Anda di halaman 1dari 16

SOAL

1. Apakah penyebab inkontinensia urin pada geriatri? 2. Apakah penyebab malnutrisi pada geriatri? 3. Bagaimana assesment geriatri di rumah sakit? 4. Bagaimana assesment geriatri di puskesmas?

JAWABAN

1.Inkontinensia Urin Pada Geriatri Inkontinensia adalah pengeluaran urin (atau feses) tanpa disadari, dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial (Kane dkk., 1989 dalam Pranarka, 2000). Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya, yang mengakibatkan masalah sosial dan higienis penderitanya (Setiati dan Pramantara, 2007). Fisiologi dan patofisiologi diuresis Proses berkemih berlangsung dibawah control dan koordinasi sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi di daerah sakrum. Sensasi pertama ingin berkemih timbul saat volume kandung kemih atau vesica urinaria (VU) mencapai antara 150-350 ml. Kapasitas VU normal bervariasi sekitar 300-600 ml (Pranarka, 2000). Bila proses berkemih terjadi, otot-otot detrusor VU berkontraksi, diikuti relaksasi dari sfingter dan uretra. Tekanan dari otot detrusor meningkat melebihi tahanan dari muara uretra dan urin akan memancar keluar (Van der Cammen dkk, Reuben dkk dalam Pranarka, 2000). Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada di bawah control volunter dan disuplai oleh saraf pudendal, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom, yang mungkin dimodulasi oleh korteks otak (Setiati dan Pramantara, 2007). Proses berkemih diatur oleh pusat refleks kemih di daerah sakrum. Jaras aferen lewat persarafan somatik dan otonom membawa informasi tentang isi VU ke medulla spinalis sesuai pengisian VU (Pranarka, 2000). Ketika VU mulai terisi urin, rangsang saraf diteruskan

melalui saraf pelvis dan medulla spinalis ke pusat saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan cerebellum) menyebabkan VU relaksasi sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang mengalami desakan untuk berkemih. Ketika pengisian VU berlanjut, rasa penggembungan VU disadari, dan pusat kortikal (pada lobus frontalis) bekerja menghambat pengeluaran urin. Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal karena obat atau penyakit (Setiati dapat dan mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin

Pramantara, 2007). Ketika terjadi desakan berkemih, rangsang dari korteks disalurkan melalui medulla spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor. Aksi kolinergik dari saraf pelvis kemudian menyebabkan otot detrusor berkontraksi. Kontraksi otot detrusor tidak hanya tergantung pada inervasi kolinergik, namun juga mengandung reseptor prostaglandin. Karena itu, prostaglandin-inhibiting drugs dapat mengganggu kontraksi detrusor. Kontraksi VU juga calcium-channel dependent, karena itu

calcium-channel blockers dapat mengganggu kontraksi VU. Interferensi


aktivitas kolinergik saraf pelvis menyebabkan pengurangan kontraktilitas otot (Setiati dan Pramantara, 2007). Aktivitas adrenergik-alfa menyebabkan sfingter uretra berkontraksi. Karena itu, pengobatan dengan agonis adrenergik-alfa (pseudoefedrin) dapat memperkuat kontraksi sfingter, sedangkan zat

alpha-blocking
adrenergik-beta

dapat

mengganggu sfingter dan (propanolol) uretra

penutupan uretra. dapat

sfingter. itu

Inervasi zat

merelaksasi relaksasi

Karena

betadengan

adrenergic
menyebabkan

blocking

mengganggu aktifitas

melepaskan

kontraktil

adrenergic-alpha (Setiati dan Pramantara, 2007).


Mekanisme sfingter berkemih memerlukan angulasi yang tepat antara uretra dan VU. Fungsi sfingter uretra normal juga tergantung pada posisi yang tepat dari uretra sehingga dapat meningkatkan tekanan intraabdomen secara efektif ditransmisikan ke uretra. Bila uretra di posisi

yang tepat, urin tidak akan pada saat terdapat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan intra-abdomen (Setiati dan Pramantara, 2007). Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh berbagai refleks pada pusat berkemih. Pada fase pengisian, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang mengakibatkan penutupan leher VU, relaksasi dinding VU, serta penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inervasi somatik pada otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher VU. Proses refleks ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum. Peranan korteks serebri adalah menghambat, sedangkan batak otak dan supra spinal memfalisitasi (Setiati dan Pramantara, 2007). Proses menua dan inkontinensia urin Usia lanjut bukan sebagai penyebab inkontinensia urin, namun prevalensi inkontinensia urin meningkat seiring dengan peningkatan usia karena semakin banyak munculnya faktor risiko (Setiati dan Pramantara, 2007). Faktor-faktor risiko yang mendukung terjadinya inkontinensia terkait dengan pertambahan usia adalah (Pranarka, 2000):

Mobilitas

sistem

yang

lebih

terbatas

karena

menurunnya

pancaindera, kemunduran sistem lokomosi.

Kondisi-kondisi medik yang patologik dan berhubungan dengan pengaturan kongestif. urin misalnya diabetes mellitus, gagal jantung

Etiologi inkontinensia urin Penyebab inkontinensia urin dibedakan menjadi (Pranarka, 2000): 1. Kelainan urologik; misalnya radang, batu, tumor, divertikel. 2. Kelainan neurologik; misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis, demensia dan lain-lain. 3. Lain-lain; misalnya hambatan motilitas, situasi tempat berkemih yang tidak memadai/jauh, dan sebagainya. Menurut onsetnya, inkontinensia dibagi menjadi (Kane, Reuben dalam Pranarka, 2000): 1. Inkontinensia akut, biasanya reversibel, terkait dengan sakit yang sedang diderita atau masalah obat-obatan yang digunakan (iatrogenik). Inkontinensia akan membaik bila penyakit akut yang diderita sembuh atau jika obat-obatan dihentikan. 2. Inkontinensia persisten/kronik/menetap, tidak terkait penyakit akut atau obat-obatan. Inkontinensia ini berlangsung lama. Inkontinensia urin akut Penyebab inkontinensia akut disingkat dengan akronim DRIP, yang merupakan kependekan dari (Kane dkk. dalam Pranarka, 2000): D R I P : Delirium : Retriksi, mobilitas, retensi : Infeksi, inflamasi, impaksi feses : Pharmacy (obat-obatan), poliuri

Golongan obat yang menjadi penyebab inkontinensia urin akut termasuk diantaranya adalah obat-obatan hipnotik-sedatif, diuretik, anti-kolinergik, agonis dan antagonis alfa-adrenergik, dan calcium channel blockers. Inkontinensia urin akut terutama pada laki-laki sering berkaitan dengan retensi urin akibat hipertrofi prostat. Skibala dapat mengakibatkan obstruksi mekanik pada bagian distal VU, yang selanjutnya menstimulasi kontraksi otot detrusor involunter (Setiati dan Pramantara, 2007).

Inkontinensia urin persisten Inkontinensia persisten dibagi menjadi beberapa tipe, masing-masing dapat terjadi pada satu penderita secara bersamaan. Inkontinensia persisten dibagi menjadi 4 tipe, yaitu (Pranarka, 2000): 1. Tipe stress Keluarnya urin diluar pengaturan berkemih, biasanya dalam jumlah sedikit, akibat peningkatan tekanan intra-abdominal. Hal ini terjadi karena terdapat kelemahan jaringan sekitar muara VU dan uretra. Sering pada wanita, jarang pada pria karena predisposisi hilangnya pengaruh estrogen dan sering melahirkan disertai tindakan pembedahan. 2. jumlah Tipe urgensi banyak, VU tidak mampu oleh menunda pusat berkemih begitu sensasi Pengeluaran urin diluar pengaturan berkemih yang normal, biasanya penuhnya diterima berkemih. Terdapat gangguan

pengaturan rangsang dan instabilitas dari otot detrusor VU. Inkontinensia tipe ini didapatkan pada gangguan SSP misalnya stroke, demensia, sindrom Parkinson, dan kerusakan medulla spinalis. 3. Tipe luapan (overflow) Ditandai dengan kebocoran/keluarnya urin, biasanya jumlah sedikit, karena desakan mekanik akibat VU yang sudah sangat teregang. Penyebab umum inkontinensia tipe ini antara lain: 4. Sumbatan akibat hipertrofi prostat, atau adanya cystocele dan penyempitan jalan keluar urin. Gangguan kontraksi VU akibat gangguan persarafan misalnya pada diabetes mellitus. Tipe fungsional karena gangguan fisik atau kognitif maupun bermacam Keluarnya urin secara dini, akibat ketidakmampuan mencapai tempat berkemih hambatan situasi/lingkungan yang lain, sebelum siap untuk berkemih. Faktor psikologik seperti marah, depresi juga dapat menyebabkan inkontinensia tipe ini.

Terapi Pengelolaan inkontinensia pada penderita lanjut usia, secara garis besar dapat dikerjakan sebagai berikut: a. Program rehabilitasi antara lain Melatih respons VU agar baik lagi Melatih perilaku berkemih Latihan otot-otot dasar panggul Modifikasi tempat untuk berkemih (urinal, komodo) b. c. d. e. Kateterisasi, baik secara berkala (intermitten) atau menetap Obat-obatan, antara lain untuk relaksasi VU, estrogen Pembedahan, misalnya untuk mengangkat penyebab sumbatan Lain-lain, misalnya penyesuaian lingkungan yang mendukung (indwelling)

atau keadaan patologik lain, pembuatan sfingter artefisiil dan lain-lain untuk kemudahan berkemih, penggunaan pakaian dalam dan bahanbahan penyerap khusus untuk mengurangi dampak inkontinensia.

2. Penyebab Malnutrisi Pada Geriatri Menurut Dr.Siti Setiati, Sp.PD, konsultan geriatri dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, malnutrisi adalah orang-orang yang bukan hanya berstatus gizi kurang tapi juga bisa berarti kelebihan dan ketidakseimbangan protein, energi, serta zat gizi lainnya. Prevalensi malnutrisi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun mencapai 22 persen, di usia 60-69 tahun sekitar 25 persen, dan mencapai 27 persen pada orang berusia 70-79 tahun. Dalam penelitian yang dilakukan Siti Setiati terhadap 702 pasien usia lanjut rawat jalan di 10 rumah sakit di Indonesia, diketahui 56,7 persen beresiko malnutrisi dan 2,14 persen terbukti malnutrisi. Ada banyak faktor yang menyebabkan malnutrisi, antara lain perubahan komposisi tubuh dan fungsi organ, gangguan kesehatan, asupan nutrisi yang kurang, hingga gangguan emosi. Berkurangnya

sensasi rasa dan bau juga membuat orang usia lanjut tidak tertarik untuk makan. Orang usia lanjut juga bisa mengalami gangguan makan karena faktor emosi seperti depresi atau karena obat-obatan yang diminumnya. Malnutrisi pada orang usia lanjut bisa menyebabkan penyembuhan luka menjadi lama, komplikasi penyakit, menurunnya massa otot, hingga menyebabkan bertambahnya waktu tinggal di rumah sakit. Menurut Miller (1999), faktor-faktor yang menyebabkan malnutrisi pada geriatri antara lain: Medications Emotional Problems Anorexia Late-Life Paranoia Swallowing Disorder Oral Factors Neoplasia Wandering Hyperthyroidism Enteric Problems Eating Problems Low Salt Social Problems.

Belum ada kesepakatan umum untuk menilai status gizi pasien, khususnya pada pasien geriatri menyebabkan bervariasinya angka prevalensi malnutrisi yang dilaporkan. European Society of Parenteral and Enteral Nutrition (ESPEN) guidelines dan the French Programme National Nutrition Sante (PNNS) menganjurkan penggunaan Mini Nutritional Assessment (MNA) untuk menilai status kurang gizi pada pasien geriatri.10 MNA didasarkan atas quisioner dan tidak menggunakan indikator biologi. MNA lebih cocok digunakan pada pasien geriatri di rumah atau panti jompo. Pada pasien dewasa yang dirawat inap, ESPEN menganjurkan penggunaan kombinasi antara Body Mass Index (BMI) dan

penurunan berat badan, sedangkan PNNS menganjurkan penggunaan Nutritional Risk Index (NRI). Disamping untuk menilai status gizi, berbagai metode pengukran ini juga sering digunakan untuk memprediksi

outcome pasien yang


dirawat.1 Pada pasien geriatri, berat badan sebelum sakit (usual weight) sering tidak dapat dinilai. Bouillanne memodifikasi NRI yang digunakan pada pasien dewasa, untuk menilai risiko terkait nutrisi pada pasien geriatri dan menamainya sebagai Geriatric Nutritional Risk Index (GNRI). Dari hasil penelitian yang dilakukan, GNRI cukup bagus untuk memprediksi outcome pasien geriatri yang mengalami rawat inap.1 GNRI merupakan metode yang cukup sederhana dibandingkan MNA11, sehingga diharapkan petugas medis dapat menggunakannya dengan lebih mudah dan cepat.

3.Assesment Geriatri di Rumah Sakit Asesmen Geriatri adalah suatu proses pendekatan multidisiplin untuk menilai aspek medik, fungsional, psikososial dan ekonomi penderita usia lanjut dalam rangka menyusun rencana program pengobatan dan pemeliharaan kesehatan yang rasional. Asesmen Geriatrik ada 2 macam yaitu : 1. Asesmen geriatrik administrative 2. Asesmen geriatrik klinik Uji Klinis tentang Asesmen Geriatrik 1. Hendrik et al (1984) Asesmen Geriatrik mempunyai efek terhadap pencegahan mortalitas, rehospitalisasi dan mengurangi kunjungan ke dokter. 2. Rubenstein

et al (1984) Asesmen geriatrik menunjukkan

keuntungan dengan biaya lebih murah dibandingkan pendekatan perawatan rumah sakit konvensional pada frail elderly.

3. Applegate

et al (1990) Pengkajian geriatrik memberikan

perbaikan fungsi dan menurunkan resiko perawatan di nursing

home.
4. Stuck et al (1995) Program asesmen geriatrik dirumah dapat memperlambat timbulnya keterbatasan dan menurunkan angka perawatan di institusi kesehatan.

Penanganan Holistik (Hadi Martono, 1999; Kane et al, 1999) Mengingat sifat dan karakteristik penderita usia lanjut seperti disebutkan di atas, maka penanganannya harus bersifat holistik, yaitu: 1. Penegakan diagnosis: berbeda dengan tata cara diagnosis yang dilaksanakan pada golongan usia lain, penegakan diagnosis pada penderita usia lanjut dilaksanakan dengan tata cara khusus yang disebut dengan asesmen geriatrik. Cara ini merupakan suatu analisis multidimensional dan sebaiknya dilakukan oleh suatu tim geriatrik. 2. Penatalaksanaan

penderita:

penatalaksanaan

penderita

juga

dilaksanakan oleh suatu tim multidisipliner yang bekerja secara interdisipliner dan disebut sebagai "tim geriatri". Hal ini perlu mengingat semua aspek penyakit (fisik-psikis), sosial-ekonomi, dan lingkungan harus mendapat perhatian yang sama. Susunan dan besar tim bisa berbeda-beda tergantung pada tingkatan pelayanan. Di tingkat pelayanan dasar, hanya diperlukan tim "inti" yang terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga sosiomedik. 3. Pelayanan kesehatan vertikal dan horisontal: aspek holistik dari pelayanan geriatri harus tercermin dari pemberian pelayanan vertikal, yaitu pelayanan yang diberikan dari Puskesmas sampai ke pusat rujukan geriatri tertinggi, yaitu di rumah sakit provinsi. Pelayanan kesehatan horizontal adalah pelayanan kesehatan yang

diberikan dengan

merupakan bidang

bagian

dari

pelayanan lain,

kesejahteraan agama,

menyeluruh. Dengan demikian, ada kerjasama lintas sektoral kesejahteraan misalnya pendidikan/kebudayaan, olah raga, dan sosial. 4. Jenis pelayanan kesehatan: sesuai dengan batasan geriatri seperti tersebut di atas, maka pelayanan kesehatan yang diberikan harus meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitasi dengan memperhatikan aspek psiko-sosial serta lingkungan. Tugas masing-masing anggota tim adalah sebagai berikut:

Asesmen lingkungan/sosial: petugas sosio-medik Asesmen fisik: dokter/perawat. Asesmen psikis: dokter/perawat/psikolog-psikogeriatris. Asesmen fungsional/disabilitas: dokter/terapis rehabilitasi. Asesmen psikologik: dokter-psikolog/psikogeriatri. Dengan tata cara asesmen geriatric yang terarah dan terpola, maka

kemungkinan terjadinya "mis/under diagnosis" yang sering didapatkan pada praktik geriatri dapat dihindari atau dieliminasi sekecil mungkin. Anamnesis (Kane et al; Hadi Martono; 1999) Awal anamnesis serupa dengan semua anamnesis yang lain, yaitu berupa identitas penderita. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan berikutnya dilakukan dengan lebih terinci dan terarah sebagai berikut:

Identitas

penderita:

nama,

alamat,

umur,

perkawinan,

anak

(jumlah, jenis kelamin dan berapa yang masih tinggal bersama penderita), pekerjaan, serta keadaan sosial ekonomi. Termasuk dalam bagian ini adalah anamnesis mengenai faktor risiko sakit, yaitu usia sangat lanjut (> 70 tahun), duda hidup sendiri, baru kematian orang terdekat, baru sembuh dari sakit/pulang opname,

gangguan mental nyata, menderita penyakit progresif, gangguan mobilitas, dan lain-lain.

Anamnesis tentang obat, baik sebelum sakit ini maupun yang masih diminum di rumah, baik yang berasal dari resep dokter maupun yang dibeli bebas (termasuk jamu-jamuan). Penilaian sistem: bagian ini berbeda dengan anamnesis penderita golongan umur lain, karena tidak berdasarkan "model medik" (tergantung pada keluhan utama). Harus selalu diingat bahwa pada usia lanjut, keluhan tidak selalu menggambarkan penyakit yang diderita, seringkali justru memberikan keluhan yang tidak khas. Penilaian sistem dilaksanakan secara urut, misalnya dari sistem syaraf pusat saluran napas atas dan bawah, seterusnya sampai kulit integumen dan lain-lain.

Untuk mendapatkan jawaban yang baik, seringkali diperlukan aloanamnesis dari orang/keluarga yang merawatnya sehari-hari.

Anamnesis

tentang

kebiasaan

yang

merugikan

kesehatan

(merokok, mengunyah tembakau, minum alkohol, dan lain-lain).

Anamnesis tentang berbagai gangguan yang terdapat: menelan, masalah gigi, gigi palsu, gangguan komunikasi/bicara, nyeri/gerak yang terbatas pada anggota badan, dan lain-lain. Kepribadian perasaan hati, kesadaran, dan afek (alo-anamnesis atau pengamatan) konfusio, curiga/bermusuhan, mengembara, gangguan tidur atau keluhan malam hari, daya ingat, dan lain-lain. Apabila hasil anamnesis ini membingungkan atau mencurigakan, perlu dicatat untuk dapat dilaksanakan asesmen khusus kejiwaan atau bahkan konsultasi psiko-geriatrik. Riwayat tentang problema utama geriatri (sindrom geriatrik): pernah stroke, TIA/RIND, hipotensi ortostatik, jatuh, inkontinensia urin/alvi, dementia, dekubitus, dan patah tulang.

Perlu digarisbawahi bahwa anamnesis pada lansia harus meliputi autodan alloanamnesis. Pada akhir anamnesis harus dicatat derajat kepercayaan informasi yang diperoleh. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan tanda vital (seperti pada golongan umur lain), walaupun rinciannya mungkin terdapat beberapa perbedaan, antara lain:

Pemeriksaan tekanan darah, harus dilaksanakan dalam keadaan tidur, duduk, dan berdiri, masing-masing dengan selang 1--2 menit, untuk Osler). melihat kemungkinan adanya hipotensi ortostatik. Kemungkinan hipertensi palsu juga harus dicari (dengan perasat Pemeriksaan fisik untuk menilai sistem. Pemeriksaan organ dan sistem ini perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemeriksa/dokter. Bila yang melakukan perawat, tentu saja tidak serinci dokter umum, yang pada gilirannya tidak serinci hasil pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis. Yang penting adalah bahwa pemeriksaan dengan sistem ini menghasilkan ada/tidaknya gangguan organ atau sistem (walaupun secara kasar).

Pada pelaksanaannya dilakukan pemeriksaan fisik dengan unitan seperti pada anamnesis penilaian sistem, yaitu:

Pemeriksaan syaraf kepala Pemeriksaan panca indera, saluran napas atas, gigi-mulut Pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, bising arteri karotis Pemeriksaan dada, paru-paru, jantung, dan seterusnya sampai pada pemeriksaan ekstremitas, refleks-refleks, kulit-integumen.

Dengan

kata

lain, mulai

pemeriksaan dari ujung

organ-sistem sampai

adalah ujung

melakukan kaki secara

pemeriksaan

rambut

sistematis, tanpa melihat apakah terdapat keluhan pada organ/sistem itu atau tidak. Pemeriksaan status gizi dengan menggunakan patokan BMI (Body Mass

Index) harus bisa melengkapi.


Pemeriksaan Tambahan Pemeriksaan tambahan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi

penderita, tingkat keahlian pemeriksa (perawat/dokter umum/dokter spesialis), tetapi minimal harus mencakup pemeriksaan rutin usia lanjut. Pemeriksaan laboratorium rutin di sini meliputi:

Pemeriksaan darah, urin, feces rutin, gula darah, lipid, fungsi hepar/renal, albumin/globulin, elektrolit (terutama FE, Ca, P, sedang trace elements bila ada indikasi saja). Perlu pula pemeriksan X-foto thorax dan EKG. EEG, EMG, CT-scan, Echo-c, dan sebagainya hanya dilakukan bila perlu.

Apabila terdapat kecurigaan adanya kelainan yang belum jelas atau diperlukan oleh tim. Pemeriksaan Fungsi Hal ini dianggap merupakan fokus sentral. Pelaksanaan asesmen fungsi fisik dan psikis penderita dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu: '

tindakan

diagnostik/terapeutik

lain,

dapat

dilakukan

konsultasi/rujukan kepada disiplin lain, yang hasilnya dapat dievaluasi

Aktivitas hidup sehari-hari (AHS fisik) yang hanya memerlukan kemampuan tubuh untuk berfungsi sederhana, misalnya bangun dari tempat tidur, berpakaian, ke kamar mandi/WC. Aktivitas hidup sehari-hari instrumental (AHS instrumental), yang selain memerlukan kemampuan dasar juga memerlukan berbagai

koordinasi kemampuan otot, susunan syaraf yang lebih rumit, juga kemampuan berbagai organ kognitif lain.

Kemampuan mental dan kognitif, terutama menyangkut fungsi intelek, memori lama, dan memori tentang hal-hal yang baru saja terjadi.

Penatalaksanaan dan Pengobatan Medik Prinsip penting seperti pada pengobatan penderita lain, yaitu mulai dengan non-drug treatment, juga berlaku pada penderita lansia ini. Bila kita mulai berketetapan menggunakan obat, baik simtomatik maupun kausal, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Perubahan anatomik, fisiologik, dan komposisi tubuh penderita lansia tadi, berupa massa otot, albumin serum, serta fungsi postural yang menurun. Selain itu, juga fungsi sekresi dan detoksifikasi hati serta ginjal Kemungkinan polifarmasi dan efek samping obat yang lebih sering terjadi. Iatrogenesis yang diakibatkannya. Dokter yang merawat harus mengetahui betul sifat farmakodinamik dan farmakokinetik obat yang diberikan. Menyempitnya "therapeutic window" pada lansia Faktor lupa dan ketaatan (compliments) minum obat. Hal ini perlu dimonitor lebih cermat. Perlunya individualisasi pada tiap kasus. Perlu disadari dan dilaksanakan semboyan "Start slow, go slow". Pemberian nutrisi yang baik dan seimbang perlu melengkapi tindakan-tidakan tersebut di atas.

4. Assesment Geriatri di Pusmesmas

Menurut Buku Panduan Field Lab Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, pengelolaan geriatri di puskesmas sebagian besar diletakan pada program Posyandu, khususnya Posyandu Lansia. Posyandu Lansia merupakan sarana pelayanan kesehatan dasar untuk meningkatkan kesehatan para Lansia. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi (GSPG) juga merupakan wadah lintas sektoral untuk melaksanakan keterpaduan unsur terkait dalam rangka mendukung kesehatan pada Lansia. Assesment geriatri di Puskesmas berbeda dengan pelaksanaan assesment geriatri di rumah sakit. Pada assesment geriatri di puskesmas biasanya pada tenaga kesehatan melakukannya dengan cara Home

Visitting / Home Care , jadi keseluruhan aktifitas assesment geriatri tidak


hanya dilakukan di Puskesmas namun juga di rumah atau tempat tinggal para Lansia tersebut. Pada posyandu lansia terdapat Kartu Menuju Sehat (KMS) Lansia yang berisi informasi perkembangan keadaan Lansia. Di posyandu lansia juga dilakukan tes Geriatric Depression Scale dan MMSE ( mini mental state examination) serta tes AGS - AAIM untuk paramedis bukan dokter yang membantu jalannya assesment di puskesmas. Kemudian yang menjadi perbedaan juga adalah assesment geriatri di puskesmas tidak bisa dilakukan dengan sangat lengkap dan rinci seperti yang dilakukan di rumah sakit karena adanya keterbatasan sarana maupun prasarana yang ada di puskesmas.

Terima Kasih