Anda di halaman 1dari 7

2.4 KLASIFIKASI KAPABILITAS KESUBURAN TANAH (FCC) 2.4.

1 Pendahuluan Evaluasi kesuburan tanah ditujukan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan tanah serta alternative pemecahannya dalam upaya meningkatkan produktivitas tanah. Penilaian sifat dan penentuan kendala kesuburan tanah dapat dilakukan antara lain dengan klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah atau Fertility Capability Classification yang sering disingkat FCC (Sanchez et al., 1982; Sanchez & Buol, 1985). 2.4.2 Kategori dan Unit Klasifikasi Sistem klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah (FCC) pada dasarnya terdiri dari tiga kategori, yaitu: tipe, subtipe dan modifier. Kombinasi ketiga kategori tersebut menghasilkan unit klasifikasi kemampuan kesuburan tanah yang dapat

diinterpretasikan dalam hubungannya dengan penaksiran sifat tanah dan penentuan alternative teknologi pengelolaan tanah yang diperlukan untuk mengatasi kendala utama yang berkaitan denghan kesuburannya. a. Tipe Tipe adalah pengelompokkan tekstur tanah lapisan atas (0-20 cm) menjadi 4 kelas sebagai berikut: S: Tekstur tanah berpasir, yaitu setara dengan tekstur tanah pasir dan pasir berlempung menurut kelas tekstur USDA L: Tekstur berlempung, kadar liat < 35% tetapi tidak termasuk pasir atau pasir berlempung C: Tekstur berliat, kadar liat > 35% O: Tanah organik, kandungan bahan organic sampai kedalaman tanah 50 cm lebih dari 30% b. Subtipe Subtipe adalah pengelompokan tekstur tanah lapisan bawah (20-50 cm) atau adanya lapisan tidak tembus akar pada kedalaman tersebut. Dibedakan kedalam 4 kelas sebagai berikut: S: Tekstur tanah berpasir yaitu setara dengan tekstur pasir atau pasir berlempung menurut kelas tekstur USDA L: Tekstur berlempung, kadar liat < 35% tetapi tidak termasuk pasir atau pasir berlempung

C: Tekstur berliat, kadar liat > 35% R: Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar c. Modifier Modifier adalah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas atau kendala kesuburan tanah. Ada 16 jenis modifier yang masing-masing dicirikan oleh lebih dari satu penciri tetapi hanya satu yang diperlukan. Penciri yang disebutkan pertama adalah yang sebaiknya digunakan bila ada data tersedia, tetapi bila tidak tersedia dapat juga menggunakan penciri yang disajikan selanjutnya. Kode modifier ditulis dengan huruf kecil yaitu: g: Gley, dicirikan oleh warna tanah atau karatan dengan chroma 2 di dalam lapisan tanah 0-60 cm; atau tanah dalam setahun jebuh air > 60 hari g*: Pergleyic, tanah jenuh air selama > 200 hari per tahun tanpa terdapat karatan yang berwarna kecoklatan atau kemerahan yang menunjukkan oksidasi senyawa Fe di dalam lapisan tanah 0-50 cm d: Tanah kering, dicirikan oleh regim kelembaban tanah ustik, aridik, atau xeric, atau lapisan tanah 20-60 cm dalam setiap tahun kering secara kumulatif > 90 hari e: Kapasitas tukar kation (KTK) rendah, dicirikan oleh KTK efektif < 4 me/100 g tanah (dihitung dari jumlah basa-basa ditambah Al terekstrak 1 N KCl) didalam lapisan olah (0-20 cm); atau KTK < 7 me/100 g tanah yang dihitung dari jumlah basa-basa terekstrak pada pH 7 a: Bahaya keracunan aluminium, dicirikan oleh kejenuhan Al > 60% di dalam lapisan 0-50 cm; atau pH (H2O) rasio 1:1 < 5 untuk tanah mineral dan < 4,7 untuk tanah organik h: Tanah bereaksi masam, dicirikan kejenuhan Al terekstrak 1 N KCl dibagi KTK efektif di dalam lapisan 0-50; atau pH (H2O) rasio 1:1 antara 5 dan 6 i: Fiksasi P oleh besi tinggi, dicirikan % Fe2O3 bebas dibagi % kadar liat > 0,15 dan kadar liat > 35% di dalam lapisan tanah 0-20 cm; atau dalam lapisan ini warna tanah mempunyai hue 7,5 YR atau lebih merah dan struktur granular x: Mineral alofan dominan, dicirikan pH ( 1 N NaF) > 10; atau test NaF di lapang positif v: Tanah bersifat vertik k: Cadangan mineral K rendah, dicirikan oleh kadar K dapat ditukar (K-dd) < 0,20 me/100 g di dalam lapisan 0-50 cm; atau K-dd < 2% dihitung terhadap

jumlah basa-basa dapat ditukar dan jumlah basa-basa tersebut <10 me/100 g tanah b: Tanah bereaksi basa, dicirikan oleh pH > 7,3 atau menunjukkan reaksi positif membuih terhadap test HCl dalam lapisan tanah 0-50 cm s: Tanah berkadar garam tinggi (salin), dicirikan oleh daya hantar listrik (DHL) pada 25o C lebih besar atau sama dengan 4 mmhos/cm dalam lapisan tanah 0100 cm n: Tanh berkadar Na tinggi, dicirikan oleh kejenuhan Na dalam lapisan 0-50 cm lebih besar atau sama dengan 15% yang dihitung dari Na dapat ditukar dibagi KTK c: Tanah berkadar sulfat tinggi, dicirikan oleh pH (H2O) < 3,5 dan warna karatan jarosit yang terdapat dalam lapisan 0-60 cm mempunyai hue 2,5 Y atau lebih kuning dan chroma 6 atau lebih : : Menyatakan volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih dari 35% di dalam lapisan olah (0-20 cm) atau lapisan bawah (20-50 cm) Menyatakan volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih dari 35% di dalam

lapisan olah (0-20 cm) atau lapisan bawah (20-50 cm) ( ): Kemiringan lereng. Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah bersangkutan d. Unit Unit merupakan kelas kemampuan kesuburan tanah yang ditulis dengan kombinasi kode dari tipe, subtipe dan modifier secara berurutan. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur pada tipe dalam lapisan olah (0-20 cm) atau terdapat lapisan tidak tembus akar. Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar, sedang kode modifier ditulis dengan huruf kecil, Jumlah kode jenis modifier yang ditulis dalam unit tergantung dari jumlah modifier (sifat tanah) yang menjadi factor pembatas. Kode modifier ( dan ) yang menyatakan jumlah butir tanah berukuran > 2 mm yang terdapat dalam lapisan olah maupun lapisan bawah ditulis langsung di belakang kode kelas tipe maupun subtipe. Demikian juga angka kisaran lereng bila diperlukan dapat ditulis dalam tanda kurung ( ) yang diletakkan paling belakang dari kode kelas modifier.

Contoh penulisan kode unit dalam klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah adalah sebagai berikut: LGgeak, Lgh, Caelk, SLdb, LCgeak (1-6%). 2.4.3 Interpretasi Unit Seperti diketahui, unit terdiri dari tipe, subtipe, dan modifier. Karena itu, interpretasi unit dapat dilakukan dengan interpretasi masing-masing unsur unit tersebut. 2.4.4 Interpretasi Tipe dan Subtipe S: Laju infiltrasi tinggi dan kemampuan menahan air (water holding capacity) rendah L: Laju infiltrasi sedang dan kemampuan menahan air sedang C: Laju infiltrasi rendah, kemampuan menahan air tinggi, jika lahan miring potensial run-off tinggi, sukar diolah; bila mempunyai modifier i (Ci); tanah mudah diolah, laju infiltrasi tinggi dan kemampuan menahan air rendah O: Diperlukan drainase buatan dan potensial terjadi subsiden. Kemungkinan dijumpai kahat unsur mikro dan biasanya diperlukan herbisida dosis tinggi SC, LC, SR: Kemungkinan terjadi degradasi tanah cukup besar akibat erosi terutama bila lahan miring 2.4.5 Interpretasi Modifier Interpretasi modifier untuk tanah-tanah yang tergolong mempunyai regim kelembaban aquik, seperti banyak dijumpai pada tanah-tanah yang disawahkan perlu dibedakan dengan tanah-tanah yang tergolong tidak mempunyai regim kelembaban aquik. Jika dalam unit klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah hanya dijumpai satu modifier saja, maka faktor pembatas batau cara pengelolaan yang diperlukan terhadap tanah tersebut dalam interpretasi berikut dapat dipakai. Interpretasi boleh berbeda bila dalam unit terdapat modifier > 1 atau tekstur dalam tipe dan subtype berbeda. (1) Contoh interpretasi modifier untuk tanah-tanah yang tidak mempunyai regim kelembaban akuik (Sanchez et al., 1982) g: Denitrifikasi sering terjadi dalam lapisan tanah bawah yang anaerob; sering kesukaan dalam pelaksanaan pengolahan tanah dan penanaman akibat keadaan air yang berlebihan, dibutuhkan perbaikan drainase; kondisi kelembaban tanah baik untuk budidaya padi

d:

Kelembaban tanah merupakan pembatas dalam musim kering kecuali tanah diairi; hujan di awal musim sering tidak menentu dan mengganggu perkecambahan; perlu pemilihan waktu tanam dan waktu pemberian pupuk N yang tepat

e:

Kemampuan menjerap unsur hara rendah terutama terhadap K, Ca dan Mg; diperlukan pemupukan unsur hara tersebut dan pemupukan N dengan cara pemberian bertahap; perlu dihindari pengapuran yang berlebihan

a:

Kemungkinan besar terjadi keracunan Al pada tanaman yang peka, untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan pengapuran; kemungkinan juga dapat terjadi keracunan Mn

h:

Kemasaman tanah rendah hingga sedang, umumnya diperlukan pengapuran untuk tanaman yang peka terhadap keracunan Al

i:

Kemampuan mengikat P tinggi, diperlukan dosis pupuk P tinggi atau cara pengelolaan pupuk P yang khusus dengan penggunaan jenis sumber pupuk P dan cara pemberian yang tepat

x:

Kemampuan mengikat P tinggi, perlu diperhatikan dalam penggunaan dosis dan jenis sumber pupuk P yang tepat

v:

Tekstur lapisan oleh berliat dan bila kering banyak terjadi retakan, tanah sukar diolah bila dalam keadaan kering atau terlalu basah, potensi produktivitas tanah tinggi, umumnya kahat hara P

k:

Kemampuan menyediakan hara K rendah, ketersediaan hara K sebaiknya sering dipantau dan mungkin dibutuhkan pemupukan K, kemungkinan ketersediaan K-Ca-Mg tidak seimbang

b:

Tanah berkapur, penggunaan pupuk fosfat alam dan fosfat lain yang tidak larut dalam air perlu dihindari; kemungkinan besar terjadi kekahatan unsur mikro terutaam Fe dan Zn

s:

Garam larut tinggi, dibutuhkan drainase dan pengolahan khusus untuk tanaman yang peka terhadap kadar garam tinggi atau penggunaan jenis dan varietas tanaman yang toleran terhadap garam

n:

Kadar Na tinggi, dibutuhkan teknik pengelolaan khusus untuk tanah alkalin seperti penggunaan gypsum sebagai bahan pembenah tanah dan perbaikan drainase

c:

Tanah sulfat masam potensial, perlu teknik drainase yang khusus dan penggunaan tanaman yang toleran

(2) Contoh interpretasi modifier untuk budidaya padi pada tanah-tanah yang mempunyai regim kelembaban akuik (Sanchez & Buol, 1985) g: Tanah lahan basah, kelembaban tanah baik untuk budidaya padi

g*: Penggenangan dalam waktu lama menyebabkan kahat Zn d: Kelembaban tanah merupakan pembatas dalam musim kering kecuali tanah diairi. Umumnya sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami padi satu kali dalam setahun. Penanaman padi selama musim kering yang diberi irigasi dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dan respon terhadap pemupukan N dosis tinggi e: Kapasitas tukar kation efektif rendah, kurang mampu melepaskna N secara lambat sehingga perlu pengelolaan hara N yang tepat. Menunjukkan tanahtanah sawah yang terdegradasi seperti yang tergolong dalam SLa atau LCa dan kadar bahan organik rendah. Jika demikian potensial terjadi keracunan H2S bila pupuk (NH4) 2SO4 digunakan sebagai sumber N. Potensial keracunan Fe jika dekat dengan lahan kering yang tanahnya kaya Fe a: Kemungkinan akan terjadi keracunan Al bila tanah dalam kondisi aerob. Perlu adanya uji tanah untuk mengetahui kekahatan hara P h: pH pada kondisi aerob optimum untuk budidaya padi sawah i: Pengikatan (fiksasi) P oleh Fe tinggi,umumnya kahat hara P, potensial keracunan Fe, tanah sukar menjadi lumpur karena tanah akan secara cepat kembali ke struktur aslinya x: Banyak mengandung bahan volkanik yang menunjukkan kesuburan tinggi dengan tidak kahat Si, umumnya kahat N dan P dan tanah sukar dilumpurkan v: Tanah bila kering banyak terjadi retakan, menyebabkan kehilangan air perkolasi berlebihan. Tanah mudah dilumpurkan tetapi strukturnya sukar perbaiki. Tanah dapat mengikat NH4 yang ditambahkan dan akan dilepaskan kemudian untuk tanaman padi berikutnya b: pH tinggi merangsang kahat Fe bila dalam kondisi aerob dan kahat Zn bila kondisi anaerob atau tergenang. Potensial kehilangan N tinggi melalui volatilisasi bila pemberian pupuk N disebar. Kemungkinan terjadi fiksasi NH4 oleh liat tipe 2:1. Adanya keeping-keping Mollusca dapat digunakan sebagai petunjuk kahat Zn s: Tanah salin. Drainase diperluakan tetapi harus mempertimbangkan kecepatan aliranj air irigasinya

n: Tanah alkalin. Reklamasi dengan drainase dan pemberian gypsum mungkin diperlukan c: Tanah sulfat masam, potensial terhadap keracunan Fe dan S bila dalam kondisi anaerob dan keracunan Al bila kondisi aerob. Kedalaman faktor pembatas c dari permukaan tanah menentukan kesesuaian tanah untuk budidaya padi. Kekahatan P dan keracunan Al akan nampak bila kondisi aerob

Daftar Pustaka Hardjowigeno, S. 1985. Klasifikasi Tanah dan Lahan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sanchez et al., 1982. The effect of NaCl salinity and water stress with polyethyleneglycol on nitrogen fixation, stomatal response, and transpiration of Medicago sativa, Trifolium repens and Trifolium brachyca- lycimum (subclover). Physiol. Plant. 54:361-366).