Anda di halaman 1dari 3

Bangunan yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk atau danau sering kali kita menyebutnya

bendungan atau dam. Malang memiliki bendungan yang memiliki banyak fungsi dan manfaat. Kalau kita pergi ke arah selatan kota Malang akan menemui bendungan Sutami dan di sebelah baratnya akan kita temui bendungan Selorejo yang tak kalah elok panoramanya. Perusahaan Umum Jasa Tirta (PJT) I sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola sumber daya air, pengelolaan mencakup pengelolaan daerah tangkapan hujan, pengelolaan kuantitas air, pengelolaan kualitas air, pengendalian Banjir dan pengelolaan lingkungan sungai. Sebagai BUMN pengelola sumber daya air mempunyai tugas pokok salah satunya operasi dan pemeliharaan prasarana pengairan yaitu bendungan bendungan yang dibangun oleh proyek Brantas. Bedungan Selorejo dan Bedungan Sutami (dulu karangkates) salah satu bendungan yang dikelola Perum yang berdiri sejak 1963 tersebut. Bendungan Selorejo yang terletak di kecamatan Ngantang memiliki manfaat dan tujuan pengendalian banjir, pemberian air irigasi, pembangkit tenaga listrik dan manfaat lainnya yakni perikanan darat dan pariwisata. Selorejo memiliki design bendungan tipe urukan (earthfill dam) yakni jenis tanggul dari tanah yang ditimbun dan dikeraskan. Menurut Mariyadi, kepala sub divisi ASA (air dan Sumber air) III tipe ini lebih kuat dan biaya operasionalnya lebih murah. Kelebihan dari tipe urukan, bendungannya lebih kuat dan lebih murah dalam biaya operasionalnya. Jelasnya. Sedangkan syarat untuk membangun bendungan membutuhkan dana yang cukup besar, ada daerah tampungan air, pondasi tanah untuk menompang bangunan harus kuat, material marerial disekitar lokasi yang akan dibangun tersedia banyak. Material seperti batu dan pasir harus tersedia banyak sehingga meminimalisir biaya pembangunan yang membutuhkan biaya besar. tambah pria alumnus S1 Teknik Sipil Universitas Diponegoro. Sementara Bendungan Sutami yang terletak di desa Karangkates, Sumberpucung kabupaten Malang ini memiliki design bendungan tipe timbunan batu (Rockfilldam) yaitu bendungan dengan menggunakan beton dan timbunan batuan. Karakteristik tubuh bendungan adalah panjang puncak adalah 823,5 meter, elevasi puncak EL 279 meter lebar puncak 13,7 meter, tinggi bendungan 100 meter, volume timbunan 6.156.000 m3, dan panjang lebar dasar adalah 400 meter. Tipe rokcfill dam yang dimiliki bendungan sutami ini dengan bahan baku dari batu batu besar jelas Soni, pengamat pra sarana pengairan bendungan Karangkates. Sistem alokasi air agar penyediaan air terpenuhi sepanjang tahun dimana ketika musim penghujan tidak banjir dan pada musim kemarau tidak kekurangan Perum Jasa Tirta I menerapkan sistem pola alokasi air. Pola alokasi air musim basah diatur pada bulan November sampai Juni yakni pada musim penghujan, air direndahkan dan pola alokasi musim kering diatur pada bulan Juni sampai November, air dinaikkan karena musim kemarau. Begitu juga dengan monitoring agar air tidak terbuang sia sia (overflow) JPT I, Pembangkit Jawa Bali (PJB), Dinas Pengairan, dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) bersama sama menetapkan pola operasi debit air 6 bulan sekali. Kami (PJT I) menetapkan debit air 6 bulan sekali bersama PJB, Dinas Pengairan dan PDAM. Lanjut pria alumnus ITN Malang Jurusan Teknik sipil tersebut.

Agar kerja bendungan stabil dan selalu terapantau, maka bendungan dipantau dengan intrument keamanan bendungan. Seperti yang paparkan Supriono, staff pengamat pra sarana pengairan bendungan Selorejo menerangkan bahwa ada empat intrument dalam menjaga keamanan bendungan. Patok sentlement point untuk mengetahui pergeseran tanah, ground water level berupa 25 buah pipa untuk mengetahui naik turunnya elevasi permukaan tanah, Pore Presure Meter (PPM) intrument untuk mengetahui tekanan tanah dan Spring water untuk mengetahui besar kecilnya resapan air waduk. Senada dengan Supriono, Soni menjabarkan tugas sebagai pengamat mencakup eksploitasi dan observasi. Eksploitasi disini perhitungan debit air masuk turbin yang disebut outflow dan debit air masuk waduk yang dinamakan inflow. Dan tugas observasi meliputi intrument keamanan bendungan. Pungkas pria asli Malang tersebut. Kendala yang dialami dalam perawatan dan pengoperasian bendungan ini Supriono mengungkapkan selain kendala debit air dan daya resapan air yang tidak normal sedimentasi menjadi kendala pengoperasian bendungan. Sedimentasi mengakibatkan pengaruh kapasitas waduk berkurang sehingga menganggu turbin untuk bergerak. Hal senada diungkapkan Mariyadi kendala faktor lingkungan seperti hutan gundul yang mengakibatkan sedimentasi, sampah penduduk yang dibuang ke DAS (daerah aliran sungai) dan limbah industri yang menghambat kerja bendungan. Hutan gundul mengakibatkan tanah longsor, sampah sampah warga dan limbah indutri kendala yang harus segera ditangani sekarang, tutur pria asli Madiun tersebut. Lain halnya dengan Supriono, Soni mengalami kendala pada perawatan dan pengoperasia bendungan Sutami hanya pada faktor tanah longsor yang mengakibatkan sedimentasi. Untuk sampah dari penduduk tidak menjadi hambatan tapi untuk sedimentasi akibat tanah longsor kami sekarang sedang mengatasinya. Tegas pria memiliki dua putra ini. Normalnya fungsi bendungan pada resevoir untuk 100 tahun laju sedimentasi mencapai 60 %, namun sekarang masih 35 tahun laju sedimentasi sudah mencapai 65%. Tegasnya menambahkan. Melihat fenomena sedimentasi dan menumpuknya sampah yang mengakibatkan pendangkalan sungai, Mariyadi berharap masyarakat sadar dan peduli lingkungan karena ini berakibat pada eksistensi bendungan yang memililki banyak fungsi terutama pengendalian banjir.Masyarakat harus sadar lingkungan, mulai dari tidak menbuang sampah pada sungai, mencuri batu di daerah sekitar dam dan illegal loging. Harapnya. Begitu juga dengan Soni yang menginginkan para penduduk sekitar agar turut menjaga bendungan agar tidak hancur. Kalau bendungan hancur, bendungan jadi tidak berfungsi lagi.tuturnya PLN Turut Menjaga Waduk Mengatasi hal ini pihak PJT I mengadakan pengerukan setahun sekali yang menghabiskan biaya hampir satu milyar. Selain cek dam yang kami lakukan satu bulan sekali untuk menaggulangi sedimentasi kami melakukan penggerukan pada resevoir (tempat tampungan air) yang menghabiskan sekitar Rp. 890.000,00. Jelas Mariyadi, sebelumnya ditempatkan di bendungan Wonorejo dengan kedudukan yang sama. Sedimentasi juga menjadi kendala pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). PLN dari pihak pedistribusian yang bertugas mengamankan waduk juga melaksanakan pengerukan untuk menahan laju sedimentasi yang cukup tinggi. Kami (PLN) juga bertugas mengamankan waduk, karena sedimentasi

yang terjadi berdampak pada usia ekonomis dua turbin yang membangkitkan listrik maka harus ada pengerukan. Jelas Dwi Tjahjo, supervisor operasi distribusi PLN. Bendungan yang juga berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik PLTA se-Jawa Bali dan sebagai pemasok utama listik pada PLN sekarang hanya mampu memasok listrik 5 10 % ke PLN karena PLN lebih banyak mendapatkan listrik dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dan PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap). Untuk Selorejo mampu memasok 70 kV dan untuk Sutami memasok sampai 150 kV, dan hanya 5 10 % PLTA se-Jawa Bali memasok listrik ke PLN. ungkap Dwi panggilan akrab pria yang bekerja di PLN sejak 1983. Namun PLTA masih sangat membantu untuk pemasokan listrik PLN, terutama saat musim hujan dan banjir, bendungan dioptimalkan agar menghasilkan listrik lebih banyak. Selain itu PLTA biaya operasionalnya lebih murah dibanding PLTU dan PLTGU yang mengunakan bahan bakar minyak dalam mengoperasikannya. Tambahnya. Dwi juga menjelaskan PLTA yang mengkonversikan tenaga air menjadi tenaga listrik.Air dikonversikan menjadi tenaga air dalam turbin, kemudian turbin air memutar generator yang membangkitkan listrik.tuturnya menjelaskan.