Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

1 Terminologi dan Morfologi Gigi Morfologi perkembangan adalah studi tentang tahap-tahap perkembangan jaringan atau organ serta perubahan struktur yang terjadi selama peristiwa perkembangan organ berlangsung. Morfologi perkembangan gigi membahas tentang kejadian gigi mulai sejak tahap uterinal hingga akhir masa fungsionalnya (Grossman, 1995). Bagian-bagian dari rahang adalah sebagai berikut, maksila = rahang atas, mandibula = rahang bawah, superior = atas, inferior = bawah, dextra / dexter = kanan, sinistra / sinister = kiri. Sedangkan bagian-bagian dari arah gigi adalah: labial = bibir (labium), lingual = lidah, fasial = muka, palatum = langit-langit, mesial = sisi yang berhadapan dengan garis median, distal = sisi yang bertolak belakang dengan garis median, bukal = sisi yang berhadapan dengan pipi (Itjingningsih, 1991). Garis median adalah garis vertikal yang melalui tengah-tengah dari muka dan seolah-olah membagi muka menjadi dua bagian yang sama besarnya kiri dan kanan atau yang membagi titik kontak sentral insisivus kiri, kanan, atas dan bawah (Itjingningsih, 1991). 2.1.2 Morfologi Gigi Permanen 1. Gigi Incisivus Tetap Pertama Atas
Gigi Incisivus sentral atas adalah gigi kesatu di rahang atas, yang terletak dikiri kanan dari garis tengah / median (Itjingningsh, 1991).

Gambar 1. Insisivus sentral atas kanan Ciri Identifikasi Utama : 1. Permukaan mesial lurus dan terletak pada sudut tegak lurus tajam ke tepi insisal. Sudut disto-insisal lebih bulat 2. Mahkota besar, dibandingkan akar-merupakan gigi anterior terbesar

3. Marginal ridge cukup jelas pada permukaan palatal cekung, dengan cingulum berkembang baik. 4. mahkota berinklinasi ke palatal; akar berinklinasi sedikit ke distal. 5. permukaan labial cembung dan halus. 6. Cervical margin paling berkelok pada sisi mesial. 7. Akar tunggal meruncing, dengan potongan melintang berbentuk segitiga membulat dan salah satu permukaan yang agak datar menghadap ke labial (Geoffrey C. van Beek, 1996). 2. Incisivus Kedua Atas Gigi ini adalah gigi ke- 2 dari garis tengah. Bentuk fungsionalnya sama dengan I1 atas, sehingga mempunyai tugas yang sama di dalam mulut, yakni untuk menggigit dan memotong makanan. Dibandingkan dengan I1 atas, dimensi koronanya lebih kecil dalam semua jurusan dan bentuknya lebih bulat. Akarnya lebih langsing dan apeksnya runcing. I2 atas mempunyai banyak variasi / anomali (Itjingningsh, 1991). Gambar 2. Insisiv lateral atas kanan Ciri Identifikasi Utama : 1. Sudut mesio-insisal lancip; sudut disto-insisal lebih membulat. 2. Tepi insisal jelas miring ke bawah ke permukaan distal yang lebih pendek. 3. mahkota lebih membulat, lebih pendek dan lebih sempit dimensi mesio distal daripada incicivus pertama atas. 4. Cingulum pada permukaan palatal sering menutupi lubang foramen caecum incisivum. 5. Permukaan palatal lebih cekung daripada incisivus pertama atas. 6. Akar tunggal yang meruncing halus ke apeks, runcing yang membengkok ke distal. 7. Cervical margin lebih berkelok-kelok pada permukaan mesial daripada permukaan distal (Geoffrey C. van Beek, 1996). 3. Incisivus Pertama Bawah Incisivus pertama bawah adalah gigi pertama di rahang bawah, kanan atau kiri dari garis tengah. Pada umumnya, gigi ini adalah gigi yang paling kecil dalam lengkung gigi. Lebar koronanya sedikit lebih besar dari setengah ukuran

mesio distal insisivus pertama atas, tetapi lebar labio-lingualnya hanya lebih kecil 1 mm. perbaikan tidak mudah dilakukan pada gigi ini, tetapi untungnya, gigi ini jarang sekali perlu diperbaiki. Akarnya, satu, sempit mesio-distal, panjang akar hampir sama dengan insisivus pertama atas dan apeksnya bengkok ke distal (Itjingningsh, 1991). Ciri Identifikasi Utama : 1. Akar tunggal, mendatar mesio-distal dan cenderung bengkok ke distal. 2. Tepi insisal tegak lurus terhadap garis yang membagi dua mahkota labio lingual. 3. Panjang akar 12 mm. 4. Alur longitudinal distal akar lebih jelas daripada mesial. 5. Gigi terkecil pada gigi-geligi tetap (Geoffrey C. van Beek, 1996). 4. Incisivus Kedua Bawah 1. Ia sedikit lebih kecil daripada incisivus pertama bawah; mahkota berbentuk kipas dan tepi insisal lebih lebar mesiodistal. 2. Sisi insisal: tepi insisal tidak tegak lurus terhadap garis yang membelah dua akar, tetapi terpuntir ke distal, dalam arah lingual, mengikuti garis lengkung gigi. 3. Panjang akar 14 mm. 4. Permukaan mesial mahkota sedikit lebih panjang daripada distal, sehingga tepi insisal sedikit miring. 5. Marginal ridge mesial dan distal samar-samar, tetapi lebih menonjol daripada incisivus pertama bawah (Geoffrey C. van Beek, 1996). 5. Kaninus Atas Kaninus / Canine / Cuspid adalah gigi ke 3 dari garis tengah, dan satu satunya gigi di rahang yang mempunyai 1 cusp. Gigi ini diberi nama Kaninus karena pertumbuhan gigi ini pada binatang Carnivorous baik sekali (mis. anjing) sebab mempunyai akar yang terpanjang dan terbesar sehingga gigi ini kuat sekali. Koronanya adalah korona yang terpanjang di dalam mulut dan berbentuk baik sekali baik kekuatan terhadap stress dan pemakaian maupun kebersihan. Pada umumnya gigi ini adalah gigi terakhir yang akan tanggal, kadangkala masih tetap di rahang sesudah gigi lainnya hilang. Seringkali dipakai untuk pegangan dari geligi tiruan. Karena posisinya dalam rahang, panjang dan angulasi akarnya maka

gigi Kaninus menjadi struktur yang penting dari muka, yang member karakter, kekuatan dan kecantikan (Itjingningsh, 1991). Ciri Identifikasi Utama : 1. Cuspis tunggal runcing kira-kira segaris dengan sumbu panjang akar. 2. Lereng distal cuspis lebih panjang daripada lereng mesial dan menyatu dengan permukaan distal cembung. 3. Proporsi keseluruhan kekar panjang. 4. Bagian labial cembung jelas dan cingulum palatal besar. 5. Garis cervikal kurang berkelok pada permukaan distal. 6. Akar tunggal sangat panjang dengan potongan melintang segitiga membulat. 7. Permukaan disto dan mesio-palatal akar sering beralur longitudinal (Geoffrey C. van Beek, 1996).

Gambar 3 dan 4. Caninus atas dan bawah 6. Kaninus Bawah Tugas kaninus bawah dan atas sama, sehingga glnya dari semua permukaan sama. Koronya lebih panjang serviko insisal dan lebih sempit mesio distal daripada C atas. Singulumnya tidak begitu nyata. Pada permukaan mesial dan distal, bagian sepertiga servikal tidak begitu tebal. Permukaan lingual lebih rata daripada permukaan lingual dari C atas, hampir sama dengan lain lain gigi geligi depan bawah. Pada umumnya ujung akar melengkung ke distal, tetapi kadang kadang juga terdapat C dengan ujung akar yang membengkok ke mesial. Jika C ini belum aus, gigi ini adalah gigi yang paling panjang di dalam mulut (Itjingningsih, 1991). Ciri Identifikasi Utama : 1. Profil distal mahkota lebih membulat daripada mesial. 2. mahkota lebih sempit mesiodistal dibanding caninus atas, sehingga mahkota tampak lebih besar sebanding. 3. Hanya caninus bawah yang mungkin mempunyai akar berbifurkasi, suatu variasi yang tidak jarang terjadi.

4. Lereng mesial cuspis lebih pendek daripada yang dista 5. Cingulum kurang jelas bila dibanding dengan caninus atas. 6. Permukaan labial dari mahkota kurang lebih segaris lurus dengan akar. 7. Permukaan labial dari mahkota bersambung lengkung longitudinal dengan akar. 8. Pada kebanyakan kasus, akar cenderung bengkok sedikit ke distal. Mahkota tampak miring ke distal dalam hubungan dengan akar (Geoffrey C. van Beek, 1996).

7. Premolar Pertama Atas 1. Akar dua (bukal dan palatal) dan inklinasi ke distal. 2. Cusp dua buah (bukal dan palatal), cusp bukal lebih besar dari palatal. 3. Lereng mesial cusp bucal lebih panjang dari distal. 4. Cusp palatal sedikit miring ke mesial. 5. Bagian oklusal lebih angular dari Premolar kedua. 8. Premolar Kedua Atas 1. Akar tunggal, mesiodistal datar dan lebih panjang dari premolar pertama atas. 2. Cusp bukal dan palatal lebih kecil dan lebih rendah dari premolar pertama atas. 3. Lereng mesial bukal cusp lebih pendek dari distal. 4. Bagian oklusal oval. 9. Premolar Pertama Bawah 1. Fossa oklusal distal lebih besar dari mesial. 2. Cusp bukal besar dan runcing, cusp lingual kecil. 3. Mahkota inklinasi ke palatalPermukaan bukal mahkota cembung, permukaan lingual hampir lurus. 4. Bagian oklusal sirkular, menndatar pada mesiolingual. 5. Akar tunggal, bulat dan inklinasi ke distal.
10. Molar Pertama Atas

1. Gigi molar paling besar. 2. Mempunyai 4 cusp dengan mesiopalatal paling besar dan distopalatal paling kecil.

3. Cusp bukal lebih runcing dari cusp palatal. 4. Bukolingual mahkota lebih besar dari mesiodistal. 5. Terdapat tuberculum carabelli pada cusp mesiopalatal. 6. Akar tiga, dan terpisah, akar palatal paling panjang dan mengembang, akar bukal berinklinasi ke distal. 7. Bagian oklusal berbentuk jajaran genjang 11. Molar Pertama Bawah 1. Gigi terbesar pada rahang bawah. 2. Mempunyai 5 cusp, 3 bukal dan 2 lingual. 3. Permukaan bukal berinklinasi ke lingual. 4. Mesiodistal mahkota lebih besar dari bukolingual. 5. Bagian oklusal berbentuk segi empat. 6. Mempunyai 2 akar, akar mesial lebih panjang, akar distal lebih bulat.
(Itjingningsh, 1991).

2.1.2

Perbedaan Gigi Susu dan Permanen

1. Pada gigi susu tidak ada gigi premolar atau gigi yang menyerupai premolar. 2. Akar gigi susu mengalami responsi. 3. Pada gigi susu tidak terbentuk sekunder dentin. 4. Permukaan fasial gigi susu lebih licin dari pada gigi permanen. 5. Gigi geligi susu lebih putih dari pada gigi geligi permanen. 6. Permukaan bukal dan lingual dari gigi molar susu lebih datar dari pada gigi molar permanen. 7. Ukuran mesio distal lebih lebar dari pada ukuran serviko insisalnya dibandingkan dengan gigi permanen. 8. Ukuran mesio distal akar akar gigi susu anterior sempit. 9. Bentuknya menyerupai bentuk elemen yang bersangkutan pada gigi geligi permanen tetapi lebih kecil. 10. Servikal ridge pada pandangan bukal dan lingual dari gigi molar susu lebih tegas dari pada molar tetap. 11. Ruang pulpa gigi susu lebih besar daripada rung pulpa gigi permanen. 12. Secara keseluruhan ukuran gigi susu lebih kecil daripada gigi permanen (Itjingningsih, 1991).

Tabel Pola dan Status Erupsi Gigi

1.

2.1.3 Kelainan Pertumbuhan Dan Perkembangan Gigi a. Kelainan Ukuran Gigi 1. Makrodonsia Makrodonsia yaitu suatu keadaan yang menunjukkan ukuran gigi lebih besar dari normal, hampir 80 % lebih besar (bisa mencapai 7,7-9,2 mm). Keadaan ini jarang dijumpai, sering di DD (Diferensial Diagnosa/Diagnosa Banding) dengan Fusion Teeth. Gigi yang sering mengalaminya adalah gigi insisivus satu atas (OCW USU, 2008). 2. Mikrodonsia Keadaan yang menunjukkan ukuran gigi lebih kecil dari normal. Bentuk koronanya (mahkota) seperti conical atau peg shaped. Sering diduga sebagai gigi berlebih dan sering dijumpai pada gigi insisivus dua atas atau molar tiga. Ukuran gigi yang kecil ini dapat menimbulkan diastema (OCW USU, 2008). b. Kelainan Saat Erupsi 1. Natal dan Neonatal Teeth Banyak istilah yang digunakan untuk menerangkan gangguan waktu erupsi gigi sulung yang erupsi sebelum waktunya, seperti istilah gigi kongenital, gigi fetal, gigi predesidui atau gigi precoks. Massler dan Savara (1950) menggunakan istilah gigi natal dan neonatal. Definisi Gigi Natal adalah gigi yang telah erupsi/telah ada dalam mulut pada waktu bayi dilahirkan. Definisi Gigi Neonatal

adalah gigi yang erupsi selama masa neonatal yaitu dari lahir sampai bayi berusia 30 hari (OCW USU, 2008). Erupsi normal gigi insisivus sulung bawah dimulai pada usia 6 bulan, jika gigi sulung erupsi semasa 3-6 bulan kehidupan disebut gigi predesidui. Gigi ini merupakan gigi sulung yang erupsinya prematur, jadi tidak termasuk gigi supernumerary atau gangguan pertumbuhan lainnya (OCW USU, 2008). 2. Kista Erupsi Kista erupsi atau eruption cyst adalah suatu kista yang terjadi akibat rongga folikuler di sekitar mahkota gigi sulung/tetap yang akan erupsi mengembang karena penumpukan cairan dari jaringan atau darah (OCW USU, 2008). 3. Gigi Molar Sulung Yang Terpendam Terbenamnya gigi molar sulung disebut juga dengan Submerged teeth yaitu suatu gangguan erupsi yang menunjukkan gagalnya gigi molar sulung mempertahankan posisinya akibat perkembangan gigi disebelahnya sehingga gigi molar sulung tersebut berubah posisi menjadi di bawah permukaan oklusal (OCW USU, 2008). Gigi molar dua sulung rahang bawah lebih sering terkena, bahkan ada penelitian yang menemukan bahwa gigi tersebut terbenam seluruhnya sampai di bawah gingiva. Mekanisme terbenamnya belum diketahui dengan pasti, diduga berhubungan dengan ankilosis, yang disebabkan pengendapan tulang yang berlebihan selama fase resorpsi dan reposisi (perbaikan) yang merupakan ciri normal resorpsi akar pada gigi sulung. Pergerakan ke arah oklusal dari gigi molar dua sulung terhambat atau terhenti sehingga gigi tersebut terletak di bawah permukaan oklusal gigi molar satu sulung dan molar satu tetap (OCW USU, 2008).

Gambar 5 dan 6 . Molar yang Terpendam 4. Erupsi ektopik gigi molar pertama tetap

Erupsi ektopik yaitu erupsinya gigi molar pertama tetap yang keluar dari posisinya di lengkung rahang, mendorong molar dua sulung sehingga terjadi resorpsi sebagian atau seluruhnya dari molar dua sulung. Resorpsi terjadi di sebelah distal molar sulung (OCW USU, 2008). 5. Erupsi Gigi Tetap Yang Tertunda Meskipun keterlambatan erupsi gigi dapat dihubungkan dengan keadaan tertentu misalnya sindrome down, keterlambatan erupsi gigi yang terlokalisir lebih sering pada gigi tetap dibandingkan gigi sulung (OCW USU, 2008) .Beberapa penyebabnya : Gigi Insisivus. Disebabkan resorpsi yang terlambat dari gigi insisivus sulung akibat trauma atau kematian pulpa, dilaserasi mahkota gigi yang akan erupsi, dens supernumerari yang berada dijalan gigi yang akan erupsi atau disebabkan kehilangan gigi sulung yang dini sehingga terjadi penebalan jaringan dan gigi sukar erupsi. Gigi Kaninus. Disebabkan jalur erupsi gigi kaninus tidak sebagaimana mestinya, mengalami penyimpangan. Sering terjadi pada rahang atas. Gigi premolar. Adanya impaksi (tekanan) kearah gigi-gigi lain disebabkan angulasi abnormal (sehingga gigi yang akan erupsi mengalami penyimpangan). Dapat juga disebabkan gigi berjejal, resobsi yang terlambat dari gigi molar sulung atau terpendamnya molar sulung sehingga premolar tidak dapat erupsi. Gigi Molar. Adanya impaksi ke arah lain (OCW USU, 2008). 2.2 Anatomi Gigi dan Jaringan Pendukungnya ????? Email adalah jaringan yang berfungsi untuk melindungi tulang gigi dengan zat yang sangat keras yang berada di bagian paling luar gigi manusia. Tersusun dari sel ameloblast (penghasil matriks email). Merupakan bagian tubuh yang terkeras, rentan terhadap serangan asam(makanan atau sisa metabolisme bakteri), tidak mengandung persyarafan, tersusun atas 96 % lapisan anorganik (garam kalsium, hidroksiapatit), 1% lapisan organik, dan sisanya air. Warna enamel dipengaruhi perkembangan gigi, ekstrinsik stains, penggunaan antibotik, fluoride yg berlebihan, Dentin merupakan struktur penyusun gigi terbesar, atap bagi rongga pulpa, menyerupai struktur tulang, komposisinya adalah mineral 69.3%, organik 17.5 %, air 13.2 %.

Cementum

merupakan

salah

satu

jaringan tidak

penyangga

gigi

yang

komposisinya serupa tulang,

sementum

memiliki pembuluh darah,

pada apical radiks menebal, berisi sementosit (sel mirip osteosit), menghubungkan fiber ligament periodontal ke permukaan gigi, peran utama : sebagai medium untuk perlekatan ligamen periodontal ke gigi untuk keseimbangan Pulpa terdiri atas jaringan ikat longgar, unsur utama: odontoblast, fibroblast, serabut kolagen halus, dan glikosaminoglikan, ruang pulpa meliputi : kamar pulpa, saluran akar, foramen apikal. Gingiva merupakan membran mukosa, tersusun atas epitel berlapis gepeng, melekat pada email gigi, melindungi jaringan ikat di bawahnya selama proses mastikasi, epitelnya menghubungkan epitel pada mulut dengan gigi, Periodontal Ligament mempunyai dua fungsi yaitu sebagai: Sumber nutrisi (membekalkan nutrisi kepada cementum, tulang dan gingival) dan sensori (dipersarafi oleh serabut saraf sensori yang berfungsi untuk menghantarkan stimulus sentuhan, tekanan, dan nyeri). Fungsi fisikal: sarung untuk melindungi pembuluh darah, serabut saraf daripada luka yang di sebabkan oleh tekanan mekanikal. Alveolar Bone merupakan bagian dari tulang mandibular dan maksila yang mengelilingi gigi berfungsi sebagai pembentuk dan penyokong tooth sockets. 2.3 Nomenklatur Gigi nomenklatur adalah cara menulis gigi geligi. Ada beberapa cara penulisan nomenklatur diantaranya yaitu (Itjingningsih, 1991): 1. Cara Zigmondy Gigi Tetap Contoh: Gigi Susu 8765432112345678 8765432112345678 P2 atas kanan = 5 I1 bawah kiri = 1 V IV III II I I II III IV V V IV III II I I II III IV V Contoh: c bawah kanan = III M2 atas kiri = V

2. Cara Palmers Cara yang paling mudah dan universal untuk dental record Gigi Tetap Contoh: Gigi Susu 8765432112345678 8765432112345678 P2 atas kanan = 5 I1 bawah kiri = 1 EDCBAABCDE EDCBAABCDE Contoh: c bawah kanan = C, m2 atas kiri = E 3. Cara Amerika Yaitu dengan cara menghitung dari atas kekiri, kekanan, kebawah kanan lalu kebawah kiri Gigi Tetap ( pakai angka biasa ) 16 15 . . . . . . . . 9 17 18 . . . . . . . 24 Contoh: 8 . . . . . . . . . .2 1 25 . . . . . . . 31 32

P2 atas kanan = 13 I1 bawah kiri = 25

Gigi Susu ( pakai huruf romawi ) X IX . . . . . . . . VI V IV . . . . . . . . . I XI XII . . . . . . . XV XVI XVIII . . . . XX Contoh: c bawah kanan = XIII M2 atas kiri = I 4. Cara Applegate Kebalikan dari cara Amerika yaitu dengan cara menghitung dari atas kanan, kekiri, kebawah kiri, lalu kebawah kanan Gigi Tetap Contoh: Gidi Susu 12...........8 32 31 . . . . . . . . 25 P2 atas kanan = 4 I1 bawah kiri = 24 I II . . . . . . . . . . . . V VI . . . . . . . . . . . . . X XX XIX . . . . . . . XVI XV . . . . . . . . . . . . XI 9 . . . . . . . . . . . 15 16 24 . . . . . . . . . . 18 17

Contoh: c bawah kanan = XVIII M2 atas kiri = X 5. Cara haderup Gigi Tetap Contoh: Gigi Susu Contoh: c bawah kanan = 03 M2 atas kiri = + 05 6. Cara G. B. Denton Gigi Tetap Contoh: Gigi Susu 2 3 1 4 + + -

P2 atas kanan = 5 + I1 bawah kiri = -1

P2 atas kanan = 2.5 I1 bawah kiri = 4.1 b C a d

Contoh: c bawah kanan = c.3 M2 atas kiri = a.5 7. Sistem 2 Angka dari International Dental Federation Gigi Tetap kuadran) 1 4 2 3 (Angka kedua menunjukan gigi apa dalam

Contoh: P2 atas kanan = 15 I1 bawah kiri = 31 Gigi Susu 5 8 6 7

Contoh: c bawah kanan = 83 m2 atas kiri = 65 Keuntungan cara ini mudah dimengerti, diajarkan, dicetak, ditulis dan dipindahkan ke komputer.

8. Cara Utrecht / Belanda Dengan menggunakan tanda-tanda : S I d s : Superior / Atas : Inferior / Bawah : Dexter / Kanan : Sinister / Kiri

Gigi Tetap ( menggunakan Huruf Besar ) Contoh: P2 atas kanan = P2Sd I1 bawah kiri = I1Is Gigi Susu ( Pakai Huruf Kecil ) Contoh: c bawah kanan = cId m2 atas kiri = m2S 2.4 Odontologi Forensik Pengertian forensik menurut Dorland (2010), forensik adalah berkaitan dengan suatu tempat jual-beli atau tempat pertemuan umum berkenaan dengan atau dilakukan dalam peristiwa hukum (Dorland, 2010). Pengertian forensik menurut identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik. Yang dimaksud dengan identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik adalah semua aplikasi dari disiplin ilmu kedoktaran gigi yang terkait dalam suatu penyidikan dalam memperoleh data- data post mortem, berguna untuk menentukan otentitas dan identitas korban maupun pelaku demi kepentingan hukum dalam suatu proses peradilan dan menegakkan kebenaran (Lukman, 2006). Apabila seorang dokter gigi dengan surat permintaan sebagai anggota penyidik, anggota tim identifikasi, dan sebagai saksi ahli apabila hakim sulit memutuskan sesuatu perkara dalam suatu sidang peradilan sedangkan pada tubuh korban terdapat pola bekas gigitan, menggunakan gigi palsu, serta seluruh datadata gigi yang telah dilakukan dari semua disiplin ilmu kedokteran gigi maka hakim akan meminta seorang ahli untuk memastikan hal tersebut diatas demi memantapkan keputusan yang akan diambilnya (Lukman, 2006).

A. Identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik ada beberapa macam antara lain: 1. Identifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi geligi dan antropologi ragawi. 2. Identifikasi seks atau jenis kelamin korban melalui gigi geligi dan tulang rahang serta antropologi ragawi. 3. Identifikasi umur korban ( janin ) melalui benih gigi. 4. Identifikasi umur melalui gigi sementara (decidui). 5. Identifikasi umur korban melalui gigi campuran. 6. Identifikasi umur korban melalui gigi tetap. 7. Identifikasi korban melalui kebiasaan menggunakan gigi. 8. Identifikasi korban dari pekerjaan menggunakan gigi 9. Identifikasi golongan darah korban melalui air liur. 10. Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi. 11. Identifikasi DNA korban dari analisa air liur dan jaringan dari sel dalam rongga mulut. 12. Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya. 13. Identifikasi wajah korban dari rekrontruksi tulang rahang dan tulang facial. 14. Identifikasi wajah korban. 15. Identifikasi korban melalui gigitan pelaku. 16. Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban masal. 17. Radiologi ilmu kedokteran gigi forensik. 18. Fotografi ilmu kedokteran gigi forensik. 19. Victim Identification form (Lukman, 2006). Semua data-data yang diperoleh dalam identfikasi di atas dituangkan dalam formulir baku mutu nasional yaitu ke dalam formulir korban tindak pidana yang berwarna merah yang disebut dengan data postmortem, pada korban hidup tetap pula ditulis ke dalam formulir yang sama sedangkan data- data semasa hidup ditulis ke dalam formulir antemortem yang berwarna kuning. Hal ini berlaku pula pada pelaku, ia mempunyi kedua penulisan data pula antemortem dan postmortem pada kertas yang berwarna kuning dan merah (Lukman, 2006).

2.4.1

Identifikasi Secara Umum

Perlu pula kita ketahui identifikasi ilmu kedokteran forensik umum karena pada negara-negara maju tim penyidik dan tim identifikasi anggotanya terdapat dokter gigi dengan demikian ada baiknya dokter gigi mengetahui identifikasi secara umum (Lukman, 2006). Identifikasi secara umum antara lain : 1. Dokumen yang terdapat pada busana korban berupa : KTP, SIM, kartu kredit, kartu sekolah, kartu mahasiswa, kartu karyawan, name tag dari instansi korban. Adakalanya mayat tanpa sepucuk surat identifikasi pun pada tubuhnya, sehingga perlu dilakukan identifikasi terhadap mayat tersebut. Biasanya yang perlu diteliti untuk keperluan itu adalah: 2. Pakaian atau busana a) Bentuk pakaian berupa celana panjang / pendek, gaun, sarung kebaya dsb b) Corak pakaian contohnya bunga-bunga, garis-garis, motif tertentu dsb c) Merk pakaian yang dikenakan dapat diketahui dari konfeksi, tukang jahit, dsb d) Nomor binatu (laundry mark) yang kemungkinan ada dipakaian yang digunakan (Lukman, 2006). 3. Perhiasan yang biasanya dapat di identifikasikan adalah bentuk perhiasan tersebut terbuat dari apa perhiasan tersebut, inkripsi, dan merk perhiasan tersebut. 4. Tubuh korban sendiri yang meliputi : a) Ciri-ciri umum : tinggi atau berat badan, jenis kelamin, umur, warna kulit, rambut, rambut kepala, kumis, jenggot, mata, hidung, mulut, gigi geligi b) Ciri-ciri khusus : tahi lalat, tompel, bekas hamil, dsb c) Ciri-ciri tambahan : tindik, tato, dsb d) Cacat : sumbing, patah tulang (Lukman, 2006). Urutan identifikasi umum pada tubuh mayat yaitu memperlihatkan mayat berdiri dengan urutan identifikasi secara umum oleh karena umumnya sebagian besar manusia di dunia ini menggunakan tangan kanan maka tangan dan kaki

kanan terlebih dahulu di identifikasi baru kemudian tungkai kiri. Apabila mayat kidal maka kebalikannya (Lukman, 2006). a) Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sbb: 1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrim. 2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi. 3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis. 4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar. 5. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C. 6. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh (Lukman, 2006). b) Kekurangan penggunaan gigi dalam odontologi forensik 1. Untuk memperoleh gigi antemortem, dental record, kesulitan yang dijumpai, pertama adalah adanya kenyataan bahwa sebelum semua orang terarsipkan data gigi dengan baik. untuk mengatasi hal ini maka hendaknya dapat diupayakan pencatatan pencatatan data gigi pada setiap pemeriksaan atau perawatan gigi semua orang terutama pada orang-orang yang tugasnya mempunyai resiko jiwa (Lukman, 2006). 2. Keadaan gigi setiap orang dapat berubah karena pertumbuhan, kerusakan, perkembangan serta perawatannya (Lukman, 2006).

2.4.2 Ruang Lingkup Forensik Odontologi 1. Identifikasi dari mayat yang tidak dikenal melalui gigi, rahang dan kraniofasial. 2. Penentuan umur dari gigi. 3. Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark) 4. Penentuan ras dari gigi. 5. Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan kekerasan. 6. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli. 7. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal. (Lukman, 2006). 2.4.3 Peran Dokter Gigi dalam Kedokteran Gigi Forensik 1. Identifikasi korban meninggal massal melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas seseorang. Contoh: Pada kasus bom Bali, korban yang teridentifikasi berdasarkan gigi-geligi mencapai 60% Gigi bisa mengidentifikasi korban termasuk tokoh utama terorisme di Indonesia, DR.Azahari. 2. Dokter gigi berperan penting dalam melakukan identifikasi korban bencana karena korban yang hangus terbakar dan mengalami pembusukan tingkat lanjut sulit untuk dikenali dan sudah tidak dapat dilakukan identifikasi melalui pemeriksaan visual (Unair, 2008). 2.4.4 Jenis Identifikasi Forensik Identifikasi forensik dibagi menjadi 2, yaitu: a) Identifikasi Komparatif Identfikasi komparatif, yaitu apabila bersedia data post-mortem (pemeriksaan jenazah) dan ante-mortem (data sebelum meninggal mengenai cirri-ciri fisik, pakaian, identitas khusus berupa tahi lalat, bekas luka/operasi, dll), dalam komunitas yang terbatas. 1. Post-Mortem atau otopsi adalah prosedur bedah yang sangat khusus yang terdiri dari pemeriksaan menyeluruh terhadap mayat untuk

menentukan penyebab dan cara kematian dan untuk mengevaluasi setiap penyakit atau cedera yang mungkin ada. 2. Ante-Mortem adalah data-data pribadi dari korban seperti cirri-ciri fisik, pakaian, identitas khusus (tanda lahir), bekas luka/operasi, dan sebagainya sebelum korban meninggal. b) Identifikasi Rekronstrktif Identifikasi rekonstruktif, yaitu identifikasi yang dilakukan apabila tidak tersedia data ante-mortem pada korban (contoh: penemuan jasad tanpa identitas) dan dalam komunitas yang tidak terbatas. Data ante-mortem merupakan syarat utama yang harus ada apabila identifikasi dengan cara membandingkan akan diterapkan. Data ante-mortem tersebut berupa dental record, yaitu keterangan tertulis berupa odontogram atau catatan keadaan gigi pada waktu pemeriksaan, pengobatan dan perawatan gigi. 1. Foto rontgen gigi. 2. Cetakan gigi. 3. Prosthesis gigi atau orthodonsi 4. Foto close up muka atau profil daerah mulut dan gigi. 5. Keterangan dari orang-orang terdekat di bawah sumpah. Untuk data gigi post-mortem yang perlu dicatat pada pemeriksaan antara lain : 1. Gigi yang ada dan tidak ada, bekas gigi yang tidak ada apakah masih baru atau sudah lama. 2. Gigi yang ditambal, jenis dan klasifikasi bahan tambal. 3. Anomali bentuk dan posisi. 4. Karies atau kerusakan yang ada. 5. Jenis dan bahan restorasi. 6. Atrisi dataran kunyah gigi merupakan proses fisiologs untuk fungsi mengunyah. Derajat atrisi ini sebanding dengan umur. 7. Gigi molar kketiga sudah tumbuh atau belum. 8. Ciri-ciri populasi ras dan geografis.

2.4.3.1

Identifikasi Usia

Dalam mengidentifikasi usia ada beberapa metode yang sering digunakan untuk seseorang berdasar pemeriksaan gigi antara lain : 1. Metode Schour dan Massler Pertumbuhan gigi gelilgi dimulai dari lahir sampai dengan umur 21 tahun, yang banyak digunakan dalam ilmu kedokteran gigi klinis untuk merencanakan atau mengevaluasi perawatan gigi. Tabel ini biasa digunakan untuk mempelajari gigi geligi dimana yang sudah seharusnya tanggal atau seharusnya sudah tumbuh pada umur tertentu. Untuk penentuan umur penggunaannya justru melihat gigi yang sudah ada didalam mulut dan menentukan umurnya dengan bantuan table Schour dan Massler (Stimson, 1997). m

Tabel 2 dan 3. Tabel Schour dan Massler 2. Tabel Gustaffson dan Koch Pada prinsipnya sama dengan sChour dan Massler, hanya pada table Gustaffson untuk setiap gigi ini diberikan perkiraan jadwal yang lebih lengkap, mulai dari pembentukan, mineralisasi, pertumbuhan ke dalam mulut sapai pada penutupan foramen apicalis, sejak dalam kandungan hingga umur 16 tahun (Stimson, 1997). Metode Gustaffson Penentuan umur berdasarkan table Gustaffson Koch pada umumnya bermanfaat selama gigi masih dalam masa pertumbuhan. Untuk memperkirakan umur seseorang setelah masa itu digunakan 6 metode dari Gustaffson adalah sebagai berikut: a. Atrisi Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan yang sesuai dengan bertambahnya usia. b. Sekunder dentin Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk sekunder dentin untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia maka sekunder dentin akan semakin tebal. c. Ginggiva attachment Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara perlekatan gusi dan gigi. d. Pembentukan foramen apikalis Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis. e. Transparansi akar gigi Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal ini dipengaruhi oleh mineralisasi yang terjadi selama kehidupan. f. Sekunder sement

Ketebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan bertambahnya usia ketebalan sement pada ujung akar gigi juga semakin bertambah (Stimson, 1997). 3. Neonatal dan Von Ebner Lines Garis-garis incremental Von Ebner dan Neonatal, dapat dilihat pada gigi yang telah disiapkan dalam bentuk sediaan asahan dengan ketebalan 30-40 mikron. Pada gigi susu Molar 1 (yaitu gigi-gigi yang ada pada waktu kelahiran), akan ditemukan neonatal line berupa garis demarkasi yang memisahkan bagian dalam email (yang terbentuk sebelum kelahiran) dengan bagian luar enamel (yang terbentuk setelah lahir). Selanjutnya juga akan ditemukan garis-garis incremental Von Ebner yang merupakan transisi antara periode pertumbuhan cepat dan pertumbuhan lambat yang berselang-seling (Stimson, 1997). Jarak rata-rata antara garis ini adalah 4 mikron yang merupakan kecepatan deposisi dentin dalam 24 jam. Apabila pembentukan gigi belum selesai, perhitungan garis Von Ebner dari neonatal line dapat membantu penentuan umur (Clark, 1992).

Gambar 7. Neonatal line pada gigi molar 4. Metode Asam Aspartat Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia berdasarkan pada terdapatnya bahan tersebut pada dentin manusia. Komponen protein terbanyak pada tubuh manusia berbentuk L-amino Acid, D-amino acid yang ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa mata. D-amino acid dipercaya mempunyai proses metabolisme yang

lambat dan tiap bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih lambat dan mempunyai ratio dekomposisi yang lebih lambat juga. Asam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan paling tinggi dari semua asam amino (Clark, 1992). Pada 1976 Helfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk mempelajari perkiraan umur dengan membandingkan rasio D-Laspartat acid dengan 20 subyek dengan hasil bagus (r = 0,979) rasio yang tinggi pada D/L rasio banyak ditemukan pada usia muda dan menurun akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan (Clark, 1992). Pada tahun 1990 Ritz et al. melaporkan adanya asam aspartat pada dentin untuk menentukan usia pada orang yang telah meninggal, berdasarkan hal tersebut metode ini dapat menyediakan informasi yang lebih akurat tentang penentuan usia dibandingkan dengan parameter yang lain. Untuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut : Ln (1 + D/L) / (1 D/L) = 2k (aspartat)t + konstanta K : first order kinetik t : actual age Gigi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian bawah dan premolar pertama. Mereka menemukan perkiraan umur yang lebih baik dari fraksi total asam amino dengan membagi menjadi fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide. Dibandingkan dengan total asam amino, fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide yang terlarut, mempunyai konsentrasi glutamine dan asam aspartat yang lebih tinggi. 2.4.3.2 Identifikasi Jenis Kelamin Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. Gigi geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. Anderson mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA dari gigi untuk membedakan jenis kelamin (Julianti dkk, 2008). 2.4.3.3 Identifikasi Ras

a) Ras Mongoloid 1. Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan nyata berbentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras kaukasoid dan 12 % ras negroid memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas. 2. 3. 4. 5. 2008). b) Ras Kaukasoid 1. Cusp carabelli, yakni berupa tonjolan pada molar 1. 2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari mandibula. 3. Maloklusi pada gigi anterior. 4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola. 5. Dagu menonjol (Julianti dkk, 2008). c) Ras Negroid 1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan. 2. Sering terdapat open bite. 3. Palatum berbentuk lebar. 4. Protrusi bimaksila (Julianti dkk, 2008). 2.4.3.4 Identifikasi Golongan Darah Menurut James dan Standison pada tahun 1982, identifikasi golongan darah dapat dibuat dari sediaan yang diambil dari bagian tubuh diantaranya akar rambut, jaringan tulang, jaringan kuku, jaringan ikat, air mata, saliva, dan cairan darah sendiri (Lukman, 1994). Akan tetapi dalam ilmu kedokteran gigi forensik, identifikasi golongan darah dapat diketahui dari analisa jaringan pulpa gigi (Lukman, 1994). Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan oklusal premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid. Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada 20% mongoloid. Lengkungan palatum berbentuk elips. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus (Julianti dkk,

Menurut Alfonsius dan penelitian Ladokpol pada tahun 1992, dan Forum Ilmiah Inetrnasional FKG Usakti 1993, bahwa analisa golongan darah dari pulpa gigi merupakan identifikasi golongan darah untuk pelaku maupun korban adalah dengan cara Absorpsi-Ellusi (Lukman, 1994). Analisa laboratoris dengan metode Absorpsi-Ellusi dari jaringan pulpa gigi dibuat sebagai berikut (Lukman, 1994): 1. Gigi yang masih terdapat jaringan pulpa diambil sebagai bahan. 2. Gigi tersebut ditumbuk dalam lubang besi sehingga hancur menjadi bubuk. 3. Bubuk gigi tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang terbagi menjadi tiga tabung. 4. Kemudian ke dalam masing-masing tabung dimasukkan Antisera: ke tabung I, ke tabung II, ke tabung III 5. Ketiga tabung tersebut dimasukkan/ disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 50 C selama 24 jam sehari-semalam. 6. Kemudian dicuci dengan Saline Solution sebanyak 7 kali. 7. Larutan saline dibuang dari tabung tetapi endapan tidak terbuang. 8. Ketiga tabung diteteskan aquades sebanyak 2 tetes dengan pipet. 9. Kemudian ketiga tabung tersebut dipanaskan dengan suhu 560 C selama 12 menit. 10. Tabung-tabung tersebut kemudian diangkat dari tungku pemanas. 11. Kemudian kedalam ketiga tabung tersebut dimasukkan sel Indikator: A, B, dan O dengan konsentrasi 3%-5%. 12. Kemudian ketiga tabung tersebut disentrifuge dengan alat pemutar agar terjadi penggumpalam (aglutinasi). 13. Dan akhirnya dilihat pada tabung mana yang menjadi penggumpalan (aglutinasi). Pada tabung yang terlihat penggumpalan merupakan identifikasi golongan darah dari hasil analisa laboratoris tersebut. Apabila hasil tersebut sebagai berikut (Lukman, 1994): 1. Dikatakan positif adalah jelas terlihat dengan visual terjadinya aglutinasi. 2. Apabila hasilnya meragukan maka penggumpalan tidak jelas.

3. Hasilnya dikatakan negatif bila tidak terjadi aglutinasi. 2.4.3.5 Identifikasi DNA

DNA merupakan kepanjangan dari Deoxyribonucleic Acid yang merupakan suatu materi dari tubuh manapun yang terdapat di dalam inti sel. Prof. Alec Jeffrey menemukan bahan DNA berbeda pada setiap individu, bahkan pada kembar identik sekalipun (Lukman, 1994). Proses analisa DNA: 1. Isolasi, ialah mengeluarkan dan memurnikan DNA dari dalam inti sel. Inti sel terlindungi oleh bagian-bagian jaringan dan sel. Pemisahan jaringan, pemisahan sel, pemecahan inti sel, pembersihan DNA dari sisa-sisa sel yang tidak diperlukan. 2. Restriksi, ialah memotong DNA yang telah dimurnikan. DNA yang dihasilkan dari pemurnian sangat panjang karenanya harus dipotong-potong terlebih dahulu dengan enzim. 3. Elektroforesa, ialah mengelompokkan hasil potongan DNA menurut panjang potongan tersebut. 4. Pelacakan atau probing, ialah menandai area khas yang dicari. Pelacak adalah potongan DNA pada lokasi indent yang khas di tengah untai DNA (Lukman, 1994).