Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN TERBAIK PRAKTIKUM KIMIA IV

JUDUL PERCOBAAN : FOTOKIMIA REDUKSI ION BESI (III)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

PERCOBAAN 8 FOTOKIMIA REDUKSI ION BESI (III)

I. TUJUAN PERCOBAAN 1.1 Mempelajari reaksi reduksi besi (III) secara fotokimia dan mempelajari kegunaan untuk cetak biru. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fotokimia 2.1.1 Pengertian Fotokimia Fotokimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari interaksi antara atom, molekul kecil dan cahaya (atau radiasi elektromagnetik). Sebagaimana disiplin ilmu lainnya, fotokimia menggunakan sistem satuan SI atau metrik. Unit dan konstanta yang sering digunakan antara lain adalah meter, detik, hertz, joule, mol, konstanta gas R, serta kontanta Bolztmann. Semua unit dan konstanta ini juga merupakan bagian dari bidang kimia fisik. Fotokimia adalah ilmu yang mempelajari reaksi-reaksi kimia yang diinduksi oleh sinar secara langsung maupun tidak langsung. Reaksi termal biasa yang berlangsung dalam gelap memperoleh energi pengaktifan dari penyerapan foton cahaya oleh molekul-molekulnya. Karena itu reaksi ini memberikan kemungkinan selektivitas yang tinggi, yang berarti bahwa energi dari kuantum cahaya tepat sesuai untuk reaksi tertentu saja. Keadaan elektronik molekul yang tereksitasi mempunyai energi dan distribusi elektron yang berbeda dari keadaan dasar, sehingga sifat kimianyapun berbeda(Alberty, 1984). 2.1.2 Reaksi Fotokimia Reaksi fotokimia adalah reaksi kimia yang disebabkan oleh cahaya atau radiasi ultraviolet. Foton yang masuk diserap oleh molekul pereaksi menghasilkan molekul tereksitasi atau molekul radikal bebas, yang selanjutnya bereaksi lagi(Alberty, 1984).

2.2 Hukum Fotokimia Dalam fotokimia terdapat dua hukum dasar. Menurut hukum yang pertama dari Grothus (1817) dan Draper (1843), perubahan fotokimia hanya dapat ditimbulkan oleh cahaya yang diserap. Radiasi yang tidak diserap tetapi dapat mendorong molekul tereksitasi untuk memancarkan sinar. Hukum kedua fotokimia yang diusulkan oleh Stark dan Einstein (19081912) menyatakan bahwa molekul yang menyerap satu kuantum sinar masuk menjadi teraktifkan(Alberty, 1984). 2.3 Manfaat Fotokimia Fotosintesis merupakan suatu reaksi kimia yang memerlukan cahaya agar proses pembentukkan gula dari selulosa dapat terjadi dari CO2 dan H2O. Cahaya matahari membantu pembentukkan vitamin D di dalam tubuh. Pemutihan material kain dan sedotan biasannya menggunakan cahaya matahari. Cetak biru dikembangkan dengan memancarkan cahaya pada senyawa besi. Dalam dunia fotografi senyawa perak dan halogen mengalami perubahan oleh cahaya(Biddle, 1949). 2.4 Cetak Biru Pengolahan cetak biru masih sangat jarang ditemukan,tetapi proses pembuatan cetak biru sangatlah mudah biasanya kertas cetak biru, dilapisi dengan besi ammonium sitrat dan kalium ferisianida yang sensitive terhadap cahaya. Proses penggambaran dilakukan pada kain tembus cahaya atau kertas yang ditempatkan di atas satu lembar kertas cetak biru dan dibuka pada tempat yang disinari oleh cahaya yang kuat. Cahaya mengubah besi ammonium sitrat menjadi senyawa garam dari besi, kemudian ketika kertas direndam di dalam air, senyawa garam dari besi bereaksi dengan kalium ferisianida untuk membentuk larutan biru pekat yang membuat kertas menjadi berwarna biru. Zat kimia pada kertas dilindungi dari cahaya oleh garis dari kertas atau melarutkan gambar dan mengakibatkan kertas atau gambar menjadi putih. Cetak biru dikembangkan dengan memancarkan cahaya pada senyawa besi. Dalam dunia fotografi senyawa perak dan halogen mengalami perubahaan oleh cahaya(Biddle,1949).

2.5 Pembentukan Warna pada Ion Kompleks Penyerapan radiasi elektromagnetik oleh spesies ion dalam larutan membutuhkan elektron dalam ion yang dapat berpindah dari satu tingkat energi yang lain. Cahaya yang diserap harus memiliki energi yang sama dengan perbedaan dan tingkat energi tersebut dalam transisisi. Jika energi transisi terletak pada panjang gelombang cahaya tampak, maka komponen cahaya tersebut diserap dan cahaya yang diteruskan akan berwarna. Warna cahaya yang diteruskan adalah warna pelengkap dan warna yang diserap. Kenaikan sebuah elektron dari tingkat energi rendah ke tingkat yang lebih tinggi menyebabkan penyerapan komponen cahaya putih dan cahaya yang dilewatkan warna(Petrucci,1989). 2.6 Senyawa kompleks Senyawa komples adalah senyawa yang terbentuk karena penggabungan dua atau lebih senyawa sederhana yang masing- masingnya dapat bediri sendiri(Rivai,1995). Senyawa kompleks mengandung ion kompleks yang tersusun dari atom pusat yang mengikat secara koordinasi sejumlah spesies (ligan).Ligan adalah molekul sederhana yang dalam senyawa kompleks bertindak sebagai donor pasangan elektron (basa lewis). Dengan kata lain, ligan merupakan suatu spesi atau molekul yang mempunyai sepasang elektron bebas yang dapat digunakan untuk berikatan. Atom pusat adalah atom yang dalam senyawa kompleks bertindak sebagai aseptor pasangan elektron (asam lewis). Atom pusat juga menyediakan orbital kosong yang dapat diisi oleh ligan-ligan(Petrucci,1989). 2.7 Reaksi Pembentukan Senyawa Kompleks Senyawa kompleks terbentuk dari perpindahaan 1 atau lebih pasangan electron dari ligan ke ion logam ligan bertindak sebagai pemberi elektron dan ion logam sebagai penerima electron berikut reaksi umumnya: M +nL MLn Dimana n adalah bilangan koordinasi senyawa kompleks yang terbentuk. Bilangan koordinasi ini lazimnya 2, 4 dan 6(Petrucci, 1989).

2.8 Ion Kompleks dan Senyawa Koordinasi Ion kompleks merupakan gabungan ion logam pusat dengan ligan-ligannya, sedangkan senyawa koordinasi merupakan senyawa netral yang mengandung ion kompleks daerah sekitar ion logam pusat dimana ligan-ligan ditemukan dinamakan lekung koordinasi. Jumlah lengkung kedudukan dalam lengkung koordinasi yang dapat ditempati oleh ligan adalah bilangan koordinasi dan ion logam pusat(Petrucci,1989). 2.9 Kelarutan Senyawa Kompleks Kelarutan senyawa kompleks dalam air tergantung pada muatan kompleksnya. senyawa kompleks yang bermuatan lazimnya mudaah larut dalam air begitu pula sebaliknya. Sifat ini berkaitan dengan sifat air yang berkutub. Contoh: Ag + + Cl- AgCl AgCl + Cl- [AgCl2]sukar larut mudah larut (Rivai,1995) 2. 10 Besi 2.10.1 Pengertian Besi Besi merupakan unsur ke-4 terbanyak penyusun kerak bumi, tergolong unsur transisi utama. Di alam ditemukan dalam beberapa mineral, terutama sebagai hematite ( Fe2O3), limonit (FeO(OH) nH2O) dan magnetit (FeO-Fe2O3). Besi dapat berada dalam emapat bentuk alotrop, yaitu sebagai besi-, besi-, besi dan besi- dengan titik transisi pada 770C, 928C, dan 1530C. Bentuk bersifat magnet,tetapi bila berubah menjadi besi sifat magnet itu hilang. Logam besi sangat reaktif dan mudah berkarat terutama dalam kondisi udara lembab atau suhu tinggi. Pada pemanasan bereaksi dengan unsur bukan logam, dapat membentuk senyawa besi (II) dan senyawa besi (III)(Mulyono, 2005). 2.10.2 Senyawa Kompleks Besi Besi adalah logam paling banyak, dan dipercayai sebagai unsur kimia ke sepuluh paling banya di alam. Jumlah besi yang besar di bumi disangka menyumbang kepada medan magnet

bumi. Simbolnya Fe ringkasan ferrum nama latin bagi besi. Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang ditemui dalam keadaan bebas. Dalam industri, besi dihasilkan dari bijih, kebanyakan hematit (Fe2O3), melalui reduksi oleh karbon pada suhu 20000C. 2 C + O2 2 CO

3 CO + Fe2O3 2 Fe + 3 CO2 Besi yang dihasilkan dapat digunakan dalam sintesis senyawa-senyawa yang mengandung Fe.Beberapa senyawa kompleks dengan atom pusat Fe adalah 1. Fe(III)[ (2,2-bipryridine)(HPO3)(H2PO4) ] 2. Kompleks M [TCNQ] 3. Kompleks Fe(II) - Cr(III) Oksalat (Petrucci, 1989) 2.11 Besi Oksida FeO, Fe2O3, dan Fe3O4 hampir sama apabila dikaitkan dengan strukturnya. Atom oksigen pada semua strukturnya konfigurasi c.c.p. dalam stoikiometri semua FeO berbentuk oktahidral yang diikat oleh atom Fe, yang memberikan efek kisi NaCl dari Fe2+ da O2-. Perbandingan kedua ion ini dalam persenyawaannya kira-kira 48,56%. Pemindahan ion Fe3+ dari Zink Aridear dan penggantian dengan dua sampai tiga dari number ion Fe3+ memberi FeO dalam besi berkurang ini menunjukkan data lebih akurat daripada penambahan oksigen ketika besi tiga-empat aserrimeritan Fe2+ diganti oleh ion Fe3+ akan terbentuk senyawa Fe3O4, Fe (FeO)2 dan sebuah struktur spinel(Heslop & Robinson, 1969).

2.12 Reaksi Redoks Reaksi redoks atau reduksi oksidasi sering ditulis sebagai dua reaksi paro dimana terjadi transfer elektron misalnya: Oksidasi : Sn2+ Reduksi : Fe3+ + e Sn4+ + 2e Fe2+

Kedua reaksi paro diatas dapat digabung menjadi Reaksi Redoks : Sn3+ + 2Fe3+ Sn4+ + 2Fe2+ (Fernando, 1997) 2.13 Analisis Bahan

2.13.1. Asam Oksalat Sifat fisik : -memiliki titik lebur 101oC -densitas 1,6 gram/mL -tak berwarna -berbentuk padatan Kristal Sifat kimia : -asam dikarboksilat dengan rumus H2C2O4.2H2O atau CaCl.2H2O -bersifat racun -digunakan di laboratorium sebagai pereaksi analitik(larutan baku) -untuk bahan pembersih pengunting logam (Mulyono,2002)

2.13.2. Asam Klorida

Sifat fisik:

-gas tak berwarna -berbau tajam -titik lebur 114,8OC -titik didih -84,9OC

Sifat kimia :

-senyawa anorganik dengan rumus kimia HCl -dapat dibuat dengan cara mereaksikan NaCl dengan H2SO4 pekat -sangat larut dalam pelarut air dengan membentuk larutan asam kuat (Mulyono, 2002)

2.13.3. Potassium Dikromat Sifat fisik : -padatan Kristal jingga-merah K2Cr2O7 -densitas 2,67 gram/mL -titik lebur 396oC -mengurai diatas 500oC Sifat kimia : -larut dalam air dan tak larut dalam alcohol -monoklinik atau triklinik -monoklinik berubah menjadi triklinik pada 241,6oC -senyawa ini dibuat lewat pengasaman larutan kalium kromat kasa (Daintith, 1990) 2.13.4. Kalium Heksasianoferat (III) Sifat fisik : -berupa kristal berwarna merah -mempunyai BM 329,25 gram/mol

Sifat kimia :

-kelarutan dalam air 33oC -rumus molekul : K3Fe(CN)6 (Mulyono, 2002)

2.13.5. FeCl3 Sifat fisik : -padatan coklat hitam -heksagonal -densitas 2,9 gram/mL -titik leleh 306oC -mengurai pada 315oC Sifat kimia : -larut dalam banyak organik -membentuk larutan dengan daya hantar listrik yang rendah -dalam banyak hal senyawa ini menyerupai alumunium oksida sehingga dapat digunakan sebagai katalis pengganti dalam pengganti friedel-crafts (Daintith, 1990) 2.13.6. Aquadest Sifat fisik : -BM 18,016 gram/mol -massa jenis 1,32 gram/cm3 -titik didih 100oC -titik beku 0oC

Sifat kimia :

-larut dalam dietil alkohol

-sebagai pelarut -bersifat polar -momen dipole 1,84 D (Basri, 1996)

IV. METODE PERCOBAAN 4.1. Alat dan Bahan 4.1.1. Alat - Gelas gelap - Keping kaca - Pipet tetes 4.1.2. Bahan - Asam Oksalat - Diamonium Hidrofosfat - Larutan K3Fe(CN)6 0,1 M -Kertas HVS - Besi (III) Klorida - Gelas ukur - Plastik - Label

4.2. Gambar Alat

Gelas ukur

pipet tetes

Gelas Beker

4.3. Skema Kerja

100 mL larutan besi (III) klorida + 200 mL larutan diamonium hidrofosfat Gelas beker

- Pencampuran larutan - Penyimpanan dalam ruang gelap - Penambahan 100 mL asam oksalat - Pengadukkan Hasil

4 helai kertas HVS Gelas beker Pencelupan kertas ke dalam larutan campuran besi (III) klorida dan diamonium hidrofosfat Hasil Pengeluaran kertas Peletakkan kertas diantara 2 kertas saring Pendiaman selama 10 15 menit

Objek yang akan dicetak Kertas HVS

Pembuatan objek yang akan dicetak dengan tinta cina

Peletakkan objek di atas plastik Penjepitan dengan 2 keping kaca Penyinaran dengan sinar matahari kurang lebih 5 7 menit

Kertas HVS yang telah disinari Pencelupan ke dalam larutan kalium heksasianoferat ( III) 0,1 M Pengeluaran kertas

Hasil

V. DATA PENGAMATAN No. 1 Perlakuan Pencampuran larutan besi (III) klorida dengan larutan asam oksalat dalam ruang gelap 2 Pencelupan kertas HVS ke dalam larutan campuran besi (III) klorida dengan larutan asam oksalat dalam ruang gelap 3 Pengeluaran kertas dari larutan, diamkan selama 10-15 menit di dalam ruang gelap hingga kertas menjadi kering 4 Peletakkan objek di atas plastik dan jepit diantara dua keping kaca Kertas menjadi kering dan berwarna kuning Kertas berwarna kuning Hasil Larutan berwarna coklat tua Warna kertas HVS menjadi kuning

Penyinaran dengan sinar matahari sekitar 5-7 menit

Kertas berwarna kuning

Pencelupan kertas peka ke dalam larutan ion heksasianoferrat (III) 0,1 M

Bagian kertas yang tertutup oleh label berwarna biru tua sedangkan bagian kertas yang tidak ditutup oleh label berwarna biru