Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Keputusan penggunaan obat mengandung pertimbangan antara manfaat

dan risiko. Tujuan pengkajian farmakoterapi adalah mendapatkan hasil klinik yang dapat dipertanggungjawabkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan risiko minimal. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya perubahan paradigma pelayanan kefarmasian kearah pharmaceutical care. Fokus pelayanan kefarmasian bergeser dari kepedulian obat (drug oriented) menuju pelayanan optimal setiap individu pasien tentang penggunaan obat (patient oriented). Untuk mewujudkan pharmaceutical care dengan risiko yang minimal pada pasien dan petugas kesehatan perlu penerapan manajemen risiko (DEPKES RI, 2008). Berdasarkan Peta Nasional Insiden Keselamatan Pasien (Konggres PERSI, 2007) kesalahan dalam pemberian obat menduduki peringkat pertama (24.8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan. Meliputi proses prescribing, transcribing, dispensing dan administering, dispensing menduduki peringkat pertama. Dengan demikian keselamatan pasien merupakan bagian penting dalam risiko pelayanan di rumah sakit selain risiko keuangan, risiko properti, risiko tenaga profesi dan risiko lingkungan pelayanan dalam risiko manajemen (DEPKES RI, 2008). Berbagai metode pendekatan organisasi sebagai upaya menurunkan kesalahan pengobatan yang jika dipaparkan berdasarkan urutan dampak efektifitas terbesar adalah memaksa fungsi dan batasan, otomasi dan komputer, standard dan protokol, sistem daftar tilik dan cek ulang, aturan dan kebijakan, pendidikan dan informasi, serta lebih cermat dan waspada (DEPKES RI, 2008). Apoteker berada dalam posisi strategis untuk meminimalkan medication errors, baik dilihat dari keterkaitan dengan tenaga kesehatan lain maupun dalam proses pengobatan. Kontribusi yang dimungkinkan dilakukan antara lain dengan meningkatkan pelaporan, pemberian informasi obat kepada pasien dan tenaga kesehatan lain, meningkatkan regimen pengobatan pasien, peningkatan kualitas dan keselamatan pengobatan pasien di rumah (DEPKES RI, 2008).

Oleh karena itu pemantauan terapi obat di ruang perawatan Pulau Numfor ini dilakukan untuk memastikan bahwa obat yang diterima oleh pasien memenuhi prinsip penggunaan obat rasional, sehingga tujuan pengobatan dapat tercapai. Penggunaan obat dikatakan rasional jika obat digunakan sesuai indikasi, kondisi pasien dan pemilihan obat yang tepat (jenis, sediaan, dosis, rute, waktu dan lama pemberian), mempertimbangkan manfaat dan resiko serta harga yang terjangkau bagi pasien.

1.2

TUJUAN Tujuan dilakukan pemantauan terapi obat adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui dan memahami dosis obat yang diberikan kepada pasien sesuai dengan umur pasien dan penyakit yang diderita. 2. Memaksimalkan manfaat terapi obat dan mencegah atau meminimalkan efek yang merugikan akibat penggunaan obat. 3. Menerapkan pelayanan kefarmasian terhadap pasien di rumah sakit. 4. Meningkatkan peran serta farmasis dalam pemantauan obat pada pasien rawat inap. 5. Memandu farmasis dalam melakukan kegiatan pharmaceutical care.

Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit kedua terbanyak setelah stroke. Epilepsi disebabkan oleh berbagai etiologi dengan gejala tunggal yang khas yaitu serangan yang terjadi tiba-tiba dan berulang yang disebabkan oleh lepasan muatan listrik kortikal secara berlebihan. Anak yang menderita epilepsi memerlukan evaluasi dan terapi yang sesuai karena serangan yang berulang akan mempengaruhi kualitas hidup pasien baik fisis, mental, maupun sosial. Epilepsi yang tidak terkontrol juga meningkatkan risiko mortalitas 2-3 kali populasi normal dan menurunkan kualitas pasiennya (Mustarsid, 2011). Kejang epilepsi (epileptic seizure) adalah suatu manifestasi klinis yang diduga hasil dari abnormalitas dan akibat berhentinya fungsi sekelompok sel neuron di otak. Manifestasi klinis epilepsi merupakan kondisi yang akut dan berlangsung sementara seperti penurunan kesadaran, gangguan motorik, sensorik, autonom atau psikis yang dirasakan oleh pasien dan dapat disaksikan oleh orang

lain. Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai dengan kejang epilepsi yang berulang (dua kali atau lebih) tanpa diprovokasi oleh penyebab yang jelas. Angka prevalens epilepsi pada anak 3,6-6,5 per 1000 anak. Data yang dapat diperoleh dari rekam medik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM selama 5 tahun terakhir tercatat pasien epilepsi yang dirujuk 526 kasus baru. Tujuan utama dari tata laksana epilepsi pada anak adalah membuat keluarga dan pasien mengalami komplikasi dan psikososial seminimal mungkin. (Wishwadewa, 2008). Peran keluarga sangat penting dalam proses penyesuaian diri anak maupun keluarga terhadap penyakit kronis. Meskipun telah banyak kemajuan di bidang kedokteran, tetapi masih ada anggapan dan persepsi yang salah tentang epilepsi mempengaruhi kepatuhan berobat. Peningkatan pengetahuan, perbaikan persepsi dan perilaku, dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan perawatan terhadap pasien epilepsi (Saing, 2010).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Epilepsi adalah suatu penyakit yang ditandai dengan kecenderungan untuk mengalami kejang berulang. Bentuk serangannya yang paling sering adalah kejang yang dimulai dengan hilangnya kesadaran, hilangnya kendali terhadap gerak dan terjadinya kejang tonik atau klonik pada anggota badan (Depkes, 2007). Epilepsi adalah suatu serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa kejang. Serangan tersebut disebabkan oleh kelebihan muatan neuron kortikal dan ditandai dengan perubahan aktivitas listrik seperti yang diukur dengan elektroensefalogram (EEG). Kejang menyatakan keparahan kontraksi otot polos yang tidak terkendali (Sukandar, 2008). Kelainan fungsional otak yang serangannya bersifat kambuhan. Serangan grand mal sering diawali dengan aura berupa rasa terbenam atau melayang. Penurunan kesadaran sementara, kepala berpaling ke satu sisi, gigi dikatupkan kuat-kuat dan hilangnya pengendalian kandung kemih, nafas mendengkur, mulut berbusa dan dapat terjadi inkontinesia. Kemudian terjadi kejang tonik seluruh tubuh selama 20-30 detik diikuti kejang klonik pada otot anggota, otot punggung, dan otot leher yang berlangsung 2-3 menit. Setelah kejang hilang penderita terbaring lemas atau tertidur 3-4 jam, kemudian kesadaran berangsur pulih. Setelah serangan sering pasien berada dalam keadaan bingung. Serangan petit mal, disebut juga serangan lena, diawali dengan hilang kesadaran selama 10-30 detik. Selama fase lena (absence) kegiatan motorik terhenti dan pasien diam tak beraksi. Kadang tampak seperti tak ada serangan, tetapi ada kalanya timbul gerakan klonik pada mulut atau kelopak mata. Serangan mioklonik merupakan kontraksi singkat suatu otot atau kelompok otot.

Serangan parsial sederhana motorik dapat bersifat kejang yang mulai di salah satu tangan dan menjalar sesisi, sedangkan serangan parsial sensorik dapat berupa serangan rasa baal atau kesemutan unilateral.

2.2 Penyebab Kelainan organis di otak juga dapat menimbulkan epilepsi, sehingga kemungkinan ini perlu dipikirkan. Dari pola serangannya, epilepsi dibedakan atas epilepsi umum misalnya epilepsi grand mal, petit mal, atau mioklonik dan epilepsi parsial misalnya serangan fokal motorik, fokal sensorik (Depkes, 2007).

2.3 Patofisiologi Suatu serangan dapat dilacak pada membran sel atau sel disekitarnya yang tidak stabil. Rangsangan yang berlebih menyebar secara lokal (serangan fokal) maupun lebih luas (serangan umum). Terjadinya konduktansi kalium yang tidak normal, cacat pada kanal kalsium sensitif voltase atau defisiensi pada membran adenosine trifosfat (ATPase) yang berkaitan dengan transport ion dapat menghasilkan katidakstabilan membran neuronal dan serangan kejang Aktivitas neuronal normal tergantung pada fungsi normal pemicu rangsangan (yaitu glutamat, aspartat, asetilkolin, norepinefrin, histamin, faktor pelepas kortikotropin, purin, peptida, sitokin, dan hormon steroid) dan penghambat neurotransmitter (yaitu dopamine, asam--aminobutirat [GABA]), pasokan glukosa, oksigen, Na, K, Cl, Ca, dan asam amino yang cukup, pH normal, dan fungsi normal reseptor. Kejang yang lama terpapar glutamat secara terus-menerus, sejumlah besar kejang tonik-klonik umum (>100). dan episode ganda status epileptikus dapat dikaitkan dengan kerusakan neuronal.

2.4 Menifestasi Klinis 1. Gejala

Gejala kejang yang spesifik akan tergantung pada macam kejangnya. Jenis kejang dapat bervariasi antara pasien, namun cenderung serupa pada satu individu yang sama Kejang kompleks parsial dapat termasuk gambaran somatosensori atau motor fokal. Kejang kompleks parsial dikaitkan dengan perubahan kesadaran. Ketiadaaan kejang dapat relatif ringan, dengan periode perubahan kesadaran hanya sangat singkat (detik). Kejang tonik klonik umum merupakan episode konvulsi utama dan selalu dikaitkan dengan kehilangan kesadaran. 2. Tanda-tanda Interiktal (antara episode kejang), tidak ada tanda epilepsi yang objektif dan khas 3. Pemeriksaan Laboratorium Hingga saat ini tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk epilepsy. Dalam beberapa hal khususnya setelah kejang tonik-klonik umum (atau mungkin parsial kompleks), kadar serum prolaktin dapat naik sesaat. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk menentukan penyebab kajang yang dapat diobati (yaitu hipoglikemia, perubahan konsentrasi elektrolit, infeksi) yang bukan serangan epilepsi. 4. Pemeriksaan Diagnostik Lain EEG sangat berguna dalam diagnosis berbagai macam kelainan atau gangguan kejang. EEG mungkin normal pada beberapa pasien yang secara klinis masih terdiagnosis epilepsi. MRI sangat bermanfaat (khususnya dalam pencitraan lobus temporal), tetapi CT scan tidak membantu kecuali dalam evaluasi awal untuk tumor otak atau perdarahan selebral Kejang parsial mulai pada satu hemisfer otak dan menghasilkan kejang asimetris, kecuali jika berubah secara sekunder menjadi kejang umum. Kejang parsial berwujud sebagai perubahan fungsi motor, gejala sensori atau somatosensori atau gerakan otomatis. Jika tidak mengalami kehilangan kesadaran maka disebut kejang parsial

sederhana. Jika terjadi kehilangan kesadaran dan pasiennya mengalami gerakan otomatis, pikun, atau penyimpangan perilaku maka disebut kejang parsial kompleks. Kejang abscen biasanya terjadi pada anak muda atau remaja dan menunjukkan kejang yang tiba-tiba, selaan pada aktivitas yang sedang berlangsung, tidak berkunang-kunang dan mungkin mengalami mata berputar secara singkat. Kejang abscen memiliki karakteristik pola spike (gambaran seperti puncak gunung) 2-4 siklus/detik dan EEG gelombang-lambat Pada kejang umum, gejala motor adalah bilateral dan terjadi perubahan kesadaran Kejang tonik-klonik umum dapat didahuliu oleh penanda gejala (yaitu aura). Kejang tonik-klonik yang didahului oleh aura biasanya kejang parsial yang berubah menjadi umum secara sekunder. Kejang tonikklonik dimulai dengan kontraksi otot yang bersifat tonik pendek diikuti oleh periode kekakuan. Pasien mungkin kehilangan control sphincter, menggigit lidah, atau menjadi sianosis. Episode ini diikuti dengan ketidaksadaran dan sering kali pasien terus mengalami tidur yang mendalam. Sentakan mioklonik merupakan konraksi muskuler seperti syok singkat pada wajah, tubuh dan ekstrimitas. Baik terjadi secara terpisah/tersendiri ataupun berulang secara cepat. Pada kejang atonik, tonus otot hilang secara tiba-tiba yang mungkin digambarkan sebagai kepala terkulai, lepasnya tungkai dan lengan atau merosot ke tanah.

2.5 Terapi A. Pendekatan Umum Dimulai dengan monoterapi, sekitar 50% sampai 70% pasien dapat diobati dengan satu macam obat antiepilepsi (OAE), tetapi tidak semua bebas kejang.

Lebih dari 60% pasien dengan epilepsy tidak patuh menggunakan obatnya dan hal ini merupakan alasan utama kegagalan pengobatan Terapi obat tidak diindikasikan bagi pasien yang hanya mengalami satu kali kejang atau kejangnya memiliki pengaruh minimal dalam hidupnya. Pada pasien yang mengalami kejang dua kali atau lebih harus mulai diberikan OAE. Faktor yang menunjang keberhasilan dalam penghentian penggunaan OAE meliputi : o Masa bebas kejang 2-4 tahunpengendalian kejang secara paripurna dalam 1 tahun sejak mengalami kejang o Mula kejang tejadi setelah usia 2 tahun tetapi sebelum berusia 35 tahun o Dan memiliki EEG normal Faktor prognosis yang buruk meliputi : o Riwayat kejang yang terjadi dalam frekuensi tinggi o Episode status epileptikus yang terus berulang o Kombinasi beberapa jenis kejang o Perkembangan ketidaknormalan fungsi kejiwaan Disarankan terdapat periode sekitar 2 tahun bebas kejang untuk jenis epilepsy jenis rolandik dan abscen Disarankan terdapat periode masa 4 tahun tanpa kejang bagi kejang parsial sederhana, parsial kompleks, dan kejang abscen yang terkait dengan kejang tonik-klonik.

2.6 Mekanisme Aksi Mekanisme aksi sebagian besar OAE meliputi efek pada kanal ion (natrium dan kalsium), penghambatan neurotransmisi (GABA), atau

perangsangan neurotransmisi (glutamate dan aspartat). OAE yang efektif terhadap kejang tonik-klonik umum dan parsial mungkin dapat mengurangi pengulangan secara terus menerus yang memicu potensial aksi dengan cara menunda pemulihan kanal natrium sehingga tidak terjadi aktivasi. Obat yang menurunkan aliran kalsium tipe T kortikotalamik efektif melawan kejang abscen umum.