Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN TUTORIAL MINGGU 5 BLOK 3.

4 GANGGUAN SISTEM UROGENITAL

DISUSUN OLEH :
BENAZIR DEVI YUNITA PURBA META YULIA UTAMI M. YOGA MELYANA M. RYAN FADMA YULIANI FATHIA DELIZA YELSA YULANDA RESHKA RENANTI EMERALDO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS 2013

MODUL 5 DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT DEGENERATIF DAN NEOPLASMA GANGGUAN UROGENITAL

SKENARIO 5 : DERITA TN. KARTA Tn. Karta 80 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan tidak bisa kencing sejak satu hari yang lalu. Sejak satu bulan lalu Tn. Karta sudah merasa kencing tidak lancer serta sedikitsedikit dan sering. Dari pemeriksaan didapatkan, KU lemah. Gizi kurang. Pada pemeriksaan abdomen teraba massa di supra simpisis. Pada RT teraba kelenjar prostat membesar, berbenjol, dan konsistensi keras. Dokter menerangkan pada TN. Karta tentang penyakitnya dan minta persetujuan Tn. Karta untuk memasang kateter. Ternyata kateter gagal dipasang dan dokter menganjurkan untuk di rujuk ke RS. Di RS dilakukan pemasangan kateter secara SPP, dan dari pemeriksaan lebih lanjut didapatkan PSA 15 ngr/L. dokter menerangkan pada Tn. Karta, bahwa ia menderita keganasan kelenjar prostat dan menganjurkan untuk operasi. Bagaimana Anda menjelaskan apa yang terjadi pada Tn. Karta?

2|Page

I.

TERMINOLOGI

PSA : prostat specific antigen, merupakan enzim proteolitik yang dihasilkan dan dikeluarkan bersama cairan msemen dalam jumlah yang banyak.

II.

IDENTIFIKASI MASALAH

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Mengapa Tn. Karta mengeluh tidak bisa kencing sejak satu hari yang lalu? Mengapa Tn. Karta merasa kencingnya tidak lancer serta sedikit-sedikit dan sering? Bagaimana hubungan jenis kelamin dan usia dengan keadaan Tn. Karta sekarang? Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik dan RT pada Tn. Karta? Mengapa pemasangan kateter gagal? Mengapa Tn. Karta dirujuk? Apa interpretasi dari pemeriksaan PSA? Apa indikasi operasi? Bagaimana prognosisnya? Apa penyebab kel. Prostat membesar dan mengapa keras?

III. 1.

ANALISIS MASALAH Tn. Karta tidak bisa kencing menandakan ada gangguan saluran urogenital baik bagian

bawah maupun atas seperti terjadinya penyempitan uretra, striktur, obstruksi, dll. Misalnya pada penyakit seperti :

BPH : biasanya diderita laki-laki yang berusia di atas 40-45 tahun ditandai dengan sulit

berkemih dan pancaran lemah. 2. Ca Prostat : gejala sama dengan BPH, saat di RT prostat teraba keras. Peradangan prostat : biasanya disertai nyeri pada alat genital. Gejala iritasi pembesaran prostat -> rangsangan v. urinaria, terjadi hiperdetrusor pada

otot, awalnya miksi sering dan sedikit-sedikit.

3|Page

3.

Usia 80 tahun ( > 65 tahun) merupakan factor predisposisi untuk terjadinya kanker

prostat, namun dapat juga terjadi pada usia lebih muda antara 40-45 tahun. Secara epidemiologi pria yang berkulit hitam ( ras Apro, Amerika) lebih beresiko, pria dengan anggota keluarga menderita penyakit ini resiko meningkat 5 x. 4. Interpretasi pemeriksaan fisik dan RT : KU lemah : tanda sudah terjadi uremia akibat obstruksi berat. Gizi kurang : akibat kurang nafsu makan ( akibat ganggaun psikologi, gangguan indra

pengecap) dan akibat proses keganasan. 5. Massa di supra simpisis : tanda v. urinaria yang penuh akibat retensi urin. RT : curigai kegansan prostat berdasarkan konsistensi keras dan berbenjol-benjol. Tn. Karta dicurigai menderita kanker prostat, dimana lokasi terseringnya di bagian

perifer (tidak terjadi penekanan), namun jika ca agresif akan menekan uretra, lumennya menyempit atau bahkan tersumbat sehingga kateter tidak dapat masuk. 6. Tujuan dilakukan perujukan adalah untuk melakukan diagnosis (curiga ca prostat dapat

dilakukan pemeriksaan biopsi, USG, dan PSA) dan tatalaksana lebih lanjut. 7. PSA : merupakan tumor marker ( N < 4 ngr/L), PSA Tn. Karta : 15 ngr/L, curigai ca prostat

namuntidak selalu. Peningkatan PSA juga dapat terjadi pada BPH dan prostatitis, jika PSA sudah sangat meningkat sekali (>10ngr/L) baru dicurigai ca prostat. 8. Indikasi operassi : pasien St. T1-T2 N0M0, dapat dilakukan prostatektomi radikal

(pengangkatan prostat dan v.seminalis). 9. 10. Prognosis buruk. Prostat teraba keras terjadi akibat mutasi sel prostat dan proliferasinya yang sangat

cepat sehingga prostat semakin membesar dan lebih keras dari normal.

4|Page

IV.

SKEMA
Tn. Karta lakilaki, 80 tahun Tidak bisa kencing

Tidak lancar, sedikitsedikit dan sering

P. fisik : teraba massa di suppra simpisis, ku lemah, gizi kuraang. RT : prostat membesar, berbenjol-benjol dan keras

Kateter gagal

Dirujuk ke RS

spp

diagnosis

tatalaksana operasi

TRUS

BIOPSI

PSA

hipoekhoic

PA : staging

Ca 10

prostatitis

BPH

5|Page

V.

TUJUAN PEMBELAJARAN Mahasiswa mampu menjelaskan epidemiologi, etiologi, faktor resiko, patofisiologi, diagnosis, p. penunjang, tatalaksana, prognosis, dan komplikasi. VI-VII. PENGUMPULAN INFORMASI

KANKER GINJAL
A. EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI DAN PATHOLOGI UMUM Di rumah sakit, insidens tumor ginjal menempati urutan ke tiga dari tumor saluran kemih setelah tumor kandung kemih dan prostat. Tumor ginjal padat jinak lebih jarang ditemukan dibanding tumor ganas (De Jong, 2000). Karsinoma ginjal terjadi di tubuli proksimal ginjal. Hipotesis Grawitz (1883) bahwa tumor terjadi dari sisa adrenal di dalam ginjal ternyata tidak betul dan nama hipernefroma yang didasarkan atas ini tidak berlaku lagi. Tumor ini tiap tahun dijumpai pada 5 dari tiap 100.000 laki-laki dan 3 tiap 100.000 wanita. Kelainan ini dapat terjadi pada umur 17 70 tahun. Dengan frekuensi puncak antara 60 dan 70 tahun. Karsinoma ginjal merupakan 2 3% semua malignitas. Mengenai etiologinya hanya sedikit yang diketahui. Merokok mungkin mempunyai peran. Pada kira-kira 40% penderita telah ditemukan metastasis pada waktu tumor primer ditemukan. Lama hidup rata-rata penderita ini 6 12 bulan. Tanpa penanganan proses lokal ini meluas dengan bertumbuh terus ke dalam jaringan sekelilingnya dan dengan bermetastasis menyebabkan kematian. Progesifitasnya berbeda-beda, karena itu periode sakit total bervariasi antara beberapa bulan dan beberapa tahun. Gambaran histologiknya heterogen, disamping sel-sel jernih (clear cell) dan eosinofil glandular (granular cell) terdapat lebih banyak sel polimorf, fusiform dan sel-sel raksasa. Bagian-bagian karsinomatosa sering terdapat disamping bagianbagian pseudosarkomatosa diselingi dengan nekrosis dan perdarahan.

6|Page

B. KLASIFIKASI KANKER GINJAL Tumor Ganas (kanker) Tumor ginjal yang ganas biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelium, yaitu karsinoma sel transisional atau berasal dari sel epitel ginjal atau adenokarsinoma, yaitu tumor Grawitz atau dari sel nefroblas, yaitu tumor Wilms.

a. ADENOKARSINOMA GINJAL Definisi Adenokarsinoma ginjal adalah tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimalis ginjal. Tumor ini merupakan 3% dari seluruh keganasan pada orang dewasa. Tumor ini paling sering ditemukan pada umur lebih dari 50 tahun. Penemuan kasus baru meningkat setelah ditemukannya alat bantu diagnosa USG dan CT scan. Angka kejadian pada pria lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 2 : 1. Meskipun tumor ini biasanya banyak diderita pada usia lanjut (setelah usia 40 tahun), tetapi dapat pula menyerang usia yang lebih muda. Kejadian tumor pada kedua sisi (bilateral) terdapat pada 2% kasus. Tumor ini dikenal dengan nama lain sebagai : tumor Grawitz, Hipernefroma, Karsinoma sel Ginjal atau Internist tumor (Basuki, 2003). Serupa dengan sel korteks adrenal tumor ini diberi nama hipernefroma yang dipercaya berasal dari sisa kelenjar adrenal yang embrionik.

Etiologi Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab timbulnya adenokarsinoma ginjal, tetapi hingga saat ini belum ditemukan agen yang spesifik sebagai penyebabnya. Merokok merupakan faktor resiko yang paling dekat dengan timbulnya kanker ginjal. Semakin lama merokok, dan semakin
7|Page

muda seseorang mulai merokok semakin besar kemungkinan menderita kanker ginjal. Meskipun belum ada bukti kuat, diduga kejadian kanker ginjal berhubungan dengan konsumsi kopi, obat-obatan jenis analgetika dan pemberian estrogen. Yang diindikasikan sebagai faktor etiologi ialah predisposisi genetik yang diperlihatkan dengan adanya hubungan kuat dengan penyakit Hippel-Lindau (hemangioblastoma serebelum, angiomata retina dan tumor ginjal bilateral) suatu kelainan herediter yang jarang. Jarang ditemukan bentuk familial yang mengikuti pola dominan autosomal. Insidens pada ginjal tapal kuda dan ginjal polikistik pada orang dewasa lebih tinggi daripada ginjal normal.

Patologi Tumor ini berasal dari tubulus proksimalis ginjal yang mula-mula berada di dalam korteks, dan kemudian menembus kapsul ginjal. Beberapa jenis tumor bisa berasal dari tubulus distal maupun duktus kolegentes. Biasanya tumor ini disertai dengan pseudokapsul yang terdiri atas parenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan jaringan fibrosa. Tidak jarang ditemukan kista-kista yang berasal dari tumor yang mengalami nekrosis dan diresorbsi. Fasia Gerota merupakan barier yang menahan penyebaran tumor ke organ sekitarnya. Pada irisan tampak berwarna kuning sampai oranye disertai daerah nekrosis dan perdarahan, sedangkan pada gambaran histopatologik terdapat berbagai jenis sel, yakni: clear cell (30 40%), granular (9 12%), sarkomatoid, papiler, dan bentuk campuran. Yang paling sering adalah campuran sel jernih, sel bergranula dan sel sarkomatoid. Inti yang kecil menunjukkan sifat ganas tumor. Sitoplasma yang jernih diakibatkan adanya glikogen dan lemak. Disamping itu di beberapa kasus menunjukkan adanya eosinofilia atau reaksi leukemoid dalam darah dan pada sebagian kecil penderita timbul amiloidosis. Secara makroskopis ginjal terlihat distorsi akibat adanya massa tumor besar yang berbenjol-benjol yang biasanya terdapat pada kutub atas . Hipernefroma kadang-kadang berbentuk kistik. Hal ini dapat memberikan masalah diagnostik. Tumor biasanya berbatas tegas, tetapi beberapa menembus kapsula ginjal dan menginfiltrasi
8|Page

jaringan lemak perinefrik. Perluasan ke dalam vena renalis kadang-kadang dapat dilihat secara makroskopis sekali-sekali terlihat suatu massa tumor padat meluas ke dalam vena kava inferior dan jarang ke dalam atrium kanan.

Stadium Robson membagi derajat invasi adenokarsinoma ginjal dalam 4 stadium yaitu: 1. Stadium 1 : tumor masih terbatas di dalam parenkim ginjal dengan fasia gerota masih utuh. 2. Stadium II : tumor invasi ke jaringan lemak perirenal dengan fasia gerota masih utuh. 3. Stadium III : tumor invasi ke vena renalis/ vena kava atau limfonodi regional. IIIA : tumor menembus fasia gerota dan masuk ke v.renalis IIIB : kelenjar limfe regional IIIC : pembuluh darah local 4. Stadium IV : tumor ekstensi ke organ sekitarnya/ metastasis jauh (usus) IVA : dalam organ sekitarnya, selain adrenal IVB : metastasis jauh (Basuki, 2003).

TNM Tumor Grawitz T Tumor primer T1 Terbatas pada ginjal <2,5>2,5 cm T3 Keluar ginjal, tidak menembus fasia gerota T3a Masuk adren atau jaringan perinefrik T3b Masuk v.renalis/ v.kava T4 Menembus fasia Gerota N Kelenjar regional/ hilus, para aorta, para kava N0 Tidak ada penyebaran N1 Kelenjar tunggal >5 cm

9|Page

Cara penyebaran bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnya dan melalui pembuluh limfe atau v. Renalis. Metastasis tersering ialah ke kelenjar getah bening ipsilateral, paru, kadang ke hati, tulang , adrenal dan ginjal kontralateral.

Gejala dan Tanda Klinis Didapatkan ketiga tanda trias klasik berupa: nyeri pinggang, hematuria dan massa pada pinggang merupakan tanda tumor dalam stadium lanjut. Nyeri terjadi akibat invasi tumor ke dalam organ lain, sumbatan aliran urin atau massa tumor yang menyebabkan peregangan kapsula fibrosa ginjal.Secara klinis kelainan ini terpaparkan sebagai keluhan hematuria.Febris yang disebabkan karena nekrosis tumor atau terbebasnya pirogen endogen oleh tumor ginjal. Hipertensi yang mungkin disebabkan karena: oklusi vaskuler akibat penekanan oleh tumor, terjadinya A-V (arteri-venous) shunting pada massa tumor atau hasil produksi subtansi pressor oleh tumor.Anemi karena terjadinya perdarahan intra tumoral

Varikokel akut yang tidak mengecil dengan posisi tidur. Varikokel ini terjadi akibat obstruksi vena spermatika interna karena terdesak oleh tumor ginjal atau tersumbat oleh trombus sel-sel tumor. Tanda-tanda metastasis ke paru atau hepar.Kadang-kadang ditemukan sindroma

paraneoplastik, yang terdiri atas: (1) Sindroma Staufer (penurunan fungsi liver yang tidak ada hubungannya dengan metastasis pada hepar dengan disertai nekrosis pada berbagai area pada liver), (2) hiperkalsemia (terdapat pada 10% kasus kanker ginjal), (3) polisitemia akibat peningkatan produksi eritropoietin oleh tumor, dan (4) hipertensi akibat meningkatnya kadar renin).

Pencitraan Dengan meluasnya pemakaian ultrasonografi dan CT scan, kanker ginjal dapat ditemukan dalam keadaan stadium yang lebih awal. Pemeriksaan PIV biasanya dikerjakan atas indikasi adanya hematuria tetapi jika diduga ada massa pada ginjal, pemeriksaan dilanjutkan dengan CT scan atau MRI. Dalam hal ini USG hanya dapat menerangkan bahwa ada massa solid atau kistik (Basuki,
10 | P a g e

2003).

CT scan merupakan pemeriksaan pencitraan yang dipilih pada karsinoma ginjal. Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang cukup tinggi dalam mengetahui adanya penyebaran tumor pada vena renalis, vena cava, ekstensi perirenal dan metastasis pada kelenjar limfe retroperitoneal. MRI dapat mengungkapkan adanya invasi tumor pada vena renalis dan vena cava tanpa membutuhkan kontras, tetapi kelemahannya adalah kurang sensitif mengenali lesi solid yang berukuran kurang dari 3 cm(Basuki, 2003).

Sebelum pemakaian CT scan dan MRI berkembang luas, arteriografi selektif merupakan pilihan untuk menegakkan diagnosis karsinoma ginjal. Gambaran klasik arteriogram pada karsinoma ini adalah: neovaskularisasi, fistulae arterio-venous, pooling bahan kontras dan aksentuasi pembuluh darah pada kapsul ginjal. Pemberian infus adrenalin menyebabkan konstriksi pembuluh darah normal tanpa diikuti konstriksi tumor.

Diagnosis Banding Hidronefrosis, ginjal polikistik dan tuberkulosis ginjal .

Terapi

1. Nefrektomi. Tumor yang masih dalam stadium dini dilakukan nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal beserta kapsula gerota. Beberapa kasus yang sudah dalam stadium lanjut tetapi masih mungkin unutk dilakukan operasi, masih dianjurkan untuk dilakukan nefrektomi paliatif. Pada beberapa tumor yang telah mengalami metastasis, setelah tindakan nefrektomi ini sering didahului dengan embolisasi arteri renalis yang bertujuan untuk memudahkan operasi. 2. Hormonal. Penggunaan terapi hormonal belum banyak diketahui hasilnya. Preparat yang dipakai adalah hormon progestagen. Dari berbagai literatur disebutkan bahwa pemberian preparat hormon tidak banyak memberi manfaat. 3. Imunoterapi. Pemberian imunoterapi dengan memakai interferon atau dikombinasikan dengan interleukin saat ini sedang dicoba di negara-negara maju. Karena harganya sangat

11 | P a g e

mahal dan hasil terapi dengan obat-obatan imunoterapi masih belum jelas, maka pemakaian obat ini masih sangat terbatas. 4. Radiasi Eksterna. Radiasi eksterna tidak banyak memberi manfaat pada adenokarsinoma ginjal karena tumor ini adalah tumor yang radioresisten. 5. Sitostatika. Demikian pula pemakaian sitostatika tidak banyak memberikan manfaat pada tumor ginjal.

Prognosis Pada penderita tanpa disertai metastasis kemungkinan hidup 5 tahun dapat mencapai 70%. Keadaan ini bisa memburuk 15 20% apabila vena renalis ikut terkena atau ditemukan perluasan ke dalam jaringan lemak perinefrik (Underwood, 2000). Stadium perkembangan, derajat penyebaran dan derajat keganasan menentukan prognosis.

b. NEFROBLASTOMA

Definisi Nefroblastoma adalah tumor ginjal yang banyak menyerang anak berusia kurang dari 10 tahun dan paling sering dijumpai pada umur 3,5 tahun. Tumor ini merupakan tumor urogenitalia yang paling banyak menyerang anak-anak. Kurang lebih 10% tumor ini menyerang kedua ginjal secara bersamaan. Insiden puncaknya antara umur 1- 4 tahun. Anak perempuan dan laki-laki sama banyaknya. (Underwood, 2000). Tumor Wilms merupakan 10% dari semua keganasan pada anak. Tumor ini mungkin ditemukan pada anak dengan kelainan aniridia, keraguan genitalia pada anak dan sindrom Beckwith-Wiedemann (makroglosi, omfalokel, viseromegah dan hipoglikemia neonatal). Satu persen dari tumor Wilms ditemukan familial dan diturunkan secara dominan autosomal. Onkogen tumor Wilms telah dilokasi pada garis p 13 kromosom 11.

12 | P a g e

Nefroblastoma sering dikenal dengan nama tumor Wilm atau karsinoma sel embrional. Tumor Wilm sering diikuti dengan kelainan bawaan berupa: anridia, hemihipertrofi dan anomali organ urogenitalia.

Patologi Tumor berasal dari blastema metanefrik dan terdiri atas blastema, stroma dan epitel. Dari irisan berwarna abu-abu dan terdapat fokus nekrosis atau perdarahan. Secara histopatologis dibedakan 2 jenis nefroblastoma, yaitu Favorable dan Unfavorable (Basuki, 2003). Kadang tidak tampak unsur epitel atau stroma.

Secara makroskopis tumor ini tampak sebagai massa yang besar dan sering meluas menembus kapsula dan menginfiltrasi jaringan lemak perinefrik dan bahkan sampai ke dasar mesenterium. Potongannya menunjukkan berbagai macam gambaran yang merefleksikan jenis jaringan yang ditemukan pada pemeriksaan histologis. Daerah perdarahan dan nekrosis sering ditemukan menyatu dengan jaringan tumor solid yang berwarna putih bersama dengan daerah kartilago dan musinosa. Secara histologis kedua jaringan epitel dan mesenkim dapat ditemukan dimana tumor berasal dari jaringan mesonefrik mesoderm. Glomerolus dan tubulus terbentuk tidak sempurna yang terletak dalam stroma sel spindel. Otot serat lintang sering ditemukan pada tumor ini bersama dengan jaringan fibrosa miksoid, kartilago, tulang dan lemak, sehingga membentuk susunan campuran yang sedikit aneh.

Penyebaran Setelah keluar dari kapsul ginjal tumor akan mengadakan invasi ke organ di sekitarnya dan menyebar secara limfogen melalui kelenjar limfe para aorta. Penyebaran secara hematogen melalui vena renalis ke vena kava kemudian mengadakan metastasis ke paru (85%), hati (10%) dan bahkan pada stadium lanjut menyebar ke ginjal kontralateral.

13 | P a g e

Stadium NWTS (National Wilms Tumor Study) membagi tingkat penyebaran tumor ini (setelah dilakukan nefrektomi) dalam 5 stadium: I. Tumor terbatas pada ginjal dan dapat dieksisi sempurna, tidak ada metastasis limfogen (N0). II. Tumor meluas keluar simpai ginjal dan dapat dieksisi sempurna mungkin telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal, limfonodi para aorta atau ke vasa renalis (N0). III. Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari: biopsi atau ruptur yang terjadi sebelum atau selama operasi (N+). IV. Metastasis hematogen ke paru, tulang, atau otak (M+) V. Tumor bilateral. Stadium penyebaran tumor menurut TNM T Tumor primer T1 Unilateral permukaan (termasuk ginjal) <80>80 cm2 T3 Unilateral ruptur sebelum penanganan T4 Bilateral

N Metastasis limf N0 Tidak ditemukan metastasis N1 Ada metastasis limf

M Metastasis jauh M0 Tidak ditemukan M+ Ada metastasis jauh (De Jong, 2000).

14 | P a g e

Gambaran Klinis Biasanya pasien dibawa ke dokter oleh orang tuanya karena diketahui perutnya membuncit, ada benjolan di perut sebelah atas atau diketahui kencing berdarah. Pada pemeriksaan kadangkadang didapatkan hipertensi, massa padat pada perut sebelah atas yang kadang-kadang telah melewati garis tengah dan sulit digerakkan. Pada pemeriksaan ultrasonografi abdomen terdapat massa padat pada perut (retroperitonial) sebelah atas yang dalam hal ini harus dibedakan dengan neuroblastoma atau teratoma (Basuki, 2003). Presentasi klinis yang sering adalah adanya massa dalam abdomen. Gambaran klinis awalnya dapat sebagai hematuria. Nyeri abdomen dan obstruksi intestinal. Pemeriksaan PIV, tumor Wilm menunjukkan adanya distorsi sistem pelvikalis atau mungkin didapatkan ginjal non visualized, sedangkan pada neuroblastoma terjadi pendesakan sistem kaliks ginjal ke kaudo-lateral.

Pemeriksaan Pencitraan ginjal dapat dilakukan dengan ultrasonografi yang dapat menemukan tumor padat pada ginjal, yang pada anak kemungkinan paling besar tumor Wilms. Pielogram intravena juga dapat menunjukkan perubahan bayangan ginjal dan gambaran pelviokaliks dan sekaligus memberi kesan mengenai faal ginjal. CT scan dapat memberi gambaran pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukkan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitar. Pemeriksaan untuk mencari metastasis biasanya dengan foto toraks dan CT scan otak (De Jong, 2000). Pemeriksaan MRI tidak menambah banyak keterangan untuk tumor Wilms. Pemeriksaan penunjang lain ialah biopsi jarum yang hanya dibenarkan apabila tumor sangat besar sehingga diperkirakan akan sukar untuk mengangkat seluruh tumor. Pungsi dilakukan sekadar untuk mendapatkan sediaan patologik untuk kepastian diagnosis dan menentukan radiasi atau terapi sitostatika prabedah untuk mengecilkan tumor.

15 | P a g e

Diagnosis Banding Benjolan pada perut sebelah atas yang terdapat pada anak-anak dapat disebabkan oleh karena: (1) hidronefrosis/ kista ginjal yang keduanya merupakan massa yang mempunyai konsistensi kistus, (2) neuroblastoma intrarenal biasanya keadaan pasien lebiih buruk dan pada pemeriksaan laboratorium kadar VMA (Vanyl Mandelic Acid) dalam urin mengalami peningkatan dan (3) teratoma retroperitonium.

Penatalaksanaan Jika secara klinis tumor masih berada dalam stadium dini dan ginjal di sebelah kontralateral normal, dilakukan nefrektomi radikal. Pembedahan ini kadang kala diawali dengan pemberian sitostatika atau radiasi. 1. Sitostatika. Pemberian sitostatika dimulai sebelum pembedahan dan dilanjutkan beberapas eri setelah pembedahan dengan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Sitostatika yang dipergunakan adalah kombinasi dari Actinomisin D dengan Vincristine. 2. Radiasi Eksterna. Tumor Wilm memberikan respon yang cukup baik terhadap radioterapi (bersifat radiosensitif). Radiasi diberikan sebelum atau setelah operasi dan kadang kala diberikan berselingan dengan sitostatika sebagai terapi sandwich. 3. Nefrektomi radikal merupakan terapi terpilih apabila tumor belum melewati garis tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limf retroperitoneal total tidak perlu dilakukan, tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan paraaorta sebaiknya dilakukan. Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontralateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi (sampai 10%). Apabila ditemukan penjalaran tumor ke v. Kava, tumor tersebut harus diusahakan diangkat. Pada waktu pembedahan harus diusahakan agar tidak terjadi penyebaran untuk mencegah kenaikan tingkat keganasan klinis. Pada awal pembedahan v. Renalis dan v. Kava sebaiknya ditutup dengan klem, sebelum memanipulasi ginjal yang kena tumor. Pada
16 | P a g e

tumor bilateral harus dilakukan pemeriksaan patologi dengan biopsi jarum untuk menentukan diagnosa dan perangai histologik. Apabila termasuk golongan prognosis baik, dapat diberikan kemoterapi disusul dengan nefrektomi parsial. Kalau termasuk golongan prognosis buruk harus dilakukan nefrektomi bilateral, kmoterapi dan radiotrapi kemudian dialisis atau transplantasi ginjal. Tumor Wilms dikenal sebagai tumor yang radiosensitif. Akan tetapi radioterapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, paru dan hati. Oleh karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan IV. Jika ada sisa tumor pasca bedah juga diberikan radioterapi. Tumor Wilms merupakan tumor yang kemosensitif terhadap beberapa obat anti tumor, seperti aktinomisin D, vinkristin, doksorubisin, siklofosfamid dan sisplatin. Biasanya kemoterapi diberikan prabedah selama 4 8 minggu. Dengan terapi kombinasi seperti di atas dapat dicapai kelanjutan hidup lebih dari 90% dan bebas penyakit 85%. Pada tumor bilateral, kelanjutan hidup 3 tahun adalah 80%.

Prognosis Tumor ini tumbuh dengan cepat dan agresif. Pada waktu didiagnosis telah ditemukan penyebaran dalam paru. Kombinasi pengobatannya radioterapi, khemoterapi dan pembedahan meningkatkan secara nyata prognosis penyakit ini. Prognosis buruk menunjukkan gambaran histologik dengan bagian yang anaplastik, inti yang atipik, hiperdiploidi dan banyak translokasi kompleks (De Jong, 2000).

c. TUMOR PELVIS RENALIS Angka kejadian tumor ini sangat jarang. Sesuai dengan jenis histopatologinya tumor ini dibedakan dalam dua jenis yaitu (1) karsinoma sel transitional dan (2) karsinoma sel skuamosa. Seperti halnya mukosa yang terdapat pada kaliks, buli-buli dan uretra proksimal, pielum juga dilapisi oleh sel-sel transitional dan mempunyai kemungkinan untuk menjadi karsinoma

17 | P a g e

transitional. Karsinoma sel skuamosa biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis renalis. Sebagian besar tumor renalis pada orang dewasa ialah karsinoma sel renalis, dimana sisanya yang paling banyak (5-10%) karsinoma sel transitional yang berasal dari urotelium pelvis renalis, karena pertumbuhannya ke dalam rongga kaliks pelvis, tumor ini secara dini akan ditandai dengan adanya hematuria atau obstruksi.Tumor ini sering menginfiltrasi dinding pelvis dan dapat mengenai vena renalis.

Etiologi Ditemukan hubungan antara tumor ini dengan penyalahgunaan pemakaian obat analgesik, dan terkena zat warna anilin yang digunakan pada pewarnaan, karet, plastik dan industri gas. Beberapa penderita dilaporkan mendapat karsinoma sel transisional beberapa tahun setelah menggunakan thorotrast, suatu -emiter, yang digunakan pada pielografi retrograde.

Gambaran Klinis Yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah kencing darah (80%), kadang-kadang disertai dengan nyeri pinggang dan teraba massa pada pinggang. Keadaan tersebut disebabkan oleh massa tumor atau akibat obstruksi oleh tumor yang menimbulkan hidronefrosis. Pada pemeriksaan PIV terdapat filling defect yang nampak seolah-olah seperti batu radiolusen, tuberkuloma, atau hemangioma pada pielum ginjal. Untuk itu bantuan ultrasonografi atau CT scan dapat membedakannyA. Pemeriksaan sitologi urin dengan mengambil contoh urin langsung ke dalam pielum melalui kateter ureter. Melalui alat ureterorenoskopi dapat dilihat langsung keadaan pielum. Jika dicurigai ada massa pada pielum diambil contoh jaringan untuk pemeriksaan histopatologi. Tumor sel transisional tumbuh berpapil-papil, serupa dengan tumor ureter dan vesika urinaria. Sering ditemukan karsinoma sel transisional pada seluruh traktus urinarius, yang sugestif adanya perubahan dari daerah urothelial. Bentuk papil tumor memudahkan terjadinya kerusakan pada massa tumor bagian ujungnya, yang dapat terlepaskan. Hal ini menyebabkan sel tumor yang atipik dapat dideteksi dalam urin penderita, sehingga memungkinkan tumor ini
18 | P a g e

didiagnosis berdasarkan pemeriksaan sitologi urin dan dilakukan screening (Underwood, 2000). Dengan adanya batu pelvis, urothelium dapat mengalami metaplasia squamosa. Telah diketahui bahwa terjadinya karsinoma skuamosa ada hubungannya dengan terdapatnya batu dan infeksi kronis, tetapi dapat pula timbul langsung dari epitel transisional. Secara makroskopik biasanya tumor ini berbentuk datar dan infiltaratif dengan prognosisnya yang buruk.

Terapi Tumor ini kurang memberikan respon pada pemberian sitostatika maupun radiasi eksterna. Terapi yang paling baik untuk tumor ini pada stadium awal adalah nefroureterektomi dengan mengambil cuff dari buli-buli .

Prognosis Prognosisnya kurang baik, terutama pada penderita dengan tumor yang berdiferensiasi buruk, dan tumor multipel sering ditemukan pada ureter dan vesika urinaria.

KANKER BULI-BULI

DEFINISI Kanker buli buli adalah kanker yang mengenai organ buli buli (kandung kemih). Buli buli adalah organ yang berfungsi untuk menampung air kemih yang berasal dari ginjal. Jika buli buli telah penuh maka maka air kemih akan dikeluarkan.

EPIDEMIOLOGI Salah satu penyakit yang termasuk masalah kesehatan masyarakat adalah kanker system urogenitalia. Tumor buli-buli paling sering menyerang 3 kali lebih sering dari tumor urogenital lain. Sebagian besar (atau 90%) tumor buli-buli adalah karsinoma sel transisional. Di Amerika Serikat keganasan ini merupakan penyebab kematian ke enam dari seluruh penyakit kaganasan, dan pada tahun 1996 yang lalu diperkirakan ditemukan 52.900 kasus baru kanker
19 | P a g e

buli-buli. Di Indonesia berdasarkan pendataan hasil pemeriksaan jaringan yang dilakukan selama 3 tahun diketahui bahwa kanker buli-buli menempati urutan kesepuluh dari tumor ganas primer pada pria. Di subbangian Urologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo darii 152 kasus keganasan urologi antara tahun 1995-1997, 36% diantaranya adalah kanker buli-buli dan juga menempati urutan pertama.

ETIOLOGI Penyebab yang pasti dari kanker kandung kemih tidak diketahui . Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa kanker ini memiliki beberapa faktor resiko yaitu : 1. 2. 3. Usia, resiko terjadinya kandung kemih meningkat sejalan dengan pertambahan usia Merokok merupakan faktor resiko yang utama Lingkungan pekerjaan , beberapa pekerja memiliki resiko yang lebih tinggi untuk

menderita kanker ini karena ditempatnya bekerja ditemukan bahan bahan karsinogenik ( penyebab kanker ). Misalnya pekerja industry karet, KIMA, dll. 4. Ras , orang kulit putih memiliki resiko 2 kali lebih besar, resiko terkecil terdapat pada

orang Asia. 5. Pria , memiliki resiko 2 3kali lebih besar. Riwayat keluarga , orang orang yang keluarganya ada yang menderita kanker kandung kemih memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker ini. Peneliti sedang mempelajari adanya perubahan Gen tertentu yang mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker ini.

GEJALA KLINIS Tanda dan gejala Ca Buli buli yaitu : - Kencing campur darah yang intermitten - Merasa panas waktu kencing - Merasa ingin kencing - Sering kencing terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing - Nyeri suprapubik yang konstan - Panas badan dan merasa lemah
20 | P a g e

- Nyeri pinggang karena tekanan saraf - Nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis

Gejala dari kanker kandung kemih menyerupai gejala infeksi kandung kemih (sistitis) dan kedua penyakit ini bisa terjadi secara bersamaan. Patut dicurigai suatu kanker jika dengan pengobatan standar untuk infeksi, gejalanya tidak menghilang.

DIAGNOSIS a) Pemeriksaan Lab Pemeriksaan Hb Hb menurun oleh karena kehilangan darah, infeksi, uremia, gros atau micros hematuria Pemeriksaan Leukosit Leukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan terdapat pus dan bakteri dalam urine Acid phospatase meningkat; kanker prostat metastase, ACTH meningkat kanker paru Alkaline phosphatase meningkat; kanker tulang atau metastase ke tulang, kanker hati, lymphoma, leukemia. Calsium meningkat; metastase tulang, kanker mamae, leukemia, lymphoma, multiple myeloma, kanker; paru, ginjal, bladder, hati, paratiroid. LDH meningkat; kanker hati, metastase ke hati, lymphoma, leukemia akut SGPT (AST), SGOT (ALT) meningkat; kanker metastase ke hati. Testosteron meningkat; kanker adrenal, ovarium

b. Radiology excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat menunjukkan tumornya. Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor Fractionated cystogram adanya invasi tumor dalam dinding buli-buli Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh lymphe

21 | P a g e

c. Cystocopy dan biopsy cystoscopy hampir selalu menghasilkan tumor Biopsi dari pada lesi selalu dikerjakan secara rutin.

d. Cystologi Pengecatan sieman/papanicelaou pada sedimen urine terdapat transionil cel daripada tumor

TERAPI 1. Operasi Operasi kanker yang terbatas pada permukaan dalam kandung kemih atau hanya menyusup ke lapisan otot paling atas, bisa diangkat seluruhnya melalui sistoskopi. Tetapi sering terbentuk kanker yang baru, kadang di tempat yang sama, tetapi lebih sering terbentuk di tempat yang baru. Angka kekambuhan bisa dikurangi dengan memberikan obat anti-kanker atau BCG ke dalam kandung kemih setelah seluruh kanker diangkat melalui sistoskopi. Pemberian obat ini bisa digunakan sebagai pengobatan pada penderita yang tumornya tidak dapat diangkat melalui sistoskopi.. Kanker yang tumbuh lebih dalam atau telah menembus dinding kandung kemih, tidak dapat diangkat seluruhnya dengan sistoskopi. Biasanya dilakukan pengangkatan sebagaian atau seluruh kandung kemih (sistektomi). Kelenjar getah bening biasanya juga diangkat untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar atau belum.Terapi penyinaran saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi kadang bisa mengobati kanker. Jika kandung kemih diangkat seluruhnya, maka harus dipasang alat untuk membuang air kemih.Biasanya air kemih dialirkan ke suatu lubang di dinding perut (stoma) melalui suatu saluran yang terbuat dari usus, yang disebut ileal loop. Selanjutnya air kemih dikumpulkan dalam suatu kantong. Cara untuk mengalihkan air kemih pada penderita yang kandung kemihnya telah diangkat, digolongkan ke dalam 2 kategori:
22 | P a g e

1. Orthotopic neobladder 2. Continent cutaneous diversion. Pada kedua cara tersebut, suatu penampung internal dibuat dari usus. Pada orthotopic neobladder, penampung ini dihubungkan dengan uretra. Penderita diajarkan untuk mengosongkan penampung ini dengan cara mengendurkan otot dasar panggul dan meningkatkan tekanan dalam perut, sehingga air kemih mengalir melalui uretra. Pada continent cutaneous urinary diversion, penampung ini dihubungkan dengan sebuah lubang di dinding perut. Diperlukan kantong luar, karena air kemih tetap berada dalam penampung sebelum dikosongkan oleh penderita dengan cara memasang selang melalui lubang di dinding perut ke dalam penampung. Penderita melakukan pengosongan ini secara teratur.

Kanker 2. Radioterapy

yang

sudah

menyebar

diobati

dengan

kemoterapi.

Diberikan pada tumor yang radiosensitive seperti undifferentiated pada grade III -IV dan stage B2-C. RAdiasi diberikan sebelum operasi selama 3-4 minggu, dosis 3000-4000 Rads. Penderita dievaluasi selam 2-4 minggu dengan iinterval cystoscopy, foto thoraks dan IVP, kemudian 6 minggu setelah radiasi direncanakan operasi. Post operasi radiasi tambahan 2000-3000 Rads selam 2-3 minggu. 3. Chemoterapi Obat-obat anti kanker : citral, 5 fluoro urasil topical chemotherapy yaitu Thic-TEPA, Chemotherapy merupakan paliatif. 5- Fluorouracil (5FU) dan doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam Buli-buli sebagai pengobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa dan obat diabiarkan dalam Buli-buli selama dua jam.

23 | P a g e

Komplikasi

Infeksi sekunder bila tumor mengalami ulserasi Retensi urine bila tumor mengadakan invasi ke bladder neck Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklusi

KANKER URETRA
DEFINISI Kanker Uretra adalah suatu keganasan yang jarang terjadi, yang ditemukan di dalam uretra. Uretra merupakan saluran tempat keluarnya air kemih dari kandung kemih. Pada wanita, panjang uretra adalah sekitar 3,75 cm dan ujungnya adalah berupa lubang yang terletak di atas vagina. Pada pria, panjang uretra adalah sekitar 20 cm, menembus kelenjar prostat dan berakhir sebagai sebuah lubang di ujung penis. Kanker uretra lebih sering terjadi pada wanita. Bagian dari uretra yang terletak di dekat lubang keluarnya disebut uretra anterior dan kanker yang bermula dari daerah ini disebut kanker uretra anterior. Bagian dari uretra yang terletak di dekat kandung kemih disebut uretra posterior dan kanker yang berawal di daerah ini disebut kanker uretra posterior. Uretra posterior terletak lebih dekat dengan kandung kemih dan jaringan lainnya, sehingga kanker di daerah ini lebih mungkin tumbuh menembus lapisan dalam uretra dan jaringan di dekatnya. Kadang penderita kanker kandung kemih juga menderita kanker uretra yang disebut sebagai kanker uretra yang berhubungan dengan kanker kandung kemih. Kanker uretra kambuhan adalah kanker uretra yang kambuh kembali setelah diobati, bisa kambuh di tempat yang sama atau di bagian tubuh yang lain. Karunkulus uretra adalah pertumbuhan jinak (non-kanker) yang lebih sering terjadi, berupa pertumbuhan kecil, berwarna merah dan menimbulkan nyeri di samping lubang uretra pada wanita. Karunkulus uretra menyebabkan adanya darah dalam air kemih dan keadaan ini diatasi dengan pengangkatan melalui pembedahan.
24 | P a g e

PENYEBAB Penyebab terjadinya keganasan pada sel-se uretra tidak diketahui.

GEJALA Gejala pertama biasanya adanya darah di dalam air kemih (hematuria), yang mungkin hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan mikroskopik atau bisa juga tampak sebagai air kemih yang berwarna kemerahan. Aliran air kemih bisa tersumbat, sehingga penderita mengalami kesulitan dalam berkemih atau aliran air kemih menjadi lambat dan sedikit.

DIAGNOSA Dilakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui dan merasakan adanya benjolan di dalam uretra. Pada pria, sebuah sitoskopi bisa dimasukkan ke dalam penis untuk melihat uretra. Jika ditemukan sel atau tanda-tanda kelainan, maka diambil contoh jaringan untuk diperiksa dengan mikroskop (biopsi).

PENGOBATAN Pengobatan untuk kanker uretra bisa dilakukan dengan cara:


Pembedahan Terapi penyinaran, menggunakan sinar X dosis tinggi atau sinar energi tinggi lainnya

untuk membunuh sel-sel kanker

Kemoterapi, menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker.

Pembedahan untuk mengangkat kanker uretra terdiri dari: 1. Elektrofulgurasi, menggunakan arus listrik untuk mengangkat kanker. Tumor dan daerah

di sekitarnya dibakar lalu diangkat dengan pisau bedah. 2. Terapi laser.

25 | P a g e

3.

Sistouretrektomi (pengangkatan kandung kemih dan uretra).

Pada pria, sebagian penis yang mengandung kanker uretra bisa diangkat melalui pembedahan yang disebut penektomi parsial. Kadang dilakukan pengangkatan seluruh penis (penektomi). Setelah sebagian atau seluruh penisnya diangkat, bisa dilakukan bedah plastik untuk membuat penis yang baru. Pada wanita bisa dilakukan pembedahan untuk mengangkat uretra, kandung kemih dan vagina. Untuk membuat vagian baru, dilakukan bedah plastik.

Kanker uretra anterior Untuk wanita:


Elektrofulgurasi Terapi laser Terapi penyinaran eksternal atau internal Terapi penyinaran diikuti oleh pembedahan atau terapi pembedahan saja untuk

mengangkat uretra dan organ di panggul bawah (eksanterasi anterior) atau untuk mengangkat tumornya saja (jika kecil). Dibuat saluran baru untuk membuang air kemih (diversi uriner). Untuk pria:

Elektrofulgurasi Terapi laser Penektomi parsial Terapi penyinaran.

Kanker uretra posterior Untuk wanita, dilakukan terapi penyinaran yang diikuti oleh pembedahan atau pembedahan saja untuk mengangkat uretra, organ panggul bawah (eksenterasi anterior) atau tumornya saja (jika kecil). Kelenjar getah bening di dalam panggul biasanya diangkat (diseksi kelenjar getah

26 | P a g e

bening) dan kelenjar getah bening di paha bagian atas bisa diangkat atau bisa juga dibiarkan. Dibuat saluran baru untuk membuang air kemih.

Untuk pria, pengobatan terdiri dari terapi penyinaran yang diikuti dengan pembedahan atau pembedahan saja untuk mengangkat kandung kemih dan prostat (sistoprostatektomi) serta penis dan uretra (penektomi). Kelenjar getah bening di dalam pelvis diangkat, kelenjar getah bening di paha bagian atas bisa diangkat bisa tidak. Dibuat saluran baru untuk membuang air kemih.

Kanker uretra yang berhubungan dengan kanker kandung kemih Dilakukan pengangkatan kandung kemih dan uretra (sistouretrektomi).

Kanker uretra kambuhan Pengobatan tergantung kepada teknik pengobatan yang pernah dijalani penderita sebelumnya. Jika sebelumnya telah dilakukan pembedahan, maka pengobatannya berupa terapi penyinaran dan pembedahan untuk mengangkat kanker. Jika sebelumnya telah dilakukan terapi penyinaran, maka pengobatannya berupa pembedahan.

KANKER PROSTAT
DEFINISI Kanker Prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Kanker prostat sangat sering terjadi. Pemeriksaan mikroskopis terhadap jaringan prostat pasca pembedahan maupun pada otopsi menunjukkan adanya kanker pada 50% pria berusia diatas 70 tahun dan pada semua pria yang berusia diatas 90 tahun. Kebanyakan kanker tersebut tidak menimbulkan gejala karena penyebarannya sangat lambat.

PENYEBAB
27 | P a g e

Penyebabnya tidak diketahui, meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara diet tinggi lemak dan peningkatan kadar hormon testosteron. Kanker prostat merupakan penyebab kematian akibat kanker no 3 pada pria dan merupakan penyebab utama kematin akibat kanker pada pria diatas 74 tahun. Kanker prostat jarang ditemukan pada pria berusia kurang dari 40 tahun.

Pria yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker prostat adalah pria kulit hitam yang berusia diatas 60 tahun, petani, pelukis dan pemaparan kadmium. Angka kejadian terendah ditemukan pada pria Jepang dan vegetarian.

Kanker prostat dikelompokkan menjadi:

Stadium A : benjolan/tumor tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisik, biasanya

ditemukan secara tidak sengaja setelah pembedahan prostat karena penyakit lain.

Stadium B : tumor terbatas pada prostat dan biasanya ditemukan pada pemeriksaan

fisik atau tes PSA.

Stadium C : tumor telah menyebar ke luar dari kapsul prostat, tetapi belum sampai

menyebar ke kelenjar getah bening.

Stadium D : kanker telah menyebar (metastase) ke kelenjar getah bening regional

maupun bagian tubuh lainnya (misalnya tulang dan paru-paru).

GEJALA Biasanya kanker prostat berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan gejala sampai kanker telah mencapai stadium lanjut. Kadang gejalanya menyerupai BPH, yaitu berupa kesulitan dalam berkemih dan sering berkemih. Gejala tersebut timbul karena kanker menyebabkan penyumbatan parsial pada aliran air kemih melalui uretra.

Kanker prostat bisa menyebabkan air kemih berwarna merah (karena mengandung darah) atau menyebabkan terjadinya penahanan air kemih mendadak. Pada beberapa kasus, kanker prostat
28 | P a g e

baru terdiagnosis setelah menyebar ke tulang (terutama tulang panggul, iga dan tulang belakang) atau ke ginjal (menyebabkan gagal ginjal). Kanker tulang menimbulkan nyeri dan tulang menjadi rapuh sehingga mudah mengalami fraktur (patah tulang).

Setelah kanker menyebar, biasanya penderita akan mengalami anemia. Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya.

Gejala lainnya adalah:


Segera setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes-netes Nyeri ketika berkemih Nyeri ketika ejakulasi Nyeri punggung bagian bawah Nyeri ketika buang air besar Nokturia (berkemih pada malam hari) Inkontinensia uri (beser) Nyeri tulang atau tulang nyeri jika ditekan Hematuria (darah dalam air kemih) Nyeri perut Penurunan berat badan.

DIAGNOSA Cara terbaik untuk menyaring kanker prostat adalah melakukan pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan darah. Colok dubur pada penderita kanker prostat akan menunjukkan adanya benjolan keras yang bentuknya tidak beraturan. Pada pemeriksaan darah dilakukan pengukuran kadar antigen prostat spesifik (PSA), yang biasanya meningkat pada penderita kanker prostat, tetapi juga bisa meningkat (tidak terlalu tinggi) pada penderita BPH.

Jika pada pemeriksaan colok dubur ditemukan benjolan, maka dilakukan pemeriksaan USG.
29 | P a g e

Dengan melakukan rontgen atau skening tulang, bisa diketahui adanya penyebaran kanker ke tulang.

Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:


Analisa air kemih Sitologi air kemih atau cairan prostat Biopsi prostat.

PENGOBATAN Pengobatan yang tepat untuk kanker prostat masih diperdebatkan. Pilihan pengobatan bervariasi, tergantung kepada stadiumnya:

Pada stadium awal bisa digunakan prostatektomi (pengangkatan prostat) dan terapi

penyinaran

Jika kanker telah menyebar, bisa dilakukan manipulasi hormonal (mengurangi kadar

testosteron melalui obat-obatan maupun pengangkatan testis) atau kemoterapi. Pembedahan 1. Prostatektomi dilakukan radikal pada (pengangkatan kanker stadium kelenjar A dan prostat). B.

Seringkali

Prosedurnya lama dan biasanya dilakukan dibawah pembiusan total maupun spinal. Sebuah sayatan dibuat di perut maupun daerah perineum dan penderita harus menjalani perawatan Komplikasi yang rumah mungkin sakit terjadi adalah selama impotensia dan 5-7 inkontinensia harai. uri.

Pada penderita yang kehidupan seksualnya masih aktif, bisa dilakukan potency-sparing radical prostatectomy. 2. Orkiektomi (pengangkatan testis, pengebirian). Pengangkatan kedua testis

menyebabkan berkurangnya kadar testosteron, tetapi prosedur ini menimbulkan efek fisik dan
30 | P a g e

psikis

yang

tidak

dapat

ditolerir

oleh

penderita.

Orkiektomi adalah pengobatan yang efektif, tidak memerlukan pengobatan ulang, lebih murah dibandingkan dengan obat-obatan dan sesudah menjalani orkiektomi penderita tidak perlu menjalani perawatan rumah sakit.

Orkiektomi biasanya dilakukan pada kanker yang telah menyebar.

Terapi Penyinaran Terapi penyinaran terutama digunakan untuk mengobati kanker stadium A, B dan C. Biasanya jika resiko pembedahan terlalu tinggi, maka dilakukan terapi penyinaran. Terapi penyinaran terhadap kelenjar prostat bisa dilakukan melalui beberapa cara: 1. Terapi penyinaran eksterna, dilakukan di rumah sakit tanpa perlu menjalani rawat inap.

Efek sampingnya berupa penurunan nafsu makan, kelelahan, reaksi kulit (misalnya kemerahan dan iritasi), cedera atau luka bakar pada rektum, diare, sistitis (infeksi kandung kemih) dan hematuria. Terapi penyinaran eksterna biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama 6-8 minggu. 2. Pencangkokan butiran yodium, emas atau iridium radioaktif langsung pada jaringan

prostat melalui sayatan kecil. Keuntungan dari bentuk terapi penyinaran ini adalah bahwa radiasi langsung diarahkan kepada prostat dengan kerusakan jaringan di sekitarnya yang lebih sedikit.

Obat-Obatan 1. Manipulasi hormonal. Tujuannya adalah mengurangi kadar testosteron. Penurunan kadar testosteron seringkali sangat efektif dalam mencegah pertumbuhan dan penyebaran kanker. Manipulasi hormonal terutama digunakan untuk meringankan gejala tanpa menyembuhkan kankernya, yaitu misalnya pada penderita yang kankernya telah menyebar.

31 | P a g e

Obat sintetis yang fungsinya menyerupai LHRH (luteinizing hormone releasing hormone), semakin banyak digunakan untuk mengobati kanker prostat stadium lanjut. Contohnya adalah lupron atau zoladeks. Obat ini menekan perangsangan testis terhadap pembentukan testosteron (hal seperti ini disebut pengebirian kimiawi karena memiliki hasil yang sama dengan pengangkatan testis). Obat diberikan dalam bentuk suntikan, biasanya setiap 3 bulan sekali. Efek sampingnya adalah mual dan muntah, wajah kemerahan, anemia, osteoporosis dan impotensi.

Obat lainnya yang digunakan untuk terapi hormonal adalah zat penghambat androgen (misalnya flutamid), yang berfungsi mencegah menempelnya testosteron pada sel-sel prostat. Efek sampingnya adalah impotensi, gangguan hati, diare dan ginekomastia (pembesaran payudara). 2. Kemoterapi

Kemoterapi seringkali digunakan untuk mengatasi gejala kanker prostat yang kebal terhadap pengobatan hormonal. Biasanya diberikan obat tunggal atau kombinasi beberapa obat untuk menghancurkan sel-sel kanker. Obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengobati kanker prostat adalah: - Mitoxantronx - Prednisone - Paclitaxel - Dosetaxel - Estramustin - Adriamycin.
32 | P a g e

Efek sampingnya bervariasi dan tergantung kepada obat yang diberikan.

Pemantauan

Apapun jenis pengobatan yang dijalaninya, penderita akan dipantau secara ketat mengenai perkembangan penyakitnya. Pemantauannya meliputi:

Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar PSA (biasanya setiap 3 bulan - 1 tahun). Skening dan/atau CT scan tulang untuk mengetahui penyebaran kanker. Pemeriksaan darah lengkap untuk memantau tanda-tanda dan gejala anemia. Pemantauan tanda dan gejala lainnya yang menunjukkan perkembangan penyakit

(misalnya kelelahan, penurunan berat badan, nyeri yang semakin hebat, penurunan fungsi usus dan kandung kemih serta kelemahan).

KANKER PENIS
DEFINISI Kanker Penis adalah keganasan pada penis.

PENYEBAB Diduga penyebabnya adalah smegma (cairan berbau yang menyerupai keju, yang terdapat di bawah kulit depan glans penis). Tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui. Pria tidak disunat yang tidak menjaga kebersihan daerah di bawah kulit depan glans penis dan pria yang pernah menderita herpes genitalis memiliki resiko tinggi menderita kanker penis. GEJALA Gejalanya berupa :

33 | P a g e

- Luka pada penis, - Luka terbuka pada penis, - Nyeri penis dan perdarahan dari penis (pada stadium lanjut). DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada penis tampak luka yang menyerupai jerawat atau kutil. Biopsi dilakukan untuk memperkuat diagnosis.

PENGOBATAN Pengobatan kanker penis bervariasi, tergandung kepada lokasi dan beratnya tumor:

Kemoterapi

Kemoterapi bisa dilakukan sebagai tambahan terhadap pengangkatan tumor.

Pembedahan

Jika tumornya terbatas pada daerah kecil di ujung penis, dilakukan penektomi parsial (pengangkatan sebagian kecil penis). Untuk stadium lanjut dilakukan penektomi total disertai uretrostomi (pembuatan lubang uretra yang baru di daerah perineum).

Terapi Penyinaran

Terapi penyinaran dilakukan setelah pengangkatan tumor yang terlokalisir dan tumor yang belum menyebar. Efek samping dari terapi penyinaran adalah nafsu makan berkurang, lelah, reaksi kulit (misalnya iritasi dan kemerahan), cedera atau luka bakar pada rektum, sistitis dan hematuria. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama 6-8 minggu.

34 | P a g e

KANKER TESTIS
DEFINISI Kanker Testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis (buah zakar), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum (kantung zakar).

PENYEBAB Kebanyakan kanker testis terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menunjang terjadinya kanker testis:

Testis undesensus (testis yang tidak turun ke dalam skrotum) Perkembangan testis yang abnormal Sindroma Klinefelter (suatu kelainan kromosom seksual yang ditandai dengan

rendahnya kadar hormon pria, kemandulan, pembesaran payudara (ginekomastia) dan testis yang kecil). Faktor lainnya yang kemungkinan menjadi penyebab dari kanker testis tetapi masih dalam taraf penelitian adalah pemaparan bahan kimia tertentu dan infeksi oleh HIV. Jika di dalam keluarga ada riwayat kanker testis, maka resikonya akan meningkat. 1% dari semua kanker pada pria merupakan kanker testis. Kanker testis merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada pria berusia 15-40 thun.

Kanker testis dikelompokkan menjadi: 1. Seminoma : 30-40% dari semua jenis tumor testis.

Biasanya ditemukan pada pria berusia 30-40 tahun dan terbatas pada testis. 2. Dibagi Non-seminoma lagi : merupakan 60% dari semua beberapa jenis tumor testis.

menjadi

subkategori:

- Karsinoma embrional : sekitar 20% dari kanker testis, terjadi pada usia 20-30 tahun dan sangat ganas. Pertumbuhannya sangat cepat dan menyebar ke paru-paru dan hati.

35 | P a g e

- Tumor yolk sac : sekitar 60% dari semua jenis kanker testis pada anak laki-laki. - Teratoma : sekitar 7% dari kanker testis pada pria dewasa dan 40% pada anak laki-laki. Koriokarsinoma. - Tumor sel stroma : tumor yang terdiri dari sel-sel Leydig, sel Sertoli dan sel granulosa. Tumor ini merupakan 3-4% dari seluruh jenis tumor testis. Tumor bisa menghasilkan hormon estradiol, yang bisa menyebabkan salah satu gejala kanker testis, yaitu ginekomastia.

GEJALA Gejala berupa: - Testis membesar atau teraba aneh (tidak seperti biasanya) - Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testis - Nyeri tumpul di punggung atau perut bagian bawah - Ginekomastia - Rasa tidak nyaman/rasa nyeri di testis atau skrotum terasa berat. Tetapi mungkin juga tidak ditemukan gejala sama sekali.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:

USG skrotum Pemeriksaan darah untuk petanda tumor AFP (alfa fetoprotein), HCG (human chorionic dan LDH (lactic dehydrogenase).

gonadotrophin)

Hampir 85% kanker non-seminoma menunjukkan peningkatan kadar AFP atau beta HCG.

Rontgen dada (untuk mengetahui penyebaran kanker ke paru-paru) CT scan perut (untuk mengetahui penyebaran kanker ke organ perut) Biopsi jaringan.

36 | P a g e

PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada jenis, stadium dan beratnya penyakit. Setelah kanker ditemukan, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan jenis sel kankernya. Selanjutnya ditentukan stadiumnya:

Stadium I : kanker belum menyebar ke luar testis Stadium II : kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di perut Stadium III : kanker telah menyebar ke luar kelenjar getah bening, bisa sampai ke hati

atau paru-paru. Ada 4 macam pengobatan yang bisa digunakan: 1. Pembedahan : pengangkatan testis (orkiektomi dan pengangkatan kelenjar getah bening

(limfadenektomi 2. Terapi penyinaran : menggunakan sinar X dosis tinggi atau sinar energi tinggi lainnya, dilakukan setelah limfadenektomi pada tumor non-seminoma.

seringkali

Juga digunakan sebagai pengobatan utama pada seminoma, terutama pada stadium awal. 3. Kemoterapi : digunakan obat-obatan (misalnya cisplastin, bleomycin dan etoposid)

untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi telah meningkatkan angka harapan hidup penderita tumor non-seminoma. 4. Pencangkokan sumsum tulang : dilakukan jika kemoterapi telah menyebabkan

kerusakan pada sumsum tulang penderita. Tumor Seminoma : - Stadium I diobati dengan orkiektomi dan penyinaran kelenjar getah bening perut - Stadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran kelenjar getah bening dan kemoterapi dengan sisplastin - Stadium III diobati dengan orkiektomi dan kemoterapi multi-obat.

37 | P a g e

Tumor Non-Seminoma: - Stadium I : diobati dengan orkiektomi dan kemungkinan dilakukan limfadenektomi perut - Stadium II : diobati dengan orkiektomi dan limfadenektomi perut, kemungkinan diikuti dengan kemoterapi. - Stadium III : diobati dengan kemoterapi dan orkiektomi.

Jika kankernya merupakan kekambuhan dari kanker testis sebelumnya, diberikan kemoterapi beberapa obat (ifosfamide, cisplastin dan etoposid atau vinblastin).

38 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai