Anda di halaman 1dari 13

gejala skhizophren meliputi area mayor : pikiran, persepsi dan perhatian; perilku motorik ; emosi atau perasaan.

Dan fungsi dalam kehidupan. Terdapat 2 gejala: gejala positif : halusinasi, delusi dan perilaku aneh. gejala negative : avolition(kondisi kekurangan energi, dan terlihat tidak memiliki ketertarikan terhadap aktifitas rutin), alogia, anhedonia, dan flat affect
Etiologi Model diatesis -stress Menurut teori ini skizofrenia timbul akibat faktor psikososial dan lingkungan. Model ini berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kerentanan (diatesis) jika dikenai stresor akan lebih mudah menjadi skizofrenia. Faktor Biologi Komplikasi kelahiran Bayi laki laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia, hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap skizofrenia. Infeksi Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang menjadi skizofrenia. Hipotesis Dopamin Dopamin merupakan neurotransmiter pertama yang berkontribusi terhadap gejala skizofrenia. Hampir semua obat antipsikotik baik tipikal maupun antipikal menyekat reseptor dopamin D2, dengan terhalangnya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan.1 Berdasarkan pengamatan diatas dikemukakan bahwa gejala gejala skizofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sistem dopaminergik.57 Hipotesis Serotonin Gaddum, wooley dan show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid diethylamide (LSD) yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT. Temyata zatini menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang normal. Kemungkinan serotonin berperan pada skizofrenia kembali mengemuka karena penetitian obat antipsikotik atipikal clozapine yang temyata mempunyai afinitas terhadap reseptor serotonin 5-HT~ lebih tinggi dibandingkan reseptordopamin D2.57 Struktur Otak Daerah otak yang mendapatkan banyak perhatian adalah sistem limbik dan ganglia basalis. Otak pada pendenta skizofrenia terlihat sedikit berbeda dengan orang normal, ventrikel teilihat melebar, penurunan massa abu abu dan beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas metabolik. Pemenksaaninikroskopis dan jaringan otak ditemukan sedikit perubahan dalam distnbusi sel otak yang timbul pada masa prenatal karena tidak ditemukannya sel glia, biasa timbul pada trauma otak setelah lahir.81 Genetika Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama

seperti orang tua, kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat ke dua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12%. Gambaran klinis Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial)

Skizofrenia katatonik
Skizofrenia merupakan suatu penyakit kelainan jiwa kronik yang memberikan gambaran pada perubahan tingkah laku, proses berfikir dan persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Skizofrenia katatonik merupakan subtype dari skizofrenia . Skizofrenia katatonik merupakan satu tipe skizofrenia yang ditandai oleh ketegangan otot (katatonia),negativisma, dan stupor atau gaduh Khas pada S.K Selain gangguan jiwa lainnya terdapat Gangguan psikomotor. Gangguan psikomotor terbagi menjadi 2: catatonik immobility (kekakuan) excitement yang katatonik (gerakan berulang tanpa tujuan) 2 gang.psikomotor tersebut termasuk stupor katatonik yaitu keadaan yang tidak responsive terhadap rangsang luar. S.katatonik: 1. Timbul pertama (15-30th), akut, didahului stress emosional. 2. Hampir tidak ada respon thd lingkungan, aspek motorik dan verbal sangat terganggu 3. Terjadi : o Stupor katatonik : mutisme, muka tanpa mimic, negativism, makanan ditolak, tidak bergerak sama sekali dalam waktu yang lama. Stupor katatonik terdapat 2bentuk :

1. rigid (badan menjadi kaku) 2. chorea-fleksibility (badan menjadi lentur) o Gaduh gelisah katatonik : hiperaktivitas motorik tapi tidak disertai emosi yang semestinya, stereotipi, mennerisme, grimace, dan neologisme 4. tipe katatonik serangannya berlangsung dengan jauh lebih cepat . Aktivitasnya jauh berkurang dibandingkan waktu normal. Pada individu terjadi stupor, dimana individu diam, tidak mau berkomunikasi, kalau berbicara suaranya menonton, ekspresi mukanya datar, makan dan berpakaian harus dibantu, dan sikap badan yang aneh penderita schizophrenia katatonik yang parah biasanya di tempat tidur, tidak mau berbicara, jorok, makan-minum dipaksa, dan apabila mata terbuka biasanya kan terpaku pada satu titik, tidak berkedip, dan ekspresi kosong. Perkembangan selanjutnya yaitu setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, terjadi catatonic excitement dimana penderita menunjukkan suatu gerakan tertentu dalam waktu yang lama dan kemudian secara ekstrem berubah sebaliknya. DD: katatonik organic : akibat penyakit organic (ensefalitis) stupor disosiatif : tidak ditemukan gangguan fisik atau gangguan jiwa lainnya, adanya problem atau kejadian2 baru (stressful)

Pedoman diagnostic: 1. memenuhi criteria umum untuk diagnosis skizofrenia:


Diagnosis: Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a. - thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau - thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan - thought broadcasting= isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya; b. - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau - delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus); - delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat; c. Halusinasi auditorik: suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh. d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain) Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: a. halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus; b. arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme; c. perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor; d. gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika; Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal) Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

2. satu atau lebih dari prilaku berikut ini harus mendominasi: Stupor ( amat berkurangnya reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan ) Gaduh-gelisah / Mutisme (Aktivitas motorik yang berlebihan) Menampilkan posisi tubuh yg aneh Gerakan volunter yang aneh seperti yang ditunjukkan oleh posturing Negativitisme yang ekstrim (tidak interes sama sekali terhadap sekelilingnya, tanpa kontak social, dan membisu dalam waktu yang lama.) Rigiditas (pertahanan tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerakkan dirinya Fleksibiltas cerea (posisi yang dapat dibentuk) Command autism

*pada pasien yang tidak komunitatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang gejala-gejala lain.

Terapi / Tatalaksana

I. Psikofarmaka Pemilihan obat Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek sekunder ( efek samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal, Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon.

Pengaturan Dosis Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan: o Onset efek primer (efek klinis) : 2-4ininggu Onset efek sekunder (efek samping) : 2-6 jam o Waktu paruh : 12-24 jam (pemberian 1-2 x/hr) o Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar) sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita. o Obat antipsikosis long acting : fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4ininggu. Berguna untuk pasien yang tidak/sulitininum obat, dan untuk terapi pemeliharaan.

Cara / Lama pemberian Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hr sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 2ininggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan 8-

12ininggu. (stabilisasi). Diturunkan setiap 2ininggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun ( diselingi drug holiday 1-2/hari/minggu) setelah itu tapering off (dosis diturunkan 2-4ininggu) lalu stop. Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multiepisode, terapi pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat antipsikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian anticholmnergic agent seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg IM, tablet trhexyphenidyl 3x2 mg/hari. Obat antipsikotik: 1. dopamin reseptor antagonis: chlorphromazine, trifluoperazine, haloperidol, thionidazine. kekurangannya : 50% penderita tetap tidak ada perbaikan dan eso serius (tardive diskinesia dan neurolepik malignan sinrom) 2. risperindon(risperidal) : lebih efetif, ESO neurologik sangat berkurang, dapat mengatasi positive & negative symptoms 3. clozapine : minus; agronulositosi dan harganya mahal, Pluz; tidak menyebabkan tardive diskimesia Antipsikotik tipikal: Phenothiazine : chlorpromazine : tablet 25mg; 100mg levomepromazine : tablet 25 mg;100mg perphenazine : tablet 4mg; 8mg trifluoperazine : tablet 5mg thioridazine : 10mg;100mg

Butyrophenone: haloperidol : tablet 0,5mg;1,5mg;2mg;5mg diphenyl-butyl-piperidine pimozide : tablet 2mg;4mg

Efek penggunaan obat2 antipsikotik : mulut kering, pandangan kabur, sulit konsentrasi, tekanan darah rendah dan gangguan otot yang menyebabkan gerakan mulut dan dagu yang tidak disengaja.

Antipsikotik atipikal Benzamide: sulpiride :tablet 50mg;200mg dibenzodiazepine clozapine: tablet 25mg; 100mg olanzapine: tablet 5mg; 10mg quetiapine zotapine aripiprazole

Benzisoxazol: risperidone(tablet 1mg), paliperidone (kapsul 3mg) Obat2 ini bisa menetralisir gejala2 akut skizo (kacau, gaduh gelisah, waham, halusinasi audi, inkoheren, gejala negatif kronik. Tapi obat2 ini MAHAL II. Terapi Psikososial Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain : Psikoterapi individual o Terapi suportif o Sosial skill training o Terapi okupasi o Terapi kognitif dan perilaku (CBT) Psikoterapi kelompok Psikoterapi keluarga Manajemen kasus Assertive Community Treatment (ACT)

Prognosis: secara umum adalah dubia karena banyak faktor yg mempengaruhi: menurut kaplan & sadocks: Mengevaluasi prognosis dengan melihat riwayat longitudinal dari penyakit, dimulai dengan riwayat keluarga sampai pada penanganan. 4. prognosis baik riwayat keluarga tentang gangguan mood/affect perilaku dan personalitas premorbid yang baik sudah menikah onset akut

gejala kelainan mood terutama kelainan depresif gejala positive system pembantu (support systems yang baik)

5. prognosis buruk riwayat keluarga skizophren riwayat trauma prenatal onset pada usia muda prilaku dan personalitas premorbid yang buruk lajang, bercerai, atau menjanda insidious onset tanpa sebab yang jelas tanda dan gejala gangguan neurologist cenderung menarik diri gejala negative tidak ada remisi dalam 3 tahun sering kambuh riwayat kekerasan support systems yang buruk Sebuah cerita,,,,(semoga bermanfaat^_^) Seorang anak perempuan R, 11 thn, datang dengan keluhan tidak bisa bicara yang dialami sejak kurang lebih 1tahun yang lalu. Pasien hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kadang hanya ada gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara, namun bila pasien nangis, suaranya akan keluar. Tangan dan kaki kanan pasien pun lemah, sehingga pasien sulit berjalan, dan melakukan aktivitas lainnya, sehingga untuk makan dan mandi, pasien harus dibantu oleh ibunya, makan kadang disuapi oleh ayahnya. Kurang lebih 2 tahun lalu, pasien dikirim dari Inco dengan diagnosa Skizofrenia Katatonik stupor, setelah diperiksa, didapatkan bahwa pasien mengalami kesadaran menurun dan dirawat di RS. Wahidin Sudirohusodo selama kurang lebih 6 bulan dengan ensefalitis dan setelah kesadarannya membaik, pasien tidak dapat berbicara, lemah pada tungkai dan tangan kanannya. Prestasi pendidikan mengalami kemunduran dari apa yang telah dicapainya, kurang dapat menolong dirinya sendiri, sangat bergantung pada orang tuanya, pengendalian emosi agak terganggu. Pada status neurologis ditemukan fungsi motorik pada ekstremitas superior dan inferior dextra lemah. Tonus otot pada ekstremitas superior dan inferior dextra meningkat. Refleks fisiologis pada ekstremitas superior dan inferior dextra meningkat. Refleks patologis tidak ada. Hasil CT-scan tidak ada kelainan. Terapi yang diberikan adalah farmakoterapi Piracetam sirup 2x1 sendok makan, fisioterapi terapi okupasi dan terapi bicara dan psikoterapi terapi perilaku Token Economy Identitas pasien An. R, 11 thn, perempuan tinggal di Soroako agama Islamkelas 5 SD Dirawat di RS Perjan Wahidin Sudirohusodo pada bln September 2004.

Riwayat psikiatri diperoleh dari catatan medik dan alloanamnesis dari Ny. H, 27 thn, ibu kandung pasien, seorang ibu rumah tangga, yang tinggal serumah dengan pasien. Pasien datang dengan keluhan utama tidak bisa bicara Dialami sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu . Pasien hanya bias berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kadang hanya ada gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara, namun bila pasien nangis, suaranya akan keluar. Tangan dan kaki kanan pasien pun lemah, sehingga pasien sulit berjalan, dan melakukan aktivitas lainnya, sehingga untuk makan dan mandi, pasien harus dibantu oleh ibu atau ayahnya. Saat pertama kali bertemu dengan pasien, pasien banyak tersenyum, bila ditanya sesuatu, akan dijawab dengan acungan jempolnya bila pasien memberi jawaban positif untuk pertanyaan yang diberikan padanya. Kadang menggerakkan mulutnya seakan-akan ingin bicara tapi tidak mengeluarkan suara. Saat diberikan soal berhitung yang sederhana, pasien bisa menjawab dengan cukup baik. Riwayat penyakit dahulu Kurang lebih 2 tahun lalu, pasien dikirim dari Inco ke seorang Psikiater dengan diagnosa Skizofrenia Katatonik stupor, setelah diperiksa, didapatkan bahwa pasien mengalami kesadaran menurun dan dirawat oleh seorang neurolog di RS. Wahidin Sudirohusodo selama kurang lebih 6 bulan dengan ensefalitis dan setelah kesadarannya membaik, pasien tidak dapat berbicara, lemah pada tungkai dan tangan kanannya. Setelah kesadarannya membaik, pasien dikonsul ke bagian psikiatri dan dirawat selama 3 bulan dengan diagnosa gangguan mental organik. Dengan terapi bicara selama + 3 bulan, pasien sudah bisa mengucapkan 1-2 patah kata, kemudian pasien pulang ke Soroako dan tidak pernah kontrol. Dan saat ini pasien datang kembali dengan keluhan tidak bisa bicara. Riwayat kehidupan pribadi Riwayat prenatal dan perinatal tidak ada kelainan, semua dalam batas normal. Pada masa kanak awal, pasien sangat dimanja oleh kedua orang tuanya khususnya ayahnya, karena ayahnya pernah menikah selama lima tahun namun belum dikaruniai anak, kemudian ayahnya menikah lagi dengan ibu pasien, sehingga pasien merupakan anak yang sangat diharapkan. Pada usia 1 tahun, adik pasien lahir. Pada masa kanak pertengahan, pasien tumbuh dan berkembang seperti anak seusianya. Pasien adalah anak yang penurut, dan termasuk anak yang pendiam jika dibandingkan dengan adiknya. Pasien mulai masuk sekolah dasar pada usia 5 thn, prestasinya cukup baik. Menurut ibunya, bila pulang sekolah biasanya pasien langsung masuk ke kamar untuk kerja PR, dan akan keluar bila PRnya sudah selesai. Pasien jarang menceritakan keadaannya di sekolah kepada orang tuanya bila tidak ditanya. Pasien punya beberapa teman yang sering bermain ke rumah. Saat sakit pun cukup banyak teman pasien yang menjenguknya. Riwayat keluarga Pasien adalah anak pertama dari 2 bersaudara,adiknya perempuan. Hubungan pasien dengan keluarganya baik, kedua orang tua dan adiknya sangat menyayangi pasien. Saat ini pasien tinggal di bersama kedua orang tuanya dan adik. Sejak sakit, pasien sulit makan dan mandi sendiri, harus dibantu oleh ibunya. Pemeriksaan status mental. Penampilan. Pasien berpakaian rapi, rambut terpotong pendek dan ikal,

senang tersenyum, tampak sulit berjalan. Kesadaran baik, saat wawancara pasien tampak tenang, tersenyum saat ditanya, dan hanya mengacungkan jempol sebagai jawaban. Jika berjalan, pasien menyeret kaki kanannya. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Keadaan afektif. Afek kesan normotimia, ekspresi afektif senyum-senyum, serasi dan empati dapat dirabarasakan. Fungsi Intelektual (kognitif). Taraf pendidikan mengalami kemunduran dari apa yang telah dicapainya. Orientasi waktu, tempat dan orang baik, konsentrasi dan perhatian cukup, daya ingat dan pikiran abstrak sulit dinilai. Pasien kurang dapat dirinya sendiri k a r e n a untuk makan dan mandi, pasien harus dibantu oleh ibunya, makan pun masih disuapi oleh ayahnya. Gangguan Persepsi tidak ada. Pikiran. Produktivitas dan kontinuitas pikiran sulit dinilai karena adanya hendaya berbahasa, yaitu pasien tidak dapat berbicara. Preokupasi dan waham tidak ada. Pengendalian Impuls kurang baik karena saat sedang marah atau menangis, pasien memukul ibunya, dan menjatuhkan diri ke lantai. Daya Nilai dan Tilikan. Pasien sangat bergantung pada orang tuanya, dependent, semua serba dilayani. Uji daya nilai dan penilaian realitas cukup baik. Pasien merasa dirinya sakit sehingga mengharapkan dan membutuhkan perhatian yang berlebihan.

Pemeriksaan diagnostik lebih lanjut Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak kesulitan berjalan, kesadaran komposmentis, tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 80x/menit, frekuensi pernapasan 20x/menit, suhu tubuh 37*C, konjungtiva: tidak pucat, sklera: tidak ikterik, cor dan pulmo: dalam batas normal, abdomen: dalam batas normal, ekstremitas: tangan dan tungkai kanan lemah. Dari pemeriksaan neurologis didapatkan gejala rangsang menings tidak ada, pupil bulat, isokor, refleks cahaya +/+, fungsi motorik pada ekstremitas superior dan inferior dextra lemah. Tonus otot pada lengan dan kaki kanan meningkat. Refleks fisiologis pada lengan dan kaki kanan meningkat. Refleks patologis tidak ada. Hasil CT-scan tidak ada kelainan. Evaluasi multiaksial Aksis I : dengan adanya gejala berupa tidak bisa bicara, tidak dapat melakukan aktifitas sendiri seperti makan, mandi, berpakaian, sangat bergantung pada orang tuanya,

menurunnya prestasi pendidikan dibandingkan dengan anak seusianya, pengendalian impuls agak terganggu, dan hal ini dialami setelah sembuh dari ensefalitis kurang lebih 2 tahun yang lalu, maka diagnosa diarahkan pada Sindrom Pasca-ensefalitis (F07.1) Aksis II : tidak ada ciri kepribadian yang menonjol, tahap perkembangan sesuai dengan anak seusianya. Aksis III : afasia motorik dan spastis extremitas superior dan inferior dextra Aksis IV : tidak ada stresor psikososial Aksis V : GAF Scale 70-61 Daftar problem Organobiologis : afasia motorik, spastis extremitas sup & inf dextra Psikologis: adanya rasa bergantung (manja) pada orang tuanya Sosiologis : ketidakmampuan dalam merawat dirinya sendiri. Prognosis : baik Rencana terapi Farmakoterapi : Piracetam sirup 2x1 sendok makan Fisioterapi: terapi okupasi dan terapi bicara Psikoterapi : terapi perilaku Token Economy * Menjelaskan secara sederhana kepada pasien dan keluarga tentang terapi perilaku ini. * Meminta persetujuan dan kerja sama dari pasien maupun dari keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan terapi ini. * Menentukan perilaku-perilaku apa saja yang akan diubah ataupun perilaku-perilaku yang harus dimiliki oleh pasien. no 1 Tingkah Laku Mengeluarkan suara : Huruf Suku kata Kata Kalimat Latihan motorik halus-dengan tangan kanan : 1-2 Garis > 3 garis Huruf Kata Kalimat Makan sendiri Berpakaian sendiri Mandi sendiri Dilakukan (bintang merah) Tdk. Dilakukan (Bintang biru)

3 4 5

Menjelaskan tentang jumlah token yang akan diberikan dan benda apa yang dapat ditukarkan dengan jumlah token yang didapatkan. Bila pasien melakukan tingkah laku yang diharapkan, akan diberi 1 bintang merah, bila tidak dilakukan akan diberi bintang biru. Setelah 1 minggu, jumlah bintang merah akan dikurangi dengan jumlah bintang biru (selisih bintang merah dan biru). Bila jumlah bintang merah lebih dari 15 buah, pasien bisa menukarkannya dengan boneka Mickey yang dia inginkan (atau bendabenda sesuai perjanjian). DISKUSI Token economy dapat diterjemahkan secara bebas sebagai hasil pendapatan, suatu sistem insentif sebagai hasil kerja seseorang dengan menggunakan asas operan conditioning yang bertujuan untuk mengubah suatu pola tingkah laku. Penguat yang digunakan seperti keping (tokens), angka, atau penghargaan, yang diberikan kepada penderita bila mereka dapat melaksanakan suatu tugas atau bertingkah laku seperti yang dikehendaki; keping ini kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai penguat positif seperti barang di toko, atau suatu kegiatan yang diizinkan seperti dapat keluar bermain, dll. Tujuan dari terapi ini adalah menciptakan suasana dan tingkah laku yang wajar dan dikehendaki.Keping-keping itu merupakan alat perantara antara tingkah laku yang dikehendaki dan penguat. Token economy dapat dilakukan pada anak yang lebih besar dan dapat menunda pemuasan. Penggunaan tanda-tanda sebagai pemerkuat bagi tingkah laku yang layak memiliki beberapa keuntungan: 1. Tanda-tanda tidak kehilangan nilai insentifnya. 2. Tanda-tanda bisa mengurangi penundaan antara tingkah laku yang layak dengan ganjarannya. 3. Tanda-tanda bisa digunakan sebagai pengukur yang kongkrit bagi motivasi individu untuk mengubah tingkah laku tertentu. 4. Tanda-tanda bisa digunakan dalam bentuk perkuatan yang positif dan negatif. 5. Individu memiliki kesempatan untuk memutuskan bagaimana menggunakan tanda-tanda yang diperolehnya. Langkah-langkah dalam mengatur terapi Token economy : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya komunikasi yang baik antara pasien dengan terapis. Identifikasi tingkah laku-tingkah laku yang menjadi target. Tentukan kemungkinan-kemungkinan untuk masing-masing target. Tentukan peraturan penggunaan token-token tersebut. Harus dibuat kesepakatan antara pasien dan terapis.

Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yang ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih pemikat di ujung tongkat. Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru. Pada pasien ini, terapi perilaku mulai diberikan saat pasien akan berobat jalan, sehingga sangat dibutuhkan kerja sama dari keluarga secara khusus ibunya. Seminggu setelah pemberian terapi ini, ibu pasien melaporkan adanya kemajuan, seperti adanya usaha untuk makan sendiri, walaupun masih sulit. Minggu kedua, ibu pasien melaporkan bahwa pasien sudah bias mengucapkan kata mama, sudah mau makan sendiri,

berusaha untuk mandi dan berpakaian sendiri. Kemudian pasien dan ibunya pulang ke Soroako dan belum kontrol hingga saat ini di Poliklinik RS. Wahidin Sudirohusodo. KESIMPULAN Salah satu sumbangan yang penting dari terapi perilaku adalah caranya yang sistematik, dimana metode dan teknik terapeutiknya telah menjadi subjek bagi pengujian eksperimental. Oleh karenanya prosedur terapi perilaku berada dalam proses perbaikan dan pengembangan yang terus menerus, dan criteria pemunculan hasil-hasil yang diharapkan sangat baik. Hasil klinis metode-metode terapi perilaku pada umumnya membesarkan hati, baik tingkat keberhasilannya maupun efisiensinya (Sherman, 1973). Para terapis perilaku melandaskan pendekatan mereka pada beberapa variabel: pengenalan yang cermat atas tingkah laku yang maladaptif, prosedur-prosedur treatment, dan pengubahan tingkah laku. Para pemuka terapi perilaku menyatakan bahwa untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan terapi, perlu dilakukan penelitian dan studi-studi komparatif (Sherman, 1973). Dengan demikian, perbaikan metode terapi bisa dilakukan.