Anda di halaman 1dari 21

PENENTUAN ORDE REAKSI DAN TETAPAN LAJU REAKSI

I. PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Percobaan
Dalam percobaan ini akan ditunjukkan bahwa reaksi penyabunan etilasetat
oleh ion hidroksida
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-
CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
adalah orde kedua. Disamping itu akan ditentukan pula tetapan laju reaksinya.
Penentuan ini dilakukan dengan cara titrasi.
1.2. Latar Belakang Teori
Dalam kinetika kimia dijelaskan pengaruh laju reaksi terhadap konsentrasi
reaktan dan mengetahui mekanisme suatu laju reaksi yang diperoleh berdasarkan
eksperimen. Selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul reaktan akan terurai
sedangkan molekul produk akan terbentuk sehingga dapat diamati proses suatu reaksi
melalui penurunan konsentrasi reaktan atau peningkatan konsentrasi produk.
Sehingga kecepatan reaksi dapat dimonitor dari perubahan konsentrasi reaktan dan
produk. Untuk reaksi stokiometri sederhana seperti:
A B
Maka untuk mengungkapkan kecepatan reaksi dalam konteks perubahan konsentrasi
antara reaktan atau produk adalah:
[ ] [ ]
t
B
t
A
V


Kecepatan pembentukan produk tidak memerlukan tanda minus (-) karena
[ ] B

bernilai positif. Untuk suatu reaksi umum yaitu:
aA + bB cC + dD
persamaan diatas merupakan persamaan perubahan laju konsentrasi setiap unsurnya
dibagi dengan koefisiennya dalam keadaan setimbang. Adapun laju reaksi dari
persamaan tersebut dapat dinyatakan dengan:
[ ] [ ] [ ] [ ]
t
D
d t
C
c t
B
b t
A
a
V


1 1 1 1
Sehingga, laju reaksi atau kecepatan reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan
konsentrasi zat pereaksi atau produk reaksi tiap satuan waktu.
perubahan untuk diperlukan yang Waktu
i Konsentras Perubahan
Reaksi Laju
.
Reaksi-reaksi kimia berlangsung dengan laju yang berbeda-beda. Ada reaksi
yang berlangsung sangat cepat misalnya reaksi penetralan antara larutan asam klorida
dan natrium hidroksida, demikian pula reaksi pembentukan endapan perak klorida
antara larutan perak nitrat dan larutan natrium klorida. Dalam kehidupan sehari-hari
dapat dijumpai reaksi yang berlangsung lambat misalnya perkaratan besi. Penentuan
laju reaksi dapat diukur dengan menggunakan gelombang cahaya yang akan diserap
oleh salah satu reaktan atau produk sehingga panjang gelombang tertentu sebanding
dengan konsentrasinya. Dalam suatu reaksi kimia, hampir semua kecepatan reaksi
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti:
1. Sifat Kimia dari Reaktan
Perbedaan reaktivitas kimia merupakan faktor utama yang menentukan kecepatan
reaksi. Beberapa reaksi kimia dapat berlangsungsecara cepat, namun reaksi yang
lain dapat berlangsung sangat lambat. Sebagai contoh, reaksi logam natrium
dengan air berlangsung sangat cepa tetapi reaksi logam besi dengan uap air
membentuk karat berlangsung cukup lambat.
Nilai konstanta kecepatan tergantung pada sifat reaktan. Jika konstanta kecepatan
(k) besar maka reaksi berlangsung cepat sehingga waktu yang diperlukan oleh
reaktan berubah menjadi produk berlangsung singkat. Reaksi-reaksi ionik
biasanya berlangsung cepat sedangkan reaksi yang melibatkan ikatan kovalen
biasanya lebih lambat.
2. Kemampuan Reaktan Berinteraksi
Kebanyakan reaksi melibatkan dua reaktan atau lebih. Agar reaksi berlangsung,
reaktan-reaktan harus mampu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Umumnya
reaksi yang dilangsungkan dalam fase cair (larutan) dan fase gas berlangsung
lebih cepat terjadi. Hal ini dikarenakan dalam keadaan cair atau gas, partikel-
partikel reaktan dapat bertumbukan dengan mudah dengan yang lainnya.
3. Konsentrasi Reaktan
2
Kecepatan reaksi, baik reaksi homogen maupun reaksi heterogen dipengaruhi
oleh konsentrasi reaktan. Makin besar konsentrasi, makin cepat laju, meskipun
tidak selalu demikian. Pereaksi yang berbeda, konsentrasinya dapat
mempengaruhi laju reaksi tertentu dengan cara yang berbeda.
4. Temperatur Sistem
Semua reaksi kimia akan berlangsung lebih cepat pada temperatur sistem yang
lebih tinggi. Hal ini disebabkan semakin tinggi temperatur maka semakin cepat
gerakan partikel-partikel penyusun reaktan, maka semakin besar peluang partikel-
partikel tersebut bertumbukan.
5. Katalis
Katalis merupakan suatu zat yang dapat menambah kecepatan reaksi kimia
dengan cara menurunkan energi aktivasi. Katalis akan menambah kecepatan suatu
reaksi tanpa mengalami perubahan pada akhir reaksi Katalis dapat membentuk
senyawa intermediet tetapidia akan dibebaskan kembali pada akhir reaksi.
Dalam suatu reaksi kimia terdapat suatu Hukum Kecepatan Reaksi dimana
dalam hukum tersebut dinyatakan bahwa kecepatan suatu reaksi berhubungan dengan
konsentrasi zat-zat yang terlibat. Dalam reaksi:
aA + bB cC + dD
Untuk menghitung kecepatan reaksinya dapat digunakan rumus:
[ ] [ ]
Y X
B A k V
Dimana k merupakan konstanta kecepatan. Persamaan diatas dikenal dengan Hukum
Kecepatan Reaksi yang menghubungkan kecepatan suatu reaksi dengan konstanta
kecepatan dan konsentrasi reaktan. Jumlah semua pangkat yang ada pada semua
konsentrasi dalam Hukum Kecepatan Reaksi disebut Orde Reaksi. Orde reaksi ini
menggambarkan bentuk matematik dimana hasil percobaan dapat ditunjukkan dan
orde reaksi hanya dapat dihitung secara eksperimen. Jeni-jenis orde reaksi yaitu:
1. Reaksi Orde Satu
Suatu reaksi berorde satu dapat dinyatakan dengan:
A produk
Sehingga
[ ]
t
A
V


=
[ ] A k
Dalam hukum laju terintegrasi, diketahui bahwa untuk reaksi berorde satu:
3
kC
dt
dC

dt k dt
C

1


t t
dt k dt
0 0
1
ln C ln C = - k t
t k
C
C

0
ln
C = Co e
-k t
2. Reaksi Orde Dua
Reaksi berorde dua memiliki dua tipe yaitu:
a. Reaksi umum :
A produk
Maka:
[ ]
t
A
V

= k [ ]
2
A
b. Reaksi umum:
A + B produk
Maka :
[ ] [ ]
t
B
t
A
V



[ ][ ] B A k V
3. Reaksi Orde Nol
Untuk reaksi ini jarang ditemukan. Secara matematis hukum kecepatan reaksi
berorde nol ini adalah:
[ ]
0
A k V
V = k
Adapun penentuan orde reaksi dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Metode Integral
Dengan metode ini, harga k dihitung dengan persamaan laju bentuk integral dari
data konsentrasi dan waktu. Misal untuk reaksi orde dua,
k orde dua =
) (
1
x a a
x
t
4
b. Metode Grafik
Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari data
eksperimen.
c. Metode Laju-Awal
Dalam metode ini dilakukan sederet eksperimen dengan konsentrasi awal yang
berbeda-beda. Kemudian dengan membandingkan laju awal, maka dapat ditarik
kesimpulan tentang orde reaksi.
Untuk reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida dengan cara titrasi
dapat dapat dibuat persamaan reaksinya yaitu:
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-
CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
Meskipun reaksi diatas bukan reaksi sederhana, namun ternyata reaksi tersebut
merupakan reaksi orde kedua dengan hukum laju reaksinya yaitu:
-
[ ]
[ ][ ]

OH ester k
dt
ester d
1
(1)
atau sebagai:
[ ][ ] x b x a k
dt
dx

1
(2)
dimana:
a = konsentrasi awal ester (M)
b = konsentrasi awal ion OH
-
(M)
x = jumlah ester atau basa yang bereaksi (M)
k
1
= tetapan laju reaksi
Persamaan (2) dapat diintergasi dengan memperhatikan konsentrasi awal yaitu:
1. Jika a = b
Bila konsentrasi kedua pereaksi sama maka persamaan (2) dapat ditulis menjadi:
tetapan t
) - (a
1
dt
) a (
dx
) a (
dt
dx
2
2
+


k
x
k
x
x k
Jika x = 0, t = 0, maka tetapan =
a
1
5
) a ( a
t
a
1
) a (
1
t
x
x
k
x
k

Persamaan
) (
1
x a a
x
t k

mengungkapkan bahwa aluran


[ ] ) ( / x a a x

terhadap t merupakan garis lurus dengan arah lereng sama dengan k
1
.
2. Jika a b
tetapan ) (b ln ) (a ln t b) (a
dt dx
a
1
b
1
b) (a
1
x) - x)(b - (a
dx
) (b ) (a
dt
dx
+

1
]
1


x x k
k
x x
kdt
x x k
Jika x = 0, t = 0, maka tetapan =
a
b
ln
) (b a
) (a b
ln
b) (a
1
t
x
x
k

atau
b
a
t b a k
x b
x a
ln ) (
) (
) (
ln +

Menurut persamaan diatas, jika


[ ] ) /( ) ( ln x b x a
dialurkan terhadap t maka
akan diperoleh garis lurus dengan arah lereng k (a-b)
II. METODE PERCOBAAN
2.1. Alat dan Bahan Kimia
2.1.1. Alat
6
Labu volumetris 250 mL
Pipet volume 1 mL ; 10 mL dan 20 mL
Labu erlenmeyer bertutup 250 mL dan 100 mL
Labu erlenmeyer 250 mL
Buret 10 mL
Botol semprot
Pipet tetes
Stopwatch
2.1.2. Bahan Kimia
Etil asetat p.a
Larutan NaOH 0,02 M
Larutan HCl 0,02 M
Indikator fenolftalein
Akuades
2.2. Cara Kerja
1. Sebanyak 0,5 mL larutan etil asetat 10,165 M dipipet ke dalam labu volumetris
250 mL lalu diencerkan sampai tanda batas untuk mendapatkan larutan etil asetat
dengan konsentrasi 0,02 M sebanyak 250 mL.
2. Larutan NaOH dengan konsentrasi tepat 0,02 M disediakan sebanyak 200 mL dan
Larutan HCl dengan konsentrasi tepat 0,02 M disediakan sebanyak 150 mL.
3. Dengan menggunakan pipet, sebanyak 100 mL larutan NaOH 0,02 M dan
100 mL etil asetat 0,02 M dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer bertutup.
Sementara itu sebanyak 20 mL larutan HCl 0,02 M dipipet ke dalam
masing-masing 5 buah labu erlenmeyer lainnya.
4. Selanjutnya larutan etil asetat ditambahkan dengan cepat ke dalam larutan NaOH
dan dikocok dengan baik. Pada saat kedua larutan tersebut bercampur, stopwatch
dijalankan.
5. Lima menit setelah reaksi dimulai, 10 mL dari campuran reaksi dipipet dan
dimasukkan ke dalam salah satu labu yang berisi 20 mL larutan HCl itu dan
7
diaduk dengan baik. Kelebihan HCl segera dititrasi secepat mungkin dengan
larutan standar NaOH 0,02 M.
6. Pengerjaan pada no.5 dilakukan pada waktu 15, 30, dan 60 menit setelah waktu
reaksi.
7. Sisa campuran reaksi dalam erlenmeyer bertutup dipanaskan hingga mendidih
untuk mempercepat reaksi. Konsentrasi OH

kemudian ditentukan seperti pada


pengerjaan no. 5.
III. DATA PERCOBAAN
t (menit) Volume HCl (mL) Volume camp. (mL) Volume NaOH (mL)
5 10 10 10,00
15 10 10 10,55
30 10 10 11,00
60 10 10 11,05

10 10 11,10
Massa piknometer awal = 11,55 gram
Massa piknometer + etil asetat = 20,37 gram
Massa etil asetat = 8,82 gram
IV. PERHITUNGAN
1. Pembuatan Larutan Etilasetat 0,02 M
Diketahui : Mr etil asetat = 88,00 g/mol
Massa piknometer awal = 11,55 gram
Massa piknometer + etil asetat = 20,37 gram
Massa etil asetat = 8,82 gram
Ditanya : V
1
= . . . . . . . . ?
Jawab :
Mol etil asetat =
mol gram
gram
/ 88
0882 , 0
= 0,01 mol
8
M etilasetat dalam 1000 mL =
1000
10
01 , 0
x
mL
mol
= 1M
V
1
. M
1
= V
2
. M
2
V
1
=
1
2 2
M
M V
=
M
M mLx
1
02 , 0 250
= 5 mL
Jadi, volume etil asetat yang harus dipipet untuk membuat larutan etil asetat 0,02
M sebanyak 250 mL adalah 5 mL.
2. Penentuan Konsentrasi Awal dari Larutan Etil Asetat
Diketahui : [NaOH] = 0,02 M
[HCl] = 0,02 M
V NaOH = 50 mL
V HCl = 10 mL
V NaOH titrasi = 20,80 mL
Ditanya : Konsentrasi etil asetat awal = . . . . . . .?
Jawab :
mol NaOH titrasi = [NaOH] x V NaOH titrasi
= 0,02 M x 20,80 mL
= 0,4160 mmol
mol HCl sisa = mol NaOH titrasi
= 0,4160 mmol
mol HCl total = [HCl] x V HCl
= 0,02 M x 10 mL
= 0,20 mmol
mol HCl bereaksi = mol HCl total - mol HCl sisa
= 0,20 mmol 0,4160 mmol
= -0,2160 mmol
Reaksi penghentian dari reaksi etil asetat + NaOH :
OH
-
sisa
+ HCl
bereaksi
Cl
-
+ H
2
O
9
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
= - 0,2160 mmol
mol NaOH total = mol NaOH yang direaksikan dengan etil asetat
mol NaOH
total
= [NaOH] x V NaOH
= 0,02 M x 50 mL
= 1 mmol
mol NaOH
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa
= 1 mmol (-0,2160) mmol mmol
= 1,2160 mmol
Reaksi : etil asetat (100 mL) + NaOH (100 mL) Na asetat + etil OH
Sehingga mol etil asetat
mula-mula
= mol NaOH
bereaksi
= 1,2160 mmol
mol etil asetat mula-mula = 1,2160 mmol
Volume campuran = 100 mL
Konsentrasi etil asetat mula-mula =
campuran
V
mol
=
mL
mmol
100
2160 , 1
= 0,0122 M (sebagai a)
Jadi, konsentrasi etil asetat mula-mula adalah 0,0122 M
3. Harga k dari Konsentrasi OH
-
yang Bereaksi pada Waktu (t)
Untuk t
1
= 5 menit = 300 s
V NaOH
titrasi
= 10,00mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 10,00 mL x 0,02 M
= 0,2000 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi
= 0,2000 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,20 mmol
= 0 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
10
= 0 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa
= 1 mmol 0 mmol
= 1,00 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol

=
mL 100
mmol 1,00
= 0,0100 M
k
1
=
( ) x a a t
x

=
( )M M s
M
01 , 0 0122 , 0 0122 , 0 300
01 , 0

=
1 1
) 0022 , 0 ( 66 , 3
01 , 0

Ls mol
=
1 1
3
10 052 , 8
01 , 0

Ls mol
x
= 1,2419 mol
-1
L s
-1
Untuk t
2
= 15 menit = 900 s
V NaOH
titrasi
= 10,55mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 10,55 mL x 0,02 M
= 0,2110 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi
= 0,2110 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2110 mmol
= -0,0110 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
= -0,0110 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa
= 1 mmol (-0,0110) mmol
11
= 1,0110 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol

=
mL 100
mmol 1,0110
= 0,0101 M
K
2
=
( ) x a a t
x

=
( )M M s
M
0101 , 0 0122 , 0 0122 , 0 900
0101 , 0

=
1 1
) 0021 , 0 ( 98 , 10
0101 , 0

Ls mol
=
1 1
0231 , 0
01 , 0

Ls mol
= 0,4329 mol
-1
L s
-
Untuk t
3
= 30 menit = 1800 s
V NaOH
titrasi
= 11,00 mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 11,00 mL x 0,02 M
= 0,2200 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi
= 0,2200 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2200 mmol
= -0,0200 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
= -0,0200 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa
= 1 mmol (-0,0200) mmol
= 1,0200 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol

12
=
mL 100
mmol 1,0200
= 0,0102 M
K
3
=
( ) x a a t
x

=
( )M M s
M
0102 , 0 0122 , 0 0122 , 0 1800
0102 , 0

=
1 1
) 0020 , 0 ( 96 , 21
0101 , 0

Ls mol
=
1 1
0439 , 0
01 , 0

Ls mol
= 0,2278 mol
-1
L s
-
Untuk t
4
= 45 menit = 2700 s
V NaOH
titrasi
= 11,05 mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 11,05 mL x 0,02 M
= 0,2210 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi
= 0,2210 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2210 mmol
= -0,0210 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
= -0,0210 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa
= 1 mmol (-0,0210) mmol
= 1,0210 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol

=
mL 100
mmol 1,0210
= 0,0102 M
13
K
4
=
( ) x a a t
x

=
( )M M s
M
0102 , 0 0122 , 0 0122 , 0 2700
0102 , 0

=
1 1
) 0020 , 0 ( 94 , 32
0101 , 0

Ls mol
=
1 1
0659 , 0
0101 , 0

Ls mol
= 0,1533 mol
-1
L s
-
Untuk t
5
= 60 menit = 3600 s
V NaOH
titrasi
= 11,10 mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 11,10 mL x 0,02 M
= 0,2220 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi
= 0,2220 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2220 mmol
= -0,0220 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
= -0,0220 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa
= 1 mmol (-0,0220) mmol
= 1,0220 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol

=
mL 100
mmol 0220 , 1
= 0,0102 M
K
5
=
( ) x a a t
x

=
( )M M s
M
0102 , 0 0122 , 0 0122 , 0 3600
0102 , 0

14
=
1 1
) 0020 , 0 ( 92 , 43
0102 , 0

Ls mol
=
1 1
0878 , 0
0102 , 0

Ls mol
= 0,1162 mol
-1
L s
-
4. Tabel yang berisi harga
) ( x a a
x

dengan waktu
Dimana : a = b = 0,01220
T
(menit)
x
) ( x a a
x

5 0,0100 M 372,5782
15 0,0101 M 394,2233
30 0,0102 M 98,0392
45 0,0102 M 98,0392
60 0,0102 M 98,0392
5. Menghitung harga k rata-rata (untuk HCL = 10 mL)
k
rata-rata
=
5
5 4 3 2 1
k k k k k + + + +
=
1 1
. .
5
1162 , 0 1533 , 0 2278 , 0 4329 , 0 2419 , 1

,
_

+ + + +
s L mol
=
1 1
. .
5
1721 , 2

,
_

s L mol
=
1 1
. . 4344 , 0

s L mol
V. PEMBAHASAN
Percobaan penetapan orde reaksi dan tetapan laju reaksi ini bertujuan untuk
mengetahui orde reaksi dan tetapan laju reaksi yang terjadi pada reaksi penyabuan antara
etil asetat (C
2
H
5
COOH) dengan ion hidroksida (OH
-
). Adapun reaksi yang terjadi adalah:
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-
CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
Dari reaksi diatas, dapat diketahui bahwa reaksi yang terlibat adalah reaksi orde 2.
Sedangkan untuk mengetahui tetapan laju reaksi pada reaksi penyabunan tersebut,
dilakukan percobaan dengan menggunakan metode analisis volumetri yaitu metode titrasi.
15
Percobaan ini dimulai dengan melakukan penimbangan, dimana massa piknometr
yang telah berisi etil asetat dikurangi dengan massa piknometer awal sehingga memperoleh
berat dari etil asetat sebesar 8,82 gram. Etil asetat kemudian diencerkan sampai volumenya
250 mL. Dalam percobaan ini, konsentrasi awal etil asetat dengan konsentrasi awal NaOH
sama (a = b). Volume NaOH dan Etil Asetat yang dipergunakan dalam praktikum ini juga
sama yaitu 50 mL berbanding 50 mL. Larutan etil asetat 0,02 M direaksikan dengan larutan
NaOH 0,02 M masing-masing sebanyak 50 mL. Larutan etil asetat dibiarkan bereaksi
dengan larutan NaOH, setelah 3 menit campuran larutan direaksikan dengan 20 mL HCL
hal itu dilakukan juga selama selang waktu 5 menit, 15 menit, 30 menit, 45menit dan 60
menit. Selama selang waktu tersebut, etil asetat akan bereaksi dengan NaOH, dan
selanjutnya setelah selang waktu yang ditentukan, NaOH yang tersisa dalam campuran
direaksikan dengan larutan HCl 0,02 M. Setelah sisa NaOH dalam campuran dinetralkan
oleh larutan HCl, maka kelebihan HCl dititrasi dengan menngunakan basa kuat yaitu
larutan NaOH 0,02. Pada titrasi Larutan NaOH bertindak sebagai titran, sedangkan
campuran yang mengandung sisa HCl sebagai titrat. Dalam proses titrasi ditambahkan
indikator fenolftalein yang berguna untuk mendeteksi titik akhir titrasi, dimana akan
terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Proses titrasi dilakukan pada
selang waktu reaksi 5, 15, 30, 45, dan 60 menit serta setelah pemanasan (waktu tak
terhingga), tujuannya untuk megetahui jumlah HCl yang telah bereaksi dalam campuran
etil asetat-NaOH pada selang waktu tersebut. Apabila terlalu lama, maka etil asetat dalam
campuran dapat menguap, sehingga volume NaOH yang didapat dalam titrasi tidak tepat.
Pemanasan pada campuran etil asetat-NaOH setelah selang waktu 60 menit untuk
waktu tak terhingga bertujuan untuk mempercepat reaksi sehingga reaksi penyabunan cepat
selesai dan mengetahui konsentrasi awal etil asetat dalam campuran. Etil asetat memiliki
sifat yang mudah menguap, sehingga proses titrasi harus dilakukan secepat mungkin.
Demikian pula saat proses memipet maupun saat mereaksikan larutan tersebut harus
dilakukan secepat mungkin agar tidak terjadi penguapan yang dapat menurunkan volume
etil asetat. Pada proses pemanasan sebaiknya indikator PP ditambahkan setelah dilakukan
proses pemanasan, hal ini bertujuan agar dapat menunjukkan titik akhir titrasi karena
apabila PP ditambahkan sebelum pemanasan maka PP akan menguap.
Adapun volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan sisa HCl selama
selang waktu reaksi 5, 15, 30, 45 dan 60 menit serta setelah pemanasan (waktu tak
16
terhingga) secara berturut-turut adalah 10,00 mL, 10,55 mL , 11,00 mL , 11,05 mL, 11,10
mL dan 20,80 mL. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak sisa asam (HCl)
dalam campuran maka volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam tersebut
juga semakin banyak, demikian juga apabila semakin sedikit sisa asam (HCl) dalam
campuran makan volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam tersebut
semakin sedikit.
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan data yang telah diperoleh, maka
diketahui bahwa konsentrasi etil asetat mula-mula yang akan bereaksi dengan NaOH
adalah sebesar 0,0122 M. Nilai ini merupakan nilai a yang akan digunakan dalam
perhitungan selanjutnya, dimana nilai a = b. Dari perhitungan selanjutnya, diperoleh nilai x
(konsentrasi OH
-
bereaksi) selama selang waktu yang ditentukan yaitu berturut-turut
sebesar 0,0100 M; 0,0101 M; 0,0102 M; 0,0102 M dan 0;0102 M. Dari nilai x ini dapat
dihitung tetapan laju reaksi (k) yang merupakan jumlah molar (M) konsentrasi ion OH

yang bereaksi pada waktu t. Adapun nilai tetapan k ini dihitung dengan menggunakan
persamaan: k =
( ) x a a t
x

ini diperoleh nilai tetapan k untuk waktu 5, 15, 30, 45 dan 60


menit secara berturut-turut adalah sebesar 1,2419; 0,4329; 0,2278; 0,1533 dan 0,1162 mol
-1
L s
-1.
Sehingga diperoleh nilai tetapan k rata-rata sebesar 0,4344 mol
-1
L s
-1
.
Dari perhitungan, juga diperoleh harga
) ( x a a
x

yang nantinya dipergunakan untuk


membuat grafik hubungan antara
) ( x a a
x

(sebagai ordinat) terhadap waktu (sebagai


absis) seperti yang terlihat dibawah ini.
17
Grafik
) ( x a a
x

sebagai ordinat dan t (waktu) sebagai absis


VI. KESIMPULAN
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu luas permukaan, konsentrasi,
temperatur, waktu dan teori tumbukan.
18
0
10
20
30
40
50
60
70
372,5782 394,2233 98,0392 98,0392 98,0392
2. Laju reaksi menyatakan ukuran kelajuan berlangsungnya reaksi kimia, dan dapat
ditentukan dengan mengukur laju berkurangnya salah satu pereaksi atau laju
terbentuknya suatu produk.
3. Reaksi penyabuan antara etil asetat (C
2
H
5
COOH) dengan ion hidroksida (OH
-
)
merupakan reaksi orde reaksi dua.
4. Titrasi asam basa dilakukan bertujuan untuk mengetahui tetapan laju reaksi pada
reaksi penyabunan tersebut.
5. Semakin banyak sisa asam (HCl) dalam campuran maka volume NaOH yang
diperlukan untuk menetralkan asam tersebut juga semakin banyak, demikian
pula sebaliknya.
6. Konsentrasi awal etil asetat yang digunakan sebesar 0,01220 M
7. Nilai x (konsentrasi OH
-
bereaksi) selama selang waktu yang ditentukan yaitu
berturut-turut sebesar 0,0121 M; 0,0121 M; 0,01275 M; 0,0129 M dan 0,01298
M
8. Nilai tetapan k untuk waktu 5; 15; 30; 45 dan 60 menit secara berturut-turut
adalah sebesar 1,2419; 0,4329; 0,2278; 0,1533 dan 0,1162 mol
-1
L s
-1
.

Sehingga
diperoleh nilai tetapan k rata-rata sebesar 0,4344 mol
-1
L s
-1
.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia ,2001 , Elektro Kimia dan Kinetika Kimia , PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
19
Bird, Tony, 1993, Kimia Fisika untuk Universitas, Gramedia, Jakarta.
Dogra, S.K dan S. Dogra, 1990, Kimia Fisika dan Soal-Soal, Cetakan Pertama, Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Karlohadiprodjo, Irma, 1990, Kimia Fisik Jilid 1, Edisi Keempat, Penerbit Erlangga,
Jakarta.
Keenan, CW.,1991, Ilmu Kimia Untuk Universitas Jilid 1, edisi keenam, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Tim Laboratorium Kimia Fisika, 2012, Penuntun Praktikum Kimia Fisika III, Jurusan
Kimia F.MIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran.
LAMPIRAN
A. Jawaban Pertanyaan
1. Karena harga k konstan, maka reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida
adalah reaksi orde kedua
20
2. Cara penentuan orde dari suatu reaksi kimia antara lain:
a. Metode Integral
Dengan metode ini, harga k dihitung dengan persamaan laju bentuk integral dari
data konsentrasi dan waktu.
b. Metode Grafik
Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari data
eksperimen.
c. Metode Laju-Awal
Dalam metode ini dilakukan sederet eksperimen dengan konsentrasi awal yang
berbeda-beda. Kemudian dengan membandingkan laju awal, maka dapat ditarik
kesimpulan tentang orde reaksi.
3. Energi pengaktifan merupakan energi minimum yang harus dimiliki
molekul-molekul pereaksi agar menghasilkan reaksi jika saling bertabrakan.
Penentuan energi pengaktifkan secara eksperimen umumnya hampir sama dengan
penentuan tetapan laju reaksi pada suhu tertentu. Dari data tetapan laju yang
diperoleh akan didapatkan nilai energi pengaktifannya dengan persamaan berikut.
A
RT
E
k
A
RT
E
k
A
A
log
303 , 2
log
ln ln
+
+
B. Data Pengamatan
21