Anda di halaman 1dari 8

PERTEMUAN II KARAKTERISTIK LISTRIK SALURAN TRANSMISI (TAHANAN DAN REAKTANSI)

Yang dimaksud. dengan karakteristik listrik dari saluran. transmisi ialah konstantakonstanta saluran, yaitu : tahanan R, induktansi L, konduktansi G, dan kapasitansi C. Pada saluran udara konduktansi G sangat kecil. sehingga dengan mengabaikan konduktansi G itu perhitungan-perhitungan akan jauh lebih mudah dan pengaruhnya pun ini dalam batas-batas yang dapat diabaikan.

2.1 TAHANAN R Tahanan dari suatu konduktor (kawat penghantar) diberikan oleh: R= l A (2.1)

dimana = resistivitas; I = panjang kawat; dan A= luas penampang kawat. Dalam tabel-tabel yang tersedia sering dijumpai penampang kawat diberikan dalam satuan "Circular Mil", disingkat CM. Definisi dari CM ialah penampang kawat yang mempunyai diameter 1 mil (= 1/1000 inch). Bila penampang kawat diberikan dalam mm 2 maka penampang kawat dalam CM adalah: CM = 1973 X (Penampang dalarn mm2) atau penampang kawat dalam mm2 = 5,067x10 -4x(Penampang dalam CM Dalam sistem MKS satuan untuk resistivitas diberikan dalam ohm-meter, panjang dalam meter dan luas dalam meter kuadrat. Sistem yang lain (CGS), diberikan dalam mikro-ohm-centirneter, panjang dalam centimeter dan luas dalam centimeter kuadrat (tabel 2-2). Karena, pada umumnya kawat-kawat penghantar terdiri atas kawat-pilin (stranded conductors), maka sebagai faktor koreksi untuk memperhitungkan pengaruh dari pilin itu, panjang kawat dikalikan dengan 1,02 (2% faktor koreksi). Tahanan kawat berubah oleh temperatur. Dalam batas temperatur 10 0C sampai 1000C, maka untuk kawat tembaga dan aluminiurn berlaku rumus :
Rt 2 = Rt1 [1 + t1 (t 2 t1 )]

(2.2)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

11

dimana Rt2 = tahanan pada temperature t2; Rt1 = tahanan pada temperatur t1; dan t1 = koefisien temperatur dari tahanan pada temperatur t1 Co. Jadi,

Rt 2 = 1 + t1 (t 2 t 1 ) Rt1
atau:

(2.3)

Rt 2 T0 + t 2 = Rt1 T0 + t1

dimana:

t1 =

1 T0 + t1

atau

T0 =

t1

t1

(2.4)

Jelas kelihatan bahwa T0 ialah temperatur dimana tahanan kawat akan menjadi nol, bila persamaan linier yang sama berlaku untuk daerah temperatur itu. Dan bila ini maka T0 adalah sama dengan temperatur absolut 273 0C. Untuk tembaga (Cu) yang mempunyai konduktivitas 100%, koefisien temperatur dari tahanan pada 20 0 C adalah:

t1 = 0,00393 atau, T0 = (1/0,00393) - 20 = 234,5 0C


Untuk konduktivitas yang lain dari tembaga, berubah langsung dengan konduktivitasnya. Jadi untuk konduktivitas 97,5%,

20 = 0,00383 dan T0 = 241,00C


Untuk aluminium (Al) dengan konduktivitas 61%,

20 = 0,00403 dan T0 = 228,10C


Dalam tabel 2.1 diberikan harga-harga T0 dan untuk bahan-bahan konduktor standar. Tabel 2.1. Harga-harga T0 dan untuk bahan-bahan konduktor standar. Koefisien temperatur dari tahanan x 10 -3 0 4,27 4,15 4,38 20 3,93 3,83 4,03 25 3,85 3,76 3,95 50 3,52 3,44 3,60 75 3,25 3,16 3,30 80 3,18 3,12 3,25 100 2,99 2,93 3,05

Material Cu 100% Cu 97,5% Al 61 %

T0 0C 234,5 241,0 228,1

Dalam tabel 2.2 di bawah ini diberikan resistivitas dari bahan-bahan konduktor standar untuk berbagai temperatur. Tabel 2.2. Resistivitas dari bahan-bahan konduktor standar untuk berbagai temperatur.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

12

Material Cu 100% Cu 97,5% Al 61 %

0 1,58 1,63 2,60

20 1,72 1,77 2,83

Mikro-Ohm-cm 25 50 75 1,75 1,92 2,09 1,80 1,97 2,14 2,89 3,17 3,46

80 2,12 2,18 3,51

100 2,26 2,31 3,74

Tahanan arus searah yang diperoleh dari perhitungan-perhitungan di atas harus dikalikan dengan faktor: a. 1,0 untuk konduktor padat (solid wire), b. 1,01 untuk konduktor pilin yang terdiri dari 2 lapis (strand), c. 1,02 untuk konduktor pilin lebih dari dua lapis. Contoh 2.1: Hitunglah tahanan DC dari konduktor 253 mm 2 (500.000 CM) dalam ohm per km pada 250 C. Misalkan Cu 97,5%. Solusi: Dari tabel 2.2 diperoleh: 25 = 1,8 mikro-ohm-cm, dan untuk l = 1 km = 10 5 cm, A= 252 mm2 = 253 x 10 -2 cm2, maka:

R25 = 25

l 10 5 = 1,8 x10 6 x = 0,0711 ohm/km A 253 x10 2

Dengan memperhitungkan pengaruh lapisan (umumnya konduktor-konduktor terdiri atas lebih 3 lapis), maka: R25 = 1,02 X 0,0711 = 0,0726 Ohm/km Contoh 2.2: Tentukan tahanan DC dari ACSR 403 mm2 (795.000 CM) pada 250 C. ACSR ialah konduktor aluminium yang mempunyai inti besi yang gunanya untuk mempertinggi kekuatan tarik. Penampang konduktor itu (403 mm 2) tidak termasuk penampang baja, jadi hanya penampang Al saja. Solusi: Jadi, untuk Al konduktivitas 61% maka tahanan DC: R25 = 1,02 x 2,89 x 10-6 x

10 5 = 0,0731 ohm/km 403x10 2

2.2. INDUKTANSI DAN REAKTANSI INDUKTIF Dalam penurunan rumus-rumus untuk induktansi dan reaktansi induktif dari suatu konduktor biasanya diabaikan dua faktor, yaitu: a. Efek kulit (skin effect) dan b. Efek sekitar (proximity effect)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

13

Efek kulit adalah gejala pada arus bolak balik, bahwa kerapatan arus dalam penampang konduktor tersebut makin besar ke arah permukaan kawat. Tetapi bila hanya ditinjau frekuensi kerja (50 Hertz atau 60 Hertz), maka pengaruh efek kulit itu sa ngat kecil dan dapat diabaikan. Efek sekitar ialah pengaruh dari kawat lain yang berada di samping kawat yang pertama (yang ditinjau) sehingga distribusi fluks tidak simetris lagi. Tetapi bila radius konduktor kecil terhadap jarak antara kedua kawat maka efek sekitar ini sangat kecil dan dapat diabaikan.

2.2.1. Rangkaian Fasa Tunggal

Gambar 2.1 Medan magnit dari saluran fasa tunggal Gambar 2.1 memperlihatkan suatu saluran udara fasa tunggal. Diasumsikan bahwa arus mengalir dari penghantar a dan kemudian kembali melalui penghantar b. Arus ini menyebabkan medan magnit yang melingkupi antara penghantar-penghantar. Perubahan arus menyebabkan perubahan fluks, yang mana akan menyebabkan suatu tegangan terinduksi dalam rangkaian. Dalam suatu rangkaian ac (bolak balik), tegangan terinduksi ini disebut kejatuhan IX. Sepanjang rangkaian tertutup, jika R adalah resistansi dari masing-masing penghantar, maka rugi total pada tegangan karena resistansi adalah 2IR. Karena itu, kejatuhan tegangan (Vd)pada saluran fasa tunggal karena impedansi tertutup pada frekwensi 50 Hz adalah: GMD Vd = 2l R + j 0,14467 log I volt GMR dimana: Vd l R = kejathan tegangan karena impedansi saluran (volt) = panjang saluran (km) = resitansi maisng-masing penghantar (ohm/km) (2.5)

GMD = geometric means distance (meter)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

14

GMR = geometric means radius (meter) atau GMD sendiri dari satu penghantar = 0,7788r (r adalah jari-jari penghantar dalam meter) untuk penghantar selinder. I = arus fasa (amper). Karena itu induktansi penghantar (penghantar 1) diekspresikan sebagai:
Henri 1 L1 = 0,4605 x10 3 log r + 0,10857 + log d 12 km 1

(2.6) = La + L d dimana
Henri 1 La = 0,4605 x10 3 log r + 0,10857 km 1

(2.7)

pada jarak 1 meter dan, Ld = 0,4605 x10 3 log d12 Persamaan (2.7) Henri km (2.8)

mencerminkan sifat-sifat kawat (persamaan ini basa terkait

dengan komponen kawat) dan persamaan (2.8) mencerminkan jarakjarak kawat (terkait dengan komponen jarak). Dalam persamaan (2.7) dan (2.8) satuan panjang dari radius penghantar pertama (r1) dan jarak antara 2 penghantar (d12) dalam meter. Bila bentuk gelombang arus dan tegangan sinus, adalah lebih berguna, merubah induktansi menjadi reaktansi sesuai dengan relasi: X = 2 fL Jadi,
1 X 1 = 2,8934 x10 3 f log r + 0,10857 + log d 12 Ohm/km , 1

(2.9)
1 X a = 2,8934 x10 3 f log r + 0,10857 Ohm/km ; dan 1

X d = 2,8934 x10 3 f log d 12 Ohm/km , dan bila f = 50 Hz, maka persamaan (29)

menjadi:
1 X 1 = 0,14467 log r + 0,10857 + log d 12 Ohm/km 1

(2.10)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

15

1 X a = 0,14467 log r + 0,10857 Ohm/km ; dan X d = 0,14467 log d 12 Ohm/km 1

Persamaan (2.10) berlaku juga untuk kawat 2 dengan mengganti r1 dengan r2 Pernisahan X1 dalam dua komponen: komponen kawat dan komponen jarak sangat berguna bila harga-harga X1 akan diperoleh. dengan bantuan tabel-tabel yang telah tersedia, hal mana sangat berguna dan menghemat waktu dalam praktek. Dalam tabel 2.3, 2.4 dan 2.5 diberikan karakteristik-karakteristik listrik dari berbagai ukuran ACSR. Dalarn tabel-tabel tersebut diberikan juga besaran-besaran komponen kawat dan komponen jarak. Contoh 2.3: Suatu saluran fasa-tunggal dengan konduktor tembaga keras, 97,3%; 107,2 mm2 (4/0 atau 211.600 CM), 19 kawat elemen, dengan radius efektif 0,6706 cm. Jarak antara kedua kawat 1,5 meter. Tentukanlah reaktansi induktif saluran itu dalam ohm/km per kawat. Frekuensi kerja 50 Hertz. Solusi: Dari Persamaan (2.10):
1 X 1 = 0,14467 log r + 0,10857 + log d 12 Ohm/km 1

dimana r1 = radius konduktor dalam meter = 0,006706 meter, dan d12 = jarak antara kawat = 1,5 meter, maka:
1 X 1 = 0,14467 log 0,006706 + 0,10857 + log 1,5

= 0,144467 (2,17354 + 0,10857 + 0,17609) = 0,3556 Ohm/km untuk satu kawat Oleh pabrik pembuat kawat-kawat penghantar sudah disediakan tabel-tabel yang memberikan besaran-besaran elektrik dan mekanik dari setiap jenis dan ukuran kawat, antara lain: penampang kawat, diameter luar,GMR, kapasitas hantar arus, tahanan DC dan AC, reaktansi induktif dan kapasitif. Dengan pertolongan tabel-tabel ini perhitungan-perhitungan akan lebih cepat dan kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul, bila reaktansi-reaktansi harus dihitung dengan pertolongan rumus-rumus, dapat dihindarkan. Dalam tabel-tabel yang yang diberikan pada tabel 2.3, 2.4 dan 2.5, besaran-besaran sudah disesuaikan dengan penggunaan di Indonesia: penampang diberikan dalam mm2 dan dalam CM, radius dalam meter, jarak-jarak dalam meter, tahanan dan reaktansi dalam. ohm per km.

2.2.2. Penghantar Dengan n Kawat

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

16

Bila suatu penghantar terdiri atas n kawat (paralel), maka dengan jalan yang sama seperti dilakukan pada bagian sebelumnya dapat dicari induktansi dari kawat gabungan itu. Pandanglah suatu. penghantar yang terdiri atas n kawat. Pada umumnya penghantar transmisi itu terdiri atas banyak kawat yang saina dan dipilin, sesuai dengan rumus: Jumlah kawat n = 3 p2 + 3p +1 (2.11)

di mana, p = jumlah lapisan, tidak temasuk kawat pertama yang merupakan intinya. Jadi, bila p = 1, maka jumlah kawat = 7, dan bentuk penampangnya dapat dilihat pada gambar 2..2.

Gambar 2.2 Penampang penghantar 7 kawat

2.3 GMR DAN GMD 2.3.1. Radius Rata-Rata Geometris (GMR) Radius rata-rata geometris (GMR) dari suatu luas (area) ialah limit dari jarak rata-rata geometris (GMD) antara pasangan-pasangan elemen dalam luas itu sendiri bila jumlah elemen itu diperbesar sampai tak'terhingga. Atau dengan kata lain, khususnya untuk kawat bundar, GMR dari suatu kawat bundar ialah radius dari suatu silinder. berdinding yang sangat tipis inendekati nol. sehingga induktansi dari silinder itu sama dengan induktansi dari kawat asli.

2.3.2 Jarak Rata-Rata Geometris (GMD) a. Teori GUYE menyebutkan bila pada suatu lingkaran dengan radius r terdapat n titik yang jaraknya satu sama lain sama besar (gambar 2.3), maka GMD antara titik-titik itu adalah:
GMD = r n 1 n

(2.12)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

17

Gambar 2.3 Lingkaran dengan radius r dan n titik Jarak-jarak bersama antara pasangan-pasangan titik itu. adalah sama dengan nx(n 1) jarak-jarak, dan hasil perkalian. dari semua jarak-jarak itu adalah sama dengan pangkat n (n - 1) dari GMD-nya. b. GMD dari suatu titik terhadap lingkaran adalah jarak dari titik itu terhadap pusat lingkaran. c. GMD dari dua lingkaran dengan jarak titik-titik pusatnya d12 adalah d12

2.4. RANGKAIAN FASA TIGA Umumnya, jarak d12, d23, dan d31 antara penghantar dari saluran transmisi fasa tiga adalah sama. Untuk konfigurasi bagaimana pun yang diberikan, nilai rata-rata induktansi dan kapasitansi dapat diperoleh dengan merepresentasikan sistem oleh satu jarak ekuivalen yang sama. Jarak ekuivalen dihitung sebagai berikut:
Dek = 3 d12 d 23 d 31

(2.17)

Gambar 2.5 Transposisi saluran transmisi fasa tiga (tidak simetris)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK I

18