Anda di halaman 1dari 32

BAB I LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olah-raga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada monopouse. Fraktur merupakan ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang akan mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis yang dapat menimbulkan respon berupa nyeri. Nyeri tersebut adalah keadaan subjektif dimana seseorang memperlihatkan ketidak nyamanan secara verbal maupun non verbal. Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan pengertian nyeri. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi, dan kegiatan yang biasa dilakukan. Pengelolaan nyeri fraktur, bukan saja merupakan upaya mengurangi penderitaan klien, tetapi juga meningkatkan kualitas hidupnya. Rasa nyeri bisa timbul hampir pada setiap area fraktur. Bila tidak diatasi dapat menimbulkan efek yang membahayakan yang akan mengganggu proses penyembuhan dan dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas, untuk itu perlu penanganan yang lebih efektif untuk meminimalkan nyeri yang dialami oleh pasien. Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri yaitu manajemen farmakologi dan manajemen non farmakologi. Salah satu cara untuk menurunkan nyeri pada pasien fraktur secara non farmakologi adalah diberikan kompres dingin pada area nyeri. Perawat harus yakin bahwa tindakan mengatasi nyeri dengan kompres dingin dilakukan dengan cara yang aman.

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


1

1.2 Rumusan Masalah a. Apakah definisi dari fraktur femur terbuka? b. Apakah anatomi dan fisiologi dari femur ? c. Apakah klasifikasi dari fraktur femur terbuka? d. Apakah etiologi dari fraktur femur terbuka? e. Bagaimana patofisiologi dari fraktur femur terbuka? f. Apakah manifestasi klinis yang terjadi pada fraktur femur terbuka ? g. Apakah komplikasi yang terjadi pada fraktur femur terbuka? h. Apakah pemeriksaan penunjang dari fraktur femur terbuka? i. Apakah asuhan keperawatan klien dengan fraktur femur terbuka? 1.3 Tujuan Masalah a. Untuk mengetahui definisi dari fraktur femur terbuka b. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari femur c. Untuk mengetahui klasifikasi dari fratur femur terbuka d. Untuk mengetahui etiologi dari fraktur femur terbuka e. Untuk mengetahui patofisiologi dari fraktur femur terbuka f. Untuk mengetahui manifestasi klinis yang terjadi pada fraktur femur terbuka g. Untuk mengetahui komplikasi yang terjadi pada fraktur femur terbuka h. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari fraktur femur terbuka i. Untuk mengetahui keperawatan klien dengan fraktur femur terbuka

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


2

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Definisi Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan ditentukan sesuai dengan jenisnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat di absorbsinya (Smeltzer & Bare, 2002 : 2357). Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. (Price, 2006 : 1365). Fraktur adalah terputusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. Patah tulang dapat terjadi dalam keadaan normal atau patologis. Pada keadaan patologis, misalnya kanker tulang atau osteoporosis, tulang menjadi lebih lemah. Dalam keadaan ini, kekerasan sedikit saja akan menyebabkan patah tulang. (Oswari , 2005 : 144). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontiunitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005 : 840). Fraktur terbuka adalah suatu fraktur dimana terdapat hubungan antara patah tulang dengan dunia luar. Fraktur femur adalah terputusnya kontiunitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok (FKUI dalam Jitowiyono, 2010 : 15). Pasien datang dengan paha yang membesar, mengalami deformitas dan nyeri sekali dan tidak dapat menggerakan pinggul maupun lututnya. Fraktur dapat transversal, oblik, spiral maupun kominutif. Sering pasien mengalami syok, karena kehilangan darah 2 sampai 3 unit kedalam jaringan, sering terjadi pada faktur ini (Smeltzer & Bare, 2002:2379).

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


3

Dari beberapa definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa pengertian fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa atau kekerasan, bisa dalam keadaan normal atau patologis. 2.2 Anatomi dan Fisiologi Femur atau tulang paha adalah tulang terpanjang dari tubuh. Tulang itu bersendi dengan asetabulum dalam formasi persendian panggul dan dari sini ia menjulur medial ke lutut dan membuat sendi dengan fibra. Tulangnya berupa tulang pipa dan mempunyai sebuah batang dan dua ujung Ujung atas memperlihatkan sebuah kepala yang menduduki dua pertiga dari daerah itu. Di puncaknya ada lekukan seperti bentuk kulit telur dengan permukaan kasar, untuk kaitannya ligamentum teles. Dibawah kepala ada leher yang panjang dan gepeng. Pada dataran, ditempat leher menjadi batang, disebelah luar terdapat trokhanter mayor dan disebelah belakang dan tengah terdapat trokhanter minor. Pada dasar leher dari tulang ada dua garis yang menghubungkan trokhanter mayor dan minor yaitu garis intertrokhanter di depan, dan kista intertrokhanter di sebelah belakang. Yang terakhir ditandai oleh sebuah tuberkel dari lubang yaitu kwadratum di pertengahan panjangnya. Batang femur berbentuk silinder, halur dan bundar di depan dan di sisinya. Melengkung ke depan dan belakangnya ada belebas yang sangat jelas disebut linea aspera, tempat kaitan sejumlah otot diantaranya adduktor dari paha.(Peace, Evelyn :1999) Fisiologi Fungsi tulang : a) Menahan seluruh bagian-bagian bagan supaya jangan rubuh b) Tempat melekatnya otot dan untuk pergerakan tubuh dengan perantaraan otot c) Tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah d) Memberi bentuk pada bangunan tubuh e) Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium dan posfor (Anatomi dan Fisiologi, Syaifuddin )

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


4

Klasifikasi tulang: a) Berdasarkan bentuknya Tulang panjang, bentuknya panjang seperti pipa contoh: tulang humerus, tulang tibia, tulang femur Tulang pendek, bentuknya pendek dan tidak teratur, contoh: tulang vertebra Tulang pipih, bentuknya lebar tetapi tipis, contoh: tulang wajah. Jaringan tulang muda yaitu jaringan yang lebih dekat dari jaringan ikat biasa, selselnya disebut kondrosit dan sel yang masih muda disebut kondroblas. Jaringan tulang keras. Bersifat sangat keras, tidak dapat dipotong dengan pisau karena banyak mengandung zat kapur. 2.3 Klasifikasi fraktur Secara umum, fraktur dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu : a) Berdasarkan sifat fraktur : a) Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. b) Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Klasifikasi menurut Gastilo dan Anderson dari derajat patah tulang : 1. Derajat 1 Luka < 1 cm. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk. Fraktur sederhana, transversal, oblik atau kominutif ringan. Kontaminasi minimal Laserasi > 1 cm. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap / arulsi.

b) Berdasarkan strukturnya

2. Derajat 2

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


5

Fraktur kominutif sedang. Kontaminasi sedang.

3. Derajat 3 Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luar meliputi struktur kulit, otot dan neuro vaskuler serta keutamaan derajat tinggi secara otomatis, Gustilo membagi lagi menjadi 3 bagian : Derajat III Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas / flap / avulsi / fraktur segmental / sangat kuminatif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. Derajat III B Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi. Derajat III C Luka pada pembuluh arteri / saraf perifer yang harus dan perbaiki tanpa melihat keruskaan jaringan lunak. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000 : 347)

Gambar 1 : Close fraktur dan Open fraktur b) Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur. a) Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
6

b) Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma. a) Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. b) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga. c) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. d) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. e) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang. d) Berdasarkan jumlah garis patah. a) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. b) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan. c) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang. a) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.

c)

e)

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


7

b) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas: f) Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping). Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut). Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

Berdasarkan letak anatomi fraktur femur a) Fraktur collum femur Fraktur collum femur sering terjadi pada usia diatas 60 tahun dan lebih sering pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan menopause. Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung, yaitu misalnya penderita jatuh pada posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras atau disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi dari tungkai bawah b) Fraktur subtrochanter femurFraktu subtrochanter femur merupakan fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor. Fraktur ini dapat diklasifikasikan kembali berdasarkan posisi garis patahnya, yaitu : Tipe 1 Tipe 2 minor. Tipe 3 : garis patah berada 2-3 inchi dibawah batas atas trochanter minor c) Fraktur batang femur Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Patah tulang yang terjadi pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak dan mengakibatkan penderita jatuh dalam kondisi syok. Salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka berhubungan dengan daerah yang patah. d) Fraktur femur supracondylar Fraktur ini relative lebih jarang dibandingkan fraktur batang femur. Seperti halnya fraktur batang femur, fraktur supracondylar dapat dikelola secara konservatif dengan traksi skeletal dengan lutut dalam posisi fleksi 90. Fraktur supracondiler : garis fraktur 1 level dengan trochanter minor : garis patah berada 1-2 inchi dibawah dari batas atas trochanter

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


8

pada fragmen bagian distalselalu terjadi dislokasi secara posterior. Biasanya fraktur supracondylar ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus dan varus dan disertai gaya rotasi. e) Fraktur femur intercondyler Fraktur ini juga relative jarang dan biasanya terjadi akibat jatuh dengan keadaaan fleksi dari ketinggian. Permukaan belakang patella berbentuk baji, melesak kedalam sendi lutut dan mengganjal diantara kedua kondilus dan salah satu atau keduanya retak. Pada bagian proksimal kemungkinan terdapat komponen melintang sehingga didapati fraktur dengan garis fraktur berbentuk T atau Y. 2.4 Etiologi Menurut Sachdeva dalam Jitowiyono dkk (2010: 16), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu : a) Cedera traumatic Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : a) Cedera langsung berarti pukulan/kekerasan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan ditempat itu. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. b) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. b) Fraktur patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : a) Tumor tulang (jinak atau ganas), pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. b) Infeksi seperti osteomielitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri. c) Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh difisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


9

diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. c) Secara spontan Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran (Jitowiyono dkk, 2010:16). 2.5 Patofisiologi Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang : a) Inflamasi Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. b) Proliferasi sel Dalam sekitar 5 hari, hematome akan mengalami organisasi. Terbentuk benangbenang fibrin dalam jendela darah , membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. c) Pembentukan kalus Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang di gabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan. d) Penulangan kalus (osifikasi) Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dan keras. Penulangan perlu waktu 3-4 bulan. e) Remodeling menjadi tulang dewasa Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
10

waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan stres fungsional pada tulang (Smeltzer & Bare, 2002:2268). 2.6 Manifestasi Klinis 1. Deformitas Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a) Rotasi pemendekan tulang b) Penekanan tulang 2. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 3. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous 4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5. Tenderness/keempukan 6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. 7. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8. Pergerakan abnormal 9. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 10. Krepitasi (Black, 1993 : 199). 2.7 Komplikasi Komplikasi Fraktur terbagi atas: 1. Komplikasi segera a) Kerusakan arteri dapat berupa terputusnya arteri, spasme arteri, penekanan arteri dan trombosisi arteri b) Sindrom kompertemen dibentuk oleh otot, tulang, saraf dan pembuluh darah dan dibungkus oleh membran fibrosa. Kompartemen adalah ruangan yang tertutup. Karena adanya trauma, edema, perdarahan menyebabkan tekanan pada otot, saraf dan

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


11

pembuluh darah. Kompartemen sindrom adalah nyeri istemik yang tidak dapat hilang dengan narkotika c) Emboli lemak, jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang fatal dan menyebabkan kematian sebesar 20 % dari seluruh kematian akibat fraktur. Emboli berasal dari lemak sumsum tulang dan jaringan lemak. Kemudian melalui robekan vena masuk ke sirkulasi vena paru-paru, bersama lemak globules melewati kapiler paru masuk ke sirkulasi sistemik dan menuju ke otak, ginjal, jantung dan kulit d) Infeksi sebagai akibat dari kontaminasi fraktur terbuka e) Syock, fraktur dapat merusak pembuluh darah, resiko terjadi pada tulang femur dan tulang pelvis. 2. Komplikasi lanjut a) Mal union adalah keadaan dimana fraktur sembuh pada saatnya tetapi terdapat deformitas yang terbentuk angulasi, rotasi, kependekan. b) Delay union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan c) Non Union apabila fraktur tidak sembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan konsiliasi (Brunner and Suddarth, 2002) 2.8 Pemeriksaan Penunjang a) Pemeriksaan Rontgen: menentukan lokasi/ luasnya fraktur/ trauma b) Skan tulang, tomogram, skan CT/ MRI : memperlihatkan fraktur ; juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak c) Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai d) Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi atau menurun perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Pengingkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma e) Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin klirens ginjal f) Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfuse multiple, atau cedera hati

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


12

2.9 Penatalaksanaan a) Penatalaksanaan fraktur prinsipnya adalah dengan 4-R : 1. Recognisi : riwayat dari terjadinya fraktur sampai didiagnosa fraktur 2. Reduksi : upaya memanipulasi fragmen tulang 3. Retensi : memelihara reduksi sampai penyembuhan 4. Rehabilitasi : upaya untuk pencapai kembali fungsi tulang secara normal b) Beberapa intervensi yang diperlukan. 1. Intervensi Terapeutik atau konservatif Proteksi dengan mitela atau pembebatan fraktur diatas dan dibawah sisi cidera sebelum memindahkan pasien. Pembebatan atau pemdidaian mencegah luka dan nyeri yang lebih jauh dan mengurangi adanya komplikasi. a) Immobilitas Dilakukan dalam jangka waktu berbeda-beda untuk kesembuhan fragmen yang dipersatukan dengan pemasangan gips b) Memberikan kompres dingin untuk menentukan perdarahan, edema dan nyeri c) Meninggikan tungkai untuk menurunkan edema nyeri d) Kontrol perdarahan dan memberikan penggantian cairan untuk mencegah syock. e) Traksi untuk fraktur tulang panjang Sebagai upaya menggunakan kekuatan tarikan untuk meluruskan dan immobilisasi fragmen tulang. f) Reposisi tertutup atau fiksasi dengan gips Pada fraktur supra kondilus, reposisi dapat dilaksanakan dengan anestesi umum atau lokal. 2. Pemberian Diet Pemberian diet TKTP dan zat besi untuk mencegah terjadinya anemia. 3. Intervensi farmakologis a) Anestesi local, analgesic narkotik, relaksasi otot atau sedative diberikan untuk membantu klien selama prosedur reduksi tertutup. b) Anestesi dapat diberikan Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
13

c) Analgesic diberikan sesuai petunjuk untuk mengontrol nyeri pada pasca operasi ATS diberikan pada pasien tulang complicated 4. Intervensi operatif a) Reduksi untuk memperbaiki kontinuitas tulang Reduksi Tertutup Fragmen tulang disatukan dengan manipulasi dan traksi manual untuk memperbaiki kesejajaran gips atas dan bebat dipasang, untuk reduksi. mengimmobilisasi ekstremitas mempertahankan

Diperlukan suatu kontrol radiology yang diikuti fiksasi interna. Reduksi terbuka dan fiksasi internal / ORIF Fiksasi interna dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi fraktur. Memasukkan paku, sekrup atau pen atau plat ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Fragmen tulang secara langsung terlihat dan alat fiksasinya digunakan untuk memegang fragmen tulang dalam posisi. Terjadi penyembuhan tulang dan dapat diangkat bila tulang sembuh. Setelah penutupan luka, beban atau gips untuk stabilisasi dan sokong tambahan.

Gambar 2 : Fiksasi Interna b) Penggantian endoprostetik Penggantian fragmen dengan alat logam terimplantasi dan digunakan bila terakhir mengganggu nutrisi tulang atau pengobatan pilihan adalah penggantian tulang. Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
14

2.10

Pathway

2.11

Asuhan keperawatan a) Pengkajian A. Anamnese 1) Identitas klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor register, tanggal MRS, diagnose medis. 2) Keluhan utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan : P : apakah ada peristiwa yang menjadi factor presipitasi nyeri. Q : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti dibakar, berdenyut atau menusuk. R : apakah rasa sakit itu bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


15

S : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. T : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari 3) Riwayat penyakit sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan. 4) Riwayat penyakit dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit menyambung. Selain itu penyakit diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang. (Ignativicus, Donna D, 1995) 5) Riwayat penyakit keluarga Riwayat penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu factor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteophorosis,yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetic. (Ignativicus, Donna D, 1995) 6) Riwayat psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga maupun masyarakat. (Ignativicus, Donna D, 1995) 7) Pola-pola fungsi kesehatan a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
16

Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak. b. Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. c. Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur femur tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. d. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur e. Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


17

terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain. f. Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap. g. Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995). h. Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995). i. Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995). j. Pola Penanggulangan Stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif (Ignatavicius, Donna D, 1995). k. Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien (Ignatavicius, Donna D, 1995).

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


18

B. Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. 1. Gambaran Umum Perlu menyebutkan: a) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti: Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. 2. Secara head to toe a) Sistem integument Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan. b) Kepala Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala. c) Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada. d) Muka Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema. e) Mata Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
19

Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan) f) Hidung Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung. g) Mulut dan Faring Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat. h) Thoraks Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris. i) Paru Inspeksi Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. Palpasi Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama. Perkusi Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. Auskultasi Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi. j) Jantung Inspeksi Tidak tampak iktus jantung. Palpasi Nadi normal. Auskultasi Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur. k) Abdomen Inspeksi Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
20

Palpasi Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba. Perkusi Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.

l) Inguinal-Genetalia-Anus Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.

3. Keadaan Lokal Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: a) Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). Fistulae. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal). Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas). Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)

b) Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
21

Yang perlu dicatat adalah: Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal). Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan ukurannya. 4. Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. C. Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray: Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
22

perlu

dideskripsikan

permukaannya,

konsistensinya,

pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan

Bayangan jaringan lunak. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.

Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti: Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya. Myelografi: akibat trauma. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. 2) Pemeriksaan Laboratorium Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang. 3) Pemeriksaan lain-lain Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


23

Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

b) Diagnosa keperawatan Menurut Sumijantun (2010:189), diagnosa keperawatan merupakan langkah kedua dari proses keperawatan yang menggambarkan penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat terhadap permasalahan kesehatan baik aktual maupun potensial. Adapun diagnosa keperawatan pada kasus fraktur femur menurut Suratun (2008:67) adalah : 1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan imobilisasi. 2. Potensi perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat yang mengikat, dan ganguan peredaran darah. 3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian. 4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips. 5. Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak muskuloskeletal. 6. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan kehilangan cairan. 7. Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan c) Intervensi

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


24

Menurut

Sumijantun

(2010:203),

perencanaan

adalah

fase

proses

keperawatan yang sistematik mencakup pembuatan keputusan dan pemecahan masalah. Adapun perencanaan keperawatan pada klien dengan post op fraktur femur menurut Suratun dkk, (2008:66) adalah: Diagnosa 1 Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan imobilisasi Tujuan : nyeri berkurang atau hilang Kriteria hasil: a) Nyeri berkurang/hilang b) klien tampak tenang Intervensi: a) Kaji tingkat nyeri pasien Rasional : Mengetahui skala nyeri pada pasien b) Tinggikan ekstremitas yang dioperasi Rasional : Membantu mengontrol edema agar nyeri berkurang c) Kompres dingin bila perlu Rasional : Untuk mengontrol nyeri dan edema d) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi Rasional : Hal ini dapat mengurangi dan mengontrol nyeri e) Kolaborasi dalam pemberian obat analgesic Rasional : Untuk mengontrol nyeri Diagnosa 2 Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat yang mengikat, gangguan peredaran darah. Tujuan : memelihara perfusi jaringan adekuat Kriteria hasil: tidak ada sianosis Intervensi: a) Pantau status neurovaskular, warna kulit, suhu, pengisian kapiler, denyut nadi, nyeri, edema. Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
25

Rasional : parastesi pada bagian yang dioperasi, dan laporkan segera pada dokter bila ada temuan yang mengarah pada gangguan. b) Anjurkan latihan otot Rasional : untuk mencegah atrofi otot. c) Anjurkan latihan pergelangan kaki dan otot betis setiap jam Rasional : untuk memperbaiki peredaran darah Diagnosa 3 Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian tujuan : memelihara kesehatan kriteria hasil: klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : a) Anjurkan pasien berpartisipasi dalam program penanganan pasca operatif Rasional : Membantu dalam proses keperawatan b) Diet seimbang dengan protein dan vitamin adekuat sangat diperlukan Rasional : Untuk keshatan jaringan dan penyembuhan luka c) Anjurkan banyak minum minimal 2 sampai 3 liter perhari Rasional : Memenuhi kebutuhan cairan d) Observasi adanya gangguan integritas kulit pada daerah yang tertekan Rasional : Untuk mengetahui sedini mungkin adanya gangguan e) Ubah posisi tidur dalam setiap 2-3 jam sekali Rasional : Untuk mencegah adanya penekanan pada kulit f) Bantu klien dalam pelaksanaan hyegien personal Rasional : Untuk menghindari adanya kerusakan pada kulit g) Libatkan keluarga dalam pemeliharaan kesehatan Rasional : Membantu dalam pemeliharaan kesehatan pasien Diagnosa 4 Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur pembedahan, adanya imobilisasi, (bidai, gips, traksi) Tujuan : memperbaiki mobilitas fisik normal Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
26

Kriteria hasil: melakukan pergerakan dan pemindahan Intervensi : a) Kaji tingkat kemampuan mobilitas fisik Rasional : Mengetahui tingkat kemampuan mobilitas klien b) Tinggikan ektremitas yang bengkak, anjurkan latihan ROM sesuai kemampuan Rasional : Untuk memperlancar peredaran darah sehingga mengurangi pembengkakan c) Anjurkan pasien berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi d) Pantau daerah yang terpasang pen, skrup batang dan logam yang digunakan sebagai fiksasi interna Rasional : Untuk memperbaiki tingkat mobilitas fisik e) Anjurkan menggunakan alat bantu saat sedang pasca operasi, sebagai tongkat Rasional : Ini dilakukan untuk mempertahankan posisi tulang sampai terjadi penulangan, tetapi tidak dirancang untuk mempertahankan berat badan. f) Pantau cara berjalan pasien. Perhatikan apakah benar-benar aman. Rasional : Untuk mengurangi stres yang berlebihan pada tulang Diagnosa 5 Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak masalah musculoskeletal Tujuan : terjadi peningkatan konsep diri Kriteria hasil: klien dapat bersosialisasi Intervensi : a) Libatkan pasien dalam menyusun rencana kegiatan yang dilakukan Rasional : Mempercepat rencana tindakan keperawatan b) Bantu pasien menerima citra dirinya serta beri dukungan, baik dari perawat, keluarga maupun teman dekat. Rasional : Stres,dan menarik diri akan mengurangi motivasi untuk proses penyembuhan

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


27

Diagnosa 6 Resiko tinggi komplikasi (syok hipovolemik) berhubungan dengan kehilangan cairan. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria hasil: Klien tampak tenang Intervensi : a) Pantau dan catat kehilangan darah pada pasien ( jumlah,warna) Rasional : Memantau jumlah kehilangan cairan b) Pantau adanya peningkatan denyut nadi dan penurunan tekanan darah Rasional : Ini merupakan tanda awal syok c) Pantau jumlah urin Rasional : Jika urin kurang dari 30 cc/ jam, itu merupakan tanda syok d) Pantau terjadinya gelisah, penurunan kesadaran dan haus Rasional : Rasa haus merupakan tanda awal syok e) Pantau pemeriksaan laboratorium, terutama penutunan HB dan HT. Rasional : Mengetahui terjadinya hemokosentrasi dan terjadinya syok hipovolemik. Diagnosa 7 Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan Tujuan : tidak terjadi infeksi Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus Intervensi : a) Pantau tanda vital Rasional : Peningkatan suhu tubuh diatas normal menunjukan adanya tanda infeksi b) Ganti balutan luka dengan teknik aseptik, sesuai dengan program. Rasional : Mencegah kontaminasi dan infeksi nasokomial c) Pantau luka operasi dan catat cairan yang keluar

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


28

Rasional : Adanya cairan yang keluar dari luka menunjukan adanya infeksi pada luka d) Pemberian antibiotik intra vena jangka panjang Rasional : Untuk mencegah osteomyelitis d) Pelaksanaan Adalah tahap pelaksanaan atau implementasi terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah dibuat atau ditetapkan untuk perawat bersama klien ataupun tenaga kesehatan lainnya guna mengatasi masalah kesehatan klien. Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah divalidasi sesuai dengan kebutuhan klien. Evaluasi Merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah tahap pelaksanaan tidakan keperawatan dengan tujuan dan criteria hasil yang diharapkan dalam tahap perrencanaan. Perawat mempunyai 3 alternatif dalam mengevaluasi atau menentukan sejauh mana tujuan tersebut tercapai, diantaranya adalah : 1. Tujuan tercapai 2. Tujuan teratasi sebagian 3. Tujuan belum tercapai : jika data subjektif dan objektif ditemukan pada : jika data subjektif dan objektif yang ditemukan : jika data subjektif dan objektif yang ditemukan saat evaluasi telah memenuhi kriteria hasil. hanya sebagian yang sesuai dengan kriteria hasil. tidak sesuai dengan kriteria hasil.

e)

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


29

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan 1. Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan ditentukan sesuai dengan jenisnya, disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung dan akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. 2. Klasifikasi fraktur Secara umum, fraktur dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu a). Berdasarkan sifat fraktur : Faktur tertutup (Closed), fraktur terbuka (open/compund) b). Berdasarkan komplit atau ketidak klomplitan fraktur : Fraktur Komplit, Fraktur Inkomplit. c). Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma: Fraktur Transversal, Fraktur Oblik Fraktur Spiral, Fraktur Kompresi, Fraktur Avulsi. d). Berdasarkan jumlah garis patah : Fraktur Multiple, Fraktur Segmental, Fraktur Komunitif e). Berdasarkan pergeseran fragmen tulang : Fraktur Undisplaced (tidak bergeser), Fraktur Displaced (bergeser) f). Berdasarkan letak anatomi fraktur femur : Fraktur collum femur, Fraktur subtrochanter, Fraktur batang femur, Fraktur femur supracondylar, Fraktur femur intercondyler 3. Etiologi fraktur dibagi menjadi 3, yaitu : cidera traumatik, fratur patologik, secara spontan. 4. Manifestasi klinik : Echumosis dari Perdarahan Subculaneous, Spasme otot spasme involunters dekat fraktur, Tenderness/keempukan, Bengkak, Deformitas, Nyeri , Kehilangan sensasi, Pergerakan abnormal, Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah, Krepitasi. 5. Komplikasi lanjut : Mal union, delay union, Non Union Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka
30

6. Askep : pada pemeriksaan fisik Yang perlu dicatat adalah: - Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. - Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. - Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal). Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya. 3.2. Saran Dengan adanya penjelasan tentang asuhan keperawatan fraktur femur terbuka diatas, diharapkan pembaca dapat mengerti dan memberikaan asuhan keperawatan yang tepat kepada klien dengan fraktur femur terbuka.

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


31

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta, 1999 Dongoes M.E (1989) Nursing Care Plan, Guidelines For Planning Patient Care (2nd ed). Philadelpia, F. A. Davis Company Ignativicus, Donna D, Medical Surgical Nursing, A Nursing Proccess Approach, W. B. Saunder Company, 1995 Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company. Mansjoer, Arif (et. al). (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (edisi 3). Jakarta : Media Aesculapius. Potter & Perry. (2005). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4 vol 1. Jakarta: EGC Smeltzer, S. C (2008). Medical Surgical Nursing, Brunner & Suddarth, Ed 8 Jakarta, EGC. http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/02/klasifikasi-fraktur.html (diakses tanggal 13 April 2013) http://fakhrudin87.blogspot.com/2010/08/asuhan-keperawatan-fraktur-femur.html tanggal 13 April 2013) http://indokeperawatan.wordpress.com/2011/02/14/fraktur-femur-askep/ (diakses tanggal 13 April 2013) http://febbybroken.blogspot.com/2009/03/pengkajian-klien-dgn-fraktur.html (diakses tanggal 14 April 2013) (diakses

Keperawatan Medikal Bedah-Fraktur Femur Terbuka


32