puasa P2 0,2656 0,1423 0,2656 0,5520 0,2052 0,3221 0,2025 Setelah makan 30 menit P1 0,2690 0,3002 0,9199 0,2556 0,2323 0,3954 0,2768 P2 0,2532 0,1758 0,9169 0,2211 0,1832 0,4637 0,3451

Keterangan

Absorbansi Glukosa Puasa P1 P2 0,3569 0,3866 0,3569 0,4221 0,2783 0,3602 30 menit P1 0,4702 0,1584 0,8868 0,4537 0,3179 0,5321 P2 0,3700 0,4761 0,2670 0,4574 0,3180 0,3777 0,630 0,1619 0,606 0,878 0,2262 0,7047 0,1714 0,1621 0,1481 0,1532 0,1307 0,1531 Standar Blanko

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelompok 5

0,3602 0,2482 0,3602 0,4672 0,2690 0,3409

0,1878

0,2071

0,3790

0,2246 0,5516

*ket: Kotak yang berwarna merah tidak di sertakan pada perhitungan. Perhitungan Trigliserida : Glukosa : Pada saat puasa Pada saat puasa 1) P1 = X 200 = 45,716 mg/dL 1) P1= mg/dL 2) P2 = 2) P2 = X 200 = 58,704 mg/dL X 100 = 37,56 mg/dL

Pada saat 30 menit setelah makan 1) P1= 2) P2 = X 100 = 68,709 mg/dL X 100 = 40,178

Pada saaat 30 menit setelah makan 1) P1 = 2) P2= X 200 = 80,243 mg/dL X 200 = 100,043 mg/dL

mg/dL

D. DISKUSI
Pada percobaan mengenai penetapan kadar glukosa dan trigliserida pada metabolisme saat puasa dan setelah makan, digunakan dua sampel masing-masing diet tinggi karbohidrat dan diet tinggi lemak yang bertujuan untuk mengetahui aspek biokimia yang terjadi pada saat puasa dan setelah makan serta mengetahui parameter biokimia terkait dengan metabolisme. Mekanisme yang terjadi pada saat puasa yaitu glikogenolisis dan glukoneogenesis. Karena pada saat puasa tidak ada asupan yang masuk dari luar, dan tubuh kekurangan glukosa, maka terjadi pemecahan cadangan energi (lisis). Glukosa yang diperoleh berasal dari pemecahan cadangan glikogen (glikogenolisis) dan sintesis glukosa dari selain nonkarbohidrat berupa laktat, gliserol dan asam amino. Kelebihan energi yang disimpan sebagai trigliserida juga akan dipecah pada proses glukoneogenesis. Mekanisme yang terjadi pada saat setelah makan yaitu glikogenesis dan sintesis asam lemak. Pada saat setelah makan, glukosa yang berlebih akan disimpan dalam bentuk glikogen dan trigliserida kemudian disimpan di jaringan adiposa yang nantinya akan dipecah pada saat tubuh memerlukan energi (pada saat puasa). Sampel yang digunakan dalam percobaan ini yaitu darah (serum) yang merupakan darah dari praktikan yang sebelumnya sudah menjalani puasa. Pada kondisi puasa, konsentrasi glukosa dan trigliserida pada diet tinggi karbohidrat dan tinggi lemak sama-sama mengalami penurunan. Ini dikarenakan tidak adanya asupan energi dari luar sehingga tubuh

mengalami kekurangan glukosa. Langkah selanjutnya yaitu praktikan yang diuji darahnya diberi makanan tinggi karbohidrat dan tinggi lemak. Setelah 30 menit, darah kembali diteliti. Konsentrasi glukosa orang yang diet tinggi karbohidrat mengalami kenaikan. Glukosa ini berasal dari karbohidrat yang dikonsumsi. Konsentrasi trigliserida juga mengalami kenaikan karena glukosa yang berlebih tersebut akan disimpan sebagai trigliserida di jaringan adiposa. Setelah 2 jam, konsentrasi glukosa akan normal kembali dan trigliserida akan meningkat, karena kelebihan glukosa telah diubah menjadi trigliserida. Pada diet tinggi lemak, setelah 30 menit, konsentrasi glukosa akan mengalami kenaikan, namun kenaikannya tidak sebanyak diet tinggi karbohidrat. Kadar trigliserida pun ikut meningkat karena adanya asupan lemak yang masuk ke dalam tubuh. Namun setelah 2 jam, glukosa akan menurun kembali dan konsentrasi trigliserida juga menurun. Jika meningkat, ada kemungkinan metabolisme trigliserida ada kelainan, sehingga

metabolismenya berjalan lambat.

E. KESIMPULAN
1. Pada saat puasa, tubuh akan kekurangan glukosa dan cenderung memecah cadangan energi yang disimpan di dalam tubuh. Sedangkan pada saat setelah makan, tubuh akan kelebihan glukosa dan cenderung menyimpan cadangan energi yang berlebih dari yang dibutuhkan oleh tubuh. 2. - Konsentrasi trigliserida saat puasa pada diet tinggi lemak adalah 45,716 mg/dL dan pada diet tinggi karbohidrat adalah 58,704 mg/dL. Sedangkan setelah 30 menit diberi asupan berupa makanan, konsentrasi trigliserida pada diet tinggi lemak adalah 80,243 mg/dL dan pada diet tinggi karbohidrat adalah 100,043 mg/dL. Konsentrasi trigliserida normal adalah < 200 mg/dL. - Konsentrasi glukosa saat puasa pada diet tinggi lemak adalah mg/dL dan pada

diet tinggi karbohidrat adalah 37,56 mg/dL. Sedangkan setelah 30 menit diberi asupan berupa makanan, konsentrasi trigliserida pada diet tinggi lemak adalah 68,709 mg/dL dan pada diet tinggi karbohidrat adalah 40,178 mg/dL. Konsentrasi glukosa normal adalah 80-100 mg/dL.

F. REFERENSI 1. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan Klinis. Edisi I. Jakarta: EGC. 2000. Hal 20-30, 545-52. 2. Sherwood L. Human Physiology From Cells to Systems. Edisi 5. USA: Brooks/Cole-Thomson Learning. 2004. Hal 279, 726-8. 3. Mac donald, I., Carbohydrates : Metabolism of Sugar. In Encyclopedia of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition, Caballero, B. Trugo, L.C., & Finglas, P.M.,Eds,. Academic Press. 2003.

MAKALAH BIOKIMIA ANALISIS METABOLISME PUASA DAN SETELAH MAKAN

Nama NIM Kelas Kelompok

: Mardhiyah Fithriana Mufti : 11613086 :B : B1

Laboraturium Kimia Farmasi Program Studi Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia 2012/2013

Anda mungkin juga menyukai