Anda di halaman 1dari 12

TEKNIK DAN ETIKA PEMANDUAN KELOMPOK KECIL

(Studi Kasus : Museum Wayang, Kota Tua)

Oleh : Kelompok 1/ Praktikum 2 Bhintary Fauzya Putri Helvira Kurniati Afrodita Indayana Beni Nuryanto (J3B110014) (J3B110045) (J3B110049) (J3B210074)

Dosen: Bedi Mulyana, S.Hut, M.Par, MMHTRL

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012
I.
A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Pemanduan dalam suatu tempat wisata atau rekreasi sangat dibutuhkan. Proses pemanduan yang dilakukan merupakan suatu fasilitas yang disediakan oleh pengelola tempat wisata atau rekreasi untuk membantu para wisatawan dalam mendapatkan suatu informasi secara lengkap dengan mudah. Berbagai teknik dalam pemanduan harus dikuasai oleh setiap pemandu untuk menghadapi setiap karakteristik dari masing-masing wisatawan. Berbeda halnya jika teknik pemanduan tersebut dilakukan secara tidak langsung. Pemanduan tersebut hanya dilakukan melalui, video, papan interpretasi, brosur, leftlet ataupun lainnya yang tentunya dapat memberikan suatu informasi kepada wisatawan yang berkunjung. Pemanduan yang dilakukan secara langsung tentunya akan lebih efektif karena wisatawan dapat bertanya langsung kepada pemandu dan komunikasi pun berlangsung secara dua arah. Banyaknya jumlah wisatawan dapat mempengaruhi suatu teknik pemanduan. Wisatawan tersebut terbagi atas kelompok kecil, kelompok sedang dan kelompok besar. Pada kelompok kecil, wisatawan berjumlah satu sampai lima orang. Proses pemanduan yang dilakukan pada kelompok kecil tentunya akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan kelompok sedang atau kelompok besar. Oleh karena itu, teknik dan etika pemanduan pada kelompok kecil penting untuk dilakukan agar proses pemanduan dapat berjalan dengan baik dan wisatawan mendapatkan banyak pengalaman baru. B. Tujuan Praktik Kegiatan praktikum teknik dan etika pemanduan kelompok kecil mempunyai beberapa tujuan guna memperoleh hasil yang diinginkan.Tujuan praktukum tersebut sebagai berikut. 1. Mengenali, mengetahui, memahami dan mengerti serta mampu menjelaskan teknik dan etika pemanduan dalam kelompok kecil. 2. Mahir dalam membedakan dan mahir mempraktekkan teknik dan etika pemanduan dalam kelompok kecil.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Teknik atau rekayasa adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan, matematika dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna. Menurut sejarahnya, banyak para ahli yang meyakini kemampuan teknik manusia sudah tertanam secara natural. Hal ini ditandai dengan kemampuan manusia purba untuk membuat peralatan peralatan dari batu. Dengan kata lain teknik pada mulanya didasari dengan trial and error untuk menciptakan alat untuk mempermudah kehidupan manusia. Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah Ethos, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu Mos dan dalam bentuk jamaknya Mores, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan. Sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani Ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli. Oka A. Yoeti mengemukakan bahwa pramuwisata didefinisikan sebagai seseorang yang memberi penerangan, penjelasan, serta petunjuk kepada wisatawan ( tourist ) dan travelers lainnya, tentang segala sesuatu yang hendak di lihat, disaksikan oleh wisatawan dan travellers yang bersangkutan, bilamana mereka berkunjung pada suatu objek, tempat atau daerah tertentu. Kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang jumlahnya relatif kecil sehingga anggotanya mudah untuk berkomunikasi. Komunikasi kelompok kecil terjadi ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya dibawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan mempengaruhi satu sama lain. Inti dari definisi menyatakan bahwa masyarakat berinteraksi, mereka saling bergantung, dan saling mempengaruhi.

III. METODE PRAKTEK


A. Waktu dan lokasi

Praktikum teknik dan etika pemanduan kelompok kecil dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 April 2012 pukul 11.00-14.00 WIB. Lokasi praktikum dilakukan pada Museum Wayang yang berada di Kawasan Wisata Kota Tua, Jalan Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Barat 11110. B. Alat dan bahan Kegiatan praktikum yang dilakukan dengan observasi langsung ke lokasi pengamatan yang telah ditentukan. Alat yang digunakan untuk membantu kelancaran dan kemudahan praktikum memiliki fungsi masing-masing sebagai berikut (Tabel 1). Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Alat-alat Alat Tulis Tallysheet Note book Buku/internet Printer Handycam Kamera Fungsi Mencatat objek pengamatan Mempermudah dalam pencatatan hasil Membuat dan menyusun laporan Sumber Informasi Mencetak hasil laporan Merekam kegiatan pemanduan Dokumentasi

C.

Tahapan Kerja

Praktikum teknik dan etika pemanduan kelompok kecil memiliki berbagai langkah-langkah pengerjaan. Langkah pengerjaan ini bertujuan agar praktikum dapat berjalan sesuai dengan hasil yang diinginkan. Langkah pengerjaan yang dilakukan sebagai berikut. 1. Menentukan lokasi kegiatan pemanduan yang akan diamati, yaitu Museum Wayang 2. Mengamati teknik dan etika pemanduan kelompok kecil. 3. Mencatat teknik dan etika pemanduan kelompok kecil yang dimati di dalam tallysheet yang telah disediakan. 4. Membuat laporan praktikum dengan membahas tallysheet yang telah diisi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Praktik

Proses pengamatan teknik dan etika pemanduan kelompok kecil, diperoleh hasil berupa teknik pemanduan, sikap pemandu, bahasa, penampilan, trik pemanduan dan cara mengatasi masalah yang dilakukan pemandu terhadap dua wisatawan asing yang berasal dari Australia (Tabel 2). Tabel 2. Teknik dan Etika Pemanduan Kelompok Kecil
Teknik Pemanduan No. Teknik Pemanduan Langsung Sikap Pemandu Aktif, interaktif, ekspresif dan friendly Bahasa Santai, tidak terlalu baku Penampilan Menarik dan rapi Cara Mengatasi Masalah Menggunakan alat bantu berupa Menyisipkan wayang dalam humor proses pemanduan akhir Trik Pemanduan Jumlah Wisatawan

1.

Dua orang

B.

Pembahasan

Teknik dan etika pemanduan dalam kelompok kecil dapat diamati berdasarkan lokasi kegiatan pemanduan, teknik pemanduan dan jumlah wisatawan yang dipandu. Ketiga poin tersebut akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut. 1. Lokasi Kegiatan Pemanduan (Helvira Kurniati, J3B110045) Kegiatan pemanduan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung berlokasi di Museum Wayang. Museum Wayang adalah sebuah museum yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat. Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan dibangun pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini (Gambar 1).

Gambar 1. Bagian Gereja Tua yang Masih Berdiri Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Republik Rakyat

Cina dan Kamboja. Hingga kini Museum Wayang mengkoleksi lebih dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Selain itu secara periodik disenggelarakan juga pagelaran wayang pada minggu 2 dan ke 3 setiap bulannya. Pada tanggal 7 November 2003, PBB memutuskan mengakui wayang Indonesia sebagai warisan dunia yang patut dilestarikan (Gambar 2).

Gambar 2. Gedung Museum Wayang

2.

Teknik dan Etika Pemanduan Kelompok Kecil

Teknik dan etika pemanduan oleh kelompok kecil dilakukan dengan jumlah wisatawan sebanyak satu sampai lima orang. Pemanduan oleh kelompok kecil ini tentunya akan mempengaruhi berbagai teknik pemanduan yang akan dibahas sebagai berikut. a. Teknik Pemanduan (Helvira Kurniati, J3B110045) Teknik pemanduan yang dilakukan oleh seorang pemandu tentunya akan berbeda-beda. Teknik pemanduan yang dilakukan dengan kelompok kecil akan berbeda dengan pemanduan yang dilakukan terhadap kelompok sedang ataupun kelompok besar. Hal tersebut berkaitan dengan berbagai karakteristik dari wisatawan yang membuat pemandu menggunakan teknik yang berbeda. Teknikteknik tersebut akan dibahas sebagai berikut. 1) Teknik pemanduan Langsung Tidak langsung

2) Sikap pemandu 3) Bahasa Langsung Tidak langsung Langsung Tidak langsung 6

4) Penampilan

5) Trik pemanduan Langsung Tidak langsung

6) Cara mengatasi masalah b. Jumlah wisatawan yang dipandu (Helvira Kurniati, J3B110045)

Jumlah wisatawan yang dipandu baik pemanduan secara langsung dan tidak langsung berjumlah dua orang. Jumlah wisatawan termasuk masuk ke dalam kategori kelompok kecil, dimana kelompok kecil tersebut memiliki batasan jumlah satu sampai lima orang maka disebut dengan kelompok kecil.

Gambar 3. Dua Wisatawan dalam Pemanduan Langsung dan Tidak Langsung

(Afrodita Indayana, J3B110049) (Beni Nuryanto, J3B210074) (Bhintary Fauzya Putri, J3B110014)

KESIMPULAN
Komunikasi audio visual merupakan komunikasi melalui penglihatan dan pendengaran berupa gambar, warna, tulisan dan efek-efek suara. Komunikasi audio visual dapat juga dikatakan sebagai komunikasi yang paling baik di antara komunikasi lainnya karena audiens dapat mengerti dan memahami secara langsung apa pesan yang disampaikan kepada komunikator. Ditambah lagi dengan adanya performance,desain dan bahasa yang membuat audiens merasakan hal yang sama dengan komunikator. Komunikasi audio visual ini sangat cocok untuk acara memasak karena tahapan dalam memasak dapat dipahami khususnya audiens yang baru ingin belajar memasak atau sudah berpengalaman dengan mudah karena sudah melihat langsung bagaimana proses pembuatannya dari tahap awal hingga akhir penyajian. Audiens dapat mengulang kembali apa telah disampaikan kepada komunikator dengan mempraktekan masakan di rumah. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa komunikasi audio visual yang disajikan oleh acara memasak Ala Chef dapat berjalan dengan sempurna karena pesan yang disampaikan dimengerti oleh audiens

DAFTAR PUSTAKA
Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Kuliah Dasar. Terjemahan oleh Agus Maulana. Jakarta; Professional Books. http://betetsays/2011/04/pemandu-wisata.html. A Little While Migration. Pemandu Wisata. Jumat, 8 April 2011 (Diakses: Minggu, 22 April 2012. Pukul: 7.46 pm) http://aditandinididot.com/2010/10/definisi-kelompok-kecil.html. Psikologi Kelompok. Selasa, 12 Oktober 2010. (Diakses: Minggu, 22 April 2012. Pukul: 8.01 pm) Jalaluddin Rakhmat, 2001. Psikologi Komunikasi. Remadja Karya. Bandung. Liliweri, A. 2003.Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sendjaja, S Djuarsa. 1999. Teori Komunikasi. Materi Pokok IKOM4230. Universitas Terbuka.

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.......................................................................................................... i DAFTAR TABEL...................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR.................................................................................................. iii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang.. 1 B. Tujuan Praktik 1 II. TINJAUAN PUSTAKA.. 2 III. METODE PRAKTEK A. Waktu dan Lokasi. 4 B. Alat dan Bahan.. 4 C. Langkah Pengerjaan. 4 IV.HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Praktik.. 5 B. Pembahasan.........................................................................5 KESIMPULAN.......................................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA. 12

10

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan...................................................4 Tabel 2. Teknik dan Etika Pemanduan Kelompok Kecil..............................5

11

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagian Gereja Tua yang Masih Berdiri......................................5 Gambar 2. Gedung Museum Wayang.........................................................6 Gambar 3. Dua Wisatawan dalam Pemanduan Langsung dan Tidak Langsung.................................................................................................... 7

12