Anda di halaman 1dari 5

FASCIOLOSIS

Definisi Fasciolosis adalah penyakit cacing yang hidup pada hepar sapi atau kambing, yaitu cacing dari genus Fasciola. Cacing yang berpredileksi pada hati sapi yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Cacing hati yang asli Indonesia yaitu Fasciola gigantica. Nama lain dari Fasciolosis adalah Distomatosishepatik, cattle liver fluke, Giant liver fluke

Etiologi Fasciolosis adalah penyakit yang disebabkan cacing dari genus fasciola. Berdasarkan taksonominya cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai berikut: Phylum Sub Phylum Kelas Ordo Family Genus Species : Platyhelminthes :: Trematoda : Digenea : Fasciolidae : Fasciola : Fasciola hepatica, Fasciola gigantica

Morfologi dan Daur Hidup Cacing dewasa mempunyai bentuk pipih seperti daun, besarnya 30 x 13 mm. bagian anterior berbentuk seperti kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut yang besarnya 1 mm, sedangkan pada bagian dasar kerucut terdapat batil isap perut yang besarnya 1,6 mm. saluran pencernaan bercabang-cabang sampai ke ujung distal sekum. Testis dan kelejanr vitelin juga bercabang-cabang.

Gambar telur cacing Fasciola hepatica

Gambar cacing dewasa Fasciola hepatica

Telur cacing ini berukuran 140 x 90 mikron, dikeluarkan melalui saluran empedu ke dalam tinja dalam keadaan belum matang. Telur menjadi matang dalam air setelah 9-15 hari dan berisi mirasidium. Telur kemudian menetas dan mirasidium keluar mencari keong air (Lyminaea spp). dalam keong air terjadi perkembangan: M S R1 R2 SK Serkaria keluar dari keong air dan berenang mencari hospes perantara II, yaitu tumbuh-tumbuhan air dan pada permukaan tumbuhan air membentuk kista berisi metaserkaria. Bila ditelan, metaserkaria menetas dalam usus halus binatang yang memakan tumbuhan air tersebut, menembus dinding usus dan bermigrasi dalam ruang peritoneum hingga menembus hati. Larva masuk ke saluran empedu dan menjadi dewasa. Baik larva maupun cacing dewasa hidup dari jaringan parenkim hati dan lapisan sel epitel saluran empedu. Infeksi terjadi dengan makan tumbuhan air yang mengandung metaserkaria.

Gambar siklus hidup Fasciola hepatica

Epidemiologi Amerika latin, Prancis dan negara-negara di sekitar Laut Tengah banyak ditemukan kasus Fasciolosis. Distribusi penyakit ini hampir ada diseluruh hewan produksi seperti sapi dan kambing diseluruh dunia. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, penyakit ini sering ditemukan pada daerah yang basah. Penyebaran Fasciolosis di Indonesia mula-mula dilaporkan oleh Van Velzen di Tangerang pada tahun 1890 dan sekarang diketahui tersebar di seluruh Indonesia sesuai dengan penyebaran siput Lymnea yang menjadi induk semang. Di Indonesia telah diketahui adalah Lymnea rubiginosa. Fasciola gigantica merupakan parasit asli dari Indonesia sedangkan Fasciola hepatica datang ke Indonesia mungkin bersama-sama dengan di bawanya sapi perah FH dari Belanda. Fasciolosis pada sapi dan kerbau bersifat kronis, sedangkan pada domba dan kambing bersifat akut. Fasciola gigantica dapat menimbulkan kematian pada hewan, terutama biri-biri dan sapi.

Patologi dan Gejala Klinis Migrasi cacing dewasa muda ke saluran empedu menimbulkan kerusakan parenkim hati. Selama migrasi (fase akut) dapat tidak bergejala atau menimbulkan gejala sepeti demam, nyeri pada bagian kanan atas abdomen, muntah, hepatomegali, ikterik, sesak napas, malaise, urtikaria, eosinofilia. Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan sehingga menimbulkan sirosis periportal. Sekresi prolin oleh cacing menjadi penyebab penebalan dinding saluran empedu. Migrasi cacing dewasa muda dapat terjadi di luar hati (ektopik) seperti pada mata, kulit, paru, otak. Gejala yang timbul bergantung pada organ tempat migrasi larva. Di daerah Timur Tengah terdapat kebiasaan memakan hati kambing atau domba mentah yang dapat menimbulkan penyakit Halzoun, yaitu faringitis dan edema laring karena penempelan cacing dewasa pada mukosa faring posterior.

Diagnosis Pada stadium akut, diagnosis sulit dipastikan lantaran tidak ditemukan telur cacing hati pada tinja penderita. Namun trias klinis berupa demam tinggi, nyeri perut kanan atas, dan eosinofilia absolut merupakan karakteristik untuk mengarahkan pada dugaan Fasciolosis. Untuk stadium kronis, diagnosis pasti ditentukan dengan menemukan telur cacing hati pada tinja. Jadi, diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja, cairan duodenum atau cairan empedu. Reaksi Serologi (ELISA) sangat membantu untuk menegakkan diagnosis. Imunodiagnosis yang lebih sensitive dan spesies-spesifik telah dikembangkan untuk mendeteksi antigen ekskretori-sekretori yang dikeluarkan parasit. Ultrasonografi (USG) digunakan untuk menegakkan diagnosis fasioloasis bilier.

Komplikasi Bahaya lain akibat infeksi Fasciola hepatica ini adalah dapat mengakibatkan komplikasi pada: telinga, mata paru-paru, dinding usus limpa, pancreas - hati - vena porta

Pemberantasan dan Pencegahan Pemberantasan berdasarkan profilaksis termasuk pemberantasan induk-induk semang antara yaitu siput. Untuk mencegah penyebaran Fasciolosis pada manusia, selain dengan mengendalikan Fasciolosis pada hewan, juga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan atau air yang tercemar stadium infektif. Makanan atau minuman hendaknya dimasak. Pendidikan kesehatan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan hidup. Pencegahan yang dilakukan untuk penyakit Fasciolosis ini antara lain yaitu :

Limbah kandang hanya digunakan sebagai pupuk pada tanaman pada apabila sudah dikomposkan terlebih dahulu seingga telur Fasciola sudah mati. Pengambilan jerami dari sawah sebagai pakan ternak dilakukan dengan pemotongan sedikit di atas tinggi galengan air atau 1-1,5 jengkal dari tanah. Jerami dijemur selama 2-3 hari berturut-turut di bawah sinar matahari dan dibolak-balik selama penjemuran sebelum diberikan untuk pakan. Penyisiran jerami agar daun padi yang kering terlepas untuk mengurangi pencemaran metaserkaria. Tidak melakukan penggembalaan ternak di daerah berair atau yang tercemar oleh metaserkaria cacing hati, seperti disawah sekitar kandang ternak atau dekat pemukiman. Mengandangkan sapi dan itik secara bersebelahan sehingga kotorannya tercampur saat kandang dibersihkan (pengendalian secara biologis) Memperbaiki sistem pengairan sehingga memungkinkan tindakan pengeringan. Melakukan pemberian obat cacing (fluksida) secara teratur setiap 2-3 bulan sekali.

Penatalaksanaan Albendazol dan praziquantel merupakan obat pilihan. Dalam membunuh cacing hati, khusus albendazole memerlukan dosis dua kali lipat, yaitu 15 mg/kg BB. Sedangkan untuk praziquantel dosisnya 25 mg/kg/dosis per oral tiap 8 jam untuk 1 hari (dewasa dan anak-anak sama).

Prognosis Prognosis baik bila pasien tersembuhkan dengan terapi obat antitrematoda, meskipun masih mungkin terjadi infeksi ulang di kemudian hari. Sebaliknya, prognosis buruk tergantung pada keparahan kerusakan liver maupun saluran empedu.